21 February 2015

25 Juni 2010

ト'P<k酩ャ^k}#PュスE椏ュ

メ∋.口$

“Apa kau tahu apa itu ‘rusuk Hawa’?”

[Huh?]

Di tengah istirahat, sebuah pertanyaan membangunkanku. Hanya butuh sesaat untuk menyadari bahwa aku sudah kembali ke ruangan itu dan bahwa aku sudah terduduk di atas kursi berputar yang sama, di belakang meja yang sama, di seberang sosok hitam Graille Einhorn. Namun tidak seperti sebelumnya, kini Einhorn sedang duduk bersamaku.

Continue reading »
14 February 2015

Segalanya terasa ringan bagiku. Aku sempat merasa seperti bisa menyentuh langit, bukan langit dalam ilusi yang dibuat pikiranku, namun langit yang nyata.

Sayangnya, perasaan ini tidak berlangsung lama. Sebelum aku mendarat di atas pallet dan meraih kabel yang menggantungkan palletnya dari lengan crane, aku melihat ke bawah. Odi—setelah gagal menangkap kakiku—mulai kalah melawan gravitasi.

Saat sedang terjatuh dari lantai empat ke atas tanah, tampak dalam matanya keterkejutan seperti yang ada dalam mataku—aku sendiri juga sama terkejutnya dengan dia.

Continue reading »
03 February 2015

24 Juni 2010

Pinggiran kota Mombasa

09.08

Pergilah! Atau kita berdua akan mati!

Gadis itu berujar dengan penuh keputusasaan. Untuk pertama kalinya aku tahu rasanya dipaksa melakukan sesuatu, dan aku tidak suka rasanya.

Sebuah senyum cerah menghiasi wajahnya kala itu, seperti sebuah pelangi di kala hujan; pemandangannya indah namun menyakitkan.

Continue reading »
17 January 2015

Sebelum aku melintasi persimpangannya, aku palingkan wajahku ke kiri dan aku melihat kalau mereka sudah berlarian menuju mobil mereka. Ini artinya aku harus segera menghilang. Sayangnya jalanan yang kulewati ini lumayan panjang. Aku tidak melihat adanya belokan ataupun persimpangan untuk saat ini.

Tepat saat aku melihat ke belakang menggunakan cermin depan, aku menemukan kalau sedan perak yang kulihat di depan apartemen Vicky sedang mendekat. Meski perhatianku tersita, aku mencoba untuk tetap tenang dengan menganggap kalau mereka hanyalah pengguna jalan lain. Ingat kalau mereka diperintahkan untuk tidak meninggalkan saksi.

Continue reading »
09 January 2015

24 Juni 2010

Apartment Vicky

07.21

Waktu berlalu tanpa kusadari setelah kejadian semalam. Hal berikutnya yang kusadari adalah pagi sudah menyingsing. Tidak seperti Vicky yang menghabiskan malam dengan beristirahat, aku di sisi lain menghabiskan malam dengan terjaga. Dengan sebuah pistol di tanganku, aku terduduk sepanjang malam di atas sofa dengan pandangan kosong. Namun juga sambil memasang telinga pada setiap detail yang bisa kudengarkan, seperti suara tetangga Vicky di lantai atas yang menuruni tangga sekitar limabelas menit lalu.

Continue reading »
10 December 2014

“Kedengarannya ide bagus, aku akan coba.”

Setelah berjalan berputar-putar untuk beberapa saat, dia lalu melirik ke arah jam dinding dan tiba-tiba ekspresinya berubah panik. “Oh, sudah jam segini. Aku harus pergi.”

“Huh?”

“Aku dapat shift sore,” jawabnya sambil mengambil kunci mobil yang ada di atas meja kecil di sisi lain sofa.

Continue reading »

22 Juni 2010

Kota bawah Mombasa

14.42

“A... apa yang harus kulakukan?”

“Pertama-tama, jangan panik. Kedua, periksa dan ambil dompet orang-orang ini. Dan ketiga, bantu aku ke tempat aman.”

Gang belakang yang sempit ini membuat suara sirene di kejauhan yang mendekat terdengar lebih keras. Perubahan suara ini membuatku kesulitan memperkirakan berapa lama lagi waktu yang kami miliki sebelum pihak berwenang datang. Tapi dengan perkiraaan kasar, aku kira sedikitnya kami punya waktu dua menit.

Continue reading »
30 October 2014

Sebuah sosok mulai muncul, menggerhanai cahaya matahari menyilaukan yang terpantul. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi tanpa menyia-nyiakan kesempatanku, aku mulai berlari menyerangnya.

“Berhenti!”

Continue reading »

22 Juni 2010

Sekitar pesisir Mombasa

10.42

Mabuk laut; seharusnya itu yang kurasakan saat ini. Berjam-jam lamanya aku habiskan sendirian nyaris tidak bergeming satu langkahpun dari kasur ini. Namun karena aku memang sengaja membenamkan diri dalam lamunanku, aku nyaris tidak bisa merasakannya sama sekali.

Continue reading »
04 August 2014

Sama sekali tidak ada petunjuk untukku supaya tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Pikiranku benar-benar dimatikan untuk saat ini. Istirahat sangat dalam dalam tidur tak bermimpi terasa sangat damai. Namun saat-saat damai yang kunikmati ini segera diganggu oleh perasaan terjatuh. Badanku terasa sangat berat, seakan aku dilemparkan dari tempat tinggi ke atas tanah. Aku tidak bisa menikmati saat aku dijatuhkan atau saat aku terjatuh, aku hanya bisa merasakan sentakan spontan yang membangunkan tubuhku.

“Agh!”

Aku terbangun di kamar yang sama saat aku berkelahi melawan tujuh orang. Meski aku masih harus mengatur nafas, kali ini aku terbangun dengan tenang. Tidak ada rasa butuh untuk mengenali lingkungan atau kebutuhan untuk melindungi diri. Ketenangan ini memberiku kesempatan untuk memahami keadaan.

Continue reading »

19 Juni 2010

Lokasi tidak diketahui

Waktu tidak diketahui

Apa yang akan kau lihat saat kau mati?

Serantai kata terlintas dalam benakku saat aku menatap lemah ke arah permainan warna hitam dan abu-abu di langit badai yang tampak murka. Pemandangan inilah yang pertama kali kulihat setelah entah apa yang sudah terjadi padaku dan entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Serantai kata itu juga adalah hal pertama yang kupikirkan. Entah apa alasannya. Mungkin hanya instingku yang mencoba mencari tahu apa aku masih hidup.

Continue reading »
To be added ⇀᎑ර
fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc