Masa sekolah adalah masa-masa di mana kita melakukan kesalahan, di mana dari proses kesalahan tersebut kita belajar untuk tidak membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya–proses ini disebut sebagai belajar dengan jalan keras, yang mana juga adalah proses belajar dengan tingkat katarsis paling dalam. Pelajaran yang didapat dari proses ini tidak terdaftar dalam registrasi proses memori, melainkan terdaftar secara emosional, membentuk persona kita menjadi siapa kita sekarang. Inilah yang dialami Ishida Shouya di Koe no Katachi—The Shape of Voice—karya Yoshitoki Ooima.

SPOILER ALERT!

Shouya adalah seorang anak sekolah dasar yang menikmati hidup dalam dunia indah yang sempit—cukup sempit hingga ia mengira kalau tidak ada lagi yang bisa membuatnya terkesan—bersama teman-temannya yang sama dengannya. Setidaknya sampai kemunculan Nishimiya Shouko; seorang murid pindahan yang tiba-tiba bergabung ke dalam kelasnya. Shouko adalah gadis dengan keterbatasan berupa tunarungu dan tunawicara, dua kekurangan yang belum pernah disaksikan oleh Shouya yang cukup menarik untuk diguncang-guncangnya tiap ada kesempatan. Setidaknya sampai posisinya terbalik.

Di masa mudanya, kesalahan Shouya yang paling ia sesali adalah gagal memahami perbedaan antara pemaksaan kehendak dan kebebasan pribadi yang sudah membuatnya tidak tanggung menindas Shouko. Ketika ia menolak menjadi satu-satunya yang disalahkan sebagai orang yang bertanggungjawab atas perlakuan-perlakuan tidak mengenakkan yang diterima Shouko memuncak, ia sadar akan kesalahannya dan memilih untuk tidak memandang orang lain lagi. Buah dari kesalahannya inilah yang sudah mengubah dunianya. Dari permukaan, tambak bahwa pelajaran akhirnya adalah kita juga yang akan menuai apa yang kita tanam. Namun sebenarnya, justru dari sekarang—setelah ia berada di posisi di mana ia sadar bahwa dunianya tidak sempit dan setelah ia menyesali perbuatannya dulu kala—Shouya baru bisa mempelajari pelajaran sesungguhnya.

Di SMA, Shouya sempat berniat untuk mengakhiri hidupnya saking menyesalnya. Namun ketika ia menyempatkan diri untuk menemui orang yang dulu ia sakiti sebelum dunianya menjadi terbalik—Shouko—ia menemukan secercah harapan dan motivasi untuk tidak mengakhiri hidupnya. Dari sini, ia dan Shouko mengalami perjalanan retrospektif yang menuntun mereka—dan semua karakter yang terlibat—ke arah kedewasaan.

Perlahan Shouya dipertemukan kembali dengan kawan-kawan lamanya dari sekolah dasar. Banyak yang sudah berubah. Dan dari sana pula mereka mulai belajar dari masa lalu mereka masing-masing, masa lalu teman-temannya, serta sejauh mana mereka berubah. Namun perjalanan retrospektif ini tidak bisa berjalan lancar mengingat tidak semua dari mereka sudah berubah dari diri mereka yang dulu, menciptakan konflik yang memperdalam proses katalis pembentukan karakter para karakter.

Cerita ini adalah salah satu cerita dengan dinamika paling rumit yang pernah saya temukan meski karakter vitalnya tidak terlalu banyak. Di situ juga titik kuatnya; dengan jumlah karakter vital yang tidak banyak, cerita ini jadi lebih terfokus dengan katarsis yang mudah diukur. Pembawaannya juga syarat akan pesan-pesan yang ditunjukkan langsung secara visual, tidak bergantung dari satu karakter yang berperan sebagai narator untuk menyampaikan motivasinya. Tebakan saya agar cerita ini tidak terkesan terpusat—agar tidak tampak adanya fokus karakter—meski jelas semua konflik berporos pada Shouya karena tidak hanya Shouya yang menjalani perjalanan retrospektif di sini.

Shouko adalah salah satu karakter yang tidak berubah dari sifat asalnya dari 5 tahun lalu. Ia yang ditemui Shouya sebelum akan mengakhiri hidupnya, dalam satu kali pertemuan mengajari Shouya akan ketangguhan untuk bertahan hidup. Dalam perjalanan retrospektifnya, Shouko membuat Shouya semakin mengerti akan harga kehidupan yang perlahan membuat Shouya semakin dekat dengan Shouko.

Nagatsuka yang adalah teman pertama Shouya setelah bertahun-tahun mengajari Shouya akan arti persahabatan setelah arti persahabatan yang ia ketahui sebelumnya rusak akibat kesalahan yang dilakukannya.

Kawai yang masih sama dengan dirinya 5 tahun lalu mengajari Shouya untuk bisa menelan egonya demi tidak mencari pengakuan palsu, yang mana ironisnya merupakan kelemanan terbesar Kawai.

Ueno yang merupakan karakter paling idealis di antara semua karakter adalah antithesis dari Shouya sendiri; sejujurnya selain menjadi plot bunny, Ueno tidak memiliki peran dalam perjalanan retrospektif yang dialami karakter-karakter lain.

Sahara yang sudah berubah dari dirinya 5 tahun lalu mengalami perjalanan retrospektif yang sama seperti Shouya yang mengajari dirinya dan Shouya akan kemauan untuk mengakui bahwa kehidupan itu dinamis—bahwa apa saja bisa terjadi dan siapapun bisa berubah.

Semua pelajaran yang diterima Shouya dari teman-temannya ini diuji saat di suatu saat, Shouya dan teman-teman barunya mengalami konflik yang mengakibatkan Shouko merasa bahwa ialah penyebab dari rusaknya hubungan baik antara Shouya dan teman-teman baru maupun lamanya hingga ia terdorong untuk mengakhiri hidupnya. Shouya yang sudah bukan dirinya yang lama—yang tidak bisa membedakan pemaksaan kehendak dengan kebebasan pribadi ataupun dirinya yang merasa tidak pantas hidup karena pernah tidak bisa membedakan apa yang disebutkan di poin sebelumnya—berhasil mencegan Shouko untuk mengakhiri dirinya. Namun ia harus mengorbankan dirinya untuk ini.

Setelah bangun dari koma akibat menyelamatkan Shouko dan setelah ia kembali ke sekolah, film ini berakhir dengan Shouya bisa memandang orang-orang di sekitarnya tanpa menghalangi pandangannya akan dunia sempitnya. Akhir film ini dinilai sangat ambigu atau memiliki makna yang sangat obscure. Namun menurut saya adaptasi film ini menyederhanakan konflik dan hasil dari keseluruhan perjalanan retrospektif yang dialami Shouya ke dalam satu pesan besar yang menjadi dasar perubahan motivasi Shouya setelah menemui Shouko di awal cerita;

Mati itu mudah, namun tidak ada maknanya.
Hidup itu sulit, namun indah.
Ending yang diperdebatkan.

Secara keseluruhan, cerita ini membungkus dinamika mental anak muda pra-remaja secara sempurna dan merupakan cerita coming-of-age yang sangat matang disertai dengan pesan puncak agar bisa tangguh dalam menjalani kehidupan. Kesalahan yang dilakukan seseorang di masa lalu tidak mendefinisikan diri mereka selamanya. Dan ironisnya, inilah dogma terdasar yang membentuk karakter Shouko.

...dan inilah kenapa menurut saya, cerita ini adalah cerita yang layak mendapat nilai 9 dari 10.

Post script! Saat menulis artikel ini, saya belum baca material sumbernya sampai selesai.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc