Bukannya aku kenal dengan nama itu, namun nama itu terasa begitu tidak tepat tempat; berbeda dengan nama-nama lainnya.

Meski ragu, namun dengan mantap aku menekan bel apartment 22 dan menunggu. Tidak lama hingga interkom dari ruangan itu tersambung dengan buzzer ini.

Ya?

“Saya—”

Tebakanmu tepat, Six.

Sebelum aku bisa menjawab, suara di ujungnya memotongku dan lanjut berbicara. Dari tanggapannya, sepertinya aku memang tepat.

Lalu meski ini sedikit terlambat kusadari, namun meski dia bicara dengan nada yang sama dan bahkan dia memanggilku dengan nama panggilan yang sama, suara di interkom tadi tidak terdengar seserak dan seberat biasanya, namun terdengar lebih feminim.

Masuklah,” undang suara itu.

Segera setelah interkomnya terputus, interkomnya mengeluarkan bunyi nyaring dan pintu depan tersedia untuk kubuka. Sementara bellnya masih berbunyi, aku memasuki rumah susun itu dengan hati-hati.

Perlahan dan penuh waspada aku menyusuri koridornya, menuju ke arah tangga. Dari nomor ruangannya, aku tahu kalau sang Supervisor tinggal di apartment 22, di lantai dua. Dari sepinya keadaan rumah susun ini, aku nyaris yakin kalau ini adalah perangkap. Aku harap aku punya senjata.

Sambil menapaki tangga, dengan hati-hati aku mengintip keadaan lantai dua dan memastikan tidak ada kejutan yang menantiku di sana sebelum aku melanjutkan langkahku. Masih penuh waspada, aku memeriksa koridornya begitu aku sampai di lantai dua.

Ada sebuah pintu di kiriku sebelum aku sampai di apartment 22. Dengan perlahan aku merayapi dinding menuju ke pintu itu. Aku bahkan menempelkan telingaku dan mencoba untuk mencari suara mencurigakan dari dalamnya. Namun setelah membuat diriku tegang, aku tidak menemukan atau merasakan hal-hal mencurigakan, bahkan apartment 21 tampak tidak sedang dihuni.

Meski demikian, aku masih terus mengikuti koridor ini dengan hati-hati, kalau-kalau, hingga akhirnya aku mencapai pintu apartment 22.

Aku berdiri di hadapannya dengan takut, aku merasakan sesuatu yang membuatku tidak nyaman sedang menungguku di baliknya. Meski tekadku bulat, namun aku tidak bisa menahan rasa enggan.

Masuklah, Six! Aku sendirian!

Setelah aku menelan nafasku, dengan tegang aku mengangkat tangan kananku ke arah gagang pintunya. Namun sebelum aku bisa menyentuhnya, sebuah suara mendadak memanggilku dari dalam, menghentikanku untuk menyentuh gagang pintu. Suara sang Supervisor sekarang terdengar sangat jelas, dan sekarang, aku sudah tidak meragukannya lagi.

Lagi suaranya meyakinkanku. Namun aku masih tidak bisa percaya begitu saja. Dengan cepat aku lanjut menggerakkan tanganku dan dengan yakin aku memutar gagangnya.

Pintu ini tidak lagi tertahan ke kusennya, dengan waspada aku mendorongnya masuk. Dari celahnya yang melebar, aku bisa melihat apa yang tersembunyi di balik pintu ini; yang pertama, tidak ada perangkap, hanya sebuah ruangan biasa.

Di balik pintu ini, ada sebuah flat yang dihias dengan rapih; sebuah lampu lantai berdiri di pojokan dekat jendela, sebuah rak buku tinggi yang nyaris menyentuh langit-langit dan diisi penuh dengan buku-buku, sebuah sofa di sebelah sebuah meja kecil, sebuah karpet Persia menutupi lantai, kertas dinding berwarna hijau muda cerah segar yang menenangkan mata, beberapa pot tanaman di jendela, dan anehnya, suara perangkat keras magnetik yang terdengar statik.

Di sebelah kananku ada dua buah pintu, dan di kiriku ada dua ruangan tak berpintu. Sementara ruangan pertama adalah ruangan yang tampak seperti dapur, dari ruangan kedua, aku bisa merasakan hembusan angin dingin, dari sana juga aku merasakan tatapan dingin. Dan setelah aku mendekatinya sedikit lagi, aku menemukan seorang wanita paruh baya mengenakan jaket lab putih sedang duduk di belakang sebuah meja di mana ada sebuah kursi kosong lagi di seberangnya.

Dia tersenyum licik padaku, matanya yang tajam menatapku menusuk dari balik kacamata yang dikenakannya. Meski demikian, keberadaannya seperti mengundangku, menarikku untuk datang padanya.

Di belakangnya ada dua buah processing unit raksasa yang nyaris sebesar rak buku di belakangku, keduaprocessing unit itulah yang memainkan suara statik magnetik yang sedari tadi terus kudengar. Jika aku boleh menebak, kedua kotak raksasa itu pasti adalah komputer server.

Komputer sebesar itu pastilah melepaskan panas yang amat sangat, karenanya ruangan ini dipasangi dua buah air conditioner, yang menjadi sumber hembusan angin dingin yang kurasakan.

“Selamat siang, Six,” ujarnya ketika aku sampai di hadapan mejanya. “Duduklah.”

Ada banyak barang-barang di atas mejanya, aku tidak bisa menahan diri untuk mengamatinya sambil menaruh tasku di samping kursiku dan duduk di atasnya; di sana ada sebuah laptop merah di hadapannya, sebuah hiasan meja ayunan Newton, sebuah ponsel layar sentuh, sebuah rak dokumen, sebuah lampu meja, dan beberapa dekorasi kecil lainnya.

Meski ada banyak barang tercecer di sana, mejanya masih tampak rapih. Namun ada satu hal yang menarik perhatianku yang dia taruh tepat di tengah meja, di antara diriku dan dirinya; secarik kertas, dilipat setengah secara horizontal dan vertikal di satu sisi dan dilipat secara diagonal di sudut-sudutnya di sisi lainnya, diseimbangkan di titik tengahnya di atas sebuah tusuk membentuk payung yang terbuka dan dikukungi mangkuk transparan.

“Seperti yang sudah kau lihat, namaku adalah Arasaka Yuumi.”

Perhatianku masih terlalu teralihkan oleh objek itu hingga aku tidak memperhatikannya, aku masih sibuk memperhatikan benda itu hingga dia menarik paksa perhatianku dengan menjentikkan jari-jari kanannya di hadapan wajahku.

“Itu sebuah psi-wheel,” ujarnya sambil menarik diri setelah menjangkauku untuk menjentikkan jarinya.

“Apa?”

“Psi... wheel...” ulangnya dengan perlahan, seakan aku adalah anak kecil yang sedang belajar bicara, “benda itu digunakan secara tradisional oleh banyak institusi okultis untuk mengetes apakah seorang subjek memiliki kemampuan persepsi ekstrasensor.”

“...”

Aku terbungkam oleh penjelasannya, tidak lama setelah aku gagal memahami ucapannya dia mulai cekikikan menahan tawa.

“Yeah, topik itu terlalu berat untukmu,” lanjutnya, “daripada itu, mari kita langsung ke pokok pembicaraan. Seperti yang sudah kau lihat, namaku adalah Arasaka Yuumi.”

Untuk pertama kalinya, aku bisa mengikuti arah pembicaraannya.

“Apa kau sang Supervisor? Orang yang sudah bicara denganku kemarin?”

“Tepat.”

“Kenapa kau mengirimkan pembunuh-pembunuh itu di Mombasa?”

“Pff, pembunuh... mereka itu tentara bayaran, mereka ditugaskan untuk menangkapmu, bukan membunuhmu.”

“Dengan senjata? Senjata sungguhan?”

“Mereka diberi sangat sedikit informasi saat mereka menerima tugas. Bagaimana mereka mengartikan misinya bukanlah urusanku selama mereka menyelesaikan pekerjaan mereka,” jawabnya sinis, “seperti kataku; mereka itu tentara bayaran.”

“Jadi itu tugasmu? Mengawasi pekerjaan mereka? Untuk siapa kau bekerja?”

“Seperti itulah kira-kira. Aku ditugaskan untuk mengawasi, err, pekerjaan kotor untuk organisasi Graille Einhorn di sekitar Eropa timur. Asal kau tahu, terkadang orang-orang tinggi harus melakukan sesuatu di belakang publik untuk mempertahankan kemakmuran mereka. Terkadang pekerjaan itu menjijikkan, dan kau adalah salah satu dari ‘sesuatu’ itu.”

“Oke, jadi sekarang—”

*FWOO*

Tiba-tiba sebuah suara nyaring bertiup, menaklukkan pembicaraan kami. Yuumi yang tersenyum sinis tiba-tiba berubah ekspresi mendengar suara itu, dia seakan senang pembicaraan kami terganggu, dan raut mukaku yang kesal tampak membuatnya senang.

“Ah, tunggu sebentar. Tehnya sudah mendidih,” ujarnya seraya berdiri sebelum meninggalkan ruangan.

Aku ditinggal sendirian di ruang kerjanya. Dari nada bicaranya yang terdengar sinis, aku tahu kalau aku masih dipermainkannya.

Setelah dibiarkan sendirian beberapa saat, tanpa punya hal lain untuk dilakukan sambil menunggunya kembali, Yuumi kembali dengan sebuah nampan dengan dua buah cangkir teh yang beruap, sebuah toples gula, semangkuk kecil gula balokan, dua buah piring kecil yang masing-masingnya berisi irisan lemon, dan sebuah creamer kecil.

“Barangkali kau suka teh manis.”

Dia menyajikan satu cangkir teh dan perasa lainnya ke atas meja di hadapanku dan membawa cangkir satunya bersamanya sebelum menaruh nampannya ke atas lemari kecil di bawah jendela. Setelah itu dia lalu mulai menikmati aroma tehnya setelah kembali duduk ke kursinya lagi.

“Aah,” serunya menikmati aroma tehnya, “asal kau tahu, itu teh Earl Grey.”

“Apa kau sudah selesai?”

“Kau mau aku minum teh mendidih seperti ini? Kau pikir aku ini apa? Ignoramus?”

Setelah aku mengeluh, dia menaruh cangkir teh dan tatakannya ke atas me. Dia lalu mengalihkan pandangannya kembali padaku hingga membuatku berpikir dia sudah tidak menunda-nunda.

“Setelah sekarang aku di sini—”

“Dua menit.”

“Apa?”

“Tunggulah dua menit sebelum minum tehnya supaya suhunya tepat, biasanya empat menit, tapi karena kita ada di ruangan yang dipasangi AC,” jawabnya segera, “maaf, tadi kau mau bilang apa?”

Tanpa menunjukannya, aku mengadu gigi-gigiku di dalam mulutku. Aku juga menghembuskan nafas tajam untuk menahan amarahku. Dia masih berani memancing kemarahanku, senyum simpulnya jelas menunjukan itu, namun aku harus ingat kalau dia bilang dia bisa memberiku jawaban.

“Sekarang aku di sini, apa yang akan kau lakukan padaku?” lanjutku.

Well, Doktor Einhorn sudah sangat menantikan kedatanganmu, jadi dia memintaku untuk menangkapmu karena kau dilaporkan ditemukan di dekat daerah operasiku.”

“Jadi kau akan mengembalikanku padanya?”

“Yep, dan seperti kataku; kami sudah merindukanmu.”

Itu memang benar, selamat ini aku pikir aku sedang melawannya, di mana nyatanya aku masih melawan Einhorn. Namun meski demikian, dia sudah mengatakan sesuatu yang membuatku menerima undangannya.

“Kau bilang kau bisa memberiku jawaban, bagaimana?”

“Oh, yeah... soal itu.”

“...”

“Aku bohong.”

*BRAK*

Mendengar jawabannya membuatku tidak kuasa menahan diri, dengan penuh amarah aku bangkit dan menggunakan tangan kananku untuk menyapu apapun dalam jangkauannya dari atas meja. Dalam satu ayunan ringan, aku melempar beberapa dekorasi mejanya termasuk teh yang disajikannya berikut pemanisnya.

Sebuah miniatur jerapah minum terlempar ke dinding di kiriku bersama sebuah cangkir teh dan dua mangkuk gula beserta sebuah cangkir creamer. Semuanya menumpahkan isinya saat benda-benda mati itu terlempar, mengotori kertas dinding dan karpet persia yang menghiasi ruangan ini. Meski demikian, keberantakan yang kubuat kubuat ini belum sesuai dengan kebohongannya.

“Dua menit,” lanjutnya sementara aku hanya bisa menatapnya marah, “sayang sekali, padahal kalau kau menunggu sepuluh detik lagi saja...”

“BERHENTI MEMPERMAINKANKU—”

“Aku tidak serius!”

Dia menjinakkan raungan kemarahanku dengan teriakan biasa, meski dia menghentikanku teriakanku, amarahku belum bisa reda.

“Melihatmu kehilangan kendali membuatku senang,” lanjutnya dengan nada normal sambil mengangkat cangkir tehnya, “lagipula aku hanya ingin melihat seberapa jauh Einhorn sudah mengajarimu.”

“Aku sudah membunuh empat tentaramu! Percayalah kau tidak ingin melihatku marah!”

Tanpa menghiraukan teriakanku dan ayunan tanganku, dia terus meminum tehnya dengan anggun. Wanita ini benar-benar beruntung aku tidak punya senjata.

“Tentu saja aku juga tidak mau,” lanjutnya segera begitu dia selesai minum, “yang ingin aku lihat adalah itu.”

Dia mengalihkan matanya dariku dan menatap benda yang ditutupinya dengan mangkuk transparan yang disebutnya dengan psi-wheel.

Mangkuk itu mengunci psi-wheelnya di dalam sehingga tidak bisa digerakkan dengan dorongan yang bisa diamati, dan aku yakin aku tidak menyentuh permukaan mejanya ketika aku menyapu setengah isinya. Namun kertas yang diseimbangkan di atas tusuk di dalam mangkuk itu mulai berputar seperti sebuah komidi putar.

Psi-wheel itu terus berputar dengan momentum yang linear, tidak seperti gasing yang akan berhenti suatu saat, psi-wheel itu terus berputar tanpa mengurangi kecepatannya.

Pemandangan ini perlahan meredakan amarahku dan memupuk rasa ingin tahuku. Dan saat aku mulai tenang, psi-wheel itu juga perlahan melambat.

Setelah mengamatinya beberapa saat, aku sadar kalau ekspresi Yuumi yang pensif sudah berubah cerah; dia kini menyeringai lebar, penuh dengan kepuasan.

“Lihat itu,” ujarnya perlahan dengan nada menakutkan. Dan segera begitu psi-wheel itu kehilangan momentum, Yuumi mengembalikan pandangannya padaku. “Kau lihat?!”

“...”

“Oh, Einhorn, Yuuya... kalian berhasil,” ujarnya pada dirinya sendiri.

“...”

“Dan kau...” ujarnya seraya menatap mataku.

“Apa itu?!”

Pertanyaanku membuatnya mulai cekikikan, meski begitu, dia menurunkan wajahnya dan menggelengkan kepalanya, menahan impuls untuk tertawa terbahak-bahak.

“Jawab aku!”

Aku berteriak sambil menghantamkan kedua tanganku ke atas meja, namun dia hanya mengacungkan jari telunjuknya, memberiku tanda agar memberinya waktu.

“Haah,” serunya menghela nafas setelah berhasil menaklukkan tawanya. “Ooh, lihatlah matanya yang tidak tahu apa-apa itu...”

“Siapa atau apa aku ini?! Apa aku yang menyebabkan itu tadi?!”

“Dengar, aku sudah bilang aku tidak serius waktu aku bohong tadi, tapi setidaknya tanyakan pertanyaanmu satu-satu. Duduk saja dan tunggu.”

Setelah kembali tenang dan kembali memasang tampang serius lagi, dia menjangkau sebuah kabinet di bawah mejanya setelah menyuruhku duduk. Dia menunduk agar dia bisa mencapai pintunya, namun setelah membukanya, dia masih menunduk.

“Aku minta maaf, oke? Aku butuh memancing amarahmu agar bisa menjalankan tes tadi.”

“...” Aku tidak menjawabnya, namun aku tidak bisa memaafkannya begitu saja.

Sambil kembali duduk ke atas kursi, aku bisa mendengar suara detik-detik samar saat dia membungkuk. Aku menebak kalau dia sedang membuka sebuah brankas yang dikunci dengan dial putar. Jika demikian, wajar saja kalau dia menghabiskan waktu agak lama di bawah mejanya.

Segera aku mendengar suara lain, meski samar seperti detikan tadi, namun suaranya sedikit lebih keras. Suara itu adalah suara brankas melepas kuncinya, dan setelah dia menutup brankas dan kabinetnya, dia bangkit dengan sebuah file folder di tangan kirinya.

“Ini yang kau cari.”

Dia mengibas-ngibaskannya di hadapanku untuk sesaat, memamerkannya padaku sebelum akhirnya menaruh file foldernya ke atas meja. Tampak cetakan tulisan di atas folder itu, dan dari tulisan itu, aku yakin kalau file itu mengandung informasi yang kucari.

[INISIASIF ALLBLACK]

[SUBJEK #6]

[MILIK EINHORN RISET DAN ENGINEERING]

[PRIORITAS ULTRA]

[HANYA UNTUK DILIHAT OLEH DIREKTUR G. EINHORN SEORANG]

Mengetahui keberadaan file ini, aku kehilangan kendali. Seakan dikendalikan oleh ego dan didorong oleh rasa muak dipermainkan olehnya selama ini, aku bangkit dan melompat ke atas mejanya hingga aku kehilangan momentum lompatan dan kaki kiriku mendarat di atas kursiku sementara lutut kananku mendarat di sisi meja.

Aku gunakan tangan kiriku untuk mempertahankan keseimbangan sementara tangan kananku merenggang, menjangkau file folder yang sedang ditarik Yuumi menjauh dariku. Mungkin aku sudah terlalu fokus pada file itu, aku sampai tidak menyadari kalau Yuumi sudah menggerakkan tangannya. Bahkan mungkin dia sudah memperkirakan bagaimana reaksiku jika dia menunjukkan file ini.

*CLICK*

“JANGAN BERGERAK!”

Sementara menarik filenya menjauh dariku, Yuumi juga mengangkat tangan kanannya. Sejak dia menunjukkan file itu, aku sudah lengah, aku tidak menyadari apa yang sudah dilakukannya dengan tangan kanannya. Sementara dia menunjukkan file itu, tangan kanannya tersembunyi di bawah meja menyembunyikan sebuah objek yang dia perkirakan akan dia butuhkan jika aku bereaksi seperti ini, dan perkiraannya sangatlah benar.

Melihat apa yang ada di tangan kanannya dan bagaimana dia menggunakannya membuatku enggan untuk lanjut merampas file itu dari tangannya. Biasanya, benda itu maupun perintahnya tidak akan menghentikanku, namun ada beberapa kondisi yang membuatku mau tidak mau menurut.

Tepat di depan mataku, sebuah barrel pistol sedang menatapku hampa dari jarak point-blank, namun bukan itu yang menghentikanku.

Saat seseorang sedang mengenggam pistol, sudah jadi aturan umum supaya tidak menaruh jari telunjuk di atas pelatuk. Bahkan aku yang sedang kehilangan ingatan tahu itu. Namun entah Yuumi yang tidak paham atau dia memang punya keinginan untuk membunuhku. Jari telunjuknya yang dia kaitkan di depan pelatuk pistolnya 'lah, yang sudah menghentikanku untuk maju.

“Mundur!”

Meski aku tidak yakin dia sudah melepaskan safety pistolnya, aku tidak ingin mengambil resiko. Perlahan aku mundur, turun dari meja dan mengangkat tanganku begitu aku tidak butuh menyangga badanku lagi. Tidak sampai setelah aku kembali ke sisi mejaku dia baru mengalihkan pistolnya dari wajahku.

“Apa kita sudah tenang?” tanyanya.

Begitu dia mengalihkan pistolnya, aku menurunkan tanganku perlahan. Dan setelah dia menanyakan pertanyaannya tadi, aku tidak memberikan jawaban lisan, aku hanya memberinya satu anggukan sambil mempertahankan tatapan tajamku.

“Jika ini yang kau cari, file ini tidak ada gunanya!”

“Apa maksudmu?”

“Lihat saja sendiri.”

Dia lalu melemparkan file itu ke hadapanku. Setelah mengancamku seperti itu, dia menyerahkan filenya begitu saja? Bahkan setelah filenya mendarat di hadapanku, aku harus memastikan kalau dia tidak sedang merencanakan sesuatu dengan melakukan ini. Aku menatapnya, mencoba memahami, namun dia hanya menatapku balik sambil menyilangkan tangannya dengan pistol masih tergenggam di tangan kanannya.

Aku seret kursiku maju dan perlahan aku angkat tanganku ke atas file, dengan halus aku mengeluarkan file-file dari foldernya dan menumpukkan file itu ke atas folder yang sudah kosong. Halaman pertamanya tampak tidak jauh berbeda dengan apa yang tercetak di folder, kecuali untuk satu baris di bawah tulisan-tulisan itu.

[VERSI YANG SUDAH DIREDAKSI]

Menyadari itu, aku lalu dengan panik membalik halamannya untuk melihat isinya, namun kosong. Nyaris semua teksnya, kecuali untuk judul tiap seksinya, sudah dihitamkan. Aku balik halaman demi halamannya hingga aku melihat sebuah halaman di bagian akhir dokumen, yang dari layoutnya, tampak seperti sebuah biodata.

Semua datanya masih tercetak; ‘nama,’ tanggal lahir,’ ‘tinggi,’ ‘berat,’ dan lainnya. Namun isi datanya sudah dihitamkan seperti bagian dokumen yang lainnya.

“Apa-apaan ini?!” seruku marah setelah aku bangkit, “mana jawaban yang kau janjikan?!”

“Ini bukan salahku, oke! Setelah kau menghubungiku kemarin, aku meminta filemu langsung ke atasanku, namun mereka malah mengirimiku itu.”

“Lalu kenapa kau mengancamku?! Aku bisa mati kalau kau menarik pelatuknya!”

“Aku tahu seberapa ingin kau melihat file itu, dan aku tahu kau bisa membunuh orang untuknya, tapi aku tidak ingin mati konyol untuk file kosong itu.”

“KEPARAT!” jeritku.

Sebelum aku menyesuaikan nafasku, aku coba menenangkan diriku terlebih dahulu. Aku jinakkan kemarahanku dengan berbalik dari wajahnya yang menjengkelkan dan menyapu rambutku ke belakang, segera begitu aku sudah sedikit tenang, aku baru mencoba menyesuaikan nafasku.

“Dengar, aku tahu kau pasti marah kalau aku bilang aku tidak bisa memenuhi janjiku setelah kau datang sejauh ini, bahkan kau mungkin saja membunuhku,” lanjutnya dengan nada yang lebih tenang, “tapi aku benar-benar ingin membantumu.”

“Lalu aku harus bagaimana? Apa yang bisa kau lakukan untukku?”

“Jika yang kau inginkan adalah jawaban, aku bukan orang yang tepat untuk membantumu. Namun aku bisa mengantarmu ke orang yang bisa.”

“Einhorn, 'kan?”

“Ya.”

Di Mombasa, Jordan bilang kalau aku sedang dipindahkan ke India sebelum dia dan teman-temannya menemukanku mengapung di atas lautan, jaraknya sekitar seperempat belahan bumi dari sini. Jika aku tidak menerimanya, ini akan menjadi pencarian jarum dalam jerami terbesar di dunia. Sepertinya aku tidak punya pilihan.

“Baiklah,” jawabku pasrah. Sejujurnya, aku ingin tahu apa yang sudah terjadi padaku sebelum berhadapan dengan Einhorn lagi. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.

“Oke,” lanjutnya setelah menghela nafas, “aku akan mengurus transportasinya.”

“...”

“Akan butuh waktu untuk mengurus kepergianmu, setidaknya dua harian.”

“Jadi aku akan tinggal di sini?”

“Mana mungkin, apartment ini hanya punya satu kamar tidur,” ujarnya sambil membuka laci di bawah mejanya, “aku akan membiayai pengeluaranmu untuk dua hari ke depan.”

Sementara dia memeriksa lacinya, aku kembali terduduk ke atas kursiku dan duduk lesu. Dari lacinya, dia mengeluarkan sebuah amplop coklat tebal dan menaruhnya ke atas meja sebelum mendorongnya ke arahku. Aku tidak menyentuhnya karena aku masih merasa kecewa, namun aku tidak punya pilihan.

“Kau tampak memikirkan sesuatu.”

“Entah apa kau bisa mengerti ini atau tidak,” karena moodku sedang sangat rendah saat ini, aku sudah tidak mengharapkan penjelasan, aku hanya ingin didengar, “belakangan ini aku melihat sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.”

“Huh?”

“Aku sendiri sulit menggambarkannya, tapi terkadang aku mengalami mimpi-mimpi di mana aku mengalami ulang masa laluku. Terkadang aku bicara dengan Einhorn, terkadang aku bicara dengan sosok putih yang tidak kukenal...”

“...”

“Tidak hanya itu, yang ini lebih langka dari mimpi-mimpi itu, terkadang aku berhalusinasi saat aku sadar.”

“Dan sudah berapa kali kau mengalaminya?”

“Sejak aku sampai di Mombasa, mungkin hampir sepuluh kali.”

“Apa kau masih ingat semuanya?”

“Ya, aku menuliskannya ke jurnalku.”

“Jurnal?”

“Ya, seseorang menyarankanku untuk menuliskannya. Dia bilang aku mungkin akan mengenali pola ingatan atau apapun itu yang akan membantu pikiranku pulih.”

“Begitu...”

Karena aku sudah bicara rendah, aku tidak menyadarinya, namun semenjak aku membicarakan mimpi-mimpiku, dia terdengar sangat tertarik.

“Bisa aku melihatnya?”

Aku harus berpikir sesaat di sini. Jika dia memintanya dua jam lalu, aku mungkin sudah mengijinkannya, namun karena aku tidak ingin orang lain tahu mimpiku saat aku bertarung melawan prajurit-prajurit, pendapatku berubah.

“Tidak, aku tidak akan menunjukannya pada orang lain,” tolakku halus, “memang apa yang kau inginkan darinya?”

“Bukan apa-apa, sih...”

“...” aku tidak suka nada bicaranya dan ke mana arah pembicaraan ini, aku pikir aku harus menyudahi pembicaraan kami dan pergi. “Sepertinya lebih baik aku pergi.”

“Kau tahu, sebelum ditempatkan di sini, aku adalah seorang neurologist yang bekerja pada Einhorn.”

Saat aku sedang berdiri setelah mengambil amplop coklatnya, kata-katanya menghentikanku untuk memungut tasku. Jika dia memang neurologist, berarti dialah yang kubutuhkan.

“Aku mungkin bisa membantumu memahami kondisimu,” lanjutnya setelah menyadari ketertarikanku karena melihatku berhenti, “yang aku butuhkan hanya jurnalmu.”

“Tidak, lupakan.”

Begitu mendengar apa yang dibutuhkannya untuk mempelajari kondisiku, aku mengucapkan jawaban pendek yang mantap. Semenjak aku menuliskan entri prajurit, jurnalku menjadi syarat mutlak. Meski sebenarnya aku bisa saja memisahkan halaman yang kuselipkan itu, tapi aku tidak bisa melakukannya di hadapannya.

Segera aku memungut tasku sambil membawa amplop coklat di tangan kiriku, aku berencana untuk meninggalkan tempat ini segera.

“Aku kira kau sedang mengalami defragmentasi neural.”

“Huh?”

Aku berbalik setelah aku membuka pintunya setengah, dari sini, aku menemukan Yuumi sedang berdiri di bawah kusen ruang kerjanya.

“Pikiranmu mungkin teracak, namun otakmu sedang berusaha keras menyusun ulang informasi yang dimilikinya,” ujarnya mendiagnosa, “mimpi sadar yang kau alami adalah otakmu yang sedang mencoba memanifestasi dan memvalidasi ingatanmu, sementara dementia yang kau alami disebabkan oleh otakmu yang kesulitan membedakan kenangan dan imajinasi.”

“...”

“Itu memang cuma teori, jika kau ingin tahu pasti, aku butuh memeriksa jurnalmu.”

Lagi, dia menunjukkan ketertarikan besar yang mencurigakan akan buku yang sedang kutulis itu. Keputusanku sudah bulat, aku tidak ingin menunjukkan jurnal itu saat ini.

“Tidak, aku tidak mengijinkannya.”

Setelah aku mengatakannya, aku segera menyelipkan diriku ke dalam celah pintu dan keluar dari apartment Yuumi. Sejujurnya sebagian diriku ingin meminta bantuannya, namun aku tidak bisa menyerahkan jurnal itu. Jadi untuk saat ini, aku akan bersabar, toh tidak lama lagi aku akan mendapatkan semua jawaban yang kuinginkan.

Sambil berjalan ke arah tangga, aku menaruh amplopku ke dalam tas sementara mengeluarkan jaketku juga. Begitu keluar setelah beberapa saat berada di apartment Yuumi yang dingin memberiku sensasi dingin yang tidak bisa kusingkirkan.

Setelah mengenakan jaketku dan menaruh amplopnya, aku kembali menyusuri ulang langkahku dari tangga ke pintu depan sambil membawa tasku di atas satu bahu.

Begitu sampai di luar, aku tidak bisa menahan diri untuk melihat ke arah jendela apartment Yuumi. Tidak sulit untuk mencari jendela apartmentnya dari luar. Dari sini aku tidak bisa menemukannya, aku hanya bisa melihat langit-langit ruang kerjanya.

Entah kenapa aku melakukan ini, tapi mengingat aku punya dua hari untuk dihabiskan, aku pikir aku akan mulai dengan mencari penginapan.

*BUMP*

Ketika aku berbalik, aku tidak menyadari kehadiran seorang gadis yang berjalan ke arahku. Putaranku yang tiba-tiba membuat bahu kami saling bertabrakan. Tabrakan kami tidak begitu keras, bahkan sama sekali tidak cukup untuk mendorongnya jatuh.

“Maaf,” ujarku halus meminta maaf.

“Tidak apa,” jawabnya singkat sambil lewat tanpa memperhatikanku.

Setelah gangguan kecil tadi, aku melanjutkan langkahku dengan kasual mencari penginapan. Aku tahu aku tidak akan menemukan penginapan di area residental seperti ini, karena itu aku memilih untuk terus berjalan hingga aku menemukan sebuah taksi atau transportasi umum apapun.

Aku melewati dan menyebrangi setidaknya dua persimpangan hinnga ahirnya aku menemukan sebuah halte bus. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi, tapi untuk saat ini, aku akan menumpanginya.

Di halte bus ini, tidak ada orang lain yang menunggu. Hanya ada diriku seorang. Karena aku tidak tahu kapan bus berikutnya akan datang, aku duduk di sebuah bangku. Aku terus memeriksa jalanan di kiriku untuk melihat apakah busnya sudah datang, hingga sebuah getaran dan sebuah nada dering dari dalam saku dalam jaketku menarik perhatianku.

[Mau apa wanita itu sekarang?]

Pikirku sinis menanggapi panggilan Yuumi.

[Tunggu dulu—]

Selain nada deringnya yang berbeda, aku tidak ingat menaruh ponselku di dalam jaketku. Sejauh yang bisa kuingat, aku menaruh ponselku di dalam tas. Dengan panik aku membuka tasku dan memeriksa isinya.

Sesuai dugaanku, ponselku masih berada dalam tasku bersama jurnalku. Setelah aku memastikannya, aku segera memeriksa saku dalam kiri jaketku. Di sana, aku menemukan ponsel candybar standar, masih bergetar dan menyerukan nada dering monoponiknya sambil menampilkan sederetan nomor telepon yang tidak aku kenali.

Apa Yuumi yang menaruh ponsel ini? Aku ingat dia memang sangat dekat denganku ketika dia menyajikan teh, namun meski demikian, dia tidak mungkin menyelipkan ponsel ini ke dalam jaketku. Aku lalu mencoba mengingat kejadian janggal di mana ponsel ini bisa diselipkan ke dalam jaketku.

Aku ke sini langsung dari apartment Yuumi, sebelum itu aku naik taksi, dari bandara dan tidak pernah sekalipun melepaskan pandanganku dari tasku. Kecuali saat di dalam pesawat, di mana ada banyak orang asing—

[Orang asing...]

Itulah saat aku menyadari bahwa setelah aku keluar dari apartment Yuumi, seorang gadis asing menabrakku, ada kemungkinan besar kalau dialah yang sudah menaruh ponsel ini ke jaketku pada saat itu. Pertemuanku dengannya sangat sepele sampai aku melupakannya.

Masih merasa curiga, perlahan aku menekan tombol hijau untuk menerima panggilan dan mendekatkan ponselnya ke telinga kananku.

“Hal—”

Apa yang sudah kau lakukan di sana?!

“Maaf?”

Apa yang sudah kau lakukan di tempat Arasaka?!

Sebuah suara samar yang terdengar keras sedang bertarung melawan suara angin agar bisa terdengar, namun aku masih bisa mendengar tiap kata yang diucapkannya, meski aku kesulitan memahami apa maksudnya.

“Aku tidak mengerti—”

Apa kau bekerja dengan Arasaka Yuumi sekarang?

“Apa? Tidak.”

Lalu apa yang kau lakukan di sana?

“Apa pentingnya untukmu?”

Jawab saja pertanyaanku!

“...” suara ini terdengar begitu memaksa, namun karena siapapun itu berhasil menyelundupkan sebuah ponsel padaku tanpa kusadari dan tahu tentang Yuumi, orang ini pastilah tahu banyak. “Aku sudah menghilang untuk hampir dua minggu, Yuumi hanya membantuku mengantarkan—”

Dua minggu?! Kau sudah menghilang lebih dari satu setengah tahun!

“Tunggu, apa katamu?!”

Aku sudah mencarimu! Ke mana saja kau selama ini?!

“Tunggu dulu! Tunggu dulu! Siapa kau ini?! Dan kenapa kau bisa bilang kalau aku sudah menghilang lebih dari satu setengah tahun?!”

Kau tidak ingat? Kau tidak mengenali suaraku?

[Tidak mungkin...]

[Ini tidak mungkin...]

Mendengar pertanyaannya itu membuatku menyadari kalau aku mengenali suaranya. Meski aku mengenali siapa yang mungkin adalah pemilik suara ini, aku tidak bisa mempercayainya.

“...” Aku menelan sedikit udara, meyakinkan diriku kalau aku harus menanyakan pertanyaan ini, “apa kau kakaknya Eve?”

...” tidak ada jawaban darinya.

“Apa kau mendengarku?”

...kau ingat.

Dia sudah memastikannya.

Nada bicara mengesalkan dan memaksa, namun juga lembut dan menenangkan ini... Aku sangat yakin kalau suara ini adalah suara sang sosok putih.

Setidaknya seribu pikiran berebutan masuk ke benakku; ketidakpercayaan, kelegaan, senang, dan masih banyak lagi. Semuanya saling berseteru dalam diriku hingga aku tidak tahu apa yang kurasakan. Meski demikian, aku masih kesulitan mempercayai hal mustahil ini, setelah selama ini aku mencarinya, dialah yang sudah menemukanku.

Ini benar-benar kau... Aku tidak percaya...

“Sebutkan namaku!”

Huh?

“Kau tahu aku siapa, bukan? Beritahu aku siapa namaku!”

Kenapa? Apa yang sudah terjadi padamu?

“Aku mengalami masalah ingatan belakangan ini, aku tidak tahu siapa aku.”

...” dia menjeda, “Baiklah...

Hatiku berdetak kencang di luar kendali sementara nafasku sangat lambat, keringat dingin mengucur dari pelipisku menunggunya menyelesaikan kata-katanya.

Namamu adalah

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc