Sama sekali tidak ada petunjuk untukku supaya tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Pikiranku benar-benar dimatikan untuk saat ini. Istirahat sangat dalam dalam tidur tak bermimpi terasa sangat damai. Namun saat-saat damai yang kunikmati ini segera diganggu oleh perasaan terjatuh. Badanku terasa sangat berat, seakan aku dilemparkan dari tempat tinggi ke atas tanah. Aku tidak bisa menikmati saat aku dijatuhkan atau saat aku terjatuh, aku hanya bisa merasakan sentakan spontan yang membangunkan tubuhku.

“Agh!”

Aku terbangun di kamar yang sama saat aku berkelahi melawan tujuh orang. Meski aku masih harus mengatur nafas, kali ini aku terbangun dengan tenang. Tidak ada rasa butuh untuk mengenali lingkungan atau kebutuhan untuk melindungi diri. Ketenangan ini memberiku kesempatan untuk memahami keadaan.

Aku baru sadar bahwa aku sedang beristirahat di kamar rawat dari sebuah kapal kecil. Tidak seperti saat terakhir, perlahan aku beranjak dari kasur dan mencoba untuk menjejak dinding ke arah mulut pintu yang ditutupi kain. Dari sana, aku bisa melihat sebuah koridor pendek yang mengarah ke dua arah, dan ruang rawat ini ada nyaris di ujung koridor ini.

Aku tapakkan tangan kiriku ke dinding sebelah kiri untuk mencegah rasa pusing yang kurasakan saat kapal ini berayun. Dinding koridor ini terbuat dari fiberglass yang dihaluskan dan lantainya terbuat dari logam. Kakiku yang tak beralas terasa dingin saat bersentuhan dengan permukaan metal, tanganku juga terasa dingin, namun tidak sedingin kakiku.

Saat aku berjalan, pandanganku terganggu oleh pemandangan sosok-sosok spektral berwarna kuning mengenakan jubah lab yang sesekali membercak seperti statik televisi. Kehadiran mereka juga membuat semacam suara; seperti suara orang-orang berbicara satu sama lain. Tidak lama setelah kemunculan mereka, aku bisa merasakan sensasi lembab di bibir atasku. Aku angkat tangan kananku dan mencoba menyentuhnya. Bisa kurasakan semacam cairan sedang mengalir dari lubang hidungku. Aku turunkan mataku untuk melihat jariku. Tampak darah segar menempel di jari-jariku. Meski aku merasa cemas dengan keadaanku, begitu aku menurunkan tanganku, suara dan sosok-sosok hantu kuning itu sudah menghilang.

Di ujung koridor, tampak sebuah cahaya persegi bersinar cerah. Setelah menyeka bagian kumisku yang berdarah, kuangkat tangan kananku untuk melindungi kedua mataku seraya mendekati cahaya itu. Cahaya itu cukup terang untuk membutakanku. Kutapaki satu set kecil anak tangga yang mengarah ke dek. Begitu mencapai dek, mataku perlahan mulai membiasakan diri dengan cahaya matahari yang membutakan. Aku berani bertaruh kalau ini adalah cahaya matahari dan langit biru pertama yang kulihat sejak entah kapan. Saat mataku kian beradaptasi, aku mulai paham bahwa kapal ini adalah kapal nelayan.

Di geladak atas, aku melihat ada empat pria sedang bersantai. Yang pertama sedang terduduk di sisi kiri dek, dia adalah pria bertubuh tegap yang kujatuhkan di ruang rawat. Yang kedua adalah seorang pria yang sedang menatap ke laut dari sisi kiri kapal, sedikit agak jauh dari pria pertama. Sosoknya agak sedikit lebih pendek dari pria pertama, salah satu cirinya adalah dia mengenakan topi main berwarna hitam dengan sayap merah. Pria selanjutnya sedang berdiri di sisi kanan dek, sedang berbicara empat mata dengan pria keempat, pria ketiga itu mengenakan celana pendek sementara yang terakhir mengenakan kaos oranye berstrip putih. Pria yang mengenakan topi dan yang mengenakan celana pendek menyadari kehadiranku. Mereka memberitahu kedua rekan lainnya. Mendengar itu, pria yang mengenakan celana pendek pun masuk ke pintu di sebelah kanan pintu yang mengarah ke geladak bawah.

“Kau tidak apa-apa?”

Pria yang kuhajar tempo waktu mendekatiku, menawariku untuk menjabat tangannya. Dengan sedikit enggan aku melihat tangannya dan dengan ragu aku menjawab gesturenya. Tidak seperti kali terakhir kami bertatapan, dia jauh lebih ramah dari waktu itu. Tapi waktu itu, mungkin memang aku yang salah.

“Namaku Mory, sebaiknya kau bicara dengan dokter.”

“Dokter?”

Yang pertama terlintas dalam benakku adalah nama ‘Einhorn,’ namun aku tahu tidak akan semudah itu. Plus aku tahu apapun yang terjadi padaku pastilah yang sudah membuatku dan Einhorn terpisah.

“Yeah, Tim sedang memanggilnya,” dia mengalihkan pandangannya dariku kemudian menunjuk ke arah pintu yang dimasuki pria bercelana pendek tadi. “Ah, itu mereka.”

Begitu dia selesai berbicara, dia langsung kembali ke tempatnya duduk tadi. Dari pintu itu, muncul dua sosok pria. Yang pertama adalah pria bercelana pendek tadi. Dan yang kedua—jika aku tidak salah—adalah pria yang terakhir kulihat sebelum aku kehilangan kesadaran.

“Dokter?”

“Ya, namaku Jordan. Apa kau sudah merasa lebih baik?”

Aku merasa sedikit kecewa saat dia membenarkan identitasnya. Aku sedikit berharap bahwa dokter yang mereka sebut-sebut adalah Einhorn. Namun saat ia keluar dari pintu itu, aku sudah mulai menerima kenyataan bahwa penampilan dan suaranya memang sangat berbeda dari siluet hitam yang kutemui saat aku tidak sadarkan diri.

“Ya, apa yang sudah terjadi padaku?”

“Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu.”

[Bagus, hanya orang lain yang tidak tahu apa-apa.]

“Aku sendiri berharap kau bisa menjelaskannya, sebaiknya kita bicara di ruang rawat.”

Telapak tangannya yang terbuka menunjuk ke arah koridor di geladak bawah; tempat aku datang tadi. Dia berjalan di depanku memimpin jalan ke arah ruang rawat.

“Jadi, aku kenapa?” tanyaku.

“Seperti yang kukatakan, aku tidak yakin,” jawabnya. “Bisa beritahu aku apa hal terakhir yang kau ingat?”

“...Aku terapung di lautan, saat itu malam...”

“Maksudku tentang identitas dirimu.”

“Ah...”

Lagi, aku coba mengingat-ingat apapun yang kubisa tentang diriku. Namun pikiranku menyembunyikan ingatanku terlalu baik. Aku tidak bisa mengingat apapun. Bahkan tidak ada ingatan yang separuh terlupakan. Seakan aku baru terlahir kemarin.

“Maaf, aku tidak bisa.”

“Baiklah...” komentarya singkat, bisa kudengar nada kekecewaan di suaranya.

Setelah berbasa-basi, kami tiba di ruang rawat. Jordan menyibakkan kain yang menutupi kusen pintu dan memasuki ruangannya, aku mengikutinya ke dalam dan berhenti, menunggu dia mulai bercerita.

“Sebentar, berapa lama aku tidak sadarkan diri?”

“Sekitar empat belas jam, sebelum itu kau pingsan selama lima jam.”

“Sebelum aku terbangun dan menghajar kru kapalmu?”

“Haha, yeah,” jawabnya sambil tertawa polos. “Kau tahu, Mory adalah orang paling kuat sekapal ini dan kau bisa mengalahkannya.”

“Masa?”

“Ya, kau bahkan berhasil membebaskan diri dari empat orang yang menahanmu.”

“...” secara retrospek, aku ragu dengan ceritanya. “Entah bagaimana aku bisa melakukannya, saat ini aku bahkan tidak yakin bisa memindahkan kursi itu.”

“Mungkin itu yang disebut adrenaline surge.”

Mungkin itu penyebabnya, lagipula aku memang merasa tidak bisa mengendalikan diri saat itu.

“Saat kami menemukanmu, kau mengenakan jaket ini.”

Jordan mengambil jaket parka yang tergantung di dinding di sebelah cermin lalu memberikannya padaku. Jaketnya benar-benar tebal, lengkap dengan bulu-bulu halus di sekitar tudungnya. Persis seperti yang dikenakan orang-orang saat musim dingin. Aku segera memeriksa keempat saku jaket itu mencari petunjuk. Pertama saku pinggang kanan dan kiri, lalu kulanjutkan mencari di saku dada kanan dan kiri, namun aku tidak menemukan apa-apa. Satu-satunya yang menarik perhatianku adalah tag nama di atas saku dada kiri.

[Theodore Quentin.]

“Apa itu namamu?”

Jordan tampak menyadari kalau aku sedang fokus menatap tag nama. Otakku langsung tenggelam dalam pemindaian agresif mencoba mengingat nama ini. Aku memaksakan diri untuk coba mengingat. Bahkan mungkin terlalu memaksa sampai kepalaku sakit. Aku tekan tangan kananku ke mata kiriku untuk menekan rasa sakitnya. Namun sekeras apapun aku mencoba—seberapa sakit kepalaku menjadi—aku tidak bisa mengingat apapun.

“Aku... tidak bisa ingat...”

“Tidak apa-apa, kau tidak perlu memaksakan diri.”

Jordan mengambil jaket yang kupegang kemudian memapahku ke arah tempat tidur. Mungkin dia cemas aku akan rubuh tiba-tiba. Meski aku tidak suka diperlakukan seperti ini, aku terpaksa menerima kebaikannya.

“Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa ingat apa-apa?”

“...”

Jordan menatapku, tatapannya syarat dengan rasa ingin tahu. Aku bisa menebak kalau dia juga mempertanyakan hal yang sama sepertiku.

“Tebakanku adalah, kau menderita semacam amnesia parah. Memori jangka panjangmu telah terkunci. Aku tidak tahu bagaimana jelasnya, aku bukan neurologist.”

“Ugh...”

Kutekankan tangan kenanku lebih keras ke arah mata kiriku untuk menekan rasa sakit tajam yang kurasakan di dalam kepalaku. Rasa sakit ini datang seiring kemunculan sosok-sosok hantu yang membercak. Namun bukan seperti yang kulihat sebelumnya, kali ini yang muncul adalah sosok-sosok hantu anak kecil berwarna-warni. Berlarian dan bermain di dalam ruangan ini sambil tertawa gembira.

“Ada apa?”

Tanya Jordan saat aku tiba-tiba memindahkan tangan kananku dari pundaknya dan menekankannya ke wajahku. Dia memegangkan kedua tangannya di kedua pundakku untuk memapahku ke arah tempat tidur.

“Apa kau bisa melihatnya?” tanyaku sambil menunjuk ke arah sosok-sosok hantu berbercak anak-anak di dalam ruangan ini.

“Bisa lihat apa?”

Sepertinya dia tidak bisa melihat mereka, sosok-sosok hantu itu hanya bisa dilihat olehku seorang.

“Lupakan.”

Sosok-sosok itu perlahan hilang satu demi satu. Seiring menghilangnya mereka, rasa sakit tajam yang kurasakan di dalam kepalaku juga perlahan menghilang.

“Jika tidak ada yang bisa menjadi petunjuk tentang identitasku, aku tidak keberatan dipanggil Theodore Quentin.”

“...”

Sesaat dia terdiam dan menatapku serius. Kali ini aku merasakan kedua matanya seperti menyalahkanku.

“Kami sudah memeriksa namamu semalam, kau dicari setelah helikoptermu jatuh.”

“Helikopter?”

“Sepertinya kau disewa untuk melakukan pengawalan untuk sebuah perusahaan swasta. Kau terlibat dalam sebuah kecelakaan saat bertugas, lalu kau terluka dan terkena amnesia.”

“Baiklah,” jawabku singkat. “Ke mana tujuan helikopterku?”

“India.”

“Berarti ke sanalah aku harus pergi.”

“Dalam dua hari, kita akan sampai di Mombasa. Mereka sudah menyiapkan regu penyelamat untuk menjemputmu di pelabuhan.”

“Terima kasih.”

“Tidak usah dipikirkan.”

“Apa ada yang bisa aku bantu?”

Setidaknya ada kabar baik yang kudengar. Tanpa Jordan dan krunya, mungkin aku sudah tewas di lautan. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalas kebaikannya. Tapi setidaknya aku bisa sedikit membantu di sini.

“Tidak usah dipikirkan.”

“Aku bersikeras.”

Entah kenapa, aku seperti memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi. Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah geladak melewati koridor, mencari sedikit hal yang mungkin bisa aku bantu. Lagipula semenjak terakhir kali aku mendapat sakit kepala, aku merasa mantap dengan kondisiku. Satu-satunya pusing yang kurasakan hanyalah dari goyangan kapal ini saja.

“Sebaiknya kau istirahat, aku belum memeriksamu dengan teliti.”

“Tidak apa-apa, aku sudah lebih baik. Lagipula kau sudah lihat apa yang aku bisa, kan? Aku bahkan mengalahkan kawanmu.”

Seiring aku berjalan di terowongan, cahaya matahari kembali menyilaukan mataku. Salah satu alasan aku ingin membantu adalah karena aku ingin bisa melihat langit yang tidak mungkin kulakukan dari ruang rawat tak berjendela itu.

Begitu aku mencapai dek, satu kru sudah pergi. Hanya tinggal tiga orang yang ada di dek; si pria berbadan tegap, pria bercelana pendek, dan pria yang mengenakan kaos oranye berstrip putih.

“Kau yakin? Tadi kau bilang kau merasa tidak kuat memindahkan kursi?”

“Ya, aku sudah jauh lebih baik sekarang.”

Pria bercelana pendek menyadari kedatangan kami, dia mendekati kami dari kawan-kawannya yang tampak sedang beradu argumen akan sesuatu.

“Jordan, bagaimana?”

“Oh, Tim. Kau belum berkenalan dengannya, kan?”

“Belum?”

“Oke, Theodore, ini Tim. Tim, Theodore.”

Jordan memperkenalkan kami, aku yakin aku pernah bertemu dengannya waktu aku mengamuk di ruang rawat.

“Maaf untuk yang waktu itu.”

“Tidak apa-apa. Kalau kau sanggup melawan empat orang, berarti kau jauh lebih kuat daripada Mory.”

Jordan sedikit mengibas-ngibaskan kepalanya, meminta Tim untuk berbicara empat mata dengannya. Aku yang maklum lalu mundur beberapa langkah agar mereka mendapatkan privasi.

Dari sini, aku bisa melihat kalau Jordan sedang berbisik-bisik mencoba menjelaskan sesuatu, sementara Tim tampak tidak setuju sambil juga berbisik-bisik. Melihat mereka berardu argumen membuatku berharap kalau mereka tidak sedang meributkan diriku.

Akhirnya mereka tampak sepakat tentang sesuatu. Setelah mereka selesai berbicara, Jordan mendekatiku lagi sementara Tim berbalik ke kawan-kawannya lalu membicakan sesuatu.

“Maaf, tadi ada yang harus kami luruskan.”

“Apa karena aku?”

“Tidak, bukan kau...” Jordan menjeda untuk sesaat. “Seperti yang kau lihat, kapal ini adalah kapal nelayan.”

“Ya...”

“Di badai kemarin, kami kehilangan satu orang. Bahkan dengan delapan orang, kami nyaris tidak selamat dari badai itu.”

Sembari Jordan berbicara, Tim mengumpulkan kru kapal yang lain di sekitarku. Termasuk seorang pria yang mengenakan kaos biru di bawah kemeja putih tak dikancing yang baru keluar dari pintu sebelah kanan dek.

“Kami dengar dari ramalan cuaca hari ini, kita harus melewati badai jika kita ingin sampai di Mombasa.”

“Kami butuh bantuan.”

Pria yang mengenakan kemeja tak dikancing bergabung dalam pembicaraan kami. Meski tidak menghadap ke arahku, namun menatap ke cakrawala di kejauhan, di mana awan abu-abu berkumpul.

“Kami butuh bantuanmu jika kita ingin selamat dari badai itu,” lanjutnya sambil memindahkan tatapannya ke arahku.

“Aku akan bantu.”

“Kita harus mencapai badai itu sebelum malam, sebelum arus mendorong kita menjauh dari daratan.”

“Ngomong-ngomong, kau belum kenal dengan yang lain, kan?” potong Jordan lagi. “Kita belum berkenalan sama sekali.”

Pria yang mengenakan kemeja tak dikancing itu mengangkat tangan kanannya, menawariku jabat tangan. Sosoknya dan sosokku hanya sedikit berbeda tinggi, sekitar satu jengkal tangan lebih tinggi dariku. Tangannya melayang satu langkah depat di depan perutku, dengan sedikit ragu, aku jabat tangannya yang terangkat dan dia membalasnya dengan menggenggam erat tanganku.

“Aku Dasan, kapten kapal ini.”

“Theodore Quentin.”

Sebelum aku melepaskan tanganku, tangan-tangan lain sudah menungguku. Segera aku pindahkan tangannya ke tangan yang lain. Yang pertama adalah tangan pria yang mengenakan celana pendek.

“Tim.”

Belum dua detik, dia sudah melepaskan genggamannya, jelas dia tidak ingin memakan waktu perkenalan untuk kawan-kawannya. Orang berikut yang kusalami adalah pria bertubuh tegap yang mengenakan kaos coklat ketat.

“Mory.”

Genggamannya sangat erat, aku tidak punya pilihan selain melepaskan genggamanku duluan. Bisa kulihat wajahnya diwarnai dengan kepuasan, pasti karena dia berhasil membalas atas seranganku tempo waktu. Orang berikutnya yang kusalami adalah pria yang mengenakan kaos oranye berstrip putih. Dari semua orang di sini, dialah yang menurutku berwajah paling ramah.

“Alvi.”

Genggaman orang adalah yang paling lemah sejauh ini, rasanya sama seperti menggenggam ikan mati, apalagi dia tidak melepaskan tanganku sebelum aku yang melepaskan tanganku duluan. Dan terakhir, yang paling muda. Saat aku tawari dia untuk berjabat tangan, dia malah menawari high five. Telapak tangannya tergantung beberapa jengkal di hadapan wajahku. Meski sedikit canggung, aku meladeni tingkahnya dengan agak terpaksa.

“Peppy!”

Sekianlah. Aku menatap mereka tanpa berkata apapun, berbaur di lingkungan hangat seperti ini membuatku tidak tenang.

“Tadinya ada kru ke-delapan. Namun dia tewas di badai kemarin sebelum kami menemukanmu.”

Jordan menunjuk ke arah geladak bawah, pasti menunjuk ke arah di mana mereka menyimpan mayat kru ke-delapan. Aku coba melihat ke arah yang ditunjuknya, aku perhitungkan kalau kru ke-delapan diistirahatkan di ruangan sebelah ruang rawat.

“Namanya Ben,” timpal Dasan, sang kapten. “Kita punya waktu empat jam sebelum matahari terbenam dan arus naik. Kita harus mencapai badai itu sebelum waktu kita habis agar kita bisa mengikuti arus.”

“Aku setuju dengan Dasan,” ujar Tim, menyepakati perkataan Dasan.

Aku bisa melihat alasannya. Dari tengah hari sampai tengah malam, arus laut mengalir dari laut ke darat. Berarti akan membuat perjalanan kami lebih mudah jika kami ingin mencapai daratan di dalam badai. Begitu kami memasuki badai, kami hanya tinggal perlu menyeimbangkan kapal di tengah ombak.

“Yeah, kita tidak punya banyak waktu. Ikan di kargo kita tidak akan segar kalau kita tunda semalam,” lanjut Peppy sambil menunjuk ke lubang persegi di haluan kapal.

Suara-suara kesepakatan yang bercampur tiba-tiba mengeras di antara para kru, mereka semua punya pendapat yang sama, namun semuanya memiliki ekspresi yang sama; Ketakutan dan keraguan. Dari ekspresi di wajah mereka, jelas sekali kalau mereka ketakutan akan bernasib sama seperti kawan mereka yang gugur. Sementara di sisi lain, mereka harus bangkit dari trauma mereka jika mereka ingin selamat.

“Maaf...” potongku sambil mengangkat tangan kiriku untuk menarik perhatian mereka. Aku relakan menunggu sampai semuanya berhenti berbisik sebelum aku mulai mengeluarkan pikiranku. “Sejujurnya, aku pikir kalian ketakutan setelah melihat apa yang terjadi pada kawan kalian.”

“...”

“Aku bukan kawan kalian, namun aku akan mencoba berusaha sekeras dia atau mungkin lebih.”

Tatapan kosong di wajah mereka menandakan bahwa aku benar. Aku memang bukan siapa-siapa di antara mereka, namun mereka sudah menyelamatkanku. Sekarang giliranku membantu mereka.

“Jika kalian terus begini, kita tidak akan bisa menembus badai itu. Kita harus yakin dan berani, aku akan mencobanya sebisaku, dan aku ingin kalian juga sama.”

“Kau benar,” komentar Dasan pada pidato singkatku. “Dia benar. Kita tidak bisa terus terperangkap dalam penyesalan untuk Ben. Kita terus menyebutnya simpati. Namun sebenarnya kita takut akan berakhir dengan nasib yang sama.”

Seiring Dasan berbicara, bisa kulihat wajah mereka mulai terangkat dan terisi dengan keyakinan.

“Terima kasih, kami butuh mendengarnya,” timpal Jordan berkomentar lalu tersenyum sebelum memasuki pintu di sisi kanan dek.

Mory, Alvi, Peppy, dan Tim menepak pundakku sebelum mereka kembali ke posisi masing-masing. Alvi dan Peppy masuk ke geladak bawah sementara Tim dan Mory berdiri di sisi kanan dan kiri dek. Sementara Dasan masih bersamaku di sini.

“Ben bekerja di dek bersama Mory dan Tim, mereka akan butuh bantuanmu.”

“Baik.”

Dasan dan aku pun berpisah, aku berjalan ke arah Tim di sisi kanan geladak sementara Dasan memasuki pintu di sisi yang sama, pintu yang juga dimasuki Jordan.

“Hi,” salamku pada Tim yang memakukan pandangannya ke arah bibit-bibit badai di cakrawala.

“...”

Dia hanya menatapku sesaat sebelum mengembalikan pandangannya ke cakrawala. Sepertinya dia sedang mempersiapkan diri sebelum bergulat dengan badai.

“Dasan menyuruhku untuk membantumu, apa ada yang bisa aku bantu?”

“Kau tahu cara mengikat simpul?”

“Sepertinya... aku tahu.”

[Sebentar, ada yang aneh. Bagaimana aku tahu caranya? Aku tidak bisa ingat apa yang terjadi padaku dua hari lalu, tapi aku tahu caranya mengikat simpul?]

“Berarti tidak ada yang perlu kuajarkan.”

Setelah beberapa saat, kapal ini mulai bergerak maju. Terpaan angin yang dihiasi percikan air asin menyentuh wajahku seiring dengan gerakan kapalnya. Semakin dekat dengan badainya, semakin gelap langit dan terpaan angin hangat pun berubah menjadi angin ribut.

“Semua sudah di tempat?!” teriak Dasan dari anjungan di lantai geladak atas, bersama Jordan di ruang yang sama.

“Siapkan tambang, sekarang!” teriak Tim padaku begitu dia melihat Mory memanjat tiang kapal.

Segera kuambil dua ikat tambang yang tergeletak di bawah tiang kapal dan melempar salah satunya pada Tim, begitu dia menerima tambangnya, dia melemparkan balik sesuatu padaku yang kutangkap dengan canggung. Kulihat dalam genggaman kedua tanganku ada sebuah pisau lipat. Jika aku memang akan bekerja dengan tali tambang, wajar jika aku menyimpan pisau lipat.

“Begitu Mory selesai memotong, segera gulung layarnya!”

Aku langsung mengangguk mendengar perintah Tim yang beradu dengan suara angin badai. Kualihkan pandanganku ke puncak tiang kapal dan kusimpan pisau lipatku di saku kanan belakang celanaku sambil menunggu Mory memotong layarnya. Saat aku melihatnya, tetesan air sudah mulai berjatuhan dari langit yang gelap ke permukan wajahku.

“Dua badai dalam satu kali melaut, aku memang beruntung...” cemooh Tim berkomentar sarkastik padaku, komentarnya hanya bisa kubalas dengan senyuman simpul memaklumi.

“Selesai!”

Mory berteriak dari puncak tiang sambil menjatuhkan satu lapis kain tebal ke arah kami. Tanpa ragu, Tim langsung menangkapnya sebelum layar itu menyentuh lantai geladak dan mulai menggulung satu sisinya.

“Tunggu apa kau?! Cepat mulai!”

Tim meneriakiku karena aku bergerak terlalu lambat, gulungan layar mulai miring ke arahnya. Begitu aku sadar kalau dia menungguku bereaksi, aku langsung mengikutinya menggulung ujung lain layar. Setelah gulungannya rata, Tim mulai melanjutkan menggulung lagi dengan kecepatan yang sulit kusamai.

Tidak butuh waktu lama untuk menggulung layar tujuh meter dengan kecepatan ini. Tim lalu memanjat pagar keselamatan untuk mengangkat gulungan layar dan mengikatnya ke atas boom—pasak layar melintang. Dia menunjukkan jarinya ke arah tiang, memberi tanda kalau aku juga harus memanjat naik.

Sementara itu, Mory sudah turun dan siap membantu dari bawah, aku yang bergerak paling lambat karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

“Naik ke sana dan ikat layarnya!”

Mory menyuruhku untuk naik ke cabang tiang layar. Aku hanya menuruti perintahnya tanpa banyak bertanya. Dia segera mengangkat gulungan layar sembari aku memanjat dan sembari Tim menunggu di ujung satunya.

Mory mengangkatkan gulungan layar ke sisiku terlebih dahulu. Dia memegangnya terus untuk menjaganya tetap di tempat selama aku mengikatnya ke tiang. Hujan yang mengguyur kami sekarang sudah berubah menjadi badai. Tetesannya segera membuat pakaian kami basah kuyup dalam hitungan menit. Mory terus menyisir rambut panjangnya ke belakang setiap kali rambutnya bergeser ke depan wajahnya. Untungnya rambutku jauh lebih pendek, jadi aku tidak punya masalah serupa.

Aku talikan gulungan layar sekitar sepuluh kali sebelum aku menutupnya dengan simpul dan memeriksa kalau layar ini sudah kuat di tempatnya. Aku beri tanda pada Mory kalau aku sudah selesai dan menyuruhnya untuk pindah ke sisi satunya. Aku mulai melihat kebenarannya, Mory memang lebih kuat dariku. Aku sudah mencoba mengangkat gulungan layar ini tapi aku tidak cukup kuat. Melihat Mory sanggup melakukannya sendirian menjadi buktinya.

“Tim! Kau butuh bantuan?!” teriakku pada Tim yang tampak kesulitan mengikat layar.

“Tidak, tetap di sana!”

Guncangan dari angin yang berhembus keras di sekitar mendorong Tim ke segala arah. Dia kesulitan antara berpegangan, menjaga keseimbangan, dan mengikat layar. Meski keadaannya seperti itu, dia menolak tawaranku untuk membantu. Begitu mendengar kalau Tim butuh aku di sini, Morylah yang mencoba membantunya sementara aku melanjutkan mengamankan layar.

“Ugh!”

“Kenapa?!”

Aku mendengar suara mengerang dari ujung cabang tiang layar. Di sana aku melihat Tim sedang menghisap bagian antara jempol dan telunjuk tangan kirinya. Sepertinya dia tidak sengaja melukai tangannya saat sedang menutup simpul.

“Kau tidak apa-apa?!” tanya Mory.

“Pisauku terjatuh!”

Seperti dugaanku, dia tidak sengaja melukai tangannya dan menjatuhkan pisaunya ke laut, apalagi dia belum selesai mengamankan layar. Aku percepat langkahku untuk menyelesaikan simpulku supaya aku bisa menolong Tim dan Mory.

“Tunggu! Aku akan ke sana!” teriakku pada Tim dan Mory yang tidak kesulitan bertahan. Namun dari wajah mereka, tampak kalau mereka ingin aku bergegas. “Selesai!”

Aku langsung melompat dari tiang ke atas geladak dan berlari ke arah Tim dan Mory. Namun saat aku mendarat, kapal ini bertabrakan dengan sebuah ombak yang cukup besar. Guncangannya cukup untuk membuat aku, Tim, dan Mory kehilangan keseimbangan. Saat aku mencoba berdiri kembali, aku bisa melihat kalau Mory sedang membantu Tim berdiri.

Aku pegang ujung tajam pisauku dan kuberikan gagangnya pada Tim. Dia menggelengkan kepalanya setelah melihatku menyerahkan pisauku padanya. Dia memberi tanda bahwa dia tidak dalam kondisi prima untuk melanjutkan tugasnya. Aku bisa melihat darah menetes dari bibirnya, meski dia menghisap darahnya dengan cukup keras. Bisa dibilang lukanya cukup dalam.

“Aku akan memeriksa ruang mesin, mungkin aku bisa membantu di sana!” ujar Tim sambil masih mengulum tangan kirinya sambil terus mencoba menjaga keseimbangan seraya berjalan ke arah geladak bawah. “Akan kuminta Alvi atau Peppy untuk membantumu di sini!”

“Tidak, bantu saja mereka di bawah!”

Satu-satunya pilihanku adalah menyelesaikan ini seorang diri. Alvi dan Peppy jelas tidak cocok untuk tugas seperti ini. Karena itulah aku menolak tawaran Tim sambil masih fokus mengikat simpul tambang.

“Yeah, sebaiknya kau bantu mereka!” lanjut Mory setuju denganku.

Lagipula aku tidak perlu bantuan. Segera setelah Tim masuk ke geladak bawah, aku selesai mengikat layarnya. Aku coba menggoyang-goyangkannya beberapa kali untuk memeriksa kalau ikatannya sudah kuat.

“Selesai?!” tanya Mory.

“Yeah!”

“Tugas kita selesai di sini! Ayo tunggu di anjungan!” lanjutnya mengungkapkan pendapatnya yang setujui.

Untuk sesaat aku memandang ke langit, aku merasa ingat dengan pemandangan ini. Chiaroscuro hitam dan abu-abu yang menjadi atap lamunanku saat aku sedang kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. Hanya saja kali ini aku tahu mana yang nyata dan mana yang bukan.

“Sedang apa kau?!”

Mory berteriak dari pintu yang mengarah ke anjungan, teriakannya nyaris tidak terdengar karena kalah dengan suara nyanyian badai. Namun suaranya yang samar-samar itu sudah cukup untuk menarik perhatianku.

“Maaf, aku melamun—”

“Tolong!”

Tiba-tiba suara teriakan terdengar mendekat dari geladak bawah. Bukan suara Tim, tapi aku yakin kalau itu suara Peppy yang sedang panik.

“Ada apa?!” tanyaku saat melihatnya berlari keluar dari geladak bawah.

“Mesinnya! Mesinnya kepanasan!”

“Apa?!”

“Mesin kapal kita kepanasan!”

“Aku harus bagaimana?!”

“Kita harus mendinginkannya, aku akan coba menyiramnya dengan air!”

“Baik, aku akan beritahu Dasan keadaannya!”

Peppy dan aku berpencar tanpa mengatakan apapun lagi. Aku segera berlari ke arah pintu sebelah kanan geladak.

“Dasan! Mesin kita kepanasan!” teriakku melalui pintu tanpa memasukinya, aku tahu suaraku cukup keras untuk didengar mereka.

“Sial! Matikan kalau begitu!”

Memang seperti itulah harusnya, aku segera membanting pintu dan berlari ke ruang mesin di geladak bawah. Namun sebelum aku masuk, aku berhenti saat hampir bertabrakan dengan Alvi yang membawa empat ember di tangannya.

“Bisa kau isikan ember-ember ini?!” tanyanya padaku.

“Baik, dan Dasan bilang matikan mesinnya!”

“Oke!”

Dia menyerahkan keempat ember di tangannya padaku. Segera kuletakkan keempatnya di lantai geladak untuk menadah air hujan. Tidak butuh waktu lama untuk mengisinya. Aku tuangkan isi dari tiga ember lainnya ke satu ember untuk membuat satu ember penuh dengan air lalu menaruh ketiga ember yang kosong kembali ke lantai. Aku bawa ember yang penuh itu ke geladak bawah dan menuju ke ruang mesin.

“Air!”

“Siramkan ke mesin!”

Tanpa keraguan, aku ikuti perintah Alvi. Aku ambil kuda-kuda untuk menyiramkan isi ember ke arah mesin. Dengan satu ayunan, kukosongkan ember di tanganku dan semua air dalam ember pun pecah menabrak mesin yang panas. Uap-uap air langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan, yang berarti mesin ini masih panas.

“Akan kuambilkan air lagi!”

Aku langsung berlari ke koridor dan geladak tanpa berhenti. Semua ember hampir ketiga ember sudah hampir penuh. Aku taruh ember yang kosong lalu kuambil dua ember yang hampir penuh masing-masing di satu tanganku.

“Ombak besar!”

“Huh?!”

Aku mendengar sebuah teriakan dari anjungan. Kuangkat wajahku meskipun sakit saat tetesan air hujan mendarat ke wajahku. Dari sini tampak Jordan berdiri di mulut jendela anjungan yang terbuka.

“Ombak besar datang dari arah kiri! Nyalakan mesinnya!”

“Mesinnya masih kepanasan!”

“Kalau tidak, kita bisa terjungkal!”

Lagi, aku bergegas masuk ke geladak bawah. Berlari dengan dua ember penuh air di kedua tanganku ke ujung koridor dan belok ke kiri di seberang ruang rawat.

“Nyalakan mesinnya!”

Aku berteriak begitu sampai ke ruang mesin. Tim, Alvi, dan Peppy menatapku dengan aneh, mungkin mempertanyakan perintahku.

“Mesinnya masih panas,” komentar Alvi dengan telapak tangannya menunjuk ke mesin yang masih menguap.

“Aku tahu, tapi ada ombak besar mendekat! Kita harus berputar!”

“Mesinnya bisa meledak!”

“Setiap detik kita beradu pendapat, ombak besar itu terus mendekat dan kita tidak bisa mencegahnya kecuali jika kita berputar!” teriakku sambil menaruh ember di tangan kananku dan bersiap untuk menyiram ember satunya.

“Sialan! Nyalakan mesinnya!”

Alvi akhirnya mengalah dan menyuruh Tim dan Peppy untuk menyalakan mesinnya kembali meski mesin masih mengeluarkan uap. Saat mereka berusaha menyalakan mesinnya, aku masih berusaha menyiramkan isi ember kedua. Peppy melilitkan sebuah kabel ke generator dan menariknya sekuat tenaga sebelum mesin kembali menyala. Sementara di waktu yang sama, aku selesai mengosongkan ember kedua.

“Akan kuberitahu Dasan kalau mesin sudah menyala dan akan kuambilkan air lagi!”

Aku ambil ember-ember yang sudah kosong dan berlari ke arah geladak lagi untuk menukar ember yang sudah penuh dengan ember-ember kosong yang kubawa.

“Mesinnya sudah menyala!” teriakku ke arah jendela anjungan yang terbuka.

“Awas guncangan!”

Jordan berteriak memperingatkanku. Tidak sengaja aku melihat sesuatu di pojok mataku. Di sisi kiri kapal ini, ada sebuah ombak setinggi setidaknya sepuluh meter yang tadinya kukira adalah langit yang memang sudah gelap. Dengan pemandangan ini di depanku, tidak sengaja aku menjatuhkan kedua ember di tanganku. Bahkan mulutku sampai ikut menganga.

[Sudah terlambat untuk berputar!]

Begitu aku sadar dari kekagumanku, aku berlari ke arah pagar besi di kiri geladak dan berpegangan padanya. Aku sempat berharap seandainya aku bisa memperingatkan orang-orang di ruang mesin. Ditambah saat aku sedang berpegangan, aku menyadari bahwa hidungku mulai meneteskan darah lagi.

Berjanjilah, ———, kita akan melihat lautan bersama-sama.

“Apa?”

Aku mendengar sesuatu; suara seseorang berbisik. Tapi itu tidak mungkin. Bahkan saat seseorang berteriak di sini, aku nyaris tidak bisa mendengar suara mereka. Namun tadi aku bisa mendengar suara seseorang berbisik dengan sangat jelas.

Suara lembut yang menenangkan itu, aku yakin aku tahu suara itu. Itu adalah suara sosok cahaya putih dalam mimpiku. Kenapa aku mendengar suaranya sekarang? Aku sedang tidak bermimpi, kan? Aku coba memastikannya dengan cara menggigit jempol kananku dan memang terasa sakit. Namun tetap saja, kenapa aku bisa mendengar suaranya di sini?

Kapal ini hanya sempat berputar sepertiga arah sebelum haluannya benar-benar membelakangi ombak saat ombak tinggi itu runtuh dan menimpa lautan. Guncangan yang dihasilkannya membuat kapal ini kehilangan keseimbangan, hingga miring hampir setengah sisinya. Sedikit dorongan saja bisa membalikkan kapal ini.

Di saat-saat seperti ini, aku bisa merasakan rasa sakit tajam di dalam kepalaku dan darah dari hidungku tidak berhenti menetes. Aku tutup kedua mataku, kutekan tangan kananku ke mata kiriku, dan kugiritkan gigi atas dan bawahku untuk menekan rasa sakitnya. Namun seberapa keras pun aku berusaha, rasa sakitnya masih terlalu tajam.

“———?”

Beberapa saat setelah aku menutup mataku, sesuatu yang ganjil terjadi. Suara hujan lebat tiba-tiba berhenti. Berganti dengan suara ombak-ombak kecil yang menenangkan. Perlahan aku buka kedua mataku dan rasa sakit yang kurasakan perlahan menghilang. Namun seiring kedua mataku membiasakan dirinya, yang kulihat di hadapanku adalah sebuah pemandangan yang tidak mungkin.

Ribuan atau bahkan jutaan tetes hujan sedang melayang di sekitarku. Samudra yang bergejolak sudah menghilang meski langit masih diselimuti awan hitam.

“Apa yang terjadi—”

Tim, Alvi dan Peppy berhamburan keluar dari geladak bawah dengan wajah terkejut. Perlahan aku terbangun dan mencoba memahami apa yang sudah terjadi. Jordan, Dasan, dan Mory juga tampak di anjungan dengan wajah-wajah terkejut.

Aku coba menyentuh satu tetesan hujan, perlahan tetesan hujan itu memanjang mengikuti jariku seperti gel. Namun begitu aku melepaskannya dari jariku, air itu tidak kembali ke bentuk aslinya. Ketiga pria yang masih berdiri di tangga geladak bawah juga mencoba melakukan hal yang sama dengan hasil yang sama.

Orang pertama yang tersadarkan dari lamunannya adalah Dasan. Dia segera melajukan kapalnya saat lautan sedang tenang seperti air dalam bak. Tetesan air melayang yang menabrak kami memanjang bagaikan gel menghindari sosok-sosok kami yang melewati mereka. Laut yang tenang dan tetesan hujan yang melayang ini terus terjadi meski langit masih diselimuti awan badai. Bahkan setelah kami keluar dari jangkauan badai, kami masih belum tahu apa yang sudah terjadi.

Kami mencoba mencari penjelasan yang masuk akal sambil menunggu Dasan mengeluarkan kami dari badai. Namun selain lanturan takhayul yang Tim ceritakan, tidak ada yang bisa menyimpulkan sebuah teori. Kecuali aku. Untuk sebuah alasan narcissist, aku percaya kalau aku mungkin ada hubungannya dengan fenomena tadi. Tapi aku tidak bisa mengungkapkannya kepada mereka.

Berjam-jam kemudian saat aku sedang memandang cakrawala malam di atas lautan yang tenang, Jordan mendekatiku. Dia menawariku satu gelas coklat panas yang lumayan kunikmati.

“Apa pendapatmu tentang hari ini?” tampak kedua matanya syarat dengan kecurigaan saat dia bertanya. Aku tahu dia pasti berpikir kalau aku ada hubungannya dengan kejadian itu.

“Entahlah, aku sama penasarannya denganmu.”

“...” entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi aku bisa melihat kalau aku mengatakan hal yang sebenarnya. “Apapun itu, terima kasih.”

“Untuk apa? Aku tidak banyak membantu.”

“...” lagi, dia mencari balasan yang tepat. “Ada yang harus kukatakan padamu.”

“Apa?”

“Ingat aku bilang ada regu penyelamat menunggumu di Mombasa?”

“Yeah?”

“Aku bohong, tidak ada regu penyelamat.”

“...tidak apa, aku yakin aku bisa mencari jalan sendiri.”

“Bukan itu maksudku.”

“...”

“Maksudku adalah bukan regu penyelamat yang akan menunggumu di Mombasa...”

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Saat aku melaporkan bahwa kami menemukanmu kemarin, kami mengetahui bahwa kau bukan korban pesawat jatuh, tapi kau dicari.”

“Huh?”

“Kau dicari karena kau disebut bertanggungjawab atas jatuhnya penerbangan pribadi yang dimiliki oleh Graille Einhorn.”

Yang baru dikatakannya membuat perasaan dan ekspresiku berubah. Mataku mengembang dan aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Pikiranku terlalu sibuk memproses informasi penting yang baru kuterima.

“Apa katamu tadi?”

Nama itu lagi. Nama yang terus kudengar, aku tahu ada hal penting di balik nama itu. Namun apa katanya tadi? Aku menjatuhkan pesawat? Sumpah. Apa yang sudah terjadi padaku? Aku kehilangan ingatan, aku melihat hal-hal yang tidak ada, aku bahkan tidak tahu namaku sendiri. Ditambah setelah apa yang terjadi hari ini...

...aku ini apa?

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc