24 Juni 2010

Pinggiran kota Mombasa

09.08

Pergilah! Atau kita berdua akan mati!

Gadis itu berujar dengan penuh keputusasaan. Untuk pertama kalinya aku tahu rasanya dipaksa melakukan sesuatu, dan aku tidak suka rasanya.

Sebuah senyum cerah menghiasi wajahnya kala itu, seperti sebuah pelangi di kala hujan; pemandangannya indah namun menyakitkan.

Gambar-gambar itu kini sudah terukir dalam ingatanku. Aku tidak akan bisa hidup tanpa melupakannya. Bahkan saat ini—saat aku sedang melangkah mendekati sedan perak hancur yang sudah menyebabkan semua ini.

Di tangan kananku ada sebuah pistol. Saat aku terjatuh dari truk, aku kehilangan senjataku. Namun aku masih menyimpan satu lagi di dalam jaketku. Peluru-peluru di dalamnya cukup untuk meluapkan amarahku dan sudah kulepaskan safetynya. Aku sudah tidak peduli lagi, aku tidak sanggup membendung kemarahanku ini.

Dari pintu mobil yang sudah terbalik itu, sesosok berlumuran darah tampak berjuang untuk keluar. Dia merangkak menarik seluruh tubuhnya hanya dengan tangan kirinya, pundak kanannya tampak kaku sementara lengan kanannya terseret seperti ular mati. Nyaris seluruh bagian tubuhnya kecuali tangan kiri dan lehernya tampak lumpuh.

Setelah sampai cukup dekat, aku berhenti. Dengan penuh kebencian aku memandang ke bawah ke arah belatung merayap yang sedang mempertahankan hidupnya hingga tangan kirinya menyentuh kaki kananku. Menyadari keberadaanku, dia berhenti dan menengadah ke arahku.

Dia menaikkan matanya setinggi mungkin hingga matanya bertemu dengan mataku. Dengan murka aku menatapnya. Saat ini, akulah yang berkuasa penuh menentukan hidup atau mati dirinya.

“Tolong... Aku...”

“Diam,” bungkamku dengan nada dingin, “apa yang kalian inginkan dariku?”

“Kami hanya... diperintahkan untuk menangkapmu... setelah kau melumpuhkan tim Odi,” jawabnya menderita—tersedak udara, darah, dan ludahnya sendiri di antara kata-kata yang ia ucapkan.

“Bagaimana dengan perintah ‘tidak ada saksi’? Bagaimana dengan semua orang yang menyaksikan aksi kita hari ini? Apa kalian akan membunuh mereka juga?”

“Uhuk, uhuk,” Marco terbatuk-batuk saat mencoba bernafas melalui hidungnya sampai dia harus bernafas melalui mulutnya, mungkin tenggorokannya patah, hingga membuatnya kesulitan berbicara, “ini semua... salahmu.”

“...”

“Jika saja kau... Seandainya kau tidak... menghampirinya hari itu—”

“JANGAN BICARA SEAKAN AKULAH YANG SALAH—”

“DIA ITU SAKSI!”

Marco menjerit, melepaskan kata-kata yang ingin dia ucapkan dalam satu kali nafas sebelum aku bisa selesai meneriakinya. Meski dia sudah tidak berdaya, namun teriakannya berhasil membungkamku beberapa saat.

“Dia itu saksi... Dia melakukan kontak... Dia tahu... keberadaanmu... Itulah syarat-syarat... seseorang... sebagai saksi.”

“Keberadaanku? Apa hubungan keberadaanku dengan diri—”

“KAU ITU PEMBUNUH, LETNAN!” jeritnya lagi, “saat kau menjadi... seorang pembunuh... wajar saja... saat ada yang... tahu tentang dirimu... mereka harus... dihabisi.”

Kata-kata itu lagi, di antara tarikan nafasnya, adalah sebuah pernyataan yang terus kudengar. Mereka tidak tahu apa-apa tentangku, namun mereka bisa dengan yakin menyebutku seorang pembunuh.

Sejauh ini, aku sudah melihat apa saja yang aku bisa, dan memang kemampuanku ini bukanlah kemampuan orang biasa. Bahkan salah satu mimpiku menunjuk ke kesimpulan yang sama. Aku ini terlatih. Namun setelah semua yang terjadi, aku tahu dengan pasti kalau aku bukanlah orang yang bisa merenggut nyawa dengan mudah.

“Ulangi kata-katamu.”

Lagi, setelah bisa meyakinkan diriku pagi ini, emosi kembali menguasaiku. Kali ini, amarah menguasi tangan kananku, mengarahkan pistol yang kugenggam ke arah kepala Marco, sementara rasa kehilangan merundungi pandanganku.

[Aku pembunuh.]

[Aku pembunuh.]

[Aku pembunuh.]

“Kau...”

Ujar Marco dengan yakin, meski di tengah derita.

“...adalah...”

Dia melanjutkan perkataannya dengan jeda di tiap katanya. Genangan air mata tampak terlihat di kedua matanya, namun dia terus memaksa memancing amarahku.

“...seorang...”

Sebelum dia mengucapkan kata terakhirnya, dia menarik nafas dan menahannya. Dunia seakan berhenti, membuatku tidak bisa mendengar apa-apa selain suara Marco.

“...pembun—”

*BLAM*

Dengan nafas yang sudah ditahannya, dia mengucapkan kata terakhirnya. Namun sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah selongsong peluru terlepas dari chamber pistolku setelah aku menarik pelatuknya. Peluru yang dimuntahkan pistolku bersarang tepat di atas mata kanannya. Sebelum otaknya mematikan diri refleksnya sempat bekerja, dengan tanpa hasil menarik kepalanya ke belakang meredam laju peluru.

[Darah pertama yang kutumpahkan.]

Setelah kepalanya jatuh tak bernyawa ke atas aspal. Darah mulai mengucur keluar dari lukanya. Sebuah genangan merah segera terbentuk. Namun sebelum genangan itu menyebar mengenai sepatu kananku, aku sudah meninggalkannya.

Merasa puas, aku kelilingi sedan perak yang sudah terbalik lewat bagian depannya. Di baliknya ada antrian-antrian kendaraan, setidaknya empat barisan mobil mengisi ketiga ruas jalan tol. Dengan pincang, aku mendekati sebuah konvertibel hitam karena tampaknya mobil itulah mobil tercepat di antara mobil-mobil yang ada di barisan terdepan. Sembari mendekat, beberapa supir mobil-mobil itu mencaci-makiku. Namun aku bisa membungkam mereka dengan mengarahkan pistolku ke arah mereka.

Pemilik konvertibel hitam hanya bisa berjalan mundur perlahan dengan kedua tangan terangkat saat aku mendekati pintu supir mobilnya dengan pistol terarah ke wajahnya. Supir-supir lain yang mengelilingiku mencoba membela diri. Namun saat pistolku kuarahkan ke arah mereka, mereka mengurungkan niat mereka.

Untungnya si pemilik meninggalkan kuncinya di dalam, bahkan mesinnya masih menyala. Setelah memasuki mobil dan menutup pintunya, aku segera menginjak gas dan meninggalkan tempat itu.

Saat aku melewati jalan rusak itu untuk terakhir kali, aku tidak bisa menahan diri untuk mengingat saat-saat terakhirku dengan Vicky. Lucunya mengingat saat itu meredakan amarahku, namun membuat kesedihan dalam diriku terasa semakin kuat.

Aku teringat dengan kebaikannya kala itu. Dia memang bukan siapa-siapa. Dia bahkan bukan sosok putih yang kuimpikan. Namun kehilangannya membuatku merasa sesakit ini.

Mungkin apa yang dikatakan Marco ada benarnya, semua ini memang salahku. Jika aku memang seorang pembunuh, maka jalan yang kulalui pastilah penuh dengan perangkap seperti ini. Aku tidak boleh membiarkan diriku dikuasai emosi. Aku tidak bisa semudah itu mempercayai orang lain.

Pemandangan jalanan yang sepi tidak lama tampak kabur. Hal pertama yang terpikir olehku adalah kalau aku sedang bermimpi. Namun sayangnya tidak demikian. Rasa sakit yang kurasakan dari luka-lukaku terasa sangat nyata. Tidak peduli seberapa besar harapanku, aku tidak sedang bermimpi.

Setelah aku sentuh mata kiriku, aku baru sadar kalau rasa sakit di hatiku sudah membuatku menangis dengan diam. Aku sama sekali tidak terisak menangis, namun air mata hanya mulai menetes keluar dari mataku. Mungkin lebih tepatnya bukan aku yang menangis, namun bagian diriku yang tidak kuketahui.

Merasa jijik dengan diriku sendiri, aku mengusap kering air mataku itu dan mencoba menenangkan diri. Untungnya jalanan ini sepi hanya ada aku seorang, aku jadi tidak perlu cemas kalau-kalau aku menabrak sesuatu. Dan karena aku masih berada di pinggiran kota, aku tidak yakin aku akan segera menemukan pintu keluar.

[Tidak mungkin...]

Beberapa menit kemudian, setelah menelusuri jalan tol ini beberapa saat sambil mencari pintu keluar, tidak sengaja aku mengintip ke arah cermin belakang. Dari sana aku menemukan sebuah mobil lain selain mobilku. Mobil yang tampak akrab namun sempat kulupakan. Mobil itu adalah SUV merah yang Vicky dan aku tinggalkan saat kami melompat dari atas overpass.

Setelah sejauh ini, aku masih belum berhasil kabur dari cengkraman mereka. SUV itu mendekat dengan sangat cepat. Mobil yang kukendarai memang cepat. Namun sayang transmisinya otomatis. Aku tidak bisa memaksanya mengebut lebih cepat daripada yang sedang mobil ini kerahkan.

Tidak butuh waktu lama sampai SUV itu berhasil mengejarku. Dia bahkan berhasil menghantam bagian belakang mobilku. Karena itulah saat dia akan melakukannya lagi, aku menghindar ke kiri lalu kembali menyilang ke kanan untuk menghalau kejaran mereka.

SUV itu mencoba menyalipku beberapa kali. Namun tiap kali dia mencoba, aku pindahkan mobilku tepat ke hadapan mereka hingga mereka tidak bisa menyalip. Sejauh ini aku berhasil mencegah mereka menyalip mobilku.

Setelah beberapa kali mencoba, jendela pintu penumpangnya mulai turun. Sebuah sosok lalu tampak keluar dengan sebuah pistol di tangannya, dia adalah Odi.

Kemunculannya menjelaskan kenapa laju SUV itu tampak berbeda dibandingkan dengan sebelumnya, kali ini SUV itu tampak lebih agresif.

Melihat Odi mengacungkan senjatanya ke arah mobilku, aku geserkan mobilku ke kiri untuk membuatnya kesulitan mengunciku. Namun tiap kali aku melakukannya, Darius—yang mengemudikan SUV itu—juga mengikutiku bergeser ke kanan, memberikan Odi jangkauan bidik yang lebih jelas.

Untungnya sebelum aku mencapai pembatas tengah jalan dan kehabisan tempat untuk bergeser, aku sudah bisa melihat kalau pintu keluar jalan tol sudah tidak jauh di depan.

Aku mencoba untuk membuat ruang sesempit mungkin sebelum aku mengambil belokan ke pintu keluar supaya aku bisa menjebak SUV untuk berpikir kalau aku tidak akan mengambil pintu keluar ini, jadi saat aku nyaris melewati pintu keluarnya. Aku mengambil tikungan tajam dengan membanting setir ke kiri, membuat SUV terlambat berbelok sementara aku mengambil turunan pintu keluar. Karena tidak ada kendaraan lain di jalan tol tadi, maka manuverku ini hanya memberiku sedikit waktu.

Turunan ini menuju ke sebuah terowongan di bawah jalan tol. Di mana setelahnya terowongan itu mengarah ke jalan raya di daerah kota bawah. Untuk sesaat aku mencari tahu ke mana aku harus pergi. Namun sebelum aku bisa menyusun rencana, SUV itu sudah kembali muncul di belakangku.

Melihat SUV itu sudah mulai mengejarku lagi, aku dengan acuh mengambil jalanan yang mengarah ke kanan. Rencanaku pada awalnya adalah untuk kabur dari mereka dan melarikan diri menggunakan kereta. Namun aku sudah kehilangan kesempatan karena sekarang aku tidak tahu di mana stasiun keretanya. Jadi untuk sekarang, aku akan berimprovisasi.

Tidak seperti di jalan tol, jalanan kota bawah ini diisi oleh banyak kendaraan. Mobil-mobil lain juga ikut menggunakan jalanan ini. Lalu tidak seperti taksi yang kukendarai sebelumnya—ditambah keadaanku saat ini—aku mengalami kesulitan untuk menguasai jalanan.

*BLAM*

*BLAM*

Odi melepaskan dua tembakan dari belakangku. Satu tembakannya mengenai bagian belakang mobilku sementara satunya mendarat di aspal. Dia tampak sedang mencoba menembak ban kendaraanku.

Untungnya mobil yang kukendarai ini terbilang rendah sementara mobil yang mereka kendarai terbilang tinggi. Selama aku tidak memberikan mereka celah dari samping, dia akan kesulitan menembaki banku.

Tidak seperti sebelumnya, tingkat kesulitan menghalau SUV itu sudah meningkat. Pertama, gaya mengemudi Darius jauh lebih agresif dibandingkan Odi. Kedua, mobil yang kukendarai memiliki transmisi automatik, ini merupakan batasan antara kecepatan dan kendali. Dan ketiga, karena aku terluka cukup parah, aku tidak bisa mengemudi selincah sebelumnya.

Jika aku tidak ingin terkejar, aku harus menciptakan rintangan. Cara paling mudahnya adalah membuat keributan dan kekacauan. Jika aku menggunakan cara itu, mungkin akan ada korban kolateral. Aku memang tidak suka, tapi aku harus membuat SUV itu kesulitan mengejarku.

Sambil masih mencoba segala yang kubisa untuk melarikan diri, aku bisa melihat kesempatan pertamaku di persimpangan berikutnya. Lampu lalu lintas untuk jalanan ini masih merah sementara lampu lalu lintas untuk jalanan yang menimpangi jalanan ini masih hijau. Kendaraan-kendaraan berlalu lalang dari kanan dan kiri. Aku pikir jika aku bisa menyalip di antara mobil-mobil itu, aku bisa mendapatkan waktu.

Dengan kemantapan yang kudapat setelah menarik nafas dalam, aku menginjak pedal gas sedalam mungkin. Kecepatan mobil konvertibel hitam ini naik dengan perlahan dan semakin kecepatannya naik, semakin berat tarikannya. Namun begitu mobil ini mencapai kecepatan tertingginya, kecepatannya cukup untuk membuatku tetap memimpin.

Saat aku nyaris mencapai persimpangan, aku bergeser dengan tiba-tiba ke ruas kanan jalan. SUV itu sudah bisa membaca rencanaku dan juga ikut bergeser ke kanan. Saat kedua mobil kami sedang berpacu di jalur kanan, sebuah mobil lain masuk ke jalur ini dari arah berlawanan. Melihat ini, aku langsung menekan klakson mobilku dan membiarkannya berbunyi senyaring mungkin untuk memperingatkan supir mobil di depan. Pengemudi mobil itu mengindahkan peringatanku dengan berbelok tajam ke atas trotoar dan membiarkan dirinya menabrak dinding sebuah bangunan.

Karena aku sudah membunyikan klaksonku terlalu dini, trafik kendaraan persimpangan menyadari kedatangan kami. Beberapa dari mereka menginjak rem sebelum melintasi persimpangan. Namun rencanaku belum gagal. Di tengah persimpangan masih ada dua mobil yang belum mengamankan diri.

Kedua mobil itu masih saling melintasi satu sama lain. Jika perkiraanku tepat, aku akan punya cukup ruang untuk lewat. Tanpa menurunkan kecepatan, aku terus melaju. Sementara jarakku antara kedua mobil itu terus menyusut, mereka kian membuat jarak di antara mereka semakin lebar.

Seperti kulit pisang, aku berhasil lewat di celah antara kedua mobil itu dengan mulus sambil menahan nafas. Meski demikian, aku yakin kalau bagian kiri mobilku sempat menyerempet bagian belakang mobil yang menuju ke kiri.

Setelah aku melintasi persimpangan, aku kembali masuk ke jalur kanan dan memacu mobilku di jalur yang lumayan kosong. Mengetahui seberapa sulitnya aku lewat tadi, aku kira aku punya waktu untuk santai.

*BRAKK*

Aku terkaget saat menengok ke belakang untuk memeriksa keadaan pengejarku. SUV itu sama sekali tidak menurunkan kecepatan untuk menghindari mobil-mobil tadi. SUV itu hanya menerjang bagian belakang sedan hijau yang sedang menuju ke kanan. Seperti seekor banteng yang menyeruduk apapun yang ada di jalannya.

Sedan hijau itu terlempar ke udara sebelum akhirnya mendarat dengan atapnya terlebih dahulu ke atas kaca depan mobil yang berada paling depan menunggu lampu lalu lintas berubah hijau. Meski dia sudah mengakibatkan kerusakan separah itu, SUV itu terus saja melaju tanpa mengurangi kecepatannya.

Melihat ini, aku segera mengurungkan diri untuk melambat dan justru memperdalam injakanku di pedal gas. Namun tidak peduli seberapa dalam pijakanku, aku masih tidak bisa meninggalkan SUV itu.

Setelah itu, aku belum menemukan kesempatan lagi untuk mengganggu laju sang SUV merah. Bahkan sampai jalanan yang kami lalui habis di sebuah pertigaan.

Saat melihat ke cermin belakang, aku tahu kalau keadaanku ini gawat. Dengan sang SUV membuntutiku dari jarak yang amat dekat, akan tidak aman jika aku berbelok.

Aku tahu ada sebuah gang di antara dua rumah susun di seberang pertigaan, namun sayangnya gang itu tidak cukup luas untuk dilewati mobilku. Jika saja cukup, aku bisa melarikan diri lewat sana.

Bagaimanapun, aku sudah kehabisan pilihan. Aku tidak punya pilihan lain selain mengambil taruhan untuk berbelok. Kecuali jika aku ingin menghantam dinding rumah susun di seberang pertigaan. Tanpa menghiraukan kendaraan-kendaraan lain, aku belokkan mobilku ke kiri tepat sebelum jalanannya habis.

Sesuai dugaanku, saat aku berbelok ke kiri, aku sudah membuat diriku celaka. Tanpa sebuah jangkar yang menjadi poros perputaran mobilku dalam sebuah radius, sangat tidak mungkin untuk berbelok tanpa menurunkan kecepatan. Saat mobilku terseok ke kiri, bagian belakang mobilku adalah sasaran empuk untuk diguncang. Dengan sedikit dorongan, SUV itu berhasil membuat mobilku oleng.

Menggas ataupun mengerem sama sekali tidak membantu menghentikan putaran mobil ini yang seperti gasing. Mobilku sempat membuat putaran penuh sebelum sisi kanannya menabrak dinding sebuah bangunan.

Perputarannya sempat membuatku pusing. Namun di bawah tekanan seperti ini, otakku masih bisa berfungsi optimal. Segera aku lepaskan sabuk pengamanku dari kaitnya dan pindah ke kursi penumpang sebelum akhirnya keluar dari mobil lewat pintu kiri.

Begitu aku keluar, aku menemukan kalau SUV itu juga membanting setir ke kanan setelah melempar mobilku keluar jalan, hingga dia sendiri menabrak dinding sebuah bangunan lain.

Tidak sepertiku, mereka tidak bangkit secepat diriku. Namun tidak butuh lama sampai aku melihat pintu supir mulai terbuka. Mereka akan mulai mengejarku lagi.

Aku coba untuk melihat ke sekitar. Sseandainya aku bisa menemukan kendaraan lain, aku bisa dengan mudah melarikan diri. Namun selain kami, tidak ada kendaraan lain di jalanan ini. Ini artinya aku harus lari.

Namun aku tidak bisa hanya lari. Jika aku melarikan diri di jalanan ini, aku akan berada di tempat terbuka. Karena itulah bukannya berlari menjauhi mereka, aku justru berlari ke arah mereka.

Di antara aku dan mereka, ada sebuah gang kecil di antara dua bangunan. Aku berlari ke arahnya dan masuk ke gang itu tepat sebelum Darius bisa berbalik dan mengarahkan senjatanya ke arahku.

*BLAM*

Sambil menyusuri gang, aku keluarkan senjataku dan mengawasi ujung gang di belakangku. Segera aku melepaskan tembakan begitu aku melihat Darius hampir mengikutiku ke gang ini. Tembakanku tidak mengenainya, namun cukup untuk memaksanya bersembunyi.

Gang ini terlalu panjang untuk dilalui sebelum mereka bisa mengejar atau menembakiku. Maka aku pun segera mencoba membuka pintu belakang sebuah bangunan di kiriku begitu aku melihatnya.

Begitu kuputar gagangnya, aku menemukan kalau pintu itu terkunci. Sudah terlambat untuk melanjutkan berlari. Aku kira aku akan mengambil kesempatan untuk mendobraknya.

*BLAM*

Aku tembakkan lagi pistolku saat aku melihat Darius mengintip dari belakang pojokan. Tembakanku mengirimnya kembali ke persembunyiannya sementara aku menendangi kunci pintu ini.

Pintu itu cukup kokoh, butuh empat kali tendangan sampai aku berhasil mendobraknya. Namun meski demikian, aku kira luka-lukaku membuat seranganku agak melemah. Segera setelah pintu itu terbuka paksa, aku memasukinya dan mulai berlari lagi.

Tanpa tahu arah tujuanku, aku lari menyusuri ruang belakang ini sampai aku menemukan sebuah ruang yang tampak seperti dapur. Aku terus memeriksa rumah susun yang sedang ditinggalkan ini saat melewati tiap koridornya, melewati koridor depan di mana ada sebuah tangga yang mengarah ke lantai dua, dan ruang-ruang lain hingga akhirnya aku menyadari kalau selain pintu depan dan pintu belakang tempatku masuk, tidak ada jalan keluar lain.

Sambil berdiri tanpa tahu harus ke mana, aku bisa melihat dari jendela ruang keluarga yang mengarah ke jalanan kalau Odi sedang mendekati pintu depan dengan senjata di kedua tangannya. Aku tidak melihat Darius bersamanya. Dan karena Darius tadi mengikutiku ke gang, aku yakin Darius pasti sudah menungguku di ruang belakang.

Aku sudah memerangkap diriku sendiri, aku tidak melihat ada jalan lain, satu-satunya tempat yang belum kuperiksa adalah di atas. Namun meskipun aku memeriksanya, aku tidak akan menemukan jalan keluar.

Tapi sepertinya pemikiranku itu tidak benar. Aku kira aku sudah menemukan jalan keluar. Tanpa memikirkan rencanaku, aku langsung keluar dari ruang keluarga dan segera menuju ke tangga.

“Sial!”

Aku menyumpah saat aku menemukan Darius menyelinap di koridor dengan sebuah pistol di tangannya. Untungnya sebelum dia bisa menembak, aku sudah menarik diriku mundur kembali ke ruang keluarga dan sembunyi di balik dinding.

Setelah tahu kehadirannya, aku bisa mendengar suara langkah kakinya. Langkah kakinya amat samar, tersamarkan oleh lantai yang ditutupi karpet. Jelas saja aku tidak menyadari kedatangannya tadi. Dia masih mendekat. Meski dia membuatku tegang, dia juga memberiku waktu untuk menyesuaikan nafas.

Dengan kedua tanganku menggenggam gagang pistolku, aku menunggu kemunculannya. Aku bisa merasakan keberadaannya di balik dinding tempatku bersandar. Dan segera begitu kepalanya muncul di mulut pintu, aku ayunkan tangan kananku ke arah wajahnya, mencoba menghantamnya dengan punggung tanganku.

*GREP*

Tanpa diduga, dia menangkis seranganku dengan menangkap pergelangan tanganku dengan tangan kirinya sebelum punggung tanganku bisa menyentuh wajahnya. Dia sudah memperhitungkan seranganku. Cengkramannya amat sangat erat. Tidak peduli seberapa kuat aku menarik tanganku, tanganku tidak bisa bebas. Bahkan aku sama sekali tidak mengguncang tangannya.

Wajah Neandhertalnya yang tidak berekspresi tidak membuatku takut. Namun tangan kanannya yang menggenggam pistol perlahan naik terarah ke pinggangku membuatku takut. Aku harus segera bergerak jika aku tidak ingin dihantam dengan tembakan fatal.

Begitu aku menyadarinya, aku lepaskan cengkramanku dan menjatuhkan pistol di tangan kananku. Seraya pistolnya jatuh, aku melengkah ke kiri sementara tangan kananku masih dicengkram oleh Darius. Dengan tangan kiriku, aku dengan sigap menangkap pistolku sebelum pistolku bisa jatuh ke lantai dan segera mengarahkannya ke arah wajahnya.

Melihat manuverku, Darius melepaskan cengkramannya dan menampar pistolku dengan tangan kirinya hingga pistolku lepas dari genggamanku. Aku sudah menduga gerakannya. Aku tidak butuh melihat ke mana pistolku terbuang. Sementara perhatiannya teralihkan, aku ayunkan tangan kananku untuk merebut pistol yang dia genggam.

Secepat kilat aku merampas pistolnya. Namun sebelum aku bisa mengarahkannya, dia menendang dada kananku dengan keras. Tendangannya mendorongku ke belakang hingga punggung kakiku menabrak sebuah sandaran kaki dan terjengkang ke belakang. Tendangannya juga membuatku kehilangan senjataku.

Saat aku terjatuh, aku segera membungkukkan badanku, sehingga saat punggungku menyentuh lantai, aku bisa berguling ke belakang dan kembali berdiri dengan cepat. Setelah aku bisa berdiri, aku baru sadar betapa nyerinya pundakku yang tertembak tempo hari.

Masih belum bisa meredakan rasa nyerinya, aku lalu melihat Darius mendekatiku. Dia menendang sandaran kaki itu ke arahku. Karena aku tidak menduga serangannya, sandaran kursinya mengenai wajahku dan mendorongku ke belakang. Jika tidak ada sofa di belakangku, aku mungkin sudah terjerembab ke lantai.

Tanpa melambat dan sementara aku tidak bisa menghindar, Darius melanjutkan serangannya dengan memukul pelipis kananku, pukulannya sangat keras hingga membuatku terhempas ke atas sofa. Begitu aku menyandarkan punggungku ke atas sofa, dia menekan dadaku dan memukuli wajahku.

Pukulan demi pukulan dia jatuhkan ke sisi-sisi wajahku tanpa bisa aku tahan. Sementara pandanganku mulai kabur, aku terus meraba-raba mencari apapun itu yang bisa kugunakan sebagai senjata. Tinju-tinju terus menghujani wajahku sementara aku masih mencari. Sakitnya terus terasa sampai wajahku seperti mati rasa. Hingga akhirnya tangan kananku menyentuh sesuatu; sebuah objek yang terasa kurus, tinggi, dan licin di atas meja kecil di samping sofa.

Aku segera menutup mataku setelah aku menangkap objek itu dan menghantamkannya ke ke pelipis kiri Darius. Objek itu pecah berantakan, bahkan pecahannya sempat jatuh ke wajahku saat objek itu mendarat di wajah Darius. Hanya setelah aku membuka mataku barulah aku sadari kalau aku baru saja menghantamnya dengan sebuah vas bunga.

Dia tidak berteriak kesakitan. Namun dia mengambil langkah mundur terbungkuk sambil memegangi bagian kiri wajahnya. Meski pandanganku masih kabur, aku mengambil kesempatan untuk menghabisinya.

Sebagian dari diriku ingin membunuhnya. Namun pandanganku masih terlalu samar untuk mencari senjata-senjata yang terjatuh. Maka aku memilih untuk mendekatinya. Hanya untuk membuatnya pingsan dan mengutamakan pelarianku.

Pertama, aku jatuhkan sisa-sisa vas di tanganku lalu mendekatinya. Begitu aku cukup dekat, aku angkat badannya dengan mencengkram kerah kemejanya. Kedua—dengan penuh amarah—aku terus menghantam pelipisnya berulang kali. Namun meski sudah melayangkan banyak pukulan, dia masih menolak untuk tumbang. Aku tidak mengira akan butuh langkah ketiga, tapi tiga, aku menampar kedua kupingnya dengan telapak tertekuk penuh dengan udara.

Sementara kompas internalnya kacau, aku menjatuhkannya dengan menendang lutut kirinya. Dia terhuyung ke depan. Namun sebelum dia jatuh ke atasku, aku menghindar ke kiri dan membiarkan wajahnya menghantam meja kopi dan membuat permukaan kacanya hancur berkeping-keping. Membuat suara nyaring, sebelum akhirnya terguling tidak berdaya di atas lantai.

Aku bisa mendengarnya mengerang lemah; dia masih hidup, tapi aku tidak harus menghabisinya.

*BRAKK*

Tiba-tiba, sebuah suara keras bisa terdengar dari arah pintu depan; pintu depannya sudah didobrak. Suara itu adalah aba-abaku untuk lari. Segera aku berlari meninggalkan ruang keluarga dan menuju ke arah tangga.

*BLAM*

Anak tangga demi anak tangga aku tanjaki hingga tiba-tiba sebuah suara tembakan menggaung di koridor, membuatku tertegun. Sebuah peluru mendarat di anak tangga. Sangat dekat namun gagal mengenaiku. Sesuai dugaanku, Odi sedang berdiri di koridor dengan pistol mengarah padaku.

Sebelum dia bisa melanjutkan tembakan, aku menaikkan kecepatanku, untungnya tidak butuh banyak anak tangga untuk sampai di lantai kedua. Begitu aku sampai di lantai kedua aku langsung mengambil belokan untuk sembunyi dan lalu meraba pistol di saku jaketku.

“Sial.”

Aku sudah lupa memungut pistolku di ruang keluarga dan sudah terlambat untuk mengambilnya. Aku coba melihat ke sekitar namun aku tidak menemukan apapun yang bisa kugunakan sebagai senjata atau pun alat pertahanan yang bisa efektif  melawan senjata jarak jauh.

Sementara memikirkan langkahku berikutnya, aku bisa mendengar suara langkah kaki mendekat dari bawah. Odi sedang mendekat. Dan karena aku tahu aku tidak bisa melawan senjata api dari jarak jauh; aku memilih untuk kabur. Aku kembali berlari melingkari koridor hingga aku menemukan tangga lagi. Aku menaikinya dan mengulangi langkahku lagi hingga aku sampai di atap.

Menggunakan kecepatanku saat memanjat tangga, aku dobrak pintu yang menuju ke atap dengan pundak kiriku. Begitu keluar dari bangunan, cahaya matahari yang menyilaukan perlahan memperbaiki padanganku yang kabur hingga akhirnya aku bisa melihat lagi dengan sempurna.

*BLAM*

Dari sini aku masih belum tahu harus ke mana. Namun mendengar suara tembakan dari bawah memicu badanku untuk panik. Odi tampak berfiri di bawah tangga. Untung tembakannya tadi tidak mengenai apapun karena aku berdiri agak jauh dari pintu.

Tembakannya memberiku aba-aba untuk mulai berlari. Atap bangunan-bangunan ini dipisahkan oleh celah yang tidak lebar atau hanya dipisahkan oleh dinding tinggi yang bisa kupanjat dengan mudah. Aku coba untuk berlari di hadapan sesuatu seperti dinding supaya Odi tidak punya pandangan lurus untuk membidikku.

Beberapa bangunan agaknya lebih tinggi dari yang lain, sementara sisanya ada yang lebih rendah. Ini memberiku keuntungan dan kerugian. Dan karena aku baru tahu kalau aku cukup cekatan dalam memanjat, aku bisa mengubah kerugian-kerugian yang ada menjadi keuntunganku.

Odi yang tertembak di kaki beberapa hari lalu jelas mengalami kesulitan mengejarku. Sementara batasannya ada di lukanya, batasanku ada di staminaku.

Setelah berlari melewati lebih dari belasan atap bangunan, aku mulai mengalami kesulitan bernafas. Aku tahu aku belum kehilangan Odi. Aku kira dia berada setidaknya lima atau enam bangunan di belakangku. Namun tidak lama kemudian aku menemukan tempat sembunyi yang bagus. Aku bersembunyi di balik sebuah menara air dan mengatur nafas.

*BLAM*

Tiba-tiba sebuah tembakan bisa terdengar dari kejauhan. Anehnya, tembakan itu berasal berlawanan dari arah Odi datang. Tembakannya tidak datang dari belakangku, namun datang dari sebelah kiriku. Odi tidak mungkin bisa menembak dari sana sesegera ini.

Saat aku mencoba melihat, aku menemukan Darius sedang berdiri di atas sebuah atap bangunan di seberang bangunan tempatku berada. Dia sudah cukup kuat untuk pulih dan sekarang sudah kembali bergabung dalam pengejaran. Entah bagaimana dia bisa mengejarku secepat ini, tapi sekarang bukanlah waktunya memikirkan itu.

Aku kumpulkan dan kerahkan sisa-sisa kekuatan yang masih ada. Namun untuk berdiri saja rasanya sangat berat. Saat aku melihat ke belakang, aku melihat Odi sudah berada sangat dekat. Setelah kupikir lagi, mungkin Darius menembak tadi hanya untuk mengalihkan perhatianku.

Melihat itu, aku harus memaksa badanku untuk bergerak. Aku masih belum tahu ke mana aku harus pergi, tapi pemandangan di kejauhan memberikanku gagasan.

Beberapa bangunan dari tempatku berada, aku bisa melihat sebuah situs konstruksi yang sedikit lebih tinggi dari bangunan-bangunan di sekitarnya. Di mana tinggi bangunan-bangunan yang umum di sekitar sana adalah sekitar tiga sampai empat lantai, mereka sedang membangun gedung setinggi enam lantai.

Crane yang berada di puncaknya sedang beroperasi memindahkan material bangunan ke puncaknya. Jika aku bisa menyesuaikan ketepatan waktunya, aku kira aku bisa membuat jarak atau bahkan bisa lolos dari kejaran pengejarku. Namun kalau gagal, aku bisa saja mati.

Setelah menyusun rencana, aku mulai berlari ke arah situs konstruksi itu. Odi yang melihatku berlari juga mulai menambah kecepatan sementara Darius masih mencari jalan untuk mengejarku.

Memaksa diriku untuk berlari bukanlah ide bagus, kapasitas paru-paruku dengan cepat terkuras, tidak sampai tiga atap bangunan aku lewati sebelum aku mulai kehabisan nafas. Merasakan sesak seakan dadaku terbakar membuatku menyimpan stamina untuk saat-saat yang paling dibutuhkan, aku pun membiarkan Odi mengejarku.

Hanya dua bangunan lagi sebelum aku bisa mencapai situs konstruksi sementara Odi sudah amat sangat dekat. Aku kira staminaku tidak akan cukup untuk sampai di tujuanku, namun aku sudah terlanjur bertaruh.

Aku tahan nafasku dan kukerahkan sisa stamina yang kumiliki untuk menambah kecepatan berlari. Tidak lama kemudian aku mulai merasakan rasa sakit yang tajam di dalam kepalaku.

[Jangan Sekarang!]

Rasa sakit ini membuatku berhalusinasi. Rasa sakitnya membuat ilusi dalam pandanganku, membuatku melihat bangunan tempatku berada dan situs konstruksi seakan terangakat ke langit—membuat cakrawala seakan menghilang.

Dengan rasa sakit di dalam kepalaku dan vertigo yang tiba-tiba kurasakan, mengerahkan stamina untuk berlari terasa menjadi jauh lebih sulit. Namun meski kecepatanku berkurang, aku belum boleh berhenti. Terutama karena pallet yang diangkut crane sudah mulai terangkat jauh dari jangkauanku.

Lebih parahnya, aku bisa mendengar suara derap langkah kaki Odi semakin keras di belakangku. Aku tidak perlu menengok untuk tahu seberapa dekat dia denganku sekarang.

Di antara langkah-langkah terakhirku, aku mengatur langkah agar saat aku melompat, aku akan menolak dengan kakiku yang lebih dominan. Lagi, ini membuatku mengurangi kecepatan, namun begitu langkahku sudah tersusun, aku mulai menambah kecepatan lagi.

Hanya butuh beberapa langkah lagi. Sekarang palletnya sudah tampak terlalu tinggi untuk bisa diraih meskipun aku melompat. Namun kami menolak untuk melambat. Segalanya akan ditentukan saat aku melompat.

“HAAH!”

Saat kaki kananku mendarat di ujung atap, aku menolak sekuat-kuatnya untuk mendorong tubuhku ke atas. Seakan angin tinggi belum membuatku cukup ketakutan, ilusi yang diciptakan pikiranku membuatku melihat seakan sedang melompat di antara dua bangunan di atas awan.

Aku bisa merasakan Odi menyentuh tumitku, namun gagal untuk menangkapnya. Dia juga melompat meski palletnya sudah jelas terlalu jauh untuk dijangkau. Lucu, aku tidak perlu meraih pallet meskipun palletnya sudah terangkat tinggi. Saat aku merasa aku bisa melangkah di udara, aku sadar kalau aku sudah melakukan sesuatu yang mustahil.

[Apa aku...]

[...terbang?]

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc