26 Juni 2010

Selatan Istanbul

Lewat tengah malam

[Untuk bisa mempertanyakan kematian adalah arti kehidupan.]

Seseorang pernah mengatakan itu padaku. Aku tidak bisa ingat siapa, namun mengingat kata-kata itu membuatku yakin kalau aku belum musnah. Aku hanya berenang di antara sisa-sisa alam bawah sadarku. Sudah beberapa jam berlalu sejak aku mulai mengimpikan masa laluku. Sementara aku tahu kalau aku sudah tidak sadarkan diri selama beberapa jam, dalam mimpiku, sudah beberapa minggu sejak aku bertemu Alycia.

Hari-hari itu kuhabiskan dengan rutinitas yang sama; bangun, belajar, berinteraksi dengan anak-anak lain, dan istirahat. Selama itu aku selalu belajar bersama Alycia, namun suatu pagi aku tidak bisa menemukannya.

Biasanya kami mengambil jalan sendiri-sendiri sebelum kami bertemu di kelas. Beberapa kali aku tiba sebelum dia, beberapa kali kebalikannya. Meski dia tiba duluan, semestinya tidak lama sampai ia datang, namun kali ini dia terlalu menunda kedatangannya hingga membuatku cemas.

Sambil terduduk di kelas, sendirian, aku menatap jam. Kira-kira tiga menit lagi sebelum guru kami datang. Aku merasakan perasaan tidak mengenakkan yang membuatku tidak tenang, dan karena aku tahu aku tidak akan bisa keluar sebelum siang jika aku tetap di sini, aku pun keluar dari kelas.

Jam pelajaran anak-anak lain belum akan mulai sampai satu jam lagi, aku kira aku bisa menemui Evelyn dan menanyakan keberadaan Alycia.

Di jam-jam segini, anak-anak biasanya masih berada di taman bermain. Meski tujuanku jelas, aku harus mengambil rute yang lebih jauh—melewati lantai dua—hanya untuk menghindari para staff.

Lantai kedua bangunan barat adalah asrama, seperti di bangunan timur. Tempat ini lumayan sepi pada jam-jam pagi, pantaslah kalau jalur ini adalah rute paling aman yang bisa kuambil tanpa perlu cemas bertemu orang lain.

Setelah melewati asrama, aku menuruni tangga dan memanjat keluar jendela di belakang bangunan. Aku tidak bisa melewati taman dalam karena alasan yang sama kenapa aku mengambil jalan lewat asrama. Dari sini, aku menyusuri sisi luar bangunan sampai aku tiba di taman bermain di bagian barat institusi ini.

“Hey,” sapaku pada Iris, yang kuketahui cukup dekat dengan Evelyn sambil terengah-engah begitu aku sampai di taman bermain. “Di mana Evelyn?”

“Ferno? Kau membolos lagi?”

“Sepertinya begitu, tapi bukan itu yang penting. Di mana Evelyn?”

“Entahlah, dia tidak selalu di sini jam segini. Biasanya kami bertemu saat akan masuk kelas.”

Aneh, mereka berdua menghilang bersama-sama pagi-pagi. Aku tidak yakin Evelyn pergi sendirian, Alycia pasti bersamanya.

[Tapi ke mana?]

Aku melirik ke sana-kemari, mencari petunjuk kira-kira keberadaan mereka. Selama dia berada di sini, aku sudah menunjukkan Alycia berbagai tempat. Dia tahu nyaris semua tempat rahasiaku, namun membawa Evelyn ke tempat-tempat itu sangat meragukan.

[Kecuali...]

Meski pemikiranku ini terbilang konyol, namun aku berbalik, dari menatap bangunan utama ke arah bukit di belakang institusi ini.

Beberapa kali aku menceritakan sebuah tempat indah di bukit, namun aku belum pernah menunjukannya langsung. Dia tidak sebodoh itu, dia tidak mungkin keluyuran di sana sendirian, apalagi membawa Evelyn ke sana.

“Ferno, kami harus masuk kelas dulu,” Iris mendekatiku sementara aku masih menatap bukit, menendangku keluar dari lamunanku, “mungkin saja kita bertemu Evelyn di jalan, mau ikut?”

“Tidak, aku akan kembali nanti.”

“Baiklah.”

Iris lalu mengejar teman-temannya yang sudah berjalan keluar taman tanpanya. Aku sementara masih termenung berdiri di taman, menatap bukit, menunggu anak-anak pergi dari taman sebelum mulai berlari ke sana.

Namun setelah taman bermain sudah sepi dan sebelum aku berangkat, aku melihat akar rambat di permukaan dinding batu yang memisahkan institusi ini dan hutan yang mengelilinginya bergerak, ditegangkan oleh beban sesuatu di baliknya. Seseorang sedang memanjatnya. Aku berharap itu mereka; Alycia dan Evelyn, namun setelah gadis mungil itu memanjat turun, tidak ada lagi yang datang bersamanya.

Dia berlari ke arahku. Pakaian dan tubuhnya kotor terkena tanah. Melihatnya berlari ke arahku, aku mendekatinya, menangkap pundaknya sebelum dia menabrakku.

“Kau dari mana?! Mana Alycia?!” tanyaku.

“Alisa... dia...”

“Tunggu dulu, jangan bicara. Ambil nafas dulu.”

Memaksanya menjawab tidak akan membantunya mengatur nafas, aku pun menunggu hingga ia berhenti terengah-engah. Dia terbatuk beberapa kali dalam prosesnya, namun sayang aku tidak punya apa-apa untuk membantu tenggorokannya yang pasti kering.

“Apa yang sudah terjadi?” tanyaku lagi setelah dia berhasil mengatur nafasnya.

“Alisa, dia jatuh! Dia terperosok ke jurang!”

“Apa?! Di mana?!”

“Akan kuantar kau ke sana!”

“Tidak, tunggu dulu!”

Saat Evelyn akan menarikku ke arah dinding, aku mempertahankan pendirianku dan menghentikannya berlari. Aku melakukan ini karena aku terpikir sesuatu, dan karena dia tidak memahaminya, Evelyn menatapku lagi.

“Cepat! Kita tidak punya banyak waktu!” protesnya.

“Tida, katakan saja di mana dia terjatuh. Kau bersihkan dirimu dan masuk ke kelas, pura-pura tidak terjadi apa-apa.”

“Kenapa?! Kita tidak punya waktu!”

“Dengar dulu! Kau bisa kena masalah kalau ada yang tahu apa yang sudah kau lakukan. Aku yakin Alycia tidak akan menginginkan itu!”

“...” Evelyn terdiam, dia memikirkannya untuk sesaat.

“Hey, bagaimana? Kau bilang kita tidak punya banyak waktu ‘kan? Percayalah padaku!”

“...Dia jatuh dari jurang di kaki bukit sebelah barat.”

“Bisa lebih spesifik? Apa yang kau ingat dari tempat itu?”

“Aku bisa melihat sebuah sungai kecil dari sana.”

“Baiklah,” aku menatap bukit, ke arah titik di mana aku yakin Alycia berada. “Ingatlah, jangan bilang siapa-siapa!”

“Baik.”

Aku mengangguk sebelum mulai berlari. Tidak sepertiku yang terburu-buru, saat aku melihat ke belakang, aku menemukan Evelyn masih berdiri di tempat yang sama, menatapku.

Karena aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk meyakinkannya, aku hanya terus berlari. Akan kulakukan itu nanti saat membawa Alycia bersamaku.

Aku panjat dinding batu saat aku mencapainya dan melompat ke sisi di baliknya. Sejauh yang kutahu, di arah yang ditunjuk Evelyn, ada tiga jurang kecil. Dia bilang dia bisa melihat sebuah sungai kecil dari sana, membuat kemungkinan yang ada jadi lebih sedikit lagi.

Hanya ada satu tempat seperti itu, dan tempatnya tidak terlalu jauh dari sini.

Dari dinding, aku berlari ke utara sampai aku menemukan sebuah sungai kecil. Dari sana aku berlari ke timur, mengikuti arus naik sungai, melompati bebatuan dan batang kayu tumbang hingga pepohonan yang ada jadi lebih jarang.

Sambil mengatur nafasku, aku memastikan tempatku berada. Aku menengadah dan menemukan matahri berada di depanku, sedikit ke kanan, yang artinya sekarang adalah saatnya aku berbelok ke kanan. Aku menahan nafas dan kembali mulai berlari. Kali ini, aku memisahkan diri dari sungai kecil dan berlari mengikuti tanah yang mulai menanjak.

“Alycia!!”

Semakin aku mendekat, aku mulai meneriakkan namanya, menunggu, dan jika aku tidak mendapatkan tanda-tanda jawaban, aku melanjutkan berlari. Suaraku menggaung di antara pepohonan, membuat suaraku menyebar lebih jauh dari yang diijinkan pita suaraku.

Aku sampai di jurang yang diceritakan Evelyn. Tidak bagian puncaknya, namun dasarnya. Dari sini aku menyusuri dinding jurang. Berlari di sisi dinding jurang dan melihat betapa tinggi puncak dinding jurang membuatku cemas, karena tingginya bisa mencapai 10 meter.

“Alycia!!”

Aku terus berlari, untungnya aku sudah melewati titik tertinggi puncak jurang, yang berarti Alycia tidak jatuh dari ketinggian itu. Namun tetap saja, jatuh dari ketinggian lebih dari enam meter sudah cukup untuk melukai seseorang, apalagi gadis sepertinya.

“...sini...!!”

Ketika gaung suaraku memudar, aku bisa mendengar suara lain, suaranya lemah namun masih sedikit menggaung. Suara itu pastilah suaranya. Namun ini tidak bagus, gema suaranya membuatku sulit menemukan sumber suaranya.

“Alycia!!”

“Aku di sini!”

Sambil masih berlari maju, aku terus memanggil namanya dan suaranya juga semakin jelas. Dia sudah tidak jauh, aku yakin.

“Alycia!”

Aku menemukannya. Dia sedang terbaring tidak berdaya, hanya sanggup menengok ke arahku saat dia mendengar langkah kakiku.

“Kau baik-baik saja?” ujarku seraya melihat puncak jurang tempatnya terperosok. Tidak terlalu tinggi, hanya sekitar enam meter, tapi sudah cukup untuk membuatnya tidak berdaya.

“Entahlah.”

“Kau bisa bangun?” aku berlutut di sebelahnya, mengusap-usap lengan kanan dan pundaknya.

Kulitnya terasa tegang, bahkan keras di beberapa area. Aku bukan ahlinya, namun tampaknya dia tidak menderita luka serius; paling parah hanya otot terkilir.

“Apa kau bisa merasakan kakimu?”

“Hah?”

“Kakimu, apa kau merasakan sakit dari kakimu?”

“Ya, kakiku terasa sakit sekali!”

“Baguslah, itu artinya tulang punggungmu tidak patah. Bagaimana dengan bagian dada? Apa kau merasa sakit saat bernafas?”

“Oh, baguslah.”

“Bagus dari mana?! Aku tidak bisa bergerak.”

“Jangan cerewet,” aku mengomelinya, dan dia tidak tampak senang mendengarnya. “Itu artinya tulang punggung atau rusukmu tidak ada yang patah, dengan begitu aku bisa mengangkatmu tanpa menambah lukamu.”

Aku mulai mengangkat punggungnya. Dia merintih dan mengerang setiap kali aku mengangkat tubuhnya ke sisi tertentu, namun sejauh ini dia bisa menahan dirinya.

“Tunggu, bagaimana dengan Eve?”

“Jangan cemaskan dia, aku sudah menyuruhnya ke kelas.”

“Terima kasih.”

“Ayo, naiklah.”

Setelah aku membuatnya terduduk, aku berbalik dan memberikannya punggungku. Beberapa detik aku menunggu dia membalutkan lengannya ke leherku, namun dia tidak kunjung melakukannya.

“Eh?! Kenapa?!”

[Terkadang gadis ini mempertanyakan hal-hal konyol...]

“Jangan bercanda, deh. Memangnya kau bisa jalan? Daripada itu, memangnya kau bisa berdiri?”

“...”

“Nah, kan. Sekarang naiklah, aku akan memanggulmu dari sini.”

Barulah dia mulai meraih pundakku, dengan malu-malu dia membalutkan lengannya ke sekitar leherku. Dan saat aku merasa dia sudah berpegangan erat padaku, barulah aku mulai beranjak.

“Agh!”

Dia merintih saat aku mengangkat beban tubuhnya, cengkramannya bahkan sempat melemah, namun aku menahan lengannya sebelum lepas. Tidak sampai sebelum dia bisa menahan rasa sakit yang dideritanya aku baru melanjutkan berdiri.

Ketika aku berdiri cukup tinggi dan dia mulai menyokong beratnya dengan kakinya sendiri, aku pindahkan tanganku dari menahan lengannya ke menahan pahanya. Lucu, pikirku, bobotnya tidak terasa seberat itu, namun tetap saja cukup untuk melambatkan gerakanku.

“Apa aku... berat?” tanyanya menyadari jalanku yang lamban.

“Kamu itu bagaimana? Tentu saja—”

Sebelum aku bisa menjawab penuh, dia menarik rambutku. Tidak kusangka dia melakukan hal yang tidak sesuai sifatnya itu, sampai-sampai aku nyaris kehilangan keseimbangan dibuatnya.

“Hentikan!” perintahku, “kita bisa jatuh!”

Kali ini aku tidak mengambil rute yang sama yang kupakai sampai ke tempatnya, jalan itu terlalu liar, karena itulah aku mengambil rute lain ke arah selatan hingga aku sampai di jalanan utama.

“Memangnya sedang apa kau di luar begini?” tanyaku memecah keheningan di antara kami.

“Aku sedang mengajak Eve jalan-jalan.”

“Pffch—”

“Kenapa ketawa?!”

“Serius? Tanpa tahu keadaan sekitar sini?”

“Semuanya bukan salahku.”

“Lalu salah siapa?”

“...”

“Serius, deh. Salah siapa? Bagaimana ceritanya kamu sampai terperosok?”

“...Aku...” dia menjeda di antara kata-katanya, untuknya mungkin dia sedang menghimpun keberanian untuk menjawab, namun untukku dia tampak seperti sedang membangun punchline. “...menyelamatkan Eve yang mengejar kupu-kupu sampai ke pinggir jurang.”

“Oh.”

“Kamu tidak seperti terkejut.”

“Aku cuma tidak tahu rasanya, aku tidak punya saudara biologis yang perlu kujaga.”

“Percaya, deh. Rasanya sangat repot.”

“Mungkin kamu saja yang tidak pas buat peran kakak.”

“Tidak sopan.”

Tepat waktu. Sebelum aku kehabisan stamina, kami sampai di gerbang depan panti asuhan. Aku berhenti di sana dan segera membunyikan interkomnya, aku pun mempersiapkan diri untuk hal paling menakutkan yang harus kuhadapi hari ini.

Ya?

Sebuah suara terdengar dari ujung lain interkom, itu suara Madam Magdalene. Tentu saja, interkom ini tersambung langsung ke kantornya.

“Ini aku,” jawabku pendek.

Ferno?” dia tidak terdengar terkejut, dia pasti sudah mendengar kalau aku membolos. “Dari mana saja kau?!

“Dari mana-mana, maaf.”

Tolong bilang kalau kau sendirian, kau tidak bersama Nona Alycia, bukan?

“Sebenarnya...”

Dasar sial...

“Aku tahu kau pasti tidak akan suka kalau aku bilang yang tadi itu kabar baiknya, tapi...”

Oh tidak... Apa lagi?

“Saat aku mengantar Alycia jalan-jalan, dia terperosok dari tempat tinggi.”

Di mana dia?! Bagaimana keadaannya?!

“Dia bersamaku, tapi sepertinya dia butuh bantuan.”

Kita akan bicarakan ini nanti, pokoknya ingat kalau kau akan dapat masalah.

Interkomnya terputus, dan tidak lama kemudian gerbang terbuka. Melihat itu, aku segera membawa Alycia ke dalam. Dari pintu depan, aku membawanya ke ruang rawat di sayap timur, di mana aku mengistirahatkannya di atas sebuah kasus. Setelah itu, aku pun duduk di sampingnya.

“Pokoknya ingat,” ujarku memperingatkan, “bilang saja kalau aku yang membawamu keluar.”

“Tidak mau, kita bagi hukumannya bersama.”

“Jangan coba-coba, kau butuh istirahat.”

“Lalu bagaimana dengan Eve?”

“Aku sudah memintanya merahasiakan ini, sisanya biar aku yang urus—”

Sebelum aku bisa menyelesaikan perkataanku, pintu ruang rawat terbuka. Sang perawat masuk dengan paniknya dan Nyonya Magdalene mengikuti. Sang perawat mendekati Alycia dan mulai memeriksanya sementara Nyonya Magdalene berjalan ke arah Alycia dan berdiri di sampingnya. Aku pun beranjak melihat kedatangannya.

“Jadi, apa yang terjadi?” tanyanya sementara sang perawat memeriksa Alycia.

“Kami—”

“Aku ingin dengar jawaban Nona Alycia.”

Nyonya Magdalene memotongku saat aku akan menjawab. Dia justru menatap Alycia dan meminta penjelasan, saat dia mengalihkan pandangannya ke arahku, aku menghindar. Setidaknya Alycia sudah tahu apa yang harus dilakukan.

“Beberapa hari lalu Ferno memberitahuku kalau pemandangan dari bukit di pagi hari lumayan indah. Aku sudah beberapa kali memintanya menunjukkan tempat ini, dan hari ini dia bersedia.”

“Lalu bagaimana ceritanya kau terjatuh?”

“Saat kami memanjat mencari pemandangan, aku terpeleset dan terpesosok ke sebuah jurang kecil.”

“Apa benar?”

Sekarang Nyonya Magdalene menghadap ke arahku. Aku bisa melihat dari pojok mataku kalau Alycia sedang mengangguk.

“Seperti itulah kasarnya.”

“Lalu apa penjelasan kalian membolos jam belajar?”

“...”

Yeah, aku tidak punya jawaban bagus untuk itu. Banyak hal sudah terjadi sampai aku lupa dengan bolos kami hari ini.

“Oh, itu salahku!” Alycia—yang masih diperiksa perawat—tiba-tiba memotong. “Ferno terus-terusan menolak kalau aku meminta, tapi waktu dia bersedia, dia hanya akan mengantarkanku jika kami membolos, aku yang salah menerimanya. Saat itu aku kira dia mengajakku melanggar peraturan, tapi sekarang aku paham kalau dia menolak karena jalannya yang berbahaya.”

“Apa benar?”

“Yeah, saya belajar cara keras.”

Alasan yang diberikannya buruk, namun juga alasan yang bagus. Dengan mengatakan itu, dia membagi kesalahan namun juga melindungi semua pihak. Aku hanya perlu mengikuti jejaknya.

“Kalian berdua sudah membahayakan diri kalian sendiri.”

“Ya, kami paham.”

“Apa yang kau pikirkan? Bagaimana kalau tulang belakangnya patah? Membawanya kembali ke sini bisa membuat lukanya semakin parah.”

“Aku sudah memeriksanya terlebih dahulu, aku tidak memindahkan badannya sampai aku yakin kalau keadaannya tidak seburuk itu.”

“Baiklah, aku tidak akan menunjuk kesalahan pada siapapun. Anda sudah dapat peringatan pertama, Nona Alycia.”

Nyonya Magdalene lalu berjalan ke luar ruangan, meninggalkanku dengannya bersama sang perawat. Sementara aku menontonnya mengobati luka Alycia, aku berterimakasih dengan diam.

“Bagaimana keadaannya?”

“Dia beruntung,” jawab sang perawat. “Ototnya terkilir, tapi tidak ada tulang yang patah. Istirahat beberapa hari juga sembuh.”

“Boleh saya menungguinya?”

“Kalau dia tidak keberatan, aku juga tidak akan melarang,” begitu mengatakan itu, dia berpaling dariku dan menatap Alycia, “bagaimana?”

“Biarkan dia di sini, aku butuh orang untuk mengantarku ke mana-mana.”

“Aku tidak mau menggendongmu lagi lebih dari ini,” potongku mengomentari jawabannya.

“Baiklah kalau begitu, kalau butuh bantuanku, panggil saja,” balas sang perawat sebelum meninggalkan kami.

Aku duduk di sampingnya lagi, tidak lama setelah sang perawat kembali ke kantornya, pintu ruang rawat terbuka lagi, membiarkan seseorang masuk. Kali ini masuklah sesosok gadis mungil yang sudah kukenal; Evelyn.

“Hai, Eve,” sahut Alycia.

“Alisa!”

Sang adik berlari dari pintu langsung ke arah Alycia. Tampang kelegaan tampak sangat pekat di wajahnya, dia bahkan sampai melompat dan memeluk Alycia mengekspresikannya.

Untuk beberapa saat aku menonton mereka berdua membicarakan banyak hal. Aku hanya memotong untuk memastikan kalau Eve tidak memberitahu siapapun tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ironisnya—karena kukira semestinya aku atau Alycia ‘lah yang lebih kelelahan—pada akhirnya Evelyn yang jatuh tertidur di samping Alycia.

“Hey,” lanjutku setengah berbisik, “kalau kau ingin menunjukkan sekitar tempat ini pada Evelyn, kau bisa minta bantuanku.”

“Sungguh?”

“Tentu saja, selama kau bisa jaga rahasia.”

Aku menjeda, melihat ke arah kalendar di dinding. Waktu benar-benar cepat berlalu, pikirku, melihat halaman kalendar sudah menunjukkan awal musim panas, yang membuatku memutuskan sesuatu yang mungkin akan kusesali.

“Bagaimana kalau setelah kau sembuh, aku tunjukkan tempat terjauh yang pernah kukunjungi?”

“Tempat apa?”

“Di balik bukit itu, ada pantai tersembunyi.”

“Pantai? Di balik bukit? Apa kau yakin kau mau membawaku melewati tempat itu setelah apa yang terjadi hari ini?”

“Tentu saja tidak, tempatnya terlalu jauh. Kita akan ambil jalan utama.”

“Dan bagaimana caranya kita ke sana? Aku tidak yakin kita bisa pergi lebih dari setengah hari tanpa ada yang menyadari.”

“Aku berhasil melakukannya terakhir kali, aku tahu caranya. Tunggu sampai kau sembuh, nanti akan kutunjukkan.”

“Huh?”

“Percaya saja padaku.”

“Yah, baiklah,” ujarnya sebelum mengela nafas dan tersenyum simpul, “Berjanjilah, Ferno, kita akan melihat lautan bersama-sama.”

“Tentu, aku janji.”

Bebera hari berikutnya berlalu tanpa ada insiden lain. Kami mengikuti rutinitas dan Alycia pulih lebih cepat dari perkiraanku. Hanya dalam empat hari, kondisinya membaik hingga bisa dibilang pulih sepenuhnya. Meski aku berhanji aku akan menjalankan rencanaku begitu dia sembuh, aku harus menunggu hingga akhir pekan agar rencanaku bisa berjalan sempurna.

Minggu pagi akhir pekan berikutnya, aku bangun sangat pagi, saat bulan belum terbenam dan matahari belum terbit. Aku tidak pernah memberitahukan kapan saat keberangkatan kami, aku hanya memberitahukannya apa saja yang perlu dibawanya.

Aku keluar dari kamarku membawa sebuah backpack kecil dan menyelinap hingga ke sayap barat di mana kamar Alycia berada. Saat aku sampai di pintu kamarnya, aku mengetuk pelan dengan sebuah pola ketukan.

Begitu aku mengetuk dan tidak mendapat jawaban, setelah memastikan beberapa saat, aku mengetuk lagi. Kali ini, setelah beberapa detik, pintu terbuka, menunjukkan Alycia dalam pakaian tidurnya—yang tampak kasual.

“Selamat pagi,” sapaku.

“Ferno?” jawabnya sambil menyeka matanya yang masih malas, tidak butuh waktu lama sampai dia paham alasanku di sini. “Sekarang?”

“Ya, sekarang.”

“Tapi Eve masih tidur.”

“Biar kugendong dia, kita harus pergi sebelum matahari terbit.”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Aku mengambil langkah mundur dan membiarkan Alycia menutup pintu. Aku menunggu sembari memandang langit malam dari jendela, saat ini masih terlalu pagi, bahkan bintang pagi masih belum menunjukkan dirinya.

Tidak sampai beberapa menit kemudian pintu kamarnya terbuka kembali, di balik pintu berdirilah Alycia. Dia mengenakan sundress pitih dan rambut hitamnya yang sepanjang punggung sudah terikat menjadi sebuah ponytail—meski dia menutupi kepalanya dengan topi jerami bundar—dan dia juga membawa sebuah tas tangan. Aku kira aku sempat termenung memandanginya sesaat, tapi dia tidak menyadarinya.

Di sampingnya adalah adiknya. Evelyn mengenakan sebuah blouse dan jeans, rambutnya dibiarkan tergurai alami. Aku kira Alycia tidak punya waktu ataupun kesempatan menatanya. Dan tidak seperti Alycia, dia masih tampak setengah tertidur. Dia berjalan dengan matanya masih setengah tertutup, bahkan mengusapnya beberapa kali tidak membantu. Melihat itu, aku segera membantunya, aku meraih tangannya dan menuntunnya berjalan.

“Kita ambil jalan mana?” tanya Alycia sementara aku masih berjalan ke arah Evelyn.

“Kita ambil jalan memutar dari dinding luar.”

Evelyn tiba-tiba rubuh, dia masih terlalu mengantuk sampai dia tertidur berdiri. Alycia laly membantuku memposisikan Evelyn ke punggungku setelah aku memindahkan tas punggungku ke depan; Alycia tidak terlalu berat saat aku menggendongnya tempo hari, tentu saja adiknya yang jauh lebih kecil ini bobotnya tidak sebanding dengannya.

Kami berjalan dengan hati-hati di lorong asrama hingga ke ujung koridornya dan menuruni tangga hingga ke lantai dasar. Dari sana kami memanjat jendela yang biasanya kugunakan untuk menyelinap keluar bangunan barat dan menyusuri dinding bagian dalam hingga sampai ke dinding dalam bagian utara. Kami lalu memanjat dinding ke hutan. Dan kami melanjutkan perjalanan ke timur hingga kami sampai di jalanan utama.

Meski disebut jalanan utama, namun jalan ini hanya mengarah ke panti asuhan. Kami masih harus berjalan sedikit hingga kami sampai di jalan raya yang sebenarnya.

“Oke, kita tunggu di sini,” ujarku ketika kami sampai ke jalan raya, seraya menurunkan barang bawaan kami—dan juga Evelyn.

“Kita menunggu apa?”

“Tunggu saja.”

Panti asuhan Edelweiss terletak di pinggiran kota, namun juga tidak di daerah rural, letaknya tepat di antara keduanya. Di sinilah keuntungan kami, karena aku seringkali melihat penduduk desa pulang dari pasar, aku berencana menumpangi mobil mereka.

Aku kira kami berangkat terlalu pagi, butuh sekitar sepuluh menit sampai mobil pertama muncul. Aku segera melompat dan menghentikannya ketika mobil itu semakin dekat, tanpa perlu berdiri di tengah jalan, aku berhasil menghentikan mereka.

Seorang pria tua sedang duduk di kursi supir sementara seorang gadis yang tampak seperti putrinya sedang duduk di sampingnya. Dia setuju saat aku menanyakan apa kami bisa menumpang sampai ke desa. Mendengar itu, aku pun memanjat bak truk pickup ini dan segera membantu Alycia dan Evelyn untuk naik.

Mobil ini segera menghimpun kecepatan segera begitu kami duduk nyaman di antara muatan truk. Kami pun menonton pemandangan yang berubah, dari pemandangan kaki bukit menjadi pemandangan sisi laut. Tepat waktu pula, karena kami segera disuguhi pemandangan matahari terbit dari balik cakrawala samudra, bahkan Alycia tidak membiarkan adiknya melewatkan kesempatan ini.

Meski kami sudah melihat lautan sepanjang perjalanan kami, namun kami masih jauh dari tujuan. Butuh sekitar kurang dari satu jam sebelum kami melewati sisi laut dan masuk ke area yang dihuni pepohonan. Bertentangan dengan pemandangan yang ada, justru inilah tanda kalau kami sudah dekat dengan tujuan.

Aku meminta pak tua yang sedang menyupir untuk berhenti setelah berjalan sekitar lima menit. Kami berhenti di jalanan dengan hutan di kedua sisinya. Setelah aku berterima kasih pada pak tua dan putrinya itu, kami berpisah dan kami berjalan di jalan setapak yang menuju ke hutan.

“Masih jauh?” tidak ada yang terkejut mendengarnya, Evelyn akhirnya menanyakan pertanyaan itu.

“Tidak, sedikit lagi, kok,” jawabku.

“Bohong.”

“Aku tidak bohong, sedari tadi kita sudah bisa mencium aroma garam laut, kan?”

Semuanya—termasuk aku—merasakan kebenaran jawabanku tadi. Untuk beberapa saat belakangan ini kami sudah bisa mencium aroma segar dan hangat di antara bau kasar pepohonan. Aroma lautan. Setelah berjalan sedikit lagi, akhirnya kami sampai di tujuan kami.

Mungkin ini adalah pantai paling indah yang pernah kulihat; dengan timbunan pasir putihnya, air lautan biru jernih yang memantulkan langit dan awannya, arus baliknya yang tenang, dan beberapa pohon kelapa menghiasi sisi-sisi pesisir.

Evelyn adalah yang pertama meledak. Dia berlari meninggalkan kami sementara Alycia mengejarnya. Di sisi lain, aku memungut tas tangan yang dijatuhkan Alycia dan mencari tempat teduh untuk beristirahat.

Dari dalam tasku, aku mengeluarkan sebuah tikar dan menghamparkannya di atas pasir, aku lalu menaruh barang-barang kami di atasnya. Ketika Alycia sudah menangkap Evelyn, aku sudah mulai melepaskan kancing kemeja dan celana panjangku, meninggalkanku dengan celana pendek dan kemejaku yang terbuka.

Setelah Alycia dan Evelyn bersalin ke pakaian renang mereka, kami menghabiskan pagi dengan bermain bola voli pantai freestyle—dalam artian tanpa aturan. Setelah kami beristirahat setelah bermain bola voli, kami melanjutkan bersenang-senang dengan berenang.

Waktu berlalu cepat saat sedang bersenang-senang, kata mereka. Dan kami merasakan kebenarannya, tidak terasa waktu sudah menunjukkan siang. Alycia membongkar tas tangannya dan mengeluarkan beberapa kotak makan. Dia membagikannya padaku dan Evelyn. Sepanjang siang kami habiskan dengan makan siang bersama.

Setelah tengah hari, belum ada di antara kami yang puas dengan kesenangan yang kami dapatkan saat sebelum tengah hari. Kami pun bermain air hingga kami lelah. Berikutnya, aku memanjat pohon kelapa yang ada dan memetik beberapa buahnya sementara Alycia dan Evelyn masih bermain air.

Dengan mengupas dan memecahkan kelapanya dengan bebatuan yang ada, aku berhasil membuka beberapa kelapa sebelum Alycia dan Evelyn sadar dengan apa yang sedang kulakukan. Aku mengejutkan mereka dengan tiga biji kelapa yang sudah siap diminum. Dan setelah istirahat lagi, kami mengakhiri hari ini dengan membangun sebuah istana pasir.

Meski matahari masih tinggi, aku meminta kakak-beradik itu untuk beres-beres dan bersiap untuk pulang.

Tidak ada yang terkejut mendengar Evelyn meminta waktu, namun sepertinya staminanya sudah tidak mengijinkannya bermain lebih dari yang kuijinkan. Dia nyaris tertidur saat sedang menyelesaikan istana pasir yang kami bangun. Alycia mengambil kesempatan untuk membereskan adiknya. Setelah itu, kami pun bersiap pulang.

Setelah kami kembali ke jalan raya, kami menunggu truk pickup lewat lagi di sana. Alycia terkejut melihatku menghentikan truk yang datang dari arah kami datang. Namun aku meyakinkannya kalau kita memang menuju ke arah yang benar.

Setelah menumpang beberapa saat, aku meminta pengemudinya berhenti di sebuah stasiun kecil. Kami turun dan berterimakasih pada pengemudinya, dan kami pun menunggu kereta datang.

“Oh, stasiun kereta...” komentar Alycia.

“Kalau kita menunggu mobil dari arah desa, kita bisa menunggu sampai malam.”

“Ngomong-ngomong, dari mana kau bisa tahu sebanyak ini? Semestinya kau tidak punya waktu untuk menjelajah sejauh ini.”

“Ah, aku melihat-lihat sekitar panti asuhan lewat peta online dari komputer perpustakaan.”

“Internet rupanya, pantas saja...”

“Yeah, di sinilah tempat paling jauh yang pernah kukunjungi. Aku belum punya kesempatan menjelajah lebih jauh dari ini.”

“Tapi kau tahu apa yang ada di sana, kan?”

“Tentu. Tidak jauh dari sini ada landasan pacu pribadi, dan di baliknya ada desa.”

“Kedengarannya tidak terlalu indah untuk dikunjungi.”

“Iya, kan—”

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu yang aneh. Dari arah desa, sebuah mobil premium hitam tampak berpacu di jalanan, melewati persimpangan jalan dan rel kereta. Ada yang aneh dengan mobil itu, cukup untuk menyita perhatianku selama beberapa detik hingga Alycia curiga.

“Ferno?” panggilnya, mengalihkan perhatianku dari mobil hitam.

“Ada apa?”

“Kenapa melamun? Kau lihat apa?”

“Bukan apa-apa, maaf. Kau bilang apa tadi?”

“Oh, keretanya sampai.”

Kereta yang kami tumpangi adalah kereta lokal, ditarik oleh lokomotif tua karatan yang masih belum dipensiunkan. Lokomotif itu hanya sanggup menarik tiga gerbong, namun meski begitu bukan berarti ketiganya dipenuhi penumpang. Meski hanya tiga gerbong, masih ada banyak tempat duduk kosong di dalam.

Kami memasuki gerbong pertama, gerbong yang kulihat paling tidak terisi. Sepertinya hanya kami yang naik dari stasiun ini. Tidak lama kemudian, kereta pun mulai berpacu.

Aku mendudukkan Evelyn di antaraku dan Alycia. Adik yang kelelahan itu lalu menidurkan kepalanya di pangkuan kakaknya, Alycia lalu mengelus rambut adiknya agar guncangan kereta yang berpacu tidak membangunkannya.

“Dia manis, ya?”

“Ya, ayah kami selalu bilang kalau dia mewarisi mata hijau Ibu.”

“Masa?”

“Entahlah, sejujurnya aku tidak bisa ingat. Dia meninggal tidak lama setelah melahirkan Eve.”

“Oh...”

“Dialah satu-satu keluarga yang kumiliki sekarang.”

Ini mungkin adalah kali pertama dia begitu terbuka semenjak aku bertemu dengannya, saat itu dia sangat kaku sampai dia menyentakku karena hal kecil.

Kalau diingat-ingat, aku tidak pernah menanyakan alasannya.

“Kau ingat kali pertama kita bertemu?” lanjutku, meski aku sedikit takut dengan reaksinya jika aku menanyakan ini, “kenapa kau meneriakiku saat aku memanggilmu ‘Alisa?’”

“Oh, itu...” dia tertawa ringan mendengar pertanyaanku. Padahal aku mengharapkan respon yang lebih keras, tapi ternyata dia juga menganggapnya lucu secara retrospek. “’Alisa’ adalah panggilan Ayah padaku, mungkin sejenis panggilan sayang.”

“Ooh...”

“Maaf kalau aku berlebihan waktu itu.”

“Aku tidak keberatan, kok,” aku menjeda. Untuk sesaat kami berbagi kesunyian nyaman sementara kami menonton pemandangan bukit dari jendela kereta. Namun aku tidak bisa menahan diri ingin menanyakan hal lain yang ingin kuketahui tentangnya. “Apa boleh aku menanyakan satu hal lain?”

“Tanya apa?”

“...kenapa kau bisa berakhir di sini? Maksudku, bagaimana ceritanya—”

“Aku mengerti, kok,” dia mengela nafas, membangun jawaban yang tertahan. “Sejujurnya, ayah kami menjadi korban kolateral sebuah pembunuhan. Aku selalu bilang kalau Ayah meninggal karena kecelakaan, tapi itu karena aku ingin Eve tidak tahu kebenarannya.”

“Oh, maaf kalau aku—”

“Tidak apa-apa, cepat atau lambat kau perlu tahu.”

“Terima kasih, Alycia.”

“Alycia Freiss Ariadne Jeanne-Heller.”

“Huh?”

“Itu nama lengkapku, kau boleh memanggilku Alisa.”

“Kau tidak keberatan?”

“Tentu tidak.”

“Kalau begitu,” aku menjeda, mengikuti kecepatan kereta yang mulai melambat sebelum aku melengkapi apa yang ingin kukatakan, “Alisa.”

Begitu kereta berhenti di stasiun lain, kami menunda apa yang ingin kami katakan dan bersiap untuk turun dari kereta. Lagi, aku menggendong Evelyn di punggungku karena Alisa ingin membiarkannya beristirahat. Dari stasiun, kami menumpang mobil lain hingga kami sampai di jalan utama yang menuju ke panti asuhan.

Kami mengobrol ringan selama perjalanan di jalan utama dan saat memasuki institusi dari dinding utara. Namun sebelum aku kembali ke kamarku, aku perlu memastikan Alisa dan Evelyn sampai di kamar mereka.

Kami tidak bertemu siapa-siapa saat kami masuk ke bangunan barat, namun saat kami naik ke asrama, kami tidak bisa menghindari pertemuan dengan anak-anak lain.

“Ferno!” seorang gadis memanggilku segera begitu dia melihatku di asrama. Suara itu adalah suara Iris. “Dari mana saja, sih?”

Pertanyaan itu membuatku terkejut, semestinya tidak ada yang menyadari jika kami pergi keluar hari ini.

“Kenapa? Ada apa memangnya?”

“Nyonya Magdalene mencarimu, dia bilang ada orang penting yang ingin bertemu denganmu.”

“Kapan dia mencariku? Apa dia masih ingin menemuiku?”

“Ya, dia bilang jika ada yang melihat Ferno, minta dia segera datang ke kantor.”

“Oh, baiklah. Alisa, kita bicara lagi nanti.”

Jika Nyonya Magdalene mencariku, berarti akan berbahaya jika aku membiarkannya menunggu. Aku berlari di koridor asrama ke bangunan selatan dan melintasi antar bangunan lewat sana. Satu hal ganjil yang kutemukan adalah saat aku sedang berlari di bangunan itama, aku menemukan sebuah mobil premium hitam sedang terparkir di depan. Aku tahu aku sudah melihat mobil itu di stasiun, sedang apa mobil itu di sini?

Saat aku sampai di sayap timur, aku mulai melihat keganjilan yang mengingatkanku kalau aku sedang bermimpi; suara-suara yang berdistorsi, pandangan yang mengabur, dan bahkan gambar-gambar fana. Namun yang paling aneh adalah saat melewati beberapa tikungan, aku melihat sesosok pria mengenakan kaos abu-abu berdarah. Itu dia, diriku yang lain.

Jangan ke sana.

Berhenti.

Itulah yang terus ia ulangi tiap kali aku melihatnya. Aku ingin menuruti peringatannya dan justru mengejarnya, namun aku tidak punya kemampuan menolak atau bahkan mengendalikan apapun dalam mimpi ini, yang bisa kulakukan adalah menonton selama aku berlari melalui koridor hingga aku sampai di hadapan sebuah pintu ganda di sisi koridor.

Jangan buka pintu itu!

Diriku dalam kaos berdarah memperingatkanku lagi dari ujung koridor, namun ia tidak melakukan apa-apa. Meski begitu, dia tidak perlu melakukan apapun. Semakin dekat aku dengan pintu ini, semakin intens distorsi yang kurasakan. Begitu aku melayangkan tanganku di gagang pintu, segalanya mulai berguncang di luar kendali.

“Nyonya Magdalene? Saya dengar Anda mencari saya?”

“Ah!”

Aku mengharapkan suara Nyonya Magdalene, namun yang kudengar justru adalah suara pria yang terdengar berat dan tegas.

[Tunggu dulu, aku tahu suara siapa itu.]

“Kau pasti pemuda yang kutunggu, masuklah...”

[Graille Einhorn.]

“HENTIKAAAAAAAAAAAAAAANNN!!!!!!!!!!!!”

Sebelum aku bisa membuka pintu, tiba-tiba semuanya berubah menjadi hampa. Hitam legam. Aku terlempar dari mimpiku ke dalam kehampaan alam bawah sadarku. Namun aku sempat mendengar suara teriakan keras sebelum mimpiku berakhir dan menendangku ke kenyataan.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc