Meski penasaran, aku masih tidak menunjukkan ekspresi apa-apa kecuali lirikan malas ke arahnya. Meski demikian, aku tidak bisa bilang aku senang aku sedang bersama seseorang yang masih dalam lingkaran Einhorn.

“Aku tidak berharap kau senang atau apa. Tapi untuk saat ini, aku hanya berharap kau bisa menjaga dirimu sendiri.”

“...”

“Tidak banyak bicara, ya? Terserahlah, yang penting kau senang. Aku akan sibuk selama beberapa hari ke depan. Lagipula kita tidak punya waktu bicara. Aku harus berada di tempat lain dalam satu jam. Akan kubawakan makanan lagi begitu aku kembali. Semoga aku tidak harus terus melihatmu seperti ini,” ujarnya seraya berdiri, “sampai nanti.”

Yuumi meninggalkan kamar ini, meninggalkanku sendirian. Sempurna. Ruangan ini adalah pengasingan, suaka, dan terungku milikku seorang. Sebuah tempat yang tidak ingin kutinggalkan—sebuah tempat di mana aku ingin berada.

Bagaikan tertidur dengan mata terbuka, aku menolak untuk berpikir namun waktu seakan berlalu dengan cepatnya. Berikutnya, aku sadari bahwa waktu sudah siang. Sinar matahari kini menyinari bagian lain kamar ini. Aku lapar. Maka dari itu, aku meraih kotak makanan di sampingku dan memakannya.

Seperti inilah aku menghabiskan waktuku hari ini; tidak bergerak di pojok kamar hotel ini, kecuali saat aku butuh menggunakan kamar kecil.

Meski aku menunggu sampai malam, Yuumi masih belum kembali. Bahkan hanya terduduk di titik yang sama selama berjam-jam membuatku letih. Pada satu waktu, aku jatuh tertidur.

Pagi berikutnya, setelah beristirahat dalam tidur tak bermimpi, aku bangun dengan menemukan dua perubahan di kamar ini. Pertama adalah adanya sekotak makanan di sampingku lagi dan kotak makanan kosong kemarin sudah dibuang dan yang kedua adalah aku menemukan mantel lab Yuumi digantung di sisi kasurnya.

Itu artinya, dia sudah melepaskan rantai yang mengikat tangannya dengan kopernya. Meski begitu, sepertinya Yuumi sudah pergi lagi.

Demikianlah, aku ulangi lagi kegiatanku kemarin; duduk diam di pojok ini tidak bergeming, hanya menghabiskan waktu sambil merasa sakit.

Keesokannya juga sama, aku tertidur tanpa bermimpi dan kali ini aku terbangun sebelum Yuumi berangkat namun setelah ia membersihkan sisa makanku kemarin dan menggantinya dengan yang baru. Sesuai perkiraanku, tangannya tidak lagi terikat pada kopernya. Meski sedikit penasaran, aku tidak ingin tahu apa yang sudah terjadi pada kopernya. Bahkan ketika ia menyadari aku sudah terbangun sebelum ia berangkat, ia tidak menggangguku. Ia hanya meninggalkan kamar ini tanpa mengatakan apa-apa.

Aku rasa, tidak ada jenis hubungan yang bisa menggambarkan cara kami hidup selama beberapa hari ini.

Keesokan harinya—lagi, setelah terlelap dalam tidur tak bermimpi, aku terbangun tidak dengan Yuumi di kamar ini. Ia sudah pergi lebih awal dan melakukan rutinitasnya terhadapku; membersihkan sisa makanku kemarin dan menggantinya dengan yang baru. Hanya saja, kali ini ia juga membawakanku satu set pakaian baru. Meski demikian, aku tidak punya keinginan untuk mengenakannya.

Keesokannya masih sama. Tidak ada yang berubah kali ini.

Keesokannya juga masih sama. Hanya saja di bawah makananku, ada kertas dokumen di bawahnya.

Dokumen ini adalah versi tidak teredaksi dari data-dataku yang ia tunjukkan padaku seminggu lalu di kantornya kali pertama aku bertemu dengannya. Ia memenuhi janjinya, tapi aku tidak bisa menghargainya. Aku mendengus dan merobek kertas ini menjadi potongan kecil hingga tak terbaca lagi. “Apa maunya dengan memberiku ini? Aku sudah tahu semua ini,” batinku.

Meski tahu apa yang sudah kulakukan, keesokan harinya aku terbangun menemukan ruangan ini sudah bersih seperti biasanya.

Yuumi melakukan rutinitasnya seakan tidak ada yang terjadi. Kali ini, aku merasa bersalah padanya. Aku tahu aku harus minta maaf.

Setelah beberapa hari ini, hari ini adalah kali pertama aku ingin berpikir. Setelah tertidur beberapa malam tanpa melihat mimpi-mimpi yang biasanya kusaksikan, aku tahu sesuatu pasti telah berubah dalam diriku. Aku ingat bahwa diriku yang satunya mengatakan bahwa “ini mungkin kali terakhir kita bertemu,” jadi ini maksudnya. Aku tidak lagi bisa bermimpi.

Lalu sekarang bagaimana?” tanyaku pada diriku sendiri.

Untuk saat ini, aku rasa sebaiknya aku lakukan apa yang ingin Yuumi aku lakukan. Ia ingin agar aku menjaga diriku sendiri. Bermuram selama ini sudah membuatku tumpul, meski demikian akhirnya aku bisa berpikir jernih. Aku bangkit dari pojok kamar ini dan membawa pakaian yang dibawakan Yuumi bersamaku ke dalam kamar mandi.

Setelah beberapa hari, ini adalah kali pertamanya aku membasuh diriku. Dan juga kali pertama aku memandang cermin. Setelah segala yang terjadi, memandang cermin terasa surreal. Tiap kali melihat pantulan diriku, aku berharap bayanganku akan melakukan sesuatu atau mengatakan sesuatu yang tidak kulakukan atau katakan. Meski sekarang, aku tidak lagi mengenali apa yang aku lihat di pantulan cermin lagi.

Setelah beberapa hari ini, tampaknya telah tumbuh rambut di wajahku—meski masih tipis dan hanya tunggul—di depan telinga, sepanjang rahang dan di bawah hidungku. “Astaga, aku terlihat seperti orang tua,” aku ingin bercukur, namun tidak menemukan pisau cukur. Untuk sementara ini, aku biarkan saja.

Sekarang aku sudah merasa lebih baik. Masih sakit, namun lebih baik. Aku keluar dari kamar mandi dengan penampilan baru. Sekarang aku ingin melakukan sesuatu, tapi masih belum tahu apa. Sementara ini, aku hanya bisa menunggu Yuumi kembali.

Aku dudukkan diriku di sisi kasurku menantikannya. Namun setelah berjam-jam menunggu, aku bosan dan mengantuk. Aku jatuh tertidur. Lagi, aku tidak bermimpi. Namun setelah aku memikirkannya, tidur tanpa mimpi itu menakutkan. Demikian, aku terbangun dengan panik seakan sudah bermimpi buruk.

Jika seperti ini tidurku sekarang, aku rasa aku akan jarang tidur mulai sekarang.

Tapi, terbangun seperti ini sedikit membantu. Jendela masih menunjukkan langit malam di luar. Meski tidak ada pencahayaan, aku bisa menemukan Yuumi tertidur di kasurnya sambil masih mengenakan pakaian kerjanya bahkan tanpa melepas sepatunya. Aku tidak ingin tertidur lagi saat ini, aku dudukkan diriku di sisi kasurku dan menunggu hingga ia terbangun.

Tidak butuh waktu lama. Bahkan sebagai orang yang jarang tidur, Yuumi masih tidak butuh banyak istirahat. Satu jam kemudian, saat jam di dinding menunjukkan 4:15 pagi, Yuumi terbangun.

“Astaga!” jeritnya saat ia membuka mata menemukanku terduduk memandanginya.

Aku tidak bereaksi. Aku hanya terus memandanginya sementara ia meraba-raba meja di samping kasurnya mencari kacamatanya. Setelah menemukannya, ia bangun dan menyalakan lampu.

“Astaga, Six. Aku kaget tahu,” komentarnya setelah memastikan keadaan.

“Maaf.”

“Tidak apa,” ia menjeda seraya mendudukkan dirinya di sisi kasurnya menghadapku, “sudah merasa baikan?”

“Ya. Terima kasih.”

“Baguslah. Kalau kau bisa menunggu beberapa—”

“Dengar, aku juga ingin minta maaf atas kelakuanku beberapa hari ini.”

“Sudah kubilang, tidak apa-apa. Aku senang kau sudah kembali seperti biasa lagi.”

“Tapi aku ingin tahu, apa saja yang sudah kau lakukan seminggu ini?”

“Seperti yang sudah kujanjikan; aku menggali dalam-dalam ke lingkaran Einhorn. Aku sedang mengumpulkan data sebanyak mungkin tentang project ALLBLACK. Tapi sayangnya, aku tidak bisa menemukan data lebih jauh tentangmu.”

“Tidak apa-apa. Bagaimana kau melakukannya?”

“Aku tidak yakin kau ingat. Tapi hari pertama kita di sini, aku menghubungi teman lamaku. Ia adalah seorang supervisor di sini, di Singapur, sama sepertiku di Istanbul. Ia punya hutang padaku, jadi aku rasa ini waktu yang tepat untuk menagihnya. Tapi sepertinya aku sudah meminta terlalu banyak. Aku meminta bantuan dana dan bantuan memasukkan diriku ke database Einhorn Foundation.”

“Itu bahaya, kan?”

“Yeah, sedikit. Tapi aku berani menanggung resikonya karena mereka juga sudah menembak jatuh pesawat yang kutumpangi. Setelah menerima uang dari temanku, aku lepaskan rantai di koperku. Setelah itu, aku pesan agar koper itu dibuka tanpa merusak isinya sementara aku mencari dokumen travel palsu dan senjata di pasar gelap,” ujarnya sambil menunjuk ke bawah meja di samping kasurnya, di mana kopernya bersandar bersama sebuah tas plastik.

“...” aku menghela nafas sambil mengusap wajahku. “Seharusnya kau tidak bertindak sejauh ini.”

“Aku tidak keberatan. Lagipula, aku akhirnya mengerti posisimu. Bagaimana rasanya tidak punya apa-apa lagi yang bisa direnggut dariku.”

“Kalau begitu, biarkan aku membantu.”

“Justru sebaliknya, biarkan aku membantumu. Aku melakukan semua ini demi dirimu untuk memuaskan diriku. Maka dari itu, setidaknya biarkan aku bertindak sesuai rencanaku.”

“Baiklah, kalau memang itu maumu.”

“Memang. Maka dari itu, aku harus segera berangkat.”

“Mau ke mana?”

“Mencari data,” ujarnya sambil berdiri dan mengambil kopernya, “aku akan kembali sebelum tengah malam. Makananmu di dalam tas plastik ini. Sampai nanti.”

Yuumi berjalan keluar dari ruangan, meninggalkanku sendirian lagi. Sebagian dari diriku ingin mengikutinya, namun aku urungkan niatku. Aku pun hanya menunggu.

Enam jam kemudian, aku baru menyadari bahwa sendirian menyendiri di ruangan ini ternyata membuatku nyaris gila. Entah bagaimana aku bisa bertahan sebelumnya.

Karena aku punya banyak waktu, aku kira sebaiknya aku memanfaatkan waktuku. Beberapa hari belakangan ini, aku sama sekali belum bermimpi. Karena sekarang pikiranku sudah jernih, aku harus tahu apa ini masih terus terjadi. Aku pun memutuskan untuk tidur siang. Butuh agak banyak waktu karena beberapa hari ini aku sudah banyak istirahat. Tapi setelah terdiam untuk beberapa saat, aku berhasil jatuh tertidur.

Aku terbangun dua jam kemudian dengan sebuah kepastian; aku tidak bisa bermimpi lagi.

Aku habiskan sisa hari ini dengan memandang kosong langit-langit kamar sambil berbaring di kasur. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan. Tidak ada juga yang ingin kulakukan. Tapi meski demikian, aku tidak jatuh tertidur lagi sampai sebelum tengah malam.

Sesuai dugaanku, aku tidak bisa bermimpi lagi. 9 hari terakhir ini sudah membuktikannya. Aku tahu, aku pasti tidak mungkin tertidur sebanyak ini tanpa bermimpi.

Six! Six! Bangun, Six!

Sebuah suara. Apa aku bermimpi? Sayangnya tidak. Aku dibangunkan oleh sebuah suara yang mana pemiliknya sedang mengguncang-guncang badanku yang sedang beristirahat. Segera aku membuka mataku dan kutemukan Yuumi berjongkok di samping tempat tidurku sedang mengguncang bahuku.

“Hey, bangun,” lanjutnya sambil membangunkanku dengan menampar pipiku dengan pelan.

“Ada apa”

“Aku tidak punya waktu banyak, jadi langsung saja; aku rasa aku dikhianati.”

“Apa?” tanyaku sambil mengangkat kepalaku.

“Mungkin tidak dikhianati seperti ditusuk dari belakang. Lebih seperti, orang yang aku percayai tidak mau lagi membantuku.”

“Ceritakan padaku apa yang sudah terjadi.”

“Selama beberapa hari ini, aku sudah menggunakan akses internet umum untuk menembus kerangka data Einhorn Foundation untuk mencari informasi. Kolegaku memasangkan sebuah patch ke servernya supaya aku bisa menggunakannya sebagai titik akses pintu belakang. Masalahnya adalah entah aku yang sudah melewatkan sesuatu saat sedang membangun pintu belakangnya atau kolegaku yang sudah melaporkanku.”

“Tahan, aku sama sekali tidak bisa mengerti. Coba katakan lagi dengan kata-kata yang lain.”

“Singkat cerita, kita tidak bisa berada di sini lebih lama lagi.”

“Ah, sial. Kapan kau sadar?”

“Kapan pastinya, aku tidak bisa bilang. Tapi aku sangat yakin kalau aku sedang diikuti.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku sudah berhati-hati selama ini, jadi aku baru saja menyadari kalau beberapa orang sedang bergiliran mengikutiku.”

“Siapa?”

“Karena mereka mengikutiku, artinya mereka adalah orang-orang yang berhubungan dengan Einhorn Foundation. Tebakanku adalah tentara bayaran yang bekerja di bawah kolegaku. Aku tahu ini karena dulu ini pekerjaanku, ingat?”

“Kalau begitu... kapan kita harus pindah?”

“Pagi ini. Aku sudah mengakhiri masa tinggal kita di hotel ini, kita harus segera pergi sebelum pagi.”

“Oke, kalau begitu,” jawabku seraya bangkit dari tempat tidur.

“Hey, kau mau ke mana?” tanya Yuumi segera begitu melihatku bangun. “Kau tidak mau tidur lagi?”

“Nah, justru aku kira kau yang butuh istirahat.”

“Tidak, kok,” timpal Yuumi seraya berdiri. “Kalau kita berdua sama-sama tidak butuh istirahat, kalau begitu lebih baik kita berangkat sekarang.”

Yuumi berbalik, kembali ke tempat tidurnya dan memungut mantel di pojoknya sebelum mengenakannya. Sesuai apa yang dikatakannya, semakin cepat kami bergerak semakin naik.

“Boleh saja. Ke mana tujuan kita?”

“Aku masih belum tahu. Yang pasti kita harus cari hotel lain dulu,” lanjut Yuumi sambil berjalan menuju ke jendela dan memandangi cakrawala, “hotel yang terdekat jaraknya 3 kilometer dari sini—sial.”

Saat ia hendak menunjuk ke satu titik di cakrawala, ia terdiam dan mematung. Setelah beberapa detik, ia mengambil langkah pelan mundur. Aneh melihatnya bersikap seperti ini. Sesuatu telah mengubah sikap tegasnya tadi.

“Ada apa? Apa ada yang salah?”

“Yeah. Salah satu orang yang membuntutiku,” Yuumi berbalik dan bicara dengan nada serius, “dia di sini.”

“...” aku menjeda beberapa saat sebelum aku mendekati jendela dan membalas, “oh.”

Mendengar jawaban singkat dan melihatku mendekati jendela, Yuumi menangkap sikuku dan menghentikan jalanku. Aku berbalik dan menemukan Yuumi sedang menatapiku tajam sambil menempelkan siku jari telunjuk ke bibirnya, menyuruhku untuk jangan berisik.

“Jangan sampai mereka tahu kau bersamaku. Kalau sampai mereka tahu, bisa jadi masalah untukmu nanti.”

“Oke, kalau begitu katamu. Tapi apa tidak sebaiknya kita menghentikannya?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu... pagi ini, kau bilang kau punya senjata?”

“Yeah, aku simpan di koperku.”

“Berikan aku satu.”

Yuumi melepaskan pegangannya dari sikuku dan mendekati kopernya di atas kasur. Ia membukanya dan melihat ke dalam. Ia rogoh sebuah saku di sisi yang terangkat dan mengeluarkan sebuah pistol hitam. Tanpa menutup kopernya, ia menyerahkan pistol itu padaku.

“Cukup bagus,” ujarku sambil menerima pistolnya sebelum melepaskan klip dan memeriksa apakah ada isinya.

“Ada isinya, kok.”

Aku pura-pura tidak mendengarnya. Setelah memeriksa sightnya kumasukkan lagi klip ke dalamnya dan kumuat sebuah peluru ke chambernya.

“Beritahukan ciri-cirinya padaku,” lanjutku.

“Apa rencanamu?”

“Akan kuhabisi dia. Setelah itu, kita harus segera bergerak.”

“Baiklah... hmm... seorang pria mengenakan topi baseball merah. Ia juga mengenakan T-shirt hijau. Saat aku melihat ke luar tadi, ia sedang berdiri di gang antara minimarket dan kantor periklanan.”

“Aku mengerti. Sebaiknya kau tunggu di luar. Temui aku di lobby, dekat tangga darurat.”

“Boleh saja. Tapi kau mau apa?”

“Tunggu saja aku di sana. Satu menit lagi aku akan segera menyusulmu.”

“...” Yuumi melangkah menjauh. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, ia menutup kopernya dan mendekati pintu. “Jangan lama-lama.”

Yuumi berjalan keluar dan menutup pintunya. Setelah aku sendirian, aku berjalan mendekati jendela sebelum membuka dan melihat ke luar—melihat ke bawah.

Ada beberapa orang di trotoar di bawah. Semuanya pejalan kaki, kecuali untuk seorang pria di satu titik. Seperti yang Yuumi jabarkan, di sebuah gang antara sebuah minimarket dan kantor periklanan, berdirilah seorang pria mengenakan kemeja hijau dan topi baseball merah dengan kacamata hitam menutupi matanya.

Pria ini bersandar ke dinding luar minimarket, dengan santainya mengawasi bangunan hotel—terutama ke arah jendela kamar ini.

Meski matanya terhalangi—namun tidak salah lagi—tatapan kami beradu. Meski hanya tiga lantai di atas tanah, angin di sini cukup kuat. Untungnya debu tidak terbang setinggi ini. Sambil saling menatapi satu sama lain, ia bereaksi pelan. Dari jarak ini sekalipun, aku bisa melihat jemarinya sedang aktif menekan-nekan tombol di ponsel yang ia pegang. Ia sedang mengirimkan laporan teks ke seseorang.

Lebih tepatnya, tadinya ia sedang mengirim laporan teks ke seseorang.

*BLAM*

Tanpa lama-lama membidik, aku angkat pistolku ke luar jendela dan menarik pelatuknya. Hanya butuh kurang dari satu detik untuk membidik karena aku sudah memperkirakan jalur yang dibutuhkan peluru agar bisa mengenai keningnya. Pistol seperti ini tidak dirancang untuk akurat dari jarak ini, belum lagi anginnya. Setelah aku arahkan pistol ini ke titik yang kuinginkan, aku lepaskan sebuah tembakan.

Ledakannya mengejutkan pejalan kaki di bawah, termasuk penguntit kami. Namun sepertinya ia sudah meremehkan kemampuan menembakku. Meski menyadari pistol yang kukeluarkan, ia nyaris tidak bereaksi. Itulah kesalahannya. Karena aku tidak membidik ke arahnya, ia tidak menyangka pelurunya membelok dan mengenainya di kening—tepat di tengah topi baseballnya.

Karena semua orang di bawah sedang mencari sumber letusan tembakan tadi, tidak ada yang menyadarinya roboh ke tanah. Ia sudah salah mengenakan topi merah. Melihat itu, aku tutup jendela ini dan memungut mantelku sebelum berjalan ke luar kamar sambil menyembunyikan pistol ini di punggung celanaku.

Saat aku sedang menyusuri koridor ini menuju ke tangga terdekat dan sambil mengenakan mantelku, tamu-tamu hotel membuka pintunya dan memandangi satu sama lain—mencari tahu apakah suara tembakan tadi dilepaskan di dekat mereka. Meski begitu, di tengah kebingungan ini, aku berhasil menyelinap ke sebuah tangga di balik elevator.

Aku turuni tangga berkelok beberapa kali hingga aku sampai di lantai dasar. Dari sana, aku ikuti koridor lagi hingga aku sampai di sebuah pintu yang menuju ke tangga darurat. Di sana, aku menemukan Yuumi menunggu.

“Akhirnya datang juga,” sambut Yuumi menyadari kehadiranku, “bagaimana?”

“Meski tidak mengejutkan, aku baru tahu kalau aku berbakat dalam menembak jarak jauh.”

“Hah?”

“Tidak usah dipikirkan,” ujarku seraya menangkap siku dan menyeretnya lebih dalam ke koridor ini.

Setelah berjalan agak lama, Yuumi menarik balik tangannya, memintaku melepaskan tanganku dari sikunya. Aku menurut dan kami berjalan cepat melewati fasilitas-fasilitas hotel. Pertama kami melewati kamar kecilnya, lalu kami berjalan melalui dapurnya. Semestinya kami tidak berada di sini, maka dari itulah kami menarik perhatian. Namun meski mereka tampak keberatan dengan kehadiran kami, tidak ada yang mencoba menghentikan kami.

Setelah berjalan lebih jauh, kami akhirnya menemukan pintu belakang menuju ke area bongkar muat. Tempat ini terhubung dengan gang belakang hotel. Kami menyusuri gang hingga kami tiba di jalan utama. Jalan ini terhubung dengan persimpangan yang menimpangi jalan yang menghadap sisi kamar hotel kami. Sambil menyusuri jalan ini, kami menyaksikan orang-orang berkerumun di samping minimarket sebelum kantor periklanan.

“Terus jalan,” ujarku pada Yuumi yang tampak penasaran dengan apa yang sudah terjadi.

“Wow,” serunya kagum setelah kami menyeberangi persimpangan, “kau membunuhnya dengan satu tembakan dari lantai tiga di depan umum. Mengagumkan.”

“Kau sudah pernah lihat yang lebih mengagumkan lagi.”

“Memang. Tapi tetap saja, mengagumkan buatku.”

Dari sini, aku biarkan Yuumi memimpin. Lagipula dia yang tahu ke mana tujuan kami. Karena kami saling terdiam, aku punya waktu untuk berpikir. Aku sedang memikirkan keamanan kami. Aku tahu, aku bisa menjaga diriku, tapi hal yang sama tidak bisa dijamin untuk Yuumi. Setelah apa yang dilakukannya seminggu ini, aku rasa sekarang sudah waktunya.

Aku butuh bicara dengannya. Aku harus mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku. Maka dari itu, saat kami berjalan melewati sebuah warung kopi, aku berhenti berjalan. Beberapa langkah kemudian, Yuumi yang menyadari aku tidak lagi mengikutinya ikut berhenti. Ia berhenti dan berbalik.

“Arasaka, ke sini dulu sebentar.”

“Apa? Kau lapar? Tunggu sampai kita dapat kamar dulu.”

“Tidak, tidak. Aku hanya ingin bicara.”

“Tidak bisa ditunda?”

“Tidak. Ini penting.”

“Baiklah”

Meski sambil menggelengkan kepalanya, Yuumi menerima ajakanku dan mulai berjalan ke arah warung kopi.

Kami masuki warung kopi ini dan duduk di pojokan. Kami tidak ingin terlihat. Setelah mendudukkan diri kami, seorang pramusaji menyambut kami dan menanyakan pesanan kami. Karena kami datang ke sini bukan untuk menikmati suasana, kami sama sekali tidak tahu apa yang harus kami pesan. Maka dari itu, kami hanya memesan coklat panas karena sekarang hampir pagi.

Setelah mencatat pesanan kami, pramusaji itu meninggalkan kami. Sekarang kami sudah sendiri. Kami saling menatap, sudah saatnya bicara.

“Untuk apa kita di sini?” tanya Yuumi.

“Aku baru saja berpikir... aku rasa tidak aman kalau kau tetap bersamaku.”

“Jangan cemas, aku bisa jaga diri.”

“Itu masalahnya. Kau pikir kau bisa menjaga dirimu, tapi kau meremehkan lawan kita. Kita sama-sama tidak menduga pesawat kita akan ditembak jatuh, 'kan? Bahkan kau membuatku terkejut di Istanbul. Lawan akan muncul saat kita tidak menduga kedatangan mereka.”

“...” Yuumi menjeda, ia tampak merenungkan apa yang baru saja kukatakan, “mungkin kau ada benarnya. Tapi kau masih butuh aku. Akulah penghubungmu dengan sisi dalam Einhorn Foundation.”

“Apapun yang aku butuhkan darimu tidak akan berguna jika tidak ada yang bisa melindungimu.”

“Tidak adil. Sekarang kau seakan bilang kalau aku hanya beban untukmu.”

“Jangan tersinggung, tapi sedikitnya iya. Cepat atau lambat, aku kuatir kau akan menarik perhatian lebih banyak lawan atau entah bagaimana mengancam posisi kita. Kalau itu terjadi, aku yang akan harus menyelamatkan kita berdua. Setelah menimbang resikonya, aku tahu aku tidak seharusnya mengambil risiko ini.”

“Kalau begitu, ke mana lagi aku harus pergi?!” tanya Yuumi sambil membantingkan telapak tangannya ke atas meja.

Untungnya sedang tidak banyak pelanggan di kedai ini sekarang. Hanya sang barista dan pramusaji dan dua orang pengunjung yang menatap kami berat. Tapi mau bagaimana lagi?

Sementara untuk pertanyaan Yuumi, aku sama sekali belum memikirkannya. Selama berjalan tadi, aku hanya memikirkan bagaimana agar ia tidak berada di tengah medan pertempuran. Tapi aku belum memikirkan di mana ia seharusnya berada.

Sayangnya, pramusaji harus datang mengantarkan pesanan kami di saat ini; saat Yuumi dan aku sedang berargumen. Mengingat suasana yang berat di antara kami, agak canggung mendapati pihak ketiga di antara kami.

“Kau tahu 'kan tidak ada tempat lagi yang akan menerimaku?”

“...” aku terdiam sementara aku memikirkan kata-kata yang tepat untuknya.

“Satu-satunya alasan kenapa aku sudah berbuat banyak untukmu beberapa hari ini adalah karena aku tidak punya kehidupan lagi. Aku tidak punya pilihan lain. Selain itu, aku tahu aku sudah banyak melakukan kesalahan terhadapmu. Aku tidak ingin kau melihatku seperti itu lagi.”

“Itu dia. Setelah minggu ini, aku tidak bisa melihatmu sama seperti dulu. Kau bukan orang jahat. Keadaan kita yang mengharuskan kita untuk saling menyalahkan. Aku paham itu sekarang.”

“Kalau begitu... begini saja? Apa di sini kita harus berpisah?”

“Ya. Dan untuk pertanyaanmu sebelumnya, aku rasa aku tahu ke mana kau harus pergi. Apa kau ingat dengan dokumen tentang data diriku? Dari mana asalku?”

“Ya, aku ingat. Kau berasal dari sebuah panti asuhan di Eropa.”

“Benar. Tempatnya bernama panti asuhan Edelweiss. Kemarin kau bilang kau sudah membeli dokumen travel palsu, 'kan? Naik pesawat, cari pengurusnya. Namanya Claudia Magdalene. Ceritakan padanya semua yang kau tahu, ia pasti akan menerimamu.”

“Baiklah...” Yuumi menjeda, melihat ke dalam gelas coklat panasnya. “Tapi setidaknya, biarkan aku berguna sekali lagi.”

“Kalau memang bisa membuatmu lebih tenang, aku tidak keberatan.”

“Bagaimana perasaanmu?”

“Tidak sebaik dulu. Tapi untuk saat ini, aku baik-baik saja.”

“Bukan itu maksudku. Maksudku, bagaimana pikiranmu? Waktu kita pertama kali bertemu, kau bilang kau dihantui halusinasi. Kau juga bilang kalau kau mencatat kegiatan alam bawah sadarmu ke dalam sebuah jurnal. Bagaimana dengan sekarang?”

“Oh, benar juga... jurnalku,” ujarku sambil mengingat buku itu, “jurnalku hilang sejak kejadian di pesawat itu.”

“Sayang sekali.”

“Yeah, mau bagaimana lagi. Lagipula, karena sekarang aku tidak bisa bermimpi lagi, aku sudah tidak butuh kalaupun aku masih memegang jurnal itu.”

“Tunggu dulu—apa katamu? Kau tidak bisa bermimpi lagi?”

“Yeah. Setelah apa yang terjadi di pesawat, aku sudah kehilangan kemampuan untuk bermimpi. Tidur terasa seperti melompati waktu sekarang.”

“Ini langka. Sebagai orang yang sedang menderita amnesia, seharusnya kau selalu bermimpi. Kenangan yang terkubur seringkali menampakkan diri sebagai proyeksi alam bawah sadar. Kecuali kalau ini memang sebuah mekanisme pertahanan yang secara sadar kau bangun.”

“Mekanisme pertahanan?”

“Kalau boleh aku tanya, apa kau pernah berpikir secara orang ketiga? Maksudku, apa kau pernah mencoba memikirkan sesuatu namun bagaikan ada orang lain yang membisikkan jawaban dari apa yang kau cari?”

“...” aku terdiam. Aku menatap Yuumi dengan wajah penasaran, “seperti yang kau jelaskan tadi, aku memang begitu. Lebih tepatnya, aku pernah seperti itu.”

“Pernah? Aku mengerti sekarang...”

“Apa? Apa yang kau pahami?”

“Pikiran manusia tidak seperti kotak yang penuh suvenir. Tapi lebih seperti mekanisme jam, satu hal mengarah ke hal lain menghasilkan satu keluaran dan proses ini berjalan secara perpetual. Namun seberapa canggih jam sekalipun, dia tidak akan bisa memperbaiki dirinya sendiri saat ada bagian yang tidak bekerja sempurna. Ada banyak cara untuk memperbaiki dirinya, dan biasanya pikiran menyembuhkan dirinya sendiri seperti ekor cicak. Tapi di beberapa kasus yang ekstrim, daripada memperbaiki dirinya sendiri, pikiran menciptakan mekanisme luar yang membantunya memperbaiki diri. Mekanisme ini disebut 'helper'. Helper adalah teknik memori yang bisa diprogram untuk melakukan sesuatu. Dalam kasusmu, mencegah kenangan mencapai katharsis dengan cara memisahkan pengalaman dan nilainya. Dengan begini, kenangan yang terfragmentasi tidak akan mempengaruhi noesis masternya sebelum menjadi ideal dan selaras dalam nous sang master.”

“Aku tidak banyak paham apa yang baru saja kau ucapkan. Sederhananya, keadaanku ini baik atau buruk?”

“Entahlah. Aku belum pernah menemukan kasus helper yang sangat ekstrim seperti dirimu. Biasanya, helper diciptakan dari atau oleh bagian pikiran yang paling ingin dilindunginya. Tapi kalau sampai bisa mencegah kenangan yang terkubur untuk bocor sebagai mimpi... itu artinya helpermu sudah mengakarkan dirinya ke dalam pikiranmu. Dari situ, aku hanya bisa menarik kesimpulan bahwa kau punya pikiran yang amat sangat kuat. Dan itu saja sudah bagus.”

“Baiklah...”

“Kau pasti akan pulih. Jika saatnya tiba, semua kenanganmu tidak akan mengubah siapa kau sekarang. Itu yang membuatmu istimewa. Hanya saja...”

“Hanya saja apa?”

“Aku tidak yakin kau akan suka dengan apa yang kau ingat.”

“Dengan kata lain...?”

“Tidak ada. Itulah yang akan kau hadapi cepat atau lambat; dirimu sendiri. Apapun yang sedang kau hadapi saat ini, bukan apa-apa dibanding konflik dalam diri yang akan kau hadapi saat ingatanmu kembali, termasuk segala tentang project ALLBLACK. Project ALLBLACK tidak sama seperti tugas ilmiah anak sekolah. Tiga subjek dalam pengawasanku tewas karenanya. Apalagi kau sampai ke tahap yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka di atas dua subjek lain. Menyerap dan mengurutkannya tidak akan mudah, apalagi tanpa apa yang membantumu menjalaninya terakhir kali.”

Mendengar penjelasan Yuumi, aku menunjuk ke bawah meja. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kuharapkan. Aku takut. Sesuatu sedang terjadi dalam diriku dan tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghentikannya.

“Sepertinya aku harus minta maaf,” ujar Yuumi setelah menjeda sesaat.

“Hah? Untuk apa?”

“Aku sudah membuatmu takut, 'kan?”

“Tidak, tidak. Kau hanya mengatakan kebenaran. Aku harus menerimanya suka atau tidak suka.”

“Begitu juga denganmu. Aku sudah bisa menerima hal apa yang harus kulakukan berikutnya. Maka dari itu, ini hadiah terakhir dariku.”

Yuumi menjangkau ke kopernya dan membukanya. Ia mengeluarkan dua benda; sebuah folder file berukuran besar dan sebuah amplop. Dari ukurannya, folder ini pasti berat sampai-sampai Yuumi butuh dua tangan untuk mengangkutnya ke atas meja.

“Apa ini?” tanyaku setelah ia memindahkan folder ini ke atas meja.

“Ini adalah segala yang kukumpulkan selama seminggu ini. Dua ribu halaman tentang asal-usul project ALLBLACK. Isinya adalah catatan, artikel, jurnal, hingga pesan-pesan terarsip dari empat tahun lalu hingga pertama kali dijalankan dua setengah tahun lalu. Aku bisa saja mencari lebih banyak, tapi karena... kita harus berpisah di sini...”

“Tidak apa. Ini saja sudah lebih dari cukup.”

“Akan butuh waktu untuk bisa menarik cerita yang koheren dari data sebanyak ini. Aku tidak ingin mengingatnya lagi, aku serahkan tugas ini padamu sekarang.”

“Baik. Aku rasa aku bisa.”

“Selain itu...”

Yuumi melemparkan sebuah amplop coklat ke arahku. Karena amplopnya mendarat di pangkuanku, aku harus melihat isinya. Meski demikian, dari perasaan permukaannya, sepertinya amplop ini berisi lebih banyak kertas.

“Di dalamnya ada dokumen travel, semestinya bisa diterima di negara-negara besar di Eropa-Asia. Di dalamnya juga ada uang tunai, semestinya cukup untuk menghidupimu antara enam sampai delapan bulan ke depan.”

“Bagaimana denganmu? Apa yang kau pegang cukup?”

“Tentu saja. Aku akan memulai hidup baru, jadi aku tidak butuh banyak. Yang aku bawa hanya arsip-arsip riset. Aku tidak butuh apa-apa lagi.”

“Apa kau yakin?”

“Ya. Sisanya bisa aku usahakan. Lagipula kau lebih butuh itu daripada aku.”

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak untuk segalanya.”

Yuumi bangkit dari kursinya sambil membawa kopernya. Setelah ia berdiri, ia membungkuk dalam ke arahku.

“Kau juga,” ujar Yuumi sambil terbungkuk. “Aku merasa terhormat. Aku doakan semoga kau beruntung.”

Tanpa mengatakan apa-apa lagi. Yuumi mengangkat badannya dan tersenyum sebelum pergi. Ia meninggalkanku sendirian di meja sementara aku hanya bisa menontonnya berjalan keluar dari warung kopi sebelum berdiri di sisi jalan, menunggu selama beberapa detik sebelum memanggil sebuah taksi dan masuk ke dalamnya.

Sambil memasuki taksinya, ia melihat ke arahku untuk terakhir kalinya. Bibirnya bergerak, mengatakan sesuatu.

Sayonara, Ferno.

Ia menutup pintu taksinya, dan segera mobil itu bergerak pergi. Yang tersisa hanya diriku, sendiri di warung kopi ini. Setelah mengetahui kisahnya, diam-diam aku mengharapkan keselamatannya.

Hanya saja, kali ini aku tidak membiarkan diriku terbawa oleh perpisahan lagi.

Melihat folder yang berukuran sangat besar hingga nyaris konyol ini, aku tahu aku punya banyak hal untuk dikerjakan.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc