fscちゃんネル
fsc©2008-2018
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc

7 trope yang harus dihindari—atau setidaknya gunakan dengan bijak—dalam menulis cerita

Posted on 2016/12/07 (Wed) 15:07:44 WIB by

Dewasa ini, menciptakan alur yang 100% original berbanding 1:0.99999… dengan kesulitannya. Selama 2 abad perkembangan fiksi, sudah tidak terhitung jumlahnya jalan cerita yang sudah ditelurkan oleh pengarang-pengarang di seluruh penjuru dunia. Paradigma ini sama dengan tantangan untuk “membayangkan warna baru di luar spektrum warna.” Kedengarannya mudah, tapi pandangan tersebut adalah akibat kurangnya riset dalam materi-materi serupa.

Pada dasarnya, pengarang secara tidak sadar pasti—saya ulangi; PASTI—menarik inspirasi dari karya-karya yang ia sukai; baik elemen dunia cerita, watak karakter, hingga twist. Namun—bagi saya—yang paling parah adalah saat sang pengarang mencontoh bagian-bagian yang justru klise. Trope—dari kamus literasi bahasa Inggris—memiliki definisi singkat sebagai “situasi yang bisa digeneralisasikan hingga ke akarnya sehingga situasi tersebut tampak klise saking seringnya digunakan dalam cerita.” Bukan berarti penggunaan trope buruk, hanya saja setidaknya ketahui trope mana saja yang sebaiknya dihindari. Ini juga demi lestarinya kualitas “warna baru” yang dibayangkan seorang pengarang.

Oleh maka dari itu, saya akan membuat daftar sarapan penulis baru; 7 trope yang harus diperhatikan, diwaspadai, dan dihindari—atau setidaknya digunakan dengan AMAT-SANGAT bijaksana SEKALI, saya sedang tidak bicara hiperbola. Mulai dari:

MacGuffin

Mari mulai dengan sebuah contoh. Saya punya seorang paman, beliau orangnya easygoing, ramah, meski ekonomi pas-pasan. Tapi pernah sekali beliau terkena musibah. Saya secara langsung pernah melihatnya murung. Hanya beberapa menit, tapi setelah beliau melihat sesuatu dalam dompetnya, beliau segera memaksakan untuk tersenyum. Kalian pasti bertanya-tanya, “apa isi dalam dompet tersebut?” Saya sendiri tidak tahu isi dompet tersebut sampai 8 tahun kemudian. Selembar foto, beliau bersama Ibunya yang sudah meninggal. Nah, selama 8 tahun tersebut, status foto tersebut adalah MacGuffin.

Macguffin adalah sebuah plot device, bisa berupa apa saja, namun bentuk dan kegunaannya tidak diketahui oleh pembaca, TAPI, objek tersebut memberi pengaruh yang besar dalam cerita, lebih dari plot device yang bentuk dan kegunaannya diketahui. Dalam fiksi, MacGuffin biasanya berupa artifak, atau senjata legendaris. Bentuk dan kegunaannya tidak diketahui, tapi karakter dalam cerita tersebut berlomba-lomba mencarinya.

Yep, memang umum. Contoh yang paling membuat saya penasaran adalah One—GUSTI KAPAN TAMATNYA TOLONGLAH—Piece. Dari awal cerita—bahkan langsung di judulnya—kita sudah disuguhi sebuah nama benda—One Piece—yang konon adalah harta paling berharga di seluruh dunia cerita tersebut. 19 tahun kemudian, sampai sekarang ceritanya masih berlanjut, kita masih belum tahu apa, tapi ceritanya secara keseluruhan berpusat pada si One Piece.

 

Jika dieksekusi dengan benar, MacGuffin bisa menjadikan cerita lebih mantap. Namun jika dieksekusi dengan sembarangan, MacGuffin bisa menjadi tidak lebih daripada Red Herring. Contoh MacGuffin yang benar ya One Piece; dia menjadi motivasi bagi banyak karakter, menjadi sebuah ancaman bagi antagonis, hingga menjadi bahan bakar persaingan dan konflik. Sementara penggunaan yang salah adalah apabila MacGuffin tersebut digunakan untuk mendasari konflik, namun saat sang karakter utama mendapatkan si MacGuffin tersebut, sang karakter utama secara instan mendapatkan kekuatan untuk mengakhiri konflik. Kenapa? Karena tujuan cerita menjadi singkat.

Selain itu, MacGuffin adalah alasan utama kenapa saya kurang suka genre fantasi. “Namanya juga sihir, ga usah dijelasin,” bukanlah alasan yang valid.

Rule of Cool

Sifat dasar dari manusia adalah tidak pernah puas, sifat dasar inilah yang membahanbakari imajinasi. Namun ada garis yang membatasi imajinasi dalam dunia literasi. Garis ini disebut suspension of disbelieve. Sebutlah dalam atraksi sulap Houdini; Houdini mengurung dirinya dalam sebuah kandang yang orang biasa tidak bisa kabur, tapi Houdini bisa, di situlah Suspension of Disbelieve-nya. SoD sendiri bersifat esensial dalam cerita manapun, karena SoD ‘lah yang membuat cerita biasa menjadi luar biasa. Namun jika eksekusinya berada jauh di atas SoD, SoD berubah menjadi Rule of Cool.

Contoh utama dalam eksekusi Rule of Cool adalah Alucard dari Hellsing. Segala tentang Alucard sangat apek dengan Rule of Cool; penampilannya, caranya mengatasi masalah… Saya yakin, kalian pasti bergumam dalam hati, “tapi Hellsing ‘kan keren.” Dan sebelum kalian curhat di kolom komentar, saya jawab langsung; memang, tapi hanya dalam media visual. Dalam media baca, Rule of Cool nyaris mustahil diterapkan, dan dalam kebanyakan kasus justru merusak SoD. Ingat; tugas seorang penulis adalah menyampaikan imajinasinya lewat tulisan. Dilemanya adalah saat mencoba singkat dan sederhana, hasil tulisan menjadi tell. Di sisi lain, jika mencoba detail, hasilnya seringkali menjadi plodding. Maka dari itulah, lebih baik hindari trope ini.

Prophecy

Ingin secara instan membuat karakter yang tidak menarik jadi menarik? Gunakan Prophecy™! Gak, tolong jangan. Prophecy (Indonesia: ramalan) adalah sebuah konsep di mana hasil sebuah lemparan dadu mendapatkan kepastian sebelum dadu dilempar. Trope Prophecy membuat aturan baru dalam dunia literasi yang menyebutkan bahwa “bukan akhir cerita yang penting, tapi bagaimana caranya untuk bisa sampai ke sana.” Tapi di sisi lain, apa asyiknya? Dengan adanya Prophecy, bukankah apapun yang terjadi pada akhirnya hasil yang keluar akan jadi seperti yang diramalkan? Lagi saya tanyakan, apa asyiknya? Itulah kekurangan utama trope Prophecy; mengurangi suspensi sebuah cerita hingga lebih dari setengahnya. Pembaca jadi tahu apa yang harus diharapkan.

Tapi lagi, bukan berarti trope ini 100% negatif. Ada beberapa cara yang membuat Prophecy menjadi lebih bisa diterima. Cara pertama adalah dengan membuat si Prophecy tersebut menjadi tidak jelas, atau bisa diartikan menjadi berbagai interpretasi yang valid dan masuk di akal. Sementara cara lainnya adalah dengan membuat Prophecy menjadi ibarat aturan yang mengikat cerita, misalnya membuat Prophecy bukan hanya meramalkan satu kali kejadian, tapi sebuah siklus. Intinya, jangan sampai ramalan membuat cerita menjadi mudah ditebak. TITIK. Misalnya dengan menyertakan sebuah ramalan di mana seorang anak dengan tattoo berbentuk spesifik dan di adegan berikutnya pembaca langsung disuguhkan dengan perkenalan seorang anak dengan tattoo serupa.

Contoh paling baru dan paling bagus dalam menghindari penggunaan yang salah dalam Prophecy adalah Rokka no Yuusha. Novel tersebut melanggar semua aturan Prophecy, tapi dalam artian yang baik, di mana ada sebuah ramalan, dan 6 orang yang mungkin bisa memenuhi ramalan tersebut. Tapi dari keenamnya, ternyata tidak ada yang memenuhi ramalan tersebut. Prophecy = broken, tapi hey, ceritanya menarik.

Ingat juga bahwa “cerita yang luar biasa adalah cerita yang bahkan membuat penulisnya terkejut.” — Saya lupa siapa.

The Chosen One

Untuk bisa memahami masalah dengan trope ini, kita harus memahami seberapa besar dunia. Bumi adalah planet terkecil keempat di tata surya kita—itu pun tidak menghitung Pluto. Dan diameter dari Matahari ke Pluto hanya kurang dari 0.000000001% dari galaksi Bimasakti. Bimasakti sendiri 1/googolplexgoogolplexgoogolplex dari semesta yang bisa diamati. Dan dari angka yang sudah teramat besar itu, masih ada Tengen Toppa Gurren Lagann. Intinya, terlalu memaksakan jika di antara tempat yang seluas itu, hanya ada satu manusia yang bisa menyelesaikan konflik yang bisa menghancurkan semesta. Dalam fiksi, untuk bisa membuat trope ini lebih bisa diterima adalah dengan membuatnya lebih tidak jelas—sama seperti Prophecy—atau lebih baik lagi, jangan dipakai sama sekali.

Kalian tahu cerita apa yang membuat saya sadar kalau trope ini hanya omong kosong? Digimon Adventures 2. Di DA1, kita diperkenalkan pada 7 anak yang bisa menyelamatkan dunia digital dari kehancuran, tapi di DA2, kita diperkenalkan lagi pada 5 anak baru. TAPI DI AKHIR CERITA, DIUMBARLAH BAHWA SIAPA SAJA DI DUNIA BISA JADI ANAK-ANAK TERPILIH. JLEGER!! Momen yang sama terjadi lagi di Mahou Shoujo Madoka Magica, di mana ternyata tidak hanya ada sedikit Mahou Shoujo, tapi banyak di satu dunia, semesta, hingga waktu yang lain.

Dalam hukum kosmik, tidak ada yang spesial, camkan. Sementara di hukum literasi, membuat sesuatu yang spesial berarti membuat cerita yang beda dari yang lain.

Tapi, kalau kalian masih kokoh ingin memakai trope ini, saya mohon jangan memperparah karakter dengan menambahkan sifat…

Mary Sue/Gary Stu

Kembali ke paradoks ketidakpuasan manusia. Manusia mendambakan kesempurnaan, tapi begitu manusia mencapai kesempurnaan, manusia jadi membenci kesempurnaan. Tapi jangan buat artikel ini jadi filosofikal. Mary Sue/Gary Stu adalah karakter yang punya watak terlalu sempurna, baik penampilan, sifat, pemikirannya, hingga kemampuannya. Trope ini membuat tidak adanya hal yang bisa dipelajari dan dikembangkan dari kesalahan yang dibuat si karakter, karena memang si karakter secara fundamental memiliki ketidakmampuan untuk membuat kesalahan.

“Errare humanum est,” membuat kesalahan adalah sifat manusiawi. Dan dari kesalahan, banyak gugahan emosi yang bisa dihasilkan. Semuanya berawal dari kesalahan.

Raise Him Right This Time (AKA “A Second Chance”)

Oke, trope ini pada dasarnya tidak salah apa-apa. Hanya saja trope ini mendapat image negatif akibat penggunaannya yang pada awalnya satir dianggap serius hingga menjadi tren. Yang saya maksud adalah trope ini dieksekusi di awal cerita, di bagian Ki dari Kishoutenketsu. Yep. Saya sedang mengomeli sebuah tema cerita yang belakangan menjadi tren hingga diboikot dari lomba kepenulisan novel ringan di Jepang.

…isekai.

…dunia parallel.

Sebutlah sesuka kalian, tapi mulai dari nomor 2 ini, trope-trope lain yang dibahas secara mandiri ikut runtuh ke dalam nomor-nomor yang lebih tinggi. Mari dekonstruksi. Sebut cerita A bertema dunia parallel, menceritakan karakter X yang mati di dunia 1 dan terlahir ulang di dunia 2. Di dunia 2, X masih memiliki pengalamannya saat hidup di dunia 1, dengan pengalamannya ini, dia jadi Gary Stu di dunia 2. Diperparah lagi dengan X ternyata dalah orang terpilih yang akan mengubah dunia 2 dan semua itu sudah diramalkan sebelumnya. Dan cerita seperti ini ada.

Kenapa nomor 2 ini harus dihindari? Karena perkembangan cerita yang seperti ini bersifat…

Deus ex Machina

Tuhan dari semua trope negatif. Solusi dari segala masalah yang mustahil diselesaikan. Kalian tahu apa ini, saya ga perlu jelaskan.

***

Sederhananya, cerita terburuk yang pernah saya baca dan akan kalian baca adalah cerita yang menggabungkan ketujuh trope yang saya jabarkan di atas. Apapun yang terjadi, sekalipun kalian bisa mencegah teroris meledakkan Monas jika kalian menuliskan cerita yang bukan bersifat humor dengan satu atau lebih trope dengan cara salah seperti dalam artikel ini, biarkan saja Monas hancur.

P.S: Saya ga punya paman seperti di nomor 7.

No comments, yet.


Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

fsc©2008-2018
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc