27 Juni 2010

Di sekitar laut Andaman

23.28

Kali ini aku kira aku benar-benar sudah mati. Tapi lagi, menyadari aku bisa memikirkannya, aku tahu kalau aku masih hidup. Aku hanya terperangkap dalam ruang alam bawah sadarku, seperti biasa.

Aku temukan diriku berdiri di tengah ruang tak berbatas yang sering kukunjungi ini, berdiri tanpa berpikir, bahkan tidak memikirkan kenapa aku bisa ada di sini. Namun aku masih ingat bahwa aku tidak seharusnya berlama-lama di sini. Karena di luar sana—di luar penjara mentalku—aku sedang dalam bahaya.

Mengetahui itu, aku mencoba lari meski tidak ada tempat yang bisa kutuju. Aku hanya berlari kencang maju, mencoba mengejar cakrawala tak berbatas dengan sedikit berharap aku bisa mengeluarkan diriku dari sini.

Dalam dunia mimpi ini, aku tidak bisa merasa capek. Tidak peduli seberapa keras aku mengerahkan staminaku atau sejauh mana aku berlari, aku bisa selalu berlari, bahkan meski cakrawala tidak tampak mendekat.

Hei, bangsat. Apa kau tidak bisa diam?!

Aku lari dan terus berlari, namun tidak ada tempat yang bisa kucapai. Setidaknya sampai aku mendengar gema dari sebuah suara. Suara kenangan? Kilas balik untuk menenangkanku selama aku mati? Apapun itu, suaranya cukup untuk membuatku berhenti dan melihat sekeliling untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Tidak ada apa-apa.

Aku tidak menemukan apa-apa.

Bagus! Sekarang jangan bergerak!

Suara itu melanjutkan berbicara dengan nada kesal. Pada awalnya aku kira suara itu berasal dari awal sebuah kenangan yang dimainkan pikiranku. Namun setelah mendengarnya untuk kedua kalinya, aku baru sadar kalau itu suaraku.

Seperti biasa, ya. Kau kebingungan. Tapi sesekali, tolonglah untuk diam!

“Apa kau bicara padaku?” balasku, mencoba berkomunikasi.

Tentu saja, tolol. Karena kau sudah diam, apa sekarang kau bisa tutup mulut?

“Tidak! Di mana kau? Tunjukkan dirimu! Keluarkan aku dari sini! Apa kau tahu nyawaku sedang terancam di luar sana?!”

Justru itu! Justru karena itulah aku butuh kau diam dan jangan bergerak!! Menjaga keseimbangan dalam dirimu sudah susah, sekarang aku harus melakukan dua hal sekaligus!

“Apa tujuanmu? Aku bilang, keluarkan aku!!”

Jangan berontak! Jangan buat aku lebih kesulitan lagi!

“Oh, jadi aku bisa keluar kalau aku memaksa? Kalau begitu... keluarkan aku dari sini!!”

“Oke, terserah padamu. Sedikit kekacauan pasti akan membuatmu sibuk.”

*CRASH*

Tiba-tiba sebuah suara keras nyaring pecah dari belakangku. Selama ini, aku sudah berdiri di lantai yang terbuat dari kaca yang tipis. Lantai dari ruangan tempatku berdiri pecah, menciptakan sebuah lubang yang tampak tidak jauh di belakangku. Tidak hanya itu, sisi-sisi lubang itu mulai retak. Retakannya menyebar yang tentunya juga menyebar ke arahku.

“Oh, sial.”

Seiring retakannya menyebar, jejak yang ditinggalkannya runtuh. Jika sampai padaku, aku juga akan jatuh ke lubang hitam di bawah. Ia tidak bercanda waktu ia bilang sebuah kekacauan akan membuatku sibuk. Semua pemandangan ini memaksaku untuk lari, dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak mematuhi instingku ini.

Aku mulai berlari menjauhi lubang dan retakannya. Meski retakan itu menyebar cepat, namun entah bagaimana aku bisa berlari cukup cepat untuk menghindarinya.

*CRASH*

Saat aku kira posisiku sudah aman dan hendak berhenti berlari, sebuah lubang kembali pecah membuka. Beling-belingnya meledak ke atas, beberapa mengarah ke arahku hingga membuatku menutupi wajah seraya memaksaku mengambil jalur lain. Aku ambil belokan tajam ke kanan dan segera memacu lariku.

*CRASH* *CRASH*

Lubang-lubang lain pecah terbuka. Terjadinya semakin sering. Semakin terjadi, semakin banyak beling-beling terbang ke udara dan semakin sering aku mengganti jalur lariku. Pecahan-pecahan lantai ini memantulkan cahaya, menciptakan kelap-kelip di sekelilingku. Meski indah, namun berbahaya. Namun entahlah, aku juga tidak terlalu yakin karena sejauh ini aku berlari sambil menutupi wajahku.

Setelah berlari agak lama, aku baru menyadari sesuatu. Aku mulai merasakan satu faktor yang membatasiku; rasa letih. Aku diingatkan pada sensasi staminaku yang terkuras, namun aku belum boleh berhenti. Semakin banyak lubang membuka, semakin sedikit jalan yang bisa kulalui, hingga hanya tersisa satu jalan terbuka yang bisa kuambil mengingat ada lubang di sisi kanan dan kiriku sementara retakan-retakannya sudah berada tepat di belakang pijakan kakiku.

*CRASH*

Melihat retakannya sudah terlalu dekat, aku menolak dengan keras mendorong diriku maju. Aku kira aku berhasil lolos darinya, hingga sebuah lubang pecah terbuka tepat di bawah pijakanku. Lantai ini runtuh sementara pecahan-pecahan kecil terlempar ke atas, menggores kulit, bahkan wajahku. Namun herannya, aku tidak terluka.

Lubang ini jauh lebih luas daripada jangkauan raihanku. Tidak ada lagi yang bisa kupijak. Meski masih mencoba meraih sisi terdekat, aku tidak menangkap apa-apa. Aku jatuh ke dalam lubang ini. Tidak jatuh lurus ke bawah, namun jatuh maju sambil berputar-putar.

Aku sedikit terkejut mendapati bahwa ada banyak pecahan-pecahan lantai berukuran besar jatuh bersamaku di sini. Sambil terjun bebas, aku bertabrakan dengan beberapa pecahan lantai hingga membuatnya pecah ke pecahan-pecahan yang lebih kecil. Seperti yang sudah lama kukira, lubang ini benar-benar tidak memiliki dasar. Aku sudah jatuh cukup lama dan aku belum bisa menemukan dasarnya—kalaupun ada. Segera aku kehilangan momentum memutar dan kembali seimbang, barulah aku menemukan wajah-wajah terpantul dari salah satu permukaan pecahan kaca.

Kenangan, itulah yang terpantul di sana. Aku sedang berenang di antara masa laluku. Selama ini semuanya berada di bawah kakiku tiap kali aku berada di ruangan ini. Aku berenang di udara sambil terjun bebas, berpindah antara pecahan kaca. Namun dari tiap pecahan yang kuperiksa, semuanya sama; entah tidak lengkap atau hanya kepingan kenangan yang rusak.

Aku terlalu frustrasi hingga aku tidak bisa berpikir lurus. Aku pukul salah satu pecahan kaca hingga pecah menjadi kepingan-kepingan kecil, mengijinkanku untuk menemukan sebuah pecahan kenangan yang agak berbeda; sebuah pecahan kenangan dengan sebuah gambar yang terpantul dengan jelas di permukaannya.

Di permukaan pecahan itu adalah Alisa dengan penampilan yang terkesan feminin—mungkin seperti itulah penampilannya sebelumnya—memandangiku dengan wajah bahagia sambil tampak sedang membicarakan sesuatu. Lagi, aku berenang di udara, mendekati pecahan itu.

“Setelah apa yang terjadi tadi, apa kau masih hidup?” tanyaku pada diriku sendiri.

Kau tidak usah mencemaskannya,” gema suaraku kembali terdengar, “sudah kubilang, semestinya kau jangan percaya padanya. Tapi sepertinya aku terlambat memperingatimu.

“Kenapa...” bisikku pelan, “kenapa semua ini terjadi padaku?”

Aku cuma bisa bilang kalau ini bukan salahmu. Semuanya adalah kesalahan yang dibuat masa lalumu.

“Untungnya, aku tidak perlu hidup merasakan akibat dari kesalahan ini, 'kan?”

Ah, masalah itu... sementara kita bicara, sebenarnya aku sedang menyelamatkanmu.

“Apa?! Untuk apa?! Selama ini kau sudah menyiksaku, kenapa menolongku sekarang?”

Sekejam-kejamnya aku, aku tidak bisa membiarkan diri kita mati. Kalau memang aku sudah menyiksamu selama ini, berarti inilah hal paling jahat yang bisa kulakukan terhadapmu. Pilihannya hanya dua, mati dengan mudah atau hidup dengan sulit. Setiap kalinya, kau selalu memilih untuk hidupselalu mengulangi kesalahan yang sama tiap kalinya. Selalu menderita akibat yang sama. Maka dari itu, kali ini aku tidak menanyakan mana yang kau pilih.

“Kau ini bicara apa?”

“Lagipula, kau sudah membuatku berjanji.”

“Janji apa?”

“Berjanjilah, kau akan selalu ada untukku.”

Suaraku—suaranya—berubah. Berubah menjadi suara feminin yang bisa dengan mudah kukenali.

“Alisa?”

*CRASH*

Pecahan kenangan di hadapanku pecah menyamping. Tidak ada pecahan yang terlempar ke arahku atau menjauh dariku, namun tepat ke samping. Namun bukan itu yang membuatku terkejut hingga membuatku melindungi wajahku, aku terpancing karena melihat apa yang bersembunyi di baliknya.

Di sana ada Alisa yang tampak lebih muda mengenakan sundress dan jeansnya. Ia tampak persis seperti dirinya yang seringkali tertutupi warna putih. Hanya saja kali ini ia tidak sebatas siluet—kali ini dia benar-benar dia. Setelah selama ini, inilah kali pertama aku bisa melihatnya sebagai dirinya.

Aku tendang udara, meraih maju, menggeliat maju, mencoba berenang di udara meraihnya. Namun percuma. Entah aku yang tidak bergerak maju atau jarak antara dia dan diriku yang seakan absolut. Tidak peduli bagaimana, aku tetap tidak bisa meraihnya.

Terima kasih.

Bibirnya bergerak, namun tidak ada suara keluar. Namun karena aku bisa melihatnya dengan jelas, membaca gerak bibirnya tidaklah sulit. Melihat itu, aku berhenti bergerak, aku tunggu apa yang terjadi berikutnya. Ia lalu membentangkan tangannya ke arahku, seakan ingin agar aku menangkap tangannya yang rapuh. Aku coba menjawab geraknya. Namun sama seperti sebelumnya, meski dengan tangannya terjulur setengah jalan ke arahku, ada sejengkal jarak yang tidak bisa aku lewati.

“Tidak! Tidak! Tunggu!!”

Sebelum aku bisa menangkapnya, jarak kecil ini meluas. Ia tenggelam lebih cepat daripada jatuhku, tangannya semakin jauh semakin ia tenggelam. Aku juga melihat semakin dalam ia tenggelam semakin ia menjadi kabur. Aku coba menjangkau ke bawah ke arahnya—meski aku tahu, percuma—namun bukannya menangkapnya, aku hanya semakin jelas melihatnya tertelan kegelapan.

“Tunggu! Tunggu aktaku!!” pintaku sambil menontonnya menghilang. “Agh!!”

Aku terlalu terpaku padanya hingga aku gagal menyadari sebuah perubahan di hadapanku. Tampaknya aku sudah mendarat di atas sesuatu, di atas sebuah permukaan kasat mata lain yang keras. Karena aku sudah jatuh cukup lama, ajaib pendaratan ini tidak melukaiku. Hanya saja, aku mendarat dengan cukup keras hingga aku terpental dan berguling beberapa kali sebelum aku terjerembab dengan wajah di bawah.

Meski sakit, namun tidak untuk lama. Saat aku membuka mataku, aku temukan sepasang sepatu. Aku tapakkan tanganku ke permukaan lantai dan mendorong diriku berdiri. Semakin tinggi, semakin aku menyadari milik siapa kaki-kaki itu.

“Kau...”

Melihat siapa di sana, aku lontarkan diriku begitu aku punya pijakan yang pasti. Aku melompat mencoba menangkapnya, namun ia menghindar dengan melangkah ke samping. Aku berbalik dan mencoba menyerangnya, namun lagi ia mengelak. Hendak aku mencoba lagi, namun kali ini aku tahu kali ini ia tidak akan mengelak.

“Cukup!” serunya sebelum melepaskan tinju ke arah wajahku.

Sementara seranganku hanya mengenai udara, pukulannya mendarat di pipiku. Ia berjalan melewatiku sementara aku masih menjaga keseimbanganku. Meski butuh sesaat, setelah aku merasa lebih tenang aku meliriknya dan kutemukan ia sedang menatapku. Wajahnya yang biasanya tampak jahat kini diwarnai aura simpati. Tidak kusangka tatapan seperti ini bisa terasa merendahkan, terutama jika tampang itu ditunjukkan olehku.

Ya. Orang itu adalah aku—diriku yang satunya.

“Maaf yang tadi,” ujarnya, “tapi kau harus tenang dulu.”

“Bagaimana aku bisa tenang di saat seperti ini?!”

“Kabar baiknya, nyawamu tidak lagi terancam. Saat bangun nanti, kau sudah aman. Aku sudah membawamu ke pantai terdekat. Setidaknya berterimakasihlah sedikit.”

“Bagaimana bisa? Aku sedang berada di tengah lautan.”

“Tidak usah dipikirkan,” jawabnya sambil menengadah, melihat ke arah pecahan-pecahan kenangan yang jatuh dan ke arah langit putih yang sudah sedikit terangkat setelah aku terjatuh cukup jauh ke dalam kegelapan. “Sudah terlalu banyak pikiran di benakmu, tidak seharusnya aku menambah isinya.”

“Oke. Terima kasih.”

“Ah, sial. Lihat perbuatanmu pada tempat ini.”

“Aku?”

“Seandainya kau tidak terobsesi dengan masa lalumu... sudah kubilang, obsesimu ini akan menghancurkanmu—menghancurkan kita berdua.”

“Lalu aku harus bagaimana? Jadi seperti dirimu?”

“Coba saja. Tidak bisa merasakan apa-apa adalah perasaan terbaik sedunia.”

“Oke. Kau sudah membuatku yakin kalau kau bukan manusia.”

“Aku benar-benar kecewa melihatmu menjadi seperti ini. Dulu kau bijak dan cerdas, tapi sekarang yang tersisa hanya... dirimu.”

“Aku tidak ingin tahu apa maksudmu.”

“Baguslah. Aku tidak perlu repot-repot,” selama dia bicara, dia selalu memakukan matanya ke tempat lain selain diriku. “Akan butuh waktu dan banyak usaha untuk memperbaiki semua ini.”

“...” Melihatnya begitu perhatian pada tempat yang sedang runtuh ini membuatku berpikir. Selama ini, aku tidak tahu banyak tentang tempat ini. Sekarang kami punya sedikit waktu, sepertinya ini waktu yang tepat untuk bertanya. “Tempat apa ini?”

“Oh, kau benar juga. Sudah waktunya kau tahu,” setelah memandang sekitar sejak kami bicara, ia akhirnya memandangiku, “tempat ini adalah ruang yang diciptakan untuk melindungimu dari pengaburan sinaptik. Meski demikian, sudah beberapa kali potongan-potongan informasi bocor dan kau melihatnya.”

“Jadi pada dasarnya sama seperti proses yang disebutkan Yuumi? Sebuah defragmentasi cerebral?”

“Tepat. Tanpa tempat ini, kenangan-kenangan yang kau miliki bisa meruntuhkan pikiranmu.”

“Kau bilang tempat ini diciptakan, siapa yang menciptakannya?”

“Siapa lagi? Tentu saja aku. Aku juga sudah mengawasi proses pemulihan pikiranmu sejauh ini. Makanya selama ini aku selalu kesal.”

“Tapi hari ini kau sepertinya ringan mulut.”

“Yeah, tidak ada pilihan lain. Mungkin ini kali terakhir kita bisa bertemu.”

“Apa—mungkin ini kali terakhir kita bisa bertemu?”

“Lihat sekitarmu. Tempat ini berantakan. Banyak informasi yang tidak berada di tempatnya. Aku sudah bekerja keras beberapa minggu ini, dan semuanya hancur begitu saja.”

“Apa lagi yang kau ketahui? Jika selama ini kau berada di sini, tentunya kau tahu banyak.”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu, beritahukan padaku!”

“Sayangnya, itu tidak mungkin.”

“Kenapa?!”

“Kau lupa?” ujarnya seraya menangkap sebuah kepingan yang jatuh ke telapaknya yang terbuka, “terakhir kali aku coba, kau kejang-kejang kesakitan sampai tidak bisa bergerak hampir satu setengah menit.”

“...” aku menjeda, mencoba mengingat saat-saat yang dia maksud, “maksudmu waktu kau memberitahukan namaku——”

“... di Mombasa. Tepat,” ia memotong kalimatku. “Intinya, kau tidak bisa menggali dalam-dalam ke dalam kenanganmu sebelum kekacauan dalam pikiranmu diluruskan.”

“Berapa lama proses ini berjalan? Harus berapa lama lagi aku seperti ini?”

“Aku tidak tahu jawabannya. Kalau kita beruntung, kau bisa pulih besok. Kalau tidak, mungkin minggu depan, mungkin bulan depan, tahun depan, siapa tahu? Tapi harus aku akui, dia benar-benar teliti. Ada satu kepingan yang penting bagi pemulihanmu yang tidak peduli seberapa keras aku mencoba, tidak bisa aku bangun ulang.”

“Tunggu dulu, ‘dia’?”

“Tanpa itu, aku tidak bisa menyelaraskan kenanganmu kembali ke kerangka dasar pikiranmu,” ia terus bicara, mengabaikan pertanyaanku sebelumnya.

“Hei, hei. Berhenti!” ujarku seraya maju dan menangkap kerah kaosnya yang bernodakan darah, “apa maksudmu tadi? Siapa yang kau maksud dengan ‘dia’?”

“Aku bilang apa tadi? Kau pasti salah dengar.”

“Jangan pura-pura. Aku yakin aku mendengarnya. Apa ada yang sudah bertanggungjawab atas keadaanku sekarang? Einhorn? Frost?”

“...” ia hanya tersenyum licik tanpa menjawab. Akhirnya ia kembali ke sifat asalnya.

“Jawab aku!” perintahku sambil mengguncang kerahnya.

“Ferno... Ferno!”

Sebelum ia bisa menjawab, sebuah suara kembali menggema. Suara seorang wanita. Namun aku yakin itu bukan suaranya. Gema ini terus memanggil namaku. Namun karena suaranya menggema dari segala arah, aku tidak bisa yakin dari mana datangnya. Dan herannya, diriku yang satunya juga seperti kebingungan mendengarnya.

Sambil berputar-putar mencari dari mana sumber suara ini, aku melihat kalau diriku yang satunya juga melakukan hal yang sama. Melihat itu, aku eratkan cengkramanku pada kerahnya untuk menarik perhatiannya.

“Apa ini? Apa ini ulahmu?”

“Entahlah. Ini bukan ulahku atau ulahmu.”

“Kalau begitu, apa—” sekali lagi aku melihat ke sekeliling mencari sumber suara ini. Namun kali ini, saat aku sedang lengah, ia tiba-tiba menghilang. Cengkramanku tiba-tiba hanya menggenggam udara.

“Maaf, tapi waktumu habis,” suaranya kembali terdengar dari belakangku, membuatku terpaksa berbali. Di sana aku menemukannya, berdiri beberapa langkah dariku. “Aku masih punya banyak pekerjaan, begitu juga kau. Ada yang sedang menunggumu. Bangun dan lihatlah.”

“Tidak! Tunggu dulu!” aku coba berlari ke arahnya, namun terlambat. Ia mengangkat tangannya, dan dengan jentikan jarinya, ia menghentikan laju gerakku. Aku tertahan dalam posisi meraih ke depan yang tidak nyaman sementara ia berjalan mengitariku dan berhenti di sisi kiriku.

“Apa kau pernah berpikir,” bisiknya pada telingaku, “bagaimana nikmatnya pikiran manusia tidak bisa mengingat rasa sakit?”

Segalanya menjadi hitan begitu ia menyelesaikan kata-katanya. Sekali lagi aku terlempar ke dunia nyata. Semakin aku bangkit dari alam bawah sadarku, semakin jelas aku mendengar suara tadi masih memanggilku. Menemaninya adalah rasa sakit panas di dalam dadaku.

Paru-paruku serasa terbakar. Perasaan ini menghalangiku untuk segera bangun. Perlahan aku membuka mataku. Mataku mengenali sesosok yang kabur. Seorang wanita. Suaranya 'lah yang sudah memanggilku. Selain itu, aku mengenali langit malam di belakangnya. Malam, ya?

“Six, akhirnya kau bangun.”

Semakin pandanganku menyesuaikan diri, akhirnya aku menyadari bahwa wanita di hadapanku adalah Yuumi. Tampaknya ia telah meresusitasi diriku. Rasa sakit di dadaku tadi disebabkan olehnya memijat dadaku, dan rasa terbakar dalam dadaku disebabkan air yang tertahan di tenggorokanku.

“Ugh!”

Air laut keluar dari mulut dan lubang hidungku. Aku terbatuk beberapa kali melegakan tenggorokan dan hidungku sebelum teringat pada sesuatu. Jika Yuumi ada di sini, apa ini artinya...

“Alisa.” Panggilku lemah beberapa kali sebelum tenggorokanku menjadi cukup lega mengijinkanku menaikkan nada bicaraku, “Alisa!”

Aku beranjak dan melewati Yuumi sebelum melihat sekeliling dengan panik. Meski sejauh ini aku belum menemukannya, aku baru menyadari bahwa Yuumi dan aku sedang berada di sebuah pantai di sisi jauh sebuah kota. Jauh di sisi lain pantai ini adalah sebuah kota; di mana lampu-lampunya sedang bersinar.

“Dia tidak di sini!”

“Alisa!” aku mengabaikan Yuumi dan terus memanggil sambil berjalan-jalan dan melihat ke segala arah. Setelah beberapa saat, barulah aku teringat kalau ia jatuh ke dalam laut. Mengetahui itu, aku dengan panik berjalan ke dalam air hingga lebih dari setengah badanku terendam air sambil masih memanggilnya.

“Alisa!!” seruku ke arah cakrawala.

“Hentikan!”

Sepasang tangan menjepit pinggangku dari belakang. Aku terlalu terpaku pada Alisa untuk bisa peduli. Meski demikian, ia berhasil menarik perhatianku. Aku berhenti meneriaki lautan. Rasa dingin dari lautan malam dan pakaianku yang bahas akhirnya terasa. Aku menggigil. Rasanya amat dingin hingga gigiku bergemeletak. Dekapan ini pun bahkan tidak terasa hangatnya.

“Dia tidak di sana! Hentikan!” seru Yuumi dari balik punggungku sambil masih mengunci pinggangku.

Ia tidak ada di sini, aku bisa menerimanya. Tapi apa yang Yuumi katakan bermakna lebih dalam, itu yang sulit aku terima. Meski dingin, hatiku serasa terbakar, panas dan semakin panas seakan ingin meledak. Aku merasa hampa dan sakit, hingga aku tidak bisa lagi menahan panas dalam diriku.

“AAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!”

Saking sakitnya aku sampai ingin menangis, namun aku tak bisa. Aku hanya bisa tertunduk sambil menjerit, melepaskan segala emosi dalam diriku sambil berharap aku bisa memeras air mata. Namun pada akhirnya, yang kulepaskan hanyalah raungan berwarna duka. Jeritanku begitu keras hingga menciptakan riak dengan diriku sebagai pusatnya, riak yang kuciptakan cukup kuat untuk melawan ombak dan arus baliknya. Melihat ini, Yuumi mendekapku semakin erat.

Butuh beberapa jeritan hingga aku bisa menenangkan diri. Meski begitu, aku masih belum bisa meredakan amarahku. Otakku justru mencoba menguraikan akar segalanya; apa yang sudah menyebabkan semua ini?

“Kau...” bisikku.

Yuumi mendengar apa yang aku katakan dan sedikit terkaget hingga dekapannya putus. Dengan kunciannya lepas, mudah aku berbalik dan menghadapnya. Ia tidak menduga ini atau apa yang akan aku lakukan setelahnya. Ia mendengking begitu aku menangkap kerah mantelnya dan menyeretnya keluar pantai sebelum melemparkannya ke tanah. Ia terjatuh berlutut sambil terisak sementara aku mengeluarkan sebuah pistol dari saku mantelku dan mengarahkannya ke dahinya.

“Jangan!” pintanya melihat barrel pistol diacungkan ke arahnya.

“Kau... Kalau bukan karena kau, dia akan—”

“Ini bukan salahku!” lanjutnya sambil terisak dan merangkak ke arahku, “tolonglah... jangan!”

Aku tepis tangannya dengan pistolku masih terarah ke kepalanya. Ia terjerembab ke permukaan pasir pantai sebelum mengangkat badannya hingga ia berlutut dan berbalik menatapku. Ia menatapku dengan mata polos berkaca-kaca, tanpa suara ia memintaku mengampuninya.

“Yang kami inginkan hanya jawaban. Hidup kami direnggut, kami hanya ingin semuanya kembali. Kenapa kalian tidak mengerti juga?!”

“Aku tidak tahu apa-apa,” seru Yuumi sambil menatap ujung kakiku, “berhenti menodongkan pistolmu ke arahku!”

“Apa yang membuat kalian berpikir kalau hidup kami adalah mainan kalian?!”

“Sudah kubilang kalau aku tidak pernah punya niatan seperti itu!”

“Aku sudah muak bersifat manusiawi. Sekali lagi, aku tidak punya apa-apa lagi. Jika untuk mendapat jawaban aku harus melenyapkan kemanusiaanku, maka biarlah. Dan akan aku mulai dari dirimu...”

Begitu mendengar pernyataanku, pandangan Yuumi berubah. Ia berhenti terisak dan mulai membuat tatapan tajam. Ia angkat wajahnya, dan ia menatapku langsung di mataku.

Tatapan kami bertabrakan. Meski ia menatapku dengan nyaris tanpa rasa takut, aku masih bisa melihat keraguan di matanya. Aku juga tahu kalau ia menahan isak. Keteguhannya yang menopengi tatapannya entah bagaimana membuatku takut.

“Apa kau tahu?” lanjutnya tanpa melemaskan tatapan tajamnya, “silahkan, buat aku kecewa.”

“...”

“Apa kau tahu kenapa aku menyukaimu? Karena saat pertama kita bertemu, aku tahu kalau kau sudah melalui banyak hal berat. Namun ada secercah kemanusiaan terakhir yang tidak bisa kau hilangkan. Jika ada yang berubah dari dirimu, itu adalah karena kau membiarkannya mengubahmu. Aku kira kau kuat, tapi tidak. Kau hanya tangguh karena kau berada dalam keadaan yang mengharuskanmu untuk jadi tangguh.”

“Lalu? Apa maksudmu? Apapun yang kau katakan tidak akan mengubah pendirianku.”

“Aku tidak mencobanya. Aku hanya ingin memberitahukan sesuatu untuk kau pikirkan. Kau pikir kau tidak lagi butuh sisi dirimu yang itu? Kalau begitu silahkan, dengan senang hati aku bersedia menjadi katalismu. Lagipula aku sudah mati, jadi setidaknya aku masih bisa berguna untuk orang lain untuk terakhir kalinya.”

Aku benar-benar ingin menarik pelatuk pistol ini dan aku tidak ingin memikirkan apa yang baru saja ia katakan, namun aku menjadi ragu. Jariku tergantung di hadapan pelatuk pistol tanpa ingin menariknya.

“Lakukan!” dorong Yuumi.

“...”

“Tarik pelatuknya!” lanjutnya sambil menutup matanya.

“...”

“Buktikan kalau aku salah!”

“AAAAGH!”

Tidak peduli apa yang aku lakukan, aku tidak mampu menarik pelatuk pistolku, bahkan meski Yuumi memintaku. Tapi lagi, dorongan darinya membantuku berpikir jernih. Tahu apa yang baru saja kusadari, aku buang pistolku ke lautan.

“...”

Semuanya terdiam. Aku menenangkan diri sementara Yuumi menungguku bertingak, setidaknya sampai ia bosan menunggu. Setelah menyadari kenapa semuanya menjadi tenang, perlahan ia membuka matanya untuk mendapatku berlutut di atas pasir setelah membuang senjataku.

“Tugasmu cuma satu dan kau gagal.”

“...” Mendengar apa yang ia katakan, perlahan aku bangkit sebelum berbalik menghadapnya setelah aku menyesuaikan nafasku, “kalaupun aku ingin menghabisimu, pistolku basah.”

Tanpa melirik ke arahnya lagi, aku berjalan melewatinya menjauh dari pesisir. Ia terus menatap titik di mana aku berlutut hingga ia sadar aku hampir meninggalkannya di pantai. Ia bangkit dan berlari mengejarku hingga ia cukup dekat denganku.

Aku tidak peduli lagi padanya, tidak kecuali ia menggangguku. Sementara ini ia diam. Kami terus berjalan, melalui sepetak hutan hingga kami menemukan jalanan. Dari sini, kami ikuti bahu jalan yang sudah sepi hampir satu jam hingga kami sampai di sebuah persimpangan di mana ada sebuah halte bus. Semuanya dengan Yuumi mengikutiku sambil terdiam sepanjang perjalanan.

Menemukan sebuah bangku, aku jatuhkan diriku di atasnya. Aku terduduk dengan wajah tertunduk, didukung hanya oleh kedua tangan di wajahku yang kedua sikunya bersandar di lututku. Terlalu banyak hal sudah terjadi dalam satu hari. Aku sudah lelah.

Sementara itu, Yuumi berdiri menunggu di ujung lain halte bus ini. Mengejutkan juga kalau kakinya belum lelah. Tapi juga, aku menghabiskan waktu dengan tidak bergerak seakan aku mati terduduk.

Setidaknya 45 menit kami menunggu sebelum bus tengah malam lewat. Melihat berapa lama kami menunggu, bus ini pasti adalah bus terakhir untuk malam ini. Melihat kami, bus ini berhenti, dan Yuumi pun mendekatiku mencoba menarikku berdiri. Ia mencoba beberapa kali, namun aku tidak bergeming. Meski demikian, aku juga tidak paham kenapa aku tidak mau bergerak.

“Ayo! Berdiri!” bentak Yuumi sebelum ia menyerah mencoba dan menekan jarinya ke pelipisnya sambil memandangku frustrasi.

“Apa kalian ingin naik atau tidak?” tanya supir bus dengan suara yang agak keras.

“Ya. Tolong tunggu sebentar,” jawab Yuumi sebelum ia menyandar dekat dengan telingaku dan berbisik, “dengar, aku mohon ikut saja denganku dulu. Aku tahu meski kau ingin mati di sini, kau pasti ingin hidup. Jadi tolonglah, berdiri dan naiki bus ini. Kali ini aku janjikan sesuatu; aku memang tidak punya semua jawaban yang kau cari, tapi karena semua orang yang tahu dengan keberadaanku pasti mengira aku sudah mati, aku bebas untuk mencari dan memberikanmu segala yang aku ketahui.”

Barulah—setelah aku mendengar bahwa ia akan membantuku, aku mengangkat kepalaku dan memberikannya tatapan malas. Melihat itu, ia mengambil langkah pelan mundur. Tanpa menunjukkan apa-apa, aku bangkit dari bangku dan menggerakkan kakiku menuju bus ini.

Bus ini cukup kosong mengingat ini adalah bus terakhir. Dari puluhan bangku di kedua sisinya, hanya tiga yang dihuni penumpang. Meski ada banyak pilihan, Yuumi memilih untuk duduk di kursi kedua sebelum kursi paling belakang. Ia memintaku untuk duduk dekat jendela, aku pun tidak menolak.

Bus ini melaju dengan halus, mempertahankan lajunya setelah mencapai sebuah batas kecepatan. Bus ini juga tidak berhenti kecuali ada yang memintanya; seperti ada penumpang yang ingin turun atau ingin naik. Karena aku juga tidak bersuara, Yuumi tidak mencoba untuk mengajakku bicara. Ia hanya mengutak-atik kopernya yang tidak bisa ia buka.

Perjalanan ini benar-benar sebuah perjalanan retrospektif. Meski ada kesempatan untuk melihat balik apa saja yang sudah kualami, aku menolak untuk berpikir. Aku hanya membenamkan diriku dalam amarah, duka, dan melankoli. Dibandingkan dengan minggu-minggu lalu saat aku ditemukan, setidaknya ada beberapa petunjuk apa yang harus aku cari. Kali ini berbeda, kali ini aku benar-benar tersesat; aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak tahu apa yang ingin aku lakukan, aku tidak tahu ke mana aku harus pergi, dan aku bahkan tidak tahu ke mana aku ingin pergi.

Tapi meski aku tersesat sejauh ini, aku sama sekali tidak pernah ingin menyerah.

Pasti ada sesuatu yang menyuruhku untuk terus maju. Pasti ada sesuatu yang mencegahku untuk menyerah. Aku hanya belum tahu apa itu. Untuk saat ini, aku hanya ingin agar aku merasa menderita.

Setelah setidaknya 40 menit, bus ini sampai di area yang memiliki peradaban. Setelah berjam-jam kemudian, pemandangan pesisir malam berubah menjadi pemandangan rural yang segera berubah menjadi pemandangan modern. Kami sedang memasuki kota.

Beberapa menit berlalu dan pemandangan perairan kembali tampak sambil kami melintasi perbatasan kota menuju kota Singapur. Kota ini sudah menjadi pusat pengembara selama beratus-ratus tahun, maka dari itulah kota ini tampak jauh lebih maju dibandingkan dengan kota-kota lain yang berada lebih jauh di tengah daratan.

Satu jam lagi berlalu, dan akhirnya bus kami sampai di sebuah terminal bus di sisi selatan kota. Karena ini adalah pemberhentian terakhir bus ini, kami harus turun. Dari sini, Yuumi menuntun kami ke sebuah hotel yang agak jauh dari terminal bus tanpa menanyakan pendapatku, bukan berarti aku ada keinginan untuk menjawabnya.

Ia mendaftarkan kami dan memesan sebuah kamar dengan dua tempat tidur single. Kami naiki elevator dan Yuumi menuntun kami ke kamar kami. Di sana—tanpa mengatakan apa-apa—ia segera menghempaskan dirinya ke atas salah satu kasur. Cukup mengejutkan dia bisa beristirahat dengan satu tangannya masih terantai ke kopernya, dan tidak butuh waktu lama untuknya jatuh tertidur. Untuk seseorang yang jarang tidur seperinya, ini benar-benar kejutan.

Sementara aku, aku lepaskan mantelku dan duduk di salah satu pojok ruangan, di dekat jendela. Aku tidak bisa tidur—aku tidak ingin tidur—meski aku benar-benar letih. Meski demikian, tidak lama kemudian aku jatuh tertidur.

Lagipula sudah tidak lama lagi sebelum fajar, maka dari itu aku tidak tidur lama. Cahaya matahari pagi menembus jendela dan menyinari wajahku, mengganggu istirahatku. Namun aneh— pikirku—mengingat betapa rapuhnya mentalku saat ini, aku kira aku akan bermimpi. Namun tidak. Tidurku tidak bermimpi.

Saat aku membuka mataku, aku temukan Yuumi sedang terduduk di kasurnya sambil menjawab telepon. Aku tidak ingin tahu dengan siapa ia sedang bicara, namun tidak ada pilihan lain. Karena suara bisingnya kota tidak sampai ke sini dan karena hanya ada kami berdua di sini, aku tidak bisa mengabaikan pembicaraannya.

“Yeah, aku tahu,” ujarnya sebelum menjeda sementara pasangannya sedang bicara. “Toh aku sudah mati, jadi aku tidak bisa peduli lagi.”

Kembali ia menjeda. Aku hanya bisa mendengar satu sisi pembicaraan, bukan berarti aku peduli atau penasaran.

“Tentu saja mereka tidak akan mengumumkannya. Jika supervisor lain tahu ada sesamanya yang dibuang, mereka tidak akan ingin jadi supervisor.”

“Jangan begitu. Ingat kau masih punya hutang padaku.”

“Ya. Itu saja yang aku butuhkan; tabunganmu, dan sedikit bantuan memasang backdoor di dalam sistem.”

“Aku tidak bodoh. Aku tahu caranya supaya tidak terlihat.”

“Terima kasih. Kalau memang itu maumu, akan aku penuhi.”

Ia menutup pembicaraannya sambil mengusap wajahnya dengan keras. Yuumi menutup teleponnya dan berbalik, barulah ia menyadari bahwa aku sedang mengawasinya. Ia tersenyum tipis dan berdiri. Ia menapaki ruangan mendekatiku sebelum duduk di kaki kasurku yang tak kugunakan.

“Selamat pagi,” salamnya.

“...” aku hanya menatapnya tanpa mengatakan apa-apa.

“Kalau kau ingin tahu, tadi itu kolegaku yang masih bekerja di bawah Einhorn.”

Einhorn?” aku bereaksi begitu Yuumi menyebut nama itu.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc