25 Juni 2010

ト'P<k酩ャ^k}#PュスE椏ュ

メ∋.口$

“Apa kau tahu apa itu ‘rusuk Hawa’?”

[Huh?]

Di tengah istirahat, sebuah pertanyaan membangunkanku. Hanya butuh sesaat untuk menyadari bahwa aku sudah kembali ke ruangan itu dan bahwa aku sudah terduduk di atas kursi berputar yang sama, di belakang meja yang sama, di seberang sosok hitam Graille Einhorn. Namun tidak seperti sebelumnya, kini Einhorn sedang duduk bersamaku.

Maaf, apa pertanyaan Anda tadi?” suara milikku yang terdengar lebih ringan menjawab. Sama saja seperti sebelumnya, meski aku bisa melihat lewat mataku sendiri, aku bukanlah orang yang berkuasa untuk berinteraksi.

“Sudah agak lama sejak kita bertemu, aku rasa kita bisa sedikit berbincang-bincang,” ujarnya sambil memutar kursinya melawan arah jarum jam, “apa kau tahu apa itu ‘rusuk Hawa’?”

Maaf, saya masih kurang paham dengan pertanyaan Anda.

“Tidak apa, biar kujelaskan,” dia menjeda lalu beranjak dari kursinya dan mengancingkan kancing atas jaket setelannya. “Dalam kisah Genesis—yang lebih dikenal dengan penciptaan manusia—dinyatakan bahwa manusia pertama diciptakan dari segumpal tanah.”

Entah kenapa, namun dia seringkali berkeliling ruangan saat dia bicara. Aku yakin karena itu membuatnya merasa lebih tidak tegang.

“Selama beberapa saat, manusia pertama yang dinamai Adam hidup seorang diri di Taman Firdaus. Namun dia mulai kesepian. Maka ia pun meminta penciptanya untuk membuatkannya seorang pasangan. Namun pasangannya itu tidak diciptakan lewat cara yang sama seperti dirinya. Pasangannya itu diciptakan lewat bagian dirinya—tepatnya dari rusuknya. Dari situlah manusia kedua diciptakan dan dinamai Hawa.”

Begitu sampai di inti pembicaraannya, dia berputar dan kembali ke kursinya namun dia tidak duduk; dia masih berdiri di belakang kursi sambil menyandarkan sikunya ke atas leher kursi sambil sedikit membungkuk. Dia pun lalu menatapku hingga aku merasa tidak nyaman, begitu menyadarinya, dia kembali berdiri dan sedikit tertawa.

Saya masih belum paham.

“Tidak apa,” hiburnya, “alasan aku menceritakan kisah tadi adalah karena aku sedikit penasaran dengan tubuhmu.”

Tubuh saya?

“Ya, kau dan Adam memiliki satu kesamaan,” lanjutnya, “meski tidak dijelaskan rusuk mana yang dipakai untuk menciptakan Hawa, namun kau terlahir dengan set rusuk yang ganjil; bagian bawah rusuk kananmu tampak lebih pendek dari yang lain.”

Begitu mendengarkan penjelasannya, aku teringat kalau aku sudah menyadari aku memang memiliki keanehan itu saat aku berganti pakaian di apartment Vicky. Merasa penasaran, aku menggulung kaosku ke atas untuk memeriksanya. Dan mengejutkannya, tulang rusukku memang tampak sesuai dengan deskripsinya.

Postur tubuhku yang kurus membuatku mudah untuk menyadari kalau bagian bawah rusuk kiriku tampak menonjol sementara bagian bawah rusuk kananku hanya rata. Aku mulai memahami maksud pertanyaannya dan pertanyaannya itu membuatku sedikit merinding.

Uh, kalau boleh saya tahu, apa maksud Anda?

Untungnya, diriku yang lain juga penasaran dengan hal yang sama dan menjawab sesuai keinginanku.

“Oh, tidak perlu cemas,” jawabnya menghibur, “aku tidak bermaksud ingin mengatakan kalau kau adalah keturunan langsung Adam. Setidaknya ada satu dari sejuta laki-laki yang tidak memiliki rusuk Hawa sepertimu.”

“...” diriku yang lain menghela nafas tanpa mengatakan apapun. Meski demikian, arah pembicaraannya memang menarik perhatianku.

“Lagipula, aku adalah orang yang percaya pada ilmu pengetahuan,” lanjutnya, “ada lebih banyak bukti untuk Evolusi daripada bukti untuk Genesis.”

Evolusi, ya...” suaraku yang lain berkomentar, “Saya belum pernah memikirkannya, namun saya kira saya tidak terlalu suka dengan sebuah teori yang menyamakan manusia dengan kera.

“Oh, tidak, kau salah melihatnya.”

Maaf?

“Orang seringkali salah menanggapi teori Evolusi, banyak orang berpikir kalau kita berevolusi dari kera, namun teori Evolusi sebenarnya menyatakan kalau kita berevolusi dari ancestor yang sama dan kita berevolusi berdampingan secara parallel dengan kera.”

Jadi, ahh, maksud Anda adalah... manusia dan kera itu seperti... saudara-sepupu?

“Benar, itulah interpretasi yang lebih tepat.”

Namun jika demikian, selain seragam secara biologi, apa yang membedakan kita dari kera?

“...” dia menjeda, mencari jawaban dan menyusunnya menjadi kata, “menurutku ada satu hal.”

Yaitu?

“Kesadaran kita akan konsep evolusi.”

...huh

Jika dipikir-pikir, jawabannya memang ada benarnya. Manusia dan kera memang tidak jauh berbeda, kita sama-sama menghargai kehidupan, dan dengan itu kita menciptakan kesatuan, membangun peradaban atas pandangan yang sama. Namun manusia adalah mahluk yang berpikir lebih jauh, memimpin dengan kesadarannya akan teori-teori eksistensi.

“Aku tahu kau pasti berpikir kita adalah spesies yang lebih superior dari kera, namun di sisi yang sama kita juga inferior dari mereka.”

Maksud Anda?

“Tanpa kesadaran kita dan hanya dengan insting dasar untuk bertahan hidup, kita akan sama derajatnya dengan kera. Keseimbangan antar kera memang primitif, aku akui, namun juga lebih baik. Mereka hanya bertahan hidup untuk mempertahankan keberadaan mereka secara kolektif dan tidak mencoba memahami alasannya, entah kenapa, namun bagiku itu membuat mereka bisa lebih menghargai kehidupan dan lebih bisa menyambut kematian daripada takut akan kematian.”

Apa Anda ingin bilang kalau Anda lebih ingin hidup sebagai kera daripada sebagai manusia?

“Hah? Tentu saja tidak,” jawabnya tegas sambil masih bersikap ramah.

Maaf kalau begitu.

“Tidak apa, pendapatmu tidak salah, namun yang ingin kukatakan adalah bahwa kita, manusia, adalah bentuk kehidupan organik yang terlalu sadar dengan keberadaan kita sendiri. Saat kita sampai di titik di mana kita mulai mempertanyakan asal mula dan akhir kita nanti, itulah saat di mana kita seharusnya berhenti berevolusi.”

...” aku terlalu terbawa suasana diskusi ini sampai aku tidak tahu harus berkata apa. “Perkataan Anda tadi, sangat dalam.

“...” komentarku tadi membuat Einhorn kehilangan kata-kata, tidak butuh waktu lama sampai dia menghela nafas lalu mendekati kursinya lagi setelah berjalan jauh dari ruangan. “Ah, kau benar. Maaf, aku sedikit terbawa suasana. Pembicaraan kita memang terlalu dalam untuk ukuran bincang-bincang kecil.”

Meski demikian dibandingkan dengan pembicaraan yang saya alami belakangan ini, menurut saya inilah yang paling saya nikmati.

“Sudahlah, mari kita langsung ke inti masalah,” ujarnya sambil melepas kancing atas jaket setelannya. “Bagaimana kabarmu?”

Ah, saya jadi lupa.

“...” dia lalu diam sejenak sembari menenangkan diri di atas kursinya sementara aku menunggunya, “Baik, enam bulan pertama, bagaimana kemajuanmu?”

Dibandingkan dengan terakhir kali, saya jadi semakin mahir mengendalikannya.

“Bagus, 'lah.”

Saya sudah semakin jarang kehilangan kendali, tapi saya akan terus berlatih.

“Aku senang mendengarnya, tapi...” dia menjeda.

Ya?

“Aku ingin agar kau memperbaiki diri.”

Tentu, saya pasti akan berusaha.

“Tidak, bukan itu maksudku.”

Huh?

“Tebakanku, sejauh ini kau memfokuskan diri ke arah ‘penciptaan,’ 'kan?”

Uhh, ya.

“Aku ingin kau mengubah caramu, jangan fokus pada kendali, aku ingin kau coba pertahankan manipulasi.”

Manipulasi? Sepertinya aku memang belum pernah mencobanya.

“Memahami teknik manipulasi adalah syarat untuk maju ke fase berikutnya, maka dari itu aku ingin kau segera mempelajarinya.”

Baik, akan saya pelajari secepat mungkin.

“Bagus. Aku senang bisa kembali menemuimu, tapi sayangnya aku sudah ditunggu di tempat lain” ujarnya setelah berdiri dan sambil mengancingkan kancing atas jaket setelannya, aku sendiri juga ikut berdiri begitu aku menyadari kalau Doktor Einhorn akan segera pergi. “Kita akan bertemu lagi dalam dua bulan.”

Tentu, Pak.

“Aku menaruh harapan besar padamu...”

Lucu, begitu dia menyelesaikan kalimatnya, suaranya mulai memudar bersamaan dengan meja dan kursi yang juga mulai menghilang. Ingatanku berhenti di sini, namun aku masih belum bisa meninggalkan tempat ini, aku masih terjebak.

Karena kursiku sudah menghilang dan karena ruangan ini tidak memiliki batas, aku memilih untuk duduk di atas permukaan tanah yang tidak memiliki wujud. Aku kira aku akan menunggu di sini, namun sempat terpikir apa akan terjadi jika aku tidur di sini? Apa aku akan jatuh ke dalam mimpi lain atau apa?

Duduk sendirian untuk waktu yang lama tanpa ada selingan sangatlah membosankan, karena itu aku memilih untuk berbaring dan menyilangkan kedua tanganku di belakang kepala sebagai bantalnya. Mimpi ini pasti akan berakhir cepat atau lambat, karena itulah aku memilih untuk menunggu.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang terjadi, namun tiba-tiba ruangan ini mulai berputar. Langit-langit putihnya mulai berotasi melewati kepalaku sementara dasarnya yang berwarna hitam juga ikut berputar melewati kakiku, seperti siang berganti ke malam.

“———?”

[Huh?]

Aku mendengar namaku dipanggil, suara itu lagi; suara tenang milik sang sosok putih.

Dengan panik aku beranjak dan berbalik tanpa menemukan apapun, namun bukannya menemukannya, aku malah mulai menemukan bintik-bintik kecil di langit hitam.

[Bintang?]

Aku bertanya pada diriku sendiri, bukan untuk mencari jawaban, namun untuk memastikan. Langit yang hitam kini telah dihiasi oleh bintang-bintang, bahkan ada bulan sabit di sana; pemandangan yang sangat indah dan sangat nyata.

“———? Apa kau di sana?”

Sekarang aku bisa yakin, suara itu datang dari balik badanku. Tiap kali dia muncul, dia selalu mengejutkanku, namun kali ini, aku sudah siap.

Dengan cepat aku berbalik, membuat sebuah putaran 180 derajat sempurna. Dan sesuai dugaanku, aku menemukan sosok putih itu berdiri di sana, mengawasiku dengan berhati-hati. Penampilannya tidak jauh berbeda dengan kali terakhir aku melihatnya, namun tidak seperti waktu itu, kali ini dia mengenakan tank-top di bawah sweater turtleneck yang tidak disleting.

Oh, kau rupanya.

“Sedang apa kau mengendap-endap keluar tengah malam begini?! Kalau ada yang tahu, kita bisa—”

Tapi kau tidak akan bilang pada siapa-siapa, 'kan? Lagipula kenapa kau mengikutiku kalau kau tahu itu?

“Tentu saja aku harus mengikutimu, aku tidak mau ambil resiko membangunkan orang lain kalau aku teriak memanggilmu,” jawabnya dengan nada yang sedikit menyebalkan, “aku akan bilang pada orang lain atau tidaknya tergantung pada apa yang sedang kau lakukan di sini.”

Terserah padamu, pokoknya jangan ganggu mereka.

“Mereka?”

Shh...

“Menggangu siapa? Siapa ‘Mereka’?”

Aku bilang jangan berisik, nanti kau akan tahu. Pokoknya diam dan jangan banyak bicara.

“...”

Dia menuruti perintahku dan hanya fokus pada keadaan. Angin malam yang dingin memaksanya menutup tubuhnya dalam balutan sweater miliknya dengan lebih erat.

Kalau kau kedinginan, kembali saja ke rumah.

“Aku tidak akan kembali sebelum tahu apa yang sedang kau lakukan. Lagipula apa yang kau tunggu—”

Mereka datang!

Tiba-tiba mahluk-mahluk berkelap-kelip dan berpendaran kecil yang berterbangan muncul dari segala arah. Jumlahnya terus bertambah, hingga cukup untuk mengelilingi kami, namun tidak akan pernah cukup untuk menyakiti kami.

Indah, bukan? Mereka selalu bermigrasi lewat sini di bulan-bulan ini.

“Waah...”

Dia tercengang dalam kekaguman, begitu terpaku dengan pemandangan hingga ia tidak menghiraukan penjelasanku. Tidak lama kemudian ia mulai tertawa-tawa dengan polosnya dan mengangkat kedua tangannya di dekat wajahnya, menikmati kelap-kelip permainan cahaya yang dimainkan ratusan kunang-kunang di sekeliling kami. Pemandangan ini memang sangat indah, sampai membuatnya menunjukkan sisi aslinya di balik nada bicaranya yang seringkali terdengar keras.

Kau belum pernah melihat pemandangan seperti ini, 'ya?

“...” dia lalu berhenti tertawa dan mencoba menyembunyikan kegembiraannya, namun lalu tanpa memberi peringatan, dia meninju pundak kananku dengan cepat. “Diam, biarkan aku menikmati ini sesaat.”

Sigh,” aku menghela nafas.

Untuk beberapa saat, aku menontonnya berputar-putar di bawah langit berbintang, di antara kunang-kunang, hingga akhirnya dia lelah. Meski tampak dia nyaris kehabisan nafas bermain di antara kunang-kunang, aku bisa melihat kalau dia kesulitan menyembunyikan kepuasannya, dia juga tidak kuasa membendung tawa polosnya di balik senyumnya yang tipis.

Meski dia sudah tidak bisa lanjur bermain, para kunang-kunang masih berkeliaran di udara. Dia memilih untuk menikmati sisa pertunjukan dengan terduduk, perlahan dia berhenti tertawa dan fokus menyesuaikan nafasnya. Setelah dia menenang, aku mulai bisa menikmati pemandangan ini, namun harus kuakui ada yang hilang tanpa suaranya.

Tapi aku masih ingin tahu, kenapa kau mengikutiku?

“Entahlah, aku cuma mendengar sesuatu dari luar rumah dan melihatmu.”

Lalu?

“Aku juga tidak tahu, mungkin aku cemas.”

Tapi akhirnya, kau senang bisa menemukanku, kan?

“Haha,” tawanya pelan, “lain kali, kau yang akan menemukanku.”

Jangan terlalu yakin, tidak ada yang tidak aku ketahui tentang tempat ini.

“...” dia tidak menjawab, kami pun lalu dengan diam menikmati pemandangan hingga akhirnya para kunang-kunang perlahan mulai menghilang.

Sepertinya sudah selesai,” komentarku begitu kunang-kunang terakhir menghilang.

“Yeah, bisa kita pulang sekarang?” ujarnya sambil mengangkat kedua tangannya ke arahku.

Tentu.

Tanpa sadar, aku mendekatinya dan menarik kedua tangannya untuk membantunya berdiri. Lucu, meski dia hanya sosok yang tidak nyata, kedua tangannya terasa sangat nyata. Tangannya yang lebih kecil dan lebih lembut dariku lalu menarik badannya untuk berdiri, dia hanya butuh tanganku untuk menahan bobot tubuhnya.

“Terima kasih sudah menunjukkan ini,” lanjutnya dengan senyum lebar, kini nada bicaranya yang agak menyebalkan itu sudah nyaris tidak terdengar. “Ayo, kita harus segera—”

[Huh?]

Tiba-tiba sosoknya tenggelam di hadapanku, tidak hingga dia jatuh ke dasar putih yang jauh di bawahku, namun hanya hingga kepalanya berada di bawah kakiku.

Ada yang aneh, dia mengangkat tangannya, perlahan sosoknya mulai berubah; rambutnya yang sepanjang punggung mulai memendek, sweater yang dikenakannya juga berubah menjadi kemeja, dan perlahan sosoknya yang berwarna putih mulai berubah warna.

Dia bukanlah satu-satunya hal yang berubah di sini, langit malam berubah menjadi langit biru, dan pemandangan bumi mulai membentuk di sekitarku. Tidak butuh waktu lama hingga aku menyadari kalau aku sudah terlempar ke sebuah kenangan yang tidak ingin kuingat.

Begitu pemandangannya terbentuk, benda-benda mati mulai bermunculan menghiasi sekitar. Sekarang aku sedang berdiri di atas sebuah kontainer merah yang tergantung di atas jurang, aku ingat pemandangan ini, ini dalah saat di mana aku kehilangan Vicky.

[Ini cuma mimpi!]

Itulah yang terus kukatakan pada diriku sendiri dan mencoba mengambil alih kendali mimpi daripada mencoba menyelamatkannya, karena aku tahu percuma. Aku sempat melihat senyumannya yang dia tunjukkan padaku sebelum dia terjatuh. Namun bukannya jatuh, adegan ini mulai bergerak mundur, bukan hanya di kecepatan normal, namun kecepatan di atas normal.

Dalam hitungan detik, aku mengalami ulang tiap peristiwa yang kualami di hari itu dengan alur mundur; Pertarunganku di jalan tol beserta kejar-kejarannya, saat aku dan Vicky melompat dari overpass, kejar-kejaran mobil di kota, saat kami kabur dari apartment Vicky, saat aku menyerahkan diriku dan dicurangi, saat aku menunggu sepanjang malam untuk menjaga Vicky, saat aku dan Vicky bertengkar, saat aku jalan-jalan di sekitar apartment Vicky dan mengetahui kalau kami dibuntuti, saat-saat yang kuhabiskan di apartmentnya. Memoriku berhenti ketika aku sampai di saat aku sedang mengalami salah satu mimpi paling menakutkan yang pernah kualami; saat aku sedang melawan segerombolan prajurit dalam koridor putih.

Memoriku berhenti berputar balik ketika aku sampai di titik di mana aku nyaris ditembaki, tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghentikannya. Mimpiku tiba-tiba kembali berlanjut, peluru-peluru yang sempat terhenti di udara perlahan mulai kembali melaju hingga akhirnya mereka kembali ke kecepatan sejatinya.

Saat segalanya masih mengambil ancang-ancang, aku sempat berpikir mungkin aku punya kesempatan menghindar dan mengubah akhir mimpi ini, tapi aku salah. Tubuhku hanya bisa bergerak sesuai dengan kecepatan yang lain, aku masih gagal menghindari dinding peluru itu. Sebelum dinding peluru yang sama mendarat ke tubuhku, aku yang panik pun menutup mata.

“HAH!”

Begitu aku membuka mataku lagi, aku sudah terlempar kembali ke kenyataan.

Segera aku pun teringat kalau aku sedang duduk di atas kursi pesawat sebelah jendela yang kutumpangi untuk pergi ke Istanbul. Sambil masih berkeringat dan terengah-engah, aku juga menyadari kalau para penumpang di kananku sedang tampak cemas.

Pertama-tama aku menenangkan diriku hingga aku bisa mengendalikan nafasku, namun sebelum aku bisa melakukannya, seorang pramugari mendekatiku.

“Apa Anda baik-baik saja?”

Dia lalu menanyakan pertanyaan standar yang harus ditanyakan ketika melihat seseorang tampak seperti terkena serangan jantung. Menanyakannya memang mudah, namun menjawabnya agak sulit. Terutama ketika aku tidak punya penjelasan sederhana tentang kondisiku.

“Ya, maaf,” jawabku bohong sambil masih tampak terengah-engah, yang tentunya membuat jawaban singkatku sulit dipercaya. “Cuma mimpi buruk. Maklum; takut ketinggian.”

Selain memberikan jawaban yang rasional, aku juga mencoba memalsukan senyuman. Namun aku masih terlalu grogi untuk melakukannya. Namun ekspresiku yang setengah-setengah ini membuat kebohonganku bisa lebih dipercaya. Pramugari itu dan para penumpang di sebelahku pun segera merasa lebih tenang.

“Syukurlah kalau begitu, saya juga ingin memberi tahu kalau kita akan mendarat dalam lima belas menit.”

“Terima kasih.”

Setelah dia pergi, aku coba untuk kembali menenangkanku dengan menikmati pemandangan tempat baru yang akan segera menyambutku; Istanbul, sebuah kota yang pernah menjadi titik kumpul pengembara sekitar satu milenia lalu. Aku juga tidak bisa menahan diri untuk memikirkan apa saja yang sudah terjadi antara kemarin dan hari ini.

Begitu aku melarikan diri dari situs konstruksi, aku membuat kesan bahwa aku akan turun lewat pintu atap, di mana sebenarnya aku tidak akan melakukan itu. Begitu masuk ke pintu atap, aku menunggu setidaknya dua menit sebelum kembali ke atap.

Dengan cara ini aku berhasil menipu para polisi hingga membuat mereka berpikir aku akan mengambil rute itu, nyatanya aku menuruni bangunan menggunakan tangga darurat di sisi bangunan lalu berjalan tanpa menarik perhatian lewat gang yang tidak dijaga polisi.

Setelah aku menghindari para polisi, aku ingat bahwa Supervisor menyuruhku untuk memeriksa mobil milik Odi atau Darius karena menurutnya di sanalah mereka menyimpan dokumen travelku, aku pun segera menuruti perintahnya itu.

Dari sana aku menapak ulang jejakku kembali ke tempat di mana Darius dan Odi melumpuhkan mobil hitam yang kukendarai. Namun ketika aku sampai di pertigaan di mana itu terjadi, aku tidak bisa menemukan SUV merah yang dikendarai Darius; tapi mobil konvertibel hitam yang kukendarai masih ada di sana.

Di situlah aku menyadari bagaimana caranya Darius berhasil mengejarku secepat itu setelah pertarungan terakhir kami, dia mengejarku dari bawah menggunakan mobilnya sementara aku dan Odi berlarian di atas atap.

Aku lalu melanjutkan pencarianku dengan kembali menapak ulang langkahku ke arah situs konstruksi, setelah mengelilingi blok pemukiman ini, aku akhirnya menemukan SUV merah itu terparkir sembarangan sekitar tiga blok dari mobil hitam. Sejujurnya, aku tidak menyangka aku sudah berlari sejauh itu.

Karena jalanannya masih agak ramai, aku harus menunggu beberapa saat sebelum mendobrak masuk dan membajaknya untuk memindahkannya ke gang belakang sebuah bangunan beberapa blok dari sana sebelum akhirnya aku mulai mencari. Ada banyak barang di sini. Aku menemukan dua pistol dan dua lusin peluru sebelum akhirnya aku menemukan dokumenku dan sejumlah uang di dalam sebuah koper di bawah bangku belakang.

Untungnya, aku juga menemukan P3K dan beberapa pakaian di sana. Kebetulan inilah yang sedang aku butuhkan, lagipula aku tidak bisa menumpangi pesawat dengan penampilan lusuh. Aku lalu melepas kaosku dan membuka perban yang digunakan Vicky untuk mengobati luka tembakku beberapa hari lalu diikuti dengan membersihkan diriku menggunakan sebuah handuk yang kubasahi dengan air botolan. Dari sana aku memakaikan sedikit obat luka pada luka-lukaku yang lain sebelum aku kembali membalut pundakku dengan perban bersih.

Setelah itu, aku segera menuju ke bandara dan meninggalkan mobil ini beserta segala senjata yang mungkin masih kumiliki, tentunya setelah mengepak beberapa barang ke dalam sebuah tas yang juga kutemukan di dalam mobil sebelum memeriksa apakah ada penerbangan lain ke Istanbul hari itu.

Sayangnya, tidak ada lagi penerbangan menuju Istanbul hingga besok. Karena aku tidak punya pilihan lain, aku menghabiskan dua puluh jam menunggu di bandara sampai penerbangan berikutnya tersedia.

Sekarang, setelah empat jam penerbangan, pesawat yang kutumpangi hampir mendarat di bandara Attaturk Istanbul. Begitu aku selesai mengenang, pesawatku sudah mendarat dan sekarang para penumpang sudah diijinkan untuk turun.

Begitu keluar dari pesawat, aku mengikuti penumpang lain mengantri di pendataan imigrasi. Aku tidak butuh waktu lama untuk melewati pemeriksaan barang karena aku hanya membawa ponsel, jaket, dan jurnalku di tasku. Namun sejujurnya, aku merasa takut saat mereka memeriksa passportku, aku takut mereka akan mempertanyakan keabsahannya, karena itulah aku mempertahankan sikap tenang saat petugas imigrasi membandingkan fotoku di passport dengan diriku.

Cara-cara yang kugunakan untuk menenangkan diri termasuk menggigit lidahku dan menahan nafas, dan sejauh ini aku masih bisa bersikap wajar.

“Selamat datang di Istanbul, Pak Quentin, semoga kunjungan Anda menyenangkan.”

Petugas itu menyambutku tanpa curiga seraya menyerahkan passportku kembali padaku, sambutannya pun lalu menghapus rasa cemas yang kurasakan.

“Terima kasih,” jawabku hangat setelah aku melepaskan nafas dan melepas gigitanku dari lidahku.

Bahkan setelah aku melewati kantor imigrasi, aku masih tidak percaya bagaimana passport yang jelas palsu ini berhasil mengantarku sejauh ini. Setelah tahu kalau Supervisor bisa mengantarku melewati pemeriksaan database internasional, aku tahu kalau lawanku saat ini adalah kelompok yang sangat kuat, baik secara pengaruh dan kemampuan lain. Harus aku akui, profilku di passport ini sangat meyakinkan, namun aku masih tidak bisa percaya dengan isinya.

Di passportku tertulis bahwa namaku adalah Theodore Quentin dan aku lahir pada 13 Februari 1987, bahkan fotoku di sini dibubuhi cap yang tampak sangat resmi. Di fotoku itu, aku tampak berpose tanpa ekspresi mengenakan setelan yang rapih. Namun menurut pendapatku sendiri, aku masih tampak terlalu muda untuk lahir di tahun 1987.

Setelah aku sampai di aula bandara yang ramai, aku segera mencari bangku untuk beristirahat lalu kukeluarkan ponsel yang kudapatkan dari Darius dari tasku. Saat di Mombasa, aku bilang pada Supervisor kalau aku akan menghubunginya kembali setelah aku kabur, aku sudah separuh jalan dan aku butuh tahu ke mana aku harus pergi.

Sebuah layar televisi yang dipajang di atas sebuah dinding di dekatku sedang menampilkan acara berita siang, acara ini menarik perhatianku karena sorotan acaranya adalah kisah tentang hari penuh kerusuhan di Mombasa. Pembawa beritanya menyatakan bahwa meski banyak kerugian material, namun hanya ada enam korban jiwa yang diketahui. Di antaranya, ada dua korban tembak, satu jatuh dari atas bangunan, satu korban tabrakan di jalan tol, dan dua korban terjatuh dari jurang.

Meski pembawa berita tidak memberikan kejelasan, aku tahu kalau para korban adalah Don, Marco, Odi, Darius, pengemudi truk yang nyaris dibajak Don, dan Vicky.

Meski perhatianku teralihkan, aku membuka ponselku untuk menghubungi Supervisor dan mencoba mengabaikan acara berita yang menyiarkan kisah lain tentang meningkatnya angka kejahatan secara lokal. Aku baru sadar setelah kehilangan waktu kalau saat ini adalah pukul 13.32 pada waktu lokal sementara ponselnya terus memainkan nada sambung lagi dan lagi mencoba menyambungkan koneksi dan sementara acara berita di televisi berakhir, butuh waktu beberapa saat hingga sebuah suara di ujung satunya mulai menyambutku.

Halo, Six,” sambut sang Supervisor, dan lagi dia memanggilku dengan nama panggilan yang mengesalkan.

“Aku baru mendarat, di mana kita harus bertemu?”

Oh, selamat datang di Istanbul. Apa kau tahu kalau kota ini—

“Di mana... kita... harus... bertemu?”

Dia mulai mempermainkanku lagi, aku segera merasa kesal, aku pun sedikit mengancamnya dengan nada dingin. Aku tahu mengancam memang tidak ada gunanya karena kami bicara dari jarak jauh, namun hanya itu lah yang kubisa.

Kau ini agressif, ya? Memangnya kenapa? Apa kau sedang buru-buru?

“Dengar, aku ke sini bukan untuk main-main, aku ke sini untuk mencari jawaban. Karena sekarang aku sudah di sini, hanya tinggal masalah waktu sampai aku menemukanmu. Percayalah, jika kau mempermainkanku lagi, kau tidak akan merasa tenang.”

Yeah, tentu... bagaimana kalau aku biarkan kau mencariku?

“...”

Dia benar, selain bicara, tidak ada hal lain yang bisa kulakukan. Aku tidak bisa menjawabnya dan aku tidak ingin membuatnya kehilangan minat.

Hahah, aku bercanda,” lanjutnya singkat, “aku hanya menggodamu. Ooh, aku harap aku bisa melihat wajahmu sekarang.

Mendengar caranya berbicara membuatku naik pitam. Aku terus melawan keinginan kuat untuk mencercanya dan membanting ponsel ini, untungnya aku ingat kalau aku masih butuh tahu keberadaannya.

Aku akan mengirimkan sebuah alamat, kau bisa menemuiku di sana.

“Bagaimana aku bisa yakin kau tidak sedang memancingku ke dalam perangkap.”

...” dia menjeda sesaat, “sama dengan alasan kenapa aku tidak bisa yakin apa kau akan membunuhku atau tidak saat kau menemuiku.

“...”

Setelah mempermainkanku selama ini dan bertingkah sok tinggi, setidaknya dia bisa mengakui kemampuanku.

Tunggu saja dan percaya padaku, oke? Aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu sebelum aku bisa memberitahu tempat pertemuan kita.

“Kenapa kau tidak memberitahuku sekarang? Aku akan ke sana sementara kau mengurus pekerjaanmu.”

Aku harus membuat kesan pertama yang baik denganmu,” lanjutnya, “aku akan mengirimkan alamatnya dalam dua puluh menit, oke

“Tunggu—”

Sampai ketemu, Six.

Secara sepihak dia memutuskan panggilan sebelum aku bisa protes, aku coba menghubunginya lagi tapi panggilanku tidak bisa terhubung. Karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku pun menaruh ponselnya ke dalam saku celanaku dan duduk sambil mengawasi orang-orang di aula yang luas ini.

Menunggu seperti ini sangat membosanku, untuk sesaat aku tidak bisa menemukan hal lain untuk dilakukan, namun lalu aku teringat pada jurnal dalam tasku.

Aku ingat kalau aku belum memperbarui entrinya sejak dua hari lalu, karena itulah aku segera mengeluarkannya dan membuka halaman kosong di sebelah entri terakhir.

Di halaman itu, aku menuliskan update terakhir mimpiku. Saat menulis, aku sadar meski sulit, aku harus merevisi entri lama dan menambahkan mimpi di mana aku bertarung melawan sekelompok prajurit. Aku pun menuliskan mimpi itu di sebuah halaman kosong di akhir jurnal, setelah mengisinya, aku merobek halaman itu dan menyelipkannya ke halaman yang berisikan mimpi-mimpi lain yang kualami kala itu.

Setelah itu, aku melanjutkan menulis tentang peristiwa-peristiwa ganjil yang sudah kualami; saat aku berhalusinasi dan terbang, kala aku berbincang dengan diriku sendiri, dan mimpi yang kualami di pesawat tadi.

Sepertinya itu sudah semua, aku sudah memperbarui entrinya hingga saat ini. Dan tanpa kusadari, dua puluh menit sudah berlalu.

Aku lalu mengeluarkan ponselku dan membukanya. Layarnya menunjukkan kalau aku belum menerima pesan, namun ketika aku nyaris menutupnya, ponsel itu tiba-tiba bergetar dan memainkan nada dering.

Dengan cepat aku membukanya lagi dan melihat ke layarnya, di sana ada sebuah ikon surat, menandakan kalau aku punya pesan yang belum dibaca. Aku lalu menekan-nekan tombol ponsel itu untuk membuka pesannya.

Setelah aku membuka pesannya, layar ponsel itu kini menunjukkan sederetan alamat. Sejujurnya aku tidak tahu di mana tempat yang ditunjukkan alamat itu, namun aku hanya perlu menunjukannya pada seorang supir taksi.

Setelah aku punya tujuan, aku segera memasukkan barang-barangku ke dalam tas dan mulai berjalan ke luar bandara. Tidak jauh dari gerbang bandara, ada sepangkalan taksi yang sedang menanti penumpang.

Aku dekati salah satu taksi yang belum dinaiki dan supirnya pun menghampiriku, dan tanpa menunda-nunda, aku tunjukkan supir taksi paruh baya itu deretan alamat di layar ponselku.

Dia paham bahwa aku memintanya mengantarkanku ke tempat di alamat ini, dia lalu menyuruhku masuk ke mobilnya. Sementara dia mengitari mobilnya menuju ke kursi supir, aku sedang memasuki kursi belakangnya.

Setelah aku menaruh tasku dan duduk dengan nyaman, sang supir sudah menyalakan mesin mobilnya sementara aku masih menaruh ponselku ke dalam tas. Perlahan dia keluar dari tempat parkirnya dan mulai berpacu di atas jalan raya.

Dia memperingatkanku kalau perjalanan kita akan memakan waktu karena tujuanku berada di sisi lain kota, karenanya aku pun menenggelamkan diri dalam pikiranku.

Menumpangi mobil sepelan ini jelas beda rasanya dengan saat aku berbalap-balapan di Mombasa bersama Vicky. Kehilangan dirinya memang menyakitkan, namun juga memberiku sebuah pelajaran penting; aku tidak bisa membiarkan diriku terlalu dekat dengan orang lain. Sebenarnya tidak salah, tapi rasa sakit ketika kehilangan mereka akan mempengaruhiku dengan sangat.

Pemandangan kota yang sibuk perlahan berubah menjadi blok-blok rumah susun. Kami sudah pindah dari distrik perkotaan ke area pemukiman kelas menengah. Butuh empat puluh menit dari bandara untuk sampai ke sini.

Setelah mengitari blok ini beberapa saat untuk mencari alamat yang kuberikan, sang supir taksi lalu berhenti di depan sebuah rumah susun. Begitu sadar aku sudah sampai di tujuanku, aku keluar dari taksi setelah membayar supirnya.

Pemukiman ini terdiri dari banyak rumah susun. Di sini tidak ada banyak orang lewat. Jika aku ingin memburu seseorang, tempat ini akan sangat sempurna. Meski Supervisor sudah menjamin bahwa aku bisa mempercayainya, aku tetap merasa seperti sedang diawasi, dan perasaanku ini belum pernah salah sebelumnya.

Sambil menggendong tasku, aku dekati pintu rumah susun di mana supir taksi tadi berhenti. Karena aku tidak tahu kamar mana yang harus kuhubungi, aku pikir aku harus menelepon Supervisor lagi. Namun ketika aku melihat ke papan nama para penghuni, sebuah nama menarik perhatianku lebih dari pada nama-nama yang lain.

Di daftar para penghuni, aku membaca sebuah nama yang sedikit berbeda dari yang lainnya, sebuah nama yang terselip antara Adrienne Marsh dan Akbar Anshori.

[Arasaka Yuumi.]

fsc©2012-2017
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc