22 Juni 2010

Kota bawah Mombasa

14.42

“A... apa yang harus kulakukan?”

“Pertama-tama, jangan panik. Kedua, periksa dan ambil dompet orang-orang ini. Dan ketiga, bantu aku ke tempat aman.”

Gang belakang yang sempit ini membuat suara sirene di kejauhan yang mendekat terdengar lebih keras. Perubahan suara ini membuatku kesulitan memperkirakan berapa lama lagi waktu yang kami miliki sebelum pihak berwenang datang. Tapi dengan perkiraaan kasar, aku kira sedikitnya kami punya waktu dua menit.

Aku dekati tubuh Gyle yang sudah terkapar dan kupungut pistol yang ada di sebelahnya. Aku harus menunduk untuk memungutnya. Karena saat beban tubuhku bertumpu pada luka di pundakku, lukaku terasa agak lebih sakit.

Begitu aku selesai memungut pistolya, Vicky sudah kembali dari memeriksa saku-saku Rick. Di kedua tangannya ada dua buah dompet.

“Apa kau tahu tempat yang aman?” tanyaku padanya dengan terengah-engah sambil terus menahan rasa sakit.

“Kau harus ke rumah sakit, rumah sakitnya cuma lima menit dari sini—”

“Tidak, tidak. Jangan ke rumah sakit; aku tidak bisa ke sana,” protesku. Tentu saja aku tidak bisa pergi ke rumah sakit, aku tidak bisa mengambil resiko.

“...” dia lalu berpikir untuk sesaat, permintaanku memang tidak logis, tapi itulah yang kubutuhkan. “Kita bisa sembunyi di rumahku.”

“Di mana rumahmu?”

“Empat puluh menit naik mobil dari sini.”

“Bagaimana kita bisa ke sana?”

“Mobilku ada di seberang jalan.”

“Kalau begitu kita ambil jalan memutar, mungkin saja polisi sudah di sini.”

Demikianlah, lalu aku dan Vicky menyusuri gang. Kami harus berjalan sejauh empat sampai lima bangunan sampai aku pikir sudah cukup aman untuk kembali ke jalan raya. Setidaknya aku sudah bisa tenang, bagian yang sulit sudah lewat. Aku jadi tidak perlu buru-buru menanyakan Vicky tentang apa yang harus kuketahui dari dirinya.

“Hah... haa...”

Nafasku terasa sangat berat. Semakin sulit rasanya untuk menahan sakit yang kurasakan. Aku sampai harus bersandar pada dinding di dekatku jika aku tidak ingin roboh.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Vicky.

“Tidak.”

“Apa kau butuh bantuan? Biar aku bantu,” lanjutnya seraya menawarkan pundaknya sebagai tumpuan.

Aku tidak punya banyak pilihan, aku tahu aku harus segera pergi dari sini namun aku tidak bisa bergerak cepat sendirian. Jadi tanpa ragu, aku terima tawarannya.

Dengan yakin aku rangkulkan lengan kananku ke sekitar lehernya. Seandainya dia lebih tinggi, aku akan merasa lebih enakan. Aku harus sedikit menurunkan tinggiku supaya lenganku bisa bersandar dengan nyaman di pundaknya.

Kami memang bisa bergerak lebih cepat, meski lukaku terasa sedikit lebih perih. Nafasku sudah semakin berat, dan berjalan tertatih-tatih di atas pundak seseorang yang lebih pendek dariku tidak membantu.

Setelah berjalan dengan posisi seperti ini untuk beberapa saat, kami akhirnya mencapai jalan utama. Dari sini kami bisa melihat polisi dan pejalan kaki sudah mengerumuni tempat yang sempat menjadi medan pertempuranku. Ada beberapa mobil yang terparkir paralel di seberang toko. Jika tidak ada yang menyadari diriku atau Vicky, kami bisa melarikan diri dengan mulus.

Aku coba untuk berjalan senormal mungkin, aku lepaskan rangkulanku dari pundak kiri Vicky dan mulai berjalan lurus dan tegak meski masih sedikit tampak canggung. Tiap langkah yang kubuat memaksaku untuk membungkuk supaya rasa sakit di pundakku tidak terlalu terasa.

Begitu kami sampai di dekat mobil-mobil yang terparkir, Vicky mulai berjalan lebih cepat meninggalkanku mengarah ke pintu kursi supir mobilnya. Dia segera membuka pintunya dan kami pun masuk ke dalam, sementara dia terduduk di kursi supir, aku duduk di kursi penumpang depan.

Mobilnya terkesan antik, sebuah mobil sedan coklat yang awet dengan interior yang bersih.

Vicky segera menyalakan mesin mobilnya. Dia bermain dengan tungkai gigi dan mengopernya, dan begitu dia melepaskan rem tangan, mobilnya langsung melesat meninggalkan tempat parkir. Aku sedikit kaget mengetahui kalau dia mengemudikan mobil manual, namun setelah kupikir-pikir, mobil otomatis lebih mahal. Mungkin saja mobil ini mencerminkan status ekonominya.

Alis mataku terasa semakin berat, tahu keadaan kami sekarang sudah lebih aman dari sebelumnya, aku bisa membiarkan rasa kantuk yang sudah kutahan-tahan kembali menguasaiku.

Aku mulai berhenti menarik dan menghembuskan nafas dengan cepat dan mulai menghembuskan nafas panjang untuk tiap nafas pendek yang kutarik untuk menyeimbangkan diri, namun tidak banyak membantu. Dengan tiap nafas yang kuambil untuk menenangkan diri, nafasku juga kian mendorongku ke dalam jurang ketidaksadaran. Aku tahu aku tidak akan mati dari luka sekecil ini, jadi aku berhenti melawan dan memberikan istirahat yang dibutuhkan oleh tubuhku.

“Theodore?”

“Theodore?”

“Theodore!”

Dari sebelah kananku, aku bisa mendengar suara yang memanggil namaku. Itu suara Vicky, dia menyemangatiku untuk tidak menyerah. Namun aku tidak bisa, aku butuh istirahat.

“Jangan... cemas...”

Aku sudah nyaris tak sanggup berkata; suaraku begitu lemah sampai aku tidak yakin aku sudah berbicara.

“Theodore!” serunya terus memanggil namaku, bahkan dia mencoba mengguncang-guncangkan pundak kananku.

 “...”

“———?”

[Kau...?]

“...”

Untuk sesaat aku terperangkap dalam sebuah kehampaan yang kusebut alam bawah sadar, sampai perlahan aku kesadaranku mulai pulih, namun belum cukup untuk punya kendali atas tubuh jasmaniahku. Di sinilah aku, kembali ke dalam ruangan itu lagi.

Aku sudah terduduk di kursi yang sama di belakang meja kayu yang sama. Namun sosok hitam yang menyebut dirinya ‘Graille Einhorn’ sudah menungguku sejak sebelum aku membuka mataku. Dia sedang berdiri di seberang meja sambil memegang sebuah gelas Riesling, dan di atas meja kayu itu sendiri berdiri sebuah botol dan sebuah gelas kosong.

Sementara dia menungguku untuk terbangun, dia mengangkat gelas yang dipegangnya dan menghirup aroma wine yang sudah dia tuangkan ke dalamnya sambil sesekali menggoyang-goyangkan isi gelasnya dengan perlahan. Aku baru tahu kalau dia adalah seorang connoisseur atau bahkan sommelier.

“Oh, selamat datang kembali,” sambutnya.

Wha—

Lagi-lagi, aku bukanlah orang yang diajaknya berbicara ataupun orang yang seharusnya berbicara. Aku hanyalah seorang pengamat di tempat orang kedua.

Doktor Einhorn!

“Selamat siang, ———.”

Maaf, apa saya ketiduran?

“Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan.”

Apa sudah dua minggu berlalu?

“Tidak terasa, 'ya?”

...

“Mau coba minum?”

Anda tahu saya belum pantas.

Aku melihat botol wine mengkilap yang ada di hadapanku. Jika aku bisa benar-benar menikmatinya, aku mungkin sudah coba melawan suaraku sendiri dan menerima tawarannya.

“Yakin? Tidak akan ada yang protes, 'kok.”

Ya, saya yakin.

“Baiklah kalau begitu,” dia lalu menaikkan gelasnya dan meminum isi gelasnya tanpa ragu-ragu. Setelah dia menghabiskan isi gelasnya, dia lalu menaruh gelasnya di atas meja dan mulai berjalan pelan di seberang meja dengan kedua tangannya di belakang punggungnya. “Jadi, untuk bulan pertama, bagaimana kemajuanmu?”

Sangat pelan, Pak.

Aku tahu ini terdengar aneh. Tapi aku baru sadar saat suaraku—suara gaibku—berbicara, ada nada bicara penuh hormat. Seakan aku dan Einhorn sangat dekat.

“...” dia menjeda, aku bisa merasakan kekecewaan dalam kesunyiannya. “Tapi sekarang kau sudah bisa mengendalikannya, bukan?”

Ya. Sejauh ini saya sudah bisa menggapai dasar-dasarnya.

“Berarti kau sudah melihat potensi program ini.”

Aku terdiam. Memikirkan apa yang sebenarnya kami bicarakan.

“Jangan cemas, yang lain sudah memberitahuku.”

Yang lain, Pak?

“Mereka yang sudah— maaf, lupakan,” dia berhenti dengan mendadak lalu terbatuk dengan sengaja, “bisa ceritakan apa saja yang sudah kau coba?”

...

“Sudah coba levitasi?”

Heheh...

“Sepertinya sudah, 'ya.”

Tentu, itulah yang pertama kali saya coba.

“Lanjutkan.”

Maksud saya, rasanya benar-benar menakjubkan. Saya bisa melakukan apa saja. Bahkan saya bisa menciptakan apa yang saya bayangkan.

Di atas permukaan wajahnya yang noneksisten, aku bisa merasakan senyum tergambar, bahkan meski saat ini dia sedang memunggungiku. Aku tidak yakin apa artinya, namun aku menebak kalau dia merasa puas.

Tapi, Pak...

“Ya?” dia memutar badannya, menunjukkan wajahnya yang hampa.

Saya masih gagal melihat tujuan program ini.

“Aku belum yakin kau sudah siap melihat gambarannya,” jawabnya sambil mengusap wajahnya dengan tangan kirinya.

Pak—

“Aku tahu kau sudah sangat ingin tahu, tapi sekarang bukan waktunya. Percayalah, akan ada saatnya ketika kau sudah siap. Dan kau akan siap begitu kita sampai di titik di mana aku butuh kau berada.”

...

“Kau sudah tahu apa yang kubicarakan; kau sudah terbang, kau sudah menciptakan... tapi semua itu baru awalnya.”

Aku tidak tahu aku harus bilang apa, sama seperti suara gaibku, aku terdiam sampai tidak bisa berkata apa-apa. Tapi aku tahu aku dan suara gaibku pasti memikirkan hal yang sama; “Apa yang dia bicarakan?

“Percayalah, tujuan tertinggi program ini adalah untuk mengubah dunia.”

“Mengubah dunia”?

“Ya, ingat apa yang aku bilang waktu aku memberitahumu aku tidak suka dengan cara kerja dunia ini? Kaulah yang akan mengubahnya,” ujarnya dengan nada ambisius.

Saya kira Anda tidak serius. Saya mengubah dunia?

“Tentunya bukan sekarang,” lanjutnya, namun kali ini dia mulai kehilangan nada penuh ambisi yang dipakainya tadi. “Tapi kau akan mengubah dunia saat kita selesai.”

Dengan perlahan aku menggelengkan kepalaku. Bukan karena aku merasa tidak setuju ataupun skeptis, tapi karena aku merasa kagum. Setidaknya itulah perasaan yang aku ingat saat berada dalam pembicaraan ini, namun secara retrospek, aku kira saat ini aku menggeleng karena merasa iba.

“Selama kita masih bekerja, kita—”

*BZZT*

“Apa...”

Tiba-tiba sesuatu terjadi, semuanya dalam ruangan ini mulai membercak; sosok hitam, botol wine, gelas-gelasnya, mejanya, dan kursinya—kecuali aku. Aku memandang kedua tanganku di depan wajahku, namun aku tidak melihat ada perubahan pada fisikku.

Semua objek di hadapanku mulai membercak secara horizontal dan perlahan menghilang. Sementara semua itu terjadi, ruangan ini sendiri mulai membercak secara vertikal dan sesuatu mulai terbentuk; dinding, lantai, langit-langit, dan cahaya.

Ruangan yang tidak terbatas sekarang dibatasi oleh empat dinding—satu dinding di tiap arah. Namun tidak hanya itu, dinding-dinding ini juga mulai membentuk koridor. Sesuatu terasa sangat akrab tentang dinding-dinding ini; semuanya terbuat dari metal tebal yang permukannya dihaluskan. Langit-langitnya juga adalah perpanjangan dari dinding, sementara lantainya diperkokoh dengan beton, tapi juga ditutupi keramik kebiruan yang sepadan dengan warna dinding.

[Apa aku harus mengikuti koridor ini?]

Karena aku tidak melihat ada pilihan lain, aku mulai berjalan menyusuri koridor. Aneh, koridor-koridor ini hanya terdiri dari dinding. Meski dari panjangnya tampak seakan ada ruangan di dalamnya, namun tidak ada pintu untuk mengaksesnya. Dan koridor ini juga tidak seperti tidak memiliki batas. Seakan ada titik di antara diriku dan ujungnya di mana koridor ini berhenti ada.

Satu, dua, tiga persimpangan aku lewati. Secara acak dan tidak berpola aku mengambil jalan. Belok kanan, belok kiri atau berjalan lurus sampai aku kehilangan arah dan tidak tahu sudah seberapa jauh aku berjalan. Dan setelah berjalan sejauh itu, yang kutemukan hanyalah kesunyian.

*BLAM*

Tiba-tiba suara tembakan menggema di antara koridor yang sempit ini. Reverbasinya yang perlahan menggaung di antara dinding koridor membuatku mudah untuk mentriangulasi sumber suaranya. Namun suaranya yang semakin melemah membuatku sulit untuk mengetahui jaraknya. Dari perkiraanku, suara tembakan itu berasal dari beberapa persimpangan di sebelah kananku.

Rasa penasaran mendorongku untuk mencari sumber suaranya, bahkan cukup untuk membuatku berlari. Aku berlari sekencang-kencangnya ke arah tempat di mana aku yakin suara tembakan itu berasal. Aku terus berlari lurus di tiap persimpangan koridor sambil melihat sekilas tiap belokan ke kanan yang kulewati. Aku tidak menemukan apapun di belokan pertama dan kedua, namun pemandangan yang kutemukan di belokan ketiga membuatku kaget.

Begitu mencapai belokan ketiga, aku nyaris melewatkannya, namun sesuatu menarik perhatianku. Di beberapa persimpangan setelah belokan ini, aku bisa melihat ujung koridor. Sebelum koridor habis, tiga sosok orang; dua mengenakan seragam hitam pucat sedang terkapar tidak sadarkan diri. Sementara satu sosok lagi berdiri, memandangi mereka dengan sebuah pistol yang masih mengepulkan asap di tangan kanannya. Namun bukan itulah yang membuatku paling terkejut. Yang paling mengejutkanku adalah sosok yang sedang berdiri itu benar-benar mirip denganku.

Tidak seperti biasanya—di mana sosok-sosok yang berhentuk manusia diselubungi oleh satu warna—kali ini sosok-sosok manusia yang kutemukan bentuknya benar-benar seperti nyata. Potongan rambutnya yang pendek acak-acakan, postur tubuhnya yang kurus namun ketat—tidak salah lagi semua fitur tubuhnya benar-benar menyerupai diriku.

Melihat pemandangan ini membuatku memacu nafas. Bahkan aku merasa paru-paruku diperas oleh tangan yang tak tampak seperti boneka karet. Dan seakan belum cukup, perlahan sosok yang sedang berdiri itu mulai mengangkat wajahnya ke arahku.

[Apa-apaan...]

Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Bahkan dari jarak ini dan meski beberapa hari belakangan ini aku belum memandang cermin, tapi aku tahu dengan pasti kalau dia adalah aku.

Untuk beberapa detik kami saling berpandangan, dan rasanya sangat surreal. Ekspresinya tidak setajam ekspresi wajahku, namun dia jauh lebih tenang daripada diriku saat ini. Seperti sedang memandang cermin yang pantulannya menolak untuk menyamakan ekspresi.

[Aku harus bagaimana?]

[Aku harus bagaimana?!]

Berulang kali aku meminta instruksi pada diriku sendiri, namun aku terlalu ketakutan untuk menggerakkan kakiku. Aku lebih terkejut lagi saat aku menerima jawaban pertanyaan itu dari orang lain.

Lari...

Aku tidak bisa mendengar suaranya namun dari jarak ini, namun aku bisa membaca gerak bibir diriku yang lain itu. Segera setelah dia membisikkan itu, dia mulai berlari, melesat ke arah koridor di sebelah kanannya. Tidak butuh waktu lama sampai aku tahu alasannya.

Dari balik punggungku, aku bisa mendengar suara derap langkah kaki berlarian. Namun aneh, saat aku memalingkan kepalaku, yang kutemukan hanyalah dinding metal padat—ujung dari koridor. Perlahan aku balikkan kepalaku lagi, aku menemukan dua sosok mengenakan seragam hitam pucat sedang terkapar tak sadarkan diri di atas lantai; aku sudah dipindahkan dari tempatku berdiri tadi ke tempat diriku yang lain berada tadi.

Setelah aku kembalikan pandanganku ke depan, aku menyadari empat hal; yang pertama adalah agak jauh di depanku ada satu tim yang terdiri dari empat orang prajurit bersenjata senapan otomatis lengkap dengan pelindung tubuh sedang berlari ke arahku. Yang kedua, aku melihat sebuah lubang besar yang seperti terbuka akibat ditembak sebuah meriam raksasa di dinding sebelah kiriku, lubang itu tampak seperti tidak menuju ke mana-mana, hanya ada kegelapan di baliknya. Yang ketiga, sejak dari aku dipindahkan dari tempatku tadi, aku sudah kehilangan jaket ‘Theodore Quentin’ milikku. Dan keempat, sekarang aku sedang memegang sebuah pistol di tangan kananku.

[Sedang apa aku di sini?!]

[Kenapa ada pistol di tanganku?!]

[Siapa prajurit-prajurit itu?!]

[Lubang apa ini?!]

Aku benar-benar kebingungan. Aku tidak bisa memahami babel di mana aku berada. Namun melihat para prajurit itu mulai berhenti dan mengamankan koridor, aku ingat dengan perkataan diriku yang satunya. Aku tahu kalau sekarang saatnya untuk mengambil kaki seribu.

Sebenarnya aku ingin berlari ke kiri, namun aku tidak tahu kenapa aku malah berlari ke kanan. Kini aku berlari ke arah yang sama yang diambil oleh diriku yang satunya. Sejauh ini, aku memang bisa tenang menghadapi orang bersenjata ringan. Namun melihat prajurit berpakaian lengkap dengan senjata berat seperti tadi membuatku panik. Pokoknya aku ingin sebisa mungkin menghindari mereka.

Aku terus berlari tanpa arah di dalam koridor yang seakan tidak berujung. Sekali, dua kali aku melihat ke belakang kalau-kalau mereka mengejarku. Sejauh ini—dari tempatku berada—aku tidak melihat ada orang lain yang mengejarku. Namun saat aku kembali memindahkan pandanganku ke depan, pemandangan yang kutemukan di hadapanku memaksaku untuk berhenti.

Di hadapanku, satu grup prajurit dengan jumlah sama sedang berlari cepat mendekatiku. Melihat itu, aku langsung berhenti dan berputar. Aku harus mencari jalan lain untuk menghindari mereka.

Setelah berputar dengan panik, aku nyaris terpeleset, namun aku berhasil menjaga keseimbangan dan meneruskan langkah lariku. Karena aku tahu aku tidak akan bisa mengecoh mereka jika aku berjalan lurus, maka aku mengambil belokan ke kiri di persimpangan berikutnya, namun di balik belokan ini sudah ada yang menantiku.

Begitu aku mengambil belokan, tepat di depanku ada satu tim prajurit lagi, namun di sini hanya ada tiga orang. Mereka hampir saja mengambil belokan ke arah koridor yang baru kulewati, nyaris membuatku terperangkap.

Kedua pihak—aku dan mereka—sama-sama terkejutnya, namun aku sadar lebih cepat. Aku menemukan kalau kedua tangan mereka digunakan untuk menggenggam senapan otomatis yang mereka bawa, ini memberiku kelebihan. Aku lebih siap untuk bertarung jarak dekat dibandingkan dengan mereka.

Dengan cepat, aku ayunkan tangan kananku dan memukul wajah prajurit yang berdiri di paling kiriku dengan pistol yang masih kugenggam. Dia terhuyung ke kiri, namun belum cukup untuk menjatuhkannya. Maka aku lanjutkan dengan memukul wajahnya lurus dari depan dengan tangan kiriku.

Dia masih menolak untuk jatuh. Sementara dari sebelah kananku, dua prajurit lain sedang membuat jarak sambil mengangkat senjata mereka. Mereka akan menembak sementara aku berada di posisi yang sulit untuk menghindar. Pilihanku hanya tinggal satu.

Sementara prajurit yang kuhantam masih mencoba mempertahankan posisinya. Aku tendang tungkai kirinya dengan kaki kiriku sampai kaki kirinya kehilangan pijakan, sebelum dia jatuh atau menahan dirinya dengan lutut kirinya, aku tangkap kerah pelindung badannya dan menariknya ke kanan, hingga membuatku tertutupi dari jarak tembak dua prajurit lain.

Tepat sebelum mereka menarik pelatuknya, aku sudah berhasil melindungi diri. Karena kedua prajurit itu fokus menembak ke arahku yang berlindung di balik tubuh seorang prajurit berpelindung lengkap, aku berhasil selamat.

Mereka berhenti menembak setelah tahu kalau tembakan mereka gagal mengenaiku, inilah kesempatanku. Aku menekan maju dan mendorong prajurit yang berdiri di depanku dengan tubuh prajurit yang kugenggam. Tubrukanku tidak cukup kuat, mungkin sama kuatnya dengan tubrukan seekor kucing. Namun karena saat aku menabrak mereka aku melepaskan cengkramanku dari tubuh prajurit yang kugenggam, beban tubuhnya membuat prajurit lainnya itu terjatuh mencoba menahan bobot rekannya.

Melepaskan body shield-ku membuatku rentan dengan serangan dari prajurit yang masih berdiri, jadi aku segera melompat ke kanan untuk mengarahkan pistolku. aku tidak mengarahkannya untuk tembakan yang fatal yang bisa dengan mudah aku dapatkan jika aku melepaskan tembakan ke arah leher atau kepalanya, namun aku lebih memilih untuk melumpuhkannya saja.

Sementara tubuhku masih bergerak, kami mencoba untuk saling lebih dulu mengarahkan senjata kami pada satu sama lain. Dia mencoba untuk mengarahkan rentetan peluru senapannya ke manapun bagian tubuhku yang bisa dia tembak, sementara aku dengan cermat mencoba untuk membidik tangan kanannya sebelum ia bisa mengenaiku. Ini jelas jauh lebih sulit.

*BLAM*

Sebelum dia bisa mengarahkan tembakannya ke arahku, aku menarik pelatuk pistolku. Sebutir peluru melesat dari barrel pistolku. Sementara pergelangan tanganku masih menahan tolak balik tembakan, peluru itu melewati pelatuk senapan milik si prajurit hingga mengenai jari telunjuknya. Meski dia sudah tidak sanggup untuk menembak, aku harus memastikan supaya dia tidak bisa melawan lagi. Karena itulah aku lanjut melumpuhkannya dengan menembak ke paha kirinya.

Sembari aku menyeimbangkan diriku lagi, aku bisa melihat kalau prajurit yang terjatuh akibat tertimpa rekannya masih mencoba menyingkirkan beban yang sudah mengunci tubuhnya. Segera begitu aku sudah berhasil berdiri kembali, aku menembak paha kirinya dan tangan kanannya, membuatnya tidak berdaya seperti prajurit satunya.

Pertarungan ini sudah membuatku lupa dengan sepasukan prajurit lain yang sedang mendekat dari koridor di belakangku. Aku berbalik begitu aku merasakan ada sesuatu atau seseorang yang tengah memandangiku. Namun yang kutemukan di belakangku bukanlah para prajurit—aku masih bisa mendengar suara derap langkah kaki mereka.

Di seberang koridor di belakangku, diriku yang satunya sedang berdiri menontonku berkelahi. Kaos abu-abu yang dikenakannya sudah bersimbah dengan darah. Namun darah yang membasahi bajunya itu bukan darahnya.

Melihat keberadaannya sudah membuatku tidak memperhatikan kedatangan sepasukan prajurit-prajurit itu. Sementara aku masih memakukan mataku ke arah diriku yang satunya, keempat prajurit itu sudah memposisikan diri mereka di antara diriku dan diriku yang satunya dan mereka bersiap untuk menembak.

“Tembak! Tembak!”

Perhatianku masih terlalu teralihkan untuk bereaksi. Hal berikutnya yang kusadari adalah mereka sudah melepaskan sederetan peluru yang tidak bisa aku hindari.

“HAH!”

Tepat sebelum dinding peluru itu bisa mengenaiku, aku terbangun. Sementara aku masih mencoba menenangkan diri, aku coba untuk memindai lingkunganku. Aku terbangun di sebuah tempat asing; di atas sebuah sofa di dalam apartemen studio yang terkesan rapih, dengan sebuah meja kopi yang menjadi tempat duduk sebuah netbook, sebuah meja makan dengan tiga kursi, dan satu set televisi yang umurnya tampak hampir satu dekade.

“Theo... dore...”

Aku dengar sesuatu memanggilku. Segera aku menyadari kalau tangan kananku sedang mencengkram sesuatu. Aku susuri bahuku hingga ke pergelangan tanganku sampai aku bisa melihat kalau tangan kananku sedang mencekik leher seseorang.

“Vicky?”

Aku menemukan kalau kedua tangannya sedang menahan lenganku, berharap cenkramannya akan mencegah tanganku dari meremukkan lehernya.

Segera setelah aku menyadari apa yang sedang aku lakukan, aku lepaskan cengkramanku darinya. Dan begitu aku melepaskannya, dia langsung menarik dan menghela nafas dengan tajam merebut udara untuk meredakan rasa sakit yang dirasakannya akibat cekikanku. Aku tidak tahu kalau cekikanku sekuat itu.

“Maafkan aku...” pintaku sambil masih mencoba menenangkan diri dan menyesuaikan nafasku.

Perlahan indra perasaku mulai bekerja, menyangga tubuh atasku di atas siku kiriku membuat pundak kiriku terasa panas sampai memaksaku untuk menghempaskan tubuhku ke atas permukaan sofa sambil mengerang akibat rasa sakit yang kurasakan.

Aku pindahkan tangan kananku untuk meraba bahu kiriku, tanganku tidak bersentuhan dengan tekstur kaosku, pakaianku sudah dilucuti. Aku juga tidak merasakan tanganku bersentuhan dengan kulitku, yang tanganku rasakan adalah tekstur kain yang kasar. Lukaku sudah diobati.

“Jangan!” seru Vicky dengan suara serak sambil masih menarik nafas.

Lucunya mendengar peringatannya membuatku lebih ingin meraba lukaku untuk memeriksa seberapa parah lukaku. Namun belum sempat aku mengetahui seberapa parah luka di bahu kiriku, dia menggenggam siku kananku dan menariknya hingga tangan kananku tidak bisa mencapai bahu kiriku.

“Lukamu tidak parah, aku sudah mengobatinya sebisaku.”

Belum satu hari sejak aku berjalan di atas tanah lagi, aku sudah menjadi korban penculikan. Karena kepalaku mulai terasa berat, aku coba menaikkan badanku untuk mengurangi peningnya. Vicky kira aku sedang mencoba untuk berdiri, maka dia mencoba untuk meghentikanku. Namun setelah dia melihat kalau aku hanya ingin menaikkan sudut kepalaku, dia mundur.

Dari sofa tempatku berbaring ini dan tempat Vicky terduduk di ujung lainnya, aku bisa melihat sebuah jendela. Di balik jendela itu tampak pemandangan langit biru dihiasi dengan corak jingga, yang menandakan kalau sekarang sudah sore.

Aku terus melihat ke sekitar untuk memastikan keberadaanku. Namun kali ini aku ingat kalau sebelumnya Vicky bilang kalau aku bisa bersembunyi di rumahnya.

“Hey,” ujarku pelan, “apa ini rumahmu?”

“Iya.”

“Kenapa kau membantuku?”

“Karena kau sudah menyelamatkanku,” jawabnya menyatakan sesuatu yang sudah aku lupakan. “Selain itu entahlah, mungkin karena aku kira kau sedang dalam masalah.”

Dia tidak salah, aku memang sudah menyelamatkannya dan aku memang sedang butuh bantuan. Tapi aku tidak menyangka kalau aku akan diselamatkan oleh seseorang yang tidak ada hubungannya dengan masalahku.

[Tunggu dulu, mungkin itu tidak benar.]

“Sebentar, Vicky...”

“Ya?”

“Apa kau punya adik?”

“Adik?”

“Atau apa kau kenal seseorang dengan nama Eve.”

Aku ingat dengan mimpiku sebelumnya, aku ingat kalau sosok putih itu menyebutkan tentang seseorang yang dia sebut dengan nama ‘Eve.’ Jika aku ingin memastikan kalau Vicky adalah sosok putih itu, maka inilah caranya supaya aku bisa yakin.

“...” dia berpikir untuk sesaat, dia menempelkan jari telunjuk kananya ke dagunya sambil memandangi langit-langit saat dia berpikir. “Maaf... aku tidak kenal.”

[Huh...]

Aku menghela nafas, aku sudah salah mengambil kesimpulan dan sudah berharap terlalu tinggi. Aku sudah mempertaruhkan nyawaku menyelamatkannya untuk sebuah harapan kosong. Namun setidaknya dia masih hidup dan dia menyelamatkanku. Menurutku aku tidak rugi.

“Lupakan saja kalau begitu.”

“...”

“Ngomong-ngomong, bagaimana kau tahu cara mengobati luka seperti ini?”

“Oh, aku bekerja sebagai perawat.”

“Ooh...”

Aku beruntung. Tidak kusangka aku bertemu dengan seorang perawat di situasi seperti ini. Pertemuan kami sangat praktis. Kalau tidak aku akan butuh pergi ke rumah sakit, yang mana bukanlah hal yang ingin kulakukan.

“Uhh... Theodore...” panggilnya dengan malu-malu, hampir seperti caraku memanggilnya tadi. Dengan caranya memanggilku seperti itu, aku yakin dia punya satu atau dua pertanyaan yang dia ingin ketahui tentangku.

“Ada apa?”

“Apa kau...” dia menjeda, seakan dia tidak tahu bagaimana harus megubah keingintahuannya menjadi kata-kata.

“...seorang buronan?”

Aku tahu apa yang akan dia katakan, aku hanya membantunya mengungkapkan isi pikirannya karena aku tahu pasti sulit untuk orang yang suka basa-basi sepertinya.

“Bu— bukan itu yang ingin kukatakan—”

“Tidak usah cemas. Aku paham. Tidak ‘kok, aku bukan buronan.”

“...” dia terdiam sesaat, “lalu, kau siapa?”

Itulah pertanyaan yang tidak ingin kudengar, pertanyaan yang aku sendiri ingin tahu jawabannya. Aku tidak akan ada di sini jika aku tahu jawabannya.

“Sejujurnya, aku tidak tahu.”

“Huh?”

“Aku juga ingin tahu jawaban dari pertanyaan itu. Aku sedang menderita dari semacam amnesia, aku tidak bisa mengingat apapun lebih dari tiga hari lalu.”

“Apa yang terjadi tiga hari lalu?”

“Aku tidak bisa bilang dengan pasti, tiga hari lalu aku ditemukan di laut oleh sebuah kapal nelayan. Mereka pikir aku mungkin terdampar dari kapal lain. Mereka lalu menyelamatkanku dan mengatakan kalau akan ada regu penyelamat yang menungguku begitu kami mendarat di Mombasa...”

“...”

Saat aku berbicara, dia mengamati dan mendengarkan dengan seksama kata-kata yang kuucapkan. Bahkan saat aku berhenti bicara, aku bisa mendengar suara jam di atas sofa berdetik selain suara kendaraan dari luar bangunan.

“Namun saat aku sampai di Mombasa, yang kutemukan berbeda. Aku tidak menemukan ‘regu penyelamat,’ yang kutemukan hanyalah tim penyergap.”

“...”

“Mereka menangkapku, namun aku berhasil melarikan diri. Tapi aku pikir aku mungkin bisa mendapatkan informasi dari mereka. Aku kira jika aku membiarkan diriku dibawa ke tempat di mana mereka diperintahkan untuk mengantarku, aku bisa bertemu dengan seseorang yang tahu aku siapa. Tapi aku salah. Pengemudi yang mengantarku malah menabrakkan kendaraannya dan mencoba untuk menangkapku lagi. Dan di sanalah aku bertemu denganmu.”

“Kau sudah mengalami banyak hal, rupanya.”

“Hmm... yeah.”

Mendengar itu, dia menghela nafas dan berdiri. Mungkin dia bisa tenang setelah tahu kalau dia tidak sedang melindungi seorang penjahat.

Dia merapihkan peralatan P3K yang ada di atas meja di sebelah ujung lain sofa ini dan menaruhnya di dapur. Aku pikir aku harus membantunya, tapi mengingat dia bahkan nyaris tidak membiarkanku menaikkan badan, aku mengurungkan niatku.

“Tunggu dulu,” serunya dari arah dapur, “kalau begitu, dari mana kau tahu siapa namamu?”

[Benar juga, aku belum menceritakannya.]

“Itu lain cerita. Ngomong-ngomong, di mana jaketku?”

“Jaketmu ada di atas kursi dekat meja makan, kenapa?”

“Aku ditemukan di laut mengenakan jaket itu, di jaket itu ada sebuah nama; ‘Theodore Quentin.’ Karena aku tidak punya petunjuk lain tentang identitasku, aku pikir mungkin itulah namaku.”

“Bagaimana dengan yang kau tanyakan tadi,” dia kembali dari dapur dengan sebuah gelas kaca ramping berisi air di tangan kanannya yang dia bawakan untukku, “kenapa kau ingin tahu apa aku kenal dengan seseorang bernama Eve?”

“Itu sedikit rumit,” jawabku sambil menerima gelas berisi air yang dibawakannya, “terima kasih.”

“Katakan saja, mungkin aku bisa membantu.”

“...” aku memandangnya sesaat setelah aku selesai meminum habis dan menaruh gelasnya di meja kopi di depan sofa. “Jadi setelah aku amnesia, berulang kali aku bermimpi tentang ingatanku. Mimpiku itu tampak jelas tapi kabur. Jelas karena aku bisa mengingat semua yang kulihat dalam mimpiku, tapi kabur karena semua yang kulihat dalam mimpi tidak pernah lengkap.”

“Ooh,” dia tersenyum, seakan dia memahami keadaanku, melihat dia tersenyum membuatku merasa skeptis.

“Apa?”

“Kau tahu, aku punya sedikit pengalaman dengan pasien amnesia.”

“Pengalaman?”

“Ya, biasanya untuk kasus seperti keadaanmu, dokter akan menyarankan pasien untuk menulis jurnal.”

“Jurnal?”

“Ya, dengan jurnal, kau bisa mencatat apa yang kau ingat. Dari situ kau akan bisa mengenali pola ingatan yang akhirnya memicu pulihnya otakmu.”

Aku coba untuk memikirkannya sesaat. Secara neurologi, cara ini sangat beralasan; meski terdengar sepele, tapi melatih diri untuk mengenali pola ingatan mungkin akan memicu kenangan-kenangan lain untuk muncul. Sejujurnya, aku pikir ini bukan ide buruk.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc