Sebuah sosok mulai muncul, menggerhanai cahaya matahari menyilaukan yang terpantul. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi tanpa menyia-nyiakan kesempatanku, aku mulai berlari menyerangnya.

“Berhenti!”

Aku langsung berhenti. Padahal hanya dua langkah lagi sampai aku bisa menyerangnya. Bukan karena perintahnya, tapi karena aku menyadari kalau dia sedang mengarahkan tangan kanannya yang tersembunyi di dalam saku jaketnya ke arahku. Hal pertama yang kupikirkan adalah kalau-kalau dia membawa pistol di dalam saku jaketnya.

“Mundur,” lanjutnya sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang masih tersembunyi di dalam saku jaketnya.

Dia tidak terlalu berbeda dengan kedua temannya. Dia mengenakan kemeja hijau pucat dan celana hitam, tapi dia juga mengenakan jaket surplus berwarna hijau tua di mana dia menyembunyikan tangan kanannya di dalam saku kanannya. Tidak seperti Odi dan Rick yang berambut cepak, pria ini botak tidak berambut.

Perlahan aku berjalan mundur dengan kedua tanganku terangkat untuk menunjukkan kalau aku tidak akan melawan. Setelah aku membuat jarak yang cukup, dia mulai memanjat naik meski adanya trafik kendaraan di belakang ambulans ini. Entah apakah karena dia tahu kemacetan ini tidak akan segera maju atau karena dia memang tidak peduli.

“Apa yang sudah kau lakukan?” tanyanya begitu melihat Odi dan Rick terkapar, “apa kau...”

“Mereka masih hidup. Aku tidak membunuh mereka.”

Dia lalu menutup pintu belakang setelah dia masuk ke dalam. Ini bisa jadi kesempatanku. Tapi jarak antara aku dan dia, di mana aku terduduk di ujung bangku kiri dan dia hanya satu langkah dari pintu belakang, masih satu langkah terlalu jauh untuk dilangkahi dalam satu rentang waktu pendek untuk menekan pelatuk pistol.

“Ke mana kalian membawaku?” aku harus mencoba bertanya. Pertanyaanku memang terdengar salah, pertanyaanku berasal dari sang korban yang diancam oleh sebuah pistol yang tersembunyi.

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.”

“Setidaknya beritahu siapa aku.”

“Ha hah,” dia tertawa mengejek, “biasanya orang lain bertanya tentang kami di situasi seperti ini.”

“...” aku hanya bisa memandangnya sinis. “Kalau begitu, siapa kalian?”

“Sayangnya, aku juga tidak bisa menjawabnya.”

Sepertinya tidak ada pertanyaan yang bisa dia jawab yang akan memberiku informasi yang berguna. Jika bukan karena pistol tersembunyi yang dia genggam, aku mungkin sudah menghajarnya. Ada 50-50 kemungkinan kalau dia memang memegang sebuah pistol, tapi aku tidak mau bertaruh.

Setelah pertanyaan terakhirku, kami hanya saling bertatapan untuk sesaat. Meski aku sudah mencapai dinding, dia masih terus mendekat. Ia sedang menunggu kesempatan untuk melucutiku. Jika dia memang memegang senjata dan dia ingin membunuhku, dia punya kesempatannya, ini berarti dia ingin aku tetap hidup.

“Ugh...”

Tiba-tiba Rick mengerang lemah. Aku tidak bisa menyalahkannya. Aku sudah menghajar kepalanya dengan keras. Aku tidak perlu menengok ke arahnya. Cukup dengan sedikit menggulingkan bola mataku aku sudah bisa melihat keadaannya. Namun tidak sepertiku, Gyle perlu menengok.

“Rick, kau tidak apa-apa?”

Inilah kesempatan yang kubutuhkan. Meski hanya jeda yang sempit, namun sudah cukup. Gyle butuh melepaskan perhatiannya dariku. Begitu perhatiannya teralihkan, aku segera melompat dari bangku dan kugenggam pergelangan kanannya yang sudah sedikit menurun dengan tangan kiriku.

*BLAM*

Dia sempat terkejut. Tapi meski panik, dia berhasil menarik pelatuk pistolnya. Untungnya material yang membuat permukaan ambulans ini tidak terlalu tebal, peluru dari pistolnya menembus ke luar. Tapi tidak hanya itu. Pistol milik Gyle tidak dilengkapi dengan peredam. Dan karena kami semua berada di dalam sebuah kotak metal yang tertutup, gaung ledakannya cukup untuk membuat kami tuli. Seperti terduduk di dalam lonceng yang didentangkan.

Suara nyaring menaklukkan indra pedengaran kami. Aku coba untuk menahannya sekuat tenaga. Gyle juga melakukan hal yang sama. Namun tidak sepertiku, dia harus menggunakan tangan kirinya untuk menyumpal telinga kirinya, mencoba untuk menyeimbangkan diri.

Aku berhasil menyadarkan diri lebih cepat darinya. Dengan keuntungan ini, aku berencana untuk menjatuhkannya. Keseimbangannya sudah tampak goyah, aku hanya cukup menekannya sedikit untuk menjatuhkannya.

Meski aku masih berupaya menekan suara nyaring yang menulikan telingaku, aku meluruskan telapak kananku. Aku naikkan lenganku hingga sejajar dengan wajahku, dan kubuat jarak yang cukup dari sasaranku supaya aku bisa membangun momentum sebelum seranganku bertabrakan dengan sasarannya. Dan dengan kekuatan seperti banteng yang menyeruduk, aku dorongkan telapak tanganku ke arah wajahnya, tepat mengarahkannya ke jembatan hidung di antara hidung dan kedua matanya.

Seranganku mendarat dengan keras. Pukulanku membuatnya terhempas mundur. Namun karena aku masih menggenggam tangan kanannya, dia memantul maju seperti sebuah yo-yo rusak. Dia terpeleset, seperti yang aku mau, dia berlutut dan nyaris kehilangan keseimbangan. Satu-satunya yang mendukungnya berdiri di lutut kirinya adalah tangan kiriku yang masih menggenggam tangan kanannya.

Aku tidak ingin kehilangannya, dan aku tahu dia tidak bisa berdiri lagi. Jadi aku lepaskan peganganku dan dia terjatuh seperti pohon yang ditebang. Aku bisa melihat Rick sudah mulai tersadar. Aku putarkan badanku searah jarum jam dan menamparnya dengan punggung tinjuku. Kepalanya sempat mengayun dua kali sebelum dia jatuh pingsan lagi.

Sementara dia berusaha bangkit, aku melicuti Gyle. Aku ambil pistol kecil yang dia simpan di saku jaketnya dan lalu aku duduk di bangku yang ada di seberangnya. Aku tunggu sampai dia berhasil duduk di atas bangku kanan. Butuh sampai setengah menit untuk bisa melakukannya.

“Bunuh saja aku,” ujarnya dengan suara serak.

“Apa kau tahu siapa aku?”

“...” dia hanya menatapku dengan tajam.

“Apa kau tahu siapa aku?!”

“...” dia terus menatapku.

Aku ulangi pertanyaanku sambil menaikkan nada bicaraku. Namun sepertinya masih belum cukup untuk membuatnya berbicara.

“...”

Mungkin hanya ilusi mentalku, tapi semakin aku bertanya, aku merasakan tatapannya semakin membuatku emosi.

“APA KAU TAHU SIAPA AKU?!”

Kali ini aku puncakkan suaraku setinggi-tingginya. Bahkan mendengarkan suaraku menggaung pendek di sini membuatku tidak nyaman.

“...”

“BERITAHU AKU SIAPA AKU!!”

Aku tidak bisa menaikkan suaraku lebih tinggi lagi. Jadi daripada menaikkan nada bicaraku, aku ubah pertanyaanku menjadi perintah sambil mengarahkan pistol di tanganku ke arahnya.

“...”

Aku bisa melihat kalau dia mulai tersenyum, aku tidak menyukainya. Aku hentakkan gigiku menahan ketidaksabaran yang mulai berubah menjadi kemarahan. Perlahan kemarahan mulai menguasaiku, mendorongku untuk menarik pelatuk pistolnya.

Gyle menutup mataya, seakan mempersiapkan diri jika aku menembaknya. Aku hanya butuh meremas pelatuknya sedikit. Namun rasanya seperti mencoba memecahkan telur dengan satu tangan; aku tidak bisa melakukannya.

Aku pun segera menarik nafas untuk menenangkan diri dengan cepat begitu aku menyingkirkan pistol yang kugenggam dari wajah Gyle.

[Hal terkutuk apa yang sudah merasukiku tadi?!]

Aku sadari kalau aku tertahan oleh rasa bersalah. Aku bukanlah pembunuh. Aku tidak menjatuhkan helikopter itu. Aku bukanlah apa yang dunia katakan tentangku.

Begitu aku sudah jauh lebih tenang, aku bisa melihat Gyle tersenyum.

“Lihat apa kau?” tanyaku sambil masih menenangkan diri.

“Kau bisa merasakannya, bukan?”

“Apa?”

“Aku bisa melihatnya dalam dirimu.”

[Apa yang dia bicarakan?]

“Aku tahu kau memilikinya; insting ganas yang mendorongmu melakukan hal-hal gila untuk mendapatkan apa yang kau mau.”

“...”

“Aku tidak tahu siapa kau, tapi aku tahu kenapa aku dikirim untuk menangkapmu.”

“...”

“Kau seorang pembunuh, aku yakin itu.”

Aku kehilangan senyum yang meghiasi wajahku. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak, tapi yang penting aku tahu kalau aku rela mengeringkan pembuluh darahku untuk membuktikan kalau itu tidak benar.

[Dia tidak tahu apa-apa.]

Pernyataannya tadi sudah membuktikannya, dia hanya menerka-nerka.

“Kalau kau percaya masa lalumu bukanlah kau yang sekarang, kau salah. Kau masih tetap orang yang sama sebelum kau—”

Sambil masih menggenggam pistol, aku memukulnya tepat di mulutnya. Aku tidak menggunakan kekuatan penuh seperti yang kulakukan terakhir kali, aku hanya ingin menutup mulutnya.

“Ouch!”

Punggung jari-jariku bertubrukan dengan gigi-gigi serinya, dan mungkin taring kirinya. Namun seperti yang kulihat sekarang, pukulanku berhasil membungkamnya.

“Tutup mulutmu,” ujarku dengan nada dingin sambil memasang safety pistol yang kugenggam.

Dengan pikiran yang lebih jernih, aku mulai bisa berpikir lurus. Aku teringat jika aku membunuh satu saja dari mereka, aku tidak akan mendapat apa-apa kecuali kepuasan sesaat yang segera berbuah menjadi penyesalan seumur hidup dan kekecewaan. Pemikiranku membuktikan kalau aku bukan apa yang mereka katakan tentangku, dan aku tidak menyukai pemikiran ini.

Rencana yang lebih baik adalah membiarkannya membawaku ke tempat tujuannya. Aku tahu perjalananku bukanlah perjalanan yang bisa kusebut cukup di tengah jalan, perjalananku adalah sebuah misi di mana aku hanya bisa menemukan semua jawabannya di ujung perjalananku.

*BEEP* *BEEP* *BEEP*

Dan mendengar suara klakson mobil mulai bersahut-sahutan, aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku selipkan pistol yang kugenggam ke punggung celanaku lalu aku berlutut di hadapan Gyle dan menatapnya dengan dingin dan tajam.

“Aku ingin tahu ke mana kau akan membawaku, dan kau akan mengantarku ke sana.”

“...” dia hanya membalas dengan tatapan tajam lagi, aku hampir saja menarik pistolku keluar lagi sebelum dia membalas, “lupakan.”

“Aku tidak meminta, aku memerintahkanmu.”

“Kau gila? Kau harusnya tidak mencari mereka. Kau seharusnya kabur dari mereka.”

“Aku sedang mencari jawaban, dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.”

“...”

Untuk sesaat dia terdiam, mungkin menimbang-nimbang resiko dan konsekuensinya, atau memikirkan kode profesionalnya, atau mungkin hanya memikirkan kata-kata yang tepat untuk membalas perkataanku. Namun apapun yang dia pikirkan, pada akhirnya dia hanya tertawa.

“Ha ha hah,” dia berhenti tertawa setelah sesaat, dia tampak masih kesakitan setelah aku memukul mulutnya tadi. “Baiklah, akan kulakukan. Tapi bukakan ikatan mereka.”

Dia menunjuk ke arah Rick dan Odi yang masih terbaring tak sadarkan diri, dan jelas permintaannya bukanlah syarat yang bisa dinegosiasikan. “Tidak bisa, sekarang keluar.”

Aku tarik bagian belakang kerah jaket dan kerah kemejanya dan mendorongnya keluar dari ambulans. Di luar tampak mobil-mobil di belakang sudah menunggu kami maju karena agak jauh di depan kemacetan tampak sudah mulai maju.

Kami mengikuti sisi kanan ambulans sampai Gyle tiba di bagian depan ambulans. Dia masuk ke kursi supir sementara aku masuk ke kursi penumpang depan. Tidak lama lama setelah kami memasuki mobil, kemacetan di hadapan kami akhirnya mulai maju.

“Jalan,” perintahku pelan sambil mengenakan sabuk pengaman dan menonton Gyle melakukan hal yang sama.

Selama kami masih berada di dalam kemacetan, sepuluh menit pertama kami habiskan berdiam diri. Lagipula aku tidak tahu tata jalan kota ini, aku hanya bisa menonton Gyle mengemudi sambil beberapa kali dia berkumur dengan air dari air botolan untuk membasuh gusinya yang berdarah.

Kesunyian di antara kami memang tidak nyaman, apalagi karena kami saling tidak menyukai. Dan karena aku tahu dia tidak mungkin mulai bicara, aku memilih untuk menanyainya lebih jauh.

“Siapa yang mengirim kalian untuk menangkapku?”

“...”

“Hey, aku bertanya padamu; siapa yang mengirim kalian untuk menangkapku?”

“Lalu kau bisa apa kalau aku tidak menjawab? Kau tahu aku sedang mengemudi, 'kan?”

“...” komentarnya yang terdengar merendahkan tidak membuatku kesal, tapi aku tidak suka mendengarnya membantahku. “Apa kau tahu kalaupun kau menabrakkan mobil ini, aku masih bisa membuatmu hidup dengan cidera permanen?”

Bisa kulihat kalau dia menelan pernyataanku. Sebenarnya entah bagaimana atau kenapa, aku memang tahu bagaimana melakukan apa yang kukatakan tadi. Dan untuk membuktikan kalau aku serius, aku keluarkan pistolku dan mengarahkannya ke arahnya.

“Bagaimana?”

“...” dia melirik ke arah pistol yang kupegang rendah namun masih mengarah tepat ke kepalanya. Setelah dia menelan udara, dia mulai berbicara, “aku tidak tahu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu siapa yang membayar kami untuk menangkapmu, kami tidak pernah bertemu langsung dengannya.”

“...” jadi mereka hanya preman sewaan, mereka tidak penting sama sekali. “Aku dengar kalian membicarakan seseorang yang kalian sebut Supervisor, siapa dia?”

“Aku... tidak tahu.”

“Jangan bohong.”

“Aku tidak tahu, paham? Kami hanya mendapat perintah berupa pesan singkat via telepon genggam.”

“Dari ponsel ini?” tanyaku sembari mengeluarkan sebuah ponsel candybar panjang dari sakuku, tampilan penggunanya sudah sangat dirubah, bahkan butuh passcode untuk mengakses menu utamanya.

“...” dia tidak menjawab.

“Aku anggap iya,” ujarku sambil memainkan ponselnya dengan tangan kiri sementara tangan kananku masih mengarah ke arahnya. “Apa passcodenya?”

“...” dia tampak kesulitan memilih apa dia harus menjawab pertanyaanku atau tidak. “Supervisor adalah orang yang mengatur target kami. Dia mengirim tugas kami lewat ponsel itu dan jika kami berhasil, dia akan mengirimkan bayaran kami. Kami tidak pernah melihatnya langsung.”

“Berarti Supervisor bukanlah boss kalian?” tanyaku memastikan sembari menaruh ponselnya kembali ke sakuku.

“Sepertinya bukan.”

[Tidak berguna.]

“Ngomong-ngomong, ke mana kalian ditugaskan membawaku? Sudah duapuluh menit kita jalan dan belum sampai juga.”

“...” Gyle menjeda agak lama sebelum menjawab pertanyaanku, “Aku—”

*Tok* *Tok*

Tiba-tiba dua kali ketukan di permukaan dinding yang memisahkan kursi depan dan bagian belakang terdengar.

[Apa-apaan ini? Jadi selama ini dia hanya mengulur waktu?!]

“Maaf, Letnan,” ujarnya, entah apa dia benar-benar percaya kalau aku memang Theodore Quentin karena dia memanggilku dengan pangkat milik Quentin, “tapi aku sudah terlalu banyak bicara.”

Aku sudah meremehkan mereka. Mereka punya rencana dan aku jatuh ke dalam perangkap mereka. Meski mereka tidak berpengalaman dalam pertarungan jarak dekat, mereka cukup terkoordinasi.

*SKREEK*

Apa yang Gyle lakukan berikutnya berada di luar kesiapanku. Dia membanting setir ambulansnya dengan tajam ke arah kanan. Dalam rentang waktu tipis antara perubahan situasi yang tiba-tiba dan menabrak dinding sebuah toko kecil, Gyle meraih kait sabuk pengamanku dan melepaskannya, aku bisa melihatnya tersenyum sebelum bemper depan ambulans ini menabrak permukaan dinding yang solid dengan kekuatan yang cukup keras.

Dalam sebuah rentang waktu yang lebih tipis lagi antara menyadari Gyle sudah melepaskan sabuk pengamanku dan menabrak dinding, otakku langsung jatuh ke dalam pemikiran dalam untuk mencari tahu cara paling aman untuk meminimalisir kerusakan yang akan diterima tubuhku. Memasukkan kembali sabuk pengamanku ke dalam kaitnya jelas tidak mungkin, selain memakan terlalu banyak waktu, juga butuh ketepatan yang tidak mungkin kulakukan dalam hitungan detik. Menutupi wajahku dengan kedua lenganku juga tidak bagus, lenganku bisa patah jika aku melindungi diri dengannya dan bertabrakan dengan dashboard mobil. Bersembunyi di bawah dashboard juga bukan rencana bagus, meski ada ruang luas antara komparmen mesin dan kursi depan, ada kemungkinan aku akan terhimpit, atau lebih parahnya, remuk saat tabrakan terjadi.

Satu-satunya reaksi terbaik yang bisa kuambil adalah dengan berbaring secara horizontal di atas permukaan kursi penumpang. Meski aku terlempar saat tabrakan, seluruh tubuhku akan bertubrukan dengan dashboard dan hanya sedikit luka. Aku juga tidak perlu cemas dengan pecahan-pecahan kaca dari kaca depan jikalau kaca depan pecah karena aku mengenakan jaket. Yang kubutuhkan hanyalah menutupi wajahku.

Meski tampak kalau aku sudah menghabiskan banyak waktu berpikir, sebenarnya belum ada satu detik berlalu sejak Gyle melepaskan sabuk pengamanku. Aku hanya butuh satu detik lagi untuk melakukan apa yang sudah kurencanakan. Aku langsung menjatuhkan badanku ke kanan, menaikkan kakiku ke atas kursi dan berbaring di sisi kananku. Lalu aku tutupi kepalaku dengan memasukkan kepalaku ke dalam tudung jaketku. Begitu aku mencapai posisi yang kuinginkan, aku tutup mataku dan bersiap untuk tubrukan.

Untuk orang biasa, hal ini hanya akan terjadi dalam sesaat. Mereka bahkan tidak akan menyadari apa yang sudah terjadi. Namun aku berbeda. Meski aku menutup mataku dan tidak bisa melihat apa yang terjadi di sekelilingku, aku bisa merasakan semuanya. Aku bisa merasakan bagaimana bemper depan bertabrakan dengan dinding yang keras, dan bagaimana gaya yang dihasilkan tabrakan mengalir dari depan ke belakang. Tubuhku yang terlempar ke depan bertabrakan dengan dashboard, aku kira aku akan terjatuh ke dalam ruang antara dashboard dan kursi, namun aku malah terpantul kembali ke kursiku.

Hal selanjutnya adalah hujan pecahan kaca depan, kain parasut yang menjadi bahan jaketku melindungiku cukup baik dari tajamnya pecahan kaca-kaca depan. Dan selain bagian kiri badanku yang sedikit nyeri akibat berbenturan dengan dashboard, aku baik-baik saja. Setelah semuanya terjadi, aku buka kedua mataku perlahan. Aku bisa merasakan sesuatu sedang meraba-raba saku kiriku. Aku ingat di sanalah aku menyimpan ponsel itu. Segera aku bangkit, namun aku terlambat. Gyle sudah merebut ponsel itu dariku. Namun bukannya menyimpannya dengan aman, dia justru merusaknya dengan cara menghantamkannya ke dashboard.

Mendengar dua kali ketukan yang menyebabkan semua ini, aku sadar kalau Rick dan Odi pasti sudah berhasil membebaskan diri. Yang berarti mereka akan segera membantu Gyle menangkapku. Aku hanya punya sedikit waktu untuk kabur. Hal pertama yang harus aku cari adalah senjata. Aku lihat ke bawah, ke arah ruang di antara dashboard dan kursi. Aku bisa melihat pistol terbaring di sana, menunggu untuk dipungut.

Aku berhasil meraihnya dengan mudah dan segera aku membuka pintu di kiriku lalu bergegas meninggalkan ambulans sementara Gyle masih berusaha melepaskan sabuk pengamannya. Entah apakah dindingnya yang terlalu lemah atau bagian depan mobil ambulans yang terlalu kuat, ambulans ini berhasil menembus dinding sebuah toko serba ada.

“Rick, jaga sebelah kanan!”

Aku bisa mendengar suara teriakan yang dibarengi dengan suara pintu belakang ambulans dibanting. Itu suara Odi. Mendengar suaranya membuatku urung untuk berlari ke belakang ambulans menuju ke gang kecil di samping toko ini. Aku masuki toko ini lewat lubang dinding yang diciptakan ambulans, biar aku cari jalan keluar lain lewat belakang toko. Saat sudah di dalam aku periksa pistol kecil yang kugenggam. Aku tahu pistol semacam ini hanya berisi sembilan peluru. Dan karena Gyle sudah menembakkan satu tadi—dengan asumsi dia sudah mengisinya penuh—berarti pistol ini masih berisikan delapan peluru.

Bagian dalam toko ini sudah jadi berantakan. Untungnya meja kasir ada di ujung ruangan. Jika saja meja kasir ada di dekat pintu masuk, bisa fatal jadinya.

*BLAM*

Begitu aku melihat Odi muncul dari bagian kiri ambulans, aku lepaskan safety pistolku dan kulepaskan sebuah tembakan. Tembakanku tidak mengenainya, tapi memantul dari sisi ambulans ke arah jalan. Untungnya tidak ada banyak orang di sana.

Di sisi lain, Gyle dan Rick sudah bergabung. Dari sini aku bisa melihat kalau mereka memegang senjata. Mereka berdua memegang sebuah machine gun otomatis satu tangan yang entah dari mana asalnya. Aku tidak melihat Odi dengan jelas, tapi aman untuk berasumsi kalau dia juga membawa senjata.

“Kau masih bisa menyerah, Letnan!” teriak Gyle sambil berlindung di balik mesin ambulans.

[Tidak akan!]

Dengan segera aku mengambil perlindungan di balik sebuah counter tanpa membalas, tentunya aku tidak ingin bersama mereka lagi.

Aku tidak sendirian di dalam toko ini, ternyata ada satu sosok lagi yang sedang bersembunyi di ujung counter. Setelah sedikit lebih lama mengamatinya, aku bisa melihat kalau dia adalah seorang wanita. Dia bersandar pada counter sambil menutupi telinganya.

Anehnya aku merasa seperti pernah melihatnya. Rambutnya panjang sepanjang pinggang, namun bentuk tubuhnya terasa sangat akrab. Jika aku tidak salah, dia tampak seperti sosok putih yang kulihat dalam mimpiku.

[Tidak mungkin...]

Senjata mereka memuntahkan sederetan peluru. Tembakan mereka mengenai dan menembus counter kayu yang ada di sebelah kiriku. Aku mungkin sudah tewas jika aku bersembunyi di belakangnya. Setelah aku melihat sosok yang ketakutan itu, aku sadar kalau perhatianku sudah sedikit tidak fokus.

Mataku terlalu terfokus mengamatinya. Aku perlu menghampirinya. Tapi meskipun aku berhasil meraihnya, aku masih harus menyelamatkannya.

“Letnan!”

Tidak seperti sebelumnya, mereka mengarahkan senjata mereka lebih rendah. Sepertinya tujuan mereka adalah untuk menangkapku hidup-hidup. Memang benar mereka mungkin punya sesuatu yang ingin kuketahui, tapi ada potensi kepingan petunjuk lain di ujung ruangan ini.

Aku berjalan jinjit sambil berjongkok menyusuri counter dengan pistol di tangan kiriku. Aku berjalan dengan canggung untuk mencoba meyembunyikan kepalaku.

“Odi, periksa counternya!” perintah Gyle dari balik ambulans.

Entah berapa jarak kami dari kantor polisi terdekat. Tapi kalau terus begini, kami akan tertangkap. Tapi jelas aku harus menyelamatkan gadis itu dulu.

*BLAM*

Setelah mendengarkan perintah Gyle tadi, aku mengintip dari puncak counter. Aku menemukan Odi sedang berjalan maju ke arah counter. Namun ia belum menyadari kalau aku sudah berpindah. Aku ambil keuntungan ini untuk menembak kaki kananya.

“Ahh!”

Odi goyah begitu dia merasakan timah panas menembus betis kanannya. Dia juga berteriak setelah dia menyadari apa yang mengenainya.

“Dia di sana!” teriak Gyle lagi.

Sebuah rentetan peluru kembali ditembakkan. Peluru-peluru itu mengenai dan menembus counter yang aku lewati sementara aku masih terus mencoba mendekati gadis itu. Dia tidak bergeming meski mendengar suara tembakan di sekelilingnya. Dia malah menutup kedua telinganya erat-erat seakan tindakannya itu membuat peluru-peluru di sini berhenti.

“Hey!” sahutku padanya.

Tampaknya dia tidak mendengar panggilanku. Dia terlalu rapat menutup telinganya sampai tidak menyadari kehadiranku.

“Hey!” aku coba memanggilnya lagi. Kali ini aku sudah cukup dekat untuk menepuk pundak kirinya.

“Tidak!” teriaknya ketakutan. Dia bahkan mencoba melawanku dengan meronta, namun rontaannya ini bisa kuhalau dengan mudah.

“Hey, hey, jangan takut, aku tidak akan menyakitimu,” bisikku mencoba menenangkan dirinya yang tampak terengah-engah dan terkejut.

“Di sana ada pintu,” ujarku sambil menunjuk ke arah pintu di sebelah ujung counter, “aku mau kau berlari ke sana sementara aku mengalihkan perhatian mereka, paham?”

Begitu aku selesai memberi instruksi, aku langsung berdiri sampai aku bisa dengan nyaman mengarahkan pistolku di atas counter. Namun sebelum aku bisa menembak, gadis itu menarik siku kiriku sampai memaksaku untuk kembali berjongkok.

“Ada apa?” tanyaku.

Dia menggeleng-geleng dengan cepat, memberi tanda kalau dia tidak bisa berlari.

“Bagaimana kalau sama-sama? Apa kau bisa?” dia masih gemetaran, meski mendorongnya akan lebih berbahaya, namun sepertinya hanya itu cara supaya dia mau bergerak. “Siap? Tiga... dua... satu... maju!”

*BLAM*

*BLAM*

Aku menarik ketiak kirinya dan mendorong pundak kirinya ke arah pintu setelah aku melepaskan tembakan pertama. Kutemukan Rick dan Gyle membidik kami. Namun sebelum mereka bisa menarik pelatuk, aku sudah menembakkan pistolku. Meski tembakanku tidak mengenai mereka, namun cukup untuk membuat mereka kembali berlindung dan membatalkan bidikan mereka. Sementara itu posisi Odi membuatnya tidak memungkinkan untuk menembak.

Untungnya pintu ini terbuka dengan lancar, kami langsung memasukinya dan sampai ke ruang penyimpanan toko. Gadis itu langsung berjalan ke arah pintu di kanannya. Namun karena pintu itu sepertinya mengarah ke jalan depan, aku menariknya dan menyuruhnya berlari ke arah sebaliknya.

“Ikuti mereka!” teriak Gyle saat aku dan gadis ini berlari tergesa-gesa meninggalkan dia dan timnya.

Kami susuri koridor kecil sampai koridor ini habis dengan sebuah pintu. Gadis itu membuka pintunya dan kami pun sampai di sebuah gang.

“Terus lari, aku akan menyusulmu!” ujarku pada sang gadis yang berhenti berlari begitu dia melihatku berdiri di samping pintu.

Dia kembali menggeleng, memberi tanda kalau dia tidak ingin pergi tanpaku. Dia tidak bisa memahami kalau aku melakukan ini untuk mengalahkan mereka secara taktis. Meski aku tahu akan jadi lebih sulit dengan kehadirannya, aku biarkan dia berdiri di tempatnya karena aku tidak punya wkatu memberitahukan rencanaku.

Tidak lama setelah aku mulai menunggu, Gyle dan Rick berhamburan keluar sambil berlari dari pintu, keduanya tidak menyadari kehadiranku di balik pintu. Aku pun meraih kesempatanku untuk mengejutkan mereka.

Aku balikkan pistolku hingga aku memegangnya terbalik. Dengan pistol itu di bawah tanganku, aku gunakan pistolku untuk memukul pundak kanan Rick.

Setelah merasakan serangan dadakanku, Rick terjatuh sambil juga menjatuhkan machine gun miliknya. Tidak lama kemudian, Gyle berbalik dan mulai mengayunkan tangannya untuk mengarahkan senjatanya ke arahku.

Dia memang cepat, namun tidak cukup cepat dan tidak cukup jauh. Sebelum Gyle bisa menodongkan senjatanya ke kepalaku, aku menangkis tangan kanannya dengan tangan kiriku sebelum dia bisa membuat garis lurus untuk menembak wajahku.

Setelah aku menangkap tangannya, aku lanjutkan dengan memukul pinggang kanannya dengan punggung tinju kananku setelah aku menjatuhkan pistolku. Dua kali aku menghajar pinggang kanannya sebelum aku gunakan telapak tanganku untuk memukul tenggorokannya.

Gyle terjatuh sampai berlutut, aku jatuhkan dia dengan menendangnya di dada dengan kaki kananku.

[Satu kalah.]

Aku terengah-engah, mencoba mengganti stamina yang kupakai untuk menjatuhkan Gyle. Aku melihat gadis itu menontonku berkelahi sambil bersembunyi di balik sebuah dinding rumah di sebelah kananku. Dia masih aman, dan aku masih harus mengalahkan Rick.

Saat aku berbalik, aku tidak menyadari kalau Rick sudah bangkit. Rick memukul pipi kananku dengan tangan kirinya. Aku terlempar satu langkah ke belakang, dia lanjutkan serangannya dengan menendang punggung lutut kiriku.

Sapuannya membuatku terjatuh. Dia lalu melangkah maju untuk mengunci badanku. Namun sebelum dia bisa melakukannya, aku berhasil menghalaunya dengan menarik lutut kananku ke atas. Dia menangkap kaki kananku yang ia kira akan kugunakan untuk menendangnya. Dengan semua kekuatan yang bisa kuhimpun di kaki kananku, aku mendorongnya dan mencoba bangkit.

Aku berjalan ke arahnya sebelum dia mencoba menendang pinggang kiriku dengan kaki kanannya. Aku menangkis serangannya dengan mengangkat lutut kiriku sampai ke depan dada dan segera menurunkan kakiku sebelum dia bisa menjatuhkanku.

Dia mengambil kuda-kuda dan mengangkat kedua tinjunya ke depan wajahnya. Aku tidak tahu ilmu bela diri apapun, jadi aku hanya menatapnya sambil terengah-engah. Dia melepaskan dua pukulan pendek, satu aku hindari dengan melompat ke kanan dan yang satunya aku tangkis dengan tangan kananku. Namun lalu aku menyadari kalau dia belum mulai bertarung serius, dia hanya sedang mempelajari gaya bekelahiku.

Aku tidak ingin berlama-lama. Saat dia melepas sebuah pukulan pendek lagi, aku tidak menghindar atau menangkisnya. Aku memukul tinjunya dengan tinjuku juga.

Aku memang merasakan sakit, tapi aku coba untuk tidak menghiraukannya. Rick menarik tangan kirinya kembali. Aku bisa melihat tangan kirinya kesakitan, namun aku tahu kalau dia bisa merasakan sakit yang lebih daripada yang bisa kurasakan di tangan kananku.

Begitu aku sudah tidak merasakan sakit di tinjuku, aku melanjutkan menyerang. Kali ini aku mencoba dengan menendangnya langsung di dadanya.

Dia menghindarinya dengan melangkah ke kanan, dan karena posisiku cukup rendah, dia mencoba menyerang pelipis kiriku dengan lutut kirinya. Aku bisa membaca gerakannya, jadi aku cukup memindahkan kepalaku ke kanan dan serangannya hanya mengenai angin.

Aku kembali bangkit dan membuat jarak, aku tidak menyangka kalau Rick cukup berpengalaman dalam pertarungan tangan kosong. Sepertinya seranganku di ambulans tadi hanya serangan beruntung.

Dia tampak percaya diri melawanku, terbukti dengan caranya membiarkanku mengambil nafas di tengah pertarungan. Aku tahu aku sebaiknya tidak meremehkannya.

Kami saling mengelilingi satu sama lain, tidak ada yang mau mulai menyerang. Setelah setengah jalan membuat lingkaran, aku tahu kalau dia menungguku bergerak. Aku menelan angin, orang ini bukanlah orang yang harus ditunggu-tunggu.

Setelah menyelaraskan nafas dan menghela nafas panjang, aku bergerak maju dengan cepat dan tanpa suara. Aku angkat tinju kananku dan mengayunkannya ke arah pelipis kirinya namun dia berhasil menangkisnya dengan tangan kiri. Aku melanjutkan seranganku dengan pukulan lurus lewat tangan kiri sambil menarik tangan kananku, kali ini dia tidak menangkis pukulanku, namun dia menghindarinya dengan meleok ke kirinya.

Aku baru sadar kalau aku terlalu dekat dengannya. Dan benar saja. Dengan cepat dia melontarkan lutut kanannya untuk menyerang perutku. Untung saja aku bisa membaca gerakannya sebelum dia menyerang, jadi aku bisa menangkis serangannya dengan kedua tanganku.

Dia mendorongku mundur dua langkah. Setelah aku berhasil menyeimbangkan diri, aku mendorong maju dengan tinju di tangan kiriku. Aku kira dia akan menghindar, namun dia justru menangkap tangan kananku dan menarikku lebih dekat dengan dirinya. Dia memutar badan atasnya setengah lingkaran melawan arah jam dan menyikut wajahku dengan keras.

Meski nyaris, aku berhasil menghindari serangannya dengan menghempaskan badanku sendiri ke kanan dan menarik tangan kananku sampai lepas. Tanpa berhenti, aku melanjutkan menyerang dengan melontarkan tangan kananku ke wajahnya. Dia bisa menghindarinya lagi dengan berjongkok, tapi dia tidak hanya berjongkok.

Sambil berjongkok, dia juga memutar badannya melawan arah jam, dia mengakhiri manuvernya dengan melebarkan kaki kanannya. Dia mengayunkan kaki kanannya dan mengarahkannya ke pinggul kiriku yang terbuka untuk diserang.

Jika aku bergerak sekarang, aku bisa menghentikan serangannya. Namun aku mengurungkan niatku dan menerima serangannya mendarat di tubuhku.

[Ugh!]

Tendangannya keras. Cukup kuat untuk membuat bagian kiriku mati rasa, namun belum cukup untuk membuatku bergeming. Gigi-gigiku beradu mencoba menahan rasa sakitnya. Meski masih kesakitan, aku kunci kaki kanannya yang masih menempel di pinggang kiriku dengan tangan kananku.

Dengan kekuatan yang masih tersisa, aku hujankan tinju kananku dua kali dengan beruntun ke perut dan wajahnya, lalu aku bentangkan tangan kananku dan kugunakan jembatan antara jempol dan telunjukku untuk memukul tenggorokannya.

Sementara dia masih tersedak, aku sapukan kaki kirinya di mana dia berdiri dan menjatuhkannya. Dia roboh di bagian kiri badannya, lalu aku akhiri pertarungan kami dengan menendangnya di belakang kepala hingga dia pingsan.

Aku butuh waktu cukup lama dari yang kubayangkan untuk mengalahkan Rick. Aku menarik nafas berat dengan cepat untuk menenangkan diri. Dan mendengar suara sirene mendekat dari kejauhan memberiku tanda untuk pergi.

*BLAM*

Aku bisa mendengar suara tembakan yang menulikan dilepas dari jarak dekat. Namun aku tidak bisa melihat dari mana asalnya. Hingga tiba-tiba aku merasakan rasa sakit yang hangat menyebar dari pundak kiriku.

[Apa yang—]

Jantungku mulai memacu, membuatku semakin sulit melihat apa yang sudah mengenaiku. Aku nyaris tidak bisa berdiri. Tapi jika aku tidak segera bergerak, dia bisa menembakku lagi dengan fatal.

*BLUG*

Suara lain terdengar. Suara staccato dari sesuatu yang tipis beradu dengan sesuatu yang padat sampai sesuatu yang tipis itu retak terdengar. Karena aku nyaris tidak bisa sadar lagi untuk berbalik dengan cepat, aku pun lalu berbalik dengan pelan.

Di belakangku adalah gadis itu, dia menggenggam sebuah gagang sapu kayu yang sudah patah di kedua tangannya. Aku kira dia sudah melarikan diri, tapi untunglah dia masih di sini.

Aku lalu melihat sekitar. Dua orang tak sadarkan diri berbaring di gang, terikat dengan tidur dalam yang kupaksakan dengan kekerasan.

[Dari mana aku tahu cara melakukan ini?]

[Apa aku ini?]

Daripada memikirkan itu, mungkin aku akan mendapat jawaban. Di belakangku sekarang berdiri sesosok gadis yang menurutku sangat mirip dengan sosok putih yang terus muncul dalam mimpiku belakangan ini. Dia sedang berdiri dengan sedikit ketakutan dengan sebuah tongkat yang patah di tangannya. Dia memang tampak ketakutan, namun dia terus menolak untuk pergi.

“Maaf aku terlambat memperkenalkan diri,” ujarku dengan hanya sebelah wajahku menghadapnya, “sebut saja aku Theodore, siapa namamu?”

“...” dia menjeda sesaat, “Vi... Vicky.”

“Kalau begitu, Vicky...” suaraku semakin lemah dan lemah, beradu dengan nafasku yang semakin berat dan berat, “sepertinya aku butuh bantuanmu.”

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc