26 Juni 2010

Persembunyian Alisa

10.29

Tidak ada suara lain yang menembus ke dalam tempat ini, bahkan suara hiruk-pikuk pelabuhan Istanbul yang ramai nyaris tidak terdengar di sini. Yang bisa terdengar hanyalah suara letupan listrik dan suara satu sama lain. Cukup mengejutkan bagaimana cerita Alisa bisa membuat Ferno tetap tertarik, bahkan suasana ruang bawah tanah yang somber ini tidak membuatnya mengantuk.

Alisa berhenti bercerita dan menggail di antara barang-barangnya. Dia mengeluarkan sepasang gelas dan menuangkan jus apel ke dalamnya. Dia lalu menyerahkan satu gelas pada Ferno dan satu untuk dirinya. Mereka duduk di atas meja, berhadap-hadapan satu sama lain.

Untuk beberapa saat, mereka istirahat dan berbincang ringan sambil meminum jus apel mereka. Namun satu gelas jus apel bukanlah seumur hidup. Segera setelah Alisa menghabiskan jus apelnya, dia kembali mulai bercerita.

Februari 2009. Weimar, sebuah kota kecil di Jerman. Sudah sekitar tujuh minggu semenjak Claudia memberikan misi pada Alisa.

Saat Alisa berlatih, Claudia sudah menyelidiki kenalan-kenalannya untuk mencari celah dalam jaringan Einhorn. Dia menemukan sati. Segera setelah Elric menyatakan Alisa sudah siap untuk menjalani misinya, Claudia kembali ke tempat Elric. Dia membagikan informasi yang dia miliki dan menyuruh Alisa untuk mencari bagian-bagian informasi lainnya sendiri.

Misi pertamanya adalah mencari seorang pria bernama Arlan Errmin. Menurut Claudia, dia terlibat dengan Graille Einhorn sebelum dia menjadi korban sebuah insiden fatal yang menyebabkan kematiannya setahun lalu. Namun Claudia menemukan bahwa dia masih hidup. Insiden itu hanyalah topeng untuk menutupi pelariannya. Dan setelah menyelidiki, Claudia menemukan kalau Arlan tinggal di suatu tempat di Jerman.

Demikianlah, Alisa melakukan investigasi dengan informasi ini. Dia menyelidiki catatan-catatan perjalanan milik beberapa perusahaan transportasi dan laporan makelar properti yang berdekatan dengan tanggal insiden yang menewaskan Arlan. Prosesnya cukup lama, namun setelah beberapa kali salah, dia akhirnya menemukannya.

Alisa memikul tas punggungnya dan keluar dari bus setelah dia sampai di kota kecil ini. Kota ini tersembunyi di sebuah lembah dekat lautan, dan populasinya terbilang kecil, hanya beberapa ribu jiwa. Tempat yang sempurna untuk mengasingkan diri. Meski sekarang bulan Februari, namun musim dingin masih menyelimuti kota. Dinginnya masih cukup untuk membuat Alisa mengenakan dua jaket dan melilitkan selembar syal di sekitar lehernya untuk menahan dingin.

Dari terminal bus, Alisa berjalan-jalan sampai ia menemukan sebuah motel. Dia masuk dan menyewa satu kamar untuk sebulan. Setelah dia sampai di kamarnya, dia melepaskan jaket-jaket tebalnya dan membongkar tasnya. Jika ada yang melihatnya sekarang, mereka pasti ketakutan. Dari tasnya, Alisa mengeluarkan tiga pistol, sebilah pisau berbentuk taring, sebuah folder file, dan sebuah teropong. Ada juga beberapa pakaian bersih, kotak P3K, dan sebuah ponsel dalam tas, namun ia tidak perlu mengeluarkannya.

Alisa mengenakan sabuk holster pistol ke badannya dan menyarungkan pisaunya ke dalam sarung pisau di belakang sabuk celananya sebelum menuliskan beberapa baris alamat ke sebuah kertas memo. Setelah itu, dia mengenakan salah satu jaketnya untuk menyembunyikan pistol dan pisaunya. Tanpa membuang waktu, dia pergi ke luar saat masih siang.

Selama sisa harinya hari itu, dia menghabiskan waktunya berjalan-jalan, mencari tempat tinggal Arlan Errmin. Namun setelah berjalan-jalan selama lima jam tanpa menemukannya, dia memilih untuk kembali ke motel sebelum malam dan temperatur turun menjadi lebih dingin.

Selama tiga hari dia mencari-cari di kota sampai dia memutuskan untuk mengirim sebuah paket ke alamat yang dicarinya lewat pos dan mengikuti saat paket itu diantarkan. Dengan cara inilah dia menemukan kalau tempat yang dicarinya berada jauh di pinggiran kota. Untungnya Arlan sedang tidak ada di rumah saat paket ini tiba, Alisa pun mengambil paketnya supaya Arlan tidak menyadari kedatangannya. Hari itu, dia memastikan kalau tempat ini memang tempat tinggal Arlan Errmin yang dicarinya.

Karena rumah ini cukup terpencil dan tidak punya tetangga, mudah untuk mengintai tempat ini tanpa menarik perhatian. Selama dua minggu berikutnya, Alisa menghabiskan waktunya dengan mengawasi rumah ini. Dia mengawasi jadwalnya dan mempelajarinya sebelum mencoba menyusup ke dalam. Dia memastikan selama dua minggu itu kalau jadwalnya tidak akan berubah, dan meski ada perubahan, dia memilih waktu yang mana Arlan tidak akan pulan untuk beberapa waktu.

Di minggu ketiga pengintaian, Alisa mencoba menyusup ke rumah saat Arlan sedang keluar untuk memancing. Jika pengamatannya tepat, Arlan tidak akan pulang untuk empat jam ke depan. Dia mencari-cari ke sekeliling rumah. Yang dia cari adalah arsip, apapun yang Arlan miliki dari saat dia masih bekerja untuk Einhorn. Namun setelah tiga jam mencari, dia menyerah.

Karena dia tidak menemukan apa-apa, itu artinya informasi yang dia inginkan ada di dalam kepala Arlan. Artinya sekarang sudah waktunya bertemu langsung.

Saat dia mencari tadi, dia tidak menemukan senjata api, juga tidak ada senjata tajam atau tumpul kecuali untuk peralatan memasak. Maka Alisa hanya perlu menanti Arlan pulang.

Hari ini Arlan sepertinya pulang terlambat. Selama pengintaian, dia memang beberapa kali pulang terlambat, jadi tidak ada yang perlu dicemaskan. Beberapa menit kemudian, Alisa mendengar suara mobil memasuki halaman depan. Dia datang.

Alisa bersembunyi di dalam kloset. Dia menanti hingga Arlan masuk ke rumah dan sampai di ruang keluarga. Setelah dia melepaskan jaketnya dan masuk ke ruang keluarga, saat sedang membelakangi kloset, Alisa menunjukkan dirinya.

Tentunya Arlan terkejut melihat seseorang ada di dalam rumahnya. Dia terkaget dan melompat mundur sampai punggungnya menabrak dinding. Namun menyadari yang sudah menyusup ke rumahnya hanyalah seorang gadis, dia mengambil sebuah vas bunga dan bersiap melemparkannya ke arah Alisa.

“Berhenti!”

Hanya butuh satu detik untuk Arlan mengambil vasnya, namun dia berhenti saat akan melemparkannya begitu ia mendengar perintah Alisa dan melihatnya sudah menodongkan pistolnya ke arah Arlan.

“Si— Siapa kau? Apa maumu?” tanya Arlan gugup.

“Aku yang seharusnya bertanya.”

Alisa berjalan mengarungi ruangan, dia mengibas-ngibaskan pistolnya ke arah sofa, menyuruh Arlan untuk duduk. Arlan tampak tidak senang menurutinya, namun dia mulai mengangkat tangan setelah menaruh vas kembali ke tempat dia memungutnya dan berjalan ke arah sofa. Begitu Arlan terduduk di sofa, Alisa mendekatinya sambil masih menodongkan pistol ke arahnya.

“Apa namamu Arlan Errmin?”

“Ya.”

“Apa kau pernah bekerja pada Graille Einhorn?”

“Graille Ein—” Arlan berhenti mengulang pertanyaan Alisa, “siapa kau? Apa kau diutus oleh Borealis Group?”

“Jawab pertanyaanku!”

“Aku tidak tahu apa-apa!”

Alisa tahu itu tidak benar, terutama karena dia menjawab sambil tertunduk takut. Alisa mengambil langkah maju dan menaikkan wajah Arlan dengan mengangkat dagunya. “Lihat aku!” Perintahnya, namun Arlan masih menutup matanya.

Kegigihannya membuat Alisa tidak nyaman menginterogasinya, namun dia ingat dengan ajaran Elric, dia harus bersikap tangguh. Sekali, dua kali Alisa menampar halus pipi Arlan dengan gagang pistolnya hingga dia membuka matanya.

“Beritahu aku apa yang kau ketahui,” titah Alisa.

“Sumpah, aku tidak tahu apa-apa.”

“Jangan bohong. Aku tahu kau tahu sesuatu.”

“Sungguh, aku tidak tahu.”

“Apa kau yakin?”

“Ya. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa.”

Dia pengecut, tapi dia gigih.” Pikir Alisa. Semestinya tidak sulit untuk menekannya.

“Berarti kau tidak berguna untukku.”

Alisa menempelkan barrel pistolnya ke kening Arlan dan melepaskan pengamannya. Mendengar suara klik membuat Arlan menutup matanya lagi, kali ini lebih erat dari sebelumnya.

Meski dia sudah berlatih keras, namun ini kali pertama Alisa harus menodongkan pistolnya ke kepala orang lain, apalagi menarik pelatuknya. Tidak mengejutkan kalau ini terlalu berat untuk Alisa. Namun dia tidak ragu.

“Tunggu! Tunggu!” Arlan tiba-tiba meminta.

*BLAM*

Sebuah suara ledakan menggaung di dalam rumah. Alisa tidak perlu mencemaskan suarany karena rumah ini terpencil. Untuk beberapa detik, pikiran mereka serasa kosong. Namun segera mereka sadar. Alisa sadar kalau misinya masih jauh dari selesai, sementara Arlan sadar kalau dia masih hidup.

“Apa itu tadi? Peluru kosong?” pikir Arlan sambil terengah-engah. Bau mesiu tercium kuat di udara, namun dia sama sekali tidak merasakan udara keluar dari barrel pistol.

Dengan mata tegang dan keringat dingin di sekujur wajahnya, Arlan menengadah. Dia menemukan Alisa sudah menembakkan pistol lain ke arah lain. Dari barrel dan titik tembakannya, kepulan asap kecil tampak menipis.

“Dua pistol ini terisi dengan peluru sungguhan. Aku tidak menembakmu karena aku ingin memberimu kesempatan, aku dengar tadi kau berubah pikiran?”

“Ya! Ya!”

“Kalau begitu kuulangi pertanyaanku,” ujar Alisa seraya melepaskan pistolnya dari kening Arlan. “Apa kau pernah bekerja pada Graille Einhorn?”

“Ya,” jawabnya sambil menelan udara di antara kata-katanya, “aku memang pernah bekerja pada Doktor Einhorn, tapi sekarang sudah tidak.”

“...” Alisa terdiam beberapa saat, “apa ada yang kau ketahui tentang sebuah project yang melibatkan subjek manusia?”

“Ya.”

“Apa yang kau ketahui tentangnya?”

“A— A— Aku tidak tahu banyak. Aku hanya dengar kalau project itu berhubungan dengan ilmu kosmik, astrofisika kuantum, ilmu pengetahuan tingkat tinggi yang orang biasa mungkin akan sebut dengan ‘sihir’. Bukan bidangku, aku hanya fisikawan. Salah satu alasanku meninggalkan Foundation adalah karena aku mendengar apa yang mereka lakukan demi project itu. Oh, rumor-rumor yang mengerikan...”

“Jelaskan.”

“Subjek-subjeknya, aku dengar mereka melakukan eksperimen pada anak-anak.”

“Subjek-subjeknya? Maksudmu ada lebih dari satu subjek untuk project ini?!”

“Aku sudah bicara terlalu banyak. Aku sudah bicara terlalu banyak. Aku sudah bicara—”

“Hey! Sadarlah!”

Arlan mulai menutupi wajahnya dengan tangannya, dia terus mengulangi kata-kata yang sama; “Aku sudah bicara terlalu banyak,” lagi dan lagi dan lagi sambil tersenggak, membuat Alisa sedikit takut. Alisa mencoba mengguncang-guncangkan tubuh Arlan untuk menenangkannya, namun percuma.

Setelah mencoba menenangkannya tanpa hasil, Alisa tahu dia harus mengejutkannya untuk menyadarkannya. Alisa mengayunkan tangannya, dia menampar Arlan menggunakan punggung tangannya. Tamparannya pun cukup keras.

Setelah menerima pukulan, Arlan mendarat di sisi sofa. Badannya menggantung dari lengan sofa. Caranya tergantung seperti boneka tak bernyawa. Tapi tidak mungkin dia mati hanya karena tamparan seringan itu.

Sebelum Alisa memeriksanya, tubuh Arlan mulai bergetar. Diiringi tawa ringan yang terus meninggi, Arlan bangkit dan memilihkan posisi duduknya. Dia juga menyeka tetesan darah yang keluar dari pojok bibirnya dengan tangannya.

“Apa yang lucu?” tanya Alisa sambil kembali menodongkan pistolnya ke arah Arlan setelah dia menenang.

“Maaf. Maaf. Maaf.”

“Apa yang lucu?!” Alisa menaikkan nada bicaranya. “Aku tidak punya waktu! Beritahu aku apa yang ingin kuketahui sekarang juga!”

“Tidak bisa. Aku sudah bicara terlalu banyak. Lagipula...”

“Lagipula apa?”

“Jika kau bisa menemukanku, mereka juga bisa menemukanku.”

“Mereka? Apa kau takut Einhorn akan menem—”

Tiba-tiba—saat Alisa lengah—Arlan menampar tangannya. Pistolnya terlempar ke ujung lain ruangan. Dia tahu percuma jika ingin mengambilnya, dia pun mencoba mengarahkan pistol di tangan satunya ke arah Arlan. Namun sebelum dia bisa mengayunkan pistolnya setengah ke arah Arlan, Arlan melompat dari sofa dan menanduk perut Alisa menggunakan pundaknya. Dorongannya membuatnya kehilangan pegangan pada pistolnya yang lain juga.

Arlan terus mendorongnya hingga punggung Alisa menabrak dinding. Perbedaan tinggi yang jauh membuatnya mudah untuk mendorong Alisa. Saat ditekan ke dinding, Alisa mencoba melawan dengan memukuli dan menyikuti punggung Arlan sekeras mungkin beberapa kali, namun percuma. Alisa baru akan menarik pisaunya saat Arlan mulai berteriak dan mengangkat sosok Alisa yang mungil.

Sebelum Alisa berhasil menarik pisaunya keluar, Arlan mengangkat Alisa di pundaknya dan melemparkannya ke belakang. Alisa mendarat dengan punggungnya ke lantai setelah berjungkir balik dan menabrak sebuah meja kaca kecil. Kepalanya terasa pusing dan punggungnya nyeri, bahkan sulit untuk bisa melihat jelas. Meski demikian, dia menahan sakitnya dan mencoba berdiri.

Arlan sedang berjalan ke arah lain ruangan, menuju pistol yang terlepas dari tangan Alisa tadi. Dia tidak bisa mengejar, namun ia harus menghentikannya. Alisa menarik pisaunya dan membidik Arlan. Meski dia tidak bisa membidik dengan pasti, Alisa melempar pisaunya ke arah Arlan. Dia membidik punggungnya, namun lemparannya tidak terlalu kuat, meski demikian, pisau masih mengenainya.

Pisau Alisa mendarat di betis Arlan, pisau itu menancap hingga tembus. Meski tidak fatal, namun cukup untuk melumpuhkannya. Arlan terjatuh berlutut di satu kaki, tidak sanggup berdiri dengan pisau tertancap di kakinya yang merobek beberapa otot kakinya.

Karena dia tidak sanggup berdiri, Arlan memilih untuk menjatuhkan diri dan merayap. Dia masih belum menyerah mengambil pistol itu, terutama karena pistol itu adalah harapan dan caranya untuk menang.

Alisa bangkit dan berjalan tergopoh-gopoh ke arah Arlan. Dia kira dia bisa mencapainya sebelum Arlan bisa mengambil pistol, namun dia salah. Arlan menjangkau dan berhasil mengambil pistolnya, segera dia berguling ke samping dan membidik Alisa. Tidak ada cukup waktu dan tempat untuk Alisa bersembunyi, karena itu Alisa pun melompat ke samping untuk menghindari tembakan.

Dia melompat ke kiri dan kanan, dua kali dia berhasil menghindari tembakan Arlan. Namun semakin dia mendekat, semakin sulit untuk menghindar dari tembakannya.

*BLAM*

Arlan berhasil menembakkan satu tembakan terakhir sebelum Alisa sampai padanya. Alisa melopat, mencoba menghindar sebelum menendang pistol itu dari tangan Arlan. Meski tanpa senjata, Arlan masih belum menyerah. Dia menyapu kaki Alisa dengan kakinya yang tidak tertusuk pisau sambil berguling ke samping.

Alisa kembali terjatuh. Kali ini dengan wajahnya di dekat kaki Arlan. Sementara Arlan mencoba bangkit, Alisa mengambil pisaunya dan mencabutnya paksa. Pisau berbentuk taring ini memang tidak dirancang untuk membunuh dengan cepat. Sisi tajamnya berada di sisi dalam lengkungan. Bentuk ini bukan untuk membunuh, tapi untuk menciptakan robekan luka dalam dengan sayatan yang menyakitkan.

Saat Alisa mencabut pisaunya, Arlan menjerit kesakitan saat pisau itu merobek ototnya lagi. Meski ia kesakitan dan tak sanggup berdiri, Arlan menarik Alisa ke arahnya. Dengan cukup menjangkau, dia berhasil mendaratkan beberapa pukulan ke wajah Alisa sebelum Alisa menangkap tangan Arlan dan membalikkan keadaan dengan menangkap punggungnya.

Arlan berontak, mencoba membuat Alisa melepaskan cengkramannya. Dia berguling-guling dan mencoba menekan Alisa ke lantai, namun percuma. Alisa mencekik Arlan meski ia berontak. Posisi ini sempurna, dia bisa mengantarkan serangan pembunuh yang diajarkan Elric. Sebuah teknik untuk mencabut nyawa seseorang dalam hitungan detik—sebuah teknik yang dibenci Alisa.

Elric mengajari Alisa teknik ini. Bagian badan yang terasa geli saat dipukul adalah titik vital. Meski serangan tumpul memicu stimulus sakit, namun saat bagian itu ditusuk sakitnya nyaris tidak terasa. Di sisi lain, bagian dengan otot yang tebal adalah bagian yang paling menyakitkan jika ditusuk, namun kebanyakan bagian itu tidak sevital titik yang lebih lunak. Dengan sedikit pengalih perhatian, seseorang bisa membuat orang lain mati kehabisan darah.

Siku kirinya mencekik leher Arlan. Arlan terus menghimpitkan dagunya ke siku Alisa supaya Alisa tidak meremukkan lehernya seperti pemecah kacang. Sementara dengan pisau di tangan satunya, Alisa menusuk pinggang kanan Arlan. Dengan sisa stamina yang dimilikinya, dia mencabut pisaunya dan menusukkannya ke dada kanan atasnya. Arlan seakan tidak merasakan tusukan pertama, namun saat Alisa menusuk dada atasnya, Arlan menjerit kesakitan.

Saat Alisa mencabut pisau dari pinggang Arlan, darah mulai mengucur deras—terutama karena dia terus bergerak dengan liar. Biasanya korban akan menyadari lukanya dan berhenti bergerak untuk mengurangi pendarahan, di sinilah pengalih perhatian dibutuhkan; rasa sakit dari tusukan kedua.

Alisa melepaskan cengkramannya dari pisaunya dan menyumpal mulut Arlan. Dia mulai berontak dengan lebih liar lagi, namun dengan semakin banyak gerakan, semakin cepat dia berdarah. Tidak butuh lama sampai dia berhenti bergerak dan wajahnya memucat akibat kekurangan darah.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Arlan menepak-nepak tangan Alisa yang menyumpal mulutnya. Tahu dia tidak bisa melawan lagi, Alisa melepaskan tangannya dari mulut Arlan.

“...mone... ... yder.” Di antara nafas terakhirnya, Arlan membisikkan sesuatu. “Damone Snyder.” Dia mengulanginya dengan suara yang lebih jelas sambil terengah-engah.

“Damone Snyder?” Tanya Alisa memastikan. Arlan menjawab dengan anggukan lemah. “Siapa dia?”

Arlan telalu lemah untuk menjawab. Dengan sisa kehidupan yang masih ada, dia hanya bisa mengedipkan matanya sebelum dia kehilangan kemampuannya, membiasakan diri dengan kegelapan abadi yang akan segera menguasainya.

Dia mati.

Alisa melepaskan tangannya dari Arlan. Darahnya menggenang di lantai, bahkan menodai beberapa bagian pakaian Alisa. Alisa mengerahkan kekuatannya untuk memindahkan tubuh Arlan yang sudah tak bernyawa dari atas tubuhnya. Namun ketika sedang melakukannya, dia merasakan rasa sakit tajam dari perutnya. Tidak sampai dia selesai memindahkan tubuh Arlan dia baru bisa memastikan kalau memang ada luka tembak di bawah dada kirinya.

Pasti karena tembakan terakhir tadi,” pikirnya. Pendarahannya tidak parah, namun sakitnya luar biasa. Dia tidak bisa memastikan adanya luka tembus, namun ia yakin kalau peluru masih bersarang di dalam tubuhnya. Ketika dia bergerak terlalu banyak, dia merasakan rasa sakit kejut yang membuat tubuhnya mati rasa untuk sedetik.

Alisa merintih dan mengerang saat dia mencoba berdiri, tidak sengaja tangannya mendarat di genangan darah Arlan saat ia mencoba. Untuk berguling saja sudah sulit, apalagi untuk berdiri. Dia berdiri dengan menangkap mulut pintu dan memanjat dinding. Saat dia berdiri, dia menyadari kalau rasa sakitnya tidak terlalu parah jika ia tidak menggerakkan bagian kiri bawah tubuhnya.

Aku sudah membunuh orang.

Tangannya yang bersimbag darah bergetar dengan hebatnya setelah melihat seberapa parah kerusakan yang sudah dibuatnya. Pandangannya terhalangi rasa bersalah dan pikiran negatif. Claudia dan Elric sudah memperingatkannya kalau misi ini akan keras dan menyakitkan, namun ia tidak siap untuk ini.

Semakin ia memikirkannya, semakin pikirannya terrundung. Dia ingin menutup matanya untuk menjernihkan pikirannya namun ia tak bisa, dia pun menopengi wajahnya dengan tangannya. Sedikit membantu. Tanpa melihat, dia bisa berpikir lebih jernih.

Apa yang sudah kau lakukan?!” dia terus mengulangi kata-kata yang sama dalam benaknya, “Kau sudah menjadi apa? Kau menjijikkan! Kau—Tidak! Tidak! Ingat alasan kenapa aku melakukan ini. Semua ini bukan untukku!” Gadis ini kuat. Semangat dan motivasinya kokoh. Dengan itu, dia berhasil mengusir rasa bersalah dan menjernihkan pikirannya. “Aku harus pergi dari sini.

Pikirannya sudah jernih. Meski masih ada keraguan mengambang dalam benaknya, dia tahu apa yang harus dilakukannya. Namun ia tidak bisa melakukannya dengan penampilannya saat ini. Jika ada yang melihat seorang gadis bersimbah darah, tentunya mereka akan panik.

Alisa berjalan tertatih-tatih ke dapur dengan meniti dinding. Di sana ia membasuh tangannya sebelum darah mengering. Sayangnya darah itu tidak luntur dengan mudah. Meski ia menggosokkan tangannya dengan kasar, darah masih tersisa di tangannya.

Pada akhirnya dia menyerah. Seingatnya, dia melihat beberapa pakaian yang bisa ia gunakan di dalam kloset. Dia memeriksa kloset itu dan mengeluarkan sebuah celana, dia kaus, sebuah jaket dan sepasang sarung tangan kulit.

Dia melepaskan pakaiannya yang ternoda darah dan bersalin ke pakaian yang ia temukan. Butuh agak lama karena luka yang dideritanya. Dia tidak bisa mengobatinya sekarang, karena itu ia merobek kaus satunya dan membalutkannya pada lukanya.

Setelah ia memungut kembali senjatanya, dia mengumpulkan pakaian lamanya dan membungkusnya ke dalam tas plastik. Dan setelah itu, dia meninggalkan rumah Arlan. Masih ada banyak waktu sampai ada yang menemukan mayatnya di sini.

Dalam keadaan normal, Alisa butuh dua puluh menit berjalan dari rumah terdekat sebelum sampai ke rumah Arlan. Dalam keadaannya sekarang. Butuh waktu dua kali lipat dan lebih. Dia membuang tas plastik yang dibawanya ke dalam sebuah tong sampah yang ia temukan di sana dan lanjut berjalan ke motelnya. Dia tidak bisa pergi ke rumah sakit, mereka akan menanyainya macam-macam.

Alisa sampai di motelnya tepat saat matahari terbenam. Segera setelah sampai di kamatnya, dia membongkar tasnya, dia mengeluarkan ponsel dan menyalakannya. Karena hanya ada satu nomor di sana, dia pun menghubunginya. Dia lalu terduduk di atas sebuah kursi sambil menunggu panggilannya tersambung.

Halo?” ponsel itu berdering beberapa kali sebelum sebuah suara akrab menyapanya.

“Claudia, ini aku.”

Ada apa? Bukankah sudah kubilang untuk tidak menghubungi nomor ini kecuali dalam keadaan darurat?

“Aku tahu. Aku tertembak. Aku butuh bantuan.”

Oh,” jawab Claudia pendek. “Baik, aku aka mengirim seseorang untuk menjemputmu. Di mana kau sekarang?

“Weimar. Motel Jam Pasir.”

Oke, akan sedikit makan waktu sampai bantuan datang. Bertahanlah, kau mengerti?

“Aku tidak akan ke mana-mana,” komentar Alisa, “oh, dan...”

Ada lagi yang kau butuhkan?

“Aku dapat sebuah nama dari Errmin. Damone Snyder.”

Tidak. Jangan sekarang. Kau akan menceritakan ini saat kita bertemu. Paham?

“Entahlah...”

“Bertahanlah, jangan menyerah sekarang.”

Claudia memutuskan panggilan. Alisa sudah berusaha semampunya, namun ada batas seberapa banyak yang bisa diderita satu orang. Dan untuk Alisa, inilah batasnya. Dia sudah bertahan beberapa jam, sekarang bernafas saja terasa menyakitkan. Dia tidak tahu apa dia sanggup bertahan beberapa jam lagi, tapi dia merasa tidur akan sangat membantu.

Dia menyerah kepada kantuk. Bahkan dengan posisi duduk yang tak nyaman, dia tertidur dengan mudahnya.

Alisa jatuh ke dalam tidur tak bermimpi di mana waktu terasa tidak berjalan. Kegelapan, kesendirian; semuanya terasa damai. Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama. Alisa merasa seperti melihat sesuatu; secercah cahaya. Dia ingat kalau saat mati, manusia akan melihat cahaya di ujung kegelapan. Inikah cahaya yang dimaksud?

“Alisa...” dia mendengar seseorang memanggil namanya. Sebuah suara yang tidak bisa dia ingat siapa pemiliknya. Namun hanya ada sedikit orang yang memanggilnya dengan nama itu.

“Papa?” dia menjawab.

“Jangan konyol. Bangunlah.”

“Siapa?”

“Bangunlah.”

Cahaya itu pudar, kegelapan sekali lagi menguasai pandangannya. Namun lalu ia merasakan seseorang menyentuh pipinya, menamparnya dengan lembut. Dia merasakannya lagi dan lagi hingga ia menyadari bahwa kegelapan hanyalah alis matanya yang menghalangi pandangannya.

Dia mengangkat alisnya dan sekali lagi dia melihat kenyataan. Perlahan pandangannya yang kabur menyesuaikan diri. Segera ia menyadari sesosok pria terduduk di sampingnya dengan sebuah senter pena di tangannya. Dia adalah Elric.

“Selamat pagi.”

“Elric?”

“Ya, halo.”

“Sedang apa kau di sini?”

“Menyelamatkanmu, tampaknya. Aku sudah mengeluarkan peluru dari badanmu dan menjahir lukanya. Hanya untuk sementara, namun cukup untuk sekarang.”

Alisa bangkit dari posisi telentang, ini bukan posisi saat ia jatuh tertidur. Dia juga menemukan kalau kaus dan jaketnya sudah dilucuti, hanya menyisakan pakaian dalam yang menutupi dadanya. Meski demikian, dia juga menemukan kalau lukanya sudah diobati. Bagian bawah dadanya sudah dibalut perban bersih.

“Kau bisa bergerak? Kita harus pergi.”

“Ya, tentu.”

“Bagus. Aku sudah membereskan barang-barangmu. Ayo.”

Elric melempar sebuah kaus pada Alisa, yang mana segera ia kenakan sebelum turun dari kasur. Jarang sekali Alisa melihat Elric pergi jauh dari tempatnya seperti ini, lebih langka lagi melihatnya mengenakan celana panjang dan berjalan dengan tongkat berjalan.

Alisa masih bisa merasakan sakit dari lukanya, hanya saja tidak separah sebelumnya. Meski begitu, dia masih berjalan dengan hati-hati, takut-takut dia membuka lukanya lagi. Setelah mengunci pintu kamarnya, segera dia mengejar Elric. Namun Elric terus berjalan sementara Alisa mengurus check out di meja resepsionis. Setelah ia mengurus administrasi, dia mengejar Elric yang sudah berjalan ke lapangan parkir.

“Kau mengemudi sendiri ke sini?” Tanya Alisa melihat Elric membuka pintu kursi supir sebuah sedan perak.

“Mungkin aku cacat, tapi aku tidak lumpuh,” jawab Elric dengan nada dingin. “Cepat naik.”

Tanpa perlu diperintah pun, memang itulah yang akan Alisa lakukan. Alisa masuk ke dalam sedan dan Elric segera mengemudi keluar dari aera motel, dan tak lama mereka pun keluar dari kota.

“Apa yang terjadi di sana?” tanya Elric setelah ia melihat Alisa tampak murung, dia lebih memilih untuk beradu tatap dengan bayangan dashboard daripada melihat ke luar jendela.

Alisa tidak terkejut mendengarnya. Dia berpaling ke arah Elric dengan pelan. Elric sempat takut melihatnya, namun dari wajahnya jelaslah kalau dia baru saja mengalami kejadian yang membuatnya trauma.

“Aku sudah membunuh seseorang,” jawab Alisa setelah melihat kedua tangannya, “aku melihat matanya memudar kehabisan nyawa...”

“Wajar kalau kau merasa begitu, kau akan mendingan sendiri nantinya.”

“Bicara memang mudah—”

Elric menginjak rem dan menghentikan movilnya. Saking tiba-tibanya, mereka berdua bisa saja menabrakkan kepalanya ke kaca jendela depan jika mereka tidak memakai sabuk pengaman. Elric tidak menepikan mobilnya ke tepi jalan, dia hanya berhenti di tengah jalan. Untungnya tidak ada mobil lain di jalan ini.

“Kau kira membunuh itu mudah untukku? Aku sepuluh tahun lebih muda darimu saat aku harus membunuh untuk pertama kali. Saat nyawa jadi taruhannya, tidak ada ‘mungkin atau tidak mungkin.’ Hanya ada ‘sanggup atau tidak sanggup.’ Jika pikiranmu abu-abu, maka kau tidak sanggup.”

“Kedengarannya memang mudah dari apa yang kau katakan. Tapi kenyataannya tidak!”

“Memang. Apa yang kau rasakan sekarang hanyalah pertentangan dari moral yang sudah ditanamkan padamu bertahun-tahun secara sosial. Saat aku muda, membunuh memang mudah karena aku tidak tahu apa itu moral. Tapi inilah kita secara alami; predator, pemangsa. Jangan lawan perasaan ini, tapi terimalah.”

“Aku tidak bisa,” jerit Alisa seraya mulai menangis dan menutupi kepalanya dengan tangannya. Bayangan kematian Arlan terus menghantuinya saat ia menutup matanya.

“Maaf. Aku tahu rasanya pasti berat—membunuh pertama kali di usiamu saat ini—beban emosinya. Meski begitu, jangan dilawan. Akan lebih mudah jika kau membiasakan diri.”

“Tapi aku tidak bisa,” lanjut Alisa sambil tersedu. “Jika mencabut satu nyawa saja sudah membuatku merasa seperti ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika aku mencabut lebih banyak nyawa.”

“Aku iri padamu. Kau masih punya kemanusiaan. Aku tidak bisa membantumu, kau harus bangkit dari ini sendiri.”

Dari belakang mobil mereka, mereka mendengar mobil lain membunyikan klaksonnya. Sudah waktunya untuk bergerak. Tanpa membuang waktu lagi, Elric menginjak gas dan mengemudi pergi.

“Kau akan punya waktu, kau harus memulihkan kondiri sebelum tugasmu berikutnya,” lanjut Elric.

Butuh beberapa jam hingga mereka sampai di rumah Elric. Setengah jam setelah mereka memulai perjalanan, Alisa jatuh tertidur dan tetap tertidur sepanjang jalan.

Beberapa hari kemudian, Claudia mengunjungi tempat Elric. Di sana Alisa melaporkan penemuannya pada Claudia. Alisa memaksa untuk melanjutkan misinya sesegera mungkin, namun Claudia menekankan kalau Alisa harus beristirahat sampai kondisinya pulih terlebih dahulu. Saat diminta menjadi suara penentu, Elric memilih setuju dengan Claudia. Suka tidak suka, Alisa harus beristirahat.

Alisa beristirahat selama sebulan lebih sebelum Elric menyatakan kondisinya cukup untuk melanjutkan misi. Saat waktunya tiba, Elric memberikan informasi pada Alisa. Kali ini, saat Alisa beristirahat, Claudia sudah melakukan penyelidikan sendiri, namun bahkan dengan sumber dayanya, dia menemukan jalan buntu.

Nama yang didapatkan Alisa dari Errmin adalah nama seorang ilmuwan. Setelah Errmin dinyatakan tewas, posisinya digantikan oleh seorang fisikawan bernama Damone Snyder. Dengan kedudukan sama dengan Arlan, Damone semestinya memegang informasi yang sama dengan Arlan.

Sayangnya, keberadaan Damone tidak diketahui. Tampaknya Damone seringkali ditugaskan oleh Einhorn Foundation untuk keliling dunia, dia bisa berada di mana saja. Alisa mencoba banyak cara mencoba menemukannya, namun kebanyakan gagal. Percobaan dan kegagalan.

Selama tiga bulan, Alisa berkeliling antar negara mencari informasi tentang Damone. Setelah ia mendapatkan identitasnya, detail dokumen identifikasi, dan nomor passportnya, mencarinya jadi lebih mudah. Dengan data ini, Alisa berhasil menemukan catatan perjalanan Damone. Dia memang sering bepergian. Dalam satu bulan, dia bisa mengunjungi delapan negara di tiga benua. Akan sulit untuk mencegatnya di tujuan berikutnya.

Meski demikian, jalur perjalanannya bukan tanpa pola. Dari negara yang terdaftar, ada satu tempat yang ia kunjungi lebih sering daripada yang lain. Dalam tiga bulan, Damone mengunjungi Praha enam kali, lebih banyak dari negara lain. Jika pola ini benar, cepat atau lambat dia akan kembali ke sana.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc