“Shaun!!”

Red berlari ke pagar pembatas untuk melihat titik di mana tubuh Shaun jatuh. Sementara itu rekannya tidak bergeming dari tempatnya mendarat. Mereka berdua berdiri mematung selama beberapa saat sebelum Red berbalik dan menatapku.

“Osco! Tangkap dia!”

Mendengar perintah Red, Osco menerjang ke arahku seraya mengayunkan sebuah tinju. Serangannya bukan serangan yang tidak bisa kuhindari, namun tidak lama kemudian Red juga ikut menerjangku. Meski aku berhasil menghindari serangan Osco, Red nyaris mendaratkan serangan. Melihat aku menggunakan dua tangan untuk menangkis serangan Red, Osco meraih kesempatan menyerang.

Osco melepaskan tendangan berputar ke arah pinggangku. Rasa sakitnya menurunkan kecepatan refleksku sehingga aku tidak mampu menangkis serangan Red berikutnya. Red memukul wajahku, membuatku kehilangan indra keseimbangan. Satu-satunya cara untuk membebaskan diri dari serangan bertubi-tubi mereka adalah dengan melompat keluar dari jarak serang mereka. Namun pertama-tama, aku harus meluruskan pijakanku. Sepertinya Osco bisa membaca rencanaku, sebelum aku bisa mengatur langkah, ia menendang tungkaiku dan membuatku jatuh berlutut.

Keadaannya tidak baik untukku. Aku sudah nyaris tidak bisa menangkis dalam posisi seperti ini, apalagi menghindar atau melarikan diri. Aku pun harus menerima serangan-serangan yang mereka lancarkan padaku sehingga aku kehilangan pegangan dari pistol dan tasku. Semakin banyak serangan yang mereka daratkan padaku, semakin aku kehilangan fokus dan semakin mereka bisa menyerangku. Aku bahkan tidak sadar kalau indra pendengaranku sudah ditaklukkan. Sekuat apapun aku, aku tidak bisa bertahan dari serangan bertubi-tubi seperti ini. Pandanganku sudah terlalu kabur untuk bisa tahu siapa yang memukulku dengan keras hingga aku jatuh berlutut di atas kedua tanganku.

Posisiku sekarang membuatku terbuka untuk serangan terakhir. Aku menunggu dan menunggu, namun mereka tidak pernah melancarkan serangan untuk melumpuhkanku. Aku justru mendapatkan kesempatan untuk memulihkan diri. Pertama-tama, indra pendengaranku kembali. Samar-samar aku mendengar suara tinju bertabrakan dengan daging dan otot. Aku buka mataku dan kutemukan pandanganku yang kabur mulai pulih.

Aku palingkan wajahku dan kutemukan Alisa sudah menyelamatkanku. Dengan pisaunya, ia menghalau Red dan Osco sendirian. Ia tidak tampak butuh bantuanku, namun aku tahu aku harus membantunya. Apalagi Red dan Osco tampak merencanakan serangan balasan.

Aku lenturkan jemari dan otot-otot di sekujur tubuhku untuk menekan rasa sakitnya. Butuh beberapa saat hingga aku merasa cukup kuat untuk kembali bertarung. Segera setelah aku mendapatkan kekuatanku kembali, aku melompat maju ke arah mereka seraya mengayunkan tinjuku ke arah Osco.

Aku pukul Osco di pipi kirinya dan membuatnya terdorong mundur. Melihatku datang, Alisa mengalihkan fokusnya pada Red. Dalam pertarungan satu lawan satu, Osco bukan lawan yang berat. Kami saling bertukar serangan dengan kecepatan yang setara, membuat kami tidak bisa menyerang satu sama lain. Kami juga seakan bisa saling membaca gerakan satu sama lain dengan saksama yang mana membuat kami bisa mengantisipasi serangan satu sama lain.

Aku lepaskan pukulan lurus ke arah wajahnya, ia menghindar dengan satu langkah menyamping. Ia ayunkan sikunya setelah menghindar untuk menyerang dadaku namun aku menepis sikunya menggunakan lenganku. Aku lanjutkan dengan serangan berputar menggunakan punggung sikuku ke arah wajahnya namun ia mengambil langkah mundur untuk menghindar. Ia membalas dengan melepaskan tendangan tinggi ke wajahku ketika aku berputar untuk menghadapnya, namun aku biarkan diriku jatuh dengan melemaskan lututku. Osco lalu mencoba untuk menginjakku. Aku berguling di lantai sementara ia beberapa kali mencoba menginjak perutku.

Ketika aku berguling, aku dorongkan lenganku saat tanganku menyentuh lantai dan melontarkan diriku ke udara untuk berdiri. Doronganku cukup kuat untuk melontarkanku sejauh beberapa langkah darinya. Dari jarak ini, kami saling mengayunkan tinju dan saling menangkis serangan berulang kali sebelum kami melepaskan tendangan dengan telapak kaki ke arah perut satu sama lain secara berbarengan.

Kami mendorong satu sama lain dengan tendangan kami. Punggung Osco menabrak pagar pembatas dek atas ferry ini sementara aku terjerembab di lantai. Aku tidak jatuh rata di pundakku, namun aku jatuh di atas ekor punggungku lalu berguling ke belakang melewati kepalaku hingga aku melakukan putaran penuh. Begitu aku mendarat di atas kakiku lagi, aku tidak menghiraukan rasa sakit yang kurasakan dan kembali menerjang Osco seraya mengayunkan tinju kananku dari kiri ke kanan, mengarahkannya ke pelipis kanannya.

Sayangnya seranganku tidak mendarat pada sasarannya. Osco menangkap sikuku dengan tangan kanannya dan mengunci posisi kami. Ia lalu mendorongku seraya melepaskan serangan bertubi-tubi ke rusuk kananku menggunakan tangan kirinya. Sudah cukup sulit untuk membebaskan tanganku dari kunciannya, ditambah dorongan darinya yang membuatku harus mencoba membebaskan diri sambil menjaga keseimbangan dengan melangkah mundur. Ia berhasil memukulku enam kali sebelum punggungku menabrak pagar pembatas dek atas.

Sekarang ia tidak bisa mendorongku lagi, aku punya pijakan yang solid untuk membebaskan diri. Aku tidak mencoba menarik tanganku karena aku tahu pasti akan percuma. Aku memilih untuk menangkap tangan kanannya yang mengunci tangan kananku dan lalu menanduknya di jembatan hidungnya.

Osco mengambil beberapa langkah mundur setelah melepaskan kunciannya dari tanganku. Ini adalah kesempatanku untuk melumpuhkannya, namun aku tidak bisa karena serangan sebelumnya membuat pinggang kiriku serasa mati rasa. Aku bahkan butuh berlutut untuk menjinakkan rasa sakit di bawah rusuk kananku. Jika bukan karena luka-lukaku dari pertarungan sebelumnya, aku bisa bangkit lebih cepat.

Aku menarik dan menghela nafas dengan cepat. Aku berhasil mengabaikan rasa sakitnya setelah beberapa percobaan menahan nafas. Sementara itu Osco masih mencoba mempertahankan keseimbangannya. Ia mengangkupkan kedua tangan di wajahnya sambil menghadap ke bawah. Aku punya kesempatan. Aku pun mendorong diriku maju dan menerjangnya.

Aku lepaskan sebuah tinju ke pelipisnya. Ia kehilangan lebih banyak keseimbangan, namun aku masih belum bisa melumpuhkannya. Lagipula pukulanku memang tidak cukup kuat. Aku lalu melepaskan tendangan ke dadanya dengan telapak kakiku. Ia terdorong mundur, cukup kuat untuk mendaratkan punggungnya ke pagar pembatas.

Ia sudah kesulitan untuk melihat dalam kondisinya sekarang, apalagi untuk menahan seranganku. Aku lalu melepaskan serangan bertubi-tubi. Pipi, pelipis, pundak, dada, dan perut. Aku tidak ingin berhenti sebelum ia kehilangan sisa-sisa kesadarannya, namun sayang, bahkan staminaku punya batas. Setelah berulang kali memukulinya tanpa ada kesempatan menyerang balik, batas kekuatanku tidak mengijinkanku untuk melepaskan satu tinju lagi. Namun melihatnya juga sudah di ambang batas kesadarannya, aku pun mendorongnya hingga jatuh dari pagar pembatas.

Osco menjerit ketika ia jatuh dari dek atas dan aku mendengar suara gedebuk mengakhiri teriakannya, namun aku tidak mendengar suara deburan air. Ia tidak jatuh dari perahu, ia hanya mendarat di dek bawah. Aku melihat tubuhnya terbaring tak bergeming di lantai dek bawah begitu aku menyandarkan dagu dan ketiakku di atas pagar pembatas. Orang tidak akan mati jatuh dari ketinggian ini, ia hanya kehilangan kesadaran.

Tanpa tekanan, aku bisa fokus memulihkan keadaanku dan menjinakkan rasa sakit di tubuhku. Aku tutup mataku dan mengatur nafas. Butuh waktu cukup lama untuk memulihkan diri. Namun begitu aku merasa cukup kuat, aku siap untuk babak selanjutnya.

Aku bangkit dan berbalik. Aku temukan Alisa dan Red masih bertarung sengit di tengah dek. Entah bagaimana Red sudah berhasil merebut pisau Alisa. Meski demikian, Alisa masih bisa mengimbanginya. Dari penampilannya sekarang, tampak kalau Alisa juga sudah menerima berbagai serangan.

Jaket combatnya sudah robek di berbagai tempat terena sabetan pisau Red. Tapak sepatu juga tampak di kaos dan jaketnya. Dan di wajahnya juga ada luka sayatan, namun itu dari pertarungan di atas jembatan tadi.

Melihat itu, aku mendekati mereka. Untungnya Red berdiri di antara aku dan Alisa, aku pun bisa menyelinap di belakangnya. Saat ia akan menghujamkan pisaunya pada Alisa, aku menangkap pergelangan tangannya dan menghentikan momentum serangannya. Ia cukup terkejut dan cukup ceroboh untuk berbalik. Melihat perhatiannya teralihkan, Alisa mengambil kesempatan.

Saat Alisa memukul Red di pinggang kirinya, aku memelintir lengannya. Ia lalu menghalau Alisa dengan melepaskan tendangan. Alisa dengan mudah menghindarinya karena aku masih memegang lengan Red dan membatasi jarak serangannya. Red berbalik dan lalu melepaskan sebuah pukulan yang kutangkis. Alisa lalu menendang Red di punggungnya. Saat ia terpental maju, aku tanamkan lututku ke perutnya. Merasa terpojok, ia melemparkan pisaunya ke tangannya yang satunya dan mengayunkannya ke arah leherku, membuatku harus melompat mundur untuk menghindar.

Ia tidak berhenti setelah satu serangan, ia lalu berbalik dan melepaskan satu sabetan ke arah Alisa. Lagi ia tidak berhenti, ia berbalik lagi dan mengayunkan pisaunya ke arahku. Ia tahu kalau kami membuatnya terpojok, namun gaya serangannya ini membuatnya mudah ditebak.

Red mengayunkan pisaunya dua kali ke arahku sebelum berbalik dan mencoba untuk menjaga jaraknya dengan Alisa. Namun Alisa juga tahu niatnya. Red mengayunkan pisaunya rendah ke dada Alisa, cukup rendah hingga Alisa bisa menendang pergelangan tangan Red. Red kehilangan cengkraman dan pisaunya pun terlempar dari tangannya.

Red menarik tangannya sementara Alisa juga menarik kakinya. Red lalu mencoba untuk memukul Alisa dengan tangan kanannya sementara Alisa kembali menangkis dengan menendangnya di pergelangan tangannya lagi. Kali ini, tendangan Alisa tidak cukup kuat. Red menembus pertahanan Alisa dan melanjutkan dengan melepaskan tinju menggunakan tangan satunya.

Alisa menyilangkan kedua tangannya di hadapan wajahnya dengan harapan untuk menangkis serangan Red, namun itu tidak perlu. Dari belakang Red, aku melepaskan tendangan berputar keras ke pinggang kirinya. Merasakan pinggangnya diserang, Red membatalkan serangannya dan terhempas ke samping. Ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Meski tidak kehilangan kesadaran, namun ia sudah cukup terlumpuhkan.

Melihat Red mengerang kesakitan sambil memegangi pinggang kirinya, aku mengambil kesempatan untuk mengatur nafas, begitu juga Alisa. Aku pun lalu mendekatinya.

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku sambil terengah-engah.

“Aku masih hidup, jadi yea,” jawabnya sambil juga mengatur nafasnya.

“Di mana Yuumi?

“Di bawah situ,” jawabnya seraya menunjuk ke anak tangga menuju dek bawah. Aku temukan Yuumi terbaring tidak sadarkan diri di tangga dengan setetes darah di pojok bibirnya. “Aku perlu membuatnya diam.”

Yuumi bukanlah satu-satunya yang kulihat saat aku melihat ke arah tangga. Di dek bawah, segerombolan penumpang sedang merawat petugas ferry. Sekitaran ketiak kiri seragamnya basah dengan darah. Dan di sekitarnya, para penumpang menonton pertarungan kami dengan ketakutan.

“Apa yang sudah kau lakukan...?” tanyaku setengah berbisik.

“Kau butuh bantuanku tadi, aku tidak melihat cara lain,” jawabnya membenarkan diri. “Ngomong-ngomong, di mana tasmu?”

“Tasku——”

Cukup lama berlalu sebelum aku sadar bahwa aku sudah kehilangan pistol dan tasku. Aku melihat ke sekeliling mencoba mencarinya hanya untuk menemukan kalau keduanya tidak ada di dek atas ini. Aku pun sadar kalau pistol dan tasku mungkin sudah jatuh ke air atau ke dek bawah.

Aku bersandar ke pagar pembatas untuk melihat ke bawah menuju ke dek bawah di sisi kapal. Lagi, aku tidak menemukan barang-barangku. Aku berbalik dan berlari menyeberangi dek atas, mengabaikan Alisa yang sedang membicarakan sesuatu dengan Red sambil menguncinya ke lantai. Lagi, aku bersandar ke pagar pembatas dan melihat ke bawah.

Di sisi kapal ini, aku menemukan tasku di dek bawah dengan senjata di dalamnya tumpah ke luar. Namun tidak hanya itu, aku ingat kalau ini adalah sisi kapal di mana aku membuang Osco jatuh, dan ia sudah tidak ada di bawah sana.

Tidak butuh orang jenius untuk bisa menebak apa yang sudah terjadi.

Ketika aku berbalik ke arah Alisa, aku menemukan Osco sudah memanjat setengah tangga dengan pistol terarah. Alisa tidak menyadarinya karena ia membelakangi Osco. Segera aku pun melesatkan diri dan melompat ke arahnya. Aku mendorongnya dari atas Red, dan aku pun mendengar suara tembakan.

*BLAM*

Aku berhasil menyelamatkannya tepat waktu. Satu detik lagi saja dan peluru sudah menembus tengkorak Alisa. Mengetahui musuh kami memiliki kendali atas medan pertarungan, aku tidak bisa diam. Setelah aku berguling ke samping dengan Alisa dalam dekapanku, aku melepaskannya dan melemparkan diriku hingga berdiri.

Setelah aku bangkit, aku temukan Osco sedang membidik Alisa. Alisa sedang berlutut, setengah berdiri, namun meskipun ia bangkit, tidak ada tempat untuk bersembunyi dari tembakan pistol. Mengetahui ini, aku hanya punya satu pilihan.

“Hentikan!”

Aku mengambil taruhan. Aku berteriak seraya memindahkan diriku ke antara Osco dan Alisa, menghalangi bidikannya pada Alisa dengan tangan terbentang. Aku adalah misi mereka, jadi aku tahu Osco tidak akan menembakku. Setidaknya, itulah yang aku pikirkan.

Namun taruhanku tepat. Osco ragu-ragu dan tidak berani menembak. Jari telunjuknya mengambang di atas pelatuk pistol, tidak yakin apakah harus menariknya atau tidak.

“Menyingkir!” perintahnya sambil mempertahankan bidikannya.

“Tidak akan! Jika kau ingin menembaknya, kau harus menembakku juga!”

“Red!” panggil Osco pada Red yang masih berusaha untuk bisa berlutut, “jangan cuma duduk santai di sana, tangkap perempuan itu!”

“Tembak saja dia!” balas Red menyuruh Osco menembakku.

“Jangan cengeng! Habisi perempuan itu!

“Jangan bodoh, Osco! Ia hanya menggertak, tembak dia!”

Osco meluruskan bidikannya. Ia meluruskan sight depan dan belakang pistolnya, bisa kulihat kalau ia membidik dadaku. Ia sudah membuat pilihan, begitu juga aku. Aku tidak akan bergeming, tidak kalau ada orang yang harus kulindungi di belakangku,

*BLAM*

Sebiji peluru dimuntahkan pistol yang dipegang Osco. Meski aku tidak memiliki niatan untuk menyingkir, aku tidak bisa menghentikan tangan melindungi dadaku dan menutup mata. Aku pernah ditembak sebelumnya, aku tahu bagaimana rasanya. Aku tunggu dan tunggu, namun rasa sakitnya tidak kunjung terasa.

“Osco!” aku angkat kelopak mataku begitu mendengar Red berseru, “menembak ke mana, kau?!”

Aku mengintip ke belakang ke arah Red. Selain sosoknya yang masih terbaring di lantai, aku menemukan jejak pantulan peluru di sampingnya. Aku tidak ingat pernah melihat jejak itu sebelumnya, berarti jejak itu adalah hasil dari tembakan Osco.

Tapi bagaimana?

Apa ia mengalihkan bidikannya setelah aku menutup mata? Apa tembakannya meleset? Atau pistolnya rusak? Tampaknya bukan hanya aku yang terheran-heran. Saat aku menurunkan tanganku, Osco juga sedang memeriksa pistolnya apakah ada tanda-tanda kerusakan sebelum ia menjawab pertanyaan Red.

“Aku tidak meleset, aku yakin aku memang menembaknya!”

“Dia masih berdiri, kau yang meleset!”

*BLAM* *BLAM*

Tanpa peringatan, Osco melepaskan dua tembakan ke arahku. Aku terlalu terkejut untuk bisa mengangkat tangan atau menutup mata lagi. Namun berkat itu, aku melihat peluru-peluru menabrak sebidang udara yang berdistorsi di hadapanku dan sedikit percikan api meliuk darinya yang mengitariku.

Segera setelah itu, salah satu peluru mendarat di lantai dan memantul ke luar kapal sementara peluru lainnya melesat pergi tanpa memantul. Apapun yang sudah terjadi, peluru-peluru itu seakan tidak diijinkan untuk mendarat di tubuhku.

Semuanya—Red, Osco, dan juga Alisa—menatapku heran. Ekspresi mereka tampak sama; sedikit kagum dan kebingungan.

“APA KAU INI?!”

Osco mengamuk dan mengangkat bidikannya. Ia luruskan sight pistolnya ke arah kepalaku. Di saat yang sama, sebuah sosok berlari rendah dari punggungku ke arah Osco. Dia adalah Alisa. Ia melepaskan tendangan terbang ke arah tangan Osco, menendang pistol dari dangannya dan menjatuhkannya ke selat.

“Sial!”

Red memaksakan dirinya untuk bertarung. Namun ia tidak berdiri, ia hanya melepaskan tendangan sapuan yang gagal kuantisipasi. Ia menendang betisku dan merenggut pijakanku. Aku terjatuh dan mendarat di pundakku. Ia lalu melepaskan tendangan lain ke dadaku yang membuatku terpelanting ke samping hingga punggungku menabrak dasar pagar pembatas.

Sebelum aku bisa merasakan sakitnya, Red mendekatiku dan mencengkram kerah jaketku. Ia menarikku naik dan mengunciku di atas pagar pembatas. Aku melihatnya mengangkat tinju, menyiapkan momentum untuk menghantam wajahku.

Aku berhasil meraih pijakan tepat sebelum ia bisa mengayunkan tinjunya. Aku tendang lantai dan bermanuver keluar dari kunciannya. Yang ia pukul pun hanyalah udara. Momentum dari pukulannya membuatnya kehilangan sedikit keseimbangan dan menabrak pagar pembatas. Karena sekarang keadaannya sudah terbalik, aku mengambil kesempatan menyerang.

Aku lepaskan beberapa pukulan ke punggung kepalanya sebelum ia berbalik sambil mengayunkan sikunya ke arahku. Aku berhasil menangkis serangannya, namun ia melanjutkan serangan dengan melontarkan dirinya melawan pagar pembatas seraya melepaskan tinju. Ia berhasil memukul pipiku, memaksaku untuk mengambil langkah mundur untuk menjaga keseimbangan. Dan ia masih belum berhenti di sana.

Red terus menyerangku dengan bertubi-tibu. Beberapa serangannya berhasil kutangkis sementara beberapa mendarat di tubuhku. Lagi, terpojok tanpa ada kesempatan membalas. Aku harus membuat jarak, namun aku tidak bisa.

“Ferno! Menunduk!”

Alisa memberikanku perintah. Tidak ada alasan untuk meragukannya. Dan karena aku tidak punya cukup tenaga untuk mempertahankan kuda-kudaku, yang perlu kulakukan hanyalah melemaskan kakiku. Kulemaskan lututku dan keseimbanganku pun runtuh. Aku mendarat di lututku dan seketika kurasakan tekanan di pundakku. Awalnya kukira itu adalah Red yang melancarkan serangan lain. Namun dari pojok atas mataku, aku lihat kalau itu adalah Alisa.

Alisa berdiri di pundakku di atas tangannya. Dengan kakinya yang terangkat tinggi, ia melepaskan tendangan ke pelipis Red, meskipun ia berhasil menangkisnya.

Di belakangnya, Osco sedang berlari ke arah kami. Aku punya kesempatan untuk menjatuhkan Red karena sekarang ia sedang menangkis serangan Alisa, namun melihat Osco mendekat, aku harus menundanya.

Begitu aku merasa Alisa melepaskan tekanannya dari pundakku, aku tolakkan kakiku dan melompat ke arah Osco dengan tinju terkepal.

Aku ayunkan tinjuku begitu aku kehilangan momentum lompatan. Osco dengan mudah menangkis tinjuku dan melepaskan serangan balik. Ia menendang perutku dan mendorongku mundur. Aku sampai harus mengambil langkah mundur hingga punggungku menabrak sesuatu. Dari puncaknya yang terasa rendah, aku tahu kalau itu adalah punggung Alisa.

Dengan punggung kami saling menempel, kami bergiliran bertukar lawan dan menyerang dengan pola yang sporadik. Meski begitu, tidak butuh lama hingga Osco dan Red menyesuaikan diri dengan strategi kami.

“Aku sudah muak,” bisik Alisa sambil mempertahankan diri melawan Red, “akan kuakhiri pertarungan ini sekarang.”

“Apa kau punya rencana?”

“Mungkin ada. Namun pertama-tama,” ia menjeda seraya mengangkat sikunya setinggi mungkin hingga aku bisa melihatnya di samping wajahku, “tarik tanganku!”

Tanpa mempertanyakan permintaannya, aku coba menendang Osco untuk menjaga jarak sebelum aku menangkap siku dan tricep tangan Alisa. Aku lalu menarik badan atasku sekuat tenaga, memikul berat badan Alisa. Aku pun merasakan punggung Alisa berguling di punggungku.

Ia melepaskan tendangan ke atas sementara aku menarik tubuhnya melewati kepalaku seperti mengayunkan kapak. Ia menendang dagu Red saat tubuhnya terangkat semakin tinggi dan melepaskan tendangan lain pada Osco setelah ia mencapai puncak ayunan di atas kepalaku. Red terdorong mundur sementara Osco terpaksa berlutut untuk mempertahankan pijakannya dari tendangan tinggi Alisa yang bagaikan palu. Dan begitu Alisa berdiri di kakinya lagi, aku pun menendang Osco di dadanya, melemparkannya ke belakang.

“Sekarang kesempatanku,” ujar Alisa setelah aku menendang Osco. “Apa kau bisa menahan mereka barang satu menit?”

“Aku tidak punya pilihan, kan?”

“Tentu saja kalau kau ingin mengakhiri pertarungan ini.”

“Baiklah. Selain itu, apa lagi yang harus kulakukan?”

“Tidak ada. Hanya saja, tidak peduli apa yang terjadi, tidak peduli seterpojok apapun, kau harus melompat dari sisi kanan kapal begitu aku memberikan aba-aba.”

“Lompat——”

“Tidak ada jalan lain lagi.”

Sejauh ini, yang aku mau hanya melarikan diri. Dan sejauh ini, yang dibuahkan rencanaku hanyalah pertarungan sengit yang membuat kami kewalahan. Kecuali aku bisa bertarung lebih lama dari satu menit yang direncanakan Alisa atau kabur kurang dari waktu itu, aku tidak melihat jalan lain.

“Semoga kau benar.”

Begitu Osco dan Red mulai bangkit, Alisa mengangguk satu kali padaku sebelum ia berlari menyeberangi dek dan melompat ke dek bawah di sisi kapal. Namun bukan sisi di mana tasku berada. Aku tidak punya waktu memikirkan rencananya, aku harus melaksanakan tugasku.

Sebelum Osco dan Red berdiri sepenuhnya, aku sudah berhasil mengatur nafasku. Keduanya menatapku tajam, meski tampak kalau perhatian Red terbagi antara diriku dan Alisa.

“Osco, kejar dia.”

Begitu mendengar perintah Red, Osco segera memisahkan diri dari kami dan berlari ke arah tangga. Melihat itu, aku mengejarnya tepat sebelum ia sampai di tangga. Aku tangkap pundaknya dan membuatnya berbalik supaya ia menghadapku. Tanpa membuang waktu, aku pun menghantamnya keras di pipinya hingga ia terjerembab ke lantai. Namun aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Semestinya Red menghentikanku, namun tidak. Menyadari itu, aku berbalik dan menemukannya sedang berlari ke pagar pembatas tempat Alisa melompat turun.

Dia menipuku.

Tahu aku sudah ditipu, aku tendang Osco yang sedang mencoba berdiri dan lalu berlari mengejar Red. Aku berhasil sampai di belakangnya tepat sebelum ia memanjat pagar pembatas. Dan sebelum ia melompat turun, aku tangkap punggung setelannya dan menghentikannya melompat.

Red kira ia bisa melepaskan diri dari tangkapanku dengan memaksakan diri untuk melompat, namun tarikanku bagaikan jangkar. Aku terus menariknya sambil melangkah maju menangkap badannya. Dengan tanganku di dada dan punggungnya, aku mendorongnya menjauhi pagar pembatas. Dan karena ia sudah memanjat pagar pembatas, aku manfaatkan momentum doronganku untuk membanting punggungnya ke lantai.

Tubuh red mendarat keras ke dek hingga lantai kayu ini sedikit retak. Ia terguling ke belakang dan mendarat dengan wajah ke bawah. Aku kira ia kehilangan sedaran, namun ketika aku melihat tangannya menapaki lantai untuk mendorongnya berdiri, Osco menendang wajahku.

Aku terlempar ke samping hingga punggungku menabrak pagar pembatas. Memang sakit, namun aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus mengulur waktu demi Alisa. Dengan punggungku tersandar, aku panjat pagar pembatas di belakangku. Dan saat aku berusaha berdiri, Osco menerjang ke arahku dan mencoba menyerang.

Karena punggungku terpojok ke pagar pembatas, aku tidak punya banyak ruang untuk menghindar. Namun tahu kalau semuanya akan segera selesai, aku pun mengerahkan semua tenaga dan staminaku ke dalam pertarungan ini. Aku paksakan diriku agar aku bisa menangkis semua serangan Osco. Sementara Red sudah kembali berdiri dan bergabung dengan Osco untuk melumpuhkanku.

Sekarang aku harus membagi perhatianku pada dua lawan. Meski demikian, aku harus terus bertarung. Meski aku harus menerima banyak serangan, aku harus bertahan.

Saat aku menangkis serangan Osco, Red mengambil kesempatan untuk memukulku. Sebaliknya saat aku menangkis serangan Red, Osco yang mengambil kesempatan untuk menyerangku. Mereka memaksaku untuk fokus lebih dalam. Aku sampai harus menggunakan dua tangan dan satu kaki untuk menyerang dan mempertahankan diri.

Aku tangkis pukulan Osco dengan tangan kiriku dan tendangan Red dengan kaki kananku sambil memukul Red dengan tangan kananku. Saat Osco mencoba memukulku dari kiri, aku tendang dia menggunakan kaki kiri sambil menangkis pukulannya dan Red dengan kedua tanganku.

Gaya bertarungku ini menguras tenagaku jauh lebih cepat dari biasanya karena aku menggunakan lebih banyak bagian tubuh dan fokus. Namun usahaku setimpal dengan hasilnya. Aku berhasil menahan mereka selama satu menit.

[Di mana kau?]

Aku sudah di ambang batas. Entah sampai kapan aku bisa terus bertahan, bahkan sekarang aku mulai kehilangan momentum. Tiap detik berlalu, semakin banyak serangan yang kuterima. Red dan Osco juga sudah menyesuaikan diri dengan gaya bertarungku.

Saat aku menangkis tendangan Red menggunakan kaki kananku sambil juga menyerangnya dengan tangan kanan dan menangkis pukulan Osco dengan tangan kiriku, Osco menendang lutut kiriku. Aku sekarang kehilangan pijakan. Osco dan Red segera mengeroyokiku tanpa ampun hingga yang bisa kulakukan adalah melindungi wajahku di balik kedua lenganku. Walau aku sampai harus meringkuk di balik pertahananku, aku harus bertahan supaya aku tidak kehilangan pendengaranku ketika Alisa memberi aba-aba.

[Aku tidak boleh menyerah sekarang...]

“Sekarang! SEKARANG!!!”

Tepat sebelum aku kehilangan pertahanan terakhirku, aku mendengar suaranya—perintah yang sudah kuperjuangkan. Aku pun teringat dengan rencana yang dibuatnya; untuk meninggalkan segalanya dan melompat dari sisi kanan kapal ferry ini. Inilah saat untuk apa aku menyimpan satu bagian terakhir staminaku.

Di tengah serangan mereka yang bertubi-tubi, aku bangkit, memecahkan pertahananku sendiri dan mulai membabibuta. Aku melepaskan serangan liar—meski tidak mengenai apa-apa—untuk menghalau Red dan Osco untuk membuat jarak di antara mereka. Dan untungnya, perhatian mereka juga sedikit teralihkan mendengar perintah Alisa yang tidak mereka pahami.

Segera begitu aku punya sedikit ruang bergerak, aku mengambil kesempatan untuk kabur menuju sisi kanan kapal. Saat aku melarikan diri, aku pun tahu apa rencana Alisa. Dari arah tangga, aku melihat sebuah granat dilemparkan ke arah kami. Melihat itu, aku pun tidak ingin tetap berada di dek atas.

Begitu aku sampai satu langkah lagi dari pagar pembatas, aku gunakan sisa tenagaku untuk melompat ke luar kapal. Saat aku sedang jatuh ke selat, aku menemukan Alisa dan Yuumi juga sedang melompat keluar dari kapal.

*BOOM*

Granat tadi meledak bahkan sebelum kami setengah jalan ke permukaan air. Tanpa memantul atau mendarat di lantai, granat itu meledak di udara; tepat di hadapan wajah Red dan Osco. Osco bahkan sampai terhempas jauh karena ledakannya. Ia terlempar keluar kapal ke sisi kanan kapal, mengikuti kami jatuh ke air.

Setelah aku tercebur ke selat, pendengaranku menyesuaikan diri dengan lingkungan yang lebih padar. Pada dasarnya aku tidak berdaya di dalam air, tidak bisa mendengar ataupun bernafas. Aku butuh udara, aku butuh bernafas. Namun pertarungan tadi sudah menguras habis tenagaku. Tubuhku tidak mau bergerak, tidak mau mematuhi perintahku untuk berenang naik ke permukaan.

“Berenanglah!”

Samar-samar aku mendengar sebuah suara. Namun yang dikatakannya hanyalah sesuatu yang sudah kuketahui. Tentu saja aku mau, tapi aku tidak sanggup. Membalas 'pun tidak bisa. Lagipula aku terlalu lelah untuk bisa merasakan sakit, aku pun tidak mencoba untuk tidak tenggelam dengan kepala di bawah ke kedalaman air.

[Apa——?!]

Aku dibangunkan oleh sebuah sensasi di tenggorokanku. Tenggorokanku semestinya sudah penuh dengan air, namun aku merasakan sebuah hembusan angin memaksakan dirinya masuk ke paru-paruku. Sensasi yang sama memaksaku untuk menarik nafas lewat hidung, namun aku tidak bisa. Hembusan angin itu mengijinkan badanku untuk bergerak, dan perintah pertama yang kuberikan padanya adalah untuk meraba-raba hidungku untuk mencaritahu apa yang sudah menyebabkanku tidak bisa menghirup udara atau air.

Aku rasakan tanganku menyentuh sesuatu di hadapan wajahku. Ketika aku membuka mataku—meski gelap—aku bisa melihat sesuatu menghalangi pandanganku. Tanganku menyentuh kulit dan rambut manusia. Putri duyung? Mahluk seperti itu tidak ada, bukan? Tidak, bukan. Aku kenal kontur wajah ini.

Alisa.

Ia sedang memberikan nafasnya untukku. Bibir atasnya menempel pada bibir bawahku dan bibir bawahnya menempel pada bibir atasku sementara jari-jari tangannya mencubit hidungku, ia pun lalu membagikan nafasnya untukku. Meski begitu, ia tidak melakukannya lama-lama. Segera begitu ia menyadari tanganku sedang menyentuh wajahnya, ia melepaskan kuncian antara bibir kami dan mengijinkanku untuk melihat wajahnya dalam kegelapan kedalaman air.

Udara tampak bocor dari mulut dan hidungnya, pipinya memerah karena dinginnya air, dan rambutnya mengapung seakan tak memiliki berat dalam air. Sisa-sisa oksigen dalam tubuh kami tidak mengijinkan kami untuk bermain adu tatap dalam air. Ia pun mengangkat tangannya menunjuk ke atas—atau ke bawah untukku—ke arah permukaan, memberitahuku ke mana harus berenang.

Aku mengangguk dan mulai mendayung. Aku ikuti dia berenang ke permukaan. Aku tidak sadar kalau aku sudah tenggelam sedalam ini, butuh waktu sesaat hingga kami muncul ke permukaan.

“Ahhh! Cough! Cough!”

Kami terbatuk dan menghirup nafas panjang begitu kami muncul. Terutama aku. Aku harus memuntahkan air dalam organku sebelum aku bisa bernafas lega seperti biasanya.

“Arasaka!” seru Alisa pada Yuumi sambil mendorongnya berenang, “berenang ke tepian sana!”

“Berhenti menyuruhku!”

Melihat Alisa dan Yuumi sudah mulai berenang ke arah tepian terdekat, aku pun berenang mengejar mereka.

Kami harus berenang beberapa puluh meter selama sekitar dua menit sebelum kami sampai di tepian. Saat kami memanjat dermaga yang tidak selesai dibangun, aku melihat ferry tempat pertarungan kami di kejauhan. Sejejak asap membumbung dari dek atasnya. Dan kapal itu sekarang dikelilingi oleh speedboat kepolisian.

Bahaya juga. Jika kami masih ada di sana, polisi sudah akan menangkap kami.

“Sekarang bagaimana?” tanyaku pada Alisa yang sedang berjalan dekat dengan Yuumi.

“Sama seperti sebelumnya; kita ke bandara dan bajak alat transportasi mereka.”

“Tapi bagaimana? Kita sudah menghabisi mereka, bagaimana kita tahu tujuan kita? Bahkan Yuumi tidak tahu kami akan dibawa ke mana.”

“Ada satu orang pengawal lagi menunggu di bandara, ia yang memegang rencana penerbangannya.”

“Dari mana kau tahu?”

“Kau ingat? Aku sedang bicara dengan Red sebelum kau mendorongku saat rekannya mencoba menembakku. Ia kira rekannya itu akan menembakku, makanya ia memberitahuku.”

“Oh, waktu itu rupanya...”

Saat kami berjalan menyusuri tepian selat, kami menemukan sebuah lapangan parkir. Alisa mempercepat langkahnya dan mendekati sedan merah terdekat. Setelah memastikan tidak ada yang mengawasi kami, ia mengotak-atik kuncinya dan membuka paksa pintunya.

“Ayo, masuklah.”

Alisa memerintah Yuumi setelah ia membuka kunci pintu belakang.

Yuumi dengan enggan masuk ke kursi belakang sementara Alisa dan aku duduk di depan. Lagi, Alisa mengotak-atik kabel-kabel di bawah dashboard. Setelah beberapa kali percobaan menempelkan dua kabel yang terkelupas, mesin mobil ini pun menyala.

“Hari ini benar-benar melelahkan,” komentarku sambil mengusap kepalaku yang sakit.

“...” Alisa hanya tersenyum tanpa berkomentar. Sementara di kursi belakang, tampak Yuumi duduk tidak nyaman dengan wajah kecut. Mungkin karena kami masih mengenakan pakaian basah.

“Aku harus memberitahukan rencanaku sekarang,” ujar Alisa setelah mengembalikan kabel-kabel masuk ke bawah dashboard. “Karena kita tahu kau akan dibawa menggunakan penerbangan pribadi, jangan sampai ada yang melihatku datang bersama kalian.”

“Jadi bagaimana kau akan mengikuti kami? Apa kau tahu di mana pesawatnya berada?”

“Sama sekali tidak. Dan tentunya aku juga tidak bisa menyelinap ke kantor keamanan bandara untuk mengawasi pergerakan kalian,” ia lalu mengorek saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah unit PDA, “aku memungutnya dari mobil pengawal-pengawal tadi. Ini alat yang mereka gunakan untuk memonitor pergerakan Arasaka lewat GPS dalam kopernya.”

“Aku mengerti. Jadi dengan itu kau akan mengawasi pergerakan kami dan menemui kami di mana pesawat kita berada nanti.”

“Tepat,” Alisa memastikan sambil memindahkan gigi mobil dan mulai melajukan diri keluar dari lapangan parkir ke jalanan yang lumayan kosong. “Masalahnya adalah untuk menyembunyikan diri, saranku kau biarkan saja Arasaka yang memimpin. Ia bisa bertanya tempat pesawatnya diparkirkan dan menuju ke sana. Setelah itu, aku akan——”

“Awas!!”

Saat Alisa menjelaskan rencana kasarnya, aku meliat satu sosok yang kukenal muncul dari gang di jalan di depan kami. Ia adalah Osco. Meski setelan hitamnya sudah koyak dan kemejanya basah terkena air dan darah luntur, ia memegang sebuah pistol. Ia membidikkan pistolnya ke arah mobil kami sambil berdiri di tengah jalan dan mulai menembak.

*BLAM* *BLAM* *BLAM*

Alisa dan aku menunduk di bawah dashboard sementara Yuumi tiarap serendah mungkin di kursi belakang. Peluru menembus kaca depan. Mendarat di kursi-kursi, menembus kaca belakang, menghantam kaca spion, namun sama sekali tidak mengenai kami. Sementara itu Alisa menanamkan kakinya ke atas pedal gas, melajukan mobil semakin cepat dan semakin dekat dengan Osco.

*BLAM* *BLAM*

*CRASH*

Osco tidak berhenti menembakkan pistolnya, bahkan meski mobil ini melaju tepat ke hadapannya. Pada akhirnya, Alisa menabrakkan mobil ini ke arahnya. Osco tertabrak keras hingga terlempar ke atap mobil ini dan tersungkur ke atas aspal. Kami pun mengangkat kepala kami segera setelahnya. Aku temukan Osco terbaring tidak bergerak di jalanan di belakang kami.

“Bajingan tolol itu hampir menembakku!” serapah Yuumi padanya setelah keadaan menenang.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc