Segalanya terasa ringan bagiku. Aku sempat merasa seperti bisa menyentuh langit, bukan langit dalam ilusi yang dibuat pikiranku, namun langit yang nyata.

Sayangnya, perasaan ini tidak berlangsung lama. Sebelum aku mendarat di atas pallet dan meraih kabel yang menggantungkan palletnya dari lengan crane, aku melihat ke bawah. Odi—setelah gagal menangkap kakiku—mulai kalah melawan gravitasi.

Saat sedang terjatuh dari lantai empat ke atas tanah, tampak dalam matanya keterkejutan seperti yang ada dalam mataku—aku sendiri juga sama terkejutnya dengan dia.

Begitu aku meraih kabel yang menggantungkan pallet, tidak hanya ilusi yang kulihat mulai menghilang, aku juga bisa mendengar suara Odi mendarat. Suaranya sangat pelan, nyaris tidak terdengar, seakan dia tidak mendarat sama sekali. Jatuhnya yang tergolong sunyi itu pun membuatku penasaran ingin melihat ke arah tanah.

Sambil masih menggenggam salah satu dari empat kabel yang bercabang menjaga pallet, aku mengintip dari ujung sisinya. Dari sana aku bisa melihat Odi, dan keadaannya tampak mengenaskan.

Punggungnya berbaring di atas sebuah pagar dinding batu yang memisahkan bangunan tempat kami melompat dengan jalanan di belakangnya. Pinggangnya terlenting ke belakang akibat mendarat di atas pagar batu. Melihat seberapa tinggi dia terjatuh dan seberapa dalam lentingan punggungnya, aku menebak kalau jatuhnya membuat tulang punggungnya patah sekaligus memutuskan syaraf di tulang belakangnya, membuatnya tewas seketika.

Aku tidak bisa menikmati pemandangan itu terlalu lama. Tidak hanya karena pemandangan itu membuatku mual, namun juga karena aku melihat Darius sedang mencoba membidikku dari atas bangunan lain. Melihat itu, aku segera sembunyi di belakang sak-sak bubuk semen yang diangkut pallet ini. Namun setelah membidikku beberapa saat, dia tidak jua melepaskan tembakan.

Para pekerja bangunan di dalam konstruksi segera meneriakiku saat mereka menyadari kalau aku ada di pallet ini, tidak lama kemudian palletnya berhenti terangkat. Aku sudah memerangkap diriku sendiri, tidak ada jalan keluar dari tempatku berada, kecuali dengan menjatuhkan diriku lima lantai ke atas tanah atau melompat kembali ke atas atap bangunan tempatku datang, dan keduanya punya konsekuensi tersendiri.

[Tunggu dulu!]

Ada jalan lain untukku melarikan diri. Aku menemukannya setelah tidak sengaja melihat ke atas. Aku bisa memanjat kabel yang menggantungkan pallet ini dan menyeberang ke situs konstruksi.

Setelah sadar kalau aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku mengintip ke arah Darius, namun dia sudah menghilang dari tempat terakhir aku melihatnya berdiri. Aku mencoba untuk mencarinya, namun aku tidak bisa menemukannya.

Setelah memastikan kalau aku sudah aman, aku segera meraih kabelnya dan mulai memanjat. Tidak butuh lama sebelum aku mencapai lengan crane. Selain agoraphobia, tidak ada lagi yang mempengaruhi gerakanku. Dengan penuh kehati-hatian, aku terus menyusuri lengan crane hingga akhirnya aku sampai di puncak situs konstruksi.

Para pekerja yang kutemukan di puncak situs ini terus menanyaiku berbagai pertanyaan. Namun aku tidak menghiraukan mereka. Aku hanya terus berjalan lurus sambil menghalau mereka dan menuju ke arah tangga untuk turun. Sepertinya mereka belum membangun tangga di bangunan ini, aku pun harus menuruni lantai demi lantai menggunakan tangga panjat.

Di tiap lantai yang kuturuni, selalu saja ada pekerja yang menyentakku, beberapa bahkan mencoba menangkapku. Namun tiap kali mereka mencoba, aku terus melepaskan cengkraman mereka dan mendorong mereka. Ini membuat mereka sesaat berhenti mencoba menangkapku sebelum mencoba lagi. Namun saat aku sampai di lantai ketiga, mereka mulai mengepungku.

Aku terus mendesak maju dan menembus kepungan mereka. Namun melewati mereka menjadi semakin sulit. Aku telah dikepung. Pagar betis pekerja bangunan sudah menghentikan laju jalanku. Aku sedikit berharap seandainya aku punya senjata untuk mengancam mereka. Namun tiba-tiba sebuah tarikan di pundak kiriku memaksaku untuk berbalik.

Karena tidak siap, sebuah tinju mendarat di pelipis kiriku setelah aku menengok ke belakang dengan berpaling ke kiri. Pukulannya mendorongku maju, menjauhi siapa pun itu yang sudah menghantamku. Aku pun tersungkur ke atas lantai setelah tidak ada pekerja bangunan yang bersedia menangkapku sebelum terjatuh.

Aku coba melihat ke arah penyerangku; pria berkulit gelap mengenakan kemeja putih berlengan pendek. Pria itu ternyata adalah Darius, lengkap dengan sebuah pistol yang diacungkan ke arahku di tangan kanannya. Rupanya setelah dia menghilang dari atap bangunan tadi, dia ke sini untuk mencegatku.

Melihat Darius membawa senjata api, salah satu pekerja bangunan mencoba menghalaunya dengan melemparkan dirinya ke arah tangan kanan Darius. Namun tidak butuh banyak upaya bagi Darius untuk membebaskan diri dan melemparkannya ke atas lantai.

*BLAM*

*BLAM*

Dua kali Darius melepaskan tembakan ke arah pekerja yang dia lemparkan ke lantai, membunuhnya seketika. Pekerja-pekerja lain segera ketakutan dengan tindakannya. Tanpa mengatakan apapun, Darius menatap mereka, menyuruh mereka untuk segera meninggalkan tempat ini.

Segera para pekerja bangunan berhamburan pergi. Aku tahu Darius akan segera menyerangku lagi. Dan mengingat kali terakhir aku berkelahi dengannya, aku tahu ini tidak akan jadi pertarungan yang mudah.

Di antara kaki-kaki para pekerja yang sedang berlarian, aku menyembunyikan diriku seraya merangkak, membuatku sedikit sulit ditemukan, namun sayangnya juga membuatku kesulitan mengawasi Darius. Aku pun memfokuskan diriku untuk melarikan diri. Aku harus sembunyi sebelum semua pekerja turun dari lantai ini.

Begitu melihat sebuah dinding di kiriku, aku merangkak ke arahnya dan bersembunyi di belakang dinding, tepat di sebelah tumpukan material bangunan dan alat-alat. Di sana aku mulai menyesuaikan nafas dan memikirkan situasi; dia punya senjata sementara aku tidak punya apa-apa, tapi dia tidak tahu keberadaanku, aku punya kerugian di sini.

Perlahan-lahan, para pekerja yang berlarian turun menjadi semakin sedikit hingga akhirnya tidak ada lagi pekerja di lantai ini. Begitu kesunyian menguasai, aku bisa lebih fokus berpikir. Bahkan membantuku menemukan jawaban atas keadaanku saat ini. Jalan terbaiknya adalah dengan melakukan serangan diam-diam. Namun dari suara langkah kakinya di antara kesunyian, aku yakin kalau dia sudah menduganya dengan berdiri di tengah ruangan.

Jika demikian, itu berarti aku tidak bisa hanya bergantung pada serangan diam-diam; jalan kedua adalah serangan mendadak, namun bukan serangan dadakan biasa, tapi serangan dadakan dengan umpan. Di kiriku, ada beberapa alat dan material bangunan seperti batu bata dan semen, aku rasa aku bisa memanfaatkannya.

Aku memungut sebuah palu besar dan menggenggamnya di ujung beratnya di tangan kiriku. Akan butuh tenaga besar untuk mengayunkannya, tapi aku tidak punya pilihan lain.

Berikutnya, aku memungut sebuah batu bata dan menyusuri dinding ke kiri hinga aku sampai di ujung dinding, dari sana aku mengintip dan menemukan kalau Darius sedang memeriksa tiap balik dinding dengan hati-hati.

Saat Darius sedang memeriksa dinding di ujung ruangan, aku mengambil kesempatan untuk menyerang. Perlahan aku menyelinap di belakangnya, dengan sebuah palu di tangan kiriku dan sebuah batu bata di tangan kananku. Ruangan ini terlalu besar untuk dilewati sebelum dia berbalik. Dan demikian, begitu Darius hendak berbalik, aku menarik tangan kananku ke belakang, mempersiapkan diri untuk melempar.

Begitu Darius menyadari keberadaanku namun sebelum dia bisa mengarahkan senjatanya ke arahku, aku sudah mengayunkan tangan kananku dan melemparkan batu bata ke arahnya. Aku mengarahkan lemparanku ke kepalanya atau setidaknya badannya. Namun lemparanku terlalu lemah akibat luka-luka yang kuderita, terutama di pundak kananku. Bukannya mengenai badannya, batu bata itu mendarat di paha kiri Darius.

Meski meleset dari sasaranku, lemparanku ternyata berakibat efektif. Darius terpeleset hingga jatuh ke lutut kirinya. Meski demikian, dia mengabaikan posisinya dan terus mengarahkan senjatanya ke arahku dengan satu tangan. Melihat itu, aku pun mendekat maju dengan palu di kedua tanganku. Saat aku tinggal dua langkah lagi darinya, aku tarik palunya ke kanan, membangun momentum, dan ketika aku mengambil langkah terakhir, aku mengayunkan kepala palunya ke arah tangan Darius.

Kepala palunya mengenai tangan kanannya sebelum dia bisa menarik pelatuk, bahkan mungkin aku sempat mengenai jari-jarinya. Pistolnya terlempar ke kiriku dan mendarat di ujung ruangan, tepat sebelum sisi bangunan habis. Palu ini berat, dan dengan kondisi pundakku, aku tidak bisa segera menghentikan laju palu ini.

Butuh beberapa detik sebelum aku bisa mengayunkan palu lagi, mungkin terlalu lama. Sebelum aku bisa mengayun dan melanjutkan serangan, Darius bangkit dan melompat. Dia menanduk perutku dengan pundak kanannya dengan keras hingga aku menjatuhkan palu yang kugenggam. Aku tahu dia sedang mencoba melemparku. Karena itulah aku terus menjaga keseimbangan dengan melangkah mundur ketika dia terus mendorongku.

Dia belum menyerah ingin melemparku, dia membuatku kesulitan menjaga keseimbangan dengan mendorong sambil menggoyang-goyangkan dorongannya ke kiri dan kanan. Aku masih mencoba keras untuk tetap berdiri. Dan karena menjaga keseimbangan semakin sulit, aku coba membuatnya melepaskan cengkraman dengan menyikut tengkuknya berulang kali.

Sayangnya, melakukan itu membuatnya mudah melemparku. Aku kehilangan keseimbangan dan terpeleset ke kanan. Jika aku jatuh, dia pasti akan mengunciku lagi. Karena itulah ketika aku jatuh, aku mengunci pundak dan pinggangnya dan mengunakan jatuhku untuk melemparnya ke kiri.

Kami berdua terlempar ke lantai. Kondisi kami sudah tidak cocok untuk pertarungan. Kami bahkan butuh waktu lama untuk bisa berdiri. Biasanya aku cepat—ketahananku luar biasa kuat—tapi ada batasan untuk segalanya. Aku mulai lamban. Darius bangkit lebih cepat. Sementara aku masih berlutut di satu kaki—mencoba menguasai rasa sakit di lukaku—Darius semakin mendekat. Dia mencengkram kerah bajuku dan menarikku ke atas.

Sambil masih mencengkram kerahku, dia menghantam perutku dengan lutut kanannya tiga kali hingga aku merasa mati rasa dari perut ke bawah, membuatku nyaris tidak bisa berdiri. Namun dia terus mencengkram kerahku sementara aku bergantung ke lengannya. Melihatku tidak bisa berdiri, dia menjagaku tetap berdiri dengan mengangkat kerah bajuku lalu menatapku dalam-dalam.

“Keparat, belum pernah aku dipermainkan seperti ini.”

Dia menghujatku sementara aku hanya bisa mendengar. Kakiku masih sangat mati rasa, tapi aku masih bisa menggerakkan tanganku dengan bebas. Tanpa menghiraukan cercaannya dan sementara perhatiannya masih teralihkan, aku lepaskan genggamanku dari pergelangan tangannya dan memasukkan kedua tanganku di antara kedua tangannya yang masih mencengkramku, membuat cengkramannya lepas. Lalu aku daratkan kedua tanganku di kedua pundaknya. Aku kerahkan semua sisa-sisa tenaga yang kumiliki dan menarik pundaknya ke arahku sementara aku menarik kepalaku ke belakang untuk membangun momentum.

Sementara wajahnya tertarik ke arahku, aku ayunkan leherku maju dan menghantam pipi kirinya dengan tempurung telipisku. Meski lemah, tapi karena seranganku mendarat dekat dengan lukanya yang kubuat di rumah susun, dia terlempar mundur.

“Bajingan...”

Sementara aku terbatuk mencoba menenangkan sakit di dada dan perutku, Darius mengayunkan tangan kanannya. Nyaris memukul wajahku jika aku tidak menghindar dengan menunduk dan berlari maju di bawah tinjunya. Sayangnya, aku tidak sanggup menarik badanku naik. Aku kehilangan pijakan dan harus melempar diriku jatuh ke atas lantai di dekat ujung bangunan.

Aku jatuh ke atas sesuatu yang keras. Sesuatu itu bukanlah bagian dari lantai. Bentuknya menonjol dan menekan punggungku, membuatku tidak nyaman berbaring. Aku ingin bangkit, tapi aku tidak kuat. Rasa sakit di sekujur tubuhku sudah membuatku tidak sanggup berdiri. Aku pun hanya bisa melihat saat Darius terhuyung-huyung memungut palu yang kujatuhkan tadi.

Darius mulai mengangkat kepala palunya dan menyesuaikan nafas, bersiap untuk menyerang. Aku tidak ingin berakhir di sini. Aku masih tidak ingin percaya kalau aku adalah seorang pembunuh. Tapi aku bahkan tidak sanggup berguling untuk menghindar.

Ada lima tahap menuju keputusasaan; yang pertama adalah penolakan, tahap di mana aku berada. Aku tahu aku tidak ingin berakhir seperti ini. Seharusnya ada cara lain yang bisa kulakukan. Tapi tidak peduli seberapa aku ingin, aku tidak bisa mewujudkan harapanku ini.

Tahap kedua adalah kesedihan. Menolak sebuah masalah terjadi tidak mengubah apapun. Dari sana penolakan berubah menjadi kesedihan; buah dari ketidakmampuan mengubah keadaan.

Tahap ketiga; menawar. Ini adalah tahap yang paling tidak ada gunanya. Saat seseorang berada dalam situasi yang tidak bisa diatasinya—meski keadaan itu diakibatkan oleh tindakannya sendiri—mereka masih berpikir akan bisa mengubah keadaan dengan memohon kepada mereka yang berposisi lebih tinggi. Dalam kasusku, mereka yang berposisi tinggi adalah Darius. Tapi dari matanya yang tampak ganas itu, aku bisa melihat dia tidak sedang ingin memberi ampun.

Karena mengalami episode dari tiap tahap sebelumnya tidak menyelesaikan apapun, aku pun maju ke tahap keempat; kemarahan. Tahap ini adalah tahap di mana seseorang menyadari kalau tidak ada yang bisa mengubah takdirnya selain dirinya sendiri dan merasa termotivasi untuk sementara. Namun secara ironis tahap ini juga adalah tahap di mana mereka menyadari kalau motivasi tanpa aksi tidak akan membawa perubahan. Jika mereka sampai di pencerahan ini dan masih tidak bisa mengalahkan keputusasaan, mereka akan maju ke tahap kelima; penerimaan.

Aku sudah siap untuk membiarkan apapun terjadi. Aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin semuanya berakhir agar aku bisa kabur dari masalah-masalahku. Maka aku menghela nafas panjang dengan perlahan dan menjernihkan pikiranku. Namun sial, meski aku sudah bisa menerima, aku masih tidak bisa berbaring dengan nyaman.

Sesuatu yang keras masih menekan punggungku dan tertahan antara lantai beton yang masih setengah jadi dan punggungku. Bahkan setelah aku menyesuaikan posisi badanku, aku masih belum tenang. Namun perlahan aku menyadari bentuk dan tekstur benda itu.

Kembali ke kelima tahap tadi; aku kira aku sudah melewatkan sesuatu. Kelima tahap itu hanya berlaku untuk orang biasa. Mereka yang luar biasa seharusnya bisa membuat jalan keluar sendiri. Kemampuan mereka itu melemparkan mereka kembali ke penolakan dan mengubah hasil dari keadaan. Aku luar biasa—aku bisa melakukan hal-hal mustahil, dan aku bisa melakukannya lagi.

“AAAH!”

Darius sudah mulai maju. Dia mengangkat palu di atas kepalanya. Bersiap untuk meremukkanku menggunakan berat palunya dalam satu ayunan.

Tahu aku tidak punya banyak waktu lagi, aku bergegas meraih objek yang kutindih dengan tangan kananku. Aku merabanya dulu hingga aku merasakan gagangnya. Dengan sebuah tarikan cepat sambil mengangkat punggungku untuk memberinya ruang agar bisa keluar dari tindihan punggungku, aku acungkan ujung lubangnya ke arah Darius yang masih maju ke arahku dan akhirnya meremas pelatuknya.

*BLAM*

Benda itu menolak ke belakang ketika aku meremas pelatuknya dan sebuah peluru terlepas dari barrelnya. Tanpa sadar, aku sudah mendarat di pistol milik Darius. Hanya saja butuh waktu lama sampai aku sadar. Namun aku menyadarinya tepat waktu.

Peluru yang kutembakkan menembus dada kirinya. Langsung mengenai jantung dan membuatnya terkena shock. Shocknya membuatnya tidak kuat menopang berat palu dan berat badannya sendiri. Palunya terjatuh lewat belakang badannya ke atas lantai. Tidak hanya itu, dia juga kehilangan keseimbangan. Dia terpeleset ke depan dan jatuh ke atas badanku.

Pada akhirnya, serangan terakhir yang dia lakukan adalah jatuh ke atasku. Serangannya itu tidak membuatku kesakitan—kecuali membuatku berada di sebuah posisi yang canggung. Dengan panik, aku menyesuaikan nafas dan segera kekuatanku kembali. Dengan itu aku pun memindahkan tubuh kakunya dari atas badanku.

Sambil masih menyesuaikan nafas, aku bangkit dan merangkak menuju tiang terdekat di sebelah kiriku untuk menyandarkan punggungku. Sedikit demi sedikit aku merasa santai dibandingkan dua puluh detik lalu. Semakin aku beristirahat, semakin aku merasa rasa sakit di sekujur tubuhku kian menjinak.

Sesi istirahat ini memberiku waktu untuk menikmati suasana; hembusan angin tinggi, suara lalu lintas di kejauhan, dan suara kerumunan yang terdengar panik di atas tanah membuatku merasa tenang. Namun tidak bisa dipungkiri, polisi akan segera datang. Semestinya ada pekerja bangunan yang segera menghubungi polisi ketika Darius menembakkan pistolnya di sini.

Saat ini, aku punya kesempatan untuk memikirkan apa saja yang sudah terjadi hari ini, aku punya lebih banyak kehilangan daripada kemenangan. Kemenangan yang kuraih adalah aku tidak lagi diikuti. Sementara kehilanganku adalah; Vicky, aku sudah resmi menjadi pembunuh, dan aku tidak tahu ke mana aku harus pergi.

Aku lemparkan pistol yang kugenggam sebelum aku mulai mengusap mataku yang kering dengan punggung jempolku dan mengistirahatkan jidatku di sana. Aku putus aja, lebih kehilangan arah dan tersesat dari sebelumnya. Aku merasa ingin menangis, tapi aku tak bisa.

[Ke mana aku harus pergi sekarang? Brengsek!]

Beberapa kali aku mengusap mataku. Aku sempat teringat dengan saat-saat terakhirku bersama Vicky, bagaimana dia mencoba menenangkanku di saat terakhirnya. Aku bahkan bersedia memberikan nyawaku hanya untuk membuatnya tidak terjadi.

Tenggelam dalam pikiran dan kesedihanku sudah mengalihkan perhatianku. Aku gagal menyadari kehadiran seseorang di balik sebuah dinding di seberang ruangan. Saat dia sudah menunjukkan dirinya, barulah aku menengok ke arahnya.

“Siapa di sana?!” seruku.

Bagian atas tubuhnya masih tertutupi bayangan yang dibuat ujung langit-langit bangunan ini, membuatku sulit untuk mengenalinya. Ini tidak mungkin. Seharusnya tidak ada lagi yang mengikutiku. Tapi postur tubuhnya itu sepertinya amat sangat kukenali.

Sebelum dia melangkah maju dan menunjukkan dirinya, aku sudah mengenalinya. Sebelum dia melangkah ke bawah cahaya dan memberikan kepastian akan jati dirinya, aku sudah tidak ragu lagi kalau sosok yang mengenakan kaos abu-abu itu adalah diriku.

[Apa...]

Dengan senyum dingin, dia mendekatiku hingga dia sampai setidaknya tiga langkah lagi dariku. Penampilannya nyaris serupa denganku, kecuali untuk ekspresinya yang dingin dan tanpa jaket yang kukenakan. Aku ingat dengannya, dia adalah sosok diriku yang kulihat dalam mimpi beberapa saat lalu.

“Apa... ini...”

Karena aku kesulitan mencerna pemandangan ini, aku berbisik. Sebenarnya aku berbisik dalam hati, tapi saking terlalu terkejut bisikanku itu keluar lewat mulut tanpa kusadari.

“Tidak usah terkejut,” jawabnya pendek.

“Kau— kau ini apa?”

Kali terakhir aku melihatnya, dia berada di dalam pikiranku—dalam mimpiku—dan sekarang dia berdiri di hadapanku—dalam realitas yang sama tempatku berada. Keraguan yang kurasakan membuatku ingin berdiri dan meyentuhnya, tapi sebelum aku bisa berdiri, dia menghentikanku dengan menunjukkan telapak kirinya.

“Tidak usah berdiri,” ujarnya.

Hal lain yang kusadari darinya adalah saat dia membuka telapak tangannya, tampak sisa-sisa darah yang setengah mengering. Aku ingat sudah melihatnya bersimbah darah dalam mimpiku, hanya saja sekarang tidak sebanyak itu.

“Aku tidak nyata,” lanjutnya.

“Apa?”

Karena aku masih masih tidak sanggup berdiri, aku jatuh berlutut, dan segera aku kembali membaringkan diriku ke tiang.

“Aku tidak nyata; aku adalah dirimu. Kau melihatku karena kau sedang membutuhkanku.”

“Aku butuh kau?” ejekku dengan skeptis. “Kenapa? Aku tidak paham kenapa aku butuh berpikir di luar kepala.”

“...” dia tidak menjawab, tapi setelah beberapa saat, dia mulai tertawa kecil.

“Jawab aku!”

“Oh, ———, kau ini...”

[Apa?! Tadi dia memanggilku, kan?]

“Tentu saja kau tahu alasannya—”

“Tunggu dulu!” tahanku dengan panik, aku butuh mendengar lagi apa yang baru dikatakannya. “Apa panggilmu padaku tadi?!”

“Maaf?”

“Apa panggilanmu padaku tadi?! Kau tahu siapa kita, kan?!”

“Apa kau tidak mendengarku tadi?”

“Tidak, makanya katakan lagi!”

“Baiklah... kau yang minta,” dia menghela nafas, menjeda sesaat sebelum membuka milutnya dan memenuhi permintaanku.

飼^・ラコu鋻・{ッ{・ラコu鋻・{ッ{・ラコu鋻・{ョタャ]飼V・ョ:・頷p桄=ヤ{ゥ鵄マア¬・ム瞠・テョD}}ラァノx~・b搜゙コp.ケ・ケ・]:尖"リ{。鵁ニz腮ユ稲・=譓Nケ鋻8:・スt・r゙コク}rタッス・タァSマテ#レqp゚・Wァu・ッスミuOィヌok・錝+寺ヤ・]ァ來ハ%au津Mク邇=キ"xゥq-イケ;}ヌヤUキ¬・U3Uモd膝「oPキミ_・pハXW・{濠ナ"ワFwヨPリ・・hム・・ョテn馗ネ:・M|aU}VV尞ァトy%6X・・・dネYクm7緒茶懈サリaレH・ハNl'レ逮MIh泗%5{ム褪lカシwケッ-・#MI杭ケ判s-sサ名・蒿~ァd6コ屹羶ヌヒ・ユ*CEg‑8俾%#{キッ揵全Aッ埖%ホ'^゚jサメセアS孅ニケ檮ヨィ・w・リラ:オレ};ィケ孛~潴-猤(イb瞻fHH­7サマァ・Wミsd・煆ラIサ-・・мク窗[セ・@{Cワ]‑找マⅰ・daオフ變ョチテケヌノ琦j・トLッ・n窈Nレ・トV・ヌ:゚Aュ皇睆・フレ'テ・ノ]F棈ヒ・$lvL携聒Zcw"ュヨ=コカコFヒr・。゙狹ヒソu篩ワw邀gBナカ觀濆珸‑C・?緬v=w7­{・≒乗オ沮ェd$HCr駻ム・@リユツ齬ー・ヒ(}オ1・4キロソS:­o<[aオヨ・lタマモj・ゥョッun‑ォL噬キ肬゚ォンG'!・アF橾リサン・メ・ロ~・・~ヨリマC~:レ將・ン・シoソ驃・Fウ「d・・・ラm蓖悔7キ悅モゥッ・カWUU・€・=・[ケマ゚サウfマ讚Rキヲ1・{}V脩ロ眩寘Q務:1>僖リッ吩ー謹A;・・W1*5メミ偰矣+ョヒ咩モ:ヮF-・エ・Pw贏}c"・Z゚絜・ナケタオ・モ#ト煆9Y裔ョ、_f・2x{エ・黛?ツ^ニ啄p;gシャ・后l・ハセWJ齷fア旧・-内ヌ9ョRsP灯Vテwコス・*q<カN囗荿裂セュU・ナク8rンQケ1鮨F8キ・・ワィラΝcサメ縻・p・Xヨマ゙・キク‑アX犱9}b~勢銘槹ユ・ミX扛孫ソ讖ムキ・・8マIOキS?­ケ>=nvCm!ト鱚燁^゚sy7.・ョニ・wiセハ・1ヌキ$~紲誘M鎌ー喉苫・オィク与珸7y・・%^・チk€ヤ慢|テZ・・N125ヒX濺D、G"ソ瓷ッ韻*i;cq$ク榘wヌ1・ヲヌi釚|ラリ擯#ンネ'・ラk・Ysioムq・&・レV、DO`貭'.Xトdw・トワノ・゙糯ヌイア」・羌、・e/コヒ5}・・ウ賦N=カケチチ縟・ニ・~{?3・贊f∪゚4ゥY・D置;モソF1H・弃ニ願!ョvム?サ2ヤ椨扞etム]^、オョy.・フ・ラロ鐺」モスト4ーF・匁クlキ=dYMヌ"ハocn-・エ{~畷ラロケサ]琦ロュjムヌ‑‑レ・>ッ便悊・マfEフヒカニcケホv€.イタヘュンk:与ツ+{N・゙・?ケケ・・、zフ悅モリロaェキ豫偸ッィ・・g鑪Z蓉Fⅵ)ゥc@・P['・゚ヤーロA^MIリ$gサ毯;ア-m婚{}ホ・動麝ン譓73ァサィf;$?m[メ`66舜ェ醫ラュχwU`オュqリ貉ュp&77f棏>ワvzイlcス・tテス・;杏Phアハ乘オqコ~5リハw鍛ヌネ€??Owサカ域ロ`;e・・?ォワネヤiネ意P惷ケ孩・¦栄フソホM2'RS・猊ミナ・ーHqGcPス'シヒX+d~t9゚楢ォオ瘋アョt1㏍・7u・ュx・・$ケモ・セケ,芯dy>*詫ふ・.V覡LネナuN轌s]澀カV;霄サM$Kワムイ5剔!チ・・o・ユ・)赤Jセヤuアヨオ€ケ邁[ス­」mスッカ擒oiラkホr'L骰。サ・ヌ}'゚Zオ阮腟ニK∂?ITマヘヒ・-五チヒ・)oロ・ⅰオ・`クンoム@サヨ・Z倞>Kヲf%.n埇#A<・鰀4端lキ=dYMヌ"ハocn-・エ{~畷ラロケサ]琦ロュjムヌ‑‑レ・>ッ便蒿~ァd6コ屹羶ヌヒ・ユ*CEg‑8俾%#{キッ揵全Aッ埖%ホ

“AGH!”

Aku merasakan seakan sesuatu baru saja menusuk kepalaku. Sebuah suara kencang mendadak menaklukkan pendengaranku. Tidak seperti sebelumnya, jika aku mendengar namaku dipanggil dalam mimpi, biasanya aku tidak mendengar apa-apa. Namun kali ini, aku mendengar suara yang memekakkan telinga. Suaranya begitu melengking, seperti sebuah dengungan raksasa. Aku sampai harus menutup telingaku dan meringkuk hingga aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke atas lantai. Namun tidak begitu membantu karena suaranya datang dari dalam kepalaku sendiri.

[Apa panggilnya padaku tadi?!]

Bahkan sambil menderita, aku mencoba mendengarkan jikalau aku bisa mengenali namaku di tengah kebisingan ini. Namun percuma. Bahkan setelah dengungannya memudar, gemanya masih terdengar dalam kepalaku. Butuh beberapa saat dan banyak helaan nafas hingga akhirnya aku bisa menguasai pendengaranku lagi.

“Apa-apaan itu tadi?!” jeritku penuh amarah. Namun ketika aku akan mengangkat kepalaku lagi, aku menemukan ekspresi wajahnya sudah berubah, dari baik namun dingin menjadi wajah kejam penuh kefrustrasian.

*KLIK*

“Dengarkan aku, bangsat,” dia menjentikkan jari kanannya di depan wajahku dan mulai bicara dengan nada yang sangat dingin dan menakutkan, membuatku enggan untuk memotong, “jangan banyak tanya lagi. Kau sempat memikirkannya tadi; kau ingin berhenti, kau ingin menyerah.”

“...” tidak ingin menyela. Perlahan aku bangkit dan memaksa diriku berdiri. Aku tidak suka ditatap rendah. Bahkan oleh diriku sendiri.

“Kau tidak boleh menyerah, paham? Kau harus ingat, ingat dengan janjimu!”

“Janji apa?”

“Aku tidak bisa memberitahukannya, sama seperti kenapa aku tidak bisa memberitahumu siapa dirimu,” saat masih mencoba berdiri, tiba-tiba dia menarik kerah jaketku dan membantuku berdiri. Semestinya dia bukanlah apa-apa kecuali imajinasiku, tapi dia bisa mempengaruhi gerakan fisikku. “Semua itu adalah hal yang harus kau cari tahu sendiri.”

“Tapi aku harus bagaimana? Aku bahkan tidak tahu ke mana aku harus pergi.”

“...” dengan pasif dia mengalihkan pandangannya dariku, menghindari kontak mata, membuatku merasa tidak nyaman.

“Hey, katakan sesuatu!”

“Aku tidak akan diam kalau aku tahu—”

*PIP-PIP-PIP*

Tiba-tiba, sebuah bunyi nada dering menarik perhatian kami. Kami mengalihkan pandangan masing-masing ke arah sumber suara; tubuh Darius yang sudah tidak bernyawa.

“Wow, praktis juga.”

“Huh?” sementara nada deringnya masih berbunyi, aku kembali memandang diriku yang berkomentar demikian.

“Itu petunjukmu,” ujarnya seraya menunjuk ke arah tubuh Darius sebelum dia berbalik dan meninggalkanku menuju tempat dia datang. “Tugasku di sini sudah selesai.”

“Tunggu dulu, aku masih punya pertanyaan untukmu!” aku mencoba untuk menghentikannya, tapi dia sudah terlalu jauh untuk dicapai dalam satu langkah. Aku bahkan masih tidak tahu apa aku bisa menangkapnya. “Bagaimana dengan darah di tanganmu?!”

“Oh, ini?” dia berbalik begitu mendengar pertanyaanku, “ini bukan darah kita.”

“Tunggu—”

Aku ingin menangkapnya dengan berjalan dua langkah mencoba mendekatinya sebelum dia tiba-tiba menghilang di bawah bayangan bangunan.

[Sial.]

Aku mencoba mencarinya, tapi aku hanya bisa memastikan kalau dia sudah menghilang sepenuhnya.

Karena sekarang aku yakin tidak bisa menemukan diriku yang lain itu, aku segera mendekati tubuh Darius dan memeriksa sakunya. Aku menemukan sebuah ponsel lipat di saku celananya, nyaris serupa dengan ponsel yang kutemukan pada Odi beberapa waktu lalu.

Ponsel itu bergetar tiap kali berdering. Aku merasa gugup, namun aku segera membukanya dan melihat layarnya. Di sana, tampak sederetan angka yang tidak wajar untuk sebuah nomor telepon di bawah sebuah nama.

[Supervisor.]

Aku menghela nafas, mencoba menenangkan diri, sebelum akhirnya aku menekan tombol hijau untuk menerima panggilan dan menghentikan nada dering dan getarannya. Perlahan dan dengan sedikit gemetaran, aku dekatkan ponselnya ke sebelah kanan wajahku.

“...”

Untuk sesaat, aku tidak bisa mendengar suara, sepertinya siapa pun yang berada di ujung telepon tidak akan mulai bicara kecuali aku memberi kepastian tentang diriku. Maka setelah beberapa saat penuh kensunyian, aku memutuskan untuk memulai pembicaraan.

“Halo?”

...” masih tidak ada jawaban. Aku sempat menunggu beberapa saat. Bahkan sempat memeriksa layarnya kalau-kalau Supervisor memutuskan panggilannya, tapi kami masih terhubung. Merasa frustrasi, aku memilih untuk mencoba mengatakan sesuatu lagi. “Kau rupanya...

“...” sebelum aku bisa mengatakan sesuatu, tiba-tiba sebuah suara merespon. Dan mendengar jawabannya, aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Six (enam), apa itu benar kau?

[‘Six’?]

Boleh aku tahu di mana Darius?

“Darius? Dia sedang tidak bisa menjawab.”

Oh, ah-hah-hah... kau benar-benar sesuatu.

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

Tentu saja aku sedang membicarakanmu, Six.

“Six? Apa itu namaku?”

Oh, bukan. Aku hanya suka memanggilmu demikian.

[Kurang ajar...]

Ternyata Supervisor memang mengenalku. Dan dari caranya mempermainkanku, aku sudah mulai tidak menyukainya.

“Apa yang kau inginkan dariku?” lanjutku dengan nada frustrasi.

Tenang, aku hanya ingin mengantarmu kembali.

“Ke mana? Einhorn?”

Tepat, kami sudah merindukanmu di sini.

“Kenapa kau pikir aku mau?”

Karena aku punya apa yang kau inginkan; aku punya identitasmu, aku punya masa lalumu, dan aku tahu apa yang sudah terjadi padamu.

“Kau tidak bisa membeliku semurah itu.”

Yakin? Jadi jawaban satu-satunya ini murah untukmu?

“...” dia benar-benar tahu cara mempermainkanku. Dia tahu aku tidak bisa mendapat jawaban lewat jalan lain. Aku tidak suka, tapi aku harus menerima tawarannya. “Baik, lalu aku harus bagaimana?”

Temui aku, aku akan menunggumu di Istanbul.

“Istanbul? Tempatnya terlalu jauh dari sini.”

Naik pesawat.

“Aku tidak punya passport!”

Fuh,” dia menghela nafas dengan nada sinis, “Kami sudah mengurusnya, periksa mobil Odi atau mobil Darius, kami sudah menyiapkan dokumen dan uang tunai kalau-kalau mereka harus mengangkutmu dengan transportasi umum.

Entah dia cerdas atau tolol, dia baru saja memberikanku jalan keluar.

Oh, ngomong-ngomong, jangan coba-coba keluar jalur. Jika kau menggunakan passport itu, kami bisa memantau perjalanan luar negerimu—

“JANGAN BERGERAK!!”

Tiba-tiba teriakan keras menarik perhatianku, aku terlalu sibuk bicara dengan Supervisor hingga aku tidak menyadari kedatangan seorang petugas polisi bersenjata.

Six?

“Aku akan menemuimu besok,” setidaknya aku sudah sedikit beristirahat, kondisiku sudah membaik, dan aku sudah punya motivasi, sudah saatnya aku kembali beraksi. “Aku harus kabur dulu sekarang.”

Kalau begitu, sampai ketemu besok, ALLBL—

“JATUHKAN PONSELMU!”

Polisi itu memberikan perintah. Aku harus segera memutuskan panggilan dan memindahkan ponselnya dari telingaku. Aku angkat kedua tanganku untuk menunjukkan kalau aku tidak akan melawan dan perlahan menurunkan kedua tanganku ke permukaan lantai.

Aku tidak ingin menyerah. Aku menurunkan tangan karena aku tidak bisa melihat ke lantai sambil berdiri. Dengan menurunkan tangan, aku bisa melihat ke lantai tanpa tampak mencurigakan. Dan berkatnya, aku berhasil menemukan benda yang kubutuhkan; pistol yang sempat kulempar tadi.

Lawanku hanyalah seorang polisi. Aku bisa dengan mudah mengalahkannya, tapi teriakannya tadi juga pasti sudah memperingatkan orang lain. Aku juga yakin lantai-lantai di bawah pasti sudah dijaga, aku tidak bisa membuang waktu di sini, karena itulah aku berencana untuk melarikan diri. Tapi aku butuh pistol itu.

Melihat tanganku turun, polisi itu mulai mendekatiku dan menurunkan senjatanya. Itulah kesempatan yang kubutuhkan. Tanpa perlu mengambil nafas, aku mulai menolak diriku maju. Meski sebagian tubuhku masih mati rasa, tapi tidak cukup untuk menghentikanku.

Polisi itu terkejut dengan gerakanku yang tiba-tiba. Namun reaksinya sangat lambat. Aku punya banyak kesempatan untuk menjatuhkannya. Namun aku memilih untuk fokus berlari dan mengambil pistolku.

Tidak butuh banyak upaya untuk mengambil senjataku. Aku bahkan tidak butuh melambat. Begitu aku mendapatkan pistolku, aku terus berlari menuju sebuah celah pintu di dinding sambil menaruh pistol dan ponselku ke dalam saku jaketku.

Aku mungkin sudah melarikan diri dari ruangan tadi, tapi aku belum melarikan diri dari bahaya. Mengingat lantai bawah pasti dijaga dan polisi yang berteriak meminta bantuan setelah aku berlari menjadi buktinya, berarti aku tidak bisa melarikan diri dengan menuruni bangunan; rencanaku adalah naik ke atas.

Dengan tergesa-gesa aku berlari ke arah tangga dan memanjatnya. Begitu aku sampai di lantai atas, aku menendang tangganya hingga jatuh untuk memberiku waktu dan lanjut berlari dan memanjat tangga-tangga lain hingga aku sampai di puncak.

Di sini ada sebuah crane yang mereka gunakan untuk memindahkan material bangunan, sebuah pallet masih menggantung di ujungnya, lengkap dengan muatan berupa sak-sak semen. Itulah jalan keluarku.

Ada banyak tumpukan batu bata di penjuru bangunan ini, termasuk di lantai puncak ini. Tapi dari semua tumpukan itu, aku hanya butuh satu. Aku pungut satu bata merah berat dan masuk ke kabin crane. Ada banyak tombol dan tuas di sini, namun tidak butuh lama sampai aku tahu tombol dan tuas yang mana yang kubutuhkan untuk menurunkan pallet dan mengendalikan putaran crane.

Setelah menurunkan pallet ke ketinggian tiga setengah lantai, aku gunakan bata yang kubawa untuk menahan tuas yang berguna mengendalikan putaran crane sehingga cranenya tetap berputar searah jarum jam. Putarannya tidaklah cepat, namun aku kira cukup.

Aku keluar dari kabin dan menyebrangi lengan crane hingga sampai ujungnya. Tidak seperti sebelumnya saat cranenya masih diam, kali ini menyebranginya sedikit lebih sulit akibat angin dan vertigo yang kurasakan.

Sekarang aku sampai di tahap tersulit; aku harus memanjat turun kabelnya hingga aku sampai di atas pallet. Bukan gesekan dengan kabel crane yang membuat memanjat turun sulit, tapi putaran crane yang membuat kabel ini ikut terayun. Bergelantungan di kabel ini membuatku merasa seperti orang rimba, kecuali aku tidak bisa mendarat di dahan pohon.

Saat aku sedang memanjat turun, para polisi di bangunan tadi menembakiku dari berbagai lantai. Tidak ada tembakan mereka yang mengenaiku. Menembak dari jarak sejauh itu memang sulit, apalagi crane ini sedang berputar.

Akhirnya aku sampai di atas pallet, di sana aku tinggal menunggu hingga crane ini berputar ke sisi yang kuinginkan. Aku sedikit berharap crane ini bisa bergerak lebih cepat. Bukan karena supaya aku tidak perlu mencemaskan tembakan-tembakan dari para polisi, tapi karena aku mungkin butuh ancang-ancang lebih besar untuk melontarkan diriku dari crane ini.

*BLAM*

Saat aku sedang mendekat ke arah bangunan setinggi tiga lantai di samping situs konstruksi, aku tembakkan pistolku ke arah kabel yang menggantungkan pallet ini. Kabelnya sangat tebal, bahkan tanganku nyaris tidak bisa mengenggam semuanya. Karena itulah aku perlu melemahkannya. Tembakan pertamaku memutuskan separuh kabelnya. Namun masih cukup untuk menahan berat pallet dan barang-barang di atasnya.

*BLAM*

Perlahan tapi pasti, crane ini sampai di sudut yang kubutuhkan. Aku lepaskan tembakan lagi, merobek sisa kabelnya. Tanpa tempat menggantung, pallet ini mulai terjun bebas, namun dengan cukup laju untuk mencapai atap bangunan tetangganya. Tapi aku masih punya masalah; jatuh dari ketinggian ini dengan kecepatan ini akan mengakibatkan luka serius.

Di sinilah sak-sak semen membantuku. Saat aku jatuh, aku menutup mataku dan berbaring di atas tumpukan sak semen. Tumpukan semen bubuk bukanlah tumpukan bantal. Jadi pendaratanku pasti keras, tapi cukup untuk meredam jatuhku.

*BRAK*

Pallet yang menjadi alas jatuhku hancur ketika aku mendarat. Diikuti dengan robeknya tumpukan sak-sak semen. Aku mendarat keras di atas sak-sak semen itu. Bubuk-bubuk semen bertebaran di udara, membuatku sulit bernafas dan melihat. Namun tidak menghentikanku untuk berdiri dan menemukan pintu yang menghubungkan atap bangunan ini dengan lantai di bawahnya.

Dari sini, pelarianku menjadi mudah, aku merasa seperti aku sudah berhasil melarikan diri.

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc