24 Juni 2010

Apartment Vicky

07.21

Waktu berlalu tanpa kusadari setelah kejadian semalam. Hal berikutnya yang kusadari adalah pagi sudah menyingsing. Tidak seperti Vicky yang menghabiskan malam dengan beristirahat, aku di sisi lain menghabiskan malam dengan terjaga. Dengan sebuah pistol di tanganku, aku terduduk sepanjang malam di atas sofa dengan pandangan kosong. Namun juga sambil memasang telinga pada setiap detail yang bisa kudengarkan, seperti suara tetangga Vicky di lantai atas yang menuruni tangga sekitar limabelas menit lalu.

Yang aku takutkan adalah, jikalau pria-pria di luar tiba-tiba mendobrak masuk dan menangkap aku dan Vicky. Itulah kenapa aku terus terjaga sepanjang malam; untuk menjaga apartemen ini dan melindungi Vicky dari segala ancaman. Sampai pagi menjelang, aku terus-terusan mengulangi perdebatanku dengan Vicky semalam.

“Kita harus meninggalkan tempat ini!”

“Tidak!”

Semalam, aku dan Vicky terlibat dalam sebuah argumen. Argumen yang meski keras namun tenang karena kami tidak ingin mengganggu siapapun atau membuat orang lain curiga. Aku dengan jelas mengakui kalau akulah yang bertanggungjawab atas kepelikan ini, namun dia terus menolak solusi yang kuajukan.

“Aku tidak tahu apa mereka akan mengikutiku kalau aku pergi. Jika aku tidak di sini, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu.”

“Lalu bagaimana denganku? Aku tinggal di sini!”

“Aku paham, tapi aku tidak tahu apa yang akan mereka lalukan jika mereka menangkapmu.”

“Oke! Kalau begitu kau bisa pergi sendiri, aku tinggal memanggil polisi dan melaporkan kalau rumahku diawasi pria-pria mencurigakan. Masalah selesai, kan?”

“Tidak semudah itu, aku butuh kau ikut denganku.”

Aku memang terdesak, aku akui itu. Meskipun dia bukanlah sosok putih dalam mimpiku, aku punya desakan kuat untuk melindunginya. Mungkin karena aku belum tahu siapa sosok itu sebenarnya dan karena Vicky adalah petunjuk terbesarku.

“Kenapa?! Apa alasanmu sampai kau ngotot ingin mengawasiku?!”

“...” aku tidak bisa menjawabnya, jika dia mendengar alasannya, dia pasti akan menganggapku gila.

“Kenapa? Apa kau tidak bisa jawab?”

“...” aku alihkan mataku darinya tanpa bisa mengatakan sepatah kata pun. Tidak hanya aku tidak bisa menjawabnya, aku juga tidak bisa memandangnya. “Aku... tidak bisa.”

Pikiranku mulai mengambang, mengingat saat pertama kali aku melihatnya. Dia langsung mempercayaiku tanpa aku perlu meyakinkannya. Kali itu aku masih bergantung pada rasa percaya sepihak, aku ingat bagaimana perasaanku saat dia mempercayaiku sepenuh hati. Namun kali ini berbeda, kali ini alasanku terlalu mengetengahkan diri sendiri.

“Apa kau tidak percaya padaku?” lanjutnya, meyakinkanku dengan nada tenang, lain dengan nada yang dipakainya untuk berdebat.

Kepercayaan, itulah masalahnya; menjadi atau tidak menjadi. Sembari menggigit lidah, aku harus menelan berat jawaban apapun yang dia berikan padaku. Apapun jawabannya, jawaban yang dia berikan adalah jawaban yang berdasarkan kepercayaannya padaku, bahkan meskipun jawabannya bukanlah jawaban yang kuinginkan.

Dengan yakin, aku menelan udara dan menghela nafas pendek. Aku sudah mencapai titik penerimaan, aku hanya butuh mempercayainya untuk jawaban.

“Mungkin ini akan terdengar gila,” ujarku sambil mengembalikan tatapanku kembali ke arahnya. “Apa kau ingat saat aku bertanya apa kau kenal seseorang yang bernama Eve?”

“Ya, aku ingat.”

“Aku menanyakannya karena aku mengimpikanmu menyebut nama itu.”

“Kau mengimpikan—”

“Ya, aku mengimpikan dirimu, atau seseorang yang mirip denganmu. Namun coba bayangkan, berapa banyak orang di dunia ini yang mirip denganmu?”

“...”

“Kau pikir aku gila, kan? Kau tidak kenal denganku, tapi aku terus berpikir kalau kau—”

“Kau tidak gila,” ucap Vicky memotong perkataanku. Dia menatapku seakan dia menatap seorang anak kecil yang tersesat; tatapannya terasa hangat, namun juga syarat dengan rasa kasihan. “Apa kau yakin kau tidak mengumpankan perasaanmu dengan pemikiran itu? Apa kau yakin kalau kau tidak membiarkan harapan mengaburkan pandanganmu?”

Merenungkan kata-katanya; sepertinya aku sudah membiarkan diriku terbuai dengan pemikiran itu. Kali pertama aku melihatnya, aku sangat yakin kalau dia akan bisa memberiku jawaban. Aku masih memegang pemikiran ini, karena itulah aku sangat ingin menjaganya.

[Apa salah jika itu yang kuinginkan? Meskipun jika dia bukan sosok putih itu?]

Jawabanku masih tetap ‘tidak,’ aku tidak salah.

“Aku tidak tahu lagi harus bagaimana.”

“'Kan? Itu artinya kau tahu kalau kita harus berpisah suatu saat. Kau punya jalan sendiri, begitu juga aku—”

Harapan memang bisa mengaburkan pandanganku, dan itu sudah terjadi. Aku sudah ceroboh, itulah kenapa aku tertembak. Aku teringat dengan apa yang yang sudah kulakukan di kapal Dasan, aku berhasil menyatukan mereka saat kebersatuan mereka dibutuhkan. Kenapa sekarang aku tidak bisa? Aku yakin karena pandanganku masih terhalangi.

“Baiklah.”

Merasa tekadku terbulatkan, aku pun berujar. Jawaban ini adalah jawaban yang terus kuhindari, namun mendengar apa yang baru saja dikatakannya membuatku yakin dengan apa yang harus kulakukan.

“Jika kau tidak ingin pergi bersamaku, aku akan tetap di sini.”

“Huh?”

“Aku tahu tidak seharusnya aku melarikan diri. Mereka bisa memberiku jawaban, maka sebaiknya aku mengikuti aturan main mereka. Aku akan membiarkan mereka menangkapku, dengan begitu aku bisa memastikan keselamatanmu.”

“Tapi apa kau—”

“Kau yang bilang kalau kita punya jalan sendiri-sendiri. Jika aku tidak bisa memaksakan jalanku untukmu, kau juga tidak bisa memaksakan jalanmu padaku.”

“Lalu apa rencanamu? Kau mau jalan ke luar dan membiarkan dirimu ditangkap?!”

“Tentu saja tidak, ada beberapa hal yang harus kuketahui terlebih dahulu.”

Setelah itu, perdebatan kami pun selesai, dia masih tidak setuju denganku, namun setidaknya dia menerima rencanaku. Karena mereka sudah mengawasi kami beberapa kali, mereka bisa saja menyerang apartment Vicky kapan saja. Hingga malam memudar dan matahari kembali muncul, aku terus terjaga.

Detik, menit, jam berlalu sementara aku terduduk seperti boneka di atas sofa ini. Tidak bergeming sejak aku mendudukinya satu waktu setelah tengah malam. Mungkin aku sedang bertapa, mempersiapkan diriku untuk kebenaran yang akan kuterima.

Bahkan jika semestinya saat ini aku merasa kelelahan, aku tidak merasakan kesadaranku menurun. Aku masih kaku dan tajam seperti seharusnya. Pandanganku sudah jelas, aku tahu apa yang harus kulakukan. Mengabaikan semua harapanku, aku harus mencari jawaban.

“Selamat pagi,” sambut sebuah suara seraya aku menyaksikan penyerunya keluar dari kamarnya.

Vicky yang sudah meninggalkanku untuk beristirahat kini kembali ke ruang tengah. Jejak-jejak tidur masih tampak jelas di wajahnya, matanya masih tampak berat, rambut pendeknya banyak yang berdiri kaku, dan bibirnya juga tampak kering.

“...pagi,” jawabku malas.

Setelah aku berbicara, aku baru sadar betapa letihnya badanku. Tampaknya aku sempat jatuh tertidur dengan mata terbuka, dan saat aku menggerakkan badanku, barulah aku tahu kalau badanku kaku.

Menggerakkan badanku sedikit memaksaku untuk mengangkat tangan dan merenggangkan punggungku. Perenggangan itu sedikit membantu. Terasa pada tubuhku saat punggungku meluruskan diri. Dari sudut pandang Vicky, aku mungkin tampak seperti kucing yang sedang merenggangkan tubuhnya sebangun tidur, namun secara vertikal.

“Belum ada tanda-tanda mereka akan bergerak,” lanjutku sambil menurunkan tanganku.

“Baguslah, aku ingin mandi dulu.”

Begitu selesai menjawab laporanku, dia segera bergerak menuju ke kamar mandi. Sementara dia membasuh dirinya, aku mendekati jendela dan memandang ke luar. Di pojok jalan, aku sudah tidak bisa melihat kedua pria itu lagi. Namun sekarang aku melihat orang lain, satu pria mengenakan mantel coklat sepanjang paha dengan wajah yang lumayan akrab.

[Odi...]

Berdiri di tempat pria-pria yang semalam mengawasiku adalah Odi. Rupanya dia berhasil melarikan diri dari toko itu. Memang benar, setelah aku menembak kakinya, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku pikir mungkin dia merayap keluar sebelum polisi menyerbu tempat itu. Dia lalu menemukan kami dan mengikuti kami sampai di sini.

Aku juga ingat kalau saat itu aku tidak sadarkan diri. Aku rasa wajar kalau Vicky tidak menyadari kalau ada orang yang membuntutinya.

Saat aku menatapnya, kedua mata Odi juga mengunci jendela tempatku berdiri. Aku bisa merasakan pandangan kami bertukar, mengunci satu sama lain. Dari tatapannya, aku bisa membaca kalau dia sudah tahu kalau aku sudah menyadari kehadirannya dan timnya. Dari tatapannya juga, aku merasakan kalau dia sedang menantangku.

Seakan kami bisa berbicara secara telepati, aku pun menerima tantangannya tanpa suara. Dan setelah saling menatap selama seperempat menit, aku pun mundur dari jendela dan kembali terduduk di atas sofa. Jika Odi ada di sini, aku harus memikirkan kembali rencanaku.

Tidak lama setelah aku mulai berpikir, Vicky keluar dari kamar mandi. Tidak banyak yang berubah dari penampilannya. Kecuali rambut lembabnya yang masih dia coba keringkan dengan handuk yang dia genggam.

“Vicky, mungkin sebaiknya kau mulai berkemas.”

“Sudah kubilang, aku tidak akan pergi.”

“Aku mohon, lakukanlah sebagai rencana B.”

“Rencana B?”

“Shh!”

*BRAKK*

Pendengaranku tiba-tiba bereaksi. Sepinya lalu lintas di luar membuat jangkauan pendengaranku semakin luas. Entah seberapa jauh, tapi aku bisa mendengar suara lain selain suara detik jam dinding. Suara itu datang dari luar; suara pintu yang didobrak.

Meski suara itu datang dari bawah, suaranya terdengar sayup namun keras dan jelas di sini. Suara itu membuatku siaga, suara itu juga membuatku berdiri seraya memperingatkan Vicky. Tidak salah lagi kalau suara itu datang dari pintu depan; mereka sudah datang.

“Vicky, sekarang!”

“Tapi—”

“...” aku tidak membalas, aku hanya mengibaskan kepalaku dengan raut memaksa. Setelah itulah dia lalu bergerak ke arah kamarnya.

Sementara dia menyiapkan diri, aku juga mempersiapkan diri dan melepaskan safety pistolku. Suara langkah kaki tergesa-gesa yang sayup-sayup terdengar dari koridor perlahan kian mengeras. Suara-suara itu menaiki tangga hingga akhirnya mereka berdiri tepat di depan pintu apartemen Vicky.

*BRAK*

Tiba-tiba pintu di hadapanku didobrak. Seseorang telah menendang gagang pintu hingga pintunya terbuka paksa dan membuat suara keras. Dentumannya memicu refleksku. Aku angkat tangan kananku yang memegang pistol dan mengarahkannya ke arah pintu.

Begitu pintunya terbuka, aku melihat tiga pria bersenjata; satu masih menyeimbangkan diri setelah melepaskan tendangan keras pada pintu, dan kedua lainnya mengarahkan senjata mereka seraya memindai ruangan. Namun begitu menyadari kalau aku sudah mengarahkan pistolku ke arah pintu, gerakan mereka terhenti. Bahkan pria yang berdiri di kanan sampai berlindung di balik dinding.

“Jatuhkan... senjatamu.”

Hanya ada dua pria lagi yang masih berdiri di mulut pintu pintu; satu pria bersenjata dan satunya lagi dengan senjata yang masih turun. Tanganku terarah ke pria dengan tangan siap menembak. Untuk sesaat hanya ada sunyi, hingga pria yang mengarahkan pistolnya ke arahku memberiku perintah yang tidak ingin kuturuti.

“Kalian duluan, aku hanya ingin bicara,” balasku.

“...”

Kami semua terdiam, tidak ada yang ingin menurunkan pertahanan kami. Namun juga tidak ada yang ingin mulai menyerang. Seperti bermain sepak bola hanya dengan dua kiper.

“Hentikan, turunkan senjata kalian!” tiba-tiba suara lain dari koridor memberi perintah dengan nada tenang. “Aku bilang, turunkan senjata kalian!”

Suara itu mengulangi perintahnya. Beberapa detik kemudian, pria yang siap menembak itu dengan enggan menurut. Dia mulai menurunkan senjatanya. Melihat itu aku pun mengikuti dengan menurunkan senjataku dengan perlahan. Begitu kami sudah menurunkan senjata kami, pria yang memberi perintah itu pun mulai menunjukkan dirinya.

“Odi...”

Odi, satu-satunya yang selamat dari pertempuranku dua hari lalu menunjukkan dirinya lagi di hadapanku. Setelah aku melukai kakinya hari itu, dia tampak sudah baik-baik saja. Meski demikian aku bisa melihat kalau dia berjalan dengan sifat yang kaku dan canggung.

Dia berjalan melewati pintu dan memasuki apartemen. Sebuah pistol menggantung di tangan kanannya. Rekan-rekannya masih menunggu di balik pintu, namun dia terus masuk ke dalam. Dengan setiap langkah yang dibuatnya, aku mengambil langkah pendek mundur supaya aku yakin kalau dia tidak akan mengejutkanku. Aku terus berjalan mundur sampai melewati meja kopi, hingga akhirnya dia berhenti.

“Aku hanya ingin bicara,” ujarku padanya. “Setelah itu kalian bisa membawaku.”

“Baik, hanya bicara.”

“Tapi sebelumnya, perintahkan mereka untuk menunggu di luar, di seberang jalan.”

Aku bisa melihat Odi tampak kesal, permintaanku sempat membuatnya menggigit lidahnya.

“Baik.”

Setelah memikirkannya sejenak, dia menerima syaratku. Dia menengok ke sebelah kirinya dan mengangkat telapak tangannya. Dia lalu melambaikan tangannya ke belakang, memberi tanda pada rekan-rekannya untuk pergi.

Rekan-rekannya juga tidak senang dengan instruksi Odi. Mereka menolak tanpa bersuara dengan memberi wajah tidak setuju, namun Odi memaksa dengan mengulangi gerakan tangannya sedikit lebih keras.

Meski masih tampak tidak suka, mereka dengan enggan menurut. Dengan masih mengunci pandangan ke arah ruangan ini, mereka perlahan mundur dan pergi. Begitu aku tidak bisa melihat mereka lagi, aku berjalan minggir ke kiri dan mendekati jendela untuk memastikan kalau rekan-rekan Odi memang meninggalkan bangunan ini.

Dengan tubuhku masih menghadap Odi, aku mengintip ke arah jendela beberapa kali hingga akhirnya aku melihat mereka keluar dari bangunan. Saat mereka keluar, dua dari mereka melirik ke arah jendela apartment ini, hingga membuat mata kami beradu. Sambil masih menatapku, mereka perlahan menyeberangi jalanan yang sepi dan menunggu di ujung jalan.

Setelah aku yakin kalau mereka bertiga berdiri manis di sana, aku pindahkan kepalaku dari jendela dan kembali menghadap Odi. Dari kamar tidurnya, Vicky masih tampak cemas. Aku hanya bisa mengangguk pelan untuk meyakinkannya.

Melihatku mengangguk, Odi mengalihkan pandangannya untuk melihat ke mana aku melihat. Mungkin dia kira aku sendiri. Dia lalu tersenyum begitu dia tahu aku memandangi Vicky.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” ujar Odi memulai pembicaraan, menyita perhatianku dari Vicky.

“...”                                          

Aku belum siap untuk menjawab. Sebelum aku mulai bicara, aku angkat tangan kananku untuk menunjukkan senjataku. Melihatku mengangkat tangan membuatnya menggenggam erat senjatanya, namun tidak menghentikanku untuk memasang safety pistolku dan meletakkannya di atas meja makan lalu perlahan mendekati TV. “Letakkan senjatamu di atas meja kopi.”

Mendengar perintahku membuatnya tampak lega, dia melepaskan cengkramannya lalu berjalan ke arah meja kopi dan meletakkan senjatanya dengan perlahan.

“Aku ingin tahu apa yang kau ketahui tentangku,” ujarku memecah keheningan.

“...”

“Jawablah, kumohon.”

“Aku tidak tahu banyak. Aku hanya ditugaskan untuk menangkapmu saat kau mendarat. Hanya itu yang kuketahui.”

“...” mendengar jawaban yang sama, aku jadi tidak tahu lagi apa mereka sudah sepakat untuk memberiku jawaban itu jika aku bertanya atau apa. Ini artinya aku harus mencari jawaban dari orang lain. “Kalau begitu, untuk siapa kalian bekerja? Siapa yang kalian sebut dengan Supervisor?”

“...aku tidak bisa menjawabnya.”

“Apa maksudmu tidak bisa?!” protesku dengan nada kesal.

“...” melihatku gagal menahan rasa kesal, Odi terdiam.

“Maaf, apa yang membuatmu tidak bisa menjawab pertanyaanku?”

“Karena aku memang tidak tahu.”

Jalan buntu yang sama, seperti dengan Gyle. Ini artinya aku harus membiarkan mereka membawaku jika aku ingin tahu pada siapa mereka bekerja.

“Tsk,” gerutuku dengan frustrasi. “Baiklah, aku akan menyerahkan diri, tapi dengan satu syarat.”

“Yaitu?”

“Kalian tidak akan menyakitinya,” ujarku seraya menunjuk ke arah Vicky yang sedang mengawasi kami dari kamar tidurnya untuk menegaskan pada Odi siapa yang kumaksud.

“...” Odi menatapnya untuk sesaat, jeda yang dibuatnya saat berpikir tampak mencurigakan. “Baiklah, aku tidak akan menyakitinya.”

Aku menghela nafas pendek. Aku kembali melihat ke arah Vicky dan membisikkan kalau dia akan baik-baik saja. Aku masih bisa melihat kecemasan di wajahnya, namun aku hanya bisa meyakinkannya dengan sedikit bisikan.

“Cuma itu?” lanjut Odi.

“Ya.”

“Bisa kita pergi sekarang?”

Odi memungut kembali senjatanya dari meja kopi dan berjalan ke arah pintu. Begitu sampai di luar, dia menunggu sambil menatapku. Melihat ini, aku tahu kalau dia tidak akan memberiku waktu untuk mengucap selamat tinggal.

Tanpa membuang waktu, aku ambil jurnal dan jaketku dari kursi meja makan dan mengenakannya. Aku lalu berjalan ke arah pintu sambil memasukkan jurnalku ke dalam saku dalam jaketku dan memandang Vicky sementara Odi mengawasiku. Aku dan Vicky saling memandang satu sama lain, sementara aku mengisi tatapanku dengan ‘jangan cemas,’ aku bisa membaca dari tatapannya kalau dia seakan mengatakan ‘berhati-hatilah.”

“Silahkan duluan.”

Saat aku melangkah keluar, Odi menyuruhku untuk berjalan duluan. Bahkan setelah aku menyerahkan diri, dia masih curiga kalau aku akan melarikan diri.

Dengan waspada aku berjalan di hadapannya, aku mengikuti koridor di sebelah kananku dan berbelok kiri untuk menuruni tangga. Begitu sampai di lantai dasar, aku susuri sisa koridor hingga aku mencapai pintu depan yang sudah rusak.

Dari sini, aku bisa melihat rekan-rekan Odi menunggu di seberang jalan dekat sebuah sedan perak. Penampilan mereka tampak mencolok. Di sana ada seorang pria berkulit sedikit gelap mengenakan kemeja berlengan pendek. Yang lainnya adalah seorang pria mengenakan kaos putih lengan pendek dengan motif garis-garis lekuk berwarna coklat, dan yang terakhir adalah pemuda yang mengenakan kacamata hitam. Melihatku keluar bersama Odi di belakangku membuat wajah garang mereka sedikit tenang.

Tanpa perlu disuruh, aku tahu kalau aku harus ke arah sana. Aku seberangi jalanan dan mendekati rekan-rekan Odi. Sebelum aku bisa sampai di tempat mereka, Odi mempercepat langkahnya dan mendekati mereka terlebih dahulu.

“Dia menyerahkan diri,” lapor Odi pada rekan-rekannya, “Don, katakan pada Supervisor kalau kita sudah menangkap sang subjek.”

“Aku kira akan lebih sulit, mengingat nasib rekan-rekanmu,” timpal pria berkaos lengan pendek.

“Diam kau, Marco,” kritik Odi pada timpalan pria itu.

Setelah mendengar laporan Odi, salah satu dari mereka—yang Odi panggil dengan nama Don—mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya dan mulai mengetik sesuatu. Ponselnya itu tampak sama seperti milik Odi tempo hari.

“Bagaimana dengan wanitanya?” tanya pria yang mengenakan kemeja berlengan pendek pada Odi.

“Belum diurus,” jawab Odi.

“Apa?”

“Dia memberi syarat kalau dia akan menyerahkan diri kalau aku membiarkannya, aku hanya memenuhi syaratnya.”

“Supervisor memberi perintah ‘jangan ada saksi’.”

Aku tidak suka dengan arah diskusi ini.

“Aku tahu, Darius,” lanjut Odi, “aku memang bilang tidak akan menyakitinya. Tapi bukan berarti kau juga 'kan?”

“Sial kau, Odi...”

Darius, orang yang berbicara dengan Odi, segera berjalan melewatiku dan menyeberangi jalan. Tahu Odi sudah mencurangiku, aku berbalik dan segera mencoba mengejarnya.

“Tahan dia!”

Sayangnya aku tidak berjalan terlalu jauh, kedua orang lainnya—Don dan Marco—segera menangkapku begitu Odi memberi perintah.

Tangan mereka seakan mengekang bagian atas tubuhku, membuatku tidak bisa bergerak maju sama sekali. Sementara aku masih mencoba membebaskan diri, Odi perlahan mengelilingiku sampai dia sampai di hadapan wajahku.

“Kau bilang kau tidak akan menyakitinya!” seruku penuh amarah dan nafas berat.

“Maaf, tapi itulah perintah kami,” jawabnya, dan caranya menjawab yang datar membuatku kesal. “Tapi secara teknis, aku memang tidak menyakitinya.”

Aku tidak bisa menggambarkan kemarahanku lewat kata-kata. Sementara tangan kananku masih tertahan, tangan kiriku masih bebas. Aku angkat tangan kiriku dan mengepal jari-jariku membentuk sebuah tinju. Aku tarik tangan kiriku ke belakang untuk membangun momentum. Namun sebelum aku bisa menerjangkannya ke depan, tangan kiri Don tiba-tiba pindah dari menahan pundak kiriku menangkap pergelangan tangan kiriku.

“Menyerahlah, Letnan, kami benar-benar mengharapkan kesed—”

Pergerakanku terbatas, aku tidak bisa bergerak sama sekali. Namun Marco dan Don hanya mengekang tubuhku untuk bergerak maju. Jadi saat aku secara tidak terduga bergerak mundur, mereka nyaris kehilangan pijakan dan kehilangan cengkraman.

Saat mereka kehilangan keseimbangan, mereka tidaklah lebih dari beban yang menempel di tubuhku. Aku bisa dengan mudah menyeret mereka ke depan tanpa kesulitan. Bahkan dengan mereka menggantung di tubuhku, aku bisa menerjang maju dan menyerang Odi. Bukan dengan tinjuku, tapi dengan tandukan yang kulakukan sembari menerjang maju.

Keningku beradu dengan jembatan hidungnya. Dia terhentak ke belakang karena kaget dengan seranganku hingga dia terjerembab dan mendarat pada bokongnya sambil menggelinding ke belakang dengan menutupi wajahnya. Dan tanpa berhenti, aku menyikut wajah Don dengan siku kiriku.

Sementara aku menyikut wajah Don, Marco mencoba menghentikanku dengan memukuli pinggang kananku. Pada tiap pukulan yang dilayangkannya, aku bisa merasakan nyeri di sisi kananku. Aku coba untuk tidak menghiraukannya. Tapi serangannya itu membuat pukulanku lemah. Untungnya semakin aku terus menyerang Don, cengkramannya juga semakin melemah.

Setelah beberapa serangan, dia melepaskan cengkramannya dari tangan kiriku. Odi masih terus mencoba untuk bangun, tapi belum sanggup melawan balik. Aku masih belum perlu mencemaskannya, aku bisa fokus pada Marco.

Dia tidak terlalu sulit untuk ditangani, aku hanya perlu membalik diri lewat bawah ketiak kananku dan dia langsung melepaskan cengkramannya. Aku lalu menendangnya dengan keras di pinggang kirinya dengan lutut kananku. Dia kehilangan keseimbangan hingga berlutut karena kesakitan. Sementara dia masih menahan sakit di pinggangnya, aku memukul pelipis kirinya dengan tangan kananku.

Marco pun tumbang, groggy namun belum kehilangan kesadaran. Sementara itu Don sudah berhasil menyelinap di kiriku dan menghantam pipi kiriku. Pukulannya lumayan keras, tapi belum cukup untuk menjatuhkanku. Aku melompat ke kanan untuk membuat jarak dan serangan keduanya hanya mengenai angin. Dia nyaris terperosok saat aku mengelak pukulannya. Tapi sebelum dia bangkit, aku menyapu kakinya untuk menjatuhkannya.

Odi masih mencoba berdiri sambil menutupi matanya. Kebetulan dia berlutut di jalurku menuju apartment Vicky, aku langsung berlari ke arahnya, namun sebelum aku melewatinya, aku menendang pipi kanannya dengan lutut kiriku hingga dia terjerembab sekali lagi.

Sementara mereka masih mencoba bangkit, aku sudah setengah jalan menuju apartemen Vicky. Darius sudah menghilang ke dalam semenjak aku menanduk Odi, karena itulah aku harus bergerak lebih cepat. Aku mungkin hanya punya beberapa detik sebelum dia mencelakai Vicky.

Begitu memasuki bangunannya, aku bergegas menaiki tangga dan berlari ke arah apartment Vicky. Aku tiba di sana tepat waktu. Darius baru saja mengarahkan senjatanya pada Vicky yang masih meringkuk di kamar tidurnya. Sebelum dia bisa menarik pelatuknya, aku melewati pintu apartment yang sudah rusak dan menerjang untuk menghalau tangan kanannya.

*BLAM*

Tampaknya, saat aku mendarat di tangannya, Darius menarik pelatuk pistolnya. Untungnya aku berhasil mendorong tangannya. Peluru dari pistolnya mendarat di dinding dekat jendela meja makan, jauh dari Vicky yang meringkuk di kamar tidurnya dengan mata dan telinga yang tertutup.

Perhatianku sempat terlalu teralihkan untuk memastikan keadaan Vicky. Aku sampai tidak menyadari kalau Darius sudah mempersiapkan diri untuk menyerang balik. Dengan senjata di tangan kanannya, dia menghantam bagian kiri wajahku hingga membuatku terdorong dan menabrak dinding di dekat pintu.

Posisiku sedang terancam. Aku sudah membuat jarak yang membuatnya mudah menembakku. Saat aku sadar, aku melihat kalau Darius sudah mengarahkan senjatanya ke arahku, terutama ke arah kakiku.

*BLAM*

Tepat setelah dentuman kerasnya, aku bisa merasakan sengatan dari kedua kakiku. Aku tidak bisa memastikan dari mana asalnya, tapi setelah beberapa detik, aku yakin kalau kakiku tidak tertembak.

Sengatan itu diakibatkan oleh peluru yang mendarat di dinding di sebelah kiri kakiku, saat peluru itu mendarat di dinding, dinding itu sempat bergetar. Dan karena kedua kakiku masih bersandar ke dinding, getarannya sampai ke kakiku.

Setelah aku tahu kalau aku tidak terluka, aku kembali melihat ke arah Darius. Aku menemukan kalau Vicky sedang bergelantungan di tangan kanannya, membuatnya kesulitan untuk mengarahkan senjatanya ke arahku. Bahkan setelah memastikan kalau Darius tidak bisa menembakkan senjatanya, Vicky masih mencoba untuk mempersulit gerakan Darius dengan menggigit lengan bawah Darius. Darius pun menjerit kesakitan, sepertinya gigitan Vicky sangat dalam.

Segera begitu aku memahami keadaannya, Darius mulai mengangkat tangan kirinya, siap untuk memukul Vicky. Aku tahu kalau ini adalah aba-aba kalau aku harus mulai menyerang lagi. Aku lontarkan diriku dengan melentingkan punggungku pada dinding untuk menerjang maju dan menendang pistol dari tangan kanan Darius dengan kaki kananku. Pistolnya itu terlempar jauh dan mendarat di depan dapur.

“Vicky, menyingkir!”

Butuh beberapa detik sampai dia menuruti perintahku, bahkan Darius sempat memukulinya beberapa kali. Mungkin karena gigitannya yang terlalu keras sampai rahangnya jadi kaku, dia butuh beberapa detik untuk melepaskan gigitannya. Setelah Vicky menyingkir, aku langsung menerjangnya.

Melihat caranya berdiri, tegak namun sedikit terbungkuk dengan kedua lututnya tertekuk, aku memijakkan kakiku ke atas lutut kanannya dan melompat ke atas dengan kaki kiriku. Saat aku melompat, aku lepaskan tendangan dengan lutut kananku untuk menendang dagunya dan siku kananku untuk menghantam tengkoraknya berbarengan seperti kunci Inggris.

Begitu selesai menyerang, aku mulai kehilangan keseimbangan seraya Darius terjatuh ke belakang. Aku mendarat dengan keras ke atas lantai pada sebelah kiri punggungku. Setelah aku terjatuh, Vicky segera mendekatiku dan membantuku berdiri.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

Aku tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaannya. Dengan tergopoh-gopoh aku mendekati dinding. Dari sana aku bisa melihat ketiga orang lainnya sudah bisa berdiri. Mereka akan segera menyerang apartment ini.

“Apa ada jalan lain untuk keluar dari sini?”

“Uh... kita bisa pakai tangga darurat.”

“Bagus, di mana tangga daruratnya?”

“Di sana,” serunya sambil menunjuk ke arah jendela yang mengarah ke gang, “tepat di sebelah jendela gang.”

“Tempat ini tidak akan aman untuk saat ini, kita harus pergi. Kau sudah berkemas sesuai perintahku, kan?”

Dia masih tampak enggan, namun juga paham kalau permintaanku sudah menjadi perintah. Dia lalu bergegas ke kamarnya dan mengambil sebuah backpack. Sementara dia mengambil barang-barangnya, aku ambil senjata dan dompet-dompet yang ada di atas meja makan, dan pistol yang masih tergeletak di depan dapur lalu memasukkan semuanya ke saku-saku jaketku setelah memasang safety pistol kedua.

Setelah memunguti semua yang aku butuhkan, aku dekati jendela gang untuk membuka kuncinya dan membukanya. Aku sodorkan kepalaku ke luar dan melihat ke kiri dan kanan. Aku temukan sebuah tangga darurat di sebelah kiriku. Jaraknya tidak terlalu jauh, aku bisa menjangkaunya jika aku melompat.

Begitu aku melihat ke belakang, aku menemukan Vicky sedang mendekatiku. Melihat kedatangannya, aku panjat jendelanya dan berdiri di sebuah pinggiran di bawah jendela. Setelah aku menyeimbangkan diri, aku melompat dan menangkap pagar tangga daruratnya.

Tidak butuh banyak usaha untuk memanjatnya. Saat aku berbalik, aku menemukan Vicky sudah memanjat jendela apartemennya. Aku pun merenggangkan tanganku untuk membuat lompatannya lebih mudah.

“Jangan coba menjangkau tanganku, lompat lalu raih tanganku!”

Melihatnya mencoba menjangkau tanganku dari pinggiran jendela, aku menggeleng dan memberinya arahan. Jika dia terus menjangkau, dia bisa kehilangan keseimbangan dan jatuh kalau gagal. Jatuhnya memang hanya lima meter, tapi pasti masih sakit. Apalagi untuk dia.

Mendengar instruksiku, dia mengambil ancang-ancang lalu melompat dari pinggiran. Tidak sulit untuk menangkap tangan kirinya saat dia melompat, yang mana setelah itu dia kehilangan pijakan dan menabrak pagar tangga darurat.

Aku kerahkan kekuatanku dan mengangkatnya, setelah dia memijakkan kaki di atas pinggiran tangga, dia pun memindahkan diri ke dalam tangga lalu dengan cepat menuruninya ke atas tanah.

Mendengar suara datang dari apartment Vicky, aku pun segera menariknya ke arah jalanan. Takut-takut mereka melihat kami saat memeriksa jendela.

“Aku lupa kunci mobilku!” serunya.

“Tidak apa-apa, lebih baik begitu.”

Jika kami memakai mobilnya. Mereka akan lebih mudah menemukan kami. Untuk saat ini, lebih baik kami bersembunyi di antara keramaian. Dan karena aku tahu kalau sang Supervisor memberi perintah ‘tidak ada saksi,’ aku yakin mereka tidak akan mengeksekusi kami di keramaian.

Begitu kami keluar dari gang, kami mengambil belokan ke kanan dan untuk terakhir kalinya melewati bangunan apartemen Vicky. Dari sini kami hanya butuh melewati satu bangunan lagi sebelum kami sampai di sebuah persimpangan dan menyingkir dari jalan ini.

Meski kami berjalan cepat, kami masih terlambat. Aku bisa melihat dari pojok mataku saat aku berbalik kalau mereka sudah keluar dari bangunan apartemen tepat sebelum kami mengambil belokan ke kanan. Aku tidak tahu apa mereka melihat kami, tapi aku tahu kalau kami sedang butuh kendaraan.

Saat kami mengambil belokan, aku bisa melihat sebuah taksi sedang menunggu penumpang di depan. Sambil merasakan pistolku di balik saku jaketku, aku pikir mungkin aku bisa mendapatkan kendaraan.

“Aku punya rencana,” ujarku memecah keheningan antara kami tanpa membuat kontak mata.

“Rencana?”

“Lihat taksi itu?” ujarku sambil menunjuk ke arah mobil taksi di depan, “bisa kau memintanya untuk mengantarmu ke suatu tempat?”

“Ke mana?”

“Ke mana saja, yang penting buat dia lewat sini.”

“Kenapa? Apa rencana—”

“Dan bergegaslah.”

Meski dengan enggan, dia lalu mendekati supir taksinya dan berbicara padanya sementara aku bersembunyi di sebuah gang.  Aku tidak tahu apa yang Vicky katakan, tapi pada akhirnya dia berhasil membuat supir taksi bersedia mengantarnya.

Sejauh ini, pria-pria itu belum memeriksa jalanan ini. Namun bisa juga terjadi kapan saja. Segera begitu aku mendengar suara mesin mobil mendekat, aku mengambil nafas panjang dan keluar dari gang untuk mendekati mobil taksi yang sedang mendekat.

Aku seberangi jalan hingga aku sampai di tengah jalan. Taksi itu melewatiku sementara aku masih menyeberang. Saat pintu supirnya dan aku sejajar, aku keluarkan pistolku dari saku jaketku dan kugunakan gagangnya untuk menghantam jendela pintu supirnya.

Pukulan pertamaku belum cukup untuk memecahkannya, hanya sebatas membuatnya retak. Namun pukulan keduaku membuat kaca jendela pintu supir taksi itu pecah. Aku pun segera meraih kunci pintu dan membuka kuncinya, aku lalu meraih gagang pintu dan membukanya.

Supir taksi paruh baya itu berteriak dan memberontak mencoba membela diri sementara aku mencoba membajak kendaraannya dengan kasar. Teriakannya menarik perhatian pengejar kami, tapi untungnya begitu mereka melihat kami, aku sudah masuk ke dalam.

“Theodore! Apa yang kau lakukan?!”

“Apapun untuk menyelamatkan diri.”

“...” jawabanku membuatnya terdiam.

Aku kira aku belum pernah mengemudikan mobil sebelumnya, namun insting motorikku seakan mengambil alih. Tangan kiriku mengoper gigi setelah kaki kiriku menginjak pedal paling kiri, dan begitu kaki kananku menginjak pedal paling kanan, mobil ini pun mulai berlari.

Saat aku mulai menjalankan mobil, aku bisa mendengar suara gaduh di belakang mobil. Suara itu berasal dari supir mobil yang mencoba merebut lagi mobilnya. Namun usahanya tidak berbuah. Aku sedikit kasihan melihatnya, namun saat ini aku harus memprioritaskan keselamatan kami.

Sayangnya, kami harus melewati persimpangan tempat apartment Vicky sekali lagi. Dan saat kami melewatinya, kami bertatap mata dengan keempat pria yang masih mencari kami. Kaca mobil yang digelapkan dengan plastik film ini pun tidak banyak membantu.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc