27 Juni 2010

Bandar udara Atatürk Istanbul

10.57

“Kita sampai.”

Saat mobil kami berhenti di belakang sebuah persimpangan berlampu merah, Alisa menunjuk ke arah bandara yang sudah tampak di kiri kami. Meski masih terhalangi oleh beberapa blok bangunan, kami yakin kalau bandara sudah dekat karena dua alasan; karena kami sudah melihat beberapa pesawat terbang rendah sepanjang perjalanan dan karena belum terlalu lama semenjak terakhir kali aku lewat tempat ini.

Dua hari lalu, aku sampai di kota ini dari Mombasa. Meski belum banyak waktu yang kuhabiskan di sini, namun sudah banyak hal terjadi. Aku bertemu anak buah lawanku, dan aku dipertemukan kembali dengan seorang kawan lama; dan sekarang kami semua terduduk dalam satu mobil yang sama.

“Biar kupastikan sekali lagi,” ujarku seraya mengalihkan pandangan dari bandara ke arah Alisa yang sedang mengemudi, “berdasarkan intel yang kau dapatkan sebelumnya, semestinya hanya ada satu penjaga yang tersisa menunggu di bandara dan ia yang memegang rencana penerbangan kita, benar?”

“Ya. Seperti itulah, aku harap begitu.”

“Oke, percuma kalau aku tanya bagaimana kalau-kalau ia tidak punya rencana penerbangannya karena kita belum tahu itu, tapi aku harus tahu apa yang akan kita lakukan padanya?”

“Oh, ya. Aku belum bilang itu,” sebelum ia bisa melanjutkan penjelasannya, lampu lalu lintas berubah hijau. Alisa menjeda berbicara dan melepaskan rem tangan sebelum mulai melajukan kendaraannya, menyeberangi persimpangan jalan. “Di titik ini, tidak ada lagi yang bisa kau lakukan. Rencananya adalah untuk membiarkan Arasaka membawamu ke pesawat yang akan kalian tumpangi.”

“Aku tidak tahu di mana tempatnya,” potong Yuumi.

“Kalau begitu, tanyakan pada pegawai bandara, beritahukan pada mereka siapa kau—pada siapa kau bekerja. Buat mereka memberitahukannya padamu, buat dirimu sedikit berguna,” balas Alisa pada keluhan Yuumi, “di sana hanya akan ada satu penjaga, dan sebelum ini kami berhasil menaklukkan tiga. Tidak ada jalan untuk kau melarikan diri.”

“Bah, aku tahu itu.”

“Tunggu dulu,” aku menginterupsi, “kau tidak ikut masuk bersama kami?”

“Tidak. Aku tidak bisa ikut. Aku bertindak di bawah asumsi contoh kasus terburuk; yaitu kalau-kalau ada lebih dari satu penjaga. Yang mana jika benar, maka aku tidak boleh mengambil resiko memberitahu mereka kalau ada campur tangan pihak ketiga.”

“Jadi kau akan bagaimana?”

“Aku akan mengawasi kalian. Setelah menurunkan kalian di bandara, aku akan mencari titik pantau dari mana aku bisa mengawasi seluruh landasan pacu dan hangar-hangar. Dari sana, aku akan memantau pergerakan kalian melalui GPS dalam koper Arasaka. Aku hanya akan bergabung dengan kalian setelah aku pastikan semuanya aman.”

“Aman, dalam artian...”

“Semua musuh terlumpuhkan dan kita sudah tahu ke mana tujuan kita.”

“Sepertinya... cukup sulit,” komentarku secara halus. “Selain itu, kau bilang semua musuh harus lumpuh, apa itu berarti aku harus bertarung di dalam?”

“Ada kemungkinan besar lawan akan membawa senjata, namun kau tidak akan bisa membawa senjata ke dalam bandara. Dengan kekurangan ini, aku sangat menyarankan untuk tidak menunjukkan perlawanan.”

“Jadi bagaimana caranya aku harus melumpuhkan lawan nanti?”

“Bukan kau yang akan melumpuhkan mereka, tapi aku. Aku tidak hanya akan menunggu dari titik pantauku. Jika dibutuhkan, aku akan memberikan dukungan jarak jauh. Ada selaras senapan jarak jauh di tasmu, setelah aku memastikan jumlah lawan yang ada, aku akan melumpuhkan mereka semua.”

“Apa kau yakin?”

“Aku tidak melihat ada jalan lain.”

“...”

“Dan kau, Arasaka,” Alisa mulai bicara pada Yuumi, ia menatap ke arahnya dengan melihat ke pantulan bayangannya di cermin belakang, “aku percayakan dia padamu di sini. Jaga dia baik-baik. Jika aku melihatmu membahayakan nyawanya barang sedikit saja—sumpah—aku akan menembakmu di tempat.”

“Tidak perlu mengancam. Aku tahu kapan aku sudah kalah.”

Sejauh ini, aku tidak memperhitungkan kalau lawan kami masih ada lebih dari satu. Setelah apa yang kami lalui, aku kira tidak akan ada lagi halangan; aku kira segalanya akan jadi lebih mudah. Tapi tentu saja tidak benar. Seperti apa yang dikatakan Alisa, dalam contoh kasus terburuk, rencananya adalah yang paling efektif.

“Aku mengerti,” ujarku memastikan, “kita lakukan sesuai rencanamu.”

“Satu hal lagi,” Alisa menimpali seraya menggali saku jaketnya. “Ambil ini.”

Alisa memberikanku sesuatu, ia mengeluarkannya dari sakunya dan melemparkannya ke arahku. Sepasang borgol mendarat di pangkuanku. Tidak mengerti, aku pun menatapnya sesaat sebelum memandang ke arah pelemparnya.

“Untuk apa ini?” tanyaku.

“Kau harus pura-pura ditangkap. Aku baru sadar belum lama ini, tapi sebagai sasaran mereka, kau bukan paket untuk diantar. Di jembatan tadi, tindakan mereka tidak mencerminkannya. Salah satu dari mereka bahkan mencoba menembakimu. Jadi aku kira, mereka pasti memandangmu sebagai tawanan. Jika aku benar, mereka akan memastikan apakah kau sudah benar-benar terikat.”

“Mungkin kau benar, tapi ini tidak perlu.”

“Tidak juga,” Yuumi memotong, “sesuai katanya. Dalam direktif yang diberikan padaku semalam, kau disebut sebagai ‘tawanan.’ Tujuan misi mereka adalah untuk membawamu bersama kami apapun yang diperlukan, termasuk menggunakan kekerasan untuk membuatmu menurut.”

“...”

“Jadi, yeah,” lanjut Yuumi, “ada kemungkinan sangat besar mereka akan memastikan bahwa kau tidak bisa melakukan perlawanan.”

“...” Bahkan Yuumi memastikan kecurigaan Alisa. Namun meski demikian, setelah apa yang kulalui, aku tidak suka kalau gerakanku dibatasi. Maka dari itu, aku pun menaruh borgol ini ke atas dashboard. “Tidak mau. Jika aku hanya harus berpura-pura, menutupi tanganku juga semestinya cukup.”

“Jangan bertindak bodoh sekarang, jika sudah sampai sejauh ini kita harus bermain aman,” lanjut Alisa.

“Aku tahu. Tapi aku bisa mengatasi ini.” Untungnya, sebelum ia bisa memaksakan rencananya, mobil kami sudah sampai si gerbang bandara. “Percaya padaku.”

Begitu Alisa menghentikan mobilnya dan sebelum ia bisa mengatakan apa-apa lagi, aku lepaskan kait sabuk pengamanku dan membuka pintunya, keluar dari mobil.

“Tunggu———Arasaka!”

Alisa mencoba menghentikanku, namun aku tidak berhenti berjalan menjauh dari mobil dan terus mendekati pintu utama bandara.

“Six! Tunggu aku!”

Sebelum aku bisa masuk ke dalam, Yuumi memanggilku. Aku berbalik dan menemukannya berjalan cepat ke arahku sambil memaksakan melepas mantel labnya yang tersangkut di koper yang dirantai ke tangannya.

“Setidaknya tutupi tanganmu seperti katamu tadi,” tanpa berhenti atau melirik ke arahku, ia menyerahkan mantel labnya dan berjalan melewatiku. “Ikuti aku!”

Melihat ia berjalan cepat tanpa menunjukkan tanda-tanda melambat, aku harus mengejarnya. Sambil mempercepat langkahku, dengan kesulitan aku melilitkan lenganku menggunakan mantel Yuumi, membuat kesan seakan tanganku terikat di baliknya.

“Tunggu di sini.”

Yuumi memandu kami menuju meja informasi. Namun sebelum sampai di sana, ia berbalik dan menyuruhku menunggu. Ia tidak memastikan apakah aku menurut atau tidak, meski demikian aku berhenti berjalan dan ia pun mendekati meja informasi.

Di sana, Yuumi mengobrol dengan seorang resepsionis. Mereka mengobrol selama beberapa saat sebelum sang resepsionis menjeda dan menghubungi seseorang lewat pesawat telepon di mejanya. Yuumi menunggu, aku menunggu. Sementara sang resepsionis bicara dengan siapapun itu di ujung telepon.

Setelah hampir satu menit, sang resepsionis menutup teleponnya dan kembali berbincang dengan Yuumi. Sang resepsionis terus menatap Yuumi sementara kedua tangannya memberi arahan ke suatu tempat dengan tangan terbuka. Setelah mengerti dengan arahan yang diberikan, Yuumi tersenyum dan mengakhiri pembicaraan mereka sebelum berbalik dan mengedikkan kepalanya, menyuruhku untuk mengikutinya.

Tampaknya ia sudah tahu ke mana harus pergi. Aku pun berjalan cepat mengejarnya hingga aku sampai di sampingnya.

“Dia manis juga,” cukup mengejutkan, Yuumi 'lah yang memecahkan keheningan di antara kami, “di mana kau bertemu dengannya?”

“Siapa?”

“Gadis yang menemanimu. Tidak cuma tampangnya, dia juga sangar.”

“Oh dia. Bukan aku yang menemukannya, dia yang menemukanku.”

“Kalian sudah kenal lama? Atau kau sudah pernah datang ke sini sebelumnya? Siapa dia? Bagaimana bisa dia bertarung imbang melawan bodyguard professional?”

“Tidak. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu tadi.”

“Aku hanya penasaran. Bagaimana kau bisa mempercayai orang sepertinya dengan mudah?”

“Pokoknya bisa.”

“Aku bukan orang bodoh. Sudah kubilang aku ini neurologist, kan? Aku paham cara pikir manusia. Butuh ikatan kuat untuk bisa mempercayai seseorang sedalam itu. Entah ikatan yang semakin erat seiring berjalannya waktu, atau ikatan yang terjalin dari sebuah kesamaan yang mendasari motif yang terbagi.”

“Terus saja bicara kalau kau tidak bisa tenang.”

“Hari ini, moodmu sedang tidak bisa membuat orang lain senang, ya?”

Kami menyeberangi aula utama dan mendekati area lobby yang lebih tidak ramai. Sementara gerbang keberangkatan penumpang umum ada di lantai atas, kami menuju ke lobby eksekutif yang berada di bangunan lain. Sepanjang jalan, aku terus melihat ke sekeliling memastikan kalau tidak ada orang yang mengawasi kami.

Kami harus menelusuri satu set koridor panjang sebelum kami sampai di bagian bandara yang lebih elit. Di sini, semua penumpang tampak mengenakan setelan mahal. Penampilan kami yang terbilang kurang elegan cukup menarik perhatian, belum lagi wajahku yang tidak bersih dari luka paska pertempuran.

Dari sini, tampak satu set jendela besar yang mengarah ke hangar-hangar di mana jet-jet pribadi diparkirkan. Yuumi berhenti sesaat, menatap ke arah hangar-hangar, mencoba mencari hangar tempat pesawatnya diistirahatkan.

“Six,” panggilnya kepadaku, “apa kau bisa melihat hangar E4 dari sini?”

Yuumi tampak memicingkan matanya sebelum menyerah mencari dan bertanya. Tentu saja, kacamata yang dikenakannya adalah tanda bahwa pandangannya terbatas. Aku pun melangkah maju mendekati jendela dan mulai mencari.

“Yeah,” tidak butuh waktu lama untuk menemukan hangar yang ia cari, “di sana.”

Aku menunjuk ke sebuah hangar di ujung jauh sisi bandara. Di sana ada sebuah hangar putih dengan ‘E4’ dicat kuning di gerbangnya.

“Di ujung? Sialan. Ayo.”

Yuumi mengabaikan wajah-wajah jijik para eksekutif di lobby ini dan meneruskan perjalanannya. Kami kembali masuk ke dalam satu set koridor panjang. Dan setelah berjalan cukup lama, koridor ini putus di sebuah pintu yang mengarah ke landasan pacu.

Di jam-jam seperti ini, matahari tengah ganas-ganasnya memancarkan panas yang diserap oleh permukaan beton landasan pacu. Ilusi yang membuat tanah tampak bergoyang pun tercipta, namun sensasi panas yang kurasakan saat berjalan di sini bukanlah ilusi. Yuumi dan aku butuh berjalan beberapa menit hingga kami sampai di hangar E4. Beberapa pesawat sempat melewati kepala kami saat kami berjalan. Dan sejauh ini, aku tidak menemukan siapapun dengan gerak-gerik cukup mencurigakan hingga bisa kuanggap sebagai lawan.

“Dengar,” Yuumi tiba-tiba bicara setelah beberapa menit terdiam, “aku belum bilang karena aku tahu kau tidak akan suka, tapi gadis itu yang menyuruhku.”

“Tidak usah basa-basi, apa maumu?”

“Di dalam saku mantelku ada borgol. Jika mereka akan memeriksa tanganmu, aku minta kau jangan melawan dan kenakan borgol ini. Paham?”

“...” sedari tadi aku tidak menyadarinya, tapi aku baru sadar kalau mantel putih ini memang terasa sedikit berat untuk hanya sebatas kain. Aku jangkau ke dalam bilainya dan aku merasakan sesuatu yang padat. Seperti yang dikatakannya, memang ada borgol di sana. “Sial, kau.”

“Kau paham, kan?”

“Baik, aku mengerti. Tapi hanya kalau butuh saja.”

Aku kembali menjangkau ke dalam saku bilai mantel lalu mengeluarkan borgolnya dari sana dan menggenggamnya. Beberapa langkah kemudian, kami sampai di bawah bayangan teduh hangar E4 dan segera di bawah atapnya. Panas matahari tidak lagi menyengat kulit kami. Di dalam hangar, ada sebuah jet pribadi berwarna putih. Kami mengitari pesawat itu dan menemukan seorang pria terduduk di sebuah kursi lipat sambil membaca koran tidak jauh dari gerbang hangar.

“Hey!” panggil Yuumi pada sang pria.

Pria itu menurunkan korannya, sosoknya pun tampak jelas. Ia adalah sesosok pria bertubuh kokoh. Meski demikian bentuk tubuhnya, rambut dan wajahnya tampak berumur. Rambutnya dipenuhi helaian uban dan ada keriput di wajahnya. Meski demikian, ia tampak ramah.

Ia tersenyum cerah melihat Yuumi datang, ia melihat korannya dan beridiri. Setelah itu ia menaruh korannya di atas kursi dan mendekati Yuumi.

“Nona Arasaka, benar?” sang pria menawari Yuumi berjabat tangan.

“Benar,” jawab Yuumi seraya membalas gestur sang pria. “Dan Anda?”

“Nama saya Anmes, saya pilot Anda.”

“Baiklah, ke mana tujuan kita sekarang?”

“Tujuan? Saya belum menerima rencana penerbangannya.”

“Belum?”

“Yeah, dari instruksi yang saya terima, Anda yang memegang rencana penerbangannya.”

“Tidak mungkin, yang saya bawa hanya koper ini.”

“Ah, kalau begitu...” Anmes memeriksa saku jaket setelannya. Dari sana ia mengeluarkan sebuah kunci kecil dan memberikannya pada Yuumi. “Ini dia. Saya dengar rencana penerbangannya ada dalam amplop biru.”

“Oh, kunci pertama.”

Yuumi menerima kunci itu dan mendekati kursi di mana ia bisa membaringkan kopernya. Ia berlutut dan mulai mengotak-ngatik lubang kuncinya. Melihat situasinya sekarang, tampaknya aku tidak butuh diborgol sama sekali.

“Oh, ngomong-ngomong,” lanjut Anmes sementara Yuumi membuka kunci kopernya, “di mana yang lain?”

“Mereka?” Yuumi balik bertanya sambil membongkar isi kopernya, “mereka sedang memarkirkan mobil, seharusnya tidak lama lagi mereka sampai.”

“Baiklah. Saya cukup terkejut waktu dengar ada ledakan dari kantor Anda, tapi saya lega Anda sudah sampai sekarang. Kalau boleh tahu, ada apa di sana?”

“Kami diserang, mereka sudah menyelamatkan kami.”

“Apa ini ulah si pembayang?”

“Entahlah, saya kurang tahu.”

“Baiklah, biar saya tanyakan pada Red nanti,” Anmes menjeda dan mengalihkan pandangannya dari Yuumi ke arahku. “Ngomong-ngomong, dia sudah diamankan, kan?”

Sial. Aku terlalu cepat lega. Untungnya aku sudah menggenggam sebuah borgol. Yang perlu kulakukan hanya memakaikannya ke tanganku. Begitu Anmes menanyakan pertanyaan itu pada Yuumi, aku pun segera menempelkan borgol ke pergelangan tanganku dan memindahkan gelangnya yang belum terkunci ke tanganku yang lain untuk mengunci tanganku yang satunya.

“Tentu saja. Saya menutupi tangannya supaya tidak menarik perhatian.”

“Baiklah, biar saya periksa juga.”

Anmes meraih ke dalam saku dalam jaket setelannya dan mulai berjalan ke arahku. Namun aku tidak perlu cemas, kedua tanganku sudah sudah terborgol rapih.

Ia mengeluarkan sebuah pistol sebelum aku menjatuhkan mantel Yuumi dari tanganku, menunjukkan lenganku sambil menatap Anmes dengan tajam. Sayangnya Anmes tidak mudah percaya. Ia masih mendekatiku. Saat ia hanya selangkah lagi dariku, ia menangkap pergelangan tanganku dan menarik-narik borgolnya beberapa kali.

“Oke, dia aman.”

“Tuan Anmes, apa ini rencana penerbangannya?”

Anmes berbalik ke arah Yuumi yang kini memegang sebuah amplop biru pucat. Melihat itu, ia pun mengantongo kembali pistolnya ke dalam jaket setelannya dan wajahnya pun tampak mencerah.

“Boleh saya lihat?” tanyanya sambil mendekati Yuumi. Yuumi lalu menyerahkan amplopnya dan Anmes memeriksanya sebelum merobek ujung amplopnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan membacanya sebelum menatap Yuumi dan mengangguk. “Yep, benar yang ini.”

“Baguslah.”

“Begitu mereka bertiga kembali, kita bisa segera berangkat,” Anmes berbalik, melihat ke arah bangunan utama bandara. “Lagipula, kenapa mereka lama sekali?”

*WOOSH*

Tiba-tiba sesuatu melesat lewat. Benda itu cepat, kecil, dan nyaris tidak bersuara. Berarti bukan pesawat yang sesekali terbang di atas kami. Selain itu, saat benda itu masuk ke hangar ini, lantai pun terciprati oleh warna merah; merah darah. Diikuti dengan Anmes yang kehilangan pijakannya.

Lutut Anmes baru saja ditembus oleh peluru kaliber sedang. Dari kecepatannya, peluru itu ditembakkan dari setidaknya 800 meter—dari seberang bandara.

Anmes terjerembab ke lantai. Salah satu lututnya nyaris putus. Segalanya terjadi begitu cepat sampai Anmes baru akan mulai menjerit setelah ia jatuh ke tanah.

Melihat itu, aku segera bereaksi. Aku berlari ke arahnya memalu pilipisnya menggunakan dasar kedua tinjuku, menghentikannya menjerit dan membuatnya tidak sadarkan diri.

Di sisi lain, Yuumi juga sangat terkejut sampai ia kehilangan keseimbangan dan terengah-engah di lantai.

“Yuumi, kau tidak apa-apa?” tanyaku padanya sambil membantunya berdiri. Yuumi memandangku dan kembali memandang Anmes beberapa kali sebelum menguncikan pandangannya ke arah Anmes sambil menerima bantuanku.

Setelah membantunya berdiri, aku berbalik dan mendekati Anmes lagi. Kali ini untuk memungit kertas-kertas yang ia jatuhkan sebelum darah dari kakinya membuat kubangan cukup besar untuk sampai mengotorinya.

Kertas rencana penerbangan ini berisi banyak detail; nama pesawat kami, nomor kode penerbangan, perusahaan penerbangan, dan banyak lagi informasi lainnya. Namun satu-satunya detail yang ditangkap mataku adalah tujuan penerbangannya.

“Aku minta jawabanmu sekaran,” ujar Yuumi, menarik perhatianku yang sedang membaca lembaran rencana penerbangan. “Siapa gadis itu?!”

“...” Yuumi menatapku tajam sambil menanti jawaban, ia masih tampak mengatur nafasnya, dan ia juga menunjuk ke arah dari mana peluru tadi ditembakkan. “Aku tidak bisa menjawabnya.”

“Setidaknya beritahu aku alasanmu bisa percaya padanya.”

“Pokoknya aku percaya padanya,” jawabku setidakjelas mungkin sambil menyerahkan rencana penerbangan kepadanya yang mana tidak mau diterimanya. “Tujuan kita adalah Jepang. Apa yang kau ketahui dari tempat itu?”

“Kau ingin aku menjawab? Kalau begitu jawab dulu pertanyaanku.”

“Sejujurnya, kalaupun kau tidak menjawab, dia bisa memaksamu menjawab. Tapi mengingat hari ini sudah cukup banyak membuatku pusing, akan kuberitahu satu hal; ia tahu banyak tentangku, lebih banyak dari siapapun. Aku percaya padanya karena itu.”

“Berarti sesuai dugaanku, kalian memang sudah kenal lama.”

“Sebut saja demikian.”

“Mengingat kalian berhasil menaklukkan sekelompok pengawal professional, aku tidak bisa membayangkan dari tempat macam apa kalian berasal.”

“Cukup bicara tentang diriku. Beritahu aku tentang tempat yang menjadi tujuan kita.”

“...” ia menjeda sesaat sebelum lanjut bicara, “selain Jepang adalah negara asalku, aku cuma tahu kalau Doktor Einhorn memiliki satu institusi riset di sana, meski tidak secanggih di Geneva.”

“Cuma itu? Kalau tidak ada lagi yang bisa kau ceritakan, kita hanya tinggal harus menunggunya sampai di sini,” ujarku mengakhiri topik ini secara sepihak. “Ngomong-ngomong, di mana kunci borgol ini?”

“Di saku yang sama tempat aku menaruh borgol itu, buka saja sendiri.”

Begitu menyelesaikan kalimatnya, Yuumi mendekati kursi dan duduk. Sementara itu aku memungut mantel labnya dan memeriksa sakunya. Memang benar ada kunci di sana. Aku pun gunakan kunci itu untuk membuka borgol ini. Meski ada banyak hal yang bisa kami bahas, namun kami memilih untuk membatasi pembicaraan kami. Pada akhirnya, kami saling diam. Sedikit agak jauh darinya, aku berdiri di ujung bayangan hangar ini, menunggu. Tidak kurang dari 10 menit kemudian Alisa muncul dari bangunan utama.

Aku melambai ke arahnya sementara ia berjalan di atas beton yang seakan bergoyang dan ia pun melambai balik. Ia berjalan dengan tenang, kedua tangannya di dalam saku jaketnya.

“Hai,” sahutnya ketika ia masuk ke dalam hangar. “Jadi, ke mana tujuan kita?”

“Jepang, sepertinya,” jawabku seraya menyerahkan kertas-kertas rencana penerbangan.

“Jepang, rupanya,” ia mengulangi kata-kataku sambil sepintas membaca isi kertas-kertas ini. “Kita berangkat sekarang?”

“Kau sudah menembak pilotnya, siapa yang akan menerbangkan pesawat ini?” Yuumi tiba-tiba berdiri sambil menggumal.

“Aku bisa,” jawab Alisa sebelum menunjuk ke arah Yuumi. “Dan aku butuh kau sebagai kopilotnya.”

“Bagaimana dengan dia?” tanyaku sambil menatap ke arah Anmes yang masih tidak sadarkan diri di lantai.

Alisa menunduk dan memeriksanya. Ia menekankan jemarinya ke leher dan pergelangan tangan Anmes. Pendarahan di lututnya sudah lama berhenti, aku kira dia sudah mati.

“Dia masih hidup,” jawab Alisa setelah memeriksa nadi dan nafas Anmes, “kita bawa dia. Arasaka, kau naik duluan. Ferno, bantu aku menggotongnya naik.”

Meski petunjuk dari Alisa sudah jelas, Yuumi tidak segera melakukan apa yang disuruhkan padanya. Selama beberapa saat, Yuumi hanya menontonku dan Alisa yang menggotong Anmes dengan mengangkatnya di pundak dan lututnya.

“Jangan diam saja,” ujarku pada Yuumi, “masuk ke pesawat.”

Mendengar apa yang kukatakan, Yuumi mengambil kopernya dan membawanya naik ke pesawat. Sementara itu aku dan Alisa masih berjuang menggotong Anmes ke pesawat, langkah demi langkah di tangga yang menuju pintu masuk pesawat.

Akhirnya kami sampai di bagian dalam pesawat; sebuah kabin yang terbilang kecil dengan tiga pasang bangku sofa dengan satu meja untuk masing-masing sepasangnya. Meski ada banyak tempat, namun kami tidak mengistirahatkan Anmes di salah satu bangku. Alisa menarik tubuh Anmes ke arah bagian belakang kabin, di sana ia menyuruhku untuk menurunkan Anmes di sana. Alisa lalu meminta borgol yang kupegang dan ia pun mengunci tangan Anmes ke sebuah palang yang terpasang di dinding kabin.

“Semoga ini cukup untuk menahannya kalau-kalau ia bangun,” komentar Alisa.

“Lalu, sekarang bagaimana?”

“Tidak ada. Tugasmu sudah selesai. Duduk saja,” ujar Alisa seraya mengalihkan pandangannya ke arah Yuumi yang sedang terduduk di salah satu bangku, “Arasaka, kau bantu aku di kokpit.”

Yuumi tampak sedikit frustrasi, namun ia tidak melawan saat Alisa memandunya ke dalam kokpit. Akhirnya, aku pun ditinggal sendirian di kabin pesawat ini.

Aku lalu mengambil tempat duduk di salah satu bangku, terduduk manis untuk beberapa saat hingga pesawatnya mulai bergerak. Mesin pesawat ini tidak ribut, nyaris tidak terdengar suara mesin saat pesawat ini bergerak. Melihatnya maju, sepertinya Alisa memang bisa menerbangkan pesawat. Perlahan, pesawat ini melaju keluar dari hangar menuju landasan pacu.

Alisa dan Yuumi memposisikan pesawat di ujung landasan pacu, sejauh mungkin dari ujung lainnya. Tidak lama kemudian, pesawat ini mulai menghimpun kecepatan dan suara mesin mulai terdengar semakin keras. Setelah melaju selama beberapa saat, aku mulai merasa ringan. Sepertinya pesawat ini mulai lepas landas. Segera, pemandangan dari jendela di sisiku mulai tampak semakin meninggi.

Beberapa hari lalu, aku menumpangi pesawat untuk bisa sampai ke sini. Namun saat itu, aku tidak dapat kesempatan untuk menikmati saat-saat lepas landas karena aku jatuh tertidur segera begitu aku duduk. Namun kali ini aku menonton tiap detiknya. Pemandangan cakrawala yang semakin menjauh semakin pesawat meninggi memang indah.

Hi, ini aku,” suara Alisa tiba-tiba bisa terdengar dari interkom yang digunakan pilot untuk mengumumkan keadaan, “kita sudah lepas landas dan aku sudah menyesuaikan rute sesuai dengan peta penerbangan. Perkiraan waktu sampai adalah 7 jam.

Kabar baik, meski aku tidak bisa membalas. Sempat aku berniat mengunjungi mereka di kokpit, tapi setelah kupikir lagi, aku mengurungkan niatku. Setelah beberapa jam penuh perjuangan, letih sudah terhimpun. Hari ini memang terasa panjang.

Bahkan pemandangan di luar jendela tidak bisa menahanku dari membaringkan kepalaku di lenganku yang kusilangkan di atas meja. Aku sudah lelah. Tidak ada lagi yang bisa kukerjakan. Aku pun menutup mata setelah kupalingkan mataku dari jendela.

...

...

Tidak sulit untuk jatuh tertidur. Beberapa detik saja dan letih sudah menguburku dalam kantuk. Namun, tidurku kali ini bukan tidur yang mengijinkanku untuk beristirahat.

Rasanya sudah agak lama, namun ketika aku membuka lagi mataku, aku dikembalikan ke ruang abu-abu yang biasa kukunjungi. Aku angkat kepalaku dari bantal lenganku dan melihat ke sekeliling. Yeah, aku sudah terlalu akrab dengan ruang ini sampai-sampai satu kali lihat saja sudah cukup untuk memastikan keberadaanku.

Meja kayu yang biasanya, dan kursi berputar yang biasanya.

Oh, dan dia juga.

Di seberang meja kayu berdiri sesosok hitam. Wajahnya yang hampa terpaku memandangku dengan kedua tangannya di dalam saku celananya.

Doktor Einhorn?” tanya suaraku yang tak berbentuk.

“Selamat siang,” jawabnya menyambutku, “maaf sudah membuatmu menunggu. Sudah lama kita tidak ketemu.”

Yeah. Empat minggu, saya kira. Senang bisa bertemu Anda lagi.

“Sudah selama itu? Tidak terasa.”

Yeah, tidak banyak yang bisa dilakukan di sini; salah satunya 'ya menghitung hari.

“Ah, maaf kalau begitu. Kau pasti merasa kesepian.”

Tidak juga. Tempat ini tidak begitu berbeda dari tempat asal saya.

“Lagi, aku minta maaf. Sebutkan saja apa yang kau inginkan pada bawahanku.”

“...” Aku tidak menjawab, tapi aku mengangguh mengerti.

“Baguslah. Boleh kutanya bagaimana keadaanmu?”

Keadaan saya sangat baik. Meski demikian, harus saya akui kondisi saya agak terpengaruh sebulan belakangan ini.

“Terpengaruh bagaimana? Bawahanku tidak menyebutkan ini.”

Oh, bukan salah mereka. Saya memang belum menceritakan ini pada siapapun.

“Selama sebulan? Tindakanmu ceroboh. Tiap detail keadaanmu harus diperiksa, jika tidak bisa saja nyawamu yang jadi taruhannya. Kita sudah bicara tentang ini.”

Saya ingat, saya minta maaf.

“Apa ada alasan di balik tindakanmu ini? Beritahukan padaku.”

Tidak ada. Hanya saja tiap malam, saya tidak bisa tidur dengan normal lagi.

“Apa ada perbedaan yang kau rasakan akibat dari ini?”

...” aku menjeda, memikirkan jawaban yang tepat, “saya rasa tidak.

“Apa kau yakin?”

Ya, saya yakin.

“Kalau memang begitu katamu,” komentarnya sebelum berbalik dan berdiam di sana sementara waktu.

Saat ia berbalik lagi, ia membawa sesuatu di tangannya; sebuah tatakan dengan kertas dilipat seperti parasol yang dikukungi mangkuk kaca. Aku tahu apa itu, hanya saja bentuknya lebih rapih.

“Apa itu?” tanyaku.

“Ini disebut psi-wheel, sebuah alat yang digunakan untuk mengukur latensitas psionik seseorang.”

Maaf, apa itu ‘psionik’?

“Esensinya agak sulit dijelaskan, tapi sederhananya; psionik adalah kemampuan untuk mempengaruhi materi tanpa bantuan materi lain, tapi dengan memanipulasi energi tak berbentuk untuk mempengaruhi materi tersebut.”

Maaf, saya gagal mengerti.

“Tentu saja,” komentar Einhorn sambil mengusap-usap punggung kepalanya setelah meletakkan tatakan tadi ke atas meja, “sebagai ilmuwan, tidak sepatutnya aku menyederhanakan sebuah penjelasan secara berlebihan seperti ini. Tapi maksudku tadi adalah menggerakkan benda hanya dengan pikiran.”

Huh? Pfft———HAHAHAH!

Aku terkejut mendengar apa yang dikatakan Einhorn sebelum aku kelepasan tertawa. Anehnya, tawaku menggema di ruang yang tidak berbatas ini. Sementara itu, Einhorn hanya bisa menggeleng menatap lantai sementara kedua tangannya menahan di sisi meja. Ia tidak mencoba menghentikanku, ia hanya menontonku tertawa hingga aku puas.

Maaf,” pintaku setelah aku berhasil menahan tawaku, “saya tidak bermaksud...

“Tidak apa, aku tidak keberatan. Tiga tahun lalu aku juga akan bereaksi sama. Tapi hari ini justru aku yang mengatakannya sendiri. Ironis, bukan?”

Ironis?

“Sebut saja begini; semakin lama kau mempercayai sesuatu, semakin sulit untuk mengubah apa yang kau percayai. Tapi begitu apa yang kau percayai terbukti salah, kau pasti akan merasa bodoh untuk tidak percaya lebih cepat. Mengingat seberapa luas alam semesta, percaya pada satu hal dan mengabaikan segala kemungkinan lain sangatlah tidak bijak.”

Kalau itu, saya sependapat.

“Baguslah. Tidak salah harapanku padamu. Lagipula, mari mundur——Sudah saatnya kau tahu. Kami memang sedang mengetes kemampuanmu untuk memanipulasi energi tak berbentuk. Sembilan bulan kau di sini, kami sudah melatihmu untuk mencapai itu.”

Maaf, tapi selama saya di sini yang saya lakukan hanya tidur dan melatih alam bawah sadar untuk sadar akan kebawah-sadarannya. Bagaimana bisa latihan ini menghasilkan itu?

“Tepat sekali. Kau sudah melatih dirimu untuk memanipulasi materi dalam alam bawah sadar, alam bawah sadar yang dibibiti oleh pandanganmu akan realita. Kemampuan itu sekarang sudah tertanam dalam dirimu. Kelima indramu 'lah yang sekarang menghalangimu untuk melepaskan potensimu.”

Oke, sementara sebut saja saya bisa percaya, bagaimana caranya saya bisa melakukan apa yang sudah saya pelajari dalam mimpi di dunia nyata?

“Oh, bukan kau yang aku harapkan melakukan itu,” Einhorn melihat ke bawah dan garis bentuk pipinya tampak mengembang, seakan tersenyum.

Hal yang sama yang sudah terjadi di tempat Yuumi beberapa hari lalu terjadi lagi di sini; psi-wheel dalam mangkuk kaca itu berputar. Hanya saja sekarang, putarannya jauh lebih pelan. Dalam lima detik, psi-wheel itu hanya berputar seperempat putaran.

“Lihat?” lanjut Einhorn.

Apapun yang terjadi pada benda ini, bukan aku penyebabnya. Pasti ada lubang udara di sini.

“Tidak. Meskipun ada, udara tidak akan bisa menembus mangkuk kaca ini.”

Kalau begitu salah satu dari kita pasti sudah mengguncang meja ini.

“Meja dengan kualitas kerajinan ini tidak akan goyah, meskipun iya, kertasnya hanya akan jatuh dari pinnya.”

Tapi—

“Seperti yang sudah kukatakan, kemampuan ini sudah tertanam dirimu. Saat ini kau masih menggunakannya secara pasif.”

...

“Kita sudah selangkah lebih dekat untuk mencapai apa yang kita bicarakan dulu. Kau sudah siap untuk Phase#2.”

Phase#2?

“Ya. Mulai saat ini, kau akan dilatih untuk menggunakan kemampuanmu di tingkat sadar. Apa kau siap?”

Baik.

“Bagus. Hanya saja...”

Apa ada masalah?

“Sayangnya, aku tidak akan bisa ke sini untuk beberapa bulan ke depan. Ada masalah lain yang perlu kuhadiri. Aku percaya kau bisa melatih dirimu sendiri, hanya saja...”

Hanya saja apa?

“Tidak, bukan apa-apa. Akan ada orang lain yang memantau perkembanganmu untuk beberapa bulan ke depan, aku akan mewakilkan kunjunganku padanya. Tidak akan jadi masalah untukmu, bukan?”

Saya rasa tidak.

“Bagus. Semoga aku tidak salah menaruh harapan padamu.”

Saya tahu.

“Sepertinya ini akan jadi pertemuan terkahir kita untuk beberapa saat. Ferno, sampai ketemu nanti.”

Einhorn berbalik dan meninggalkanku. Sosok hitamnya perlahan sirna semakin ia menjauh dariku hingga akhirnya ia menghilang sepenuhnya setelah delapan langkah sementara aku menontonnya.

Sama seperti sebelumnya, mimpiku tidak berakhir di sini.

Aku terjebak di ruangan ini, tidak ada orang yang bisa kuajak bicara atau ada yang bisa kulakukan. Tapi jika aku benar, semestinya ada rentetan mimpi lagi yang akan kulihat.

Aku melihat ke sekeliling, melihat ke ujung ruangan yang semestinya tidak berbatas dan ke arah langit-langit berkabut dan dasarnya yang serupa. Aku sudah menanti beberapa saat, sejauh ini tidak terjadi apa-apa. Hingga...

“Halo.”

Sebuah suara bisa terdengar dari belakangku. Suara itu ringan dengan sedikit nada merendahkan. Tidak, tunggu dulu. Aku sudah pernah mendengar suara ini sebelumnya.

Anda...” aku berbalik dan berseru dengan halus. Saat aku menemukan meja kayu sudah berpindah posisi menjadi di belakangku, sosok hitam lain juga sedang berdiri di sana. Tidak, dia bukan Graille Einhorn, ia orang lain. Dari posturnya yang ramping namun tegap, ia tampak mengenakan rompi di atas kemeja lengan panjangnya. Dan dari suaranya, terdengar kalau ia jauh lebih muda dibandingkan Einhorn.

“Kau ingat denganku, bukan?”

Yeah, Anda yang menjemput saya dari panti asuhan.

“Bagus, berarti ini tidak akan lama.”

Tapi maaf, saya lupa nama Anda.

“Oh, yeah. Aku juga minta maaf. Aku belum memperkenalkan diriku waktu itu. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Biar kuperkenalkan diriku,” ujarnya, sedikit menggeleng seraya mendekati meja kayu, “namaku adalah Arthur Frost.”

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc