“Kedengarannya ide bagus, aku akan coba.”

Setelah berjalan berputar-putar untuk beberapa saat, dia lalu melirik ke arah jam dinding dan tiba-tiba ekspresinya berubah panik. “Oh, sudah jam segini. Aku harus pergi.”

“Huh?”

“Aku dapat shift sore,” jawabnya sambil mengambil kunci mobil yang ada di atas meja kecil di sisi lain sofa.

Tapi setelah kupikir-pikir lagi tentang saran dari Vicky, aku baru ingat kalau aku tidak punya uang sama sekali untuk membeli buku kosong. Ditambah sejak aku tertembak, aku butuh kaos baru. Dan tentu saja aku tidak bisa menanyakan padanya apa dia punya baju lebih.

[Tunggu dulu, bukannya tadi...]

“Vicky...”

“Ya?”

“Uhh, bagaimana dengan pistolku atau dompet orang-orang yang kau kumpulkan?”

“Oh, itu? Barang-barang itu ada di atas meja makan.”

“Apa kau sudah memeriksa isi dompetnya?”

“Belum, kenapa?”

“Bisa coba periksakan isinya?”

“Okay.”

Dia menaruh kunci mobilnya ke atas meja kecil lagi dan berjalan ke arah meja makan di mana dua dompet berada. Dia mengambil salah satunya dan melihat isinya. Begitu ia melihat isinya, ekspresi wajahnya berubah.

“Ada apa?”

“Ada cukup banyak uang di sini.”

“Seberapa banyak?”

“Lumayan banyak.”

Baguslah, berarti aku tidak punya masalah lagi. Dengan uang itu, aku bisa mendapatkan barang-barang yang kubutuhkan.

“Bisa tolong kau belikan aku buku dan kaos dengan uang itu? Kau bisa simpan sisanya.”

“Baiklah,” dia ambil setumpuk uang dari dalam dompet itu dan memasukkannya ke dalam sakunya. Setelah itu dia menaruh kembali dompet yang sudah tidak berisi ke atas meja makan dan kembali mengambil kunci mobil yang dia letakkan di atas meja kecil. “Aku akan kembali setelah tengah malam, apa kau tidak apa-apa aku tinggal?”

“Tidak apa. Terima kasih,” melihat netbook miliknya di atas meja kopi membuatku terpikir sebaiknya aku pakai waktu luangku untuk meriset hal-hal yang sudah aku ketahui. “Satu lagi...”

“Ya?” panggilanku membuatnya berhenti menutup pintu saat dia akan keluar, dia tertahan di antara kusen pintu, melihatku dari pintu yang setengah terbuka.

“Boleh aku pakai netbookmu?”

“Uhh... silahkan.”

“Sekali lagi, terima kasih.”

“...tentu”

Setelah itu dia lalu menutup pintunya tanpa mengatakan apa-apa dan tidak terdengar lagi, tapi aku masih bisa mendengar suara langkah kakinya yang cepat di koridor.

Setelah dia pergi keluar, aku tidak bisa menemukan hal lain untuk kulakukan. Tidak banyak pilihan hiburan di apartment ini, meski ada remot televisi di sebelah netbook, aku lebih memilih untuk mengambil netbooknya.

[Ketahui lawanmu.]

Entah dari mana aku mendengarnya, tapi jika aku aku ingin menang, aku harus tahu siapa yang menjadi lawanku.

Aku nyalakan netbook dan log in ke dalam terminalnya yang tidak dijaga oleh password. Aku membuka web browsernya dan lalu mengklik sebuah situs search engineyang bisa kupercaya dan mulai memasukkan sebuah string pencarian ke dalam kotak pencariannya.

[Graille Einhorn.]

Dalam satu tekanan di tombol return, hasil pencariannya langsung termuat dalam hitungan detik. Search enginenya memperkirakan sekitar jutaan hasil pencarian untuk string ini. Namun mengetahui bagaimana cara kerja search engine, aku yakin 80% dari hasil pencarian itu pasti tidak relevan. Hasil pencarian paling atas adalah sebuah artikel wiki. Mengklik tautannya mengarahkanku pada sebuah halaman liputan tentang dirinya.

Artikel ini berisi banyak informasi, namun tidak terlalu banyak yang berhubungan dengan keadaanku. Lagipula di artikel ini tidak ada foto dirinya, namun aku yakin tidak banyak orang bernama Graille Einhorn di muka Bumi ini.

Doktor Grailleus Thaedei Ambroise Einhorn adalah seorang philanthropist dan humanitarian terkemuka. Di 1991 dia mendirikan Einhorn Foundation, setelah beberapa tahun, foundation yang didirikannya berkembang dan sampai saat ini foundationnya sudah memiliki kantor cabang dan fasilitas riset di banyak negara. Einhorn Foundation adalah tempat di mana dia meneliti banyak terobosan teknologi, termasuk exoskeleton untuk mereka yang cacat fisik dan mesin terapi otak yang dipercaya bisa mengobati Alzheimer's. Pada dasarnya dia bekerja atas nama kemanusiaan.

Ini tidak cocok dengan apa yang sudah kualami, meski aku tahu kalau dalam beberapa ingatanku kami mengobrol seakan kami sangat dekat. Mungkin saja kami sudah mengerjakan sesuatu bersama.

[Setelah tahu lawanmu, ketahui siapa dirimu.]

Lagi, aku tidak ingat di mana aku sudah mendengarnya, namun ucapan itu masih bisa diterapkan pada keadaanku.

Aku tekan tombol ‘back’ di tab web browser yang menampilkan artikel tentang Graille Einhorn dan web browser ini lalu memuat kembali halaman hasil pencarian. Aku blok string di dalam kotak pencarian kemudian mengubahnya dengan mengetikkan string pencarian baru. Kali ini aku mengetikkan nama yang berbeda.

[Theodore Quentin.]

Begitu menekan tombol return, halaman hasil pencarian langsung dimuat. Kali ini search engine memperkirakan hasil yang jauh lebih sedikit; hanya sekitar beberapa puluh ribu.

Hasil-hasil yang ditampilkan di halaman pertama kebanyakan berasal dari profil-profil sosial media dan blog. Aku coba memeriksa tiap hasil satu per satu. Aku beruntung jika dalam hasil pencarian ada foto yang bisa kujadikan pegangan. Dengan demikian aku bisa memastikan identitasku. Namun setelah memeriksa satu halaman penuh hasil pencarian dan tidak ada profil yang cocok denganku, aku menyerah.

Aku tutup semua tab kecuali untuk halaman hasil pencarian, masih ada satu hal lagi yang harus kupastikan.

Aku hapus string pencarian dan memasukkan sebuah string baru. Yang ini mungkin adalah kunci dari segalamnya.

[Kecelakaan udara Graille Einhorn.]

Dengan keraguan yang amat sangat, aku menekan tombol return. Aku menahan nafas sampai menelan udara menunggu search engine melakukan pekerjaannya. Hasil pencarian muncul dengan cepat. Hasil yang ditampilkan membuatku dengan lega menghela nafas sekaligus kecewa.

[Pencarian mengembalikan 0 hasil.]

Tapi aku belum yakin. String pencarian yang kumasukkan masih terbilang terlalu spesifik. Mungkin aku harus menyaring informasi yang kudapat dari string yang lebih general secara manual.

Sekali lagi, aku menimpa string pencarian dan memasukkan string baru. Kali ini aku coba untuk membuatnya lebih general.

[Berita kecelakaan udara.]

Dengan menekan tombol return, halaman hasil pencarian mengembalikan hasil yang cukup banyak. Kali ini search engine memperkirakan sekitar beberapa ratus ribu hasil. Aku baca redaksi hasil pencarian, dan kebanyakan dari hasil pencarian berasal dari majalah berita online.

Setelah membaca cukup lama, aku simpulkan kalau hanya ada dua kecelakaan udara yang terjadi selama dua bulan belakangan ini. Namun tidak ada yang terjadi di dekat Mombasa ataupun melibatkan Graille Einhorn. Namun meski demikian, aku masih belum yakin. Sebagian dari diriku mengatakan kalau kebenarannya masih tersembunyi.

Apapun yang dikatakan oleh rekaman sejarah, apa yang kuketahui dari kenangan adalah kebenaran. Itulah yang membuat kenangan jauh lebih berharga.

Karena aku tidak ingin bermain permainan kartu atau catur, aku tutup web browsernya dan log off dari terminal netbooknya dan melakukan shut down. Lagipula karena lukaku masih terasa sakit, aku memilih untuk tidur. Namun mengingat mimpiku sebelumnya, aku jadi takut kalau-kalau aku akan melihat mimpi yang sama.

Dari sofa ini, aku bisa melihat sebuah rak buku di sebelah pintu kamar mandi. Namun dari apa yang kulihat, isi dari rak buku itu hanyalah buku-buku medis yang bukanlah bacaan menarik untukku.

Aku butuh cara untuk menghabiskan waktu. Namun karena pilihanku terbatas di sini, pada akhirnya aku memilih untuk beristirahat meski aku harus melihat mimpi itu lagi.

Rasanya seperti setiap satu jawaban yang kudapat, aku juga menerima dua pertanyaan lagi yang perlu dijawab.

Aku turunkan badanku dan melayangkan kepalaku di atas sandaran tangan sofa. Aku hela nafas panjang dan menutup mataku sambil berharap kalau aku cuma akan beristirahat.

Dengan mata yang tertutup, kesunyian yang diciptakan ruangan apartment ini dan sayup-sayup suara dari dunia luar membuatku merasa mengantuk. Aku pun jatuh tertidur lebih cepat dari yang kuperkirakan.

Setelah jatuh tertidur selama beberapa saat, aku dikembalikan ke ruangan itu lagi. Kali ini aku melanjutkan sesi pembicaraanku yang terganggu bersama Graille Einhorn. Semua yang terjadi di sesi ini sama sekali tidak terlalu penting, dia hanya menceramahiku tentang pentingnya ‘program’ ini sebelum akhirnya dia meninggalkanku seorang diri di ruangan yang perlahan sirna.

Saat sesi percakapan kami selesai, aku akhirnya bisa tidur dengan tenang. Istirahatku memang tidak damai, namun istirahatku kali ini menghilangkan letihku. Berjam-jam berlalu sebelum aku terbangun. Hal berikutnya yang kuketahui, saat aku bangun, semuanya sudah gelap.

Butuh waktu untuk menyesuaikan diri dalam kegelapan. Bantuan cahaya yang datang dari luar sudah cukup untuk bisa membuatku melihat dalam gelap tanpa perlu menyalakan lampu apartemen.

Aku melihat ke sekelilingku. Ada sedikit perbedaan pemandangan dari sebelum aku tidur dan setelah aku bangun, selain dari kegelapan ini. Pertama, netbook milik Vicky sudah tidak ada di atas meja kopi. Yang kedua, pintu kamar menuju kamar Vicky sudah tertutup, tidak terbuka seperti yang kuingat dari saat sebelum aku tidur. Berarti dia sudah pulang. Dan yang terakhir adalah adanya kaos abu-abu yang terlipat rapih tertindih sebuah buku bersampul kulit coklat yang hampir tampak seperti diari.

Aku berdiri dan memeriksa barang-barang baru ini. Aku pindahkan bukunya untuk mengambil kaos abu-abu. Aku membuka lipatannya dan mengenakannya di atas perban yang membalut lukaku. Saat aku mengenakan kaosnya, aku menyadari kalau ada yang aneh dengan badanku. Sepertinya bagian kanan bawah dadaku sedikit berbeda dengan bagian kirinya, tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Kaos ini terasa sedikit ketat bahkan untuk tubuhku yang berpostur kurus, meski demikian masih pas secara keseluruhan.

Berikutnya aku memeriksa bukunya, aku buka kancing yang mengunci covernya dan melihat isinya. Di dalamnya ada sebuah pena yang tersemat di besi-besi yang membinding tiap halamannya. Karena aku sudah tidak merasa mengantuk, aku memilih untuk segera mengisinya.

Aku bersender lebih dekat ke sisi sofa sebelah kiri karena ada sebuah lampu meja di atas meja yang ada di samping sisi sofa ini. Aku nyalakan lampu meja ini sehingga sekarang aku punya sumber cahaya. Dan setelah aku mengeluarkan pena dari binding buku, aku pun siap menulis apa yang kuingat.

Sepanjang malam, aku habiskan waktuku dengan menulis mimpi-mimpiku ke dalam buku. Mungkin aku terlalu serius melakukannya, sampai tidak sadar kalau aku jatuh tertidur. Berikutnya yang kutahu, tiba-tiba pagi sudah menyingsing.

Theodore?

[Siapa?]

Perlahan aku buka kelopak mataku yang terasa berat dan membangunkan diriku yang sudah terjatuh dalam dalam tidur sekali lagi. Aku tertidur dengan bersender ke lututku di mana aku meletakkan bukuku saat aku menulis, di mana dalam bukuku masih tertinggal catatan yang belum selesai.

“Selamat pagi.”

Di sisi lain sofa ada Vicky yang sedang menyerahkan sebuah piring dengan sebuah sandwich di atasnya. Karena sepertinya aku masih setengah tertidur, dengan canggung aku menerimanya.

“Ini. Kau pasti lapar.”

“Selamat pagi,” jawabku terlambat, “dan terima kasih.”

“Jadi, bagaimana?”

“Huh?”

“Jurnalmu.”

“Bagus, 'kok. Terima kasih.”

“Boleh aku lihat?”

“...silahkan.”

Dia mengambil bukuku yang terjatuh ke lantai dari pangkuanku saat aku terbangun. Sementara aku makan sandwich yang dia berikan, dia membaca dan mempelajari isi dari tulisanku.

Hampir berbarengan dengan tiap gigitan yang kutelan dia membalikkan halaman bukuku. Melihat sudah berapa kali dia membalikkan halaman sejauh ini membuatku sedikit terkejut. Aku sudah menulis sebanyak itu?

“Theodore?”

“Yeah?”

“Ada apa di India?”

Dia menunjuk ke sebuah entri yang kutulis, entri itu kutulis dengan huruf kapital dan lebih besar dari tulisan-tulisan lain, entri itu memakan empat baris dan dihiasi dengan beberapa garis bawah dan bahkan kulingkari karena memang entri itu penting untukku. Entri itu hanya bertuliskan satu kata; India.

Aku menelan gigitan sandwich yang baru setengah terkunyah sebelum aku menaruhnya dengan piringnya ke atas meja kopi sebelum aku mulai menjawab pertanyaannya.

“Tapi sebelumnya ada yang harus kutanyakan.”

“Apa itu?”

“Jika aku mengatakannya, ada kemungkinan kau akan menganggapku orang jahat, tapi aku sendiri tidak tahu kebenarannya,” jelasku dengan nada intens, “jadi aku harus menanyakanmu, apa kau akan tetap percaya padaku meski ada kemungkinan kalau aku bukan orang baik?”

“...apa hubungannya itu dengan—”

“Jawab saja pertanyaanku.”

“Tentu, aku akan tetap percaya padamu.”

“...”

Aku masih merasa terkejut dengan keberadaan orang yang terus percaya padaku tanpa tahu kebenarannya. Aku tahu aku suka keadaan seperti ini. Tapi aku takut jika suatu saat dia tahu kebenarannya, aku tidak akan bisa memandangnya lagi.

“Saat aku ditemukan, aku dengar kalau aku disebut bertanggungjawab atas jatuhnya sebuah helikopter yang sedang terbang menuju India.”

Aku bisa melihat perubahan ekspresi pada wajah Vicky; sebuah warna rasa takut yang ditahan-tahan.

“Jadi, apa kau—”

“Sudah kubilang, aku tidak tahu,” aku alihkan mataku darinya, namun aku masih berbicara dengan nada serius. “Namun kemarin aku sudah mencoba mencaritahu tentang kecelakaan udara yang terjadi belakangan ini.”

“Dan?”

“Aku tidak menemukan kecelakaan di mana aku mungkin terlibat.”

“...” dia tidak menjawab, setelah mengetahui ini, mungkin dia ingin membatalkan janjinya.

“Jadi bagaimana? Kau masih percaya padaku?” tanyaku sambil mengembalikan pandanganku padanya.

“...” dia mengedip beberapa kali, wajahnya tampak pucat, “Kalau— kalau tidak ada informasi yang bisa menghubungkanmu dengan apa yang mereka katakan tentang dirimu itu, aku kira ada kemungkinan kalau kau tidak melakukannya. Aku masih percaya padamu.”

“Terima kasih.”

Aku senang kali ini aku tidak berpegangan pada kepercayaan tak berdasar, aku senang kali ini aku bisa memberikan fakta sebagai dasar kepercayaannya.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak bangunkan saja aku semalam?” lanjutku.

“Ah!”

Tiba-tiba dia berseru dan berdiri, seakan dia baru saja teringat pada sesuatu yang penting, dia bahkan menjatuhkan jurnalku.

“Ada apa?”

“Aku lupa kalau aku tidak bisa lama-lama pagi ini, aku dapat shift pagi!”

Dia bergegas berlari ke kamarnya dengan panik dan bersiap-siap, aku tidak melihatnya lagi sampai dia tiba-tiba keluar dari kamarnya.

“Bagaimana dengan kaosnya?”

“Huh?”

Setelah beberapa saat terdiam, dia melanjutkan dengan obrolan ringan. Aku tidak bilang salah, tapi mengganti topik dengan tiba-tiba seperti itu membuatku sedikit bingung.

“Kaosnya.”

“Oh, ini... pilihanmu tidak salah.”

Dia lalu tersenyum mendengar jawabanku. Dan setelah terdiam lagi sesaat, dia melanjutkan mengambil kunci mobilnya dan bergegas berlari keluar.

Kali ini aku menolak untuk duduk diam. Aku berdiri dan aku sadari kalau lukaku sudah tidak sesakit kemarin. Aku dekati jendela di belakang meja makan dan dari sana aku bisa melihat Vicky baru keluar dari bangunan ini. Dari sini juga aku baru tahu kalau apartment ini ada di lantai dua.

Dia tidak menyadari kalau aku sedang memperhatikannya, bahkan sampai dia mengemudikan mobilnya menjauh. Segera setelah dia menghilang di jalanan, aku mundur dari jendela. Aku tidak tahu kenapa tapi melihat ke luar jendela membuatku merasa terancam.

Aku melihat ke sekitar. Aku melihat kalau aku belum menyelesaikan makan sandwich di atas meja kopi. Aku pun kembali ke atas sofa dan menyelesaikan sarapanku. Setelah selesai makan, aku membawa piringnya ke dapur dan mencucinya. Di sini masih tidak banyak pilihan untuk mengisi waktu, namun pada akhirnya, aku memilih untuk melanjutkan mengisi jurnalku.

Sampai tengah hari aku melanjutkan menulis hingga isi jurnalku sampai di saat ini; mulai dari saat aku diselamatkan oleh kapal Dasan, saat aku melihat mimpi pertamaku bersama Graille Einhorn, pertemuan pertamaku dengan sosok putih, saat aku menghentikan badai, saat aku diculik, hingga saat aku sampai di sini.

Tidak semua yang aku ketahui aku catatkan, ada satu kepingan kenangan yang aku lewatkan; mimpi yang aku saksikan sebelum terbangun di tempat ini. Mimpi itu terlalu seram, aku tidak ingin mengingatnya sama sekali.

Setelah selesai menulis jurnal, aku berbaring di atas sofa dan mencoba untuk menghabiskan sisa waktuku dengan tidur siang. Sebenarnya aku cemas kalau aku terlalu banyak istirahat badanku akan jadi lamban. Tapi alasan kenapa aku banyak istirahat adalah karena aku kelelahan merasa frustrasi memikirkan bagaimana caranya aku bisa mencapai India. Aku tidak punya uang, dan lebih parahnya aku tidak punya pasport.

Tapi selain itu, aku juga memikirkan tentang Vicky. Jika dia bukan sosok putih dalam mimpiku, lalu siapa sosok putih itu?

Saat aku tertidur, aku tidak bermimpi sama sekali, aku hanya mendengar suara-suara. Kali ini suara-suara itu terdengar menenangkan. Suara-suara itu adalah suara tawa bahagia. Namun bahkan dengan ditemani suara-suara seperti itu, aku belum bisa merasa istirahat dengan tenang. Ini dikarenakan oleh beberapa kali dalam tidurku ini, aku melihat cuplikan-cuplikan dari ingatanku. Beberapa aku ingat dari saat aku bertarung melawan prajurit-prajurit bersenjata, dan sisanya aku ingat berasal dari saat aku mengapung di lautan.

Cuplikan-cuplikan itu akhirnya memaksaku untuk bangun, dan saat aku bangun, aku sadar kalau sekarang sudah hampir malam lagi. Aku coba melihat ke jam dinding di atas sofa, kedua tangannya sudah menunjukkan pukul 19.09.

Sudah hampir malam tapi Vicky belum juga kembali, aku penasaran apa dia harus bekerja lembur.

Aku beranjak dari atas sofa dan mencoba untuk berjalan-jalan. Aku mengurungkan niatku untuk menyalakan lampu karena rasanya aku sudah terbiasa dengan kegelapan. Mungkin ini aneh, tapi aku merasa lebih tenang tanpa cahaya.

Setelah berjalan berputar-putar setelah beberapa saat, aku mendekati jendela. Dari jendela di belakang meja makan yang menghadap keluar, aku bisa melihat jalanan yang nyaris tidak diisi kendaraan sama sekali. Bahkan pejalan kaki yang sedang lewat bisa kuhitung dengan jari.

Karena aku merasa tidak nyaman lagi, aku mundur dari jendela. Setidaknya tiga langkah mundur sebelum aku sejajar dengan jendela lain yang menghadap ke sebuah gang di antara dua bangunan. Di seberang jendela itu ada bangunan apartemen lain, jendela apartemen itu juga berhadapan dengan jendela apartemen ini.

Yang aku lihat di balik jendela apartment itu mengisi benakku dengan teka-teki. Di sana tampak seorang ayah dan putrinya terduduk di kursi yang sama, membaca sebuah buku. Mungkin sang ayah sedang membacakan buku itu untuk putrinya. Sementara aku bisa melihat suasana di dalam apartemen mereka, mereka tidak menyadariku mengamati mereka karena kurangnya pencahayaan di ruangan ini. Aku tidak bisa melihat jelas buku apa yang mereka baca, namun melihat mereka seperti itu membuat hatiku tergerak.

Yang kuarasakan bukanlah ‘aku harap aku punya apa yang mereka miliki’ ataupun ‘senang rasanya bisa berada di sana.’ Yang aku rasakan adalah seperti aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk merasakan kehangatan seperti itu. Namun di sisi yang sama, aku juga merasa kalau aku tidak pernah sendiri. Perasaan yang saling bertolak belakang.

Seraya mengalihkan pandanganku dan menghela nafas panjang, aku bisa merasakan tubuhku mengeram. Aku coba merenggangkan punggungku ke belakang untuk melemaskannya, namun tidak berpengaruh. Ini akibat terlalu banyak istirahat, aku harus bergerak lebih banyak.

Toh Vicky tidak akan pulang cepat, jadi aku pikir mungkin sebaiknya aku sempatkan berjalan-jalan ke luar sebelum dia pulang.

Aku dekati salah satu kursi meja makan yang ditata di dekat jendela, di mana Vicky menaruh jaketku dan mengenakannya. Meski suasananya masih senja, namun aku tahu cuacanya bisa jadi dingin kapan saja. Lalu aku memeriksa dompet satunya yang belum Vicky sentuh dan memeriksa isinya. Dari dalamnya aku ambil sedikit uang dan aku taruh kembali dompetnya ke atas meja.

Setelah itu, aku kembali ke arah meja kopi dan membuka jurnalku. Karena aku tidak tahu kapan Vicky akan kembali, aku pikir sebaiknya aku meninggalkan memo. Aku keluarkan penanya dan melepas satu lembar kertas dari bindingnya. Setelah menaruh selembar kertas itu ke atas permukaan meja, aku pun mulai menuliskan beberapa huruh ke atasnya.

[Jalan-jalan ke luar, tidak akan lama.]

Aku buat tulisanku sejelas yang aku bisa. Kubuat tulisanku setinggi dua baris yang disediakan kertas jurnalku supaya aku yakin Vicky akan melihat memo ini. Setelah selesai menulis, aku masukkan lagi penanya ke dalam jurnal dan kugunakan buku jurnalku sebagai beban supaya memoku tidak jatuh ditiup angin.

Setelah aku yakin Vicky akan melihat memo ini saat dia pulang, aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Di luar pintu apartemen Vicky ada satu set tangga. Aku berbelok ke kanan sampai aku menemukan anak tangga untuk turun. Dari sini hanya ada jalan lurus hingga aku sampai di pintu depan.

Begitu keluar dari bangunan, aku memindai jalanan dan mengingatnya supaya aku tidak tersesat saat pulang. Di sekitar sini tidak ada papan penanda jalan yang bisa kujadikan patokan, karenanya aku harus menghafal tempat ini.

Di sekitar sini sangat tenang, mengingat berapa banyak pejalan kaki yang lewat sini di kala siang, tidak mengejutkan kalau jumlahnya lebih sedikit saat malam. Aku bahkan bisa menghitung jumlah orang-orang di jalan ini dengan satu tangan.

Ada pria mengenakan topi flattop di depan gang sekitar tiga puluh meter ke kiriku. Ada dua pria mengenakan jumper coklat dan biru tua dengan tudung yang terangkat di seberang jalan. Dan ada satu polisi patroli sekitar dua puluh meter di sebelah kananku.

Setelah cukup melihat-lihat dan merasa sudah cukup hafal dengan jalan ini, aku mulai berjalan ke arah kanan dan menyebrang jalan ke sisi jalan yang relatif kosong. Perasaanku masih terlalu waspada berada sendirian di tempat terbuka seperti ini.

Aku terus berjalan selama beberapa saat sambil menikmati pemandangan malam kota ini. Aku tahu tempat ini memang bukan bagian terbaik untuk dilihat malam-malam di kota ini, namun aku tidak bisa berjalan terlalu jauh.

Aku terus berjalan tanpa arah sambil terus mengingat jalan yang kuambil supaya aku tahu mana jalan yang harus kuambil untuk kembali ke apartment Vicky. Aku terus berjalan selama lima belas menit sebelum aku mulai merasa haus.

Sekitar lima menit kemudian aku baru melihat sebuah minimarket di seberang jalan yang sedang aku lalui. Aku sebrangi jalan dan masuk ke dalam minimarket itu, Aku lewati penjaga toko dan stand makanan ringan untuk sampai di depan pendingin minuman. Aku tidak melihat apapun yang ingin kumakan sepanjang jalanku, kecuali untuk beberapa jenis minuman di ujung ruangan.

Aku sempatkan untuk memilih-milih di depannya untuk sesaat, mencari minuman yang aku aku kira akan aku sukai karena aku belum pernah mencoba semua jenis minuman yang ada di sini. Namun setelah berdiri memilah-milah pilihan beberapa saat, aku pilih sebuah botol transparan berisi minuman cola.

Aku bukakan pintu pendinginnya, kabut tipis dingin sempat keluar dari dalam pendingin saat aku mengambil minuman pilihanku. Botolnya terasa hangat saat aku keluarkan, namun setelah beberapa saat menyesuaikan diri dengan temperatur ruagan, botolnya mulai terasa dingin.

Setelah aku yakin kalau inilah minuman yang kuinginkan, aku bawakan minuman ini ke arah meja penjaga toko dan menilai harganya. Aku bayar harga yang tertera dengan uang pas dan segera keluar dari toko ini.

Sekeluarnya dari toko, aku mulai membuka botol minuman yang kubeli. Suara mendesis yang keluar dari botol saat aku membukanya membuatku berhenti sesaat, membiarkan udara dari luar bersirkulasi dengan udara dalam botol sebelum melanjutkan membuka botol karena takut isinya akan menyembur keluar.

Aku buka botolnya dan kupegang tutupnya. Dengan bantuan tangan kiriku, aku pun menenggak isi botolnya. Aku merasakan sodanya menggigit bagian dalam mulutku sebelum aku menelannya. Rasanya sedikit sakit, tapi aku harus mengulanginya lagi tiga kali sampai rasa hausku hilang.

Hanya butuh setengah dari isi botol untuk memuaskan rasa hausku. Dan karena aku tidak ingin direpotkan membawa-bawa botol minuman yang setengah habis sambil jalan, aku memilih untuk membuangnya di tempat sampah di depan minimarket dan melanjutkan perjalananku.

Aku ambil jalan ke sebelah kiri minimarket. Aku terus berjalan sampai jalanannya habis dan aku harus berbelok ke kiri. Belokan ini mengarah ke jalan lain. Jalanan ini juga sama sepinya. Jadi aku terus berjalan hingga aku sampai di sebuah persimpangan.

Dari persimpangan ini, aku ambil belokan ke kiri. Meski persimpangan ini dilewati beberapa mobil, namun jalanannya masih terkesan sepi untuk malam hari. Bahkan saat aku lewat, hanya ada empat mobil yang lewat di kedua arah.

Selama aku berjalan di jalan ini dan jalan-jalan lain yang sudah kulewati setengah jam belakangan ini, aku terus merasakan perasaan terancam yang tidak bisa kusingkirkan. Aku bisa merasakan ada ancaman di dekatku, namun aku tidak tahu apa itu. Dan setelah aku mengambil belokan ke kiri saat jalan ini bersimpangan dengan jalan lain, aku bisa dengan pasti mengetahui apa yang sudah menyita perhatianku bahkan saat aku pertama kali melihat ke luar jendela di apartment Vicky.

Setelah mengambil tiga belokan berturut-turut, aku sudah mengelilingi blok ini. Ini membuktikan satu hal; ada dua orang yang terus mengikutiku sekitar tiga puluh meter di belakangku. Mereka sudah mengikutiku dengan baik. Mereka menjaga jarak dan bertingkah tidak mencurigakan. Nyaris tidak menarik perhatian.

Aku harus tahu siapa yang sedang mengikutiku. Namun aku tidak bisa melakukannya langsung atau mereka akan tahu kalau aku sudah menyadari keberadaan mereka. Sulit untuk melihat ke belakang tanpa berbalik.

Begitu aku melengkapi putaranku dan mencapai jalanan di mana minimarket itu berada, ada sebuah cermin cembung terpasang di sudut jalan yang digunakan untuk melihat apakah ada kendaraan yang datang dari balik belokan. Dengan cermin itu, aku bisa melihat siapa yang sudah membuntutiku.

Mereka adalah kedua orang yang sama yang kulihat saat aku keluar dari apartment Vicky, mereka adalah kedua orang yang mengenakan jumper coklat dan biru tua. Jika mereka sudah mengikutiku dari awal, berarti mereka sudah tahu tentang Vicky.

Aku sudah membuatnya terlibat bahaya. Jika aku terus bersamanya, dia akan celaka. Aku harus memperingatkannya.

Selama mencari jalan pulang, aku mencoba untuk berjalan tidak mencurigakan, aku harus menyembunyikan fakta kalau aku sudah menyadari ada orang yang membuntutiku. Yang sulit adalah menahan rasa ingin berlari agar aku bisa cepat-cepat memperingatkan Vicky.

Setelah setengah jam berjalan, aku akhirnya sampai di apartment Vicky. Di depan bangunannya sudah tampak mobil miliknya terparkir. Rupanya dia sudah pulang.

Aku masuk ke dalam apartemen dan menaiki tangganya sampai di lantai dua—di mana apartmentnya berada. Tanpa mengacuhkan kemungkinan kalau ada perangkap orang ketiga yang berjaga di dalam, dengan perlahan aku dekati pintu apartemen sampai aku cukup dekat untuk membukanya.

*TOK* *TOK*

Bukannya membuka pintunya langsung, aku memilih untuk mengetuk untuk memastikan kalau tidak ada kejutan menungguku di dalam.

*KLIK*

Selama lima detik aku menunggu jawaban. Namun tidak ada jawaban dari dalam. Yang ada hanya gagang pintu yang tiba-tiba berputar dan pintu yang mulai terbuka.

“Theodore!”

Aku sudah memikirkan skenario terburuk sebelum aku melihat siapa yang sedang berdiri di balik pintu. Aku sangat lega melihat yang membuka pintu adalah Vicky. Dia sendiri juga tampak cemas. Melihat ekspresi wajahnya membuatku sulit memberitahukan apa yang harus kukatakan padanya.

“Dari mana saja kau—”

Tanpa mengatakan apa-apa, aku mendorongnya masuk, membuatnya berhenti bicara. Saat aku masuk, ada satu perbedaan dengan apartemennya setelah aku pergi dan setelah aku kembali; lampunya sudah dinyalakan. Inilah kali pertama aku melihat ruangan ini dengan keadaan seperti ini.

“Shh.”

“A— ada apa?”

[Aku sulit mengatakannya.]

“Pertama, maaf aku sudah menyusahkanmu.”

“Apa maksudmu?”

Dengan panik, aku meningalkan Vicky yang tampak kebingungan dan mendekati jendela. Mereka belum tahu kalau aku sudah menyadari mereka, jadi aku hanya butuh bersikap biasa saja saat melihat ke luar jendela. Aku tidak melihat ke arah mereka secara langsung. Cukup dengan wajahku lurus memandang ke luar dan mataku yang kugerakkan ke arah mereka, aku bisa melihat mereka berdiri di sudut jalan.

“Aku tidak tahu bagaimana, tapi tempat ini sudah diawasi.”

“Huh?!”

Aku berjalan mundur dari jendela sebelum aku melanjutkan penjelasanku. Meski mereka bisa melihat kami dari jendela ini, aku harus memastikan mereka tidak tahu apa yang kami bicarakan.

“Ada dua orang yang mengikutiku saat aku di luar, saat ini mereka sedang mengawasi kita.”

“Ka— kau ini bicara apa?!”

“Lagi, aku benar-benar minta maaf,” ujarku dengan nada serius, “tapi kita harus meninggalkan tempat ini.”

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc