Aku buka mataku dengan kejutan. Aku sempat mengira indra penglihatanku tidak bekerja hingga aku menyadari kalau aku memang berada di tempat gelap. Mataku mulai membiasakan diri dengan spektrum cahaya yang noneksisten dalam kegelapan. Aku tahu langit-langit itu, langit-langit itu adalah langit-langit kamar hotel tempatku menginap.

Seakan terkena jet-lag, kepalaku dipenuhi pertanyaan; Apa yang sudah terjadi padaku? Berapa lama aku sudah tidak sadarkan diri? Kebanyakan dari pertanyaan itu bisa kujawab sendiri hanya dengan mengingat apa yang sudah kualami dan melihat ke sekitar.

Aku tidak bisa ingat apa, tapi aku merasa seperti sudah mengimpikan sesuatu yang indah, sesuatu tentang dirinya; sesuatu tentang Alisa.

[Tunggu dulu, di mana dia?]

Aku lalu teringat dengan apa yang terjadi sebelum aku pingsan. Aku berkelahi dengan seseorang, namun lalu ia menyelamatkanku. Jam di dinding menunjukkan pukul 03.18, jauh dari waktu saat aku pingsan.

Tergesa-gesa dan sedikit panik, aku bangkit dari kasur dan berjalan ke arah jendela. Aku sibakkan tirainya berharap aku menemukan petunjuk seperti saat terakhir kali aku menemukan dirinya. Namun tidak kali ini. Aku tidak menemukan sosok gaib dirinya seperti sebelumnya. Dia sudah pergi.

Siapa yang sudah membawaku kembali ke sini? Apa dia? Apapun itu, aku akan mencarinya pagi nanti. Untuk saat ini aku akan—

Saat aku berbalik, aku terkejut menemukan seorang gadis tertidur. Terduduk dengan wajahnya terkubur di antara lututnya di bawah sisi kaki kasurku dengan sepatunya di sampingnya. Itu dia. Dia tidak ke mana-mana. Aku tidak menyadari keberadaannya karena tidak adanya penerangan. Namun setelah membuka tirai, dia kini diterangi cahaya bulan.

Melihat dia sedang beristirahat, aku menutup tirainya kembali dan menatapnya. Mimpi yang kulihat tadi meninggalkan sebuah rasa; perasaan meyakinkan yang mengatakan kalau aku memang mengenalnya.

Memikirkan itu membuatku lupa sesuatu. Bagaimana aku bisa membiarkannya tidur begitu saat ada kasur di sini? Aku lalu mendekatinya dan berlutut. Posisi tidurnya membuatku mudah memasukkan tanganku ke bawah lutut dan tengkuknya. Setelah dia berada dalam dekapanku, dengan pelan aku mengangkatnya, mencoba memindahkannya tanpa membangunkannya. Aku cukup terkejut menemukan bobotnya jauh lebih ringan dari yang kuduga.

Aku pindahkan dia dari lantai ke atas kasur. Satu saat saat aku sedang menggendongnya, dia merapatkan wajahnya ke dadaku, seakan mencari kenyamanan. Namun aku tetap harus menurunkannya, aku layangkan badannya ke atas kasur dan kepalanya ke atas bantal. Seharusnya aku melepaskan jaketnya, namun aku takut akan mengganggu istirahatnya, maka aku pun menahan diri.

Memindahkannya sudah cukup menguras tenaga, lagi aku mulai merasa pening. Sepertinya aku harus kembali istirahat, hanya saja tidak di atas kasur. Aku pindahkan kursi ke arah kasur tanpa membuat suara dan duduk di atasnya. Sembari mengawasinya, aku mulai menutup mata dan membiarkan diriku tetidur. Tidak butuh lama sampai aku jatuh tertidur.

Meski posisi tidurku seperti ini, aku merasa tidur ini adalah tidur paling tenang yang kudapatkan seminggu belakangan ini.

Berikutnya, aku sadari kalau sekarang sudah pagi. Yang membangunkanku bukanlah suara lalu lintas di luar, aku terbangun sendirinya. Alisa masih tertidur di atas kasurku dengan damai, aku pun tidak kuasa menahan diri menontonnya beberapa saat.

Karena aku tidak menutup jendela dan hanya membiarkan tirai menutupi jendela, angin pagi berhembus menembus tirai, membiarkan cahaya mentari pagi masuk. Cahaya matahari menyorot wajah Alisa yang sedang tertidur, melihat itu, aku bangkit dan mencoba menutup jendela, namun terlambat.

Gadis itu merapatkan matanya, seakan bisa membuat kelopak matanya menahan cahaya menembus kelopak matanya hingga dia tahu kalau usahanya percuma. Matanya mulai membuka satu demi satu, memberikan kesempatan bagi mata malasnya untuk menyesuaikan diri belakangan. Namun tetap saja, tidak cukup untuk menahannya terbangun.

“Selamat pagi,” sapaku setelah membiarkan tirai terbuka dan berbalik.

“Selamat pagi,” balasnya sambil mengusap matanya dan menahan diri menguap.

“Tidurmu nyenyak?”

“Tunggu dulu— sedang apa aku di sini?!”

Alisa terkekau dan meracau, sepertinya dia baru sadar kalau aku sudah memindahkannya dari tempatnya tertidur.

“Aku sudah memindahkanmu ke sana.”

“Kenapa? Yang pingsan dengan hidung berdarah itu kau.”

“Sekarang aku sudah jauh lebih baik.”

“Tapi kalau tiba-tiba kambuh lagi bagaimana?!”

“Kalau. Aku tidak akan membiarkanmu tidur di lantai—”

“Berhenti! Berhenti!”

Aku berhenti bicara begitu dia memintaku berhenti dan menunggu apa yang ingin dia ungkapkan. Namun setelah beberapa detik terdiam, dia tidak kunjung mengucapkan satu patah kata, justru wajahnya yang merengut mulai menyeringai.

“Ehm,” dia terbatuk, menahan tawa namun gagal. Aku bingung melihatnya tiba-tiba tertawa.

“Kau kenapa? Aku jadi takut.”

“Maaf,” butuh beberapa saat sebelum dia berhenti, dan bukan karena dia puas tertawa, tapi karena dia hampir kehabisan nafas tertawa. “Aku hanya... merasa nostalgik.”

Aku melihatnya menyeka air mata saat dia bicara, aku tahu itu bukan air mata dari tertawa.

“Apa maksudmu?”

“Kita biasa cekcok seperti ini dulu, aku jadi merasa terkenang.”

“...”

“Lupakan itu, bagaimana kalau kita sarapan dulu?” lanjutnya seraya melompat dari kasur.

“Tunggu dulu, setidaknya beritahu aku apa yang sudah terjadi semalam?”

“Tentu, aku akan ceritakan waktu makan.” Jawabnya sambil mengenakan sepatunya.

“Aku bilang tunggu—”

“Ayo, cepatlah!”

“Setidaknya basuh dulu mukamu.”

“Iya, iya.”

Entah dia mendengarku atau tidak, dia hanya bergegas ke arah pintu. Kalaupun dia mendengarku, kamar mandi berada di luar kamar ini. Mengingat itu, aku berjalan dari jendela ke arah meja untuk membuka tasku. Aku keluarkan amplop berisi uang yang diberikan Arasaka Yuumi dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Setelah itu aku mengambil jaketku dan mengenakannya.

Saat aku keluar, aku menemukan Alisa berlari dari sebelah kiri kamarku ke sisi lainnya. Begitu dia melihatku, dia berbalik dan menyuruhku bergegas. Namun sebelumnya, aku berjalan ke kamar mandi di koridor kiri dan membasuh wajahku.

Setelah itu, aku mengejarnya di koridor namun ia sudah tidak di sana. Karena tidak adajalan lain yang bisa diambilnya, aku segera bergegas ke arah tangga. Ketika aku sampai di lobi, aku menemukanna sedang berjalan ke arah pintu depan.

Aku coba mengejarnya, namun dia melarikan diri dariku. Sepertinya dia sedang bermain. Kalau bukan dia, mungkin aku sudah menodongnya dengan senjata. Namun kali ini aku tida merasa tersinggung, aku justru ingin mengikuti permainannya.

Tahu aku tidak mungkin mengejarnya, aku hanya mencoba mengikutinya dari jarak aman dan menunggu hingga dia bosan, tapi saat itu tidak kunjung tiba. Dia justsu menjaga jarak dariku sambil memimpinku ke suatu tempat— ke tempat makan, aku harap.

Setelah berjalan beberapa blok untuk beberapa saat, dia berhenti di depan sebuah kafe. Tahu dia sampai di tujuannya, dia berbalik dan melambai padaku memberi tanda untuk bergegas.

“Kenapa kau tadi?”

Dia tidak menjawab, dia hanya tersenyum simpul sebelum terduduk di meja dua kursi. Tanpa ingin protes, aku duduk di seberangnya di antara meja kaca dengan frame metal di patio kafe. Tidak lama setelahnya, seorang pelayan datang dan menerima pesanan kami. Setelah kami memberi pesanan dan sang pelayan membawanya masuk, kami akhirnya punya waktu bicara.

“Jadi apa yang terjadi semalam?” tanyaku sambil kami menunggu pesanan kami.

“Sejujurnya, aku sendiri kurang tahu. Kau tiba-tiba muncul. Dari sana, semuanya terasa kabur.”

“Ya, kejadiannya begitu cepat. Tapi aku ingat berkelahi melawan seorang laki-laki misterius sebelum kau datang menyelamatkanku. Orang itu lumayan kuat. Kira-kira apa yang terjadi padanya setelah itu?”

“Menurutmu orang itu laki-laki?”

“Tentu saja, dia memang agak pendek untuk ukurannya, tapi dia benar-benar bisa berkelahi.”

“Apa kau yakin dia laki-laki?”

“Aku kira begitu.”

Tunggu dulu. Kalau dipikir lagi, kemunculan Alisa juga terlalu kebetulan.

“Tunggu dulu—”

“Akhirnya kau sadar juga,” ujar Alisa sambil meminum kopi yang diantarkan pelayan.

“Orang itu kau?!”

“Ya.”

“Sejak kapan kau bisa berkelahi?”

“Sudah kubilang, dua tahun ini mengubah banyak hal. Kau... aku... hal-hal lain...”

“Maaf kalau aku menyakitimu.”

“Tidak apa, aku sudah biasa.”

Aku tidak pernah menduga dia punya sisi seperti ini. Selama ini, aku selalu menganggapnya sebagai sosok yang lembut, tidak terpikir olehku kalau dia seorang petarung. Dia bilang dua tahun ini mengubah dirinya, namun untukku perubahan ini terlalu besar.

Sementara aku berpikir, pelayan kami datang membawakan pesanan kami. Kami mulai makan dan menunda pembicaraan kami. Dua-tiga kali kami mengangkat dan menurunkan sendok kami untuk makan, hingga aku tidak bisa menahan kesunyian di antara kami.

“Kalau boleh aku bertanya, apa yang sudah terjadi padamu?”

“Ceritanya panjang.”

“Kita punya waktu, dan aku tidak punya apa-apa tentang dua tahun ini untuk diceritakan.”

“Bisa kita bicara hal lain?”

“Sejujurnya, aku tidak peduli pada hal lain kecuali tentangmu untuk saat ini.”

“Aku tidak suka membicarakannya. Bagaimana kalau kita bicara tentang besok?”

Dia mengganti topik pembicaraannya, dia memilih untuk membicarakanku. Namun karena aku tidak bisa membicarakan masa lalu, dia memilih untuk membicarakan masa depan. Pintar.

“Entahlah. Aku tidak tahu...”

“Setelah apa yang terjadi padamu di Mombasa, bukan salahmu kalau kau memilih untuk menyerah.”

“Aku tahu itu, tapi percaya atau tidak, kemunculanmu di sini membuatku tidak yakin kalau aku harus ikut dengan Yuumi.”

“Apa? Kenapa?”

“Setelah pertemuan kami, aku tidak punya tujuan lagi. Hanya satu jalan yang bisa kuambil, suka atau tidak, pilihanku hanyalah ikut dengan Yuumi. Namun kalau kau di sini, seseorang dari masa laluku, seseorang yang benar-benar tahu tentang diriku, aku jadi tidak yakin kalau menyerah adalah pilihan yang tepat.”

“Oh...”

“Begitu saja jawabanmu?”

“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, jika keberadaanku membuatmu sulit memilih, berarti aku tidak punya hak bicara.”

“Lalu pada siapa aku harus bertanya? Aku tidak tahu lagi.”

“...”

Bahkan setelah mengatakan itu, dia masih menahan diri untuk menjawab. Dia menurunkan sendoknya dan mulai memasang ekspresi pensif. Melihatnya seperti itu membuatku tidak tahu harus berkata apa, aku masih memegang sendokku, namun aku tidak bisa mengangkatnya.

Kesunyian di antara kami memberiku waktu berpikir, tentangku, tentang Yuumi, tentang Alisa... tunggu dulu, Alisa—

“Alisa...” panggilku memecahkan wajah pensifnya. “ngomong-ngomong, sedang apa kau di tempat Yuumi?”

Setelah apa yang terjadi kemarin, aku tidak percaya aku belum memikirkan bagaimana dia bisa menemukanku.

“Huh?”

“Seingatku kau menanamkan ponselmu ke jaketku setelah aku keluar dari apartment Yuumi. Dari mana kau tahu aku di sana?”

“...”

“Apa kau... mengawasi kami? Atau... kau sedang mengawasi Yuumi?”

Itulah kecurigaanku. Dia tidak mungkin berada di saat dan tempat yang tepat saat itu, kemungkinannya terlalu sempurna.

“Aku— Yeah.”

Dia memberikan kepastian, kecurigaanku terbukti benar. Aku tidak terkejut mendengarnya, namun aku tetap harus menurunkan sendokku.

“Kenapa? Apa perlumu dengan Yuumi?”

“Dia adalah targetku. Aku sudah mengawasinya sebulan terakhir, aku dengar dia punya informasi krusial tentang misiku.”

“Misi— Tunggu dulu, misi apa maksudmu?”

“Sudah kubilang, aku sudah mencarimu. Karena itulah aku sudah mengikuti petunjuk-petunjuk kecil sepanjang perjalanan, hanya untuk mencarimu.”

“Sekarang kau sudah menemukanku, berhentilah. Kita kembali ke tempat kita seharusnya berada.”

“Tidak! Kau tidak mengerti! Aku bilang aku melakukan ini untukmu, tapi kau bukan tujuan misiku, kau hanya imbalannya.”

“Kalau begitu, beritahu aku. Aku ingin membantu. Apa misimu?”

“Misiku berbahaya. Aku tidak bisa mengambil resiko kehilanganmu kalau kita gagal.”

“Percaya padaku, aku akan melakukan yang terbaik untuk membantumu.”

“...” Dia menjeda. Dia seperti sedang memikirkan permintaanku.

“Kau bilang misimu berbahaya, apa yang membuatmu berpikir aku akan membiarkanmu melakukannya sendiri? Kalau kau melakukannya, aku juga ikut. Aku tidak terima kalau kau bilang ‘tidak.’”

“Sigh,” dia menghela nafas, yang mana setelahnya dia menaikkan wajahnya dan tersenyum tipis. “Baiklah, kita lakukan bersama.”

“Jadi? apa misinya?”

“Aku tidak mengirim diriku ke sini. Kau mungkin tidak ingat, tapi panti asuhan tempat kita tinggal dipimpin oleh seorang wanita bernama Claudia Magdalene. Dialah yang sudah mengirimku ke misi ini. Dia memintaku apa aku ingin menyelamatkanmu, dan aku menerima permintaannya. Dia memberiku misi untuk mengumpulkan informasi tentang keberadaanmu, dan saat aku menemukanmu. Aku harus menghancurkan apapun itu yang kau terlibat.”

“Berarti sekarang kau bisa fokus melakukan hal terakhir itu.”

“Yea.”

“Bisa beritahu aku apa yang kau ketahui sejauh ini?”

“Pertama-tama aku tahu kalau program yang harus kita gagalkan memiliki nama kode Project ALLBLACK yang sedang dikembangkan oleh Graille Einhorn. Aku dengar kalau kau adalah subyek keenamnya. Jika benar ada lima subyek lain, berarti aku punya alasan kuat untuk menyelesaikan misi ini.”

“Oke...”

“Sejujurnya, aku selalu cemas kalau-kalau kau sudah menjadi subyek keenam yang gagal.”

Aku baru sadar kalau selama ini aku sudah bersikap tidak sensitif, tapi sekarang aku mengerti alasan di balik kesedihannya saat melihatku di kamar motelku.

“Apa yang kau butuhkan dari Yuumi? Mungkin aku bisa mendapatkannya untukmu.”

“Semuanya akan jadi lebih mudah jika dia memberitahuku di mana lokasi tempat Einhorn mengembangkan projectnya, tapi setidaknya aku butuh lokasi aktif Einhorn dan bagaimana rupanya.”

“Aah, aku pernah mencari tahu rupa Einhorn, tapi aku tidak bisa menemukan rupanya. Apa yang membuatmu berpikir dia tahu tempatku disekap?”

“Tidak seperti targetku sebelumnya, dia masih terhubung dengan sistemnya; Yuumi masih bekerja untuk Einhorn. Aku juga dengar kalau dia pernah bekerja untuk Project ALLBLACK sebelum dia diturunpangkatkan dan dikirim ke Istanbul. Maka dari itu dia pasti tahu informasi ini.”

“Aah, kedengarannya mungkin. Jadi, bagaimana rencanamu untuk mendapatkan informasi ini?”

“Sama seperti caraku mendapatkan informasi dari targetku yang lain; interogasi dengan persuasi keras.”

“Tunggu dulu, maksudmu—”

“Yep, kita harus menyiksanya jika perlu.”

Apa yang kudengar tadi benar? Dia ingin mendapatkan informasi dengan menyiksa targetnya? Sulit dipercaya kalau dia adalah gadis lembut yang kulihat dalam mimpiku.

“Apa kau yakin itu perlu? Aku tidak yakin kita perlu melakukan itu sebelum dia bersedia memberikan informasinya.”

Mendengar jawabanku, dia menggelengkan kepalanya. Sepertinya apa yang kukatakan membuatnya skeptik.

“Aku memang baru beberapa kali melakukan ini, tapi tiap kali aku menginterogasi seseorang, kecil kemungkinannya mereka hanya akan memberikan informasi yang kuinginkan. Beberapa dari mereka bahkan sempat melukaiku.”

“Jadi itu rencanamu? Menculiknya dan menginterogasinya hingga dia menyerah?”

“Sebenarnya aku punya rencana yang lebih baik. Dia akan mengantarkanmu ke tempat Einhorn besok, kan? Aku ingin kau pura-pura tidak ada yang terjadi dan biarkan dia membawamu.”

“Tidak akan berhasil. Einhorn tidak mungkin datang ke Istanbul, Yuumi akan mengantarkanku lewat udara.”

“Kita bajak pesawatnya kalau begitu.”

“Apa kau sudah tidak waras?! Itu terlalu gila. Aku bahkan sempat mempertimbangkan kalau lebih baik kita menculik Yuumi dan menginterogasinya saat ini juga.”

“Aku ingin agar dia menunjukkan informasinya secara langsung, tempat di mana Einhorn berada, dan dia akan melakukannya jika dia berada di dalam pesawat yang akan mengantarkanmu padanya.”

“Oke, seandainya kita memang akan melakukan rencanamu, bagaimana mungkin kita bisa? Aku tahu kau dan aku bisa berkelahi, tapi aku yakin akan butuh lebih dari kemampuan bertarung tangan kosong untuk membajak pesawat.”

“Kau benar,” setelah mengatakan itu, dia mulai mempercepat makannya. Dia mengunyah dan menelan lebih cepat dari sebelumnya, namun dia tidak pernah melakukannya dengan mulut terbuka. Dia sudah menyuapi dirinya empat kali sebelum aku bisa makan sekali. Akhirnya, dia selesai makan saat piringku masih terisi setengahnya. “Cepat, selesaikan makanmu. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”

“Apa?!”

Sebelum aku bisa mengatakan apapun, dia berdiri. Dia meninggalkanku yang masih punya sendok terisi. Hanya setelah dia sampai di pojok jalanan dia berbalik dan memanggilku, memintaku untuk bergegas sembari melambaikan tangannya ke arahku.

Sepertinya tidak ada pilihan lain, setelah mencoba memanggilnya tanpa dihiraukan, aku bangkit dari mejaku dan mengejarnya setelah meninggalkan sejumlah uang tanpa memikirkan apa uang yang kutinggalkan cukup atau lebih.

Begitu aku mencapainya, sebuah taksi biru berhenti di hadapan kami. Tanpa menungguku, dia masuk ke dalam mobil, untungnya dia meninggalkan pintunya terbuka.

“Kenapa kau meninggalkanku?”

“Sudah kubilang, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.”

“Tidak bisa menunggu sampai aku selesai makan?”

“Antarkan kami ke pelabuhan,” ujarnya pada supir sebelum dia kembali menghadapku, “seharusnya kau mempercepat makan sepertiku.”

“Dari mana aku tahu? Kau tidak bilang apa-apa.”

“Sudahlah. Perjalannya akan makan 20 menit, bisa kita bicara yang lain?”

“...”

Aku menahan diri mengatakan hal lain, untuk beberapa menit, aku habiskan waktu dengan melihat ke luar jendela. Aku menonton pemandangan berubah dari kota bawah ke kota tengah, sebuah monumen megah tampak dari sini. Sepertinya tujuan kami berada di sisi lain kota.

Sepuluh menit berlalu, pemandangannya berubah lagi, sekarang menjadi bagian kota yang tampak tua. Perjalanan ini mengingatkanku dengan Mombasa; saat aku memacu kendaraan di tengah kota setelah aku turun dari kapal Jordan, bahkan aku melihat sebuah situs konstruksi sepanjang perjalanan.

Aku harap aku tidak perlu melalui hal seperti itu lagi.

“Kau tahu...” setelah terdiam beberapa saat, Alisa mulai bicara. Mendengar suaranya, aku segera mengalihkan mataku ke arahnya. Segera begitu aku menghadapnya, dia juga berpaling ke arahku. “Yang akan kutunjukkan padamu adalah sesuatu yang aku-yang-kau-tahu tidak akan pernah lakukan.”

“Huh?”

“Sejak selesai sarapan, aku terus memikirkan ulang apa aku benar-benar harus membawamu ke dalam masalahku. Aku yang kau tahu dan aku yang sekarang sudah jauh berbeda. Melihat reaksimu saat aku mengungkapkan rencanaku pada Arasaka, aku takut kau pandanganmu terhadapku akan berubah. Karena itu aku ingin kau berjanji...”

“Janji apa?”

“Berjanjilah kau tidak akan pernah membenciku.”

“Memang apa yang akan membuatku membencimu?”

“Karena kau akan melihat sisi gelapku.”

Tetap saja, bagaimana mungkin aku akan membencinya walaupun aku tahu sisi tergelapnya? Pertama, aku merasa terikat padanya. Pasti ada alasan kenapa dia terus menerus muncul dalam benakku. Mengenalnya lebih jauh, bahkan jika aku tahu sisinya yang tidak seharusnya kuketahui tentang dirinya, seharusnya tidak mengubah apa-apa. Dan kedua, dia tidak menjauh saat aku bilang aku sudah membunuh seseorang sepanjang jalanku ke sini. Dia tidak berubah, aku juga tidak akan.

“Tentu. Aku janji.”

“Terima kasih.” Jawabnya seraya tersenyum.

“Jadi, ke mana kita akan pergi?”

“Oh, kita hampir sampai, kok.”

Beberapa menit kemudian, kami sampai di pinggiran kota, tepatnya ke bagian pelabuhan. Segera Alisa meminta supir taksi untuk berhenti. Kami turun di depan jalan masuk pelabuhan. Dari sana, Alisa memintaku mengikutinya. Dia berjalan melewati pelabuhan sampai kami tiba di sebuah gudang.

Alisa mengeluarkan beberapa kunci dari saku jaketnya dan membuka kunci pintu gudang. Dia memimpinku masuk dan aku mengikutinya sebelum dia mengunci pintu gudang lagi dari dalam. Dari sini, dia melanjutkan berjalan ke arah basement gudang ini.

“Oke, kita sampai,” jawabnya sembari menyalakan beberapa saklar lampu.

“Tempat apa ini?”

“Ini adalah markasku.”

Lampu langit-langit berpijak dan menyala segera ketika Alisa menyalakan saklarnya, menyibakkan sebuah kamar besar dari kegelapan dengan banyak peti kayu di sana-sini. Di salah satu sisi dinding, ada sebuah papan dengan banyak potongan kertas berisi informasi terhubung dengan benang berbagai warna.

“Apa yang kita lakukan di sini?” tanyaku sambil mengagumi interior kamar ini.

“Aku akan menunjukkan cara kita menangkap Arasaka besok.”

Dia berjalan ke arah meja di depan dinding di mana papan informasi berada dan duduk di atasnya setelah berbalik. Aku agak terganggu melihatnya mengeluarkan sebuah pisau kupu-kupu dari sakunya dan memainkannya, meski dia memang bisa mengayunkannya dengan lancar.

“Rencanaku adalah saat dia membawamu, kita yang menangkapnya. Sederhananya begitu.”

“Kau dan aku? Aku yakin kalau kami akan dijaga. Kau memang bisa berkelahi. Dan dengan mataku, aku bisa melihat penuh dari atas ke bawah dan kiri ke kanan sementara pendengaranku memberikanku gambaran kasar apa yang sedang terjadi di belakangku, membuatku nyaris tidak punya titik buta. Tapi kita tidak tahu apa atau seberapa banyak musuh kita nantinya.”

“Hmm, sepertinya kau meremehkanku.”

“Apa? Tidak, aku hanya——”

“Pesimis?”

“Menghadapi kenyataan.”

Alisa menggelengkan kepalanya dan berhenti memainkan pisau kupu-kupunya dan menaruhnya di atas meja. Dia lalu melihat ke arah peta di dinding, dia tampak memandanginya dalam-dalam.

“Terakhir kali aku melihatmu, kau tidak peduli dengan kemungkinan selama ada kesempatan. Namun sekarang kau sudah berubah.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf, aku juga berubah. Jika kau tidak kehilangan ingatan, aku yakin kau sudah kecewa melihatku begini.”

“Kau tidak bisa bilang begitu, lagipula bagaimana kau bisa bilang begitu? Aku terus menerus melihatmu dalam mimpiku dan aku sangat bahagia melihatmu langsung seperti ini.”

“Aku benar-benar tidak bisa mengenalimu lagi,” apa yang dia katakan terdengar negatif, namun dia mengatakannya dengan tersenyum, “ngomong-ngomong, bisa lihat paku merah ini?”

Aku tidak mengangguk, aku hanya bergerak satu langkah maju dan mengalihkan pandangnku ke arah peta. Tepatnya ke arah paku merah di mana dia menalikan benang berwarna ke arah satu sama lain dan beberapa catatan.

“Ini adalah tempat-tempat yang pernah kudatangi untuk mencari petunjuk tentang keberadaanmu. Tiap tempat yang kudatangi, aku selalu satu langkah lebih dekat denganmu, namun juga satu langkah menjauh dari diriku sendiri.”

Dari tempatku berdiri, sulit untuk melihat wajahnya. Aku merasakan dia seperti sedang emosional, mendengar suaranya semakin mendalam dan serius.

“Aku berubah. Lewat rasa sakit dan kepedihan fisik dan metal yang kualami, aku kehilangan diriku yang lama. Aku sudah pernah nyaris terbunuh beberapa kali. Kebenaran menyakitkan yang harus kuterima, hal-hal yang tidak ingin kulakukan tapi harus kulakukan. Semuanya tidak hanya mengubahku, tapi juga membentuk ulang diriku. Aku sudah rusak, dan perjalananku sekarang adalah untuk membuat diriku utuh kembali, kepingan demi kepingan.”

Saat bicara, dia mengangkat tangannya ke arah wajahnya. Apa dia menitikkan air mata? Dia seperti sedang menyeka air mata dari wajahnya.

Aku ingin mendekatinya, namun saat aku akan mendekatinya, dia berbalik. Dan sesuai perkiraanku, dia memang sedang terharu; matanya sembab, bola matanya berkaca-kaca, pipinya memerah. Namun dia tidak menangis. Dia hanya sedang terbawa emosi berat, mungkin nyaris melankolis.

“Di titik ini, aku merasa seperti sudah terbunuh empat kali. Tiap kali aku bangkit, aku merasa akan mati lebih mengenaskan. Tiap kalinya terasa lebih sakit dari sebelumnya.”

Menyedihkan melihatnya menangis sambil tersenyum, bukan karena kasihan, namun karena apa yang ia sampaikan terasa sangat tulus. Dia bilang dia berubah, namun melihatnya seperti ini hanya mengingatkanku pada apa yang kuketahui tentangnya.

“Kau tahu, di mataku kau tidak berbeda.” Kuungkapkan apa yang kupikirkan. “Dalam pikiranku, kau hanya berupa kepingan, dan tiap kepingannya menggambarkanmu dengan sempurna; kelebihan dan kekuranganmu. Tidak peduli seberapa rusak kau bilang dirimu menjadi, aku bisa melihat kalau bagian dirimu yang paling rapuh—hati kacamu—masih utuh, tak ternodai, dan tak tersentuh.”

“Mungkin kau benar, tapi beberapa luka tidak kunjung pulih. Saat sesuatu rusak, entah seberapa besar upayamu memperbaikinya, rupa dan bentuknya sudah tidak akan sama. Apa yang kau lihat di luar hanyalah goresan dibandingkan dengan apa yang ada di dalam.”

“Kau salah. Justru sebaliknya, apa yang kukatakan tadi sebenarnya menggambarkan apa yang bisa kulihat jauh dalam dirimu.”

“Ehm,” senyumnya patah menjadi tawa kecil, dia menahan tawa namun hanya membuatnya menitikkan air mata lebih banyak. “Kau pernah menyebutku sebagai pribadi yang merkurial, tapi sekarang sepertinya kau lebih cocok dengan sebutan itu. Aku benar-benar tidak mengenalimu lagi.”

“Sejujurnya, begitu juga aku padamu.”

“Karena kita sudah tidak saling mengenal lagi, ada baiknya jika kita saling menceritakan kisah satu sama lain.”

“Aku sudah menceritakan kisahku.”

“Baiklah, berarti sekarang giliranku,” dia memandangiku sambil menenangkan dirinya, “akan kuceritakan kisahku.”

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc