Sebelum aku melintasi persimpangannya, aku palingkan wajahku ke kiri dan aku melihat kalau mereka sudah berlarian menuju mobil mereka. Ini artinya aku harus segera menghilang. Sayangnya jalanan yang kulewati ini lumayan panjang. Aku tidak melihat adanya belokan ataupun persimpangan untuk saat ini.

Tepat saat aku melihat ke belakang menggunakan cermin depan, aku menemukan kalau sedan perak yang kulihat di depan apartemen Vicky sedang mendekat. Meski perhatianku tersita, aku mencoba untuk tetap tenang dengan menganggap kalau mereka hanyalah pengguna jalan lain. Ingat kalau mereka diperintahkan untuk tidak meninggalkan saksi.

Setelah mengarungi jalanan yang panjang untuk beberapa saat sementara sebuah mobil lain terang-terangan membuntuti kami, aku akhirnya melihat sebuah persimpangan. Karena lampu lalu lintasnya masih menunjukkan warna hijau, aku pun memacu kecepatan dan meninggalkan sedan perak. Namun saat aku mengambil belokan ke kanan di persimpangan, sebuah mobil lain tiba-tiba muncul dari sebelah kiri.

Kemunculan sebuah SUV merah cerah dari sebelah kiri memaksaku untuk menarik rem tangan yang membuat mobilku terpeleset ke kiri. Tepat sebelum SUV itu menabrak mobilku, aku sudah membuat mobilku berputar sembilanpuluh derajat hingga SUV itu hanya menabrak bemper belakang mobilku.

Tabrakannya membuatku dan Vicky terhentak ke depan. Vicky tidak mengalami luka apapun karena dia mengenakan sabuk pengamannya. Namun aku yang tidak mengamankan diri dengan sabuk pengaman nyaris terlontar hingga kepalaku hampir menghantam kaca depan. Untungnya aku bisa menggunakan tangan kiriku untuk menahan hentakannya.

Aku bisa memulihkan keadaan dengan cepat. Segera aku kembali duduk di atas kursi supir dan melihat ke belakang lewat cermin depan sambil mengaitkan sabuk pengamanku. Dari sana, aku bisa melihat kalau di dalam SUV itu ada Odi di kursi supir dan Darius di sampingnya. Berarti di dalam sedan perak ada Marco dan Don.

Tidak berapa lama setelah tabrakan, sedan perak yang masih tertinggal tiba-tiba memacu kecepatannya. Aku sadar kalau sedan perak itu mencoba untuk mengapit mobilku. Begitu tahu rencana mereka, aku lepaskan rem tangan dan mulai memacu kecepatan. Taksi ini tidak memiliki traksi yang bagus, hingga butuh beberapa detik hingga mobil ini mulai melaju. Tepat setelah mobilku mulai melaju, sedan perak itu menabrak bagian belakang sebelah kanan mobil kami. Namun tabrakannya itu tidak mempengaruhi laju mobilku kecuali membuatku nyaris kehilangan keseimbangan untuk beberapa saat.

Kedua mobil itu mulai memacu kecepatan tidak lama setelah kami meninggalkan mereka, namun aku berhasil membuat jarak yang lumayan jauh sebelum mereka mulai melaju.

Jalanan yang kami pilih ini lumayan ramai. Jalur kiri yang kami gunakan relatif lengang dibandingkan dengan trafik kendaraan dari arah berlawanan di jalur kanan. Namun untuk menyalip kendaraan di depanku, aku harus meminjam sedikit ruang dari jalur satunya. Yang berarti aku harus berhati-hati tiap kali aku ingin menyalip kendaraan lain.

Dengan percaya diri aku bermain gigi dan menginjak pedal-pedal mobilku seperti menari tap sambil mengemudikan setirnya ke kiri dan kanan. Mobil ini terus bergerak tanpa menurunkan kecepatan berkat kelihaianku mengemudi. Vicky seringkali menjerit ketakutan saat jarak mobil kami terlalu dekat dengan kendaraan lain. Dua-tiga mobil kusalip sampai aku kehilangan hitungan berapa banyak mobil yang sudah kulewati. Seringkali aku melihat ke belakang lewat cermin depan. Aku bisa melihat kalau SUV yang mengikuti kami kesulitan mengimbangi kami sementara sedan perak bergerak lumayan lincah. Mungkin karena kemampuan mengemudi Odi dibatasi oleh luka di kakinya.

Saat aku melihat adanya persimpangan lain, aku tidak menunggu hingga lampu lalu lintasnya menunjukkan warna hijau. Begitu aku melihat jalur kanan kosong, aku percepat mobilku dengan menginjak pedal kanannya dalam-dalam setelah menurunkan gigi untuk melepaskan lebih banyak horsepower lalu melaju di jalur kanan untuk melewati antrian kendaraan di jalur kiri. Beberapa mobil dari balik belokan membunyikan klaksonnya melihatku mengemudi seperti orang gila. Namun aku mencoba untuk tidak menghiraukan mereka karena aku harus fokus untuk mengambil belokan.

Belokannya lumayan mudah kuambil, kebanyakan mobil di jalanan berhenti dan membunyikan klaksonnya setelah melihat mobilku menerobos maju seperti banteng lepas. Untungnya aku tidak menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Setidaknya tidak yang bisa kulihat. Setelah menguasai persimpangan, aku pun mengambil kesempatan untuk belok ke kiri.

“Sepertinya percuma kita lari,” seruku memecah keheningan di dalam mobil, “kita harus menghilang.”

“Bagaimana caranya?”

Aku sempat berharap kalau dia akan memberiku ide, namun dia tampak memikirkan hal lain.

Saat aku mengemudi dengan santai, aku melihat jalur kereta di sebelah kananku terpisah dengan sebuah pagar kawat. Pemandangan ini memberiku ide.

“Vicky,” panggilku menarik perhatiannya dari pemandangan jalan di sebelah kiri, “apa kau tahu di mana stasiun kereta?”

“Dari sini, sepertinya hanya beberapa kilometer di depan.”

“Oke.”

Karena aku sudah menghentikan lalu lintas di persimpangan tadi, jalanan ini jadi lengang. Untuk beberapa saat aku mengebut untuk membuat jarak antara kami dan pengejar kami jadi lebih jauh. Setelah memacu kecepatan beberapa saat, kami sampai di sebuah distrik lain. Dari pemandangan sekitar kami, aku rasa tempat ini adalah kota atas.

Di belakang, Vicky tampak cemas. Aku sedikit ingin menenangkannya. Namun mengetahui kalau dia belum memandangku beberapa menit belakangan, aku pikir sebaiknya aku mendiamkannya dulu.

Bagian atas kota ini terdiri dari beberapa bangunan tinggi sementara sisanya hanya bangunan setinggi tiga sampai enam lantai. Meski traffik kendaraannya lebih padat, jalanannya juga lebih lebar. Bahkan beberapa jalannya terhubung dengan jalan layang yang saling terhubung di atas tanah. Untukku ini sempurna. Penataannya yang rumit bisa membantuku meloloskan diri dari mereka.

Untuk sementara aku menurunkan kecepatan kami untuk berbaur dengan lalu lintas, mencoba untuk tidak bertindak mencurigakan. Sampai sejauh kami meninggalkan kota atas dan menuju ke stasiun kereta melewati distrik yang tidak semegah kota atas, kami belum menarik perhatian yang tidak diinginkan. Namun saat kami berada di barisan terdepan di sebuah persimpangan untuk menunggu sebuah lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, tiba-tiba sebuah kendaraan yang tampak akrab muncul.

Meski hanya sedetik dan tidak terlalu jelas, namun aku sempat melihat pengemudi SUV berwarna merah cerah itu melalui spion kanannya. Dia juga pasti sempat melihat pantulan taksi berwarna biru dengan kaca pintu supir yang rusak yang kukendarai ini hingga SUV itu tiba-tiba membuat sebuah U-turn tidak sempurna yang membuat beberapa mobil lain dari arah berlawanan mengerem mendadak.

Manuver yang dilakukan SUV itu adalah tandaku untuk pergi. Tanpa menuruti peringatan dari lampu lalu lintas, aku menginjak pedal gas begitu aku melihat sebuah celah untuk lewat di antara empat mobil yang datang dari sebelah kiri dan kanan.

Lagi, karena ban mobil ini seperti aus, mobil ini menghimpun kecepatan di tempat sebelum akhirnya mulai melaju. Saat kami menyeberangi persimpangan, SUV itu baru saja selesai memperbaiki posisinya setelah U-turnnya tadi dan baru akan menggas. Tidak sampai beberapa detik kemudian mobil itu muncul dari persimpangan dan mengambil tikungan tajam untuk mengejar kami.

SUV itu mengerahkan kekuatan pacu mesinnya untuk mengejar kami. Tidak lama kemudian aku menemukan mereka sudah berada tepat di belakang kami. Melihat ini, aku mengomper naik gigi dan memacu kecepatan lebih tinggi lagi. Namun tidak butuh waktu lama sebelum SUV itu mengimbangi kami.

Karena jalanan yang kami lalui sangat lengang, SUV itu dengan berani membalap kami di jalur kanan. Mereka menempel di sebelah kanan kami untuk beberapa saat sampai aku melihat Darius mempersiapkan senjatanya di kursi penumpang depan.

Sementara semua ini terjadi, aku menyadari sesuatu yang ironis; Vicky yang sedari tadi ketakutan sekarang tampak lebih tenang, tidak seperti sebelumnya saat dia berteriak-teriak setiap suatu hal menakutkan terjadi. Kali ini dia hanya duduk tenang sambil mencengkram bangkunya sambil menutup mata, yang mana membuatku lebih fokus dalam mengemudi.

Tidak butuh waktu lama sampai kami menemukan kendaraan lain di jalanan panjang tempat kami balapan ini. Tepat sebelum Darius menurunkan kaca jendelanya, SUV mereka harus menghindari sebuah kendaraan lain yang mendekat sambil menyerukan klaksonnya di jalur berlawanan dengan cara melambat.

Mereka harus menurunkan kecepatan dan menyeimbangkan diri saat mereka dengan tiba-tiba masuk ke jalur kami dan mengekor di belakang mobil kami. Mestinya ini memberiku keuntungan jika saja aku berjalan di jalan sepi. Namun karena ada mobil-mobil lain di depan kami, aku tidak bisa mengambil kesempatan untuk mengebut. Tapi aku harus melambat dan menunggu celah di jalur kanan untuk menyalip antrian kendaraan di jalur kiri.

“Theodore! Awas belakang!”

Huh?

Vicky yang dari tadi terdiam mendadak berteriak, membuatku kehilangan fokus saat sedang mencari celah di jalur kanan. Peringatannya membuatku mengalihkan perhatianku dari jendela di kananku ke cermin depan.

Melihat pantulan SUV sedang menancap gas membuatku seketika menginjak pedal gas dan menambah kecepatan. Taksi kami melesat maju. Namun aku masih belum bisa menemukan celah untuk menyalip di jalur kanan. Hanya ada sedikit ruang lagi antara taksi kami dan mobil wagon hijau tua saat aku menemukan jalan lain.

Jalur kanan memang sibuk, namun di sebelah kiri, trotoar tampak sepi pengguna. Hanya ada sedikit pejalan kaki yang sedang menggunakannya dan aku yakin jalan itu cukup lebar untuk mobil kami. Aku juga tidak suka, namun tidak ada jalan lain jika aku tidak ingin terhimpit antara mobil di depanku dan di belakangku.

Dengan satu ayunan, aku membuat tikungan tajam ke kiri dan langsung menyeimbangkan diri begitu ujung depan kiri mobil kami hampir menyentuh dinding sebuah bangunan. Sementara mobil kami menyesakkan diri ke atas trotoar, bagian kiri mobil kami menyerempet dinding bangunan-bangunan di ujung trotoar. Hanya ada sedikit ruang lagi di trotoar untuk taksi kami dan para pejalan kaki. Sementara taksi kami menyita paling banyak ruang trotoar, para pejalan kaki mencari perlindungan di ruang sempit antara taksi kami dan jalan raya, menuruti peringatan yang kuberikan lewat raungan klakson mobil kami.

Saat aku menerobos maju sambil membunyikan klakson, aku bisa melihat dari pantulan cermin depan kalau SUV merah itu sudah menaiki trotoar setelah menabrak sisi kiri belakang mobil wagon hijau tua saat SUV itu akan menaiki trotoar dan melempar mobil wagon itu ke jalur kanan.

SUV itu mengejar kami lewat jalan yang sama yang sudah kami ambil tanpa menghiraukan kerusakan yang sudah dibuatnya pada mobil wagon. Meski bisa masuk ke atas trotoar, SUV itu melaju dengan kecepatan yang lebih pelan karena ukurannya yang sedikit lebih lebar dari taksi kami.

Aku terus menerobos maju sampai akhirnya trotoar ini berakhir di sebuah persimpangan. Sambil terus menyerukan klakson untuk memperingati kalau-kalau ada pejalan kaki yang datang dari balik belokan, aku menuruni trotoar dan masuk ke atas jalanan aspal seraya menyeberangi persimpangan.

Kami hanya berhasil membuat sedikit jarak sebelum SUV menyeberangi persimpangan dan mulai mengejar kami. Lagi aku harus masuk ke modus pembalap untuk menyalip kendaraan-kendaraan di jalanan ini dengan lincah. Sesekali aku melihat ke arah cermin depan untuk melihat keadaan pengejar kami, kali ini Odi berusaha lebih keras untuk mengejar kami.

Bukanlah kecepatan yang membuatku bisa mengalahkannya, namun kelincahan. Tiap mobil yang kusalip dengan gesit membuat mereka kesulitan mendekati kami. Aku terus mengemudi tanpa tujuan. Namun aku punya misi, yaitu untuk menjauh dari mereka sebelum bisa mencapai stasiun kereta.

Sepertinya misiku semakin sulit dicapai. Tidak lama setelah balapan di jalanan, sedan perak yang akrab di mataku tiba-tiba bergabung ke dalam permainan setan-setanan kami setelah mobil itu masuk di antara mobilku dan SUV merah dari belokan kanan sebuah persimpangan. Kemunculannya yang tiba-tiba sempat menghalangi laju SUV, jika saja aku terlambat beberapa detik, sedan perak itu bisa saja menyergap kami.

Tanpa aku sadari, kami sudah kembali ke distrik kota atas. Hanya saja dari jalan lain. Sedan perak itu jauh lebih baik dalam mengemudi lincah, hanya butuh kurang dari semenit dan beberapa ratus meter di atas jalan lurus satu arah untuk bisa mengejar kami dan menyamai kecepatan kami.

Dari jarak ini, aku akhirnya bisa melihat kalau sedan perak ini dikendarai oleh Marco sementara Don duduk di sampingnya. Meski perhatianku terfokuskan ke jalanan di depanku, aku tidak sengaja melihat ke sebelah kanan lagi dan lagi setelah aku melihat kalau Don sudah mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke arah kami; tepatnya ke arah roda depan kanan mobil kami.

*BLAM*

Dia menembakkan sebuah peluru, namun tembakannya itu hanya mengenai jalanan karena aku sempat membelokkan mobilku sedikit ke kiri tepat sebelum dia menarik pelatuknya. Namun dia tidak menunggu lama sebelum mulai mencoba lagi. Setelah sadar kalau tembakan pertamanya meleset, dia segera mengarahkan senjatanya ke arah yang sama lagi; ke roda depan kanan. Aku tidak yakin kalau dia akan tertipu dengan trik yang sama. Karena itulah aku membanting setir ke kanan sebelum dia bisa menembak lagi.

Bagian kanan mobil kami bertubrukan dengan bagian kiri sedan perak. Don sempat mengalihkan bidikannya dari roda depan ke arahku. Namun terlambat untuk menembak. Aku berhasil menangkap pergelangan tangannya dan memukul pistolnya hingga jatuh.

Segera begitu pistol Don mendarat di atas pangkuanku, aku mengambilnya dengan tangan kananku dan mengarahkannya ke arah Don. Aku tidak berniat untuk menembaknya, aku hanya ingin menakut-nakutinya.

Setelah beberapa detik mengarahkan senjataku padanya, kami mendekati sebuah mobil lain. Aku menunggu beberapa detik sebelum aku memindahkan bidikanku dan menarik pelatuknya.

*BLAM*

Tolak balik yang dihasilkan pistol itu membuat tangan kiriku ikut goyah. Mobil kami sempat goyah sebelum aku menarik tanganku dan menyeimbangkan mobilnya dengan dua tangan. Setelah aku yakin kalau mobilku tidak akan menabrak sesuatu yang berbahaya, aku alihkan perhatianku pada mobil yang sedang menggelincir di depanku ke arah sedan perak.

Aku sudah menembakkan sebuah peluru ke ban belakang mobil itu, membuatnya kehilangan kendali dan selip ke arah kanan. Sedan perak itu harus membanting setir ke kanan untuk menghindari tabrakan. Namun saat melakukannya, sedan perak itu justru menabrak sebuah tiang listrik di atas trotoar.

Sedan perak itu tidak hancur. Marco berhasil menginjak rem sebelum tabrakan, membuat mereka hanya sedikit terantuk.

Saat aku melihat sebuah persimpangan, aku mengambil belokan ke kanan lagi. Misiku untuk meloloskan diri dari pengejar kami sudah setengah jalan berhasil. Aku hanya perlu meloloskan diri dari SUV merah yang masih mengikuti kami.

Sayangnya, belokan yang kuambil tadi mengantarku ke sebuah jalan yang sedang diperbaiki. Namun tepat sebelum jalan itu ada sebuah overpass satu arah di atas sebuah jalan bebas hambatan. Aku periksa cermin depan dan kutemukan SUV merah itu sedang mengikuti kami. Karena aku tidak mungkin berbalik, satu-satunya jalan yang bisa kuambil adalah ke arah overpass.

“Apa kau baik-baik saja?” aku mencoba menenangkan diri dengan berbicara pada Vicky sambil menatapnya lewat cermin depan.

“Aku baik-baik saja.”

“Jangan cemas, oke? Aku tidak akan membiarkan mereka—”

Saat masih menatap Vicky lewat cermin depan, aku tidak sengaja mengintip keadaan jalanan di depanku. Di depanku, ada barisan kendaraan yang tak bergerak. Aku sudah cukup dekat dengan mobil yang berada di paling belakang kemacetan saat aku menginjak rem.

Tahu kalau kami tidak akan bergerak, aku berbalik untuk memeriksa mobil SUV. SUV itu sendiri hanya dua mobil di belakang kami. Dengan jarak itu, mereka akan segera bisa menangkap kami.

“Kita harus bagaimana?” suara Vicky menarik perhatianku dari pemandangan Odi dan Darius yang sedang menuruni SUV merah mereka.

Antrian kendaraan di depan kami tidak akan membiarkan kendaraan kami lewat. Jika aku tidak ingin mereka menangkap kami, jawabannya sederhana; kami harus lari.

“Keluar, kita harus lari.”

Dengan tergesa-gesa, aku melepaskan sabuk pengamanku dan keluar dari mobil. Aku lihat ke belakang ke arah kedua pria yang sedang berjalan cepat mendekati kami, sambil dengan tidak sabar menunggu Vicky keluar dari mobil.

Saat aku berpaling lagi, aku menemukan kalau Vicky sudah membuka pintu dan akan keluar. Melihat Odi dan Darius mendekat dengan cepat, aku menarik tangan Vicky dan segera melarikan diri.

Menarik Vicky bukanlah rencana bagus, dia kewalahan menyamai kecepatan lariku hingga akulah yang harus menyamai kecepatannya. Staminanya hanya membiarkan kami lari sebentar. Kami tidak akan bisa bergerak lebih cepat kecuali jika aku mulai menggendongnya, yang juga bukanlah rencana bagus.

Saat aku berpaling lagi setelah berlari melewati belasan mobil, aku menemukan kalau Vicky sudah kehabisan nafas. Melihat keadaannya membuatku tidak bisa menariknya lagi.

“Maafkan aku,” ujarnya sambil terengah-engah.

“...”

Aku tak tahu harus bilang apa. Aku bisa berjuang sejauh ini karena aku ingin melindunginya. Melihatnya tidak mampu bergerak membuatku kehilangan tujuan.

Tempat kami berdiri ini tidaklah terlalu tinggi. Hanya setinggi bangunan dua lantai. Tepat di bawah kami ada sebuah jalan bebas hambatan yang sangat panjang sampai aku tidak bisa melihat dari mana asalnya ataupun ke mana jalan itu menuju. Jumlah kendaraan di jalan itu jauh lebih sedikit dari overpass ini, tapi lebih banyak jenis kendaraan yang lewat di sana.

“Menyerahlah, Letnan!”

Selesailah sudah, Odi dan Darius sudah berhasil mengepung kami. Mereka berada tepat satu mobil di belakang kami sambil mendekati kami perlahan dan waspada sementara Darius sedang berbisik ke sebuah radio.

“Tidak! Jika kalian harus membunuhnya, aku tidak akan menyerah!” seruku sambil melindungi Vicky di balik pundakku.

“Dia itu saksi, kami harus bekerja dengan bersih!”

Bukan ini yang aku mau. Aku memang ingin jawaban, namun aku juga ingin Vicky selamat. Dan mereka bilang aku hanya bisa memiliki salah satunya.

*FWOO*

Seakan angin tinggi yang bertiup di overpass ini belum membuat suara kami sulit didengar, tiba-tiba suara keras klakson sebuah truk meraung dan mengumumkan kedatangannya dari jalan bebas hambatan di bawah.

[Tunggu dulu...]

Suara itu memberiku sebuah gagasan, gagasan yang aku tidak yakin akan aku sukai. Namun aku tahu kalau gagasan ini adalah gagasan bagus dan buruk. Bagus karena jika kami berhasil, pengejar kami akan kehilangan Vicky dan aku. Dan buruk karena untuk melakukannya, kamu harus melakukan sesuatu yang ekstrim.

“Vicky,” panggilku tanpa berpaling, “kau masih percaya padaku, bukan?”

“...” dia tidak menjawab. Namun aku bisa mendengarnya masih menyesuaikan nafas. “Ya.”

Aku bisa mendengar jawabannya di antara suaranya terengah-engah. Jawabannya sama-sama aku inginkan dan tidak aku inginkan. Namun aku senang mendengar jawaban itu dibandingkan jawaban lainnya.

“Kalau begitu... tutuplah matamu.”

Overpass ini punya bahu jalan yang sempit. Bahu jalan ini dilindungi oleh pembatas jalan yang tingginya hanya setinggi perutku. Tingginya memang cukup untuk menghentikan mobil untuk jatuh, namun mudah untuk dipanjat seseorang.

Vicky tidak menjawab permintaanku tadi. Namun tekadku sudah bulat. Meski dia tidak menjawab, aku akan tetap membawanya.

Aku menunggu saat yang tepat. Aku dengarkan suara angin yang dibuat truk kontainer saat truk itu melintas di jalan bawah. Dan tepat saat Odi dan Darius hanya beberapa langkah lagi dari kami, aku mulai menarik tangan kiri Vicky. Saat aku mulai menariknya, aku melihat kalau kedua matanya sedang tertutup. Namun merasakan tarikanku membuat matanya terbuka seketika.

Segera begitu mereka menyadari apa yang sedang kulakukan, Odi dan Darius bergegas mendekati kami. Namun tidak butuh lama untuk memanjat pagar pembatas overpass dan menarik Vicky ke atasnya. Keraguan sempat tampak di wajahnya.

“Kau percaya padaku, kan?”

Tanpa menunggu jawaban darinya, aku melompat dari overpass ke atas sebuah truk kontainer sambil mencengkram pundak Vicky. Lompatan kami sangat tepat waktu, tidak terlalu cepat maupun terlalu lambat. Overpass itu memang tidaklah tinggi. Hanya lima meter untuk jatuh ke atas atap truk yang bisa dengan mudah diredam dengan sebuah somersault.

Saat kami mendarat, kami berguling ke kiri untuk melancarkan dan meredam jatuh kami. Manuver ini agak sulit mengingat dalam pelukanku ada Vicky. Meski kami mendarat dengan keras dan membuat kegaduhan, suara lalu lintas dan suara klaksonnya yang keras membuat supir truk ini tidak menyadari kalau kami sudah ikut menumpang.

Aku coba untuk bangkit, namun Vicky masih mencengkramku dengan erat, membuatku sulit berdiri. Aku harus menopang berat badannya untuk berlutut, yang lucu adalah aku baru sadar betapa ringan dia sebenarnya.

“Sudah tidak apa-apa,” ujarku menenangkannya sambil meraba kedua pipinya, sambil sesekali mengusap matanya yang lembab karena ketakutan dengan jempolku. “Kau bisa buka matamu sekarang.”

Begitu dia membuka kedua matanya. Aku bisa melihat pantulan diriku di mola matanya yang bening dan sembab. Dia memang ketakutan, sampai tidak bisa berkata-kata. Aku tahu dia tidak suka dipaksa melakukan sesuatu, namun aku harus melakukannya.

“Maafkan aku,” lanjutku menenangkannya, yang dia balas dengan anggukan beruntun.

Sambil masih berlutut, aku berbalik untuk melihat ke arah overpass tempat kami melompat. Meski jauh, aku bisa melihat Odi dan Darius masih mengawasi kami, dengan Darius yang masih berbisik ke radionya.

Untuk saat ini, kami masih aman. Vicky dan aku bisa duduk tenang di atas atap kontainer truk dengan tenang. Hanya perlu melawan angin yang dilawan truk ini. Saat ini kami menunggu truk ini berhenti atau melambat agar kami bisa turun. Namun meski kami sudah melewati beberapa pintu keluar tol, truk ini masih melaju di jalan bebas hambatan. Bahkan hingga pemandangan kota berubah menjadi pemandangan jalanan di pesisir laut.

Kami sudah duduk di atas truk ini untuk beberapa saat. Aku sudah tidak bisa menghitung berapa lama waktu sudah berlalu. Namun aku kira setidaknya sudah dua puluh menit. Ditambah Vicky sudah agak lebih tenang. Semenjak kami mendarat, dia hanya bicara dua kali. Yang mana terakhir kali dia bilang kalau ada yang harus kami bicarakan nanti.

*BLAM*

Tiba-tiba sebuah tembakan terdengar dari belakang. Mendengar suara tembakan, aku relfeks berbalik. Dan objek yang kulihat di belakang truk ini membuat mataku terbelalak.

Karena aku terlalu fokus melihat ke depan, aku tidak menyadari kalau sedan perak yang sejak tadi mengikuti kami sudah menyelinap di belakang truk, lengkap dengan luka-luka yang dideritanya. Di sana tampak Don sedang duduk di jendela pintunya sambil mengarahkan pistolnya dari atap mobil.

Tembakan pertamanya diarahkan kepada Vicky. Untungnya dia meleset. Begitu aku sadar kalau mereka sedang mengincarnya, aku langsung menyuruhnya untuk menunduk dan berlindung.

“Tunggu di sini!” perintahku padanya, yang mana dia patuhi tanpa mengatakan apa-apa.

Setelah aku memastikan kalau Vicky sudah aman, aku segera mengeluarkan pistolku dari dalam jaket dan melepas safetynya sebelum aku berdiri. Aku lalu mendekati pinggiran kontainer dan mulai membidik.

*BLAM*

Aku lepaskan sebuah tembakan. Namun tembakanku hanya mengenai atap sedan. Memang tidak sulit untuk membidik Don, namun aku lupa untuk memperhitungkan gerakan mobilnya. Saat aku mencoba untuk memperbaiki bidikanku, sedan perak itu tiba-tiba berbelok ke kiri dan mulai memacu kecepatan.

Sedan perak itu mengerahkan kecepatannya untuk menyusul ke sebelah truk. Dan saat mobilnya mencoba untuk menyalip truk, Don tampak sedang memanjat ke atas mobilnya. Aku berjongkok dan merangkak sepanjang pinggiran kiri kontainer karena Don masih mengarahkan senjatanya ke arahku sambil berusaha memanjat atap truk.

Begitu dia melompat ke arah kursi depan truk, aku segera bergegas menuju ke arah truk. Namun terlambat. Don sudah mendobrak dan masuk ke dalam pintu depan truk. Melihat itu, aku berlari menuju pojok pinggiran. Aku langkahkan kaki kananku begitu aku sampai di pojok dan melompat.

Sebelum aku jatuh, aku jangkau dan kutangkap bagian atas pintu yang terbuka. Begitu tubuhku mendarat di atasnya, aku segera memindahkan diri ke dalam truk. Di dalam truk, Don dan supir truk ini sedang bertengkar sengit. Segera aku ikut campur dengan menghantam bagian belakang kepala Don menggunakan gagang pistolku. Seranganku memang tidak melumpuhkannya, namun sekarang aku sudah menarik perhatiannya.

Sambil menonton Don dan aku berkelahi, supir truk ini berusaha keras untuk mengemudikan truknya di bawah tekanan. Don berbalik dan melayangkan pukulan ke pipi kiriku. Aku tidak bisa menangkisnya karena dia sudah menangkap tangan kiriku. Saat dia hampir melayangkan pukulan lagi, aku berhasil menarik tangan kananku dan menggunakannya untuk memukul matanya dengan pistol yang kugenggam.

Seranganku tadi cukup untuk membutakannya. Sisanya pun menjadi mudah. Dua kali aku menyerangnya lagi, satu kali di telinganya dan satu kali di hidungnya. Meski menolak untuk pingsan, namun dia sudah tidak bisa menyerang. Aku tinggal perlu membuangnya.

Aku pindahkan pistolku ke tangan kiriku dan melilit tangan kananku dengan sabuk pengaman yang sudah tampak tua dan usang. Lalu aku mengunci pinggangnya dengan tangan kiriku. Yang mana aku teruskan dengan menarik tubuhku ke belakang sambil mengangkat tubuh Don. Kira-kira seperti suplex—hanya saja dengan posisi terduduk.

Saat aku menarik badanku ke belakang, aku sampai di titik di mana badanku jatuh dari pintu truk. Itulah saat di mana aku melepaskan cengkramanku dari pinggang Don. Sementara tangan kananku yang terlilit sabuk pengaman mencegahku jatuh, Don terlempar keluar dan jatuh keras ke atas aspal.

Sebelum aku bisa memulihkan keseimbanganku, aku gagal menyadari sedan perak yang sudah menungguku di sebelah truk. Saat aku melihatnya, mobil itu sudah membanting setir ke kanan mencoba menghantamku dengan bodinya. Meski hanya sekejap mata, aku berhasil menarik tangan kiriku dan menarik pelatuk senjataku.

*BLAM*

Pistolku memuntahkan sebuah peluru. Tembakanku mengenai ban kanan depan sedan perak. Bannya itu robek dan meletus. Karena mobilnya masih melaju cepat saat bannya tertembak, mobil itu pun kehilangan keseimbangannya.

Marco—pengemudinya—mencoba menyeimbangkan dirinya dengan mengerem. Namun bukannya berhenti, mobil yang dikendarainya itu justru tergelincir. Mobilnya terus menggelincir sampai masuk di antara roda-roda kontainer truk.

Sedan perak itu mulai remuk tergerus roda-roda kontainer yang berputar. Namun pada satu titik, mobil itu tersangkut di bawah roda-rodanya. Kontainer truk kehilangan traksi dan mulai menggelincir ke kiri. Karena aku tidak tahu apa supir truk bisa mengendalikan truknya, aku pun terdorong untuk memeriksa keadaannya. Aku coba untuk mengangkat badanku namun gagal untuk menggapai sesuatu sebagai penopang. Bahkan pintu yang terbuka terus menghindari jangkauanku saat aku mencoba untuk menggapainya. Saat aku mencoba untuk menyeimbangkan diriku, aku teringat pada sebuah hal penting yang terlupakan; Vicky.

Terdorong pikiran itu, aku mengerahkan kekuatanku dan menarik diriku ke atas dengan bergantung pada sabuk pengaman yang melilit tangan kananku. Saat aku mencoba memanjat, sedan perak itu akhirnya terlindas keenam roda belakang kontainer. Guncangannya membuatku kehilangan keseimbangan.

Mengetahui truknya sudah kehilangan jangkarnya, supir truk pun mencoba untuk menyeimbangkan truknya. Namun truk dan kontainernya sudah terlalu tertekuk untuk bisa seimbang. Bahkan meski truknya sudah berhasil melaju lurus, kontainernya masih selip dan sekarang menjadi sebuah beban.

Saat aku terjatuh, sabuk pengamannya sedikit robek. Namun setiap detiknya aku bergelantungan di ujungnya, berat badanku membuat robekannya melebar. Lagi, aku mencoba menarik diriku naik. Kali ini perlahan supaya aku tidak menumpukan terlalu banyak beban di sabuk pengaman. Namun sebelum aku bisa berdiri, sabuk pengaman itu putus.

Aku terjatuh dan menghantam jalan, melewati celah antara roda kontainer yang masih tergelincir. Saat tubuhku mendarat, aku sempat menggelinding beberapa kali sebelum aku kehilangan kesadaran.

———

“———!”

Sebuah suara yang akrab membangunkanku, membantuku meraih kesadaran sebelum aku jatuh terlalu dalam ke jurang bawah sadarku. Perlahan aku membuka mataku. Pandanganku begitu kabur dan tidak jelas. Namun sebuah nama terukir jelas dalam benakku; Vicky.

“Vicky...” panggilku lemah sambil mencoba untuk berdiri.

Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku. Pipi dan tanganku berdarah dari luka lecet yang kudapat saat bergulingan di jalan. Beberapa sendi tulangku juga serasa membengkak. Namun aku coba sebisa mungkin untuk tidak menghiraukan luka-lukaku.

“Vicky!” aku memanggil lagi. Kali ini setelah aku berdiri dan dengan suara lantang.

Pemandangan di sekitarku benar-benar memiriskan. Sedan perak yang tadi mengejarku sudah terbalik beberapa meter di belakangku sementara truk kontainer yang kutumpangi sedang bermain keseimbangan di atas pinggiran jalan tol setelah setengah bagian kontainernya menabrak dan terperosok ke jurang. Bahkan setelah pandanganku pulih, aku masih tidak bisa menemukan Vicky.

“Theodore!”

Sayup-sayup, aku bisa mendengar seseorang memanggilku. Suara itu bukanlah suara yang mencegahku pingsan. Lagipula, suara itu memanggilku dengan namaku saat ini. Meski demikian, suara itu juga terdengar akrab.

[Vicky?]

“Vicky?!”

“Theodore!”

Setelah panggilan kedua, aku bisa memastikan dari mana suara itu datang. Dan setelah berbalik, aku tahu aku harus segera menyelamatkannya.

Dari kontainer yang sedang terperosok ke jurang, aku bisa mendengar suara Vicky memanggil namaku. Aku tidak butuh panggilan ketiga untuk membuatku berlari ke atas truk yang sedang bermain keseimbangan itu.

Dengan tergesa-gesa dan tidak menghiraukan rasa sakit dari luka-lukaku, aku berjalan tertatih-tatih menuju ke arah truk. Begitu mencapainya, dengan panik aku memanjat hidung truk dan mengacuhkan supirnya yang terbaring tidak sadarkan diri di atas setirnya sampai aku mencapai atap truknya. Dari sana, aku berjalan tanpa mengangkat kaki dengan sangat hati-hati agar tidak menambah berat pada bagian yang sudah terperosok.

“Vicky!”

“...Theodore!”

Tidak salah lagi, suara Vicky memang datang dari ujung truk yang menggantung.

[Tidak, tidak, tidak...]

Aku tiarap dan merayap untuk mendekati pingirannya. Dari pinggiran itu aku bisa melihat kalau Vicky sedang bergantung di gagang pintu kontainer.

Untungnya, gagang pintu kontainer itu hanya bisa dibuka jika gagangnya diputar ke atas. Jadi aku tidak perlu takut Vicky membebani gagang pintunya.

“Theodore—”

“Raih tanganku!”

Sudah jelas apa yang harus kulakukan. Aku jatuhkah tanganku ke bawah pinggiran kontainer, dengan susah payah merenggangkannya supaya bisa menjangkau Vicky. Namun masih ada satu jengkal lagi sampai aku bisa meraihnya.

“Kau bisa memanjat?”

*KRAANK*

Dia menggeleng ketakutan, dan sejujurnya mendengar suara metal tergesek seperti itu membuatku ketakutan juga. Semakin lama aku berada di pinggiran ini, semakin kontainer ini memiring. Aku tahu aku tidak punya waktu banyak, karena itu aku merayap lebih dalam ke pinggiran dan menjangkau lebih jauh, namun aku masih belum bisa menggapainya.

[Sabukku!]

Aku ingat kalau aku bisa menambah jangkauanku dengan sabukku. Dengan panik aku menarik badanku ke atas dan melepas sabuk celanaku sementara kontainer ini terus memiring perlahan. Dengan tergesa-gesa aku melepaskan sabuk celanaku dan melilitkannya ke tangan kananku. Setelah mengenggamnya dengan erat, aku berlutut di pinggiran dan menjatuhkan ujung lain sabukku kepada Vicky.

“Ambil itu!”

“Theodore...”

“Jangan bicara! Ambil!”

“Percuma, pergilah.”

Di antara matanya yang lembab karena ketakutan, hidung dan pipinya yang tampak menahan tangis. Dengan bibirnya yang gemetaran, dia memalsukan sebuah senyum. Senyum yang sangat manis namun juga kubenci.

“Jangan bilang itu! Tambil sabukku!”

Aku terus memaksanya karena nyaris semua bagian kontainer sudah terperosok ke dalam jurang, satu-satunya yang yang mencegah kontainer ini jatuh adalah kait yang menahan kontainer ke truk.

“Tidak apa-apa, pergilah.”

“Tidak!”

“Pergilah! Atau kita berdua akan mati!”

Semakin lama dia bicara, semakin dalam kontainer ini tenggelam. Aku bisa melihat kalau tangannya mulai lemas, bahkan beberapa jarinya mengeluarkan darah, namun dia masih berusaha bertahan.

Dia bergantung seperti itu untukku. Dia tidak ingin bayangan terakhir dirinya yang kukenang adalah saat dia sudah tidak bernyawa. Terutama saat dia tahu kalau aku sama sekali belum mengenalnya.

“Terima kasih.”

Entah kenapa aku malah mengucapkan terima kasih, namun sepertinya dia paham. Senyuman palsu di wajahnya terus melebar sebelum akhirnya pecah. Aku mengambil nafas dalam sebelum aku berdiri dan berpaling, meninggalkanya sendiri.

Kontainer ini sudah miring di luar keseimbangan. Mengetahui ini, aku bergegas berlari menuju kepala truk. Saat aku mencapai pinggiran kontainer, aku melompat dan mendarat di atap truk—sisanya mudah—aku hanya perlu menuruni hidung truk.

Saat aku mendarat di tanah keras, aku berbalik dan mengamati dengan tidak berdaya bagaimana truk itu terjatuh. Tidak lama kemudian truk itu terjun ke dalam jurang, aku tidak melihatnya terjadi, namun aku bisa mendengar suara truk itu beradu dengan air laut di dasar jurang.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc