fscちゃんネル
fsc©2008-2018
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc

Kishoutenketsu – Definisi dan Kegunaannya Dalam Storytelling

Posted on 2016/07/02 (Sat) 05:40:52 WIB by

Nama saya Komar, saya seorang lelaki yang bosan dengan kehidupan. Suatu hari, saat sedang duduk termenung memikirkan arti kehidupan, saya berkenalan dengan Mayang; sesosok gadis manis yang mengubah cara pandang saya akan kehidupan. Dia baik, jelita, dan perhatian; segala tentang dirinya membuat saya tidak ingin kembali ke diri saya yang dulu. Hanya saja, Mayang hanya mampir dalam kehidupan saya—hanya memberi spektrum lain yang mencoreng warna hidup saya yang sudah suram. Mayang berakhir dalam dekapan lelaki lain. Tapi Mayang memberi saya pelajaran. Meski kecewa dan nyaris membuat saya menutup riwayat, saya memutuskan untuk move on. Kini saya sudah menemukan wanita lain yang mengisi kekosongan dalam diri saya.

Angka empat adalah angka ajaib bagi pengarang cerita. Angka tersebut mewakili tahapan laju cerita yang mereka tulis; perkenalan, perkembangan, titik balik, dan titik temu. Tidak hanya dalam storytelling, sistem ini bersifat universal dalam semua karya tulis. Essai dan karya tulis ilmiah juga menggunakan sistem ini. Hanya saja, tahap ketiga—atau titik balik—biasanya adalah tahapan pembahasan masalah, yang mana sebenarnya tidak jauh berbeda. Nah, sistem ini dikenal dengan nama 「Kishoutenketsu.」

起承転結

Berawal beratus tahun yang lampau di timur, Kishoutenketsu adalah struktur penulisan susastra seperti puisi dan prosa. Sistem ini digunakan oleh pujangga di China, Korea, hingga Jepang dan kini digunakan secara global di seluruh dunia sebagai teknik pengembangan plot sebuah cerita dalam berbagai media. Novel, film, game, semua media hiburan modern yang memiliki cerita bisa didekonstruksikan ke dalam kishoutenketsu.
Seperti yang dibahas sebelumnya, kishoutenketsu terdiri dari empat karakter kanji yang masing-masingnya mewakili satu tahap dalam cerita;

  1. 起 (Ki – Asal); perkenalan. Titik di mana latar, karakter, dan tema cerita dicanangkan.
  2. 承 (Shou – Penjelasan); perkembangan. Titik di mana semua elemen dari tahap pertama diolah sedemikian rupa sehingga cerita yang diperkenalkan kini memiliki tujuan dan bagaimana caranya agar bisa sampai ke sana.
  3. 転 (Ten – Perputaran); titik balik. Lebih akrab dikenal dengan twist, titik di mana perjalanan dalam mencapai akhir cerita mengalami halangan.
  4. 結 (Ketsu – Kesimpulan); titik temu. Titik di mana perjalanan diberikan akhir. Memuaskan ataupun tidak.

Setelah mengetahui ini, coba dekonstruksikan cerita yang saya presentasikan di awal artikel. Terlihat ‘kan? Bukan tanpa alasan bentuk presentasi komik Jepang yang paling sederhana adalah komik 4 panel, karena pada dasarnya mereka memang mematuhi teknik ini juga.

Penerapan porsi tiap tahap juga tidak absolut. Meski sistem pengembangan cerita dibagi dalam empat tahap, namun bukan berarti tiap tahapnya harus mewadahi 25% bagian cerita. Bisa saja perkenalan mewadahi 10% cerita, perkembangan 50% cerita, 30% titik balik, dan 10% titik temu. Karena pada dasarnya, Kishoutenketsu bukanlah ilmu pasti ataupun kode yang mengekang, melainkan hanya teknik konstruksi dan dekonstruksi sebuah karya cerita.

Lalu, bagaimana dengan prolog? Atau Epilog? Ke mana kedua bagian cerita itu masuk dalam Kishoutenketsu? Well, bagi saya, jawabannya tidak ada. Bagi saya, prolog dan epilog bukan elemen absolut dalam sebuah karya cerita—prolog bukan perkenalan, dan epilog bukan kesimpulan.

Saya sendiri menerapkan teknik ini dalam storytelling. Kishoutenketsu memang alasan di balik kenapa novel yang saya tulis saya rencanakan untuk berakhir di jilid empat. Tapi di balik tiap jilidnya, saya secara rekursif menerapkan teknik yang sama tiap di tiap jilidnya (baca: tiap arc-nya). Dan pesan saya, jika kalian juga merencanakan cerita panjang, jangan lupa terapkan teknik ini agar cerita kalian tidak melenceng nantinya. :>>

No comments, yet.


Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

fsc©2008-2018
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc