Baik. Tuan Frost, ya.

“Tidak usah terlalu sopan, panggil saja saya Arthur.”

Baiklah, Arthur. Saya dengar Anda mewakilkan kunjungan Doktor Einhorn?

“Tepat.”

Saya tidak menyangka kunjungan Anda akan secepat ini. Habisnya baru satu minggu sejak kunjungan terakhir Doktor Einhorn.

“Saya bukan dia. Dan saya juga tidak di sini hanya untuk memantau perkembanganmu. Tugasku lebih dari itu. Saya di sini untuk memastikan bahwa kau siap untuk Phase#2.”

Menurut Doktor Einhorn, saya sudah siap.

“Itu juga yang dia katakan pada rombongan sebelumnya. Dan mereka semua tidak ada yang selamat.”

Tunggu dulu, rombongan sebelumnya?

“Lupakan apa yang aku katakan tadi, fokus saja pada dirimu.”

Tidak, saya ingin tahu. Apa maksud Anda ‘tidak ada dari mereka yang selamat’?

“Aku bilang fokus!”

Seruannya tidak terlalu tegas, namun cukup untuk membungkamku. Meski demikian, aku merasakan nada ancaman yang mungkin adalah penyebab aku terdiam.

“Bagus. Hari ini aku menunda sesi-sesi rutinmu selama dua hari. Besok lusa aku akan menambahkan sesi khusus hanya untuk kita berdua. Aku harap kau siap. Sampai di sini pertemuan kita hari ini.”

Tanpa memeriksa reaksiku, Frost berbalik dan pergi. Sekali lagi aku ditinggal sendiri.

Namun tidak lama. Segera aku merasakan keberadaan sesuatu dari belakangku. Merasakan itu, aku berbalik. Di sana ada sosok hitam Frost yang mulai membentuk dari udara. Tidak hanya itu, aku juga menemukan bahwa meja kayu dan kursiku sudah hilang entah ke mana.

“Selamat siang, Ferno.”

Selamat siang, Arthur.

“Hari ini menandai hari pertama dari sesi pribadi kita. Dalam sesi ini, aku akan memberikanmu latihan fisik khusus.”

“Tapi saya sudah punya sesi latihan fisik.”

“Tidak, bukan seperti itu. Sesi itu hanya bertujuan untuk meluruskan metabolisme tubuhmu. Dalam sesi ini, aku akan melatihmu untuk bertahan dari keletihan fisik ekstrim. Percayalah, kau akan butuh latihan ini.”

Dalam artian bagaimana?

“Phase#2 sangat rentan akan resiko fisik di mana kau tidak akan memiliki kendali penuh akan tubuhmu. Untuk bisa selamat, kau harus melatih instingmu; membuat tubuhmu bisa mengendalikan dirinya sendiri tanpa bantuan pikiran.”

Tidak, yang seperti ini tidak termasuk dalam program yang saya terima. Saya tidak butuh ini.

“Tidak menurut mereka. Untuk itu, aku tidak meminta persetujuan mereka ataupun persetujuan darimu.”

[Apa yang——]

Tanpa peringatan, Frost melontarkan tinjunya ke wajahku. Pukulannya sangat cepat dan nyaris tanpa beban, aku hampir tidak punya waktu bereaksi. Aku terkaget, namun belum cukup untuk menghindar. Meski demikian, aku tidak butuh menghindar mengingat sebelum tinju Frost mendarat di jembatan hidungku, tinjunya berhenti. Namun aku masih bisa merasakan angin yang dibangun momentum gerakannya.

“Payah,” komentar Frost seraya menurunkan tinjunya.

Apa-apaan tadi?!

“Sudah kubilang kita sedang latihan. Untuk saat ini, kita akan membangun kemampuan bereaksimu.”

Sekali lagi Frost melontarkan tinjunya. Kali ini sebuah pukulan lurus ke arah perutku. Aku tahu dia berencana untuk mengejutkanku lagi dan aku cukup bisa mengantisipasinya. Aku posisikan lenganku di hadapan perutku, menangkis tinjunya untuk mendarat di perutku. Namun seperti sebelumnya, ia berhenti sebelum tinjunya menyentuh lenganku.

Apa aku lulus dari tesnya? Tentu tidak. Frost tidak berhenti sampai di sana. Tanpa menarik tangannya, ia melepaskan sikunya ke arah wajahku. Aku tidak bisa mengantisipasi serangan ini. Mengingat dua serangan sebelumnya dia menahan diri, aku tidak mencoba bergerak. Namun kali ini tidak. Sikunya menghantam pipi kiriku. Akibatnya aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.

“Ah, kau butuh sangat banyak latihan.”

Di lantai, aku meringis kesakitan. Kedua tanganku menutupi wajahku di titik hantaman. Aku separuh terbutakan. Belum lagi satu serangannya berhasil membuatku tidak bisa berdiri.

“Dengar, kita akan melatih keras kecepatan reaksi, ketahanan, dan staminamu. Ketiga poin tadi akan sangat penting dalam melaksanakan Phase#2. Sebelum aku menilaimu siap, aku menunda semua sesi yang berhubungan dengan Phase#2. Pertemuan kita sampai di sini hari ini. Sampai besok.”

Apa yang dilakukan Doktor Einhorn sampai ia mengirimmu?!” tanyaku sambil masih terjongkok di lantai dan menahan rasa sakit.

“Seperti biasanya, ia sedang mengerjakan banyak proyek-proyek lain. Selain itu, aku yang meyakinkannya untuk fokus pada hal lain sementara aku menggantikannya di sini. Percaya saja padaku, melaksanakan Phase#2 dengan caranya akan jauh lebih parah dari ini.”

Aku tidak percaya, panggil Doktor Einhorn ke sini!

“Selamat siang, Ferno.”

Tanpa menghiraukan apa yang kukatakan, ia meninggalkanku. Setelah ia menghilang rasa sakit di wajahku terasa lebih ringan. Aku lalu berdiri dan menyesuaikan nafasku. Namun lagi aku merasakan sesuatu yang jahat. Begitu aku berbalik, Frost tiba-tiba muncul seraya melepaskan tinjunya. Ia menghantamku keras di wajahku yang membuatku terhuyung. Begitu aku bisa mengendalikan diriku lagi, kembali ia muncul dan memukulku sebelum menghilang sambil berseru “cukup,” atau “lagi.”

Ini terus terjadi selama beberapa saat dan aku tidak sanggup melawannya sama sekali, bahkan saat semestinya aku bisa. Aku berdiri hanya untuk dijatuhkan lagi oleh pukulan, tendangan, sikutan, atau serangan lututnya. Namun segera aku mulai bisa membalik keadaan.

Saat ia muncul, secara insting aku bereaksi dan berhasil menangkis serangannya. Perlahan aku beradaptasi. Semakin banyak serangan yang aku terima, semakin aku bisa memprediksi gerakannya. Setelah beberapa kali berhasil menangkis serangan bertubi-tubi darinya hanya untuk ditumbangkan di akhir, akhirnya aku bisa menyamai tempo serangannya.

Sampai di titik ini, Frost tidak lagi menahan dirinya. Tiap serangan selalu menyentuhku, dan tiap serangannya terasa menyakitkan. Setelah menangkis serangan darinya tujuh kali berturut-turut, Frost terus menyerangku dengan mengayunkan sikunya ke arah wajahku, dan sebuah tinju lurus ke dadaku. Keduanya berhasil aku tangkis. Yang mana setelahnya ia melepaskan tendangan berputar tinggi ke arah pelipisku. Aku pun bereaksi cukup cepat dan berhasil menangkisnya menggunakan kedua tanganku.

“Bagus, cukup,” ujar Frost sambil menurunkan kakinya. Kali ini ia tidak menghilang. “Perkembanganmu cukup baik sejauh ini.”

“...” anehnya, hanya menangkis serangan Frost menguras staminaku. Aku sampai terengah-engah sementara ia menempelkan tangannya ke dadaku yang berdebar kencang. Tidak sepertiku, Frost sama sekali tidak tampak kelelahan.

“Kau sudah banyak berkembang sejak pertama kali kita mulai sesi ini.”

“Aku...” ujarku dengan nafas pendek setelah ia menarik tangannya dari dadaku, “benci padamu.”

“Jangan bicara begitu. Harus aku akui kau belajar lebih cepat dari orang biasa.”

Memang kenapa? Mengingat dirimu, aku yakin tahap berikutnya juga tidak akan mudah.

“Sebaliknya. Aku sudah menunda project ini terlalu lama, dan kau sudah sampai di titik keamanan terendah di mana kita bisa mulai melanjutkan. Karena itu, aku memberikan ijin untuk melanjutkan project ALLBLACK, efektif besok.”

Aku masih percaya kalau kita sudah buang-buang waktu.

“Masih terlalu dini untuk bilang begitu. Kita akan lihat nanti,” ujar Frost sambil berbalik akan meninggalkanku sebelim berhenti dan membalikkan wajahnya ke arahku. “Mari kita adakan sesi tenang setelah ini.”

Begitu mengatakannya, sosok Frost pudar menjadi kabut hitam. Saat akan menghilang, kabutnya berkumpul dan mendekatiku. Melihat ini, aku harus melangkah mundur. Punggung pahaku menabrak sesuatu membuatku kehilangan keseimbangan. Saat aku terjatuh, sesuatu menghentikan jatuhku; aku mendarat di atas kursi berputar yang biasanya.

Sementara itu, kabut hitam tadi berkumpul di seberang meja kayu, membentuk ulang sosok Frost. Setelah melihat hal yang sama berulang kali, segala yang terjadi dalam ruang ini tidak lagi membuatku terkejut.

Frost membawa sebuah nampan dengan dua cangkir teh di atasnya. Di antaranya ada sebuah creamer, dua cangkir gula putih dan coklat, dan sebuah tatakan dengan beberapa potongan lemon. Dia letakkan tampannya dan menyajikan tehnya; satu untuknya dan satu untukku. Setelahnya, ia duduk di kursi putar lain di seberang meja dengan satu tangan di atas lengan kursi sementara tangan satunya mengambil cangkir tehnya, meninggalkan tatakannya di meja.

“Oke,” ujarnya sambil meniup teh dalam cangkirnya sementara aku mengambil cangkir tehku dari tatakannya, “mari bicara kemajuan. Namun sebelumnya, aku harus bertanya; bagaimana keadaanmu? Tiga minggu belakangan ini pasti sudah jadi masa-masa terberat selama kau di sini, benar?”

Sebutlah begitu.

“Huh, Einhorn sudah terlalu lembut padamu.”

Dan kau sudah terlalu keras padaku.

“Masa?” ia menjeda sebelum menguyup tehnya, “latihan dariku masih sangat jauh dari berat, lagipula kau sudah mulai bisa mengimbangi.”

Tidak, aku tahu kau menahan diri setelah aku tidak menunjukkan kemajuan setelah minggu pertama.

“Oh, kau sadar rupanya.”

...” aku tidak berkomentar, namun aku juga menguyup tehku.

“Jika boleh aku bicara terbuka, kau masih sangat jauh di bawah standarku. Namun di sini kesempatanmu selamat di Phase#2 sudah tidak lagi di bawah 1%. Kau juga pasti sudah menyadarinya; sekarang kau tahan lebih lama di sesi latihan fisik biasa. Meski di sisi lain, ada pemuncakan di sesi istirahatmu,” ia mengakhiri perkataannya dengan meminum panjang tehnya.

Tentu saja sudah semestinya, bukan?

“Tentu. Tubuhmu sedang menyesuaikan diri, yang mana adalah bukti kemajuanmu. Sekali lagi aku katakan kalau kegiatan kita tidak sia-sia. Dan kau akan melihatnya besok,” Frost kembali meminum tehnya, kali ini hampir mengosongkan cangkirnya. Melihat itu, aku juga ikut minum. “Tapi aku harus bertanya, apa ada hal lain yang kau rasakan? Dari laporan medismu, kau bilang kau baik-baik saja. Semestinya tidak demikian.”

“Tapi saya memang baik-baik saja.”

“Jika kau bersikeras, aku harus meminta bukti,” setelah meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakannya, Frost meletakkan tangannya di atas meja. Ia menaruh sikunya di permukaan meja sementara tangannya terangkat ke arahku. “Adu panco denganku.”

... baiklah.

Setelah aku menaruh cangkir teh dan tatakannya di atas meja, aku menjawab gesturnya; aku letakkan sikuku di permukaan meja dan menangkap tangannya. Tangannya tidak sekasar Einhorn, namun kulitnya terasa keras, nyaris tidak seperti kulit manusia. Dan dari rapatnya cengkramannya, aku tahu dia menahan diri agar tidak meremukkan tanganku.

“Apa kau siap?” tanyanya.

Yeah.

“Kalau begitu, satu... dua... tiga...”

Frost mendorok sedikit. Meski aku sudah memastikan sikuku memiliki posisi yang kuat di meja, namun tanganku kalah. Tangan kami miring ke sisiku. Tidak terlalu banyak, tidak lebih dari 15 derajat. Namun sudah sangat sulit untuk mengembalikan posisinya ke posisi tengah.

Aku kerahkan semua kekuatanku, namun masih tidak bisa menggemingkan tangannya. Tidak peduli seberapa kuat aku mendorong, aku tidak bisa menggerakkan tangannya. Bahkan hingga tanganku mulai bergetar. Sementara di sisi lain, Frost tidak tampak mengerahkan tenaganya sama sekali. Tangannya kaku, tidak bergetar sama sekali.

Ada perbedaan besar di antara kekuatan kami. Aku tahu aku akan kalah. Namun entah kenapa, Frost menarik tangannya ke sisinya, mengijinkanku untuk menang.

“Oke, aku yakin,” ujarnya sambil menarik tangannya.

Tidak, kau sengaja mengalah.

“Tentu saja. Kita tidak main untuk menang, aku hanya butuh kau meyakinkanku kalau kau siap.”

Hasilnya?

“Cukup baik untuk saat ini.”

...” aku menjeda. Aku melihat ke bawah, menatap tanganku yang bergetar yang kusembunyikan di bawah permukaan meja. “Arthur, aku sudah pernah menanyakan ini pada Einhorn, tapi apa kau dan Doktor Einhorn dulu seorang prajurit?

“Oh, dan apa katanya?”

“Dia bilang sejenis itu.”

“Yeah, tentu dia akan menjawab begitu. Tapi dia sama sekali bukan seorang prajurit.”

Eh?

“Secara makna, dia bukan seorang prajurit. Untukkku, prajurit hanyalah sekelompak domba yang didoktrin oleh seorang penjagal untuk saling membantai satu sama lain. Seorang prajurit tidak punya ataupun diijinkan memiliki sebuah ideal. Dulu kami adalah orang bebas yang terjebak di antara prajurit.”

Jadi menurutmu, kalian apa?

“Seperti yang sudah kukatakan; orang bebas.”

Oke.

“Sepertinya jawabanku tidak memuaskan.”

Tidak. Hanya saja... aku merasa kau terdengar seperti Doktor Einhorn.

“Masa? Dasar pak tua sialan itu...”

“Tapi bukannya bagus? Kalian berdua pasti dekat.”

“Menurutmu begitu? Selama ini, aku kira dia sudah sangat ingin menghabisiku semenjak———”

...” Frost berhenti bicara. Ia tidak pernah menyelesaikan kalimatnya. “Semenjak apa?

“Lupakan saja, kenapa aku menceritakannya padamu? Pertemuan kita sampai di sini hari ini,” Frost menarik kata-katanya tadi seraya bangkit dari kursinya.

“———Oke, semuanya berhenti!”

Sebuah suara tiba-tiba memberi perintah. Seakan menurut, gerakan Frost berhenti sebelum ia bisa berdiri sepenuhnya. Ia terjebak di posisi setengah berdiri; kakinya membengkok namun ia tidak kehilangan keseimbangan. Tubuh manusia semestinya tidak bisa bertahan dalam posisi seperti itu. Sesuatu tentu sedang terjadi di sini.

“Apa kabarmu?”

Suara yang berseru sebelumnya melanjutkan bicara. Aku masih terlalu terkejut hingga aku melupakannya sesaat. Setelah suara tadi mengingatkanku akan keberadaannya, aku berbalik dan menemukan seseorang lain.

Suara tadi adalah milikku, namun tidak datang dari mulutku. Itu karena yang mengatakannya tadi memang diriku. Di sana berdiri sesosok kembaranku, sosok yang sama yang mengenakan kaos berdarah. Melihatnya di sana mengejutkanku, membautku mengambil selankah mundur hingga punggung pahaku menabrak meja kayu.

“Kau...” panggilku padanya dengan nafas pendek yang masih kucoba kendalikan.

“Yeah, ini aku,” jawabnya sambil mengayunkan tangannya dengan angkuh seraya mendekatiku dengan langkah yang amat pelan, “atau kau... atau kita.”

“Sedang apa kau di sini?!”

“Seperti biasa; karena kau butuh aku.”

“Aku butuh kau? Tidak, tidak. Aku tidak butuh kau.”

“Tentu saja butuh, kalau tidak aku tidak akan ada di sini.”

Ia berhenti melangkah saat wajah kami hanya tinggal satu jengkal lagi. Aku tahu dia tidak nyata, namun keberadaannya terasa sangat hidup; aku bisa melihat wajahku memantul di permukaan retinanya, bahkan aku juga bisa merasakan hembusan nafasnya. Ia berdiri sangat dekat hingga aku merasa tidak nyaman dan tidak bisa mempertahankan kontak mata. Barulah aku menyadari kalau ia menatapku karena ia sedang membaca ekspresiku.

“Hentikan; berhenti memandangiku,” ujarku seraya keluar dari jarak pandangnya.

“Jangan begitu. Bantu aku sedikit. Aku tidak bisa tahu apa masalahmu kalau kau terus menghindariku.”

“Lalu kenapa? Memangnya apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku?”

“Tentu saja. Ingat dulu, ‘kan?”

“Dulu kau hanya menekan dan memberiku teka-teki.”

“Tidak juga. Aku hanya mengatakan apa yang butuh kau dengar. Aku tidak salah,” jawabnya sambil menunjuk-nunjuk, menekankan maksudnya.

“Tidak! Aku tidak butuh kau dulu, aku juga tidak butuh kau sekarang! Pergi dari hadapanku——”

Karena jaraknya dariku hanya satu langkah, aku mencoba untuk mendorongnya. Namun sebelum aku bisa mendorong dadanya, ia menangkap dan menarik tanganku. Gerakannya yang tiba-tiba membuatku kehilangan pijakan. Ia lalu bermanuver memutar dan memelintir tanganku sebelum membantingkan diriku ke atas meja. Aku tidak mampu melawan karena ia menahan tanganku sambil mengunciku ke meja, sedikit saja gerakan yang kucoba untuk membebaskan diri hanya membuat sendi dan otot lenganku sakit.

“Hati-hati,” bisiknya dari belakang kepalaku, “bukan kau yang berkuasa di sini.”

“Kau tidak nyata,” balasku sambil menahan sakit, “aku yang mengendalikan kau.”

“Dalam keadaanmu saat ini? Jangan melawak. Kau yang sekarang sama kuatnya dengan daun di musim gugur. Kau beruntung kau masih bisa bangun tidur tiap harinya.”

“Jadi kau mengakui kalau aku memang lebih kuat darimu?”

“Secara teknis, ya. Tapi sekarang tidak. Kau mengambil keputusan bodoh satu kali dan sekarang kau jadi begini. Kau bukan apa-apa. Biar aku buktikan.”

Aku merasakan cengkramannya di pegelangan tanganku mengerat. Dari apa yang dikatakannya, ia akan melukaiku entah bagaimana. Meski kita berada dalam dunia mimpi dalam pikiranku, rasa sakit yang kurasakan terasa nyata. Instingku mencoba melawan, mengabaikan rasa sakit untuk membebaskan diri. Namun percuma.

“Mau apa kau?” tanyaku saat tidak bisa lagi mencoba membebaskan diri.

“Shhh.”

Ia menarik tanganku dan mengangkatku, membuat bobot tubuhku bertumpu di tanganku. Dan karena ia sedang memelintir tanganku, rasanya seperti ia sedang merobek tanganku. Aku menjerit saat ia menarikku ke belakang, aku sudah pasrah. Namun untungnya ia tidak melakukan apa yang sudah kunantikan. Setelah ia mengangkatku berdiri, ia melepaskan tanganku sambil mendorongku terjerembab ke lantai yang tidak tampak.

“Kapan kau mau mendengarku,” lanjutnya sementara aku mencoba bangkit hanya dengan satu tangan, “sudah kubilang aku di sini bukan untuk melukaimu; aku di sini untuk membantu.”

“Apa ini membantu, hah?” tanyaku sambil berlutut menatapnya.

“Ini adalah bukti kalau kau lemah. Inti dari tindakanku ini adalah sebaiknya kau tidak melawanku, karena percuma saja.”

“Aku tidak lemah.”

“Bagaimana kau bisa yakin? Hanya karena kau bisa selamat dari tiga pertarungan bukan berarti kau kuat. Kalau tidak kau tidak akan kehilangan gadis yang waktu itu. Semua itu hanya bukti kalau kau sangat beruntung. Kau itu lemah, sendiri, dan tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mengubahnya.”

“Aku tidak sendiri, aku punya Alisa sekarang.”

“...” ia terdiam. Namun tidak lama. Sementara aku mendudukkan diriku ke kursi putar di samping meja kayu, ia tersenyum mengejek dan menggeleng sebelum melanjutkan bicara, “jadi begitu, jadi karena itu aku ada di sini. Di sanalah keraguanmu berada.”

“Apa maksudmu?”

“Gadis itu, Alisa, sebaiknya kau tidak terlalu mempercayainya. Ketergantunganmu padanya bisa menghancurkanmu.”

“Tapi aku mengenal dirinya, dan dia juga mengenalku. Dia tidak mungkin mengkhianatiku——”

“Yeah, yeah. Dia seseorang dari masa lalumu, kau pikir aku tidak tahu? Tapi coba pikirkan sudah berapa lama kalian tidak bertemu? Hampir dua tahun. Banyak yang sudah berubah selama itu. Kau sudah berubah sampai kau tidak bisa ingat pada dirimu yang lama, siapa tahu apa yang sudah terjadi padanya.”

“Tidak, aku tidak percaya. Bukan masa lalu yang mendefinisikan siapa kami, hubungan kami ‘lah yang membuat kami saling berarti untuk satu sama lain. Dan dari sana aku yakin kalau aku bisa mempercayainya.”

“...” ia mendesah sambil lagi menggelengkan kepalanya, “sepertinya kau memang orang yang harus belajar dengan cara keras. Aku tidak menyalahkanmu, ‘kok. Kau begitu putus asanya hingga kau menggapai ke segala harapan yang kau kira kau punya.”

“Aku tidak putus asa.”

“Yang bisa kukatakan untuk saat ini hanyalah,” sambil bicara, ia mengangkat tangannya dengan jari dipucukkan, “kita akan lihat nanti.”

“Tunggu dulu, apa yang kau——”

Sebuah suara jentikan jari menggema di ruang ini, suara itu memberi sinyal pada Frost yang gerakannya terhenti untuk kembali bergerak sekaligus membuat diriku yang satunya menghilang. Frost menyelesaikan gerakannya untuk bangkit dari kursi dan menghadap padaku, sebelum menyelesaikan kalimat yang terpotong oleh gangguan diriku yang satunya.

“Sampai nanti,” ujar Frost.

[Ah.]

Setelah Frost menyelesaikan kalimatnya, ruang ini seketika berubah hitam. Aku kehilangan indra penglihatanku disusul oleh indra-indra lainnya. Kesadaranku memudar hingga tidak ada yang tersisa kecuali kegelapan yang menaklukkan kesadaranku.

Untungnya aku juga kehilangan indra untuk mengukur waktu. Entah berapa lama yang sudah kuhabiskan dalam kegelapan, namun hal berikutnya yang kusadari adalah aku tidak lagi tidak sadarkan diri. Aku sudah terbangun. Aku temukan diriku ada di kabin jet pesawat. Aku usap wajahku beberapa kali seraya mengangkat kepalaku yang lembab terkena keringat dingin dan menemukan Yuumi duduk di seberang meja. Apa dia sudah menontonku tidur?

“Selamat pagi,” sambutnya.

“...” yang mana tidak aku jawab.

“Ayolah, apa kau tidak bosan berpura-pura membenciku setiap saat?”

“Di mana dia?”

“Di dalam kokpit, dia memastikan sistem autopilotnya tidak melenceng.”

“Aku akan menemuinya.”

Aku bangkit dari meja dan menuju ke pintu di sisi depan kabin. Sebelum aku sampai di kokpit, aku sampai di sebuah koridor pendek, di mana ada sebuah pintu yang menuju ke kamar kecil. Di ujung koridor ada sebuah pintu yang menuju ke kokpit. Tepat sebelumnya adalah dapur. Melihat tujuanku, aku pun memasuki pintu yang menuju ke kokpit.

Ketika aku membuka pintunya, aku menemukan pemandangan yang disaksikan pilot saat mereka menerbangkan pesawat. Di hadapan kami adalah cakrawala yang sedang menggelap. Namun tidak seperti pemandangan yang kulihat dari jendela kabin tadi, bukannya pemandangan terpaku mengitari cakrawala, yang kusaksikan adalah pemandangan menerjang cakrawala itu sendiri sambil berenang di antara awan. Pemandangan ini sangat luar biasa hingga butuh sesaat hingga aku ingat apa tujuanku datang ke sini.

Begitu aku ingat, aku alihkan pandanganku ke kursi pilot. Di sana Alisa terduduk dengan tangannya di atas kemudi. Telinganya tersumpal headphone. Sepertinya ia belum menyadari keberadaanku. Tanpa mengumumkan kedatanganku, aku dekati kursi kopilot dan duduk di sana.

“Hey,” panggilku seraya duduk.

“Oh, kau rupanya.”

“Pemandangannya indah, ‘ya?”

“Ya, ‘kan?” aku lihat ekspresinya yang tegang menyantai.

“Aku belum tahu, apa lagi berikutnya?”

“Kita sudah dekat. Segalanya akan berakhir segera. Begitu kita menemukan Einhorn, kita bisa mengakhiri semuanya.”

“Menemukan Einhorn, huh.”

“Begitulah,” ujarnya sambil melirik ke arahku, “ngomong-ngomong, ada yang ingin kutanyakan.”

“Apa itu?”

“Apa yang sudah terjadi di ferry tadi siang? Orang itu, dia menembakmu dari jarak dekat. Tapi bagaimana tembakannya tidak mengenaimu? Mungkin kedengarannya gila, tapi peluru seakan membelok di sekitarmu.”

“Penjelasan paling logis adalah kalau pistolnya bermasalah. Tapi ingat aku pernah bilang kalau aku menghentikan hujan?”

“Aku kira kau tidak sedang serius.”

“Ada banyak yang ingin kutanyakan pada Einhorn, ini salah satunya. Aku sudah dekat dengan jawabannya.”

“Yeah.”

“Ngomong-ngomong, di mana kita sekarang?”

“Di sekitaran laut Andaman. Entah kenapa jalur penerbangannya menyuruh kita mengitari kepulauan utama Asia. Jika bukan karena ini, kita sudah di laut Cina Selatan sekarang.”

“Oke.”

“Kurvatur jalur penerbangan dan kecepatan pesawat ini membuatku harus terus memeriksa jalur setiap empat menit. Aku tidak bisa meninggalkan kokpit. Sebaiknya kau temani Arasaka di kabin.”

“Apa kau yakin kau tidak apa-apa sendirian di sini?”

“Tidak apa, akan aku panggil kau kalau aku butuh apa-apa.”

“Kalau begitu, aku kembali dulu ke kabin.”

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, aku bangkit dari kursi kopilot dan keluar dari kokpit. Aku susuri koridor pendek yang sama dan kembali ke kabin. Di sana Yuumi masih duduk di meja yang sama, tidak bergerak, memandangi cakrawala. Ekspresi datarnya meringan saat melihatku kembali ke sofa.

“Pemandangannya indah di sana, ya?” ujar Yuumi saat aku mendudukkan diriku.

“Lumayan. Kenapa kau tidak di sana kalu begitu?”

“Seindahnya pemandangan yang ada, tidak nyaman aku duduk di samping dia.”

“Oh, begitu,” jawabku datar sambil mengalihkan mataku ke pemandangan langit di luar jendela.

“Bagus, pembicaraan kita sungguh berkualitas. Benar-benar yang pertama dari,” ujarnya sebelum melirik ke arlojinya, “hampir tujuh jam penerbangan ini. Gadis itu mengacuhkanku, dan kau juga sama. Jika aku bisa membuka pintu bertekanan itu aku sudah melompat ke luar pesawat dari tadi.”

“Baiklah,” aku mengangkat pundak dan mendesah saat mengalihkan pandanganku kembali ke arahnya, “kau ingin bicara apa?”

“Sebenarnya ada banyak hal yang menggangguku; tapi mari mulai dari bagaimana Anmes bisa mengira aku berangkat lebih awal dari yang dijadwalkan?”

“Oh, itu. Sebenarnya sederhana. Saat kau tidur, kami mengatur semua jam di kantormu menjadi lima belas menit lebih awal. Jadi saat kau keluar kantor berpikir kalau kau keluar pada pukul 11, kenyataannya kau keluar pada pukul 10.45.”

“Bagaimana kalian bisa? Aku tidak pernah tidur lelap, tidak pernah juga lebih dari dua jam tiap malam. Semestinya aku sadar kalau kalian masuk ke kantorku.”

“Kantormu harus terus didinginkan karena kau menyimpan beberapa server komputer di kantormu. Dan karena kami punya akses ke atap apartemenmu, kami bisa menyuntikkan gas penidur ke saluran sistem pendingin udaramu. Semua itu memastikan bahwa kau tidak akan bangun saat kami menjalankan rencana kami.”

“Jadi begitu. Bagus sekali, kerja kalian bagus.”

“Ngomong-ngomong soal Anmes...”

Mendeengar Yuumi menyebut namanya, aku jadi teringat pada Anmes. Aku berbalik dan mengintip dari atas sofa. Anmes masih terantai ke palang di dinding di belakang kabin. Wajahnya pucat, nyaris seperti mayat. Kepalanya berguncang tiap beberapa saat dengan mata yang ingin terbuka namun tidak bisa. Dia sekarat, dan aku merasa iba padanya.

“Kasihan sekali dia,” lanjut Yuumi, “kawanmu sudah mencoba mengobatinya, namun lukanya terlalu dalam untuk diobati hanya dengan P3K dan penahan rasa sakit yang banyak. Jika terserah padaku, aku pasti sudah menghabisinya.”

“Bagaimana dengan senjatanya? Dia punya satu waktu di hangar.”

“Jangan cemas soal itu, kawanmu sudah menyitanya.”

“Oh, begitu,” aku kembali berbalik sambil memikirkan apa yang baru dikatakan Yuumi.

“Jadi... apa bagian berikutnya dari rencana besar kalian?”

“Kami akan mencari Einhorn, ada banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya.”

“Kau tahu, sejak kalian pada dasarnya baru saja menghancurkan hidupku, setidaknya kau punya kewajiban untuk memuaskan rasa ingin tahuku. Beritahu aku apa yang kau ketahui tentang project ALLBLACK.”

“Sudah aku bilang; aku tidak ingat apa-apa.”

“Ayolah, Six. Kita masih harus terjebak di sini selama satu jam ke depan, bantu aku membunuh waktu——”

“Berhenti memanggilku itu. Aku punya nama.”

“Aku tahu. Tapi ‘Ferno’ itu nama yang tidak menarik. Aku suka memberi orang nama panggilan, membuat kita seperti lebih dekat.”

“Sama sekali tidak. Dan seringkali aku justru kesal mendengarnya. Jadi berhentilah——”

“Arasaka!”

Saat kami bertengkar, Alisa tiba-tiba mendobrak pintu kabin. Ia tampak cemas. Setelah mengejutkan kami dengan kedatangannya yang tiba-tiba, ia segera mendekati kami dengan tergesa-gesa.

“Ada apa?” balas Yuumi dengan nada tenang.

“Kita mendapat tantangan identifikasi. Aku sudah memeriksa rencana penerbangannya berulang kali tapi aku tidak menemukan jawaban yang tepat. Apa kau tahu sesuatu tentang ini?”

“Tantangan identifikasi? Tidak, aku tidak tahu apa-apa.”

“Berikan kopermu!” pinta Alisa paksa seraya merampas koper Yuumi yang terduduk di sampingnya.

“Kau ini kenapa?!” keluh Yuumi saat lengannya yang terantai dengan kopernya terseret-seret saat Alisa memindahkan kopernya ke atas meja.

Dengan panik Alisa membuka koper dan mulai menggali isinya. Setelah membaca cepat halaman demi halaman dokumen, ia membuang kertas yang tidak berisi informasi yang dicarinya. Jelas ia sedang mencari sesuatu.

“Hentikan!” Yuumi memberi perintah seraya mendorong Alisa. “Yang kau lempar itu hasil kerjaku!”

“Pasti ada sesuatu di sini!”

“Tidak ada. Satu-satunya direktif yang kuterima hari ini ada di dalam amplop biru itu.”

“Tidak mungkin...”

“Tunggu dulu, apa yang sedang terjadi?!” aku berteriak, mencampurkan diriku yang tidak tahu apa-apa ke dalam debat mereka.

“Mereka meminta kita membuktikan diri kita. Mereka memberi sebuah pertanyaan dan kita harus memberi jawaban. Jika jawaban yang kita berikan tidak sesuai dengan jawaban yang mereka miliki, mereka akan tahu kalau kita bukan orang-orang yang mereka sewa,” jawab Yuumi.

“Tentu saja; pria itu,” Alisa menunjuk ke arah Anmes yang masih tidak sadarkan diri, “dia pasti sesuatu, periksa dia. Arasaka, bantu aku mencari sesuatu dalam kopermu.”

“Sudah kubilang; tidak ada apa-apa lagi di dalam!”

Mengacuhkan argumen antara Yuumi dan Alisa, aku bergegas ke belakang kabin di mana Anmes masih terantai tidak sadarkan diri. Aku berlutut di sampingnya dan mencoba membangunkannya. Aku coba mengguncangnya, menamparnya dengan pelan, hingga menyorotkan matanya ke arah cahaya. Namun tidak ada yang berhasil. Pria ini terlalu lemah untuk bisa berpikir.

“Alisa!” aku berseru ke ujung kabin, menarik perhatian Alisa dan Yuumi, “tidak bisa, dia tidak mau bangun.”

“Ugh!”

Alisa menggerutu dan meninggalkan kabin. Ia bergegas ke kokpit meninggalkanku dan Yuumi. Karena cemas, aku mengejarnya sementara ia menjejalkan dokumen-dokumennya kembali ke dalam kopernya.

Saat aku sampai di kokpit, Alisa sedang menempelkan headphonenya ke telinganya. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat seberapa tegang wajahnya, bahkan lebih dari sebelumnya.

“Ada apa?” tanyaku, di mana saat yang sama Yuumi bergabung dengan kami di kokpit.

“Dengarkan saja sendiri.”

Alisa menggapai ke sebuah tuas kecil di panel kendali dan mengubah setelannya. Ia mengubah kanal suara menjadi ke pengeras suara. Sebuah pengumuman sekarang tersiar keras, mengumumkan sesuatu yang nyaris membuatku tersedak nafasku sendiri.

——sebuah pesawat interseptor sudah diberangkatkan. Ini kesempatan terakhir Anda. Berikan respons yang sesuai dengan tantangan identifikasi berikut; lentera. Saya ulangi; lentera. Kegagalan menyediakan jawaban akan mengakibatkan dieksekusikannya perintah tembak jatuh.

“Pesawat interseptor?” bisikku, “jadi mereka akan menembak jatuh pesawat ini?”

Sang penyiar terus mengulangi pesannya. Tiap pengulangan membuat suasananya semakin berat, bahkan aku mulai bernafas berat seakan kekurangan oksigen. Bahkan keadaan Yuumi lebih parah lagi; ia terengah-engah, tetesan keringat dingin tampak mengucur di wajahnya.

Meski demikian, entah bagaimana Alisa tampak bisa mengendalikan dirinya. Di belakang kursi pilot ia masih berdiri tegak, tangan terkepal, dan mata terpejam. Ia sedang menimbang-nimbang sesuatu dengan amat teliti, setidaknya hingga tangannya menggapai ke dalam saku dalam jaketnya.

“Arasaka,” ujar Alisa seraya berbalik dan mengeluarkan pistol yang ia sita dari Anmes, “sudah saatnya kita bicara.”

“Hey,” seruku seketika menghalanginya mendekati Yuumi, “apa yang akan kau lakukan dengan senjata itu?”

“Jangan sekarang.”

Begitu mengatakannya, ia mendorongku dan terus mulai mendorong Yuumi menjauh dari kokpit. Mereka bergerak cepat, segera Alisa menggiring Yuumi kembali ke kabin. Alisa mendorongnya hingga ia terjatuh di salah satu sofa. Ia lalu menodongkan barrel pistolnya tepat di hadapan kening Yuumi dengan jari di atas pelatuknya.

“Aku tidak punya banyak waktu, jadi beritahu aku,” ujar Alisa dengan nada mengancam, “apa itu project CHARMEINE?!”

“CHARMEINE...?”

“Alisa, hentikan!” seruku melihat tindakannya.

“Sudah kubilang, jangan menghalangiku sekarang!”

“Alisa... CHARMEINE...” bisik Yuumi sambil sedikit cekikikan, “jadi begitu. Aku mengeri sekarang. Aku tahu aku pernah mendengar namamu; Alisa—Alycia... kau kakaknya, bukan?”

“Jadi kau paham apa yang kubicarakan?”

“Hey, Six, dengarkan aku; jangan percaya dengan gadis ini! Dia ‘lah alasan kenapa Doktor Einhorn menjadi tertekan belakangan ini! Dia terkenal di kalangan operatif hitam Einhorn Foundation; dia dikenal dengan sebutan sang pembayang!”

“Jangan bicara yang tidak perlu, jawab saja pertanyaanku!”

“Dua tahun belakangan ini, dia bertanggungjawab atas tewasnya dan hilangnya tidak kurang dari delapan pegawai Einhorn Foundation. Polanya acak, namun sekarang jelas kalau semua dari mereka punya sedikitnya hubungan pada project ALLBLACK atau project CHARMEINE karena kedua subjek tesnya diambil dari tempat yang sama. Semuanya lengkap sudah!”

“Alisa, aku kira kau bilang Eve baik-baik saja———”

“Aku bilang diam!”

*BLAM*

Aku masih terlalu terbungkam memproses informasi yang disemburkan oleh Yuumi hingga aku tidak menyadari bahwa Alisa sudah mengayunkan tangannya dan menarik pelatuk pistolnya. Alisa tidak menembakkan pistolnya ke arah kepala Yuumi, namun ia menembakkannya ke paha Yuumi.

Meski terlambat, Yuumi segera merasakan sakit dan mulai menjerit kesakitan. Yuumi menjatuhkan badannya ke sofa namun Alisa tidak mengijinkannya. Ia menyeret Yuumi dan menguncinya ke dinding. Ini sudah keterlaluan, aku coba mendekatinya untuk menenangkannya. Namun ia justru mengarahkan pistolnya ke arahku tanpa berbalik, memaksaku untuk berhenti.

“Arasaka Yuumi,” ujar Alisa sambil menahan Yuumi ke dinding, “sampai dua tahun lalu bekerja di project ALLBLACK di bawah pengawasan langsung Doktor Graille Einhorn hingga ia melakukan sebuah kesalahan yang mengakibatkan tewasnya tiga subjek tes pertama. Ia lalu diturunkan jabatannya untuk mengawasi operatif hitam di region Eropa Barat sementara kakaknya—Arasaka Yuuya, yang sebelumnya bekerja di project CHARMEINE—mengambil alih posisinya di project ALLBLACK. Kau tahu sesuatu. Bohong kalau kau bilang kau tidak tahu apa-apa.”

“Arasaka Yuumi,” Alisa said whilst pinning Yuumi onto the wall, “up until two years ago was working on project ALLBLACK under the direct supervision of Doctor Graille Einhorn until she makes a mistake that caused the death of three earliest test subjects. She then demoted into taking care of the black operatives in the Western Europe region while her brother—Arasaka Yuuya, whose previously worked on project CHARMEINE—takes over her position on project ALLBLACK. You know something, it's a blatant lie if you claim you know nothing.”

“Yuumi,” potongku, “kau pernah bekerja di project ALLBLACK?”

“Y—Ya,” Yuumi menjawab sambil meringis menahan sakit, “namun bahkan dulu aku tidak tahu apa yang sedang kukerjakan, yang mana adalah alasan di balik keteledoranku.”

“Kalau begitu bagaimana dengan project CHARMEINE?”

“Apalagi itu. Sejak aku lulus dari akademi, aku dan kakakku semakin jarang bicara. Hanya ada satu hal yang bisa kukatakan tentang project ALLBLACK, Six; setelah posisiku digantikan, kakakku ditugaskan untuk mengerjakan project ALLBLACK di sebuah fasilitas rahasia dengan teknologi di tingkat eksperimen, tempat itu disebut Tigillus. Di sanalah mereka menahanmu.”

“Kau sudah menyebutkannya siang ini; sebuah OUBLIETTE.”

“Cukup tentang itu,” sekali lagi Alisa mencoba mengganti topik pembicaraan, “beritahu aku apapun itu tentang project CHARMEINE! Di mana keberadaan Arasaka Yuuya sebelum penugasannya yang baru?”

“...” Yuumi menggeleng sambil terisak dan menolak menjawab, namun Alisa menekan tangannya ke luka Yuumi yang memaksanya menjawab, “Geneva! Kakakku ada di Geneva sementara aku mengerjakan project ALLBLACK di Jepang!”

“Oh, tidak...”

Aku berseru ringan ketika aku menyadari sesuatu di luar jendela. Sebuah jet tempur sedang terbang dekat menuju kami. Itulah pesawat interseptor yang diumumkan sebelumnya.

“Tch,” Alisa berdecik sebelum membantingkan pistolnya ke atas meja lalu melepaskan Yuumi dan berjalan menjauh.

“Alisa,” panggilku padanya, “beritahu aku apa rencanamu.”

“Aku sedang mencoba menyelamatkan kita semua!”

Dengan jawaban yang tidak pasti, Alisa memisahkan dirinya dari kami. Ia menuju kembali ke kokpit. Sementara itu aku memeriksa Yuumi yang masih mencoba memulihkan dirinya setelah aku mengatongi pistol yang ditaruh Alisa ke atas meja.

“Kau baik-baik saja? Apa kau bisa jalan?” tanyaku sambil membantunya bergerak.

“Tidak,” jawabnya, “dengar aku, jangan sampai kau mempercayainya.”

“Tidak bisa, aku harus membantunya. Hanya saja——”

Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, pesawat kami tiba-tiba berbelok tajam. Pesawat kami berguling dan menanjak, menciptakan pergeseran inersia lokal di dalam pesawat. Aku terlempar hingga ke dinding dekat jendela. Yang dari mana aku bisa menyaksikan sesuatu diluncurkan dari bawah sayap pesawat tempur.

Mereka menembakkan misil!” suara Alisa terserukan melalui interkom menyiarkan situasinya. Mendengar suaranya membuatku sadar aku harus mengejarnya, namun bergerak di pesawat yang tidak stabil ini terlalu sulit. Pada akhirnya, aku hanya bisa sampai di pintu kabin yang menuju ke kokpit sebelum Alisa kembali menyiarkan suaranya di interkom, “Ferno, dengar. Maafkan aku sudah berbohong tentang——

*BOOM*

Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, koridor pendek itu meledak. Misil tadi sudah menghantam permukaan pesawat kami, merobek kokpit dan kabin, memotong pesawat ini menjadi dua, memisahkan diriku dan Alisa.

Ajaib ledakan tadi hanya melemparku ke belakang tanpa melukaiku ataupun merusak kabin. Meski demikian, bukan berarti kami bebas dari bahaya. Ekor pesawat di mana aku dan Yuumi berada sekarang jatuh bebas. Aku juga melihat Yuumi sedang mencoba menggapaiku yang sedang terbaring di lantai.

“Raih tanganku!” serunya.

Aku coba menangkap tangan Yuumi, namun masih terlalu jauh. Kami coba menggapai satu sama lain, namun sebelum aku bisa menangkap tangannya, bagian pesawat ini jatuh ke air. Tubrukannya melontarkan kami hingga kami menabrak langit-langit kabin. Tubrukannya juga membuat Yuumi kehilangan kesadaran seketika, namun kesadaranku masih tersisa.

Di saat itu, hanya ada satu pikiran yang menjagaku dari kehilangan kesadaran.

Alisa.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc