22 Juni 2010

Sekitar pesisir Mombasa

10.42

Mabuk laut; seharusnya itu yang kurasakan saat ini. Berjam-jam lamanya aku habiskan sendirian nyaris tidak bergeming satu langkahpun dari kasur ini. Namun karena aku memang sengaja membenamkan diri dalam lamunanku, aku nyaris tidak bisa merasakannya sama sekali.

Lagipula karena satu-satunya jam di kapal ini diletakkan di anjungan. Tidak adanya satupun penanda waktu di ruang rawat ini membuatku tidak tahu sekarang pukul berapa. Satu-satunya penanda yang bisa kujadikan patokan waktu hanyalah bayangan panjang yang dijatuhkan oleh cerahnya matahari pagi dari arah dek yang tampak di sela-sela ruang rawat yang tak berpintu ini beberapa saat alu. Bahkan aku sudah kehilangan hitungan sudah berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kali aku melihat bayangan itu.

[Sialan, ke mana perginya mimpi-mimpi itu saat aku mencarinya?]

Aku mencerca diriku sendiri. Aku mencerca pikiranku sendiri yang kurasa seperti sedang mempermainkanku. Pikiranku yang menolak untuk menunjukkan kenangan-kenangan hitam dan putih yang terus kusaksikan kemarin. Aku justru mendapat rasa sakit tajam di kepalaku jika aku memaksakan diriku.

Setelah mencoba berulang kali, yang bisa kupaksakan keluar dari otakku hanyalah gema-gema suara. Suara tembakan, suara ledakan, dan suara teriakan. Meski hanya suara, aku jadi berharap aku tidak pernah mendengar suara-suara itu. Bukan karena suaranya yang terdengar mengerikan, namun karena suara-suara itu membuatku berpikir kalau aku ada hubungannya dengan apa yang terjadi dalam suara-suara itu.

Semalam aku nyaris tidak tidur. Jikapun aku terjatuh tidur, aku akan terbangun kembali dalam hitungan menit. Ketidaktenanganku membuatku terjaga, namun juga membuatku kuat menahan kantuk. Aku tidak merasa mengantuk meski sekarang sudah pagi.

Bahkan kantukku seakan memperkuat indra pendengaranku. Telingaku jadi bisa mendengar langkah kaki yang memasuki dek bawah. Seharusnya tidak ada siapa-siapa lagi di dek bawah kecuali aku. Terakhir kali aku mendengar suara langkah kaki orang adalah beberapa jam lalu, saat siapapun itu naik ke atas dek.

Suara langkah kaki itu semakin terdengar. Tapi belum cukup keras untuk menggaung karena koridornya tidak cukup besar dan suara langkah kakinya tidak terlalu kencang. Yang membuatnya terdegar kencang hanyalah pendengaranku. Dia sudah melewati kamar tidur kru. Jika dia tidak masuk ke ruang mesin, berarti dia ke sini untuk mencariku.

“Theodore?”

Meski aku tahu ada yang mendekati ruang rawat, Jordan yang tiba-tiba muncul membuatku terkejut karena aku masih terlalu dalam menikmati kesendirian. Setelah apa yang dikatakannya tadi malam, aku memilih untuk memisahkan diri di ruang rawat, mencoba mengingat apa yag sudah terjadi sambil meyakinkan diri sendiri kalau aku bukan orang jahat.

Lagipula aku sedang mempersiapkan diri untuk apa yang akan kutemukan nanti. Tapi aku merasa aneh; aku tidak takut. Mungkin saja aku akan berurusan dengan hukum. Tapi di lain sisi, mereka akan memberitahu siapa aku dan apa yang terjadi padaku. Bukan berarti aku bersedia membuang kebebasanku untuk ditukar dengan jawaban, hanya saja saat ini aku belum melihat jalan lain.

“Ya?” jawabku lembut.

“Kita hampir mendarat.”

Dengan enggan aku berdiri, beranjak dari matras dimana aku membaringkan kepalaku dan menghabiskan malamku melamun. Aku tahu kalau sekarang sudah bukan waktunya melamun, sekarang sudah waktunya bersiap.

Aku coba untuk tidak memikirkan apa yang sedang menungguku. Tapi rasanya seperti seseorang menyuruhku untuk tidak menghiraukan seekor gajah yang sedang bersamaku di ruangan ini; jelas saja aku tidak bisa melakukannya. Sembari merenggangkan punggungku dengan menaikkan kedua tanganku ke atas, aku menyadari kalau tubuhku sudah beristirahat dan mengkhianati pikiranku yang sama sekali belum tertidur.

Pikiranku terus terpaku pada subjek yang terus menarik perhatianku. Meski pikiranku memilih untuk mengacuhkannya, tapi ketidak-nyamanan yang disebabkannya membuatku terus memikirkannya. Dan semakin lama aku memikirkannya, semakin sulit untuk menghiraukannya.

“Aku segera naik ke dek.”

Aku berujar dengan malas sambil mencoba menyembunyikan kecemasanku sebelum aku berdiri dan berjalan ke arah Jordan yang menungguku di mulut pintu yang memisahkan ruang ini dan koridor dek bawah. Sejujurnya, aku berpikir kalau aku merasa seperti seorang tahanan yang akan dibawa ke tempat eksekusi. “Analogi yang ironis,” pikirku. Sambil berjalan ke luar, aku tidak bisa menahan diri untuk mengenang perdebatanku dengan Jordan semalam.

“Kenapa kau memberitahukan ini padaku?!” ujarku nyaris berteriak. Tepatnya seperti bicara dengan normal, tapi dengan nada bicara yang lebih tinggi.

Semalam Jordan menghampiriku yang sedang memikirkan apa yang sudah terjadi sorenya. Tidak ada yang tahu pasti apa yang sudah terjadi di sana. Mengesampingkan mitos-mitos yang diceritakan oleh Tim, aku percaya kalau akulah yang menyebabkan badai kemarin berhenti.

Di sana Jordan menjelaskan padaku kalau para kru kapal ini sudah berbohong padaku. Mereka mengatakan kalau saat kami mendarat di Mombasa, akan ada sebuah regu penyelamat yang menungguku, di mana kenyataannya justru ada tim penyergap.

“Maafkan aku, tapi yang lain sudah yakin kalau kau adalah penjahat.”

Aku menghela nafas, aku tahu aku tidak bisa membuktikan kebalikannya.

“Mereka tidak bisa membantahnya, pengumumannya bersifat resmi,” sambung Jordan.

“Aku tidak bisa menyalahkan kalian, toh aku tidak bisa membuktikan kalau aku tidak melakukan apa yang mereka katakan tentangku.”

“Aku menceritakan ini padamu supaya kau tidak memandang kami salah. Entah bagaimana, tapi aku percaya padamu, aku percaya kau tidak melakukan semua itu.”

“...” aku tidak bisa berkata-kata, tidak ada lagi yang bisa kupercayai kecuali diriku sendiri. ‘Diriku’ yang sama sekali tidak tahu apa-apa. “Apa yang membuatmu bisa berkata seperti itu?”

“Sejujurnya, aku tidak tahu.” Jawabannya sedikit membuatku kecewa, tapi juga membuatku sedikit lega. “Mungkin karena menurutku kau masih sangat muda. Atau cuma firasat baik, tapi firasatku begitu kuat hingga sulit mengacuhkannya.”

“...terima kasih.”

Aku suka bagaimana dia dengan buta mempercayaiku. Seakan aku tidak memiliki kesalahan apa-apa meski banyak yang berkata sebaliknya. Sayangnya kami hanya memiliki satu hari untuk dihabiskan bersama. Aku sedikit berharap aku sudah mengenal Jordan lama, mungkin saja kami bisa jadi kawan baik.

Dia menawariku untuk minum-minum malam itu, yang sayangnya aku tolak. Dari sana aku mulai menyendiri di ruang rawat. Kalau saja aku tahu bagaimana aku menghabiskan waktu semalam dan bagaimana aku merasa sekarang, aku seharusnya menerima ajakannya itu.

“Sulit untuk tidak mengatakannya sekali lagi,” bisik Jordan saat kami berjalan di koridor, “aku minta maaf.”

Aku berpura-pura untuk tidak mendengarnya. Bisa kulihat kalau Jordan tahu aku hanya pura-pura, namun dia juga berpura-pura kalau dia tidak tahu. Keadaannya membuatku ingin membalas perkataannya, namun sudah sedikit terlalu lama waktu berjalan dan akan terkesan canggung jika aku mencoba.

Entah berapa lama aku sudah mengurung diri di ruang rawat, tapi sepertinya sudah cukup untuk membuatku lupa seberapa cahaya matahari bisa membutakan mataku. Langit biru diiringi nyanyian burung-burung camar menyambutku dan Jordan yang baru saja keluar dari dek bawah.

Begitu mataku membiasakan diri dengan cahaya matahari yang menyilaukan, aku bisa melihat daratan yang sudah tak terlalu jauh.

[Pertama kali aku melihat daratan, entah sejak kapan.]

Mungkin inilah salah satu keuntungan terlahir kemarin; aku jadi bisa mengapresiasi keindahan hal-hal kecil yang bisa dilihat semua orang setiap hari.

“DARATAN!”

Tim berteriak sangat kencang melawan raungan haluan kapal yang memecah ombak. Suaranya terdengar cukup keras untuk bisa menyaingi suara gejolak lautan.

“Siapa saja tarik dia sebelum dia menyebut dirinya ‘raja’ lagi!” ejek Dasan pada Tim dari anjungan dengan suara yang cukup keras untuk beradu dengan suara ombak. Teriakan Dasan segera diikuti oleh gelak tawa rekan-rekannya yang juga sedang bersiaga di atas dek.

Kira-kira tiga puluh menit kemudian, kapal ini akhirnya berlabuh di dermaga Mombasa. Sebuah mobil ambulans sudah menunggu kedatangan kapal ini lama sebelum kami sampai di dermaga. Dan begitu kapal selesai berlabuh, semua kru kapal—kecuali Jordan—berpura-pura menyibukkan diri mereka. Dasan, Mory, dan Peppy berpura-pura membongkar muatan ikan-ikan dari kargo. Sementara Tim dan Alvi berpura-pura memeriksa ruang mesin.

Sebelum aku turun dari kapal ini, aku kembali ke ruang rawat untuk terakhir kalinya. Bukan untuk mengenang tempat itu, dua hari di sana tidak memberiku cukup kenangan, kecuali untuk insiden di dalam badai yang tidak terjadi di ruang rawat ini. Aku kembali ke ruang rawat untuk mengambil satu-satunya benda milikku; jaket musim dingin bernamakan “Theodore Quentin.”

Yang tersisa untuk melepasku pergi hanyalah Jordan, sepertinya kru yang lain sudah memilihnya menjadi perwakilan untuk pelepasanku. Namun sayangnya sepertinya Jordan sendiri tidak tahu harus berkata apa.

“Sepertinya kita harus berpisah di sini,” ujarku setengah bercanda.

“Aku minta maaf untuk yang lain, mereka tidak bermaksud buruk.”

“Naah. Tidak usah dipikirkan. Sampaikan pada mereka rasa terima kasihku. Kalau tidak ada kalian mungkin aku sudah mati.”

Meski aku tidak mengharapkannya, dia mengangkat tangan kanannya ke depan, menawariku jabat tangan. Karena terkejut, aku menanggapinya dengan canggung. Setelah kuingat lagi, dialah satu-satunya orang yang tidak kujabat tagannya saat anggota kru yang lain memperkenalkan diri mereka. Meski terlambat, namun aku senang menjabat tangannya.

“Mereka sudah menunggumu,” ujarnya sembari menepuk pundaku dengan tangannya yang lain sambil masih menjabat tanganku dan lalu menunjuk ke arah dua orang lelaki berseragam kehijauan yang berdiri di atas dermaga.

Meski berat, namun setelah aku melihat kedua lelaki itu, aku lepaskan genggamanku dari tangan Jordan dan mengenakan jaket yang sejak tadi kugantungkan di lengan kiriku. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, aku turun dari kapal ke arah dermaga. Setelah beberapa langkah, aku sadar kalau aku belum mengatakan selamat tinggal. Namun aku mengurungkan niatku saat melihat Jordan sudah berpaling dan masuk ke anjungan.

Aku balikkan badanku dan berjalan lebih cepat ke arah dermaga di mana kedua lelaki berseragam kehijauan menungguku. Saat aku berjalan di atas dermaga yang dipavmen dengan batu-batu oval ke arah gang yang mengarah ke jalanan, salah satu dari mereka menyadari keberadaanku dan menghampiriku. Dan karena aku tahu kalau mereka di sini bukan untuk menjagaku, aku harus berhati-hati.

“Letnan Theodore Quentin?” tanya lelaki yang memakai kacamata dengan suara yang dalam.

“Ya,” jawabku diiringi anggukan.

“Kami regu penyelamat Anda.”

[Pembohong.]

Bahkan dari awal, mereka sudah mencoba membohongiku. Jawabannya memberiku satu alasan tambahan untuk tidak mempercayai mereka.

“Nama saya Odi, dan ini Rick.”

Agak sulit untukku memalsukan senyum saat ini, namun karena mereka adalah satu-satunya cara untuk mencari tahu tentang diriku, aku mencoba untuk tetap berpura-pura.

“Kendaraan kami diparkir di jalan, kami akan membawa Anda untuk dikembalikan.”

“B-Baik.”

Aku menjadi gugup karena aku memikirkan apa yang akan mereka lakukan padaku. Skenario terbaiknya mereka akan membawaku ke hadapan Graille Einhorn, dan yang terburuknya adalah mereka akan membunuhku di sini. Karena jika apa yang dikatakan orang-orang kalau aku menjatuhkan sebuah helikopter, maka itulah hal paling masuk akal yang bisa dilakukan padaku. Aku takut mereka akan melakukan skenario terburuk yang kupikirkan, namun sepertinya mereka memanfaatkan ketidak-tahuanku.

Begitu kami keluar dari gang, aku bisa melihat sebuah kendaraan berwarna merah dan putih yang tampak seperti ambulans sedang terparkir di jalanan. Odi dan Rick mengantarku ke arahnya, sepertinya aku memang akan dibawa ke suatu tempat.

“Menurut laporan kami, Anda menderita amnesia?”

Odi mulai bicara saat kami mendekati mobil ambulans itu, aku lega dia mulai bercakap, karena berjalan diam di antara dua orang yang tidak kukenal terasa sangat tidak nyaman.

“Ya, aku tidak bisa ingat dengan apapun yang terjadi sebelum aku diselamatkan oleh kapal nelayan itu,” jawabku setelah sedikit jeda. “Apa kau tahu apa yang sudah terjadi?”

“Sejujurnya kami tidak tahu apa-apa. Kami hanya ditugasi menjemput Anda di sini.”

[Jelas saja, mereka cuma pesuruh rendahan.]

“Namun laporan kami menyatakan kalau Anda adalah korban helikopter jatuh,” timpal Rick.

“Aku sudah tahu itu, pada nelayan itu memberitahuku kemarin.”

“Maaf, tapi kami tidak tahu apa-apa lagi,” lanjut Odi, dan saat dia bercerita, kami sudah mencapai pintu belakang mobil ambulans.

“Tapi sekarang Anda bisa tenang, kami akan membawa Anda ke tempat seseorang yang tahu.”

“Sungguh?”

*KLIK*

Aku tidak memperhatikan saat Odi membuka pintu belakang ambulans karena aku masih terlalu sibuk berbicara dengan Rick. Aku sudah teledor. Karena begitu pintu itu terbuka, sebuah sosok ketiga tiba-tiba menyergapku dari dalam ambulans dan menutup kepalaku dengan sebuah kantung.

“Apa-apaan—”

Aku mengerang, dan mereka juga mengerang. Namun sebelum aku bisa mengetahui apa yang sedang terjadi, salah satu dari mereka membungkam mulut dan hidungku dengan sesuatu. Tiba-tiba sebuah bau yang kuat menembus kain tebal yang menutupi wajahku.

[Chloroform!]

“———!

Bau itu melemahkan pikiranku, membuat tubuhku merasakan sebuah rasa lelah yang tak terkalahkan. Saat mereka melepaskan sesuatu yang membungkam mulut dan hidungku, kepalaku sudah terlalu berat untuk bereaksi. Dan sebelum aku terjatuh seperti sekantung pasir, aku bisa mendengar suara itu lagi; suara seseorang memanggil namaku dengan diam.

Sisi baiknya, ini adalah tidur pertama yang bisa kunikmati sejak kemarin.

“———!

Suara itu lagi. Meski aku tidak bisa mendengar namaku, aku bisa mendengar suaranya memanggilku. Bukan katanya yang bisa kudengar, tapi suaranya. Suara yang akrab dan tenang, suara itu menenangkanku di saat-saat menegangkan ketika aku sedang dibius.

“———!

[Berisik...]

Sekali-dua kali suara itu memanggilku, aku merasa ditenangkan. Namun saat suara itu memanggilku untuk ketiga kalinya, aku merasa kesal. Sebelum aku dibius, aku memang waspada. Namun begitu aku jatuh tak sadarkan diri, rasa kantukku mengambil alih. Pikiranku menolak bangun, dan entah bagaimana caranya memberitahu suara itu untuk membiarkanku beristirahat.

“———!

[Apa?!]

Suara hatiku berteriak, suara hatiku lalu bergema di dalam ruang hampa dalam pikiranku. Dalam sekejap aku membuka mataku. Bukan mata fisikku, namun mata yang kugunakan untuk melihat mimpi.

Aku terbangun, indraku kembali aktif. Indra penglihatan, indra pendengaran, indra penciuman, indra perasa, dan kemampuanku untuk berbicara. Aku sudah kembali ke ruang di mana langitnya berwarna putih dan dasarnya berwarna hitam.

Aku melihat ke kiriku dan aku menyadari kalau kali ini aku berada di tempat yang berbeda. Bukannya terduduk di atas kursi di belakang sebuah meja kayu, aku terduduk di bawah sebuah pohon. Sebuan pohon beringin kecil. Pohonnya sendiri tampak sangat nyata. Warna coklat kayunya, warna hijau daunnya, dan warna merah dan kuning di daun-daunnya yang sudah mati.

Inilah kali pertamanya aku melihat ada warna lain selain hitam dan putih di ruangan ini. Tapi aku merasa ada yang aneh dengannya. Meski aku tidak merasakan adanya angin, tapi dedaunan dan dahan-dahan pohon ini tampak melambai perlahan seperti tertiup angin.

Di pangkuanku juga ada sebuah buku, buku ini tidak tebal, tapi semuanya hanya putih. Covernya kosong dan saat kulihat isinya, semua halamannya juga kosong.

“———!

Suara itu terdengar lagi, tapi kali ini aku bisa mendengar dari mana datangnya.

“WHA—”

Aku sangat terkejut saat menengok ke sebelah kanan. Sesosok putih sedang berdiri sangat dekat denganku, hanya satu langkah dariku. Rambutnya yang sepanjang pinggang menari-nari ke kiri tertiup angin yang tidak bisa kurasakan sementara tangan kanannya menahan agar rambut panjangnya itu tidak menutupi wajahnya yang tidak bisa kulihat.

Apa maumu?

Aku masih terlalu terkejut, dan seperti sebelumnya, suara gaib milikku bisa kudengar. Suaraku terdengar berbeda, seperti lebih ringan. Lagipula dibandingkan dengan terakhir kali aku melihat sosok putih itu, dia tampak sedang mengenakan blouse tak berlengan dan celana jeans, bukan sundress.

“Apa kau sedang tidur di sini?!”

Dia berteriak padaku. Meski suaranya terdengar tegas, tapi aku bisa mendengar suaranya dihiasi nada feminin.

Memangnya kenapa? Ada perlu apa kau ke sini?

“Kalau kau menjawab panggilanku tadi, aku tidak akan ke sini!” sentaknya sambil menyilangkan kedua lengannya.

Sudah jelas 'kan? Kalau aku tidak menjawab, berarti aku tidak mau kau ke sini.

“...terserah,” dia menyerah sambil menyisir rambut kanannya yang tertiup masuk ke depan wajahnya. “Eve sedang mencarimu.”

Eve? Ada apa dia mencariku?

“Dia mencari buku baru yang kau pinjam.”

Oh, buku ini? Bilang padanya tunggu dulu, aku belum selesai membacanya.

“Kalau begitu cepat selesaikan.”

Tidak semudah itu, aku selalu ketiduran waktu membacanya.

“Kalau begitu biarkan Eve membacanya duluan!”

Tidak mau, dia akan butuh setidaknya tiga hari untuk membaca buku ini. Aku akan selesai membacanya nanti malam. Sekarang biarkan aku istirahat.

“Ah 'tuh ‘kan, kau tidur di sini!”

Sudah kubilang; memangnya kenapa?

“Jangan tidur di sini!”

Setelah hanya berdiri dan menyentakku dari tempatnya berdiri, dia mulai mendekatiku dan menarik-narik tangan kananku. Dan seperti sebelumnya—seperti saat siluet hitam Doktor Graille Einhorn menjabat tanganku—meski bentuknya yang tidak seperti manusia, tapi sentuhanya terasa sangat nyata. Dia menggenggam pergelangan tangan kananku dan menariknya sekuat tenaga. Namun tidak peduli seberapa kuat dia menarikku, aku tidak bergeming. Aku bahkan tidak melawan, tapi dia tampak seperti menarikku sekuat tenaganya.

Biarkan aku di sini, aku akan pulang ke rumah sebelum malam!

“Pokoknya tidak, cepat bangun!”

Kau menyebalkan, ya!

“Bangun!”

“...bangun!”

“...bangun...”

Dia terus menarik lengan kananku, lagi dan lagi. Sampai perlahan suaranya mulai memudar namun juga mulai menggema. Sedikit demi sedikit, sensasi tarikannya berubah menjadi gaya yang berasal dari luar tubuhku.

Aku mulai sadar; perlahan aku mulai waspada dengan sekelilingku. Aku bisa mendengar samar-samar suara mesin kendaraan bermotor dan klakson mobil. Tapi aku tidak bisa melihat apapun. Lalu aku teringat kalau mereka menutup wajahku dengan sebuah kantung, tentu saja aku tidak bisa melihat.

Ditambah saat aku ingin mencoba menggerakkan tanganku, gerakan tangan serasa terbatas. Kedua tanganku sedang terikat erat di balik punggungku. Bisa kurasakan apa yang sedang mengikat tanganku, teksturnya tidak dingin seperti logam, jadi kupikir bukan borgol. Juga tidak tebal, jadi kupikir bukan tali. Yang bisa kurasakan adalah bentuknya yang tipis, aku menebak zip-tie.

Zip-tie, meski strukturnya yang tipis, akan sulit untuk membebaskan diri dari ikatannya. Aku harus menyerah setelah beberapa kali mencoba. Karena bukannya membuat ikatannya melebar dengan cara mendorongkan tanganku satu sama lain, aku malah membuat pergelanganku sakit.

Meski mataku tertutup, aku mencoba meresapi lingkunganku. Aku ingat hal terakhir yang terjadi sebelum sampai di sini adalah mendapati kepalaku ditutupi sebuah kantung oleh ‘regu penyelamatku.’ Sekarang aku terduduk di atas sebuah bangku panjang, punggungku juga bersandar ke sebuah dinding.

Dan dari suara samar lalu lintas di luar—meski hanya tebakan—aku menebak kalau mereka sedang mengantarku ke suatu tempat di dalam ambulans mereka.

“Brengsek, Supervisor lama sekali merespon.”

“Sudah berapa lama sejak kau minta perintah?”

“Hampir satu jam lalu.”

“Kalau begitu, laporkan saja kita tidak akan tepat waktu.”

Sejauh ini aku belum mencoba bergerak—kecuali saat aku mencoba merentangkan tanganku barusan—kalau-kalau ada orang lain bersamaku. Dan setelah mendengar suara bisikan dari sebelah kiriku, aku tahu kalau aku benar. Jika aku bergerak, aku yakin mereka akan melakukan sesuatu yang buruk kepadaku, seakan keadaanku saat ini belum cukup parah.

[Berpikirlah!]

Aku coba menjernihkan pikiranku, aku ingin mencoba membuat rencana yang masuk akal. Aku tahu apapun rencanaku nanti, aku harus membebaskan diri dulu. Dan yang paling utama, aku harus cepat. Aku juga tahu kalau saat mereka melepas ikatanku, aku pasti sudah berada di saat dan tempat yang berbahaya.

Apa sebaiknya aku putar tanganku ke depan lewat atas? Tidak tanpa melukai pundakku dan membuat ototku robek. Apa lebih baik aku memutar tanganku ke depan lewat kakiku? Mungkin saja, tapi aku harus menjaga keseimbangan, dan begitu mereka melihat gerakanku, mereka akan langsung mengamankanku. Aku bisa saja melawan kalau mataku tidak tertutup.

Pilihan terbaik adalah tetap merenggangkan zip-tienya sampai robek. Mungkin akan sangat sulit, tapi luka di pergelangan tangan sepertinya jauh lebih baik daripada apapun itu yang akan mereka lakukan padaku.

Setelah beberapa kali mencoba tanpa hasil, aku menyadari kalau tidak hanya zip-tienya tidak merenggang, tapi aku juga tidak duduk dengan nyaman. Aku bisa merasakan sesuatu, sebuah gumpalan keras yang membuat bokongku tidak bisa duduk dengan nyaman.

[Dompet? Tapi aku tidak punya dompet. Ponsel? Mungkin saja.]

Aku mencoba mengingat apa yang bisa saja sudah kutaruh di saku belakangku. Aku tidak ingat sudah menaruh benda apapun di sana, lagipula apa yang aku punya yang bisa kutaruh di situ? Pikiranku mencoba menggali lebih dalam. Tapi aku yakin kalau setelah aku terbangun di atas kapal itu, aku tidak punya apapun di sakuku. Ini berarti antara aku sudah menaruh sesuatu di sana setelah saat itu atau yang lebih tidak mungkin adalah kalau mereka menaruh sesuatu di sakuku, tapi aku ragu.

Lagi, aku mencoba mengingat apa yang sudah kulakukan sejauh ini; aku terbangun, bertemu kru kapal, membantu mereka di bawah badai...

[Tunggu dulu, itu dia!]

Aku sudah ingat, setelah mengikatkan layar kapal aku menaruh sebuah pisau lipat di sakuku. Sepertinya mereka lupa untuk memintanya kembali, tapi aku benar-benar bersyukur atas keteledoran mereka.

Dengan hati-hati, aku pindahkan tangan kananku perlahan ke saku belakang kananku. Tangan kiriku yang terikat tidak bisa menolak ikut terbawa saat tangan kananku bergerak. Jika aku bisa melihat diriku sekarang, aku tahu aku akan tampak mencurigakan. Karena itulah aku mencoba untuk terus mendengarkan pembicaraan mereka. Sejauh ini mereka sepertinya masih terlalu fokus berbincang satu sama lain dan belum menyadari gerak-gerikku.

Meski sedikit canggung, aku mencoba menarik pisau lipat itu dari sakuku. Aku mencoba membuat sedikit gerakan. Aku tidak ingin menarik perhatian mereka. Aku coba untuk menariknya, namun berat badanku mengapitnya dengan permukaan bangku. Semakin sedikit usahaku menariknya, semakin lama pisau lipat itu akan berada di tanganku, namun juga semakin sedikit aku menarik perhatian. Untungnya begitu pisau lipat itu mencapai suatu titik, aku bisa menariknya dengan mulus.

Sekarang sebuah pisau terlipat sudah berada di tanganku, tidak sulit untuk melipatnya keluar dari gagangnya. Dan setelah memutar pisaunya untuk berbaring sejajar dengan zip-tie yang mengikat tanganku, aku mulai menarik dan mendorongkan tanganku ke atas dan ke bawah sambil menekannya supaya pisauku mulai memotong permukaan zip-tie yang mengikat tanganku.

*Tok* *Tok*

“Hey, Gyle. Apa masih lama?”

“Entahlah, mungkin masih lama. Macetnya gila.”

Karena aku masih terfokus mencoba memotong permukaan zip-tie, aku coba untuk mendengarkan percakapan mereka. Sepertinya mobil ini terjebak macet, aku lega kami terjebak macet, kalau tidak, aku mungkin tidak punya cukup waktu untuk membebaskan diriku.

[Mulai robek...]

Aku mulai bisa merasakan zip-tienya melebar, pisauku berhasil memotongnya. Dan semakin aku memotong, semakin mudah aku memotongnya.

“Akhirnya, kita dapat pesan dari Supervisor!”

“Oh, apa katanya?”

“Dia bilang, ‘tidak perlu buru-buru, tapi aku mengharapkan kedatangannya sesegera mungkin. Akan kuganti jadwal keberangkatan kalian, jangan terlambat.’”

[Supervisor?]

Sepertinya orang yang mereka sebut dengan ‘supervisor’ adalah orang yang bertanggungjawab atas penangkapanku. Aku jadi penasaran apa aku punya musuh lain selain Graille Einhorn.

“Katakan padanya kita akan melapor lagi begitu kita sampai di titik transport.”

“Okay.”

[Sedikit lagi...]

Aku coba melebarkan tanganku, hanya sedikit lagi dan aku bisa memaksanya robek.

“Apa kau sudah memeriksanya?”

“Ah, aku lupa.”

[Lepas!]

Tepat pada waktunya. Tiga detik lagi saja dan mereka akan tahu. Tepat saat dia menyibakkan kantung yang menutup kepalaku, aku ayunkan tangan kananku dan memukulnya dengan keras di pelipis kirinya dengan gagang pisau lipatku.

Dia tidak punya waktu dan reflex untuk menghindar. Pukulanku mendarat dengan mulus dan dia terhempas ke kiri, semakin menjauhi pintu belakang.

Sepertinya mereka tidak berpengalamanan dalam pertarungan jarak dekat. Mereka memberiku waktu yang cukup untuk mensurvei lingkunganku. Orang yang kupukul tadi adalah Rick, dan orang lain yang duduk bersamaku di ruangan ini adalah Odi. Dan saat ini, aku terperangkap di belakang ambulans. Yang aneh dari ambulans ini adalah tidak adanya peralatan medis sama sekali, mobil ini hanya pencitraan.

“Gyle!”

Segera saat Odi mulai bereaksi, daripada menyerangnya dengan pisau di tangan kananku, aku melontarkan kaki kananku ke atas dan menendang Odi tepat di rahangnya yang sedang berteriak. Tendanganku cukup kuat untuk membuatnya terhempas dan menabrak dinding depan hingga dia tidak sadarkan diri.

“Ada apa?!”

Sebuah suara dari depan bisa terdengar. Aku teringat dengan sosok ketiga—sosok yang sudah menutup kepalaku di dermaga. Odi menyebutnya Gyle, aku butuh dia tetap bangun, ada banyak hal yang harus kutanyakan padanya.

“Odi? Rick?!”

Dia harus ke sini jika dia ingin tahu apa yang terjadi, tapi sebelum itu, aku harus mengamankan kedua orang ini dulu. Aku bisa melihat satu ikat zip-tie di saku Rick, lalu aku taruh pisauku kembali ke saku belakangku dan mengambil beberapa zip-tie untuk mengikat tangan dan kaki Rick dan Odi.

“Apa kalian baik-baik saja?”

Saat aku sedang memeriksa saku Rick dan Odi mencari apapun itu yang bisa membantu mereka membebaskan diri, aku bisa dengar pintu depan terbuka dan tertutup dengan keras. Sang pengemudi akan datang ke belakang. Aku tidak menemukan pistol atau pisau, tapi selain dompet mereka, aku menemukan sebuah radio transmitter dari saku Rick, dan sebuah radio transmitter dan sebuah ponsel dari saku Odi. Aku tidak butuh radio transmitternya. Tapi untuk beberapa alasan, aku menyimpan ponselnya.

*KLIK*

Aku sudah siap, setelah memastikan kalau kedua orang ini tidak akan pergi ke mana-mana, gagang pintu belakang mulai bergerak. Perlahan pintu belakang terbuka, menampilkan pemandangan jalanan yang dipenuhi macetnya kendaraan. Beberapa mobil di belakang ambulans ini memantulkan cahaya matahari siang sampai aku harus menutupi setengah bagian atas mataku untuk bisa tetap melihat jelas.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc