fscちゃんネル
fsc©2008-2018
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc

Misdireksi – Sebuah Twist Untuk Plot Twist

Posted on 2016/08/02 (Tue) 13:56:00 WIB by

Aah, plot twist… sebuah elemen yang menjadi obsesi banyak penulis karena dipercaya bisa menjadi bumbu yang bisa menyelamatkan sebuah cerita yang tidak menarik. Ada benar dan salahnya stigma tersebut. Karena di novel, twist sendiri sudah menjadi bagian strukturnya. Ingat pembahasan saya tentang Kishoutenketsu? Hanya saja, apakah twist bisa membuat cerita menjadi lebih menarik atau tidak itu tergantung oleh satu hal; misdireksi.

Setiap tipuan sulap yang menakjubkan terdiri dari tiga bagian, atau babak. Bagian pertama disebut “penjaminan.” Sang pesulap memamerkan satu benda yang biasa-biasa saja; bisa satu dek kartu, seekor burung, atau bahkan seseorang. Sang pesulap menunjukkan objek tersebut, bahkan hingga meminta penonton untuk memeriksa apakah objek tersebut nyata, sama seperti objek lain, normal. Tapi tentunya, objek tersebut tidaklah demikian. Babak kedua disebut “titik balik.” Sang pesulap membuat objek biasa menjadi luar biasa. Sekarang, penonton mulai mencari rahasianya, tapi tidak akan ketemu. Karena mereka tidak benar-benar mencari, tidak juga ingin mencari tahu lebih jauh. Mereka ingin ditipu, tapi belum saatnya mereka memberi tepuk tangan. Karena membuat sebuah objek lenyap tidaklah cukup; sang pesulap masih harus mengembalikan objek tersebut. Karena itulah tiap tipuan sulap memiliki babak ketiga; bagian tersulit, bagian yang para pesulap sebut dengan “perbawa.” — The Prestige (Christopher Priest)

Percayakah kalian bahwa pesulap dan pengarang tidak jauh berbeda? Tiga babak tipuan sulap dan empat babak cerita pada dasarnya sama; pesulap dan pengarang mulai dari sesuatu yang biasa dan normal, lalu mengembangkannya dan mengubahnya ke bentuk lain, hingga akhirnya mengakhiri karyanya dengan mengembalikan konflik ke titik normal. Juga sama seperti tipuan sulap, twist yang baik dalam sebuah cerita tidaklah terjadi secara tiba-tiba, namun sudah disindirkan secara perlahan sepanjang perkembangan cerita. Nah, teknik ini disebut foreshadowing dan saya yakin pengarang pemula pun tahu. Namun pembaca HARUS tidak percaya bahwa apa yang kita sindirkan akan terjadi dalam cerita sehingga ketika terjadi, pembaca terkejut secara alami, inilah yang sulit. Nah, teknik ini adalah fondasi untuk foreshadowing; yang mana disebut misdirection.

Foreshadowing juga mudah. Kita berikan petunjuk-petunjuk kecil yang menutun pada sebuah kesimpulan. Tapi apa asyiknya? Foreshadowing hanya membuat cerita yang kita tulis menjadi mudah diprediksi, dan percaya pada saya, bukan itu yang pengarang inginkan. Pengarang yang baik harus membuat pembaca rela meluangkan waktu lebih banyak untuk membaca lebih jauh demi memastikan apa yang mereka duga di satu titik cerita benar-benar terjadi di titik yang lebih jauh.

Membuat plot twist jelas sangat amat mudah; kita buat cerita ke sebuah kesimpulan yang natural dalam sebuah cerita, namun di tengah-tengah cerita kita belokkan cerita tersebut ke kesimpulan lain. Tapi bukankah ini sudah termasuk misdireksi? Tentu tidak. Misdireksi yang benar bukan adalah kesimpulan berbeda dari hasil twist yang sudah jelas mengarah ke mana. Misdireksi yang benar adalah sebuah kesimpulan yang berbeda dari twist yang sudah jelas akan mengarah ke mana, tapi masih valid jika dipandang secara retrospektif dari sebelum titik balik cerita. Jika ini tidak berhasil dicapai, selamat, cerita kalian baru saja diberkahi oleh Deus ex Machina.

Salah satu contoh misdireksi yang paling saya sukai datang dari visual novel berjudul Steins;Gate. Di perkenalan cerita, sang karakter utama menemukan sesosok mayat, namun setelah cerita maju, mayat yang ia temukan sebelumnya ternyata masih hidup. Dari titik ini ada dua kesimpulan yang logis; bahwa yang ia lihat sebelumnya bukanlah orang yang saat ini ia lihat, atau ia di masa depan berhasil mengubah masa lalu (karena ceritanya sendiri berpusat pada mesin waktu). Sepanjang cerita, pembaca diberi petunjuk kalau kesimpulan kedualah jawabannya. Tapi di akhir cerita, diungkapkanlah bahwa karakter utama dari masa depan menipu dirinya di masa lalu agar percaya kalau sosok mayat yang ia lihat sudah mati—padahal masih hidup—yang memicu serentetan kejadian yang membuat masa depan tidak berakhir dalam peperangan. Setelah sampai di titik ini, kesimpulan yang logis di awal masih tetap valid, namun tidak 100% benar dari sudut pandang pembaca yang sudah membaca sampai akhir.

Intinya, saat mengeksekusi twist, jangan sampai setelah twist dieksekusi pembaca merasa kalau kesimpulan paska twist adalah kesimpulan yang absolut. Harus ada foreshadowing yang menuntun ke beberapa kemungkinan yang sama-sama mungkin. Tapi juga harus ada misdireksi yang membuat pembaca mempercayai kemungkinan-kemungkinan lain sementara jawabannya berbeda. Karena alasan inilah, pengarang WAJIB menghindari penulisan cerita yang bersifat linear dan statik.

No comments, yet.


Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

fsc©2008-2018
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc