09 January 2016

26 Juni 2010

Persembunyian Alisa

10.29

Tidak ada suara lain yang menembus ke dalam tempat ini, bahkan suara hiruk-pikuk pelabuhan Istanbul yang ramai nyaris tidak terdengar di sini. Yang bisa terdengar hanyalah suara letupan listrik dan suara satu sama lain. Cukup mengejutkan bagaimana cerita Alisa bisa membuat Ferno tetap tertarik, bahkan suasana ruang bawah tanah yang somber ini tidak membuatnya mengantuk.

Continue reading »
15 December 2015

Pria yang Claudia sebut dengan nama Elric tidak tampak ramah. Alisa hanya bisa menonton mereka saling bertatapan selama beberapa saat.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Elric memecah keheningan.

“Langsung ke pokok masalah, ya? Aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan? Dariku? Sudah bukan jamannya aku bertarung.”

“Aku tahu, aku juga tidak akan minta kalau aku kira kau tidak sanggup.”

“Apapun permintaanmu, jawabanku masih tidak. Lebih baik kalian pulang.”

Continue reading »
28 November 2015

26 Juni 2010

Persembunyian Alisa

10.11

Untuk beberapa detik, kesunyian menguasai suasana. Yang ada hanya suara statik listrik yang mendayai penerangan ruang bawah tanah gudang ini, menciptakan suasana melankoli yang nyaris membuat kantuk. Entah mengapa kehampaan ini menjadi terasa berat, seakan tidak tertahankan, Alisa mulai bercerita. Sebuah kisah dari saat-saat segalanya masih sederhana; dari saat dia masih puas dengan dunia yang terbatas dengan penglihatannya.

Continue reading »
27 October 2015

Aku buka mataku dengan kejutan. Aku sempat mengira indra penglihatanku tidak bekerja hingga aku menyadari kalau aku memang berada di tempat gelap. Mataku mulai membiasakan diri dengan spektrum cahaya yang noneksisten dalam kegelapan. Aku tahu langit-langit itu, langit-langit itu adalah langit-langit kamar hotel tempatku menginap.

Seakan terkena jet-lag, kepalaku dipenuhi pertanyaan; Apa yang sudah terjadi padaku? Berapa lama aku sudah tidak sadarkan diri? Kebanyakan dari pertanyaan itu bisa kujawab sendiri hanya dengan mengingat apa yang sudah kualami dan melihat ke sekitar.

Aku tidak bisa ingat apa, tapi aku merasa seperti sudah mengimpikan sesuatu yang indah, sesuatu tentang dirinya; sesuatu tentang Alisa.

Continue reading »
30 July 2015

26 Juni 2010

Selatan Istanbul

Lewat tengah malam

[Untuk bisa mempertanyakan kematian adalah arti kehidupan.]

Seseorang pernah mengatakan itu padaku. Aku tidak bisa ingat siapa, namun mengingat kata-kata itu membuatku yakin kalau aku belum musnah. Aku hanya berenang di antara sisa-sisa alam bawah sadarku. Sudah beberapa jam berlalu sejak aku mulai mengimpikan masa laluku. Sementara aku tahu kalau aku sudah tidak sadarkan diri selama beberapa jam, dalam mimpiku, sudah beberapa minggu sejak aku bertemu Alycia.

Continue reading »
31 May 2015

Sekali lagi kegelapan mengalahkanku, namun seperti biasa kemenangannya hanya sementara. Untuk sesaat ketika aku menutup mataku, aku kira aku sudah mati, Namun belum. Aku hanya terlempar ke dalam ketidaksadaran—aku rasa aku tidak akan menyadarinya jika aku sudah tidak hidup.

Aku masih bisa sedikit mengingat alasan aku berada di sini. Alasan-alasan itu membuatku mempertanyakan beberapa hal.

Continue reading »
16 May 2015

25 June 2010

Strand Garden Motel, kota bawah Istanbul

17.58

Ketidaksabaran memicu banyak hal; meningkatnya kecepatan bernafas, naiknya kecepatan detak jantung, impuls yang muncul dari antisipasi. Namun ketidaksabaran sendiri hanyalah katalis, penantian ‘lah penyebabnya.

Penantian ini membuatku menyadari banyak hal. Contohnya aku gagal menyadari kalau sejak kemarin kantung mata sudah membentuk di bawah kelopak mataku.

Continue reading »
28 February 2015

Bukannya aku kenal dengan nama itu, namun nama itu terasa begitu tidak tepat tempat; berbeda dengan nama-nama lainnya.

Meski ragu, namun dengan mantap aku menekan bel apartment 22 dan menunggu. Tidak lama hingga interkom dari ruangan itu tersambung dengan buzzer ini.

Ya?

“Saya—”

Tebakanmu tepat, Six.

Continue reading »
21 February 2015

25 Juni 2010

ト'P<k酩ャ^k}#PュスE椏ュ

メ∋.口$

“Apa kau tahu apa itu ‘rusuk Hawa’?”

[Huh?]

Di tengah istirahat, sebuah pertanyaan membangunkanku. Hanya butuh sesaat untuk menyadari bahwa aku sudah kembali ke ruangan itu dan bahwa aku sudah terduduk di atas kursi berputar yang sama, di belakang meja yang sama, di seberang sosok hitam Graille Einhorn. Namun tidak seperti sebelumnya, kini Einhorn sedang duduk bersamaku.

Continue reading »
14 February 2015

Segalanya terasa ringan bagiku. Aku sempat merasa seperti bisa menyentuh langit, bukan langit dalam ilusi yang dibuat pikiranku, namun langit yang nyata.

Sayangnya, perasaan ini tidak berlangsung lama. Sebelum aku mendarat di atas pallet dan meraih kabel yang menggantungkan palletnya dari lengan crane, aku melihat ke bawah. Odi—setelah gagal menangkap kakiku—mulai kalah melawan gravitasi.

Saat sedang terjatuh dari lantai empat ke atas tanah, tampak dalam matanya keterkejutan seperti yang ada dalam mataku—aku sendiri juga sama terkejutnya dengan dia.

Continue reading »
03 February 2015

24 Juni 2010

Pinggiran kota Mombasa

09.08

Pergilah! Atau kita berdua akan mati!

Gadis itu berujar dengan penuh keputusasaan. Untuk pertama kalinya aku tahu rasanya dipaksa melakukan sesuatu, dan aku tidak suka rasanya.

Sebuah senyum cerah menghiasi wajahnya kala itu, seperti sebuah pelangi di kala hujan; pemandangannya indah namun menyakitkan.

Continue reading »
17 January 2015

Sebelum aku melintasi persimpangannya, aku palingkan wajahku ke kiri dan aku melihat kalau mereka sudah berlarian menuju mobil mereka. Ini artinya aku harus segera menghilang. Sayangnya jalanan yang kulewati ini lumayan panjang. Aku tidak melihat adanya belokan ataupun persimpangan untuk saat ini.

Tepat saat aku melihat ke belakang menggunakan cermin depan, aku menemukan kalau sedan perak yang kulihat di depan apartemen Vicky sedang mendekat. Meski perhatianku tersita, aku mencoba untuk tetap tenang dengan menganggap kalau mereka hanyalah pengguna jalan lain. Ingat kalau mereka diperintahkan untuk tidak meninggalkan saksi.

Continue reading »
09 January 2015

24 Juni 2010

Apartment Vicky

07.21

Waktu berlalu tanpa kusadari setelah kejadian semalam. Hal berikutnya yang kusadari adalah pagi sudah menyingsing. Tidak seperti Vicky yang menghabiskan malam dengan beristirahat, aku di sisi lain menghabiskan malam dengan terjaga. Dengan sebuah pistol di tanganku, aku terduduk sepanjang malam di atas sofa dengan pandangan kosong. Namun juga sambil memasang telinga pada setiap detail yang bisa kudengarkan, seperti suara tetangga Vicky di lantai atas yang menuruni tangga sekitar limabelas menit lalu.

Continue reading »
10 December 2014

“Kedengarannya ide bagus, aku akan coba.”

Setelah berjalan berputar-putar untuk beberapa saat, dia lalu melirik ke arah jam dinding dan tiba-tiba ekspresinya berubah panik. “Oh, sudah jam segini. Aku harus pergi.”

“Huh?”

“Aku dapat shift sore,” jawabnya sambil mengambil kunci mobil yang ada di atas meja kecil di sisi lain sofa.

Continue reading »

22 Juni 2010

Kota bawah Mombasa

14.42

“A... apa yang harus kulakukan?”

“Pertama-tama, jangan panik. Kedua, periksa dan ambil dompet orang-orang ini. Dan ketiga, bantu aku ke tempat aman.”

Gang belakang yang sempit ini membuat suara sirene di kejauhan yang mendekat terdengar lebih keras. Perubahan suara ini membuatku kesulitan memperkirakan berapa lama lagi waktu yang kami miliki sebelum pihak berwenang datang. Tapi dengan perkiraaan kasar, aku kira sedikitnya kami punya waktu dua menit.

Continue reading »
30 October 2014

Sebuah sosok mulai muncul, menggerhanai cahaya matahari menyilaukan yang terpantul. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi tanpa menyia-nyiakan kesempatanku, aku mulai berlari menyerangnya.

“Berhenti!”

Continue reading »
fsc©2012-2018
ΛnssenVerse 0.9ε by fsc