“‘Sekai wa konna ni suteki da yo’tte hoete mitai.”

Di musim panas 2017 terbilang adalah musim yang agak sepi; tidak banyak anime-anime yang menonjol selain anime adaptasi dari material sumber yang memiliki profil tinggi seperti Made in Abyss atau anime remake dari hit 20 tahun lalu—Mahoujin Guruguru. Namun dengan nama yang sudah besar, anime-anime tadi tidak sesuai dengan hadapan yang diberikan. Di antara semuanya, satu anime yang bagi saya lewat di bawah radar akibat performa episode awalnya yang terlalu menjurus.

Anime yang saya maksud adalah Tenshi no 3P.

Kiri-kanan: Nozomi, Jun, Sora
Howling
“Yatto mitsukaru mama darake dakara”
Nostalgia: pertama kali dengar
Judy & Mary kirain vokalisnya masih SD
Drama

Tenshi no 3P adalah hasil adaptasi dari novel ringan karangan Kurayama Sagu. Mengisahkan tentang Nukui Kyou; seorang musisi muda introvert yang diminta bantuan oleh Gotou Jun, Momijidani Nozomi, dan Kaneshiro Sora—sekelompok siswi sekolah dasar untuk menuliskan lagu yang akan dinyanyikan oleh band mereka di konser kecil-kecilan yang mereka adakan sebagai perpisahan dari pembubaran panti asuhan Little Wing tempat mereka dibesarkan. Pada awalnya, Kyou tidak tertarik, apalagi karena yang meminta bantuan adalah anak-anak sekolah dasar. Namun setelah tahu bahwa ia dipilih oleh salah satu dari mereka yang sensitif terhadap music setelah mendengar aransemen buatan Kyou dan setelah Kyou tahu motif mereka mengadakan konser kecil-kecilan ini; Kyou bersedia. Selain itu, karena ketiga anak-anak ini terkadang bersikap erotis di hadapannya.

Selain ketiga anak yang mengadakan konser, panti asuhan tempat mereka mengadakan konser juga dihuni oleh teman sekelas Kyou yang bernama Toriumi Sakura yang juga diam-diam mengagumi sisi lain Kyou sebagai musisi. Pada dasarnya cerita ini adalah cerita romance yang menuntun hubungan antara Kyou dan Sakura namun berporos pada perjalanan band kecil ketiga penghuni muda dari panti asuhan Little Wing.

Ada dua hal yang membuat cerita ini menonjol di antara anime-anime lain di musim ini; yang pertama adalah premisnya. Belum lebih dua musim sejak anime bertemakan band yang digadang sebagai idol-killer terbilang gagal, anime bertemakan serupa dengan skala jauh lebih kecil ditayangkan. Melihat pendahulunya, jelas cerita ini tidak punya kesempatan menonjol sama sekali. Nah, di situlah poin kedua membuatnya menonjol; ceritanya sendiri.

Bayangkan anime berikut: bayangkan anime “Keluarga Cemara” seperti Papa no Iu Koto wo Kikinasai dan Usagi Drop, digabung dengan Beck: Mongolian Chop Squad yang dikawinsilangkan dengan K-ON!, tapi digarap oleh studio Key pre-2011. Hasilnya adalah Tenshi no 3P.

Dari dua episode pertamanya, kesan yang akan tertangkap adalah “Tch. Anime moesic pedobait.” Dan memang benar. Bahkan meski mengikuti 3 episode rule, masih tidak ada twist berat yang mencegah penonton men-drop anime ini. Tapi tahan sampai episode 4, baru mulai terasa warna yang membuat anime ini menonjol; dramanya, 3 episode pertama tidak lebih dari sekadar prolog. Selain itu, ada perubahan atmosfir yang cukup signifikan ketika Jun, Nozomi, dan Sora tidak sedang tampil; mulai dari presentasi konflik hingga score yang dimainkan karena memang ada 2 sisi cerita; sisi ringan dan sisi berat. Maka dari ini, saya bisa bilang, “ini baru drama!”

Alice
VA-nya Alice

Oh, selain poin di atas. Ada satu hal lagi yang memberikan nilai tambah. Di episode 6, ada satu karakter non-Jepang bernama Alice. Tidak seperti di anime lain yang pernah saya tonton yang menampilkan karakter dengan latar belakang non-Jepang, Alice diisi suaranya oleh pengisi suara yang tidak berpengalaman dalam mengisi suara, namun sangat fasih dalam berbahasa Inggris. Ini sangat jarang terjadi, akibatnya saat giliran dia bicara dalam bahasa Inggris, tidak ada logat yang canggung yang merusak atmosfir adegan.

Di awal musim, saya sejujurnya menjagokan Mahoujin Guruguru sebagai anime musim ini. Namun ternyata anime ini tidak berumur secara baik. Sorotan di awal musim tercuri oleh Princess Principal dan Made in Abyss dengan premisnya yang mencolok. Tapi sekarang, saya menjagokan Tenshi no 3P sebagai anime musim ini.

Abaikan pemikiran “cewek SD 'kok jago ngeband” dan semua fanservicenya, maka yang tersisa tinggal sebuah cerita heartwarming. Sampai episode 6 saat review ini diturunkan, saya memberi nilai 8/10 untuk Tenshi no 3P—sesungguhnya adalah anime paling underrated musim ini.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc