16 Agustus 2017

Distrik barat, Batam

22.48

Suara sorak-sorai mengiringi letupan-letupan kembang api yang dibakar rakyat yang tengah merayakan malam menuju hari jadi kemerdekaan tanah air mereka. Gejolak riuh ini mengguncang bumi dan mewarnai langit. Mengabaikan segala riuh perayaan di kota ini, seorang pria tengah melakukan persiapan berbahaya di kamar mewah sebuah hotel bintang tiga.

Di kamarnya, seorang pria berambut pendek dengan profil wajah setengah melesung tengah mengisi magasin sepasang pucuk pistol selundupannya. Sesiapnya kedua pistol miliknya, sang pria melanjutkan persiapan dengan mengasah pisau komando miliknya.

Setelah puas dengan kesiapan peralatannya, ia merebahkan diri mereka ke sofa yang tersedia di ruangan tempatnya menetap. Di hadapannya, terdapat sebuah map kulit berisi berkas-berkas data hasil susunannya dari berbagai sumber. Sambil meminum jus apel yang tertuang di sebuah gelas tumbler, ia membaca ulang isinya.

Beberapa hari lalu, gubernur dari kota ini dikunjungi oleh pihak asing. Mereka mengunjungi Indonesia demi menitipkan sebuah barang. Tidak banyak yang diketahui tentang barang ini. Gubernur sendiri hanya ditawari kontrak pembangunan dalam angka besar sehingga ia tidak bisa menolak. Namun dari kabar burung yang ia dengar dari sebuah sumber jauh di pasar gelap, dikabarkan bahwa kunjungan ini disangsikan oleh presiden sendiri.

Kesimpulannya, apapun barang ini, barang ini adalah memiliki pengaruh besar.

Sialnya, segala informasi tentang ini tidak ada yang ditutup-tutupi. Segala hara-huru tentang barang ini telah menarik perhatian banyak negara. Mengetahui keberadaan barang ini dan di mana tempatnya saat ini, mereka seakan melihat kesempatan besar untuk menguasainya.

Tapi bagi pria ini, ada satu bagian informasi yang tidak mungkin orang tahu.

Bukan rahasia bahwa pihak asing yang mengunjungi pemerintah Indonesia adalah perwakilan dari Reague Enterprise. Perusahaan ini bergerak di bidang keamanan digital. Namun di sisi lain, perusahaan ini tergabung dengan EUNRA Groups, yang juga memiliki afiliasi dengan Einhorn Foundation.

Semua ini bukan kebetulan,” batin sang pria, “Einhorn, aku tahu ini ada hubungannya denganmu.

Di sisi belakang berkas miliknya, ada skema-skema peta bangunan. Namun bukan hanya peta biasa, tapi adalah skema peta dari bangunan tempat di mana barang titipan pihak asing ini disimpan. Tempatnya tidak begitu mewah. Namun dari pengamatannya selama 48 jam belakangan ini, tempat ini dijaga oleh tangan-tangan yang benar-benar kuat.

Di lapisan terluarnya, gudang tepi pelabuhan ini dijaga oleh KOPASSUS sendiri—yang sebenarnya sangat jarang beroperasi di luar provinsi pulau Jawa, secara resmi. Dua lusin pasukan berbaret merah bersenjata ini disiagakan di 20 meter di halaman gudang dan 10 meter di sisi luar dinding gudang, namun itu hanya yang berseragam. Dari pengamatannya, sang pria juga menemukan setidaknya selusin lusin anggota KOPASSUS disiagakan mengenakan pakaian sipil di luar perimeter sebelumnya. Penyamaran mereka juga amat meyakinkan, hanya segelintir orang yang bisa mengenali sikap para tentara ini.

Sisi dalamnya lebih tidak bisa ditebak. Selama masa pengamatan, ia tidak melihat banyak orang keluar-masuk gudang. Selama 2 hari setelah barang ini disimpan, hanya ada dua truk yang singgah di gudang ini. Namun lagi, bukan berarti tidak ada cara mengetahui isinya.

Kedua truk yang lewat ini sama-sama tertutup, apa yang tersimpan dalam kontainernya tidak bisa dilihat dari luar. Namun pelabuhan kota ini masih kurang terbangun, jalanannya masih berupa aspal yang hanya dilapis ulang sekali tiap dua tahun dan jalanannya berlika-liku. Melihat seberapa luwes truk-truk itu berkelok di jalanan pelabuhan yang tidak mengijinkan mereka untuk bergerak cepat, ia menyimpulkan bahwa truk-truk ini relatif kosong. Dari 20 tonne muatan yang bisa ditarik oleh satu truk, setidaknya keduanya hanya terisi oleh 2 persennya saja—atau 400 kilogram. Yang mana rata-rata bobot pria dewasa terlatih adalah sekitar 80-90 kilogram, berarti satu truk membawa 4-6 orang.

Sebenarnya bisa saja ia mencocokkan nama-nama prajurit kelas atas yang tiba-tiba dipindahtugaskan atau tidak diketahui keberadaannya, tapi terlalu mendadak dan makan waktu. Tahu jumlah mereka saja sudah cukup.

Setidaknya ada 12 orang disiagakan di dalam gudang.

Total paling banyak, ada 48 lawan.

Jumlah ini membuat sang pria menghela nafas. Ia menyenderkan punggungnya ke senderan sofanya. Ia tahu, tidak peduli seterampil apapun ia dalam bertarung, ia tidak mungkin menang melawan 48 tentara terlatih—apalagi tentara ini termasuk dalam 10 tentara paling mematikan sedunia.

Tapi lagi, untungnya ia tahu bahwa ia bukanlah satu-satunya pihak yang mengincar barang yang ada di dalam. Akan ada pasukan khusus dari berbagai negara yang turut mencoba merebut barang ini. Ia juga tidak bodoh, kalau bisa ia tidak ingin turun tangan dalam perebutan ini. Begitu mendengar barang incarannya ada di sini, ia segera mencari tenaga sewaan untuk mewakili dirinya. Namun dari semua tentara bayaran yang bisa dikontaknya, semuanya menolak ketika tahu detail misi ini.

“Kami tidak mau terlibat dengan pertempuran spionase antar negara.”

“Kami masih waras. Kami tahu bedanya misi bunuh diri dan misi yang nyaris mustahil.”

“Tolong kabari kami kalau ada kelompok tentara bayaran yang mau mengambil misi ini, supaya kami bisa mengawini jandanya.”

Begitulah beberapa jawaban dari kelompok-kelompok yang ia tawari. Semuanya enggan. Maka dari itu, mau tidak mau ia harus turun tangan.

Menurutnya, meski perebutan ini akan dihadiri oleh pasukan khusus, namun ia juga yakin bahwa akan ada perbedaan strategi dalam masing-masing operasinya. Akan ada pasukan khusus sabar; atau mereka yang akan menunggu pasukan negara lain saling menghabisi, ada juga pasukan khusus tukang pamer yang akan menyerang menggunakan taktik berprofil tinggi. Akan ada juga pasukan khusus sabar yang akan menyelinap di antara semua kekacauan ini, dan ada juga pasukan khusus ceroboh; yang membiarkan diri mereka terbunuh saat operasi dan membuat negaranya diketahui memiliki niat memancing konflik internasional. Tapi lagi bisa saja beberapa negara takut ini terjadi dan membentuk regu khusus yang terdiri dari penjahat perang yang mereka simpan untuk saat-saat seperti ini.

“Akan ada banyak kejutan di sini——”

*BOOM*

Saat berkomentar dan hendak meminum habis jus apelnya, sesaat cakrawala berbinar dan sebuah ledakan menggema dari kejauhan. Suaranya menelan letupan-letupan kembang api yang sedang disulut, bahkan membuat kaget warga sipil.

Jendela di hotel yang dihuninya juga sampai bergetar. Melihat ini, sang pria bangkit setelah menghabiskan minumnya dan berkomentar, “ooh, sudah mulai rupanya.”

Ia menutup berkas miliknya dan membuangnya ke tempat sampah yang terbuat dari metal lalu menuangkan isi botol minumannya ke atasnya sebelum melemparkan pemantik menyala ke dalam tempat sampah membakar isinya. Ia lalu menyarungkan kedua pistolnya ke sepasang holster yang disabukkan ke punggungnya dan pisau komando ia sarungkan di betisnya. Setelah itu ia mengenakan mantel chesterfield berleher tinggi kecoklatan miliknya dan keluar dari hotel ini menuju lobby.

Di lobby, ia segera mendekati meja resepsi dan menjatuhkan kunci kamar hotelnya. “Saya ingin check-out,” pintanya pada resepsionis wanita yang berjaga tengah malam.

“A—Anda yakin ingin check-out tengah malah begini,” tanya sang resepsionis meyakinkan permintaan tamunya, “apa Anda tidak ingin menunggu sampai pagi saja, Pak Ferno?”

“Tidak. Saya harus mengejar kapal.”

***

Ledakan yang sebelumnya terjadi berasal dari sebuah kontainer gas yang berada di dekat sebuah gudang di sekitar dermaga yang dijaga oleh pasukan baret merah bersenjata. Untungnya tempat sumber ledakan steril dari warga sipil, tapi lagi justru karena tempatnya steril makanya ada beberapa pihak yang dengan mudah menyebabkan ledakan dengan sengaja.

Pasukan baret merah juga tahu kalau ledakan ini bukan kecelakaan. Mereka memperketat penjagaan mereka dan sebuah quadcopter dilayangkan menuju sumber ledakan. Lewat pakan video yang dipancarkan dari quadcopter, mereka hanya menemukan lahan dermaga yang sudah dikuasai lidah-lidah api yang terus menjilat.

“Hei! Hei! Berhenti! Berhenti!”

Di luar dinding gudang, tiga orang pasukan baret merah berpakaian sipil sedang mencoba menghentikan sebuah truk tak berekor yang melaju di luar kendali menuju ke arah gudang. Truk itu seperti kesetanan; karena memang tidak ada pengemudinya. Salah seorang prajurit melompat menangkap pintu pengemudi dan memecahkan jendelanya. Tepat sebelum truk itu hendak menembus gerbang luar gudang, ia berhasil membanting setir truk dan membuatnya mengarah ke dinding. Namun di saat yang sama ia juga baru sadar bahwa pedal gas truk ini tidak diganjal batu bata, melainkan gumpalan C4.

*DHUAR*

Tepat saat sebelum truk menabrak dinding dan sebelum sang prajurit bisa bereaksi, C4 yang mengganjal pedal gas truk diledakkan membuat dinding goyah. Ditambah dengan tubrukan dari truk, dinding luar gudang pun berhasil dijebol.

Mendengar ledakan yang baru saja terjadi di dalam perimeter, pasukan baret merah segera meringsek bergerak ke bagian depan gudang. Setidaknya 8 orang pasukan baret merah mengepung titik yang baru saja diterobos. Namun mereka tidak menemukan apa-apa.

“Lapor,” salah seorang prajurit baret merah melapor ke dalam earpiece miliknya, “kami tidak menemukan apa-apa di titik terobos.”

“Apa itu?!”

Seruan dari seorang prajurit lain menarik perhatian seluruh prajurit yang ada. Semuanya segera mengikuti gesturnya yang mendadak membidikkan senapan PINDAD SS-2nya ke udara. Titik-titik laser biru segera menerangi permukaan sebuah quadcopter.

Ada apa tadi?” tanya sebuah suara dari dalam earpiece prajurit yang sebelumnya memberikan laporan.

“Bukan apa-apa. Hanya drone kita yang baru kembali memeriksa titik ledakan pertama,” balasnya.

Drone kita? Segera jatuhkan! Yang kalian lihat bukan drone milik kita! Drone milik kita masih mengitari titik ledak—

Belum sempat suara di balik earpiece memberi intel dan sebelum sang prajurit bisa meneruskan informasi yang diterimanya, quadcopter di atas mereka menjatuhkan tiga buah pir. Meski keadaan gelap, namun siluet dari benda yang dijatuhkan quadcopter itu sangat jelas bukan buah pir.

“GRANAT!!!”

Salah seorang prajurit memberi peringatan. Namun terlambat. Granat-granat yang dilepaskan quadcopter tidak memiliki delay panjang. Selang 2 detik dan sebelum mendarat di tanah, salah satu granat meledak di tengah-tengah kedelapan prajurit. Kontan semuanya lumpuh. Namun belum selesai di sana. Ledakan granat pertama melontarkan kedua granat lain ke arah gudang. Ledakan granat-granat ini memecahkan kaca depan gudang yang tebalnya hampir 4 senti. Melihat separuh prajurit di perimeter dalam sudah lumpuh, prajurit yang mengoperasikan quadcopter meminta agar prajurit-prajurit berpakaian sipil segera mundur ke sisi dalam dinding.

Gradak-gruduk prajurit baret merah dari luar dinding segera meramaikan sisi luar gudang. Tapi lagi, tidak hanya mereka. Dari semak-semak di bukit di belakang gudang, keluarlah sepasukan khusus berseragam lengkap. Kebetulan ada seorang prajurit baret merah berpakaian sipil yang berpapasan dengan mereka. Namun belum sempat ia bereaksi, ia segera ditembak mati oleh salah satu dari mereka. Di saat yang sama, pakan video dari quadcopter yang dilayangkan di titik ledakan tiba-tiba kehilangan pakannya.

Quadcopter ini dilengkapi dengan kamera fish-eye—yang berarti quadcopter ini memiliki mata yang mengijinkannya untuk melihat 180 derajat ke segala arah di bawah quadcopter tanpa perlu berbalik atau menengok. Namun tidak ada yang tertangkap olehnya hendak menembaknya jatuh sebelum pakan video terputus.

“Ini berarti... Sniper?!” sang operator terhenyak, apa yang ia ucapkan membuat sesama prajurit ide sekitarnya kaget. Segera ia menyentuh telinganya, menyalakan earpiecenya untuk memberi instruksi pada rekan-rekannya seraya bangkit dan hendak berlari memandu rekan-rekannya ke dalam gudang, “pada prajurit yang berada di perimeter lingkar kedua! Segera mundur! Ada kemungkinan tempat ini sudah dikepung oleh penembak jit—”

Belum sempat ia menyelesaikan instruksinya, ia dan rekan-rekan terdekatnya dihujani peluru dari atas. Empat orang prajurit berseragam lengkap sedang jatuh pelan mengenakan parasut terkembang. Keempatnya menodongkan senapan semi-otomatisnya ke bawah, masing-masing muzzlenya sudah berasap panas setelah memuntahkan butiran-butiran timah panas yang baru saja menumbangkan 4 orang prajurit baret merah.

*BLAM*

Namun ketiganya belum bisa bernafas lega. Dari atap gudang, sesosok pria baru saja melepaskan tembakan dari senapan laras panjangnya yang mengenai kepala salah seorang penerjun. Mengetahui itu, ketiga rekannya segera meraih pisau di masing-masing sabuknya dan memotong tali parasut dan terjun 3 lantai ke tanah.

Saat ketiganya berkoprol meredam jatuh mereka, di sisi lain gudang 8 orang prajurit baru saja menuruni bukit dan sampai di dinding. Tiga dari mereka segera menyandarkan punggung di dinding dan memposisikan telapak tangan mereka di depan pinggang menghadap ke atas. Empat dari mereka segera berlari ke arah tiga rekannya yang sudah bersandar di dinding. Dua dari empat yang berlari melompat menapaki tangan rekannya dan melompati dinding, dua rekan mereka yang berlari di belakang segera menangkap satu kaki rekannya yang melompat sementara kaki mereka satunya mendarat di puncak dinding setinggi dua setengah meter. Mereka segera menyiagakan senapannya dan menembaki dua prajurit penjaga yang juga membidikkan senapan mereka ke arah sosok-sosok di puncak dinding. Namun sayang mereka kalah cepat, mereka tumbang tertembak kedua prajurit berseragam gelap di puncak dinding.

Kedua prajurit di puncak dinding terus mengawasi halaman dalam sementara satu demi satu rekan-rekannya melompati dinding dibantu oleh rekannya yang bersandar di dinding. Begitu ketiganya sudah menyeberang, ketiganya berganti berjaga sementara prajurit-prajurit di puncak dinding membantu naik rekan-rekan yang sudah memegangi kaki mereka dan yang sudah membantu ketiga rekan lainnya. Sementara di titik terobos yang sudah sepi, sekelompok prajurit berpakaian gelap menerobos masuk.

Time to attack

Sejauh ini, ada 3 regu prajurit yang tampak menyerang gudang ini. Dari tiga sisi gudang yang berbeda, ketiga regu menembus masuk. 6 orang regu yang masuk dari titik terobos di gerbang depan masuk ke dalam gudang melalui jendela yang pecah akibat terkena ledakan granat. 3 orang prajurit penerjun payung merusak pintu belakang. 8 orang prajurit yang menaiki dinding masuk setelah mendobrak pintu depan.

Namun di antara kekacauan yang terjadi, satu regu beranggotakan 4 orang penyelam tengah menyusup masuk ke dalam gudang melalui sisi gudang yang terhubung dengan garasi dermaganya.

Dari kabin operasi sebuah crane di dermaga, Ferno sedang mengawasi gerak-gerik keempat prajurit ini melalui sebuah teropong. Ia tersenyum licik dengan sebelah alis terangkat. Sesuai dugaannya, ia hanya tinggal masuk begitu semuanya sudah tenang.

Tapi sayang,” batinnya, “melihat jumlah pasukan di masing-masing regu yang tidak imbang, ada kemungkinan pertempuran ini akan berat sebelah.

Ferno menempelkan punggung telunjuk ke bawah hidungnya. Ia menimbang-nimbang risiko yang harus dihadapinya.

Ah. Kemungkinan terbesarnya hanya 30%. Kalau begini sebaiknya aku ikut bertempur,” ujarnya sebelum keluar dari kabin operasi dan menuruni anak tangga panjat crane ini.

***

Di lantai dasar gudang, ketiga regu bertemu. Dua dari regu yang beranggotakan 3 orang segera mengacungkan masing-masing senapannya ke arah dua regu lainnya. Regu beranggotakan 6 orang juga sama, hanya saja 2 orang mengacungkan senapannya ke arah regu beranggotakan 3 orang sementara 4 sisanya mengacungkan senjata ke arah grup 8 orang yang membagi 2 anggotanya membidik regu 3 orang dan 6 sisanya membidik regu 6 orang.

“Sudah kami kira kami akan berpapasan dengan kelompok lain,” ujar orang yang memimpin regu 3 orang dengan suara feminin namun cadas.

Suara wanita?” batin semua anggota dari regu 6 dan 8 orang.

“Senjata itu...” lanjutnya setelah melihat senjata yang dipegang semua anggota regu 8 orang, “Kalashnikov? Moi bratya, na kogo vy rabotayete? Eto Spetsnaz?”

“Da. My iz Spetsnaza,” jawab salah seorang dari regu 8 prajurit sementara rekan-rekannya saling tengok.

“Hahah. Kakaja yerunda. Aku lihat tadi rekan-rekanmu sempat menengok satu sama lain. Selain itu kalau memang kalian dari Rusia, kalian tidak akan sebodoh itu membawa senjata buatan negara kalian sendiri.”

“Vai oshibayetes, Sestra. My Spetsnaz,” lanjut pria yang sama dengan nada agak tinggi.

“Ah, tidak usah pura-pura lagi. Kalau bukan Rusia, aku yakin kau bekerja untuk CIA. Dan melihat tingkah laku orang-orangmu, sepertinya mereka orang-orang pinjaman dari Mossad dan ISIS sementara senjata-senjata kalian sengaja agar kesannya kalian berasal dari negara lain.”

“Yeah, kau benar. Tidak ada gunanya berpura-pura. Toh kau juga akan mati,” lanjut pria yang sama seraya menarik turun penutup mulut balaclavanya, menunjukkan wajah kotaknya yang khas kebaratan. “Namaku Mayor Jendral Isaac Stevanwulf, aku ingin namaku adalah hal terakhir yang kau pikirkan sebelum kau mati.”

“Yeah, yeah... terserah padamu. Sebelum itu... kalian!” ujar sang wanita sambil menunjuk ke regu 6 orang yang sepertinya kebingungan melihat tingkah laku lawan-lawannya. “Chosun geuleohji anhnayo?”

Semua anggota dari regu 6 orang saling tengok keheranan, bahkan semuanya sampai melemaskan bidikannya.

“Instingmu boleh juga, Nona. Saya Kapten Yongji. Kami mewakili apa yang orang-orang sebut sebagai Komando Petir. Komandan kami orangnya keras, ia tidak akan menerima kegagalan. Jadi biar kami beri peringatan; kami siap mati di sini, kami tidak akan mudah menyerah.”

“Tuh, kan! Hahah! Tebakanku benar!” sang wanita tampak kegirangan sambil melirik ke arah rekan-rekannya.

“Oh, Korea Utara?” komentar Isaac, “kalau begitu aku tidak akan membunuhmu. Atasakanku akan sangat senang kalau kami berhasil membawa pulang satu saja dari kalian hidup-hidup.”

“Coba saja kalau kau memang bisa, anjing-anjing Amerika,” jawab Yongji seraya meludah.

“Bukannya aku tidak suka, Nona Laura,” sambung rekan dari sang wanita sementara Isaac dan Yongji saling mencerca, “tapi aku harap kau tidak lupa kalau kita di sini bukan karena mau tawuran. Aku harap kau bisa fokus.”

“Kau tahu aku bagaimana. Lagipula tidak biasanya kau meragukanku, Arthur.”

“Kalau saja kita tidak sedang dikepung oleh dua pasukan elit, aku bisa lebih tenang. Tapi untuk saat ini tolong fokus.”

“Oke, oke...” Laura menghela nafas sebelum kembali menghadap lawan-lawannya, “Hey, bangsat-bangsat. Aku tahu kita di sini sama-sama mengincar apa yang ada di puncak demi siapa yang memperkerjakan kita. Tapi lihatlah kita; semuanya memakai baju hitam, tidak ada yang membawa simbol yang kita wakili. Pada dasarnya, kita sama. Tapi kita punya tujuan sendiri-sendiri. Aneh, ya?”

“Oh, diamlah, Tante. Kau tidak berhak bilang begitu kalau kau sendiri tidak bilang kau mewakili negara mana,” komentar Isaac.

“Negara, huh? Kami sudah lama tidak memihak negara manapun. Selain itu, tolong jangan panggil aku ‘Tante’ kecuali kalian ingin cepat ketemu buyut kalian.”

“Tentara bayaran, ya? Kau mau berapa? Bergabung dengan kami, habisi kecoak-kecoak komunis ini, aku janji kalian tidak akan pernah hidup kekurangan lagi.”

“Hentikan, Nona,” sela Yongji, “Jangan berikan mereka kuasa lebih besar lagi. Kalau memang uang yang kalian mau, kami tidak bisa berikan. Tapi kami—”

“Kalian juga diam saja. Kami tidak tertarik dengan uang atau apapun. Seperti kalian, kami juga punya tujuan sendiri. Bedanya, tujuan kami tidak mengenal batas. Lagipula, aku tidak yakin kalian punya sedikit saja pengetahuan tentang apa yang kalian cari.”

“Memang kau tahu apa yang ada di puncak?” tanya Yongji lagi.

“Kunci masa depan. Tapi meski kalian berhasil menang di sini, aku ragu kalian akan bisa melihatnya seperti cara kami.”

“Oke. Aku sudah tidak tahan,” Isaac menyela seraya menodongkan pistolnya, “aku tidak peduli apa yang ada di puncak, tapi aku tahu aku tidak bisa membiarkannya jatuh ke tangan-tangan kotor kalian.”

*BLAM*

Isaac melepaskan tembakan ke arah Laura. Semua pihak yang ada di lantai pertama gudang ini kontan bereaksi. Melihat Isaac memindahkan tangannya, Arthur spontan memukulkan popor senapannya ke punggung lutut Laura memaksanya menunduk menghindari tembakan Isaac.

Pertempuran dimulai.

***

Di lantai atas gudang, 9 orang prajurit berseragam setelan sedang santai duduk di sebuah ruang tunggu. Di sisi terdalam ruangan adalah sebuah brankas raksasa. Kesembilannya tengah bersemangat menyaksikan pakan CCTV di 3 layar LCD yang digantungkan dari langit-langit.

“Menurut lu yang bakal menang yang mana?” tanya pria berperawakan kokoh berjanggut dan kumis.

“Buka taruhan, nih? Menurutku mungkin si Amerika,” ujar seorang pria berwajah bulat dengan mata belo lebar bersenyum licik.

“Halah, si Amrik cuma bawa tentara Arab. Ga bakal bertahan lama. Kalo gua pasang taruhan buat si Cina,” lanjut seorang pria agak tambun berjambul sambil menyentuh orang yang dimaksud di layar LCD.

“Korea, Yog,” komentar seorang pria bertubuh jangkung dengan rambut necis berkacamata.

“Hah?” tanya pria tambun tidak paham.

“Bukan Cina. Mereka dari Korea.”

“Alah, terserah. Sama aja buat gue.”

Pintu ruang tunggu tiba-tiba terbuka. Seorang pemuda memikul senapan bidik masuk. Tiga orang dalam ruangan memberinya senyum ketus, namun pemuda ini tidak menghiraukannya. Ia tahu, 9 orang di ruangan ini tidak suka padanya.

“Bagaimana keadaan di bawah?” tanya sang pemuda.

“Rame, Jo. Tapi coba yang satu kagak lu bunuh, kayaknya makin asyik. Tiga lawan enam lawan delapan kayaknya kurang imbang,” jawab pria berjanggut.

“Bukan itu masalahnya,” balas sang pemuda dengan nada agak geram, “Bagaimana kalau mereka tiba-tiba berubah pikiran? Bagaimana kalau mereka sadar bahwa daripada menumpahkan darah di lantai dasar, mereka mengambil jalan sendiri-sendiri untuk sampai di puncak? Atau lebih parah, bekerja sama? Sebelum itu terjadi, lebih baik kalau kita kurangi jumlah mereka, lumpuhkan mereka sebelum bisa jadi ancaman.”

Inti dari ucapan sang pemuda seakan tidak masuk ke telinga rekan-rekannya. Semua rekannya hanya melirik ke arahnya dengan senyum tertahan—menahan tawa.

“HAHAHA!!”

Kesembilan prajurit bersetelan dalam ruangan ini tertawa lepas. Tidak ada yang mereka tahan. Tawa satu orang seakan menjadi pertanda bagi yang lain untuk tertawa lebih keras. Setidaknya sampai pria berkacamata mengambil nafas dalam dan menjawab kata-katanya.

“Sudahlah, Johan. Kamu masih muda, belum percaya diri, jadi kami juga paham. Kamu masih waspada-waspadanya, jadi wajar kalau kamu cemas. Lihat saja mereka, dua regu saling benci satu sama lain, sementara yang satu bisa mengimbangi dua-duanya meski jumlahnya lebih sedikit.”

“Dengar kata Yana. Kita tinggal tunggu saja. Yang manapun yang menang, tinggal kita tumpas. Kita tidak perlu kerja keras.”

“Caper banget 'sih lu jadi anak. Lu mau nyikat Cina sama Amrik ratusan di sini juga ga ada yang peduli. Kita di sini bukan misi gede, misi gelap kita di sini. Ga ada yang tahu kita ada di sini, lu mau dapet apa di sini lu ga bakal naik pangkat di luar. Jadi santai aja,” sahut pria berjanggut.

“Bukan—Ah, sudahlah,” Johan memotong kalimatnya sendiri. Ia menyerah. Ia memilih untuk menyandarkan senapannya ke dinding dan ikut duduk di sofa yang setengah melingkari LCD yang tergantung.

Johan Burhanudin, itulah nama sang pemuda. Ia menjabat sebagai Sersan Mayor di TNI angkatan darat. Meski pangkatnya rendah, namun pangkat ini terbilang tinggi bagi pemuda seumurannya. Ia bisa ada di sini di antara orang-orang yang berpangkat lebih tinggi darinya adalah akibat dari bakatnya. Ia tidak bisa diremehkan. Namun di lingkaran ini, ia tidak bisa dibilang menonjol.

10 orang yang ada di ruangan ini adalah gabungan dari berbagai lingkaran militer Indonesia. Pria jangkung berkacamata, pria bertelinga satu, dan pria dengan luka di pipi kiri misalnya. Ketiga pria ini adalah anggota PasPamPres yang sedang dialihtugaskan secara khusus untuk tempat ini. Pria berkacamata bernama Yana Rahayu, pria bertelinga satu bernama Iwan Sudrajat, dan pria dengan luka di pipi cuma disebut dengan nama Odet. Sebagai orang-orang yang ditugasi mengamankan sosok paling berpengaruh di Indonesia, ketiganya memiliki kemampuan bertarung yang di atas rata-rata.

4 orang lain di ruangan ini berasal dari Angkatan Darat, termasuk dengan Johan. Tiga orang lainnya adalah pria berjanggut yang disebut dengan nama Brewok, pria tambun yang bernama Yogi Uswandi, dan pria luka bakar bekas menghapus tattoonya adalah Agi Thamrin. Di antara keempatnya, Brewok adalah pemegang pangkat tertinggi dengan jabatan kapten sementara Yogi dan Agi sama-sama menyandang pangkat letnan. Meski demikian, Yogi pernah mencoba adu tarung melawan Johan, namun sayangnya kalah.

Sisa 3 orang lainnya berasal dari Angkatan Laut. Pria berwajah bulat dengan mata belo adalah Mayor Satria Numana, pria berbadan kokoh berbahu lebar dengan rambut jabrik adalah Kapten Luhur Madani, dan pria bertampang ketimur-tengahan adalah Letnan Wira Wayadi.

Semua orang yang ada di ruangan ini adalah calon atau sudah menjadi bidak negara dalam operasi gelapnya. Iwan dan Odet masing-masing mendapat lukanya saat dipinjamkan di Timor Leste beberapa tahun lalu. Satria dan Luhur juga punya pengalaman banyak dalam naval battle di perairan barat Indonesia. Selain apa yang tertulis di atas kertas, entah apa lagi yang sudah pernah mereka lalui.

“Tapi kalau dipikir-pikir... Johan ada benarnya juga,” komentar Satria.

“Jelasin, Sat,” sambung Iwan.

“Bagaimana, ya... Maksudku, siapapun yang menang berarti berhasil selamat melawan 9 sampai 14 orang tentara elit, kan? Kalau iya, berarti ada kemungkinan mereka luar biasa tangguh. Apalagi coba lihat ke monitor, yang tim 3 orang sudah menghabisi 4 orang sejauh ini; satu dari tim Korea dan tiga lagi dari tim Amerika. Kalau sampai mereka menang melawan 14 tentara elit, apa artinya kita yang cuma 10 orang? Begitu maksudmu 'kan, Johan?”

“Hmm, ada benarnya juga,” jawab Wira. “Kalau begitu, saya minta perintah Anda, Mayor.”

“Oke, gue setuju,” Brewok menimpali, “Yogi sama Agi, lu berdua turun. Yang menurut lu paling nyusahin, libas.”

“Saya bagaimana, Kapten?” tanya Johan.

“Lu diem di sini sama gua.”

“Baiklah.”

“Kasian amat para kacung. Di sini gua ga ada atasan ga ada bawahan, jadi enak kalo mau turun juga. Det, Yan, mau ikut turun ga?”

“Kagak. Gue jaga,” jawab Odet.

“Aku ikut turun,” sahut Yana.

“Empat orang turun, ya?” komentar Satria melihat sekelilingnya, “Luhur, kau turun bantu yang lain. Wira, kau tetap di sini.”

“Siap, Mayor,” jawab Wira dan Luhur berbarengan.

Kelima orang terpilih segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu. Mereka tampak semangat menjalankan perintah dari masing-masing atasannya. “Aseek, tawuran...” komentar Iwan dengan tangan terselip di saku celananya.

“Kalo ada yang masang taruhan gue kagak menang awas aja!” timpal Yogi.

Suasana ruang tunggu kembali hening setelah kelimanya keluar. Tapi tidak berlangsung lama. Korban tewas di lantai dasar sudah mencapai 8 orang. Regu berisikan 3 orang masih memiliki anggota yang lengkap, bahkan mereka berhasil membuat imbang pertarungan. Regu Korea dan regu Amerika masing-masing tinggal beranggotakan 3 orang.

“Tuh, kan. Yang tiga orang memang bahaya,” sahut Satria menunjuk ke monitor.

“Yeah, gua jadi ragu bisa menang,” timpal Brewok.

“Selama aku masih ada, aku pastikan mereka tidak akan menang.”

“Mayor pede banget,” komentar Odet.

“Mayor Satria, maaf kalau saya salah,” sela Johan sopan. “Tapi sejak saat pertama tiba di sini, saya selalu merasa pernah mendengar nama Anda. Apa Anda pernah beroperasi di daerah konflik?”

“Pernah. Kenapa?”

“Ah, denger kata Johan, gua juga ngerasa sama.”

“Biasanya aku ga cerita, 'sih. Tapi dua tahun lalu saya pernah terlibat di Operasi Gandalana.”

“Operasi apaan, Sat?”

“Sori, Wok. Ga bisa cerita. Cuma itu yang bisa aku beritahu.”

“Pelit, lu.”

“Bukan bagaimana-bagaimana, tapi ini arahan dari atas.”

“Sudah, sudah. Kita tidak perlu minta bantuan, kan?”

“Tidak usah. Kita masih aman, kok.”

Sementara kedua seniornya bercanda. Johan diam-diam menahan ekspresi takut. Ia pernah dengar apa yang disebutkan oleh Satria, tapi ia tidak bisa bilang. Kalau ia utarakan apa yang ia ketahui, kemungkinan besar Satria harus menghabisinya.

Untuk itulah Johan memilih untuk diam dan fokus mengamati monitor.

***

Di lantai dasar, regu tiga orang berhasil membunuh dua orang dari kubu lawannya lagi. Dari regu dengan jumlah anggota paling sedikit, sekarang mereka jadi regu dengan anggota paling banyak. Bahkan sejujurnya, menghabisi prajurit-prajurit elit ini tidak terasa sulit bagi mereka.

Laura dan Arthur tampak paling aktif bekerja sama. Meski tidak saling menunjukkan, keduanya seringkali melindungi satu sama lain dengan memberikan halangan. Misalnya saat Laura hendak diserang dari belakang, Arthur menangkap tangan lawannya dan memaksanya untuk menembak ke arah penyerang Laura. Begitu juga sebaliknya; saat Arthur hampir ditusuk lawannya, Laura melempar lawannya hingga terpelanting melewati orang yang hendak menikam Arthur. Sementara satu lagi rekan keduanya lebih aktif bergerak sendiri. Meski demikian, ia berhasil membunuh tiga orang sendirian.

“Oi, Ninja! Jangan asyik sendiri!” panggil Laura pada rekan keduanya.

Orang yang disebut Laura dengan nama Ninja tidak banyak bereaksi, nyaris tidak menghiraukannya. Ninja hanya terus lari berkeliling ruangan dengan dua senapan otomatis di tangannya. Menembaki lawannya dari berbagai arah.

Isaac dan Yongji terpojok. Mereka bersembunyi di balik dua buah pilar di mana di baliknya Ninja dan Laura sedang bergerak. Di sisi lain, Arthur sedang mengeksekusi satu prajurit bawahan Isaac.

Shit! Fuck! Shit! Aku sendirian sekarang, aku tidak mungkin lagi menang,” batin Isaac panik.

Di seberangnya, Yongji juga sedang bersembunyi di balik sebuah pilar. Ia juga sendirian, saat ini Laura dan Ninja sedang mengeroyoknya menggunakan senjata tajam.

“Oy, Korea!” panggil Isaac pada Yongji.

“Apa?”

“Apa kau mau mati di sini?”

“Aku sudah bilang, aku tidak takut mati!”

“Aku tahu, tapi apa kau mau?”

Yongji terdiam. Ia memikirkan perkataan Isaac. Tidak butuh waktu lama hingga ia memberikan jawabannya. “Tentu saja tidak!”

“Kalau begitu bantu aku! Aku yakin kita bisa menang kalau berdua.”

“Tch! Lebih baik aku mati daripada membantumu!”

Harga diri Yongji lebih besar daripada nyawanya. Tanpa memikirkan tawaran Isaac lebih lanjut lagi, ia beranjak dari pilar dan berlari ke arah Laura dan Ninja sambil melepaskan secara bergantian dari dua pistol di tangannya.

Bodoh! Baguslah kalau ini maumu. Toh aku memang berencana menumbalkanmu.” batin Isaac melihat tingkah Yongji. Begitu melihat Yongji maju, Isaac keluar dari persembunyiannya. Ia menyaksikan Yongji membabibuta melepaskan tembakan sementara Laura dan Ninja dengan mudah menghindarinya dengan berlari secara zigzag.

Laura dan Ninja memang lincah, namun perhatian mereka sedang terarah pada Yongji. Ini kesempatan untuknya. Segera ia membidikkan senapan semi-otomatisnya ke arah Laura. Namun belum bisa ia menarik pelatuknya, setungkai kaki menendang bawah magasin senapannya hingga lepas. Satu peluru tertembakkan, namun guncangan dari tembakan tadi juga membuat bidikan Isaac meleset.

“Apa—”

Belum sempat Isaac sadar, sesosok pria berguling dari belakang ke sampingnya seraya menangkap magasin senapannya yang lepas. Melihat ini, Isaac kontan mengambil langkah mundur seraya menarik pistolnya. Namun belum dua langkah ia ambil, sang pria melemparkan magasinnya ke antara kaki Isaac. Panjang dari magasin ini cukup untuk menjegal kedua kaki Isaac yang sedang bergerak mundur. Isaac terjerembab ke belakang. Di saat yang sama, pria itu kembali berguling maju seraya menarik pisau komando dari sarung pisau di kakinya.

Pria itu adalah Ferno.

Ferno berguling dan mendarat di atas dada Isaac seraya mengacungkan ujung pisaunya ke tenggorokan Isaac yang sempat ia lindungi.

“Siapa... kau?!”

“Aku hanya pembawa kekacauan demi sebuah misi.”

*BLAM*

Belum sempat Ferno dan Isaac berbincang-bincang, sebuah tembakan dilepaskan dari belakang ke arah Ferno. Mendengar itu, Ferno segera bergerak cepat berguling ke samping seraya melepaskan dua tebasan ke arah Isaac. Tebasan pertama adalah untuk mengait tangan yang melindungi lehernya, dan tebasan kedua adalah untuk merobek pembuluh Isaac seraya melempar dirinya ke samping untuk berguling.

Ferno berputar menyamping sambil berbalik menghadap penembaknya begitu ia selesai berguling. Di seberang ruangan ada Arthur dengan pistol dengan barrel berasap. Ia tampak begitu ingin membunuh Ferno. Namun saat ia hendak bergerak maju menembak, Laura melemparkan dirinya ke tangan Arthur, membuatnya menurunkan pistolnya.

“Arthur, tunggu! Sadarlah!”

“Lepaskan aku, Laura! Kau tahu siapa dia, kan?!”

“Aku tahu. Maka dari itu aku minta kau tenang!”

“Dia sudah—”

“Aku tahu! Kau tidak mungkin menang melawannya! Kita bertiga tidak mungkin menang melawannya! Kalau dia mengincar apa yang ada di puncak gudang ini, kita tidak bisa menghentikannya!”

“Jadi, kalian mau bertarung atau tidak?” tanya Ferno dari ujung ruangan.

“Tidak!” sahut Laura mantap. “Kami tahu apa yang kau cari. Kami tidak akan menghalangimu.”

“Baik. Terima kasih kalau begitu.”

“Kami hanya minta satu hal; tolong jaga benda itu baik-baik!”

“Tentu.”

“K—Kalau begitu, kami permisi.”

Hanya begitu saja, regu tiga orang yang sudah membunuh 14 prajurit elit di gudang ini mundur. Apapun yang Laura lihat dari Ferno sudah membuatnya enggan menekan maju. Lantai dasar gudang ini sudah sepi, tidak ada lagi lawan yang tersisa. Ferno pun mengambil langkah menuju lantai atasnya.

***

“Yaah, selesai,” tukas Brewok mendapati pertarungan sengit usai begitu saja akibat kedatangan sesosok pendatang baru.

“Tapi kenapa tim tiga orang itu mundur waktu melihat pria itu? Perasaanku jadi tidak enak,” timpal Odet.

“Tidak usah banyak dipikirkan. Aku lebih penasaran ke mana orang-orang kita? Kenapa mereka tidak muncul sebelum pertarungan selesai? Apa mereka juga menunggu sampai yang tersisa cuma sedikit?” tanya Satria seraya meraih remote monitor.

Satria mengganti-ganti pakan video pengintai dari berbagai sudut pandang lantai dasar namun tidak kunjung menemukan rekan-rekannya. “Mungkin di lantai lain,” pikirnya sebelum mengganti pakannya ke lantai lain.

“Mana mungkin di lantai lain, Sat. Lawan mereka di lantai dasar, untuk apa mereka leha-leha di atas—”

Saat Satria memindahkan pakan video pengintai ke lantai 3, adegan pertarungan sengit kembali terpampang di monitor LCD. Luhur yang notabene adalah anggota mereka dengan tubuh paling bongsor sudah tumbang dengan tangan kiri patah dan mulut meneteskan darah. Di sudut pandang lain, Wira menemukan Iwan dan Agi sudah tewas.

“Itu di lantai 3?! Apa tim 3 orang tadi pura-pura mundur untuk mengecoh kita?! Apa mereka tahu kalau seluruh sudut di gudang ini dipasangi kamera?!”

“Jangan bodoh, Wira. Belum semenit mereka mundur, tidak mungkin mereka sudah membunuh sebanyak ini,” sahut Satria. “Tunggu dulu, biar aku cek lantai atasnya—”

Saat Satria mengganti pakan kamera pengintai lagi, mereka menemukan dua prajurit berseragam lengkap sedang menggeruduk lantai empat mencari tangga naik. Untungnya lantai 4 dan lantai 5 tidak dihubungkan tangga, melainkan terhubung sebuah lift dengan pengamanan komputer.

Tapi lagi, kalau mereka sudah mengalahkan Luhur, Iwan, dan Agi, berarti mereka sudah punya akses ke lantai puncak.

“Semuanya siaga! Siaga! Kode merah!” Brewok segera memberi instruksi. “Ambil senjata, amankan lantai! Jangan ada yang tersisa!”

“Siap!” Wira, Odet, dan Johan berseru.

“Cuma dua orang... oke...” Satria berbisik.

“Jangan bilang cuma dua orang, mereka berhasil menumbangkan anak buahmu yang bongsor itu. Jangan remehkan mereka.”

“Bukan mereka yang aku remehkan, Kapten,” ujar Satria membalas Brewok, “tapi kalian.”

*BLAM* *BLAM*

Satria berhasil melepaskan dua tembakan sebelum Johan dan Wira menjatuhkan diri ke lantai dan keluar dari jarak tembak Satria. Dua tembakan yang ia lepaskan menembus tengkorak Wira dan Brewok, membunuh mereka seketika.

“Maaf, Kapten. Tapi ini demi negara kita,” bisik Satria sambil mengangkat pistolnya, “Johan! Wira! Keluar kalian!”

“Apa-apaan Anda, Mayor Satria?! Yang baru Anda tembak adalah Kapten Angkatan Darat!” seru Odet murka.

“Jangan banyak tanya, Odet! Misiku sekarang adalah menghabisi kalian!”

“Operasi Gundalana...” Johan bergumam, “Operasi Gundalana! Saya tahu apa itu!”

“Johan, huh? Keluar kamu, nak. Buat pekerjaanku jadi mudah!”

Ketiga sosok di ruangan ini saling bergerak mencari. Johan dan Odet bersembunyi di balik sofa, mengitari sisi demi sisinya secara berlawanan dengan arah Satria bergerak.

Sambil bersembunyi, Odet dan Johan saling memberikan isyarat. Johan juga mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan pendek yang segera ia kirimkan Sayangnya komunikasi antara Johan dan Odet hanya sebatas perintah strategi militer, padahal Odet ingin tahu apa yang Johan maksud dengan Operasi Gundalana.

[Terus alihkan perhatiannya. Kalau ada kesempatan, akan kuserang dia!]

[Tapi kalau saya terus bicara, dia jadi bisa menebak posisi saya lewat suara 'kan?]

[Memang. Tapi kalau tidak dia bisa saja membunuh salah satu dari kita duluan, aku atau kau tidak mungkin menang melawannya sendirian!]

[Baiklah, saya percayakan pada Anda.]

“Maaf, Mayor. Saya tidak bisa. Sebelum saya di sini, saya pernah terlibat di Operasi Gundalana sebagai operator. Kita pernah berkomunikasi sebelumnya, Mayor. Anda mungkin tidak ingat saya, tapi saya ingat pada Anda, Agen 45!”

“... Oh. Halo. Tidak kusangka kita bisa bertemu di sini. Tapi maaf, aku tidak tahu siapa kau. Tapi bagaimana kau bisa masih hidup? Kalau kau memang tahu apa itu Operasi Gundalana, kenapa kau belum mati?”

“Anda juga. Bagaimana Anda masih bisa hidup? Semua prajurit lapangan Operasi Gundalana sudah diekskomunikasikan setelah operasi selesai, bagaimana dengan Anda?!”

“Tentu saja karena aku mengancam pemerintah aku akan buka mulut—Tunggu dulu, bagaimana kau bisa tahu semua prajurit diekskomunikasikan? Apa kau yang sudah mengeksekusi perintah itu?!”

“Ya, Mayor. Saya adalah operator terakhir yang bertugas di Operasi Gundalana. Saya tahu, Anda pasti marah pada saya, Anda pasti ingin membunuh saya.”

“Ooh, tentu saja. Tadinya membunuhmu cuma sekadar misi. Tapi setelah tahu ini, semuanya jadi masalah pribadi.”

“Kalau begitu...” ujar Johan membulatkan tekad, “mari kita coba untuk saling membunuh, Mayor!”

Johan bangkit dari persembunyiannya. Ia naik ke atas sofa dan menerjang ke arah Satria. Di saat yang sama, mendengar nada bicara Johan yang naik, Odet menganggap ini sebagai aba-aba. Odet juga melompati sofa dan menerjang Satria.

***

Ferno baru sampai di lantai 3. Di sini ia mendapati dua regu beranggotakan masing-masing dua orang sedang berperang melawan satu sama lain. Satu orang bertarung jarak dekat melawan satu lawan, saat berhasil membuat jeda dengan lawannya, mereka mencoba mengeroyok satu lawan sebelum satunya lagi melerai dan kembali menyeimbangkan keadaan.

Perhatian Yogi yang sedang bertarung melawan seorang prajurit berseragam lengkap agak teralihkan menemukan Ferno yang tiba-tiba muncul di lantai 3 ini. Kesempatan ini diambil lawannya dengan menangkap tangan Yogi dan menarik otot tangannya dengan menariknya ke atas sebelum menarik pistol dari sabuknya dan melepaskan tembakan ke bawah ketiak Yogi yang terbuka.

Tembakan-tembakan yang dilepaskan sang prajurit melepaskan timah-timah panas yang sekarang bersarang di dalam dada Yogi. Yogi masih mempertahankan kesadaran, namun shock yang dihasilkan dan organ dalamnya yang runtuh membuatnya sulit berdiri. Keseimbangannya digoyahkan oleh sang prajurit yang mendorong Yogi ke arah Ferno.

Ferno dengan sigap menangkap Yogi. Bukan untuk menolongnya, namun untuk melindungi dirinya sendiri. Begitu Yogi lepas dari tangannya, sang prajurit melepaskan tembakan-tembakan ke arah Ferno. Ferno berlindung di balik tubuh Yogi. Lagi, peluru bersarang di badannya. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan. Ferno mendorong maju dan melemparkan badan Yogi yang lumayan tambun ke depan ke arah sang prajurit.

Keadaan berbalik, kini sang prajurit yang harus menangkap Yogi. Namun segera ia melemparkan sosok Yogi ke samping begitu Yogi mengayun ke arahnya dan segera kembali fokus kepada Ferno. Sang prajurit hendak mengacungkan pistolnya ke arah Ferno, namun ia baru sadar bahwa pistolnya sudah tidak berada di tangannya.

Apa pistolku ikut jatuh waktu aku melemparkan si gendut ini?” pikirnya. Namun salah, pistolnya sudah berpindah tangan ke tangan Ferno.

Ferno segera mengacungkan pistolnya ke arah wajah sang prajurit dan menarik pelatuknya.

Dengan tumbangnya salah satu prajurit ke atas lantai, tinggal ada 3 orang bertarung di lantai 3 ini. Sambil masih berjalan tenang, Ferno melepaskan tembakan ke arah prajurit lain yang sedang bertarung melawan Yana. Prajurit itu tumbang begitu timah panas menyambar kepalanya.

Yana yang keheranan segera berbalik. Di sana ia mendapati Ferno sedang berjalan mendekatinya sambil menarik pelatuk pistolnya.

*CLICK*

Apes untuk Ferno, peluru di magasin pistol yang dipegangnya sudah kosong. “Pantas ringan,” pikirnya. Di sisi lain, Yana segera menarik pistol miliknya keluar.

“Siapa kau?! Kenapa kau menembakku tadi?!”

“...” Ferno tidak menjawab, ia hanya masih terus berjalan dengan tenang.

*BLAM*

Tidak adanya jawaban membuat Yana mengambil keputusan untuk menarik pelatuk pistolnya. Namun Yana terkejut melihat Ferno bisa meleok menghindari laju peluru yang dilepaskannya dengan mudah.

Saat orang membidikkan pistol, mereka mensejajarkan sight yang berada di depan dan belakang pistolnya. Kesejajaran antara dua sight ini yang menentukan seberapa akurat tembakan. Ferno bisa menghindar karena ia juga membaca kesejajaran dua sight ini dari sisi target.

*BLAM* *BLAM* *BLAM*

“Mungkin ia hanya beruntung,” pikir Yana sebelum melepaskan rentetan tembakan. Namun tidak ada yang berubah, Ferno masih bisa dengan mudah meleok menghindari tembakan Yana sambil terus mendekatinya.

Saat ia sudah cukup dekat, Ferno melepaskan tendangan tinggi ke arah dagu Yana sambil berputar menyamping dan tangannya merebut pistol yang dipegang Yana. Ferno mengaitkan tendangannya ke samping dan mendorong kepala Yana hingga terjatuh ke lantai. Ferno memulihkan pijakannya dan segera melepaskan tembakan ke kepala Yana.

*BLAM*

Tidak ada siapa-siapa lagi di sini. Ferno pun segera kembali melanjutkan perjalanannya.

***

Di lantai 5, Satria sedang bertarung cukup sengit melawan Odet dan Johan. Serangan gabungan dari kedua membuatnya kesulitan melepaskan tembakan.

“Kalian ini membuatku repot saja!” geram Satria sambil lehernya dikunci oleh Odet dan tangannya yang memegang pistol dijaga oleh Johan.

Tangan Satria yang masih bebas sesekali ia tarik tinggi-tinggi dan ia hentakkan sikunya dengan kuat ke belakang, ke arah pinggang Odet dengan harapan bisa melepaskan cekikan siku Odet. Namun sejauh ini belum berhasil.

Sementara Odet dan Johan fokus mengunci Satria, mereka gagal mengawasi monitor yang menampilkan pakan video pengintai dari luar ruang tunggu. Di luar pintu, tampak dua prajurit sedang bersiap mendobrak pintu tempat mereka bertiga berada. Satria tersenyum licik.

*BRAK*

Pintu ruang tunggu didobrak. Dua prajurit berhamburan masuk. Satria juga mengambil kesempatannya. Ia mengambil pijakan dan memutar badannya 180 derajat, membuat Odet memunggungi kedua prajurit sekaligus melemparkan Johan ke samping.

Melihat Satria dan Odet, para prajurit itu segera melepaskan tembakan dari senapan semi-otomatis mereka. Peluru segera bersarang di punggung Odet dan membuatnya melepaskan cengkraman dari Satria. Satria segera terjun ke lantai dan bersembunyi di balik sofa.

Johan di sisi lain ruangan segera bangkit dan melemparkan dirinya ke arah para prajurit, segera mengunci mereka dalam pertarungan jarak dekat. Johan mengunci agar lawannya tidak bisa terlalu menjauh atau mereka akan melepaskan tembakan ke arahnya.

Sementara di sisi lain ruangan, Satria yang mendengar suara hantaman-hantaman pukulan dan tendangan Johan memungut pistol yang ia jatuhkan begitu ia kira keadaannya sudah cukup aman. Segera ia pun mengambil kesempatan dan melepaskan tembakan ke arah salah satu prajurit.

*BLAM* *BLAM*

Satu tembakan yang ia arahkan salah seorang prajurit mengenai sasarannya. Namun tembakan satunya yang ia arahkan ke arah Johan meleset. Tahu kalau Satria masih ingin menghabisinya, ia segera menanduk prajurit yang menjadi lawannya dan menjatuhkannya ke lantai. Satria sendiri tahu kalau kedua lawannya sedang tersungkur. Ia mengambil kesempatan untuk berdiri dan mengejar titik ke mana Johan melompat.

Yang Satria temukan di sana hanya prajurit yang masih mencoba berdiri. Dua-duanya adalah lawannya. Ia pun melepaskan sebuah tembakan ke kepalanya.

Oke, tinggal satu lagi lawan di sini...” pikirnya.

“Hey, Johan! Di mana kau—”

“Di sini.”

Belum sempat Satria menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara menarik perhatiannya ke arah pintu.

Di sana, Ferno sedang mengacungkan pistolnya ke arah Satria. Satria juga segera mengacungkan pistolnya balik, namun terlambat. Ferno segera menarik pelatuk pistolnya membunuh Satria.

Mendengar suara tembakan. Johan kira bantuan yang dimintanya sudah tiba. Ia pun bangkit sambil mengangkat tangannya.

*BLAM*

Sayang ia salah sangka. Melihat sebuah sosok muncul tiba-tiba, Ferno melepaskan tembakan. Namun tembakannya kali ini hanya menyambar pundak Johan. Johan tertarik mundur hingga ia menabrak dinding.

Ferno berjalan menyamping mengitari perabotan hingga ia menemukan Johan. Hendak ia melepaskan tembakan, namun Johan membuka tangannya sambil meminta Ferno untuk berhenti.

“Tunggu! Tunggu!” pinta Johan. “Kalau memang benda di dalam brankas ini membuat negaraku diserang seperti ini, lebih baik kau ambil saja! Ambil!”

“Keputusanmu cerdas,” ujar Ferno seraya berjalan melangkahi Johan ke arah brankas. Ia pun mulai berkutat dengan kuncinya.

“Tapi aku masih penasaran, apa yang membuat orang begitu ingin memperebutkan benda ini?”

“Bagi beberapa pihak bisa jadi banyak hal. Tapi bagi orang yang salah, benda ini bisa jadi senjata.”

“Senjata, huh? Pantas saja. Yeah, silahkan ambil saja.”

“Bagaimana rasanya?”

“Sedikit sakit. Tapi lagi ini bukan luka tembakku yang pertama.”

“Bukan itu. Maksudku bagaimana rasanya melayani orang lain yang melindungi sesuatu yang berlawanan dengan moralmu?”

“Aku tidak bisa bilang kalau aku senang.”

“Oh, ngomong-ngomong hari ini tanggal 17 Agustus, kan? Maaf sudah mengacau di negaramu di hari kemerdekaanmu.”

“Ah, tidak apa. Lagipula di duniaku ini, tidak ada yang namanya merdeka. Selalu ada yang namanya perang, selalu ada yang namanya pertarungan.”

“Kalau boleh aku bilang, itu karena kemerdekaan yang kau cari salah.”

“Huh?”

“Menurutku, kemerdekaan terbagi dalam beberapa jenis. Dalam kasusmu, yang kau menangkan adalah kemerdekaan atas bangsamu. Untuk bisa merdeka atas segala perang, kau harusnya mengincar kemerdekaan atas spesiesmu.”

“Ah, yeah. Kalau bisa tentunya aku mau. Tapi itu tidak mungkin; tidak mungkin ada orang yang ingin apa yang dibelanya tidak menang. Selalu ada manusia yang ingin segala sesuatu sebatas sampai batas empatinya. Maka dari itu, kemerdekaan harus didapatkan dengan memenangkannya.”

“Kalau semua orang sepikiran denganmu, pantas saja selalu ada perang.”

*CLICK*

Kunci berangkas terbuka. Setelah melepas kunci brankas, Ferno segera menarik pintunya ke luar. Di dalam brankas hanya ada sebuah koper. Ferno mengambil koper itu dan segera berjalan keluar.

“Coba saja pikirkan apa yang sudah terjadi di sini; regu Korea ingin menguasai ‘senjata’ ini agar mereka bisa memenangkan kemerdekaannya. Regu Amerika ingin menguasai ‘senjata’ ini agar tidak ada yang bisa menjatuhkan mereka. Negaramu melindunginya agar negara lain mengakui kemerdekaannya. Sementara untuk rekanmu yang aku bunuh... aku rasa ia ditugasi sisi lain negaramu agar mereka bisa menguasai ‘senjata,’ tapi entah untuk apa.”

“Lalu bagaimana denganmu? Apa tujuanmu mengambilnya?”

“Aku merebut ‘senjata’ ini agar tidak ada yang bisa memakainya. Sesuatu bisa jadi senjata atau bukan, tergantung pemegangnya. Aku bisa mempercayai diriku sendiri. Tapi aku tidak bisa mempercayai semua orang.”

“Mungkin itu kekuranganmu; kau tidak bisa mempercayakan kemerdekaan pada semua orang.”

“Memang. Maka dari itu aku ingin menyimpannya sendiri.”

“Kalau kau tidak mempercayakannya, bagaimana kau tahu orang-orang sudah siap atau belum——”

*BLAM*

Dari pintu ruang tunggu, muncullah seorang prajurit baret merah. Mendengar suara letusan senjata api, Ferno segera melakukan gerakan menepis. Sebuah jalur lintasan peluru menyala sempat tampak di ruangan yang relatif gelap ini. Namun karena gelapnya, sempat tampak seperti lintasan peluru ini membelok. Peluru yang ditembakkan oleh sang prajurit baret merah ini pun mendarat di dinding.

“Meleset?” pikir sang prajurit sebelum melepaskan tembakan lagi.

*BLAM* *BLAM* *BLAM*

Sang prajurit kembali melepaskan sederetan tembakan. Namun sama sebelumnya, tembakan-tembakan yang dilepaskannya hanya mendarat di dinding. Ferno sendiri tidak membiarkan dirinya terus ditembaki. Ia segera melompat ke jendela, memecahkan permukaan kacanya dan melompat jatuh ke air.

“Apa yang kau lakukan?!” tanya Johan marah, “jangan biarkan dia kabur!”

Namun prajurit baret merah itu seakan mengabaikan instruksi dari Johan. Namun lagi, setelah Johan memperhatikan prajurit itu, ia menemukan ada yang aneh. Ia terlalu muda untuk jadi prajurit baret merah, dari wajahnya yang tampak masih belia itu, Johan memperkirakan ia masih sebatas 17 tahun.

Belum sempat Johan memperhatikan lebih lanjut, prajurit itu berjalan ke luar ruangan. Johan mencoba berdiri, namun ia belum cukup kuat. Saat ia sampai di pintu ruang tunggu, prajurit baret merah itu sudah hilang entah ke mana.

“Siapa kalian ini...?” Tanya Johan sambil merenungi segala yang sudah terjadi malam ini.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc